Pengagum Lara

Pengagum Lara
Episode 51


__ADS_3

Arka dan Clara bergegas menuju ke UKS sebelum jalanan menjadi ramai dan sesak. Terlihat jelas raut wajah Arka yang tampak begitu khawatir. Clara membuntuti pria itu dari belakang, ia tak bisa mensejajarkan langkahnya dengan Arka. Proposi tubuh jangkungnya turut mempengaruhi panjang pergelangan kakinya. Ia melangkah dengan sangat lebar.


"Kok di kunci sih?" Tanya Arka pada dirinya sendiri.


Arka berusaha membuka gerendel pintu ruangan tersebut. Ia terus memaksa agar pintu itu segera terbuka, namun tetap saja sia-sia.


"Ada apa ka?" Tanya Clara yang baru saja tiba di sana.


"Kayaknya pintunya di kunci...."


"Serius lo?!"


Kini gantian Clara yang berusaha membuka pintu tersebut. Namun tetap saja hasilnya nihil.


"Kalau UKS di kunci, terus Eresha sekarang ada di mana dong?" Tanya Clara.


Sementara Arka sendiri juga sedang kebingungan saat itu. Mereka berdua lebih tepatnya. Tapi sesuai petunjuk dari Titan, ia bilang Eresha masuk ke dalam sini. Nyatanya tak seorangpun ada di dalam sana. Pintunya di kunci dari luar, jadi mustahil jika ada seseorang di dalamnya.


"Coba gue telfon Titan dulu." Ujar Arka kemudian mengambil ponsel dari dalam sakunya.


"Woy!" Teriak Arka.


"Buset! Kenapa lo?!" Jawab suara dari seberang sana.


"Lo bilang kalau tadi lo liat Eresha di UKS."


"Ha, iya terus?"


"Eresha enggak ada ****! UKS juga di kunci. Lo tadi yakin beneran liat dia?"


"Sumpah ka, gue liat dia ke sana pake mata kepala gue sendiri."


Tut...tut...tut...


Arka mematikan sambungan teleponnya, ia segera menutup panggilan tersebut. Pria ini berdecak kesal, ia tak tahu harus bagaimana lagi sekarang. Mereka sama sekali tak tahu bagaimana keadaan gadis itu sekarang. Seharusnya ia tak membiarkan Eresha pergi begitu saja.


"Apa dia cabut sekolah?" Gumam Arka pelan.


Namun kalimat itu begitu cepat merambat di udara hingga sampai ke telinga Clara


"Apa?!" Sahut gadis itu yang setengah terkejud.


"Enggak..." Elak Arka.


"Yuk balik ke kelas!" Ajak pria itu.


Clara mengangguk pelan mengiyakan perkataannya. Sementara Arka sendiri masih bingung sendiri memikirkan hal itu. Eresha tak mungkin melakukan itu, dia bukan anak berandalan. Gadis itu bukan tipe anak nakal yang suka cari masalah dan hobi dengan yang namanya berurusan dengan guru konseling.


"Segininya lo khawatir sama dia ka..." Lirih Clara dalam hati.


Meskipun status mereka berdua saat ini bukan lagi sebagai pacar, namun tetap saja Clara tak bisa bangkit dari luka itu. Ia terus memperdulikan pria itu, mengkhawatirkannya setiap malam. Sama seperti Arka yang sedang mengkhawatirkan Eresha saat ini.


Jika ia bisa bersuara sekarang juga dan mengatakan semua kegundahannya selama ini, mungkin Arka akan terkejut mendengarkan pengakuannya. Kebenaran dari cerita sebenarnya, yang tak pernah ia ungkap sebelumnya. Sesuatu yang mungkin akan meluruskan kesalahpahaman di masa lalu. Masa lalu yang membuat mereka berpisah.


"Gue ragu soal ini ka... Apakah gue harus cerita soal ini sama lo? Eh tapi kayaknya enggak perlu deh, toh lo juga enggak bakal percaya." Batin Clara dalam hati.


