Pengagum Lara

Pengagum Lara
Episode 85


__ADS_3

Akhirnya aku bisa bernapas lega sekarang. Syukurlah semuanya berjalan persis seperti apa yang ku harapkan tadinya. Sejauh ini hariku berjalan dengan baik-baik saja, sebagai mana mestinya. Aku menyandarkan diriku pada kursi yang menjadi tempat dudukku sekarang ini. Memberikan tubuhku sedikit istirahat dalam bentuk sebuah apresiasi kecil seperti ini.


“Sha, gue perlu ngomong sama lo. Ini soal yang kemarin belum sempat gue omongin itu.” ujar Stefani yang tiba-tiba sudah berada di depanku.


Aku hanya berdecak sebal, karena gadis ini telah menganggu waktu istirahatku.


“Ntar aja deh stef.” balasku acuh tak acuh.


“Please lah, dari kemarin lo nunda ini terus.” ucapnya sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


Aku menghela napas dengan kasar. Sebenarnya aku masih sangat malas untuk meladeni gadis ini. Dari kemarin ia begitu memaksaku untuk membicarakan soal hal yang bahkan tak ku ketahui sama sekali.


“Lo harus tahu soal ini sha, kayak yang gue bilang kemarin kalau ini penting.” ujar gadis itu sekali lagi.


Mau tak mau kali ini aku harus mengikuti keinginannya yang satu ini, walaupun sebenarnya aku melakukannya dengan sedikit terpaksa. Tapi mau bagaimana lagi, ini adalah satu-satunya cara agar aku bisa terbebas dari gangguan gadis ini.


Dengan langkah berat dan terpaksa, aku mengikuti jejak kaki gadis ini tepat dari belakangnya. Aku bahkan kemana gadis ini akan membawaku pergi. Sepertinya yang ingin ia bicarakan kepadaku kali ini sangat bersifat rahasia, sampai-sampai kami harus sedikit menyingkir terlebih dahulu. Ternyata ia membawaku ke luar kelas dan memintaku untuk menunggu di koridor sebentar. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan gadis ini padaku. Satu kata yang mampu menggambarkan perasaanku saat ini adalah kesal.


Tak lama kemudian, gadis itu datang dengan Titan yang berjalan tepat di belakangnya. Jujur saat ini aku malah dibuat semakin kebingungan dengan perilaku gadis ini. Sebaiknya aku tetap mengikuti permainan mereka saja.


“Gue bingung harus mulainya dari mana.” ujar pria tersebut sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.


“Kalian sebenernya mau pada ngapain sih?” tanyaku yang semakin kebingungan.


“Tapi lo janji jangan marah sama kita.” ucap Stefani dengan ragu.


“Udah buruan ngomong gih! Capek nih berdiri mulu.” balasku sambil menggerutu kesal.


“Jadi gini, gue mau jelassin satu hal sama lo. Satu hal yang selama ini gue tutup-tutupin dari lo dan semua orang. Gue udah jaga rahasia ini sebaik mungkin, Cuma menurut gue sekarang lo harus tau soal rahasia ini.” jelas Titan dengan panjang lebar.


“Jadi sebenarnya selama ini Arka Cuma manfaatin lo doang. Dia cuam jadiin lo bahan taruhan sama si Ketua OSIS itu.” lanjutnya dengan nada bicara yang lebih cepat dari sebelumnya.


“Maksudnya gimana sih?” tanyaku untuk yang kesekian kalinya.


Kini aku mulai menanggapi ucapan mereka dengan serius. Tapi aku tak yakin jika apa yang dikatakan oleh Titan barusan, benar sepenuhnya dan bisa dipercaya begitu saja.


“Sebenarnya kejadian ini udah berlangsung sejak lo pertama kali pindak ke sekolah ini sha. Dan gua baru tau hal ini sekarang, itu pun Titan yang ngasih tau gue.” balas Stefani dengan raut wajah seolah merasa bersalah.


“Jadi waktu itu, posisinya Arka masih pacaran sama Clara. Lo tau sendiri kan, kalau anak itu pacaran cuma kita-kita doang yang tau. Jadi entah ada masalah apa, waktu itu Arka terlibat taruhan sama Ketua OSIS yang resek itu.” jelas Titan dengan emosi yang tak kalah meyakinkan.


“Ketua OSIS itu bilang kalau Arka mau menang taruhannya, Arka harus bisa dapetin lo dalam kurun waktu kurang dari seminggu. Sementara Arka sibuk ngejer lo, Ketua OSIS ini malah cari kesempatan buat deketin Clara. Pada akhirnya gue tau kalau dia Cuma manfaatin Arka, buat dapetin Clara. Tapi Arka malah salah paham sama kedekatan mereka, dan akhirnya Arka mutusin hubungan sama Clara begitu aja.” jelasnya dengan panjang lebar, semampu yang ia bisa.


“Jadi waktu itu Arka bukan nembak lo karena bener-bener tulus sha, tapi karena taruhan itu.” timpal Stefani yang ikut menambahi ucapan pria itu barusan.


Aku hanya mengangguk lemah, mengerti dengan apa yang barusan mereka katakana padaku. Aku tak tahu harus bereaksi bagaimana sekarang ini. Aku bahkan tak tahu apakah yang berusan mereka katakana padaku itu benar adanya, atau hanya mengada-ngada. Tapi mana mungkin jika mereka membohongiku dengan cara murahan seperti itu. Namun di sisi lain rasanya juga tak mungkin jika Arka berbuat seperti itu padaku.


Saat itu aku memang terlalu gegabah untuk menerimanya. Terlalu cepat bagi orang baru seperti dirinya, untuk ku izinkan masuk ke duniaku. Namun pada prinsip kerjanya, penyesalan memang selalu datang paling belakangan. Sama seperti anti klimaks yang berada di bagian paling ujung dari sebuah cerita.


“Ya udah aku masuk dulu.” ujarku dengan sedikit canggung.


“Lo nggak marah sama kita sha?” tanya Stefani.


“Gue nggak bermaksud buat hubungan lo sama Arka jadi rusak atau gimana. Cuma gue rasa lo perlu tau soal ini.” sambung Titan.


“Ngapain marah, kan tadi udah janji kalau aku nggak boleh marah.” balasku sambil tersenyum dengan terpaksa.


“Tapi kalau lo mau marah juga nggak apa-apa kok. Luapin aja emosi lo, kita nggak bakalan ngelarang juga kok.” jelas pria tersebut.


“Emosi itu untuk diekspresikan sha, bukan untuk dipendam. Karena nantinya nggak akan baik kalau terus-terusan disembunyikan dari dunia. Kan lo juga yang pernah bilang gitu ke gue.” ujar Stefani dengan beberapa kalimat bijak yang ia dapatkan beberapa waktu lalu dariku.


Kini gadis itu membalikkan ucapanku sendiri. Sebenarnya apa yang dikatakannya barusan, itu semua benar. Tapi masalahnya, aku tak tahu harus bersikap bagaimana saat ini. Yang ku rasakan sekarang sama sekali tak menjorok ke sebuah rasa tertentu, yang membuatku merasakan sesuatu yang lebih spesifik

__ADS_1


“I’m okay, nggak ada yang perlu dikhawatirkan.” balasku dengan santai.


Aku lantas membalikkan badanku, untuk kembali ke dalam ruangan kelas. Saat itu juga, aku dibuat terkejut bukan main oleh apa yang ku temukan di sana. Aku tak tahu sejak kapan Arka berdiri di ambang pintu dan menguping semua pembicaraan kami. Tatapannya nanar dengan sorot mata berkilau yang sulit untuk ku tangkap apa maksudnya. Wajahnya semakin murung dan mendung. Kini semakin banyak awan kelabu yang bersarang di wajahnya yang berpasar tampan tersebut.


Sepertinya Arka sudah mendengar banyak soal dirinya yang barusan kami bicarakan tadi. Aku tahu persis jika suasana hatinya yang sedang tak baik-baik saja saat ini, semakin menjadi buruk dan sangat tak baik-baik saja sekarang. Kini aku merasa bersalah dengannya, walaupun aku tak tahu secara pasti kesalahan apa yang telah ku lakukan padanya sejauh ini.


“Aku udah denger semuanya kok.” ucap Arka dengan nada bicara datar.


“Udah sejak kapan kamu ada di sini?” tanyaku dengan hati-hati.


“Enggak penting.” balasnya singkat.


“Ya udah, kalau gitu aku masuk dulu.” ucapku sembari beranjak dari tempat itu.


Ku rasa aku perlu beberapa teguk air putih untuk mengembalikan konsentrasiku. Aku perlu berpikir jernih unutk sekarang ini. Tak lama kemudian Arka menyusulku untuk masuk ke dalam, lalu mengambil tempat tepat di sampingku. Lagipula pria itu memang selalu berada di sana setiap harinya.


Tapi omong-omong kemana kedua orang tersebut. Kenapa mereka tak terlihat sama sekali, jangan-jangan malah pacaran lagi. Tapi ya sudahlah terserah mereka saja, lagipula kedua orang itu sudah sama-sama dewasa.


Arka terus menyorotiku dengan lekat, masih dengan tatapan yang sama seperti yang sebelumnya ia lakukan. Entah apa maksudnya, aku tetap tak tahu sampai sekarang. Tapi satu yang ku tahu sekarang ini adalah diriku yang perlahan mulai merasa tak nyaman. Aku merasa sedikit terganggu dengan apa yang sedang dilakukan oleh pria ini kepadaku. Rasanya setiap detik ia selalu mengawasiku, dan aku tak suka diawasi seperti itu.


“Kenapa?” tanyaku dengan segera.


“Kenapa apanya?” tanya pria itu balik.


“Kenapa dari tadi ngeliatin aku kayak gitu.” ucapku sembari memperjelas maksud dari ucapanku sebelumnya.


“Ya karena aku punya mata lah.” jawabnya secara gamblang.


Aku hanya mendengus kesal, karena mendapatkan jawaban yang tak sesuai dengan apa yang ku harapkan sebelumnya. Sangat tidak lucu jika ia menjawabnya dengan bercanda seperti itu.


“Aku sebenarnya lagi takut sha.” ucapnya sambil meletakkan kepalanya di atas meja.


Sepertinya kali ini Arka mulai mencoba untuk menceritakan masalahnya satu-persatu. Kali ini ia terlihat lebih serius daripada yang sebelumnya. Aku lantas ikut-ikutan sok serius karenanya. Dengan senang hati aku akan menjadi pendengar setia pria ini, kapanpun yang ia perlukan. Terlepas dari masalah taruhan tadi, yang melibatkan aku sebagai korbannya.


“Maksudnya?” tanyaku berusaha menggali informasi yang lebih.


“Mama…” jawabnya dengan singkat.


Satu kata yang terlontar dari mulutnya barusan, mampu membuatku bisa menebak akan seperti apa jalan ceritanya nanti. Hal itu seperti sebuah clue yang ia berikan kepadaku, sebelum cerita sesungguhnya dimulai.


“Kenapa sama mama kamu?” tanya ku dengan hati-hati.


“Kemarin tiba-tiba mama kena serangan jantung, dan dilarikan ke rumah sakit terdekat. Tapi dokter bilang mama harus segera dirujuk ke Singapura buat pengobatan lebih lanjut.” jelasnya dengan suara parau yang terlihat menahan tangis.


Aku lantas dibuat terkejut bukan main oleh ucapannya barusan. Kalimat yang ia ucapkan tadi mampu memberiku sebuah tamparan, hingga aku tercengang hebat seperti ini. Pantas saja semakin ke sini, Arka seperti tak memiliki semangat hidup sama sekali. Ternyata wanita yang paling ia sayangi itu juga sedang tak baik-baik saja. Pikiran pria ini sejak tadi berkelana entah kemana, meskipun tubuhnya tengah berada di tempat ini.


“Terus mama kamu udah jadi dirujuk?” tanyaku.


Pria itu hanya memberikan jawaban berupa isyarat. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan lemah, yang berarti menandakan jawabannya adalah tidak.


“Mama bilang dia nggak akan ke Singapura. Dia bilang pasti sakitnya bakalan cepat sembuh. Padahal sakitnya itu sangat berbahaya sha…” jelasnya padaku.


“Nanti pulang sekolah kita ke sana ya, aku akkn coba bujuk mama kamu.” ujarku sambil menepuk pelan pundak pria itu.


Tiba-tiba saja pria itu malah menarik tanganku begitu saja, tanpa peringatan sebelumnya. Ia membawa salah satu tanganku itu, untuk bersembunyi bersama kesedihannya yang tak ingin ia tunjukkan pada dunia. Arka menjadikan tanganku itu sebagai alas kepalanyayang tengah tergeletak di atas meja. Aku tahu kalau permukaan meja yang keras tak akan nyaman untuk kepalanya, pasti sangat pusing jadinya jika terlalu lama begitu. Oleh sebab itu, pria ini perlu sesuatu yang lebih empuk.


“Arka boleh nangis sepuasnya, luapin aja semua emosi Arka. Masih ada sepuluh menit lagi sebelum bel masuk.” ujarku sambil tersenyum kecil.


“Enggak mau ah, ntar dilihat yang lain kan malu.” balasnya sambil berusaha menahan tangis.


“Enggak ada siapa-siapa kok.” balasku.

__ADS_1


“Aku tahu kok kalau ada Clara di belakang.” ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun.


Aku hanya bisa tersenyum kecut, sambil menggaruk kepalaku yang tak gatal itu. Bagaimana bisa pria ini tahu jika gadis itu sudah menyimak obrolan kami sedari tadi. Ku rasa insting pria ini tak kalah kuatnya dengan instingku sendiri. Aku dan Clara saling bertatapan untuk beberapa saat. Sebenarnya kami sangat kasihan melihat Arka yang tengah berada di titik terapuhnya sekarang. Namun aku dan Clara tak bisa berbuat banyak untuk saat ini. Memberikan Arka sedikit ruang pribadi akan membantunya untuk memulihkan suasana hatinya dengan segera. Hanya itu yang bisa kami lakukan sejauh ini.


“Aku masih bisa tahan untuk beberapa jam lagi kok, sampai pulang sekolah nanti.” ujar Arka dengan suara paraunya yang semakin memburuk.


Aku taku jika ia tak segera meluapkaan emosinya, dengan cara menahan-nahannya seperti ini akan berakibat buruk. Bisa saja konsentrasi Arka tak benar-benar ada selama proses belajar mengajar. Atau hal terburuknya yaitu mungkin pria ini akan mengalami yang namanya kehilangan suara untuk beberapa hari.


Aku pernah merasakan hal semacam itu dan rasanya sudah terlalu sering ku alami. Aku pasti selalu sakit tenngorokan setelah aku menahan tangisku, hanya agar tak terisak. Kemudian keesokan harinya suaraku habisa dan nyaris tak tersisa. Dengan hal itu, akau harus mengalami hari-hari yang sulit sampai suaraku kembali lagi seperti semula.


“Kamu di sini aja, aku mau tidur sebentar. Nanti kalau udah masuk, bangunin aku lagi.” ujarnya dengan salah satu sudut bibir yang terangkat.


Aku mengangguk pelan, mengiyakan perkataannya. Sedetik kemudian ia langsung terlelap begitu saja. Sepertinya fisiknya juga sedang kelelahan, bukan hanya mentalnya saja yang sedang merasa letih. Pria ini perlu istirahat sejenak, mengasing sebentar dari riuh suasana sekitar. Ia perlu menjauh sebentar dari masalah yang ia punya, agar bisa berpikir jernih. Ia perlu sedikit kasih sayang, agar ia merasa lebih baik.


Seperti apapun itu nanti jadinya, pria ini harus tetap melanjutkan hidupnya dengan sekian banyak rencana yang harus segera ia mulai lagi. Arka harus tetap mewujudkan semua mimpi dan harapannya, meskipun nantinya tanpa dukungan sang mama. Terkadang kita tak pernah tahu dimana dan bagaimana bagian terburuknya akan muncul dalam sebuah cerita.


***


Sesuai dengan janjiku tadi, aku akan pergi ke rumah sakit bersama Arka untuk menjenguk mamanya. Sejauh ini hubunganku dengan pria ini masih baik-baik saja, meskipun setelah hal buruk yang hari ini baru ku terima. Aku juga tak tahu bagaimana nantinya jika Arka benar-benar melakukan perbuatan yang sama sekali tak berprikemanusiaan itu kepadaku.


Sedari tadi juga, Stefani dan Titan terus mengawasi gerak-gerikku. Gadis itu terkadang tak lupa untuk mengingatkanku agar selalu berhati-hati saat bersama dengan Arka. Mereka bilang jika sebenarnya pria itu bukan orang yang baik. Apalagi tadi ia sempat mendengarkan beberapa hal buruk yang dibicarakan oleh para sahabatnya sendiri.


“Hati-hati pas jalan sama Arka nanti, lo tau sendiri kan kalau dia anaknya susah di tebak.” ujar Stefani sambil menggandeng salah satu lenganku.


“Tenang aja, nanti kalau ada apa-apa aku bakalan langsung telepon kalian. Lagian dia kan sahabat kita sendiri, masa harus curiga sampai segitunya sih.” balasku sambil tetap menatap luruh ke depan.


“Lo harus tau satu hal soal cowok.” ucapnya.


“Apaan emang?” tanyaku.


“Cowok itu sama seperti binatang buas, yang kadang emang nggak terduga pergerakannya.” bisiknya pelan di telingaku.


“Seperti buaya yang bergerak di dalam air untuk menangkap mangsanya mungkin. Itu sebabnya kali ya, makanya kebanyakan dari mereka dijuluki sebagai buaya darat.” lanjutnya.


Aku hanya tertawa pelan mendengar ucapan gadis itu barusan. Bagaimana bisa dia berasumsi seperti itu.


Tak lama kemudian beberapa sepeda motor menepi tepat di hadapan kami, siap mengangkut para penumpangnya yang telah menunggu sedari tadi. Setelahnya kami harus berpisah karena berbeda arah dan tujuan. Stefani harus segera pergi ke café tempat ia biasanya bekerja, sementara aku harus menepati janjiku untuk menjenguk mamanya Arka di rumah sakit.


Sepanjang perjalanan aku terus memikirkan sesuatu yang membuatku gelisah. Sebenarnya masih ada satu hal lagi yang terasa mengganjal di benakku. Aku sangat ingin tahu seperti apa kebenarannya, langsung dari mulut pria ini. Aku yakin jika sekalipun Arka benar melakukannya, ia pasti tak akan berbohong untuk berusaha menutupi kesalahannya. Aku tahu persis bagaimana selama ini ia di didik untuk bertanggung jawab.


“Arka!” sahutku pelan.


“Iya, ada apa?” tanya pria itu, sembari menoleh sedikit.


“Ada sesuatu yang pengen aku tanyain ke kamu.” ujarku dengan sedikit ragu-ragu.


Arka lantas menepikan motornya di pinggir jalan. Kebetulan kami sedang melewati sebuah deretan pertokoan saat itu. Bicara sambil duduk sebentar mungkin tak akan membuat suasana berubah menjadi begitu menegangkan. Jadi semuanya bisa dibicarakan dengan baik-baik, tanpa harus melibatkan salah paham yang sering kali menjadi akar dari sebuah permasalahan.


Pria itu mengajakku untuk mengobrol di salah satu gang kecil yang menjadi celah antara toko yang satu dengan toko yang lainnya. Arka menyandarkan badannya pada dinding bagian luar toko tersebut. Beberapa saat ia terlihat merapihkan tatanan  rambutnya, kemudian melipat kedua tangannya di depan dada. Arka menatapku dengan pandangan yang sengaja dibuat rendah seperti itu, karena selisih tinngi badan kami yang sekitar dua puluh centimeter.


“Ada apa?” tanya pria itu dengan wajah serius.


Aku menelan salivaku dengan susah payah. Setelah melihat raut wajahnya yang terlihat tak begitu bersahabat seperti biasanya, rasanya aku perlu pikir-pikir dua kali untuk mengatakan ini. Mungkin aku akan mengurungkan niatku saja, untuk membahas soal yang satu ini.


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2