Pengagum Lara

Pengagum Lara
Episode 28


__ADS_3

"Ngapain masih disini?" Tanyaku dengan nada lantang pada Clara.


"Ya suka-suka aku dong kan ini tadi bangkunya kosong." Jawabnya sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Yang punya udah dateng jadi lo enggak ada hak buat tetap duduk disini." Bela Arka.


Clara mendengus sebal, ia menghentakkan kakinya kemudian pindah ke kursi sebelah.


Sudah bisa dipastikan jika aku akan membawa pulang medali emas kali ini. Baru kali ini aku benar-benar merasa bangga dengan diriku sendiri.


Matematika sendiri berada di urutan ke delapan. Arka masih bisa bersantai-santai sekarang. Tapi mari kita lihat sebentar lagi akan seperti apa ekspresinya.


Arka meraih tangan kananku. Ia menggenggamnya dengan begitu erat. Suhu tangannya berubah jadi dingin, sama seperti aku tadi.


"Kenapa?" Tanyaku.


Ia hanya melirik sebentar ke arahku, tak menggubris pertanyaan ku sama sekali. Aku mengangkat tangannya yang masih terkepal erat. Tangan kiri ku meraba pergelangan tangannya, aku mencoba menemukan denyut nadinya. Yang benar saja, sesuai dugaan ku. Pria ini yang sempat mengejekku tadi, kini ia termakan omongannya sendiri.


"Ngapain?" Tanya nya heran.


"Kan bener deg-degan."


"Udah ah diem, aku lagi deg-degan nih."


"Makanya jangan bilangin orang. Tuh kan rasain ke makan  ucapan sendiri."


"Bukannya malah nenangin, ini malah ngejekin."


"Iya iya, sini." Ucapku kemudian merangkulnya dari samping.


Aku mengusap-usap bahunya. Berharap ia merasa lebih tenang dan percaya diri.


***


Bu Tar sudah mengisyaratkan agar Arka segera turun dan bersiap di samping panggung bersama anggota lainnya. Aku yakin jika ini adalah saat-saat paling menegangkan baginya.


"Semangat." Kali ini gantian aku yang membisikkan kalimat itu di telinganya sebelum ia pergi.


Arka hanya tersenyum tipis, kemudian beranjak dari sana.


"Semangat Arka!" Teriak Clara.


Aku mendecak sebal terhadap gadis itu.


Sial! Tanganku kini basah semua karena keringat dari tangan Arka. Benar-benar menjijikkan, aku segera mengelapnya di rok ku. Tapi tetap saja tanganku rasanya lengket.


Arka kini sudah bersiap di mejanya. Aku bertepuk tangan pelan untuk menyemangatinya. Sementara gadis yang duduk di sebelahku selalu saja berusaha untuk mencuri perhatian Arka.


Pertanyaan pertama berhasil di telan Arka bulat-bulat. Begitu pula dengan pertanyaan selanjutnya. Kertas buram yang disediakan panitia masih tampak kosong dan tergeletak begitu saja di atas meja Arka tanpa disentuhnya samasekali.


Luar biasanya, apa dia memikirkan semua itu di luar kepalanya? Benar-benar hebat bagaimana bisa ia memecahkan itu semua dengan cepat dan tepat.


Hingga tibalah pertanyaan terakhir, Arka tampak berpikir keras. Kali ini ia menggunakan kertas buramnya itu. Otaknya sudah tak sanggup lagi menampung semua jawaban, sehingga ia harus menuangkan semua jawabannya di kertas agar hal penting itu tak hilang begitu saja dari ingatannya.


Aku menatap Arka dengan penuh harap. Semoga ia bisa menyelesaikan soal itu dan menyempurnakan skornya.


"Tetttt!!!"


Semua orang terkejut ketika seseorang siswa berkacamata di ujung sana menekan bel duluan.


"Lima!" Jawabnya dengan penuh keyakinan.


"Benar sekali!" Jawab si pembawa acara.


Arka memukul mejanya beberapa kali, menunjukkan kekesalannya. Sedikit lagi ia hampir mendapatkan skor yang sempurna itu. Tapi kali ini Dewi Fortuna berkata lain padanya.


