
Aku duduk termenung di sudut kamarku, diluar sedang hujan. Aku tak bisa kemana-mana dengan situasi seperti ini. Entah apa yang kupikirkan, aku sendiri bahkan tak tahu apa yang sedang ku lamunkan saat ini. Aku menatap keluar jendela, tidak ada tanda-tanda jika hujan akan segera mereda. Sesekali aku menyeka butiran embun halus yang terbentuk disana.
Nenek masih terbaring lemas di tempat tidurnya. Meski sudah beberapa hari yang lalu ia pulang dari rumah sakit, kondisinya tak kunjung membaik. Nenek sudah rutin meminum obat dari dokter, tapi tak ada perubahan yang cukup signifikan.
"Tok! Tok! Tok!"
Seseorang mengetuk pintu kamarku dari luar. Aku tak menggubrisnya samasekali. Kemudian, seseorang yang tampaknya tak sabar menunggu jawaban dari dalam langsung membuka gerendel pintu begitu saja. Sebenarnya penasaran atau tidak, kepalaku akan tetap refleks menoleh kesana.
"Ayo makan dulu." Ucap Renata pelan.
"Iya." Balasku ketus.
Dengan berat hati, aku melangkahkan kakiku untuk keluar dari dalam kamar. Sebenarnya ini sudah kesekian kalinya Renata membujukku untuk makan malam, namun aku tetap pada pendirianku. Sekarang aku bukan menuruti ajaknya karena hatiku sudah luluh, itu salah besar. Aku lebih memilih menuruti perkataan nya saja dari pada harus melihatnya berpuluh-puluh kali keluar masuk kamarku.
Kami duduk berdua di meja makan. Bibi masih merawat nenek yang belum bisa beranjak dari tempat tidurnya. Aku sama sekali tak memiliki nafsu makan saat ini. Aku hanya memakan dua sendok nasi putih kemudian beranjak dari sana.
"Mau kemana?" Tanya Renata.
"Ke kamar."
"Makanan kamu habisin dulu lah."
"Enggak selera sama sekali."
Aku segera kembali ke kamar kemudian mengambil hoodie yang tergantung di balik pintu. Sepertinya hujan sudah sedikit mereda, walau belum berhenti sepenuhnya.
"Mau kemana?"
Kenapa wanita ini selalu mengiris hidup ku, urusi saja hidupnya sendiri!
"Mau jalan-jalan sebentar."
Aku berusaha meredam emosi ku yang sudah berada di ubun-ubun. Aku malas berdebat lagi dengannya.
"Jalan-jalan kemana? Ini hujan loh."
"Ya cari angin lah. Disini hawanya panas banget, gerah!"
Aku mengibas-ngibaskan hoodie yang ku pakai.
"Tapi ini lagi hujan sha."
Aku tak menghiraukan peringatannya sama sekali. Semenjak ia tinggal bersama denganku dan nenek di rumah ini, aku merasa tak betah lagi berada di sini.
Aku menyusuri tepi jalan yang masih menyisakan genangan air karena hujan. Aku menendangi semua kerikil-kerikil kecil yang tak bersalah, tepat di depanku.
"Neng, mau kemana malam-malam begini?" Sahut seseorang dari pos satpam.
Aku menoleh ke arah sumber suara.
Itu Pak Wawan, security kompleks ini. Kebetulan mungkin dia sedang ada shift berjaga malam ini.
"Oh, mau ke minimarket sebentar pak." Jawabku.
Sebenarnya aku sendiri tak tahu dengan pasti kemana tujuanku saat ini.
"Oh, kalau begitu hati-hati ya neng."
"Iya pak, mari."
"Yoo, mari."
Aku keluar dari jalanan kompleks perumahan tadi. Langkahku terhenti sejenak, aku bingung harus kemana.
"Aku sebenarnya mau kemana sih?" Tanyaku pada diriku sendiri saat itu.
"Udah lah, kemana aja asalkan enggak ngeliat wajah Renata." Gumam ku pelan.
***
Renata panik karena Eresha mendadak pergi tanpa memberi tahu kemana ia akan pergi. Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah benda persegi panjang yang terletak begitu saja di atas meja makan.