Diam-diam relung hatinya tersayat pilu, lebam membiru. Hatinya di penuhi oleh kabut yang membuat dadanya begitu sesak. Clara menggenggam tangannya erat-erat. Ia berusaha menahan dirinya sendiri agar tak meneteskan air mata di hadapan pria ini. Arka mungkin akan mengira hal ini aneh, semacam penyakit bipolar yang diidap oleh pemilik kepribadian ganda.


Andai saja Arka tahu jika selama ini ia selalu berusaha menahan dirinya sendiri. Ia selalu mengintai Arka dari kejauhan. Dari sudut yang tak bisa di jangkau oleh pria itu. Dari tempat yang mungkin tak akan pernah di sadari Arka.


Tapi ia sadar, sekarang bukan waktunya untuk berharap agar masa-masa indah itu kembali lagi kepadanya. Karena percuma saja, sekeras apapun dirinya berusaha tetap tak akan berhasil. Ketika aksi yang di berikan tak sepadan dengan reaksi, saat itulah hukum pertama Newton berlaku. Sama seperti situasi Clara.


***


Sendy baru saja selesai kuliah. Ia segera menuju perpustakaan kampus untuk mencari beberapa buku referensi yang akan ia pakai untuk mengerjakan tugasnya. Seluruh mahasiswa jurusan arsitektur mendapatkan tugas untuk merancang sebuah bangunan hotel. Tugas ini masuk dalam mata kuliah struktur konstruksi bangunan gedung. Ia segera menyandang tabung gambar miliknya. Ia benar-benar butuh banyak inspirasi dan referensi untuk menyelesaikan tugasnya kali ini.


Seperti biasanya, suasana di perpustakaan selalu hening dan begitu tenang. Ruangan ini di buat senyaman mungkin, sesuai dengan kebutuhan para pembaca. Sendy mulai mencari buku-buku yang ia perlukan di jajaran rak pertama.


Tak lama setelah selesai ia langsung keluar dengan membawa beberapa buku yang ia pinjam dari perpustakaan. Tiba-tiba saja, tali pada tabung gambarnya melorot dari bahu pria tersebut. Hingga membuat benda berharga itu jatuh menggelinding dan masuk ke dalam selokan.


"Ah! Sial!" Umpat Sendy kesal.


Ia segera memungut benda itu dari dalam selokan. Berharap air dari genangan kotor ini belum sempat masuk ke dalamnya. Bisa habis dia jika sampai kertas gambarnya menjadi kotor, apa lagi sampai rusak. Di dalam sana ada beberapa kertas gambar yang ia gulung menjadi satu. Itu adalah rancangan beberapa bangunan bergaya Eropa yang baru setengah jadi. Ia mendapatkan inspirasi itu saat ke Belanda kemarin, dan baru sempat menuangkan semua ide di pikirannya ke kertas ini sekarang.


Sendy langsung buru-buru membersihkan tabung gambar miliknya yang sudah berlumuran lumpur. Tak lupa ia juga memeriksa bagian yang terpenting.


Tubuhnya lemas seketika, ia tak tahu harus berkata apa. Semua semangatnya untuk melanjutkan rancangan ini langsung buyar. Kertas yang tadinya berwarna putih dengan coretan-coretan garis yang di tarik secara teratur dan penuh perhitungan, kini berubah warna menjadi coklat tua. Layaknya seperti sebuah kertas usang yang umumnya di jumpai pada kertas surat zaman dahulu atau kertas pada buku-buku tua.


Kini kerja kerasnya selama ini berakhir sia-sia di dalam got sialan ini. Rancangan yang bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah baginya, kini menjadi tak berarti sama sekali.


Dengan berat hati ia menggulung kembali kertas-kertas tersebut kemudian di masukkan ke dalam tabung gambar. Ia tak tahu harus berbuat apa dengan rancangannya ini. Mungkin sudah tak bisa di selamatkan sama sekali.


"Aish..."


Pria itu meringis kesakitan ketika tiba-tiba secara tak sengaja jari telunjuknya terluka karena tergores kertas gambar. Padahal pinggiran kertas itu sudah basah dan tak kaku lagi, tapi kenapa bisa menyakitinya.


Tanpa pikir panjang pria itu bergegas pulang ke kamar kost nya. Tangannya perlu segera di obati. Lukanya harus segera di bersihkan, jika tidak tak menutup kemungkinan akan terinfeksi kuman. Kertas itu sudah kotor karena air got.


