Pengagum Lara

Pengagum Lara
Episode 53


__ADS_3

Arka memarkirkan motornya di depan rumahnya begitu saja. Ia turun dari sepeda motornya kemudian bergegas masuk sambil merapikan rambutnya.


"Dari mana aja ka?!"


Tiba-tiba suara tersebut muncul seketika setelah Arka membuka pintu. Ternyata itu adalah mamanya yang sudah menanti Arka di ruang tengah, sejak ia pergi tadi.


"Eh, mama belum tidur?" Arka malah bertanya balik.


"Mama dari tadi nungguin kamu di sini nak."


"Bukannya mama udah masuk ke kamar ya tadi?"


"Mama tau kok kamu pergi, pakai kebut-kebutan segala..."


Arka tertunduk pasrah. Ia tak bisa mencari alasan lagi untuk mengelak. Pria ini telah kalah telak, kali ini ia mati kutu di hadapan mamanya.


"Jawab mama nak, kamu dari mana!" Bentak mamanya Arka.


Suasana malam itu langsung berubah seratus delapan puluh derajat. Kalimat-kalimat lantang yang disertai dengan suara tinggi tersebut cukup membuat rumah ini menjadi ramai.


"Mama enggak suka kamu kebut-kebutan nak..." Lanjut wanita itu dengan suara lirih.


Mamanya Arka menangkup pipi anak semata wayangnya tersebut dengan kedua tangannya. Ia menatap anak muda yang satu itu dengan begitu dalam, matanya berkaca-kaca. Kepala Arka yang tadinya tertunduk langsung mendongak menatap lekat mamanya.


"Mama kenapa ma? Maafin Arka kalau Arka salah... Jangan nangis ma..." Ujar Arka sembari langsung memeluk erat wanita yang begitu di sayanginya itu.


Arka jadi merasa begitu bersalah. Ia merasa telah begitu keterlaluan pada mamanya. Meski ia tak tahu pasti apa kesalahan yang telah ia perbuat, tetap saja pria itu marah kepada dirinya sendiri.


Ia tak bisa menepati janjinya kepada almarhum papanya. Pria hebat yang telah lama pergi itu pernah berpesan kepada Arka agar menjaga mamanya dan seorang wanita yang ia cintai nanti.


"Jaga orang-orang yang kau sayangi.... Mamamu ini dan seorang wanita yang mampu membuatmu jatuh cinta nanti. Jangan kecewakan mereka, hati perempuan itu rapuh dan mudah patah."


"Aku tak ingin jatuh cinta dulu untuk saat ini."


"Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri nak, percayalah suatu saat nanti akan papa kirimkan seorang gadis yang mampu membuatmu bertekuk lutut padanya."


"Jangan bicara seperti itu pa... Itu tak akan pernah terjadi padaku. Aku bisa menjaminnya."


Kurang lebih seperti itulah percakapan antara seorang anak dan ayahnya yang berlangsung beberapa tahun lalu. Sebuah kalimat yang tak pernah ia duga akan menjadi pesan terakhir dari papanya. Yang kini di anggapnya sebagai sebuah janji kepada dirinya sendiri.


Mamanya Arka spontan membalas perbuatan anaknya tersebut dengan membelai halus puncak kepala Arka.


"Mama trauma sama kejadian waktu kamu koma karena kecelakaan itu. Mama enggak mau berpisah sama anak mama sendiri." Bisik wanita itu di telinga anaknya.


Tidak bisa dipungukiri rasa sayang seorang ibu kepada anaknya akan hidup sepanjang masa. Hati Arka begitu terenyuh saat itu ketika mendengar kalimat tersebut terlontar dari mulut mamanya sendiri.


Arka bisa menangkap dengan jelas maksud dari perkataan mamanya tersebut. Wanita itu tak ingin terjadi sesuatu yang buruk dengannya. Ia tak ingin jika dirinya bernasib sama dengan almarhum papanya.


"Maafin Arka udah buat mama khawatir..." Ujar Arka.


"Emangnya kamu dari mana tadi kok buru-buru gitu?" Tanya wanita tersebut kemudian melepaskan cengkeramannya.


"Eresha ma...."