Sepertinya Eresha melupakan ponselnya. Itu artinya sekarang Eresha tidak membawa ponsel, akan sulit bagi Renata mencari keberadaan adiknya itu.
Renata mengutak-atik ponsel Eresha yang kebetulan saat itu tak terkunci. Ia menemukan nomer Arka di urutan paling atas karena memang urutan abjad nya berawalan huruf A.
"Apa aku coba telepon Arka aja ya?" Gumam nya.
Ia menelepon Arka, berharap bisa meminta bantuan pria ini.
"Halo sha, ada apa?" Sahut suara dari seberang sana.
"Halo Arka, ini Renata."
"Kak Renata? Kok pakai handphone nya Eresha?"
"Eresha lagi sama kamu enggak?"
"Enggak tuh, kenapa?"
"Tadi abis makan malam tiba-tiba Eresha pergi gitu aja dan enggak bilang dia mau kemana. Handphone nya juga di tinggal."
"Astaga, ini beneran? Jadi Eresha kabur dari rumah?"
"Sepertinya gitu."
"Oke, kalau gitu aku langsung otw nyari Eresha ya."
"Oke, terimakasih banyak ya Arka."
Arka memutuskan telepon terlebih dahulu, ia langsung panik bukan main.
"Apa aku juga telepon Sendy aja kali ya?"
Renata langsung menghubungi pria yang dulu sempat menjadi kekasihnya itu.
"Semoga aja dia enggak lagi sibuk."
"Halo,sha?"
Semua orang tentu saja mengira jika ini adalah Eresha, padahal ini adalah Renata yang memakai nomer Eresha. Renata tak menyimpan satupun nomer temannya Eresha, termasuk Sendy.
"Ini Renata."
"Loh, ren. Ada apa ya?"
"Bisa nggak kesini sekarang juga, soalnya Eresha kabur dari rumah."
"Eresha kabur? Kok bisa?"
"Aku juga enggak tau sen, mending kami kesini sekarang. Kita cari Eresha bareng."
"Oke oke, aku langsung jalan. Kamu udah telepon Arka?"
"Udah, dia langsung nyari Eresha."
"Oke, aku jalan. Tunggu ya."
Renata langsung mematikan ponselnya kemudian bersiap.
***
"Gimana? Udah ada kabar dari Arka?"
"Belum."
Mereka berdua masih mencari Eresha di jalanan sekitar kompleks perumahan. Soalnya, menurut security tadi Eresha katanya pergi ke minimarket. Mereka sudah mendatangi satu-satunya minimarket di dekat sini, tapi hasilnya nihil.
***
Aku memutuskan untuk mampir ke salah satu cafe yang belakangan ini sering ku kunjungi. Terakhir kali aku kesini, ketika manggung bersama Kak Sendy. Aku duduk di meja yang satu-satunya masih kosong saat itu. Cafe ini benar-benar menjadi begitu ramai saat malam hari. Ada yang sedang hangout dengan teman-teman atau rekan kerjanya, ada pula yang sibuk.... Sibuk pacaran maksudnya. Tak heran juga jika tempat ini begitu ramai, karena ini memamg malam Minggu. Bagaimana bisa aku lupa soal itu.
"Silahkan, mau pesan apa mbak?" Ucap si pelayan cafe yang entah sudah sejak kapan berada di sampingku.
Aku melihat-lihat sebentar daftar menunya.
"Hmmm.... Milkshake cokelat sama kue choco lava aja deh mas." Ujarku.
"Baik mbak. Silahkan di tunggu pesanannya."
Aku hanya tersenyum tipis.
Band mana kali ini yang akan tampil disini. Menurutku cafe ini sangat membantu musisi-musisi kecil di luar sana untuk berkembang.
"Oh? Vokalisnya cewek?" Gumam ku ketika mereka mulai naik panggung.
Sangat jarang menemukan vokalis seorang wanita di cafe-cafe seperti ini. Kalau saja yang kemarin itu aku tidak di ajak Kak Sendy, mungkin namaku tidak akan masuk ke daftar vokalis wanita yang pernah menyumbangkan suaranya di cafe ini.
"Ini mbak pesanannya." Ujar si mas pelayan sambil menata makanan dan minuman yang ku pesan tadi.