"Ada yang aneh sama perasaan gue. Kira-kira kenapa ya?" Gumam sendy dalam hati.


"Ah mungkin kebawa suasana gara-gara emosi kali." Lanjutnya.


Padahal lukanya termasuk luka kecil, tapi mengapa terasa begitu menyakitkan. Ia terus meniup-niup lukanya yang semakin perih.


***


Sampai saat ini gadis itu belum kembali juga ke kelas. Sekarang sudah pukul enam sore. Ia menghilang secara misterius sejak tadi pagi. Pelariannya seperti seolah-olah sudah di rencanakan dengan matang, sehingga tak meninggalkan jejak sedikitpun yang bisa di jadikan sebagai petunjuk.


Lagi-lagi pertanyaan yang sama masih terus muncul di dalam diri Arka.

__ADS_1


"Kemana dia pergi?"


Kelas hari ini telah selesai, sekarang saat bagi mereka untuk kembali dan pulang ke rumahnya masing-masing. Namun tidak dengan ke lima anak itu. Clara, Stefani, Arka, Titan dan tak lupa juga Adit. Mereka masih berada di sana, padahal yang lainnya sudah pulang. Suasana kelas sudah benar-benar sepi, begitu pula dengan bangunan ini. Hari perlahan mulai menggelap.


"Udah mau malam ka, kita mau cari kemana lagi." Ujar Titan sambil menepuk pundak sahabatnya tersebut.


Sementara sosok yang di ajak bicara hanya terpaku di tempat, menatap lekat barang-barang Eresha yang masih berserakan di atas meja.


"Mungkin aja dia udah balik ke rumahnya, bisa aja kan?" Timpal Stefani.


Kali ini hati Stefani perlahan melunak. Ia tak bisa berdebat lagi dengan Arka. Stefani ikut sedih jika melihat sahabatnya yang satu ini seperti itu. Meskipun terkadang ia menyebalkan dan suka mencari ribut dengannya, tapi Stefani tetaplah manusia biasa yang pasti memiliki rasa iba.


"Mending kita pulang aja, biar gue yang bawa barang-barangnya Eresha." Lanjut Stefani.


Arka mengangguk pelan mengiyakan perkataannya. Kali ini ia ikut saja pada mereka, Arka telah menyerahkan semuanya kepada para sahabatnya. Karena ia tahu jika otaknya sudah terlalu kusut untuk di paksa berfikir jernih.


Kelima orang tersebut bergegas pulang dari area sekolah. Tempat ini ternyata lebih menyeramkan dari yang di bayangkan. Tak kalah seram dengan suasana di pagi hari yang masih sepi. Akhirnya mereka berpencar setelah sesampainya di pintu gerbang.


Dengan terpaksa Arka harus mengantarkan Stefani ke rumahnya Eresha. Ia harus memastikan jika semua dugaannya benar dan semoga saja ia tak kenapa-kenapa.


***


Stefani membuka pintu gerbang sambil menenteng tas Eresha di salah satu tangannya. Namun entah kenapa pagar besi yang menjulang tinggi itu tak bisa di buka sama sekali. Sampai akhirnya ia menyadari satu hal, jika pintu itu di gembok dari luar. Itu artinya sedang tak ada orang di rumah ini.


"Pintunya di kunci ka, kayanya orangnya lagi pergi deh." Ujar Stefani.


"Masa semua pergi, kemana coba..." Balas Arka sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Ya mana gue tau!"


Lagi-lagi sifat menyebalkan Stefani mulai muncul, Arka berusaha menahan diri agar tak terpancing


"Eh, tapi kakak sama neneknya Eresha emang udah pergi dari dua hari yang lalu mereka balik ke Pematangsiantar sebentar, ada urusan keluarga katanya." Lanjut Stefani.


"Terus Eresha tinggal sendirian di sini?"


"Ya enggak lah! Dia sama bibinya, sama gue juga."


"Ngapain lo tinggal di rumahnya Eresha?"


"Kepo banget sih lo jadi cowok. Lagian gue juga baru masuk kemarin."