Lagi-lagi wajah Arka tertunduk lemah. Ia tak tahu harus memulainya dari mana.


"Arka takut kehilangan Eresha ma..." Lanjutnya.


"Kehilangan gimana maksudnya?" Mamanya Arka mulai berubah serius.


"Sama seperti kehilangan papa..." Ujar Arka dengan berat hati.


Walaupun ia belum tahu secara spesifik tentang kondisi fisik Eresha, namun entah kenapa intuisinya berkata jika Arka harus mempersiapkan dirinya sendiri untuk kehilangan lagi.


Mamanya Arka langsung bungkam seketika setelah mendengar kalimat tersebut.


"Maksudnya gimana ka? Maksud kamu Eresha bakal...."


Wanita itu sengaja menggantungkan kalimatnya. Ia tak sanggup jika harus mengucapkan kalimat yang terdengar begitu kejam untuk di tujukan kepada gadis kecil itu.


"Mati..."


Itulah kata yang ingin di maksud wanita itu tadi. Sebuah komentar kasar yang terdengar seperti tak memiliki peri kemanusiaan sama sekali. Meski suatu saat semua orang pasti akan mengalaminya.


"Iya ma...." Jawab Arka dengan hati-hati.


Wanita paruh baya tersebut semakin kehabisan kata-kata untuk bahasan mereka malam ini. Sebenarnya ini adalah sebuah topik yang agak berat untuk di bicarakan malam-malam seperti ini.


"Kondisi Eresha semakin memburuk ma, katanya karena terlalu banyak beban pikiran. Dan dulu dokter yang khusus nanganin Eresha pernah bilang kalau semakin buruk kondisinya, enggak menutup kemungkinan untuk..."


Arka tak sanggup lagi untuk melanjutkan bagian terakhir dari kalimat tersebut.


"Untuk mengancam kelangsungan hidupnya ma."


Pria itu memilih untuk melanjutkan kalimatnya meski dengan begitu susah payah.


"Arka enggak mau kalau perlahan semua orang yang Arka sayangi pergi ninggalin Arka." Lanjutnya.


Mamanya tahu persis perasaan anak ini. Arka tergolong anak yang tak suka bergaul dengan terlalu banyak orang. Jarang ada orang yang bisa begitu akrab dengannya. Biasanya hanya sekedar berteman biasa saja.


Anak ini akan membuka seluruh jati dirinya yang sesungguhnya kepada orang yang telah benar-benar dekat dengannya, yang bahkan tak pernah diketahui oleh semesta selama ini. Bahkan ia tak segan untuk mengungkap rahasia pribadinya.

__ADS_1


Adit dan Titan adalah teman sekolah yang paling dekat dengannya selama ini. Jauh sebelum gadis itu datang. Arka bukan merupakan seorang anak yang mudah dekat dengan seorang wanita. Tapi sekarang semua asumsi tentang Arka tersebut telah dipatahkan. Benar apa kata papanya tiga tahun lalu.


"Dia pasti bisa sembuh kok nak, selagi kita mau berusaha." Ujar Mamanya Arka.


Ia tak ingin anaknya terus-terusan larut dalam duka yang mendalam. Wanita ini ingin melihat anaknya yang ia kenal selama ini. Seorang Arka yang begitu tegar.


"Caranya gimana ma?" Tanya Arka antusias.


"Coba kamu ajak dia ke suatu tempat yang bisa bikin dia tenang. Supaya semua beban itu bisa perlahan hilang tanpa kalian sadari. Berikan ia sedikit lupa dari sekian banyak masalah yang ia punya." Jelas Mamanya Arka.


"Tapi tunggu Eresha keluar dari rumah sakit." Lanjutnya.


Wanita ini benar-benar selalu bisa di andalkan. Ada jutaan ide cemerlang yang tak pernah diungkapkannya kepada semesta. Ia punya ribuan solusi saat Arka sedang dalam masalah. Benar-benar seperti seorang malaikat penyelamat baginya.


"Aku akan coba ikuti saran mama dan cari tempat yang sesuai ma." Balas Arka.


Sepertinya pria itu tak perlu repot-repot memikirkan hal tersebut. Karena pada nyatanya ia telah menemukan sebuah tempat yang sangat cocok. Semoga saja rencananya kali ini berhasil dan gadis itu menjadi sedikit terhibur.