Aku kagum dengan cara kerja cafe ini yang menyiapkan pesanan ku dengan begitu cepat. Padahal pengunjungnya sedang ramai-ramainya malam ini.
Pesanan ku datang tepat waktu sesaat sebelum musik di mulai. Aku merogoh kantong celanaku.
"Sial! Pasti ketinggalan."
Aku menggerutu kesal ketika tak mendapati ponselku berada di saku celanaku. Aku mencoba mengingat-ingat lagi dimana terakhir kali aku meletakkan benda itu. Tapi percuma saja, aku tetap tidak ingat. Aku benar-benar payah belakangan ini dalam hal mengingat.
***
"Coba telepon Arka, kita ketemu di taman." Perintah Sendy.
"Oke." Renata langsung mengeluarkan ponselnya.
"Halo, Arka. Kita ketemu di taman." Ucap Renata.
"Oh, oke aku kesana sekarang juga." Jawab dari seberang sana.
Mereka menuju taman dekat sini untuk membicarakan soal Eresha. Ia benar-benar sudah membuat semua orang panik. Mereka masih trauma jika Eresha berbuat nekat lagi kali ini.
Angin malam membelai halus rambut Renata yang tersibak oleh angin. Ternyata Arka lebih dulu sampai di tempat ini sebelum mereka berdua.
"Gimana? Udah ada kabar tentang Eresha?" Tanya Arka cemas.
"Belum." Jawab Renata yang hampir putus asa.
"Tapi ini udah malam, nanti kalau ada apa-apa sama Eresha di jalanĀ gimana."
Sendy terlihat begitu cemas, meski pada dasarnya semua orang disini memang khawatir akan keberadaan gadis labil itu, tapi ia lah yang paling terlihat cemas diantara yang lainnya.
__ADS_1
Jujur saja hati kecil Arka merasa cemburu melihat pria di depannya ini begitu mencemaskan keadaan Eresha sekarang.
"Aku takut dia malah berbuat lebih nekat dari pada kemarin." Ucap Arka dengan suara sedikit parau.
"Kalian enggak punya tempat spesial yang sering kalian datangi sama Eresha gak?" Tanya Renata mencoba memutar otak.
Kedua pria didepannya itu hanya menggeleng pasrah.
"Gimana sih. Katanya pacarnya." Sindir wanita itu.
Mereka berdua langsung tertunduk malu. Sindiran Renata barusan benar-benar mengenai tepat di jantung mereka. Tapi memang kenyataannya begitu, mereka tak memiliki satupun tempat yang menjadi favoritnya dengan Eresha.
"Terakhir kali kalian ada jalan bareng dia nggak? Entah kemana gitu."
"Cafe mungkin." Arka menyebutkan nama tempat itu dengan hati-hati.
Ia sendiri tak ingat dengan jelas kemana mereka pergi terakhir kalinya dengan Eresha.
"Iya, benar. Terakhir kali kita ke Cafe pas aku manggung." Sambung Sendy.
"Selain itu? Yang waktunya baru-baru ini?" Tanya Renata lebih jauh.
"Enggak ada sih seinga aku. Kalau kakak?"
"Aku juga enggak ada kemanapun sama Eresha setelah itu."
"Yaudah sekarang kita cek ke cafe." Balas Renata antusias.
Renata melirik sebentar ke benda berbentuk bundar yang melingkar indah di tangannya.
"Udah jam sebelas malam, mudah-mudahan belum tutup." Gumam Renata penuh harap.
Seharusnya semua pertokoan sudah tutup di jam-jam segitu. Itu merupakan jam standard toko untuk tutup.
Mereka segera melaju meninggalkan tempat itu untuk menyusul Eresha ke cafe jika benar ia berada di sana. Tempat itu adalah petunjuk terakhir yang mereka punya untuk sekarang ini. Jika Eresha tidak ada disana, maka sepertinya sudah tak ada harapan lagi bagi mereka untuk malam ini.
***
Aku membayar bill nya di kasir. Pengunjung cafe pun tampak sudah berpulangan satu-persatu. Perlahan tempat ini yang tadinya ramai, penuh, dan terlihat begitu sesak oleh padatnya pengunjung kini berbalik tiga ratus enam puluh derajat. Aku menjadi pelanggan terakhir yang masih berada di sana untuk membayar bill. Sebentar lagi tempat ini akan segera tutup.