"Biasanya si bibi kalau malam enggak pernah keluar rumah."


Stefani mengangguk setuju, kali ini ia sependapat dengan Arka.


"Yaudah deh gue pulang dulu." Ujar Arka kemudian segera menyalakan mesin sepeda motornya.


"Eh, tunggu dulu!" Cegah Stefani.


"Apa lagi sih! Gue udah capek, mau pulang."


Arka mendengus kesal menanggapi perkataan gadis itu barusan. Ia menarik nafasnya dalam-dalam, berusaha meningkatkan level kesabarannya. Jika saja Stefani bukan seorang wanita, mungkin ia sudah menghabisinya.


"Keluarga mereka biasanya naruh kunci di bawah pot itu." Ujar Arka sambil menunjuk salah satu pot yang terletak di sana.


Kedua biji mata Stefani mengikuti arah jari telunjuk Arka. Kemudian ia segera mengeceknya. Benar apa yang di katakan Arka ada kunci rumah di bawah sini. Sepertinya Arka tahu banyak dengan keluarga ini. Pasti ia sudah memiliki hubungan yang cukup dekat dengan keluarga sahabatnya yang satu ini.


"Ya enggak mungkin lah ka gue main masuk aja. Apalagi mereka lagi enggak ada di rumah, yang ada gue di kira maling sama warga-warga kompleks."


"Daripada lo nunggu sendirian di sini, pilih yang mana coba?" Balas Arka.


"Lagian gue enggak bisa lama-lama di sini, gue mau langsung pulang."


Tapi tetap saja Stefani merasa tak enak jika harus main nyelonong masuk saja. Apalagi ia hanya menumpang di rumah ini. Sangat tidak sopan baginya.


Stefani terlihat berpikir sejenak.


"Gimana kalau lo anterin gue ke tempat kerja aja." Ujar Stefani.


"Dimana tempat kerja lo emangnya?"


"Cafe yang biasa itu loh.... Kan jalanannya searah sama rumah lo."


Stefani berusaha membuat pria ini terjebak dalam situasi yang ia buat, sehingga mau tak mau ia harus menuruti kemauan gadis ini.


"Yaudah deh!" Balas Arka sambil berdecak sebal.


Sebenarnya Arka melakukan semua ini karena Eresha. Mengingat jika cafe itu adalah salah satu tempat yang paling sering di kunjungi Eresha. Termasuk di saat situasi hatinya sedang tak baik seperti saat ini. Siapa tahu ia bisa menemui Eresha di sana.


Arka kemudian menyalakan sepeda motornya, lalu bergegas pergi meninggalkan tempat tersebut. Walaupun tak jarang di dalam hatinya ia terus mengumpati Stefani dengan puluhan sumpah serapah yang ia miliki. Arka kesal karena hari ini ia merasa seperti diperbudak oleh gadis ini. Tapi untuk kali ini ia harus berdamai dengan dirinya sendiri. Keselamatan Eresha jauh lebih penting di bandingkan dengan keegoisannya sendiri.


Sesampainya di sana, pandangan Arka langsung menembus masuk ke dalam ruangan tersebut melalui dinding-dinding kaca di tempat itu. Di hari-hari kerja seperti ini, cafe yang satu ini memang lumayan sepi. Tapi jangan coba-coba datang ke tempat ini saat akhir pekan. Terlambat sedikit saja, maka tak ada lagi tempat duduk yang tersisa.


"Tanyain sama temen-temen lo di cafe dong, tadi Eresha ada mampir nggak ke sini." Perintah Arka.


Stefani mengangguk cepat mengiyakan perkataan Arka. Ini balasan yang setimpal untuk sebuah tumpangan gratis. Ia segera masuk ke dalam cafe tempat ia bekerja, kemudian menghampiri meja kasir. Ia terlihat mengobrol beberapa saat dengan beberapa orang di sana, kemudian kembali keluar lagi untuk menemui Arka.


"Mereka bilang Eresha enggak ada ke sini selama hati ini." Ujar Stefani apa adanya.


"Mereka kenal nggak sama Eresha?"


"Ya kenal lah, Eresha kan pernah manggung di sini. Lagipula Eresha itu pelanggan setia cafe ini."