"Udah malam, sekarang kamu masuk kamar terus tidur. Jangan kelayapan lagi!"


Mamanya memperingati Arka dengan nada sedikit mengguyon.


"Iya ma..." Balas Arka sambil tertawa kecil.


***


Arka kembali menuju meja belajarnya. Sebenarnya matanya sudah mengantuk, tapi ia harus tetap menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu. Anak ini adalah tipe orang yang tidak suka menunda-nunda pekerjaannya.


"Kayanya gue harus ngelembur lagi deh malam ini." Keluh Arka.


Arka segera memulai pekerjaannya. Semakin cepat tugasnya selesai, maka akan semakin cepat pula ia bisa tidur.


Sudah dua jam lebih ia menghabiskan waktunya di tempat itu. Berkutat dengan buku dan alat tulis lainnya. Ia terus memaksakan dirinya malam itu. Karena ia tahu jika ini adalah bagian dari perjuangannya. Arka tahu betul jika saat ini ia sedang mempersiapkan masa depannya.


Arka melihat benda penunjuk waktu di salah satu sisi dinding kamarnya. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Pria itu melemaskan beberapa bagian tubuhnya yang terasa sangat kaku karena terlalu lama menunduk.


Hari ini Arka memutuskan untuk tidur di studio milik papanya. Ia segera menuju ke sana, tak lupa membawa selimut dan sebuah bantal bersamanya. Karena di sana memang tak di sediakan hal-hal semacam itu.


Pria ini juga perlu menenangkan dirinya sendiri. Ia harus bisa menangani dirinya sendiri sebelum membantu orang lain. Hari ini Arka merasa benar-benar lelah. Sudah lama ia tak ke tempat ini.


Biasa Arka memang tak pernah membawa siapapun ke sini. Hanya mamanya dan dirinya sendiri. Eresha adalah orang pertama yang pernah bawa ke sini selain keluarganya. Lagu pertama yang mereka mainkan bersama pada waktu itu terus terngiang-ngiang di kepala setiap kali ia memasuki ruangan ini. Seolah kejadian saat itu selalu terulang kembali. Semuanya terasa begitu nyata, sama seperti saat Eresha benar-benar ada di sana.


Arka merebahkan dirinya di atas sofa sambil menatap langit-langit. Rasa kantuknya mendadak hilang seketika setelah sampai di sini. Arka mengambil gitarnya yang terakhir kali ia letakkan di sofa ini. Jarinya mulai merakit nada yang tercipta dari petikan senar tersebut. Ia berusaha untuk mengusir rasa jenuhnya saat itu dengan memainkan beberapa lagu. Sekaligus mungkin saja melodi ini bisa membawanya hanyut dan terlelap hingga ke alam bawah sadarnya.


***


"Ngedumel mulu lo sen!" Ujar Rayhan yang sekaligus teman satu kamar Sendy di kost.


Sendy tak menggubris ucapan pria itu sama sekali. Kepalanya ingin pecah rasanya ketika melihat semua kekacauan di hadapannya. Sesekali ia menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dari tadi ia terus berusaha memutar otak untuk mendapatkan sebuah solusi. Namun semua itu sangatlah jauh dari harapannya. Di tambah Rayhan yang saat itu hanya bisa protes saja tanpa bisa membantu sedikitpun.


Nasi sudah menjadi bubur. Kini semua rancangan yang ia kerjakan selama ini enyah begitu saja. Rasanya sangat sia-sia perjalanannya ke Belanda kemarin. Mungkin ini belum rezeki yang Tuhan titipkan untuknya. Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan saat ini adalah merelakan segalanya.


Pria itu ini berencana untuk menggambar beberapa rancangan baru setelah ini. Ia akan menyelesaikan tugas kuliahnya terlebih dahulu, baru kemudian melanjutkan targetnya.


Setelah ia membereskan semua kekacauan tersebut, kemungkinan Sendy mengambil laptop miliknya. Ia menyandarkan badannya di salah satu sisi ruangan. Tangannya terus men-scroll halaman yang sedang ia buka saat itu dengan lincah. Sendy mencari beberapa contoh desain arsitektur yang ada di internet saat itu. Internet benar-benar sangat membantunya. Benda virtual tersebut mampu menyediakan berbagai macam referensi gambar unik yang tak pernah ia jumpai sebelumnya.


"Ada tugas kuliah lagi?" Tanya Rayhan.


"Menurut lo gimana..." Balas pria tersebut.


Rayhan adalah teman satu kamarnya sejak pertama kali ia pindah ke Jakarta. Pria yang satu itu merupakan anak jurusan hukum yang sedang menempuh pendidikannya di semester tiga. Mereka kuliah di universitas yang sama, hanya saja gedung kampus mereka memang terpisah cukup jauh.


Mereka berdua terbilang sudah sangat dekat satu sama lain. Meskipun terkadang masih sering bertengkar karena hal kecil, tapi hal itu tak berlangsung lama.


Sendy mengalihkan pandangannya sejenak ke arah temannya tersebut. Ia menyadari jika ada sesuatu yang ganjil pada anak itu. Biasanya Rayhan lah yang selalu membuat suasana menjadi ramai. Ia tak pernah lelah untuk terus berbicara, tak salah lagi ia memang cocok menjadi anak jurusan hukum. Tapi kali ini suaranya tiba-tiba menghilang diantara keriuhan suasana yang di ciptakan oleh suara-suara binatang malam.


Seperti yang sudah ia duga sebelumnya, Rayhan ternyata sudah kehabisan tenaga. Pria yang satu itu tertidur dengan pose khas ala dirinya. Tak biasanya ia tidur secepat ini, kecuali jika besoknya ada kelas pagi.


"Gue belum ada ngobrol sedikitpun sama Eresha hari ini." Gumam Sendy pelan.


Pria itu segera mengambil ponselnya, kemudian menghubungi gadis tersebut. Tapi saat percobaan pertama, nomernya sedang tak aktif. Sendy lantas mengecek ponselnya sekali lagi untuk memastikan satu hal.


Wajar saja ponselnya tidak aktif. Ia pasti telah mematikan benda tersebut agar tak mengganggu waktu istirahatnya. Sendy menepuk pelan jidatnya, ia menyadari tingkahnya yang aneh-aneh saja. Hari ini sudah sangat larut malam, pasti Eresha sedang tertidur pulas.


Sendy adalah salah satu dari banyaknya manusia yang harus lembur malam itu. Setiap malamnya selalu ada saja orang yang harus menyita jam tidurnya sendiri demi menggapai keinginannya.


Tiba-tiba ia teringat akan satu hal tentang gadis itu. Sesuatu yang sangat penting bagi Eresha. Sebentar lagi Eresha akan berulang tahun yang ke delapan belas tahun. Tepat di bulan ini tanggal 30, kurang lebih sekitar seminggu lagi. Ia harus menyiapkan sesuatu yang spesial untuk gadis itu.


Hari penting itu harus di rayakan. Kejadian bersejarah yang hanya terjadi sekali dalam setahun. Momen peringatan hari kelahirannya ke dunia. Banyak orang yang bersyukur atas terlahirnya malaikat kecil ini ke dunia. Tuhan tidak salah telah menciptakan manusia seindah dirinya. Gadis itu terlahir dengan membawa kebahagiaan di tangannya.


Siapapun orang yang berada di dekatnya akan merasa aman dan bahagia. Namun hidupnya tak selalu tentang bahagia. Gadis itu menyimpan jutaan luka yang ia pendam sendiri. Wajah ceria yang terpancar tak selalu begitu. Terkadang ada sisi lain dari dirinya yang tak ingin ia tunjukkan pada dunia. Dirinya yang terlalu buruk untuk di ketahui semesta.


***


Mentari perlahan naik menunjukkan rupanya. Cahaya lembut berwarna kuning jingga tersebut menerobos masuk dari setiap celah yang ada. Hangatnya mengubah dunia yang kala itu sedang meringkuk karena dinginnya malam. Kehadiran juga sebagai pertanda bagi semua orang jika hari ini telah di mulai. Akan selalu ada cerita baru setiap harinya. Entah itu senang atau sedih, yang penting kita harus menikmatinya. Sebuah cerita terkadang akan terasa membosankan jika di tulis tanpa konflik. Sama layaknya seperti perjalanan hidup yang selalu dipenuhi oleh puluhan pertanyaan setiap harinya.


Akan ada suatu bagian di mana kita berada di puncak masalah. Sebuah klimaks yang memaksa kita untuk menemukan antiklimaksnya.


Seperti biasanya, Jakarta kembali melanjutkan hidupnya untuk hari ini. Jalanan ibukota yang sempat lengang selama beberapa saat, kini kembali padat. Ribuan bahkan jutaan orang berlomba-lomba untuk ke kantor. Jantung ibukota ini kembali hidup. Semua orang semakin sibuk seiring dengan naiknya matahari.


Tak terkecuali dengan tempat dimana Eresha dan teman-teman menuntut ilmu. Para siswa sudah menyerobot pintu gerbang utama sejak tadi pagi. Tempat ini kembali hidup.

__ADS_1


Semua orang telah berada di kelasnya masing-masing karena jam pelajaran perankan segera di mulai. Tapi tidak dengan gadis yang satu itu. Hari ini ia tak berada di sana seperti biasanya.


Eresha terpaksa melewatkan semua materi yang disampaikan hari ini. Meskipun sebelumnya ia telah membuat resolusi belajar di tahun ini. Pada hakikatnya manusia boleh berencana sesuai dengan yang ia kehendaki. Ia berhak memilih jalan hidupnya dengan rencana-rencana yang ia buat tersebut. Tapi kembali lagi, semua keputusan ada di tangan yang maha kuasa. Yang baik menurut kita belum tentu yang terbaik menurut Tuhan, bisa jadi sebaliknya. Percayalah jika Tuhan akan memberikan kita yang terbaik, jauh lebih baik dari apa yang pernah kita rencanakan sebelumnya.


"Lo kemarin ketemu Eresha di mana?" Tanya Stefani pemasaran.


Semalam pria ini belum menjawab pertanyaannya, benar-benar menyebalkan.


Seperti biasanya, sekumpulan anak muda tersebut selalu membuka forum terlebih dahulu sebelum kelas dimulai. Mereka biasanya akan berkumpul bersama-sama sebetar, sambil membahas hal-hal ringan.


Satu detik, dua detik, tiga detik berlalu sudah. Stefani semakin geram karena Arka tak kunjung buka suara soal itu. Padahal ia tahu persis jika semua orang di sini penasaran dengan keberadaan gadis itu saat ini.


"Woy!" Bentak Stefani.


Arka yang dari tadi hanya melamun sambil menatap tempat duduk yang kosong di sebelahnya tiba-tiba tersentak dan segera sadar dari lamunannya.


"Apaan sih?" Tanya Arka dengan santai.


"Lo enggak denger apa yang gue bilang dari tadi?" Tanya Stefani yang sudah mulai tersulut emosi.


Arka lantas hanya menggeleng-gelengkan kepalanya tanpa merasa bersalah sedikitpun.


"Kemarin lo ketemu Eresha dimana?" Tanya Stefani sekali lagi.


Meski sulit baginya, namun gadis ini tetap berusaha untuk menahan amarahnya. Ia tak ingin terlihat buruk di depan Titan. Stefani belakangan ini selalu menjaga sikapnya agar terlihat anggun di mata Titan. Meski hal ini tak semudah itu untuk dilakukan, kali ini tekadnya sudah benar-benar bulat.


Sementara sosok yang ditanya lagi-lagi hanya diam dan bungkam. Ia tak tahu harus mulai bercerita dari mana. Ia tampak berpikir keras.


Arka menghela nafas panjang kemudian berkata, "Eresha kemarin drop lagi."


Mereka tak bisa berkata apa-apa lagi. Keempat orang tersebut terkejut bukan main saat mendengar kalimat tersebut yang terlontar dari mulut Arka.


"Kok bisa nge-drop?" Tanya Adit.


"Biasalah lagi banyak pikiran belakangan ini. Kan sekarang kita lagi benar-benar di push banget buat persiapan ujian." Jelas Arka.


"Gimana kalau nanti pas udah kelas sekolah, kita jenguk Eresha aja? Lo masih ingat kan ruangannya?" Usul Titan.