Aku memutuskan untuk pulang ke rumah. Lagipula ini sudah terlalu malam, tak ada lagi tempat yang masih buka selarut ini.
Aku berhenti di atas sebuah jembatan menuju jalan pulang. Kaki ku mendadak sakit, terutama di bagian lutut. Apa ini termasuk efek jangka panjang akibat kecelakaan itu. Aku memutuskan untuk beristirahat sejenak disana, sambil menunggu taxi lewat. Rasanya kakiku sudah tak sanggup lagi untuk di paksa berjalan.
Aku berpegangan pada pembatas jembatan. Suara aliran sungai di bawahnya yang begitu deras membuatku penasaran. Sebenarnya jika boleh jujur, tempat ini lumayan mengerikan. Tempat ini di kelilingi oleh pohon bambu yang tumbuh menjulang di sepanjang jembatan ini. Bukan hanya itu, suara aliran sungai yang begitu deras di tambah dengan bunyi-bunyian hewan malam menambah kesan angker tempat ini.
Tapi aku tidak bisa beranjak dari sana. Kuharap taxi segera lewat.
"Kenapa coba harus lewat sini tadi." Aku menggerutu sebal atas diriku sendiri.
Betapa bodohnya aku memilih untuk lewat jalan ini tadi. Padahal aku bisa menunggu saja di depan cafe. Lagipula disana belum terlalu sepi, masih lumayan banyak kendaraan yang berlalu lalang. Aku yakin jika masih banyak taxi yang melewati jalanan itu.
Sekarang bagaimana caranya agar aku bisa pulang. Bagaimana bisa aku sampai lupa membawa ponsel.
Sekarang aku hanya bisa pasrah dengan keadaan.
"Bodoamat lah, kalau harus tidur disini malam ini juga enggak apa-apa." Batinku dalam hati.
Tiba-tiba ada cahaya terang yang dengan beraninya menembus gulita. Ku pikir itu adalah taxi yang melintas di daerah ini. Ternyata bukan, itu adalah dua buah sepeda motor yang berhenti tepat di depanku. Apa aku akan di culik, atau di begal. Aku langsung terbayang pada suatu scene film thriller, dimana si tokoh utama di culik lalu di bunuh. Otakku benar-benar sudah teracuni oleh film.
Mereka mendekat ke arahku, aku mencoba untuk tidak panik. Kakiku mundur beberapa langkah dari posisiku berdiri tadi. Sial! Hampir saja aku terjatuh ke sungai ini. Dengan sigap, salah satu dari mereka menangkap tubuhku. Sedikit lagi, jika mereka terlambat sepersekian detik saja, mungkin nyawaku sudah tak tertolong. Kakiku rasanya sangat lemas, dapat ku rasakan ketakutan yang begitu hebat di dalam diriku.
"Eresha."
Suara berat itu dengan elegannya membelai telingaku.
"Bagaimana dia bisa mengetahui nama ku?" Batinku dalam hati.
Orang itu langsung membawaku menjauh dari bibir jembatan maut itu. Kemudian mereka membuka helmnya.
"Kalian?" Ucapku kebingungan.
Orang yang tadi menolong ku adalah...... Arka? Pria itu langsung memeluk erat diriku.
Ia mengelus-elus punggungku, mencoba menenangkan diriku.
Setelah sama-sama merasa tenang, ia mulai melontarkan beberapa pertanyaan.
Bukan hanya Arka yang berada di sana, ada Kak Sendy dan juga.... Ayolah, aku tak sudi menyebut namanya. Baiklah dia Renata.
"Kalian ngapain?" Tanya ku lebih dulu.
Dapat ku lihat ada jutaan pertanyaan yang ingin mereka lontarkan padaku.
"Tau enggak, kita khawatir kamu kabur dari rumah." Jawab Renata dengan polosnya.
"Siapa yang kabur?"
Aku semakin kebingungan dengan tuduhan mereka padaku.
"Terus kamu ngapain disini? Mau nekat? Mau bunuh diri." Tunding Renata
"Kalian semua kenapa sih?" Aku semakin tak mengerti dengan yang mereka bicarakan sekarang.
