Pengagum Lara

Pengagum Lara
Episode 14


__ADS_3

"Sha, kamu enggak sarapan dulu nak?" Tanya Mama.


 


 


"Enggak Ma. Udah telat."


 


 


  Aku mengeratkan tali sepatuku. Pemandangan yang berada di belakangku benar-benar membuat hatiku tergores. Harusnya yang ada dimeja makan itu, aku dan orang tuaku. Tapi, sekarang situasinya sudah berubah. Posisiku berubah seratus delapan puluh derajat. Bahkan mungkin tak ada seorangpun yang tahu jika aku sedang terjatuh ke dasar jurang terdalam di jiwaku. Siapa yang tahu jika aku sedang berada di titik terendahku. Apa ini semua salahku? Salah karena tak sepandai itu dalam mengekspresikan perasaan. Tapi, sudah terlambat juga jika aku mengekspresikannya sekarang. Sudah sangat terlambat pada dunia yang sudah terlalu acuh padaku.


 


 


***


 


 


  Warung penjual nasi di depan parkiran memang selalu ramai setiap pagi. Pembelinya kebanyakan dari kalangan pelajar dan pekerjaan kantoran. Aku terpaksa harus rela desak-desakan demi sebungkus nasi uduk.


 


 


"Sha. Lo ngapain?". Tanya Kak Sendy yang baru saja keluar dari parkiran. Ia kelihatan sedang menenteng hoodie hitam di tangan kanannya sambil merapihkan rambutnya yang sedikit berantakan karena helm. Ya Tuhan, aku baru menyadari ia setampan ini saat sedang merapikan rambutnya.


 


 


"Beli kulkas. Ya beli sarapan la."


 


 


"Emang lo belum sarapan?"


 


 


"Menurut kakak?"


 


 


"Emm, daripada lo nunggu lama mending gua yang beliin. Gua kenal sama yang punya warung nasi ini. Kan gua sering beli makan siang disini kalau ada jadwal latihan dan gua gak sempat balik dulu ke rumah."


 


 


"Emang boleh?"


 


 


"Enggak! Ya boleh la. Gimana sih. Kalau enggak boleh, ngapain gua nawarin hal itu sama lo."


 


 


"Ya maaf, ga fokus."


 


 


"Yaudah tunggu sebentar."


 


 


  Aku hanya menganggukkan kepalaku. Pria itu menerobos kerumunan manusia itu, lalu menuju etalase. Yang benar saja, tak sampai lima menit ia sudah kembali dengan sebungkus nasi uduk.


 


 


"Kok dua bungkus?" Tanyaku.


 


 


"Satunya buat gua. Nanti gua numpang sarapan di kelas lo ya."


 


 


"Punya kelas kan? Ngapain numpang di kelas orang?"


 


 


"Kelas gua sepi belum ada orang. Ntar kalau gua kesambet siapa yang mau nolongin."


 


 


"Dasar."


 


 


"Eh, btw makasih ya."


 


 


"Makasih buat apa?"


 


 


"Makasih buat sate yang lo pesen kemarin."


 


 


"Makasih juga buat nasi uduk nya."


 


 


  Pria itu tertawa pelan kemudian mengacak-acak gemas puncak kepalaku. Sangat jarang aku bisa melihatnya tertawa lepas seperti ini. Terakhir kali, aku melihatnya begitu bahagia saat ia bermain sepak takraw bersama teman-temannya. Selebihnya, ia selalu memasang tampang dingin dan misteriusnya.


 


 


"Yaudah yuk kita nyebrang." Ujarnya sambil meraih tanganku.


 


 


***


 


 


  Aku datang terlalu pagi memang. Sekolah masih terlalu sepi. Aku baru menyadari satu hal, ternyata koridor menuju kelasku terkesan seram juga sepagi ini saat tak ada seorangpun yang melintas disana. Beruntung aku ditemani pria ini.


 


 


"Eresha!" Teriak seseorang dari dalam kelasku.


 


 


  Siapa lagi jika bukan Zahra. Kasihan gadis ini, ia pasti kesepian selama aku pergi. Dengan kecepatan tinggi, ia berlari ke arahku. Kemudian memeluk erat tubuhku yang sedikit lebih tinggi darinya. Aku nyaris tak bisa berkutik.


 


 


"Udah?" Tanyaku.


 


 


"Jutek banget sih sama temen sendiri."


 


 


"Biarin."


 


 


"Eh, loh? Kok Kak Sendy bareng sama lo?"


 


 


"Panjang ceritanya. Udah yuk ke kelas."

__ADS_1


 


 


Zahra dengan antusias menarik tanganku hingga aku hampir terseret dibuat gadis itu.


 


 


"Loh Kak Sendy kok ngikutin kita?" Tanya gadis polos itu.


 


 


  Aku mengangkat kedua bahuku.


 


 


"Nih nasi nya." Ucapku seraya menyodorkan nasi bungkus miliknya.


 


 


"Thanks."


 


 


"Sini ra, makan bareng sama gua." Ajakku pada Zahra.


 


 


  Mungkin kami bertiga sama-sama belum sarapan. Entah apa alasannya, mungkin sama sepertiku. Sesekali aku mencuri pandang terhadap pria yang duduk di sampingku. Ia tampak lahap menyantap makanannya.


 


 


  Selesai makan, ia kami lantas mencuci tangan di wastafel yang sengaja disediakan di depan kelas.


 


 


"Gua ke kelas dulu ya." Pamit kak Sendy.


 


 


"Emang udah ada orang? Enggak takut kesambet?"


 


 


"Kan ada lo yang bakal nolongin."