Padahal meskipun ia telah gagal menjawab pertanyaan terakhir, ia tetap akan keluar sebagai pemenangnya. Karena bagaimanapun juga Arka lah yang mendapatkan skor paling banyak diantara peserta lainnya.


Arka kembali dengan perasaan campur aduk tak karuan. Beberapa kali ia terlihat mengacak-acak rambutnya karena kesal.


"Liat nih sha, padahal jawaban aku udah sama persis kayak yang dia bilang. Padahal aku tadi tinggal mencet bel nya doang." Protesnya tak terima sambil menunjukkan kertas buram yang ia bawa kesini.


"Arka, enggak apa-apa kok. Kamu udah hebat loh tadi." Sambung Clara.


"Enggak ada yang nyuruh lo buat ngomong. Jadi mendingan diem aja deh. Sebelum kertas ini aku sumpelin ke mulut kamu." Ketus Arka yang sedang emosi.


"It's okay ka... Seperti yang kamu bilang di bis tadi, enggak ada seorangpun yang sempurna di dunia ini. Mereka semua nyaris saja sempurna. Tapi yang kamu lakukan sejauh ini udah hebat kok. Kamu udah bisa mencetak skor tertinggi diantara peserta lainnya. Jadi sekarang posisi kamu udah aman." Jelasku.


Arka mengangguk sebentar sambil mengatur emosinya yang tengah meledak-ledak jauh di dalam sana.


***


"Baiklah sekarang atas keputusan juri, kami telah mendapatkan nama-nama pemenang untuk olimpiade kali ini." Ujar si pembawa acara.


Suasana benar-benar tegang sekarang. Semua orang tak sabar untuk mendengarkan hasilnya.


"Untuk cabang mata pelajaran kimia..." Ia sengaja menggantung kalimatnya dan membuat kami semakin geregetan.


"Juara pertama Clara Anindita, dari SMA Nusantara!" Serunya dengan suara menggelegar.


Seluruh peserta bertepuk tangan mengapresiasi prestasi Clara, termasuk aku.


"Juara kedua Husein dari SMA Arwana dan juara ketiga Yanti Nisya dari SMA Negeri 2." Lanjutnya membawakan nama pemenang berikutnya.


Mereka diinstruksikan untuk berbaris memanjang di atas panggung.


"Selanjutnya untuk cabang mata pelajaran Bahasa Inggris, Juara pertama adalah Eresha Caitlyn Ananda dari SMA Nusantara!"


Mataku membulat sempurna sesaat setelah ia menyebutkan namaku dengan pengeras suara itu. Aku tak pernah membayangkan jika ini akan terjadi padaku sebelumnya.


Aku berlari dengan penuh semangat menuju panggung, menempati posisi disamping barisan anak olimpiade kimia. Seluruh siswa SMA Nusantara saat itu bertepuk tangan dengan gemuruh. Sejauh ini SMA Nusantara masih mempertahankan posisi sebagai juara pertama.


Nama-nama peserta lainnya dipanggilkan satu-persatu sesuai dengan peringkat dan mata pelajaran yang diikutinya.


"Untuk cabang mata pelajaran matematika..."


Aku menatap Arka dari kejauhan. Wajahnya tertunduk penuh harap.


"Juara pertama atas nama Arka.... Dari SMA Nusantara!"


Aku bertepuk tangan untuknya. Ia


Mendongakkan kepalanya, senyum lebar itu mengembang di wajahnya.


"Selamat." Ucapku ketika ia melintas di depanku.


Ia menoleh sebentar kemudian mengangguk. Seorang Arka terlalu bersemangat untuk menempati posisi pertama.


***


"Dan inilah para pemenang kita kali ini!" Seru si pembawa acara.


Untuk kesekian kalinya kudengar suara tepukan tangan yang begitu meriah mengisi seluruh ruangan. Yang paling semangat bertepuk tangan adalah para siswa dari SMA Nusantara, kami terlalu bahagia karena sekolah kami keluar sebagai Juara umum di olimpiade kali ini.