"Nah, maksud gue juga gitu tadinya." Timpal Arka.


"Yaudah sih, kita mah ikut-ikut kalian aja." Balas Clara.


Selebihnya hanya mengangguk mengiyakan perkataan Clara. Kali ini mereka semua sependapat dengan gadis ini.


"Tapi ada baiknya nggak sih kalau kita bawa sesuatu gitu ke sana? Enggak enak lah kita ke sana tanpa bawa apa-apa." Timpal Adit.


"Yaudah gampang itu mah, kita beli buah aja ntar di supermarket." Balas Stefani.


"Salut gue sama lo ka, sampai nyariin Eresha segitunya." Lanjutnya.


"Ko masih ada rasa sama Eresha kan ka?" Timpal Clara.


Entah kenapa tiba-tiba pembahasan mereka menjadi ngawur seperti ini. Kenapa malah jadi membahas soal masalah pribadinya. Kini pria itu merasa semakin terpojok oleh pertanyaan-pertanyaan yang sama sekali tak penting untuk di jawabnya.


Arka memilih bungkam dan tak ingin berkomentar lebih soal hal itu. Ia bahkan masih tak mengerti dengan perasaannya sendiri. Pria ini masih ragu apakah benar jika Eresha adalah seorang gadis yang pernah diramal papanya di masa lalu itu, atau ada gadis lain yang akan menaklukkan hatinya.


"Arka!" Sahut Clara.


Pria itu lagi-lagi tak menjawabnya sama sekali. Ia hanya menoleh sebentar sambil mendongakkan kepalanya.


"Lo masih suka kan sama Eresha? Lo masih nyimpen rasa kan sama dia? Apa lo belum bisa move on sedikit aja...."


Clara langsung menunjukan pertanyaan-pertanyaan tersebut kepada Arka.


"Apa gue harus jawab pertanyaan kalian itu?" Pria tersebut malah bertanya balik.


"Udah jawab aja!" Ketus Stefani tak sabar.


"Tapi itu kan masalah pribadi gue, apa kalian berhak tau?" Balas Arka.


"Apa lo enggan nganggep kita semua sebagai sahabat lo ka? Sehingga lo enggak mau cerita sama kita?" Sambung Titan.


Ia ragu jika harus menyampaikan hal ini kepada mereka. Arka tak bisa sepenuhnya percaya dengan teman-teman ini.


Bukannya ia tak yakin dengan sahabatnya sendiri, hanya saja menurutnya hal ini akan lebih baik jika disimpan sendiri saja. Ada masa dimana menjadi tidak tahu sama sekali akan terasa jauh lebih menenangkan bagi sebagian orang.


"Bahkan kalian enggak pernah ngasih tau kita sama sekali alasan kenapa kalian bisa putus gini." Ujar Clara.


"Masalahnya enggak semudah yang kalian bayangkan." Ujar Arka sambil mendesah pelan.


Kemudian ia membenarkan posisi duduknya yang sudah tak karuan lagi.


"Lebih baik lo kubur dalam-dalam aja semua rasa itu ka..." Ucap Clara.


Tentu saja Arka tak setuju dengan gadis itu. Ia seharusnya memikirkannya terlebih dahulu sebelum melontarkan kalimat tersebut. Melakukan semua itu tak semudah membalikkan telapak tangan.


"Apa lo cemburu sama Eresha?" Tunding Arka.


"Gue udah coba buat enggak ngungkit masa lalu kita kok ka..." Balas Clara dengan santai.


"Tapi ada satu hal yang harus lo tahu. Persahabatan kita semua enggak akan bisa berjalan sesuai yang kita mau kalau masih ada rasa saling suka diantara kita. Itu semua cuma bakal bikin kita terpecah belah. Rasa itu memang indah ka, tapi itu bakalan menghancurkan semuanya. Termasuk persahabatan kita semua." Jelas Clara.

__ADS_1


Arka langsung tertunduk lemah. Jika dipikir-pikir ada benarnya juga perkataan Clara barusan.


Sementara Stefani menggenggam erat tangannya. Ia merasa kata-kata barusan seolah menyindirnya. Tapi mereka semua harus memikirkan soal hal ini lagi.


__ADS_2