 


 


  Candaan macam apa itu. Tapi, ia sukses membuatku tertawa. Setidaknya aku bisa melupakan sedikit masalahku.


 


 


***


 


 


"Sha, lo kok cepet banget sih balik ke Indonesia?" Tanya Zahra.


 


 


"Ntar lama-lama kasian lo nya pasti kesepian."


 


 


"Uuu, tau aja." Ucapnya sambil mencubit gemas pipi ku.


 


 


  Tentu saja bekas cubitan itu meninggalkan bekas kemerahan di pipi ku. Aku mendengus kesakitan.


 


 


 


 


"Ngapain?"


 


 


"Nyamperin Rini sama Rahma."


 


 


"Oh iya. Apa kabar tu anak. Udah kangen gua sama mereka."


 


 


***


 


 


  Yang benar saja meskipun kami baru saja sarapan, sekarang lihat kenyataannya. Kami berempat berdiri di balkon depan kelas Rini sambil memakan risoles yang di jual oleh anak kelas sebelah. Dari sini, kalian dapat melihat seluruh sisi bangunan kelas jurusan otomotif. Sial, pria itu! Ia menuju ke arahku. Oh tuhan tolong aku, ia pasti nantinya akan salah sangka melihat aku ada di kelas atas. Karena kelas pria itu juga ada di lantai atas.


 


 


"Woy, Eresha!" Teriaknya dari seberang.


 


 


  Kak Sendy, ku mohon jangan kepedean dulu. Wajahku memerah karena malu. Aku menutupi sebagian wajahku dengan plastik bungkusan risoles.


 


 


"Lo ke atas mau mastiin gua biar gak kesambet ya?" Ujarnya sambil terus berjalan ke arahku.


 


 


  Sementara para sahabatku kebingungan dengan apa yang sebenarnya terjadi. Baiklah aku kini telah pasrah. Untung saja sekolahan masih sepi, jika tidak mau ditaruh dimana wajahku.


 


 


"Ayo ngaku. Benerkan?" Ujar pria  itu lagi.


 


 


  Sekarang Kak Sendy berada tepat di depanku.


 


 


"Apa sih? Kan aku emang sering ke atas buat nyamperin Rini sama Rahma." Ketus ku.


 


 


"Masa?"


 


 


"Terserah deh."


 


 


"Mungkin sekarang waktunya udah tepat?"


 


 


  Mendadak wajahnya berubah menjadi begitu serius.


 


 

__ADS_1


"Tepat buat apa?"


 


 


"Gua mau ngomong sesuatu yang serius. Di depan teman-teman lo dan juga di depan lo."


 


 


"Kesambet ya?"


 


 


"Gua serius sha."


 


 


  Ku pikir ia hanya bercanda seperti biasanya. Tapi kelihatannya untuk yang satu ini ia benar-benar serius.


 


 


"Mau ngomong apaan sih? To the point aja langsung."


 


 


"Iya Kak buat orang penasaran aja." Timpal Rini.


 


 


"Emm... Eresha, will you be mine?" Ucap Kak Sendy.


 


 


"Huaaaa... So sweet banget sih." Kini gantian Zahra yang berteriak histeris.


 


 


"Eh apa sih artinya?" Tanya Rini.


 


 


"Pakek bahasa Indonesia aja kali Kak. Kita enggak ngerti." Sambung Rahma.


 


 


"Sttt... Berisik." Ujar ku.


 


 


"Gimana?" Tanya Kak Sendy yang  tampak sedang menunggu jawaban dariku.


 


 


"Emmm.... Gimana ya."


 


 


  Aku tak yakin pria itu mengatakan hal itu barusan dalam kondisi sadar. Mungkin ia masih setengah sadar karena kurang tidur tadi malam. Atau mungkin ia setengah waras.


 


 


  Tapi, jika aku menerima permintaannya barusan. Lalu, bagaimana soal novel yang akan ku beritahu padanya. Aku yakin ia pasti sangat benci padaku jika ia mengetahui soal novel itu. Tapi, bagaimanapun juga aku harus memberitahu nya soal novel itu. Entah kapan waktunya, yang pasti ia akan segera tahu. Tak apa jika ia harus membenciku setelah ini.


 


 


"Buat apa pacaran kalau ujung-ujungnya bakalan putus juga." Ujar ku.


 


 


"Kita enggak akan putus."


 


 


"Apapun yang terjadi?"


 


 


"Iya, apapun itu."


 


 


"Janji?"


 


 


"Janji. Gua bakal menjaga rasa sebaik yang gua bisa. Sama kayak lo yang selama ini selalu ngejaga rasa buat gua meskipun gua sering buat lo ngerasa terpukul."


 


 


"Bukan aku yang ngejaga rasa itu. Tapi hati aku yang entah kenapa masih tetap bertahan. Ia terlalu konsisten."


 


 


"Jadi intinya lo mau jadi pacar gua?"


 


 


"Iya."


 


 


"Serius?"


 


 


"Iya."


 


 


"Jadi mulai hari ini kita resmi jadian?"


 


 


"Iya."


 


 


"Iya iya mulu jawabannya."


 


 


"Ya terus apa lagi coba?"


 


 


"Thanks sha."


 


 


"U're welcome."


 


 


  Aku tak menduga jika akhirnya akan seperti ini. Meskipun dulu aku begitu mengharapkan hal ini terjadi padaku. Tapi setelah ini aku tak tahu akan berujung dimana hubungan ini. Aku tak yakin ia cukup konsisten untuk menepati janjinya barusan. Ia terlalu cepat berubah.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2