Sekolah kami berhasil mendapatkan skor tertinggi kali ini. Kami semua benar-benar tak percaya. Aku terlalu bahagia sehingga tempo detak jantungku meningkat drastis. Itu hal biasa di pelajaran biologi. Jantungmu akan memompa darah lebih cepat ketika emosimu berlebihan dan itu juga mempengaruhi tensimu.


***


Kami keluar dengan perasaan sangat bahagia. Sebentar, sudah berapa kali ku nyatakan jika aku bahagia?


Arka menghentikan langkahku. Kedua tangannya menangkup pipiku. Wajahnya berubah jadi serius.


"Kamu percaya sama apa yang barusan kita dapet."


"Menurut kamu?"


"Aku enggak bisa berkata-kata lagi sha." Ujarnya.


"Kamu pikir kamu aja yang begitu Arka? Eh, by the way kan aku berhasil dapetin skor yang lebih tinggi daripada kamu, itu artinya....."


"Iya-iya kamu menang deh." Jawabnya pasrah.


"Eh, gimana kalau aku neraktir kamu di Ancol aja. Sekalian kita makan siang. Gimana?"


"Boleh juga." Jawabku sambil menganggukkan kepala.


"Tapi sebelum itu kita foto dulu dong." Ajaknya.


"Eh, tolong fotoin dong!" Arka menghentikan salah satu siswa dan meminta bantuannya untuk mengambilkan foto kami.


"Oke." Jawabnya singkat.


Arka mengeluarkan ponselnya dari saku kemudian memberikannya kepada pria itu.


"Siap ya! Satu! Dua! Tiga!"


"Cekrekk!"


Kami berpose sambil memamerkan medali yang baru saja kami dapatkan.


"Gimana hasilnya?" Ia menghampiri kami sambil menunjukkan hasil jepretannya.


"Bagus kok. Makasih ya bro." Ucap Arka sambil menepuk pelan pundaknya.


Kami kembali ke bis untuk segera pulang ke sekolah dengan membawa kabar bahagia ini.


***


"Aku ngambil sepeda motor dulu ya di parkiran." Ucapnya sesaat setelah turun dari bis.


Aku mengangguk mengiyakan perkataannya, kemudian menepi. Medali yang terkalung di leherku segera ku simpan di tas.


"Yuk naik!" Arka menghampiriku dengan sepeda motornya.


Aku lantas naik dan memakai helm pemberian Arka. Kami segera meninggalkan bangunan itu untuk mengisi energi yang telah terkuras habis karena harus berpikir keras.


"Kita mampir ke pom bensin dulu ya." Ucapnya diatas sepeda motor yang sedang melaju itu.


"Oke." Jawabku singkat.


Arka menepikan sepeda motornya ke arah pom bensin. Aku turun dari sepeda motor agar Arka bisa membuka tangki minyaknya.


"Mas isi yang dua liter ya." Ucap Arka sambil membuka penutup tangki.


"Oke mas."


Arka terlihat mengeluarkan beberapa lembar uang kertas dari sakunya. Aku segera mencegah tangannya dan mengembalikan uang itu ke dalam sakunya. Arka menatapku kebingungan.


"Biar aku aja yang bayar." Ucapku kemudian mengeluarkan selembar uang limapuluh ribu.


"Loh? Sha. Ngapain, udah biar aku aja. Kok malah kamu yang bayar." Protesnya.


"Ini mas." Aku memberikan uangnya.


"Sebentar ya mbak saya ambil kembaliannya."


Si penjual merogoh kantongnya kemudian memberikanku kembaliannya.


"Ini mbak terimakasih banyak." Ujarnya sambil menyodorkan uang kembalian ku.


"Iya mas, sama-sama."


Arka menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Yuk!" Ajak ku kemudian naik kembali.

__ADS_1


Kening Arka masih mengernyit karena kebingungan. Aku tersenyum kecil melihat pantulan wajah pria itu dari kaca spion.


"Udah buruan, laper nih." Aku menepuk pelan pundak Arka.


"Iya iya." Jawabnya singkat lalu menyalakan sepeda motornya.


***


Arka memarkirkan sepeda motornya sebentar. Sementara itu aku menunggunya di depan pintu masuk. Kami berjalan beriringan ke dalam restoran. Langkah kami terhenti sejenak, kami mengedarkan pandangan ke segala penjuru untuk mencari tempat duduk yang kosong. Tempat ini sudah lumayan ramai karena sekarang sudah memasuki waktu makan siang. Tak sedikit pekerja kantoran yang mampir kesini untuk makan siang.


"Penuh semua ka." Ujarku dengan sedikit kecewa karena kami tak mendapatkan tempat duduk.


"Kita duduk di luar aja ya di gazebo nya." Ajak Arka.


Aku hanya menurut saja.


Kami keluar dari restoran dan memilih makan di gazebo saja.


"Mau makan apa?" Tanya Arka yang sedang melihat-lihat menu makanan.


"Terserah kamu aja."


"Kalau seafood gimana?"


"Seafood kan mahal ka." Ujarku kemudian merebut buku menu untuk melihat harganya.


"Tuh kan bener mahal." Sambung ku.


"Udah sih enggak apa-apa, lagian sekalian buat ngerayain kemenangan kita."


"Yaudah deh terserah kamu. Aku ngikut aja."


Arka mengangguk, ia memanggil seorang pelayan kemudian memesan makanan yang sudah kami sepakati bersama.


"Mas, paket hemat seafood nya dua ya." Ujar Arka.


"Oh, oke mas ditunggu ya." Balas di pelayanan kemudian segera mencatat pesanan kami di buku kecilnya.


"Sha."


"Iya?"


"Tadi kami kenapa kok malah kamu yang bayarin besin aku."


"Ya enggak apa-apa. Emang enggak boleh gitu?"


"Ya bukan gitu. Kan malah nyusahin kamu. Nanti aku ganti deh."


"Eh, apaan sih pakek di gantiin segala. Udah lah lagian nih ya yang namanya orang pacaran itu harus saling melengkapi. Ya aku enggak enak lah kalau terus-terusan dibayarin sama kamu." Jelasku.


"Ih, so sweet banget sih pacar aku." Ucapnya sambil mencubit pipiku gemas.


"Arka sakit!" Aku memukul pelan tangannya.


"Sakit tau!" Ketus ku sambil mengelus pipiku yang memerah.


"Permisi mbak, mas ini pesanannya." Ucap seorang pelayan yang menghampiri meja kami.


Ia meletakkan dua porsi cumi dan kerang yang di masak saus tiram, lengkap dengan nasi dan lalapannya di atas meja kami. Kemudian lemon tea sebagai minumnya. Baru melihatnya saja sudah membuat cacing-cacing di perutku protes, memalukan sekali.


"Selamat menikmati." Ucap si pelayan dengan ramah.


"Terimakasih mas." Balasku.


Kami segera menyantap hidangan di depan kami. Tak ada satupun dari kami yang membuka suara. Ayolah, tolong mengerti kami sangat lelah dan butuh asupan agar kembali bersemangat.


"Nanti ke pantai yuk." Ajak Arka.


Arka memecah keheningan suasana.


"Ngapain?" Tanyaku dengan mulut terisi penuh.


"Aku punya kejutan."


"Kejutan apa?"


"Pokoknya kejutan aja. Udah lanjutin makannya habis itu kita kesana."


***


Arka membayar bill yang disediakan oleh pelayan. Aku menghabiskan sisa minumanku. Arka langsung menarik tanganku untuk turun dari gazebo. Aku berusaha menyejajarkan langkahku dengan langkah pria ini. Tiba-tiba ia menghentikan langkahku.


"Coba tutup mata kamu."


"Mau ngapain sih?"


"Udah tutup aja." Perintahnya.


Aku menurut saja pada pria ini. Ia lantas berdiri di belakangku, kemudian kedua tangannya menutup telingaku.


Ia menuntunku untuk berjalan terus ke depan. Bisa ku dengar deburan ombak di sekitarku. Kakiku mundur tiba-tiba, aku terkejut ketika air laut menyