Pengagum Lara

Pengagum Lara
Episode 21


__ADS_3

"Akhirnya kamu sadar nak. Kamu tau nggak? Kamu itu udah koma selama dua hari. Dan mama cemas banget."


"Kecelakaan itu...." Gumam ku.


"Kenapa nak?"


"Aku enggak ingat apapun soal kecelakaan itu ma. Setelah itu semuanya gelap."


"Udah enggak usah dipikirin. Nanti kamu trauma."


"Kaki ku?"


"Hmmm.... Tulang kaki kamu sedikit cedera. Tapi enggak parah kok. Dan cedera lutut kamu kambuh lagi. Jadi jangan banyak gerak dulu ya."


"I'm okay."


"Permisi, pasien atas nama Eresha segera ke ruang  therapist." Sahut seseorang dari balik pintu.


"Baik sus." Balas Mama.


Aku segera dipindahkan ke kursi roda untuk menuju ke ruangan yang di maksud barusan. Mama bilang kaki ku mengalami beberapa cedera dan harus di terapi untuk beberapa hari kedepan. Sampai disana, kebetulan tidak ada antrian dan kami bisa langsung masuk.


Hanya beberapa perawatan kecil, suntik vitamin dan setelah itu selesai. Setelah semuanya selesai, kami segera keluar dari ruangan berukuran 3x3 meter itu.


Aku tak yakin jika aku hanya mengalami cedera di bagian kaki saja. Aku yakin ada sesuatu yang salah di dalam otakku. Memori nya seolah tak beraturan. Aku yakin telah melupakan sesuatu yang sangat penting di hidupku.


Pasien berikutnya masuk setelah kami keluar. Dia seorang pria dengan beberapa lapis balutan kain kasa di kepalanya. Dia terlihat seperti orang linglung. Ia masuk bersama seorang wanita yang terlihat sebaya dengannya.


"Ma, jangan langsung ke kamar ya. Disini dulu." Pintaku.


"Oh, oke sayang."


Aku dan mama duduk di kursi tunggu di depan ruangan therapist. Aku masih penasaran dengan pria barusan. Aku seperti pernah melihatnya tapi entah dimana. Bukan hanya sekedar melihat, aku merasa jika aku sempat dekat dengannya. Atau ini hanya perasaanku saja.


Selang beberapa menit, mereka keluar dan mengambil posisi tepat di samping kami.


"Hai." Sapa nya.


"Oh, hai." Balasku.


Kami duduk bersebelahan. Rasanya, bukan kali ini saja kami pernah duduk bersebelahan seperti ini.


"Habis terapi juga?" Tanya pria itu.


"Iya."


"Eh, perkenalkan namaku Sendy."


"Sendy?"


Aku terdiam sejenak, entah kenapa semua hal tentang pria ini seolah tak asing lagi bagiku. Mungkin ini hanya kebetulan.


"Iya, nama kamu siapa?"


"Eresha."


"Oh, Eresha. Nama yang bagus. Aku seperti pernah mendengar nama itu."


"Sungguh?"


"Iya, kelihatannya aku sering mendengar nama itu sebelumnya."


"Ah, sudahlah. Jangan ngawur, mana pernah kamu mendengar nama itu." Potong wanita yang menemaninya tadi.


Aku tak berniat menggubris perkataannya barusan.


"Kamu kenapa?" Tanyaku.


"Kepalaku mengalami sedikit cedera akibat kecelakaan."


"Kecelakaan?"


"Iya. Kamu sendiri kenapa?"


"Kecelakaan juga. Dan kaki ku mengalami cedera."


"Jadi kita sama-sama kecelakaan?"


"Sepertinya begitu."


Mama terlihat sibuk dengan ponselnya sedari tadi. Sedangkan wanita yang berada di samping pria ini terlihat tak suka dengan obrolan kami. Matanya menatap ke arahku dengan sinis. Jujur aku tak begitu nyaman dengan tatapan itu.


"Ini siapa?" Aku memberanikan diri untuk bertanya dengan Sendy.


"Oh, ini teman ku. Namanya Rina."


"Oh..."


"Rina." Ucapnya sambil mengulurkan tangannya.


"Eresha." Balasku seraya membalas uluran tangannya.


"Boleh tukeran nomor handphone?" Tanya pria itu.


"Ih, ngapain sih. Orang baru kenal juga." Ketus Rina.


"Udah lo diem!" Tegas Sendy.


Ia langsung bungkam, diam seribu bahasa. Ternyata pria ini juga bisa marah. Dan itu jauh lebih menyeramkan dari yang ku bayangkan.


"Boleh, ini." Balasku kemudian menyodorkan ponsel agar ia segera menyalin nomer ku.


Beberapa detik kemudian...


"Nih, terimakasih ya. Aku yakin kita punya banyak kesamaan."


"Dan mungkin kita bisa jadi teman."


"Atau lebih?"

__ADS_1


"Haha, boleh juga."


Padahal baru beberapa menit yang lalu kami saling berkenalan, tapi tampaknya kami sudah begitu akrab seperti sering bertemu dan bercengkrama sebelumnya. Ah, sudahlah mungkin hanya perasaanku saja.


Tatapan Rina semakin tak bersahabat.


"Aku balik ke kamar dulu ya." Pamitku.


"Kamar kamu dimana? Siapa tahu kalau sedang bosan kita bisa ngobrol bareng."


"Kamar Mawar 8."


"Baiklah. Nanti aku kesana ya."


Aku hanya mengangguk.


"Ma, balik yuk."


Mama sedikit tersentak, sebab mama hanya fokus ke ponselnya saja dari tadi.


"Sudah selesai ngobrolnya?"


"Udah yuk."


Mama segera mendorong kursi roda ku untuk kembali ke kamar. Entah sudah berapa hari aku berada di bangunan ini.


"Ma, tau nggak?"


"Tau apa?"


"Cowok yang aku ajak ngobrol tadi."


"Kenapa emangnya dia?"


"Aku ngerasa kayak udah akrab banget sama dia. Padahal kita baru pertama kaliketemu. Tapi aku ngerasa kalau sebelumnya kita udah sering ketemu."


"Perasaan kamu aja kali."


"Mungkin ya ma."


***


Sebenarnya Mama tau jika pria itu Sendy. Seseorang yang sempat dekat dengan anaknya. Setelah mendengar cerita Eresha, jika ia lupa segalanya tentang kecelakaan itu, artinya ia juga lupa tentang Sendy.


Mama memanfaatkan keadaan ini untuk membuat Eresha lupa dengan Sendy. Pria yang pernah mengisi hari-harinya. Yang pernah menjadi bagian dari kehidupan anaknya itu. Mama tau ada banyak luka yang tersisa jauh di relung hati anaknya. Mama tak ingin mengingatkan anaknya atas semua luka itu. Ia ingin hati anaknya sembuh. Akan terlalu sakit bagi Eresha jika mengetahui Sendy sedang tak baik-baik saja karena kecelakaan. Sebab itu melupakan semua hal tentang pria itu adalah jalan terbaik yang di pilih mama.


Tapi, seperti yang kita ketahui. Eresha adalah seorang gadis dengan firasat yang tajam. Semua orang, bahkan Eresha sendiri tahu jika firasatnya selalu benar dan tidak pernah meleset. Kali ini firasatnya bersuara lagi. Bisikan-bisikan batin yang hanya dapat didengar olehnya. Bisikan yang kali ini ia pertanyakan kebenarannya.


***


"Apa kami pernah bertemu sebelumnya?" Batinku dalam hati.


Bukan hanya aku yang merasakan ini. Bahkan tadi ia bilang juga pernah bertemu denganku sebelumnya. Siapa aku? Siapa dia? Dan siapa kami?


Kami seolah kehilangan jati diri kami. Bahkan kini aku seperti tak mengenal diriku lagi. Setelah kecelakaan itu aku seperti kehilangan sesuatu. Entah apa itu dan entah dimana hal itu. Kenapa takdir seolah menyembunyikan sesuatu dariku.


***


"Apa? Tapi kenapa ma?"


Aku terkejut bukan main mendengar pernyataan mama barusan.


"Kan kamu tahu sendiri nenek tinggal sendiri disana."


"Bukannya udah dari dulu juga nenek tinggal sendiri disana? Dan selama ini baik-baik aja kan?"


"Tapi, sekarang kan nenek udah semakin tua. Dan kamu juga semakin dewasa. Jadi mama kirim kamu kesana supaya bisa jagain nenek."


"Kenapa enggak Renata? Renata jauh lebih dewasa dari aku. Lagian aku masih harus sekolah ma."


"Renata kam harus kuliah disini. Soal sekolah mama bisa urus surat pindahnya."


"Kalau gitu kita sekeluarga aja pindah kesana."


"Eresha!"


Bentak mama.


Sontak aku bungkam. Rasanya hatiku sakit jika mendengar mama membentak ku. Bukan kali ini saja mama memperlakukanku seperti ini.


"Kenapa? Supaya mama dan papa bisa jadi keluarga bahagia sama anak mama Renata? Iya? Supaya enggak ada lagi yang buat masalah di keluarga kita? Bener kan?"


"Udah jangan ngebantah omongan mama. Akhir bulan, kamu langsung mama kirim ke Jakarta." Tegas mama seraya meninggalkanku.


"Kenapa sih mama selalu pilih kasih!"


Aku menangis sejadi-jadinya. Air mata yang sedari tadi ku tahan, tak dapat terbendung lagi. Sudah terlalu banyak kesedihan yang ku sembunyikan. Aku memeluk kaki ku, menenggelamkan wajahku diantaranya.


Aku selalu merasa jika semesta tak izinkan aku bahagia. Kenapa semua orang berlaku tak adil padaku. Termasuk mama, orang yang ku sayangi. Aku membenci mama ku sendiri, orang yang telah melahirkan ku. Orang yang telah memberiku kehidupan.


'Kling'


Ponselku berbunyi sambil bergetar singkat.


Aku spontan menoleh dan mengeceknya. Ada sebuah pesan singkat dari WhatsApp. Dari sebuah nomer yang tak ku kenal.


"Hai."


Baru saja berniat ingin membalasnya, tiba-tiba si pemilik nomer itu melakukan video call. Tanpa menunda lagi, aku segera mengangkat video call tersebut. Jujur aku penasaran dengan pemilik nomer itu.


"Hai." Sapa nya dengan suara yang terputus-putus tentu saja karena koneksi internetnya kurang bagus.


"Sendy?"


"Hai, lagi apa? Eh, kok mata kamu..... Habis nangis? Kenapa?"


"Ha? Enggak kok."


Aku buru-buru menghapus jejak air mataku, karena tak ingin menambah kecurigaan pria itu.

__ADS_1


"Habis nangis kan? Jangan bohong deh. Aku tahu kok."


"Udah la. Kan ini udah enggak nangis juga kok."


"Kenapa? Ada Masalah ya? Cerita aja. Siapa tau aku bisa bantu cariin solusinya."


"Enggak kok, tadi kaki aku yang cedera tiba-tiba sakit banget. Makanya aku nangis." Elak ku.


Untuk sementara ini, aku tak ingin menceritakan masalah ini kepada siapapun. Apalagi dengan orang yang baru saja ku kenal seperti dia. Lebih baik jangan terlalu mudah percaya kepada orang baru. Meskipun kelihatannya kami sudah  akrab, Kita juga punya privasi yang harus di jaga. 


"Eh, aku mau cerita sesuatu." Sambungnya.


Kelihatannya ia seseorang yang ramah dan mudah bergaul. Ia juga langsung berinisiatif mencari topik baru dan tidak membiarkan pembicaraan ini terlihat canggung.


"Cerita apa?"


"Akhir bulan nanti aku bakal pindah ke Jakarta."


"Serius?"


Aku senang bukan main mendengar ucapannya barusan.


"Iya beneran. Eh tunggu dulu kok keliatannya seneng banget?"


"Eh? Enggak kok biasa aja."


"Yakin?"


"Iya."


"Aku kebetulan pindah kesana karena aku keterima kuliah di salah satu universitas negeri disana."


"Wah selamat ya."


"Iya thanks."


"Jurusan apa?"


"Jurusan komunikasi."


"Enggak heran sih."


"Enggak heran gimana maksudnya?"


"Enggak heran kalau bakal masuk jurusan komunikasi. Kamu sendiri anaknya pinter banget komunikasi sampai-sampai cepat banget akrab sama orang. Sama aku contohnya."


"Haha, bisa aja. Ngomong-ngomong, kamu sendiri kenapa kok pindah ke Jakarta?"


"Disuruh mama sih awalnya buat nemenin nenek disana. Kasian nenek tinggal sendirian."


"Oh, jadi kamu kapan berangkatnya?"