"Kamu kenapa sha, kok kabur dari rumah?" Tanya Arka kemudian menangkup kedua pipiku.
"Gini ya, pertama aku enggak kabur dari rumah." Jelasku.
"Terus tadi kenapa pas aku tanya pergi kemana, kamu enggak jawab." Tunding Renata lagi.
"Dengar ya!" Jawabku dengan nada yang lebih tinggi.
Kesabarannku sudah habis menghadapi kelakuan kakak ku sendiri. Ia terus menuduhku dengan semua asumsi yang ia miliki tanpa tahu kebenarannya.
"Kan aku udah jelas-jelas bilang kalau tadi aku mau jalan-jalan cari angin."
Kali ini emosiku sudah tak bisa teredamkan lagi.
Aku tahu tak sepantasnya berbicara kasar, apalagi dengan nada seperti itu kepada orang yang lebih tua. Hari ini aku telah mencoba untuk menerima kehadirannya di rumah dan bersikap baik padanya. Aku telah mau makan malam dengannya dan berpamitan sebelum pergi tadi. Tapi kenapa dia selalu membuatku untuk kembali membencinya di saat aku mulai mencoba untuk memaafkannya.
"Maaf, aku cuma khawatir kamu kenapa-kenapa."
Wajah Renata tertunduk lemas, kata-kata yang diucapkannya barusan terdengar begitu tulus.
"Aku juga minta maaf." Balasku cuek.
"Yaudah daripada kalian berantem, mendingan kita pulang ya." Bujuk Kak Sendy.
Aku menganggukkan kepalaku.
Aku bersama dengan Arka, sementara Renata dengan Kak Sendy. Entah kenapa, saat melihat mereka berdua sedekat itu ada hati yang mengerang di dalam sana. Seolah Renata telah merebut Kak Sendy dariku, tapi aku dan pria itu kan hanya berteman. Bagaimana bisa rasa itu muncul tiba-tiba tanpa sebab.
***
Arka mengikuti sebuah sepeda motor di depannya yang juga menuju tempat yang sama dengan Arka. Ia melamun, masih memikirkan kejadian tadi. Meski ia tahu jika tak baik melamun disaat berkendara, tapi ini semua perintah dari alam bawah sadarnya.
Arka tak yakin esok rencananya akan berhasil. Tadi saja Renata malah ribut-ribut lagi dengan Eresha. Arka takut jika gadis ini malah membenci dirinya karena secara tidak langsung memaksa Eresha untuk memaafkan kakaknya.
Semua orang juga tahu jika niat pria ini baik. Tapi, tak ada yang bisa menebak gadis ini. Perasaannya terlalu cepat berubah, ia masih begitu labil.
Tapi walaupun Arka sudah mengetahui konsekuensinya nya, ia tak akan menyerah begitu saja sebelum mencobanya. Ia tak akan tahu bagaimana hasilnya jika ia sendiri tak mencobanya.
"Sha." Panggil Arka dengan ragu.
"Iya?" Jawab gadis yang sedang ia bonceng.
"Menurut kamu bener gak kata pepatah kalau usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil."
"Bener sih, tapi...." Ia sengaja menggantung kalimatnya, tampak berfikir sejenak.
"Yao apa?" Tanya Arka penasarannya.
"Tapi terkadang, malah hasil itu sendiri yang mengkhianati usaha kita."
Arka terdiam sebentar, memikirkan kata-kata gadis itu barusan. Kalimat itu mampu membungkam mulut Arka.
Ketakutannya akan kegagalan kembali membuatnya ragu untuk tetap terus melanjutkan rencana ini. Tapi Arka tetap lah seorang Arka. Mentalnya terlalu kokoh untuk di robohkan oleh secuil ketakutan yang tak berarti apa-apa.
Ia tetap akan melaksanakan rencana ini besok. Pasti akan selalu ada kemudahan yang Tuhan berikan untuk setiap rencana baiknya. Arka semakin yakin dan meneguhkan niatnya.
***
Kedua sepeda motor itu berhenti tepat di depan rumah Eresha. Mereka berempat terlihat layaknya seperti sepasang kekasih yang baru saja double date.
***
"Besok aku mau ngasih kejutan sama kamu." Ujar Arka.
"Kejutan apa lagi?" Tanyaku sambil mengembalikan helm milik Arka.