"Yaudah deh, thanks infonya. Gue balik dulu, bye!"


"Oke, sama-sama."


Peristiwa hilangnya Eresha hari ini seolah menjadi sebuah teka-teki yang memaksa mereka untuk berpikir keras. Bahkan ini lebih sulit dari soal olimpiade yang pernah Arka selesaikan.

__ADS_1


Semua orang bingung, semuanya kehilangan, semuanya khawatir. Eresha berhasil memainkan perasaan orang-orang terdekatnya hari itu. Menghilang bak di telan bumi. Mungkin ia hanya ingin mengasingkan diri sejenak dari hiruk-pikuk keramaian semesta. Ia perlu menenangkan jiwanya sejenak di tempat yang tak bisa di jangkau oleh seorangpun kecuali dirinya.


***


(Eresha P.O.V)


Aku membuka mataku perlahan, dan mendapati diriku tengah berada di tempat ini lagi. Dengan jarum infus yang terpasang di punggung tanganku. Dimana lagi jika bukan sedang di bangsal rumah sakit. Harus berapa kali lagi aku berkunjung ke sini. Tapi tunggu, siapa yang membawaku ke sini. Dan apa yang terjadi denganku sampai-sampai aku di bawa ke tempat ini.


"Ah! Bau obat-obatan di sini begitu menyengat!" Gumam ku pelan.


Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru ruangan. Tapi tak ada seorangpun di sini. Aku ingin pulang saja rasanya.


"Halo! Apakah ada orang?" Seruku dari dalam ruangan.


Semoga aja ada seseorang yang mendengarkannya lalu bersedia menemaniku di sini. Menurut ku tempat ini jauh lebih menyeramkan dari pada rumah angker yang di klaim berhantu.


Tiba-tiba saja ada seseorang yang mencoba membuka pintu ruangan ini dan masuk ke dalamnya. Ternyata aku salah, mereka ada dua orang. Syukurlah ada akhirnya seseorang mendengarkan sahutan ku tadi.


"Alhin?" Tanyaku kebingungan.


"Maaf kami meninggalkan mu sendirian di sini. Tadi aku harus berbicara sebentar dengan dokter di depan." Jelas Alhin.


Seorang dokter pria di sampingnya turut mengangguk mengiyakan perkataan Alhin barusan.


"Tak masalah." Balasku singkat.


"Kenapa aku bisa ada di sini?" Lanjutku.


Meskipun aku telah berusaha keras untuk mengingat semua kejadian sebelum aku pingsan, tetap saja ingatan itu enggan kembali ke dalam otakku. Kenapa diriku begitu sulit untuk di ajak bekerja sama di saat-saat seperti ini.


"Tadi kau tiba-tiba pingsan saat mengantarmu untuk kembali ke kelas. Jadi aku memutuskan untuk membawamu ke sini. Kondisimu sudah terlalu serius untuk sekedar di tangani di UKS." Jelasnya.


Ah, sudah ku duga. Pasti Alhin yang membawaku ke sini. Tapi kenapa aku tiba-tiba pingsan seperti itu.


"Biar dokter yang menjelaskan kondisimu lebih lanjut." Lanjutnya.


Aku langsung mengalihkan pandanganku kepada pria berjas putih dengan stetoskop yang di kalung kan di lehernya. Ia berdiri tepat di samping Alhin. Aku sedang menunggu jawaban darinya.


"Apakah kau memiliki riwayat penyakit yang menyerang bagian kepala sebelumnya?" Tanya dokter tersebut.


Aku menganggukkan kepalaku dengan cepat sambil berkata, "Iya, kalau tidak salah namanya meningitis."


"Baguslah, itu sesuai dengan dugaan kami sebelumnya. Aku telah curiga jika kau menderita penyakit ini." Balasnya.


"Jadi begini, sebaiknya kau tenangkan dirimu untuk beberapa saat kedepan, termasuk pikiranmu." Sambungnya.


"Iya benar, kau terlihat begitu tertekan." Timpal Alhin.


Mereka benar, entah kenapa belakangan ini perasaan ku sering tak terkendali. Naik dan turun sesuka hatinya, tanpa ku ketahui apa penyebab pastinya.


"Gejala yang kau alami ini, berupa mimisan atau pusing bahkan bisa kehilangan kesadaran secara tiba-tiba adalah alarm alami tubuhmu. Mereka mengingatkan mu jika kau perlu istirahat, jangan terlalu memaksakan diri untuk suatu hal." Jelas dokter tersebut.


"Apakah itu artinya penyakit ku sekarang sedang kambuh?" Tanyaku.


Aku yakin salah satu dari mereka pasti bisa menjawab pertanyaan ini. Mereka berdua sama-sama berkecimpung di dunia medis. Jadi ku kira ini adalah pertanyaan yang cukup mudah bagi mereka.


Alhin hanya diam saja, sementara dokter itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Yang artinya jawaban yang ia berikan atas pertanyaanku tadi adalah "iya."


"Apakah semakin memburuk?" Tanyaku sekali lagi.


"Aku tak melihat tanda-tandanya jika penyakit yang sedang bersarang di tubuhmu akan bertambah buruk. Itu artinya kau baik-baik saja untuk saat ini." Jawab pria itu.


Itu adalah sebuah jawaban yang cukup membuatku bisa kembali bernafas dengan lega. Meskipun begitu, aku harus tetap waspada. Tak menutup kemungkinan jika penyakit ini akan semakin parah dan justru berpotensi mengancam kelangsungan hidupku.


"Baiklah, kira-kira itu saja yang bisa ku sampaikan. Lekas sembuh, maaf aku harus segera pergi." Ujar dokter tersebut sambil membereskan catatannya.


"Terimakasih banyak dok." Balasku.


Setelah dokter tersebut pergi, Alhin mulai buka suara.


"Apa ada anggota keluarga yang bisa kau hubungi sekarang?" Tanya Alhin.


"Ponselku tertinggal di kelas saat aku menuju ke UKS tadi." Jawabku.


Lagipula aku tak ingat nomer teman-temanku. Nenek dan Renata juga sedang pergi.


"Tapi aku ingat telepon rumah." Lanjutku.


"Baiklah ketikkan nomernya di sini. Aku akan menghubungi mereka dan memberi tahu kondisi mu sekarang kepada mereka." Balas Alhin sambil menyodorkan ponsel miliknya.


Aku segera mengetikkan beberapa digit angka yang satu-satunya ku ingat saat itu. Setelah selesai, aku segera mengembalikannya kepada Alhin. Ia langsung menelpon ke nomer yang ku berikan tadi.


"Halo!" Sahut Alhin terlebih dahulu, membuka obrolan.


Aku tak bisa mendengar dengan jelas siapa yang mengangkat teleponnya. Bahkan apa yang di katanya saya aku tak bisa mendengarnya dari sini.


"Ini dengan temannya Eresha..." Ucapnya sambil melirik ke arah badge name di seragamku.


"Bisa tolong datang ke Rumah Sakit Sejahtera? Eresha sedang berada di sini, ia sekarang sedang di rawat. Bisakah seseorang datang ke sini dan menemaninya?"


"Baiklah terimakasih, saya tunggu kehadirannya di sini." Ujar Alhin yang kemudian segera menutup teleponnya.


Mungkin yang mengangkat teleponnya barusan adalah bibi, atau Stefani. Hanya mereka berdua yang saat ini sedang berada di rumah. Eh, tapi apakah Stefani sudah pulang ke rumah? Biasanya ia langsung pergi ke cafe untuk segera bekerja. Kemungkinan besar jika yang menerima teleponnya tadi adalah bibi.


"Seseorang akan datang ke sini sebentar lagi." Ujar Alhin.


"Terimakasih banyak telah membantuku. Maaf terlalu banyak merepotkan mu." Balasku.


"Sama-sama, senang bisa membantumu. Lagipula itu sudah menjadi kewajiban ku."

__ADS_1


Aku menjadi benar-benar merasa tak enak dengan wanita ini. Aku tak tahu harus membalas kebaikannya dengan apa lagi. Rasanya jika sekedar ucapan terimakasih saja tidak cukup. Mungkin aku harus memberikan sesuatu yang lebih sebagai balas budi, sekaligus tanda terimakasihku.


__ADS_2