"Sekitar tanggal 29 gitu lah."


"Aku belum tau pasti sih kapan berangkatnya. Tapi kemungkinan besar akhir bulan ini."


"Nanti kamu disana tinggal di mana? Ngekost?"


"Iya, kebetulan Rina udah cariin aku kost-an disana. Dia ada kenalan disana."


"Lagi-lagi kita punya kesamaan ya."


"Iya bener. Kita sama-sama baru aja ngalamin kecelakaan."


"Terus kita sama-sama bakalan ke Jakarta di waktu yang sama."


"Ngerasa gak sih kalau kita pernah ketemu sebelumnya?" Tanya kami serentak.


"Ah, udah lupain. Eh, mendingan aku panggil kamu kakak deh. Kan kamu lebih tua dari aku. Gimana kalau Kak Sendy?"


"Kak Sendy? Boleh juga."


"Sen... Tidur ya udah malam. Ingat kamu masih sakit. Pengen cepat sembuh kan?" Aku mendengar suara orang lain di ruangan Kak Sendy.


Kak Sendy memalingkan wajahnya sebentar dari layar ponselnya. Ia tak terlihat menggubris suara yang ku dengar barusan. Suaranya terdengar seperti suara seorang wanita.


"Lagi ngobrol sama siapa sih, kelihatannya asyik banget sampai lupa waktu."


Terlihat di layar ponselku jika wanita itu mengambil alih ponsel tersebut dari tangan Kak Sendy. Ia menatap tajam ke layar ponsel yang masih terhubung untuk melakukan video call denganku.


"Maaf disambung besok lagi obrolannya. Sendy butuh istirahat. Dia harus tidur." Ucapnya dengan ketus.


Sudah kuduga jika wanita itu adalah Rina. Hanya dia satu-satunya orang yang setahuku menemani Kak Sendy di rumah sakit ini.


'Tit... Tit... Tit...'


Video call nya terputus sesaat setelah ia mematikan ponselnya. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku. Tak habis pikir dengan wanita yang satu itu. Ia terlihat over protective dengan Kak Sendy. Bahkan terlihat jelas jika aku dekat-dekat dengan pria itu.


***


"Udah tidur yuk udah malam." Bujuk Rina.


"Balikin handphone gua!"


"Biar aku charge dulu ya. Liat nih baterai nya tinggal dikit."


"Enggak! Balikin gak! Ini privasi gua! Dan lo gak berhak sama sekali untuk ikut campur sama hal pribadi gua."


"Please kali ini nurut sama aku kak."


"Balikin atau gua bilang sama mama supaya lo enggak usah jagain gua lagi di rumah sakit. Gua bisa sendiri kok tanpa lo. Gua enggak suka lo ikut campur gini."


"Kakak kenapa sih semenjak kenal sama cewek itu, kakak enggak mau nurutin apa kata aku."


"Karena lo terlalu ngurusin hidup gua."


"Emang dia siapa sih? Kakak juga baru kenal kan? Kenapa kakak udah se-akrab itu sama dia. Dia itu bukan cewek baik-baik kak."


"Kalau gua baru kenal sama dia, terus apa kabar sama lo yang enggak kenal dia sama sekali tapi dengan yakinnya lo bilang kalau dia cewek yang enggak baik."

__ADS_1


Rina terbungkam, ia termakan akan kata-katanya sendiri. Ia tak mampu menarik kembali ucapnya barusan. Hampir saja ia keceplosan dan mengatakan jika Eresha adalah kekasih pria yang tepat tengah berada di depannya. Ia tak ingin jika pria yang ia cintai kembali jatuh ke pelukan Eresha.


Ia tahu, bahkan semesta juga tahu jika dulunya mereka adalah sepasang kekasih. Jauh sebelum kecelakaan itu terjadi, banyak kisah yang mereka tulis bersama diatas kertas takdir. Tapi kini, semua menolak mereka bersatu. Mereka melupakan semuanya. Kenangan yang pernah mereka lukis di atas kanvas kehidupan seolah lenyap begitu saja. Hilang tanpa jejak. Semua orang seolah tak ingin mereka kembali utuh seperti dulu. Kini mereka hanyalah separuh garis yang mencoba mencari sesuatu yang hilang. Mencoba utuh kembali namun selalu tak mampu.


__ADS_2