"Ada deh, besok aku kasih tau."
Jujur saat ini Arka semakin membuatku penasaran.
"Yaudah deh. Aku tunggu besok." Serahku pada Arka.
"Selamat malam, peri kecil." Ucap Arka sambil mengecup singkat dahi ku.
Aku sontak mematung di tempat.
"Hey, udah sana masuk. Udah malam besok sekolah."
Arka membuatku kembali tersadar.
"Ah? Iya." Balasku seraya tersenyum kaku.
Sial! Kenapa aku menjadi salah tingkah seperti ini di depan Arka. Semburat merah itu muncul seketika di wajahku. Rasanya aku ingin menghilang sekarang juga dari hadapannya.
"Eh..."
Tiba-tiba aku merasa melupakan sesuatu, aku yakin ada yang keliru.
"Kenapa?"
"Besok kan Minggu, kamu mau ke sekolah sendirian?"
"Ya aku bilang gitu kan supaya kamu langsung tidur."
"Udah sana pulang." Ujarku agar Arka segera pergi dari hadapanku.
__ADS_1
"Aku diusir nih ceritanya?" Tanya Arka dengan nada mengguyon.
"Kak Sendy! Ayo buruan cabut, kita diusir nih Ama yang punya rumah." Sahut Arka pada seorang pria di belakang nya.
"Oke deh." Kak Sendy mengiyakan kalimatnya barusan.
Kedua pria itu menyalakan sepeda motornya, bersiap untuk beranjak dari sana. Ini sudah terlalu larut malam, bukan waktunya lagi untuk berkeliaran di jalanan untuk mereka. Arka memasang helmnya.
"Aku pulang ya." Pamit Arka.
Aku hanya mengangguk, mengiyakan perkataannya.
"Hati-hati di jalan." Sambung ku.
Setelah mereka berdua benar-benar pergi dari sini, aku berlari ngacir masuk ke kamar. Bahkan aku tak memperdulikan Renata sedikitpun, aku meninggalkannya begitu saja tanpa sepatah katapun.
Aku terlalu bahagia atas perlakuan Arka padaku tadi. Itu semua seperti sebuah mimpi yang tak pernah ku duga akan benar-benar terjadi di hidupku.
Emosinya cepat berubah. Sebentar ia akan marah, dan dingin padaku tanpa ku ketahui alasannya. Sebentar dia akan bersikap begitu manis padaku. Aku curiga jika pria itu memiliki kelainan, semacam bipolar mungkin..... Ah, tapi sepertinya tidak. Aku masih yakin jika ia mempunyai alasan tersendiri untuk berubah seperti ini.
***
Di hari Minggunya,
Aku mencoba memejamkan mataku, aku mencoba terlelap. Tapi tak bisa sama sekali. Aku menghela nafas panjang, menatap langit-langit kamarku.
Sudah pukul dua pagi, tapi aku tak kunjung terlelap juga. Ada apa dengan ku?
"Ayolah, aku tak ingin terlambat besok."
Aku berharap kedua netraku mau mengerti keadaanku sekarang.
Tiba-tiba aku teringat dengan sosok misterius itu. Kenapa sampai sekarang aku belum menemukan jawabannya, aku bahkan tak tahu pasti apa yang membuat ia pergi dan menghilang dari ingatanku. Kemana ia pergi, aku kini sedang mencarinya dan berharap ia segera kembali ke memoriku. Aku ingin semua rasa penasaran ku tentangnya lekas terjawab. Apa ia memang di takdir kan untuk pergi dari ingatanku. Mungkin setelah kepergian ini, ia tetap akan menjadi sosok misterius yang tak pernah kembali lagi untuk menjawab semua pertanyaan ku tentangnya.
Mungkin juga sosok yang pernah ku kenal di masa lalu itu akan tetap menyembunyikan jati dirinya dariku. Dan mungkin wajahnya akan tetap jadi sebuah rahasia yang tak pernah terbongkar.
Aku mulai ragu dengan semua hal tentangnya yang hadir begitu saja di kepalaku. Hati kecilku bertanya apakah sosok itu benar ada di dunia nyata atau ia hanya lah sosok imaji yang ku ciptakan sendiri.
***
Senin,
Aku melahap sarapanku di meja makan bersama Renata. Mau tidak mau aku harus hidup berdampingan dengan wanita ini, dan bagaimanapun juga aku harus bisa menerima kehadirannya.
"Tin... Tin... Tin..."
Aku mendengar suara klakson yang begitu nyaring dari luar sana.
"Ah, mungkin tetangga kali." Batinku.
Aku kembali melanjutkan sarapanku yang belum selesai.
Renata mulai masuk ke kampus hari ini. Entah dengan apa di berangkat, aku tak mau mempertanyakan hal yang tidak penting itu. Aku menghabiskan sisa susu yang masih setengah gelas lagi. Kemudian aku mengambil hoodie dan tas sekolahku. Aku beranjak meletakkan piring kotorku di wastafel.
"Bi, nanti kalau nenek udah bangun tolong bilang kalau Eresha udah berangkat ya." Ucap pada bibi.
"Siap mbak." Balasnya singkat.
"Kalau gitu aku berangkat dulu ya." Pamit ku.
"Iya, hati-hati mbak."
"Aku berangkat dulu." Ucapku pada Renata.
Bagaimanapun juga dia adalah kakak ku, meskipun dia menyebalkan aku tetap harus menghormatinya. Andai peraturan tak tertulis itu tak pernah tercipta dalam sejarah umat manusia, mungkin sekarang aku tidak akan melakukan hal ini.
Jujur saat itu aku tak sedikitpun memalingkan wajahku ke arahnya. Aku hanya menatap lurus ke depan, jadi aku tak tahu persis bagaimana reaksinya saat itu.
"Lama banget." Ucap seseorang yang secara tiba-tiba muncul di hadapanku.
Aku refleks menghentikan langkahku saat itu.
"Udah lama disini?" Tanyaku sambil mengeratkan ikatan tali sepatuku.
"Lumayan." Jawabnya dengan santai di balik pilar.
Pria ini masih belum merubah sifat buruknya juga sampai saat ini. Kenapa ia harus muncul secara tiba-tiba tanpa memberitahukan ku terlebih dahulu. Mungkin itu adalah tabiat yang sudah mendarah daging dengan seorang Arka yang ku kenal.
Pagi ini kami berangkat ke sekolah bersama. Posisiku saat ini kemarin sempat di gantikan oleh Clara tanpa ku ketahui sebabnya sampai sekarang.
***
"Eresha Caitlyn Ananda."
Tumben sekali Stefani menyebutkan namaku dengan lengkap dan pelafalan yang benar. Biasanya dia selalu menyeleneh kan cara pelafalan namaku dengan berbagai aksen dari belahan dunia lainnya. Misalnya saja, dia pernah memanggilku dengan sebutan
"Ailisha."
Dan katanya itu adalah penyebutan yang benar menurut aksara China tradisional. Padahal sebenarnya namaku disebutkan dengan aksen Inggris.
"Irisha Keitlin Ananda."
Tapi kebanyakan orang memanggilku dengan sebutan
"Eresha."
Termasuk kalian yang sedang membaca ini, pasti juga memanggilku seperti itu. Walaupun sebenarnya itu salah total. Itu hanya gaya penulisan, dan bukan cara penyebutannya. Tapi dari kecil aku sudah terbiasa di panggil dengan sebutan itu. Tak terkecuali para guru yang setiap pagi menyebutkan namaku di absen kelas.
"Ada apa?" Tanyaku cepat.
"Liat tugas ekonomi dong, hehe..." Ucapnya sambil menengadahkan kedua tangannya.
"Ambil sendiri di tas."
Aku segera menyerahkan tas ku.
Dengan bringas gadis ini langsung merogoh seluruh isi tas ku. Memburu buku latihan pelajaran ekonomi yang seolah seperti sebuah buronan baginya.
Sebenarnya Stefani tak selalu tidak mengerjakan tugas. Ia mengerjakan semua tugas semampunya, dan selebihnya ia mencari jawabannya di sekolah. Tapi ia lebih sering tak mengerjakan tugas.
Aku duduk disebelahnya, merapihkan ikatan rambutku yang mengendur.
"Itu tangan nulis atau balapan?" Tanya ku.
Aku berdecak kagum melihat bakat terpendam Stefani yang selama ini tak disadari semesta. Ia begitu cepat dalam hal menyalin, kecepatannya melebihi kecepatan maksimum motor balap dan setara dengan tiga kali lipat kecepatan cheetah. Bagaimana bisa selama ini aku tak menyadari hal itu.
"Drrttt."
Ponselku bergetar singkat.
Itu pasti notifikasi yang masuk dari salah satu aplikasi. Aku segera mengeceknya.
"Keluar sebentar."
Begitu bunyi pesan singkat yang di kirimkan Arka dari WhatsApp.
"Apa ia ada di luar? Kenapa tidak masuk saja?" Batinku dalam hati.
"Stef, aku tinggal bentar ya."
Aku langsung beranjak saja dari sana tanpa menunggu jawaban Stefani. Lagipula ia terlalu sibuk dengan tugas ekonomi nya yang belum selesai.
Tiba-tiba sebuah tangan menarik ku untuk menepi dari pintu.
"Ada apa? Kenapa enggak masuk aja?" Tanya ku.
"Enggak enak, nanti malah di liatin teman sekelas kamu. Udah disini aja mendingan." Jelasnya.
Kelas memang sudah lumayan ramai, hampir terisi penuh. Lagipula aku tadi berangkat agak siang, jadi wajar saja.
"Jadi mau ngapain?" Tanyaku to the poin.
"Ah, iya sampai lupa. Aku mau ngasih tau surprise nya."
"Surprise? Yang kamu maksud kemarin?"
Arka mengangguk-anggukan kepalanya dengan semangat.
"Jadi nanti malam aku mau ngajak kamu ke pasar malam." Ujarnya dengan begitu girang seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan sebungkus permen.
"Pasar malam? Ngapain?"
"Ya jalan-jalan lah." Arka mengacak-acak puncak kepalaku dengan gemas.
"Kita double date." Bisiknya di telingaku.
"Ha? Double date? Sama siapa?"
Itu artinya bukan hanya aku dan Arka yang kesana nanti.
"Sama Kak Sendy." Ucapan dengan polos.
"Kak Sendy udah punya pacar?"
Entahlah kenapa lagi dengan diriku ini. Lagi-lagi hatiku merasa begitu sakit mendengar pernyataan Arka tentang Kak Sendy barusan. Mengapa aku harus cemburu dengan setiap hal tentang Kak Sendy. Lagipula ia memiliki kehidupannya sendiri, dan aku tidak memiliki hak sedikitpun untuk ikut campur. Sampai sekarang aku masih belum mengerti dengan diriku sendiri.
"Enggak lah, belum." Jawab Arka.
"Terus kok kamu bilang double date?"
"Ya seharusnya sih cuma aku, kamu, sama Kak Sendy. Cuma Kak Sendy enggak mau jadi nyamuk. Jadi ya dia minta ajak temen satu lagi. Biar dia ada temen ngobrolnya." Jelas Arka.
"Terus kalau ngajak temen, yang satu lagi siapa?"
"Kak Renata."
"Enggak!" Aku menolak dengan cepat.
"Ayo lah sha, mau ya."
"Yang lain enggak bisa apa? Kenapa harus Renata?"
Aku melipat kedua tanganku di depan dada sambil mendengus sebal.
"Aku pengen, kita semua pengen hubungan kamu sama Kak Renata membaik lagi seperti dulu. Kita pengen kalian cepat akur lagi kayak dulu."
"Dari dulu kita juga enggak pernah akur." Timpal ku.
Tapi itu memang benar. Sejak awal pertama bertemu dengan wanita itu, first impression yang kami ciptakan memang sudah terkesan tidak baik. Sampai akhirnya kami berdua tahu jika kami adalah saudara kandung, setelah itu setiap hari menjadi cerita buruk yang terlukis di hidupku. Dunia menjauh dariku, bahkan kumpulan bintang bintang di galaksi berubah memusuhi ku.
__ADS_1
Masalah antara kami berdua tak sesederhana itu Arka. Ini semua terlalu rumit untuk kamu mengerti, bahkan aku sendiri masih belum mengerti. Hubungan kami juga sudah terlalu kusut untuk kembali di luruskan. Kini tak ada yang bisa berbuat apa-apa. Termasuk kamu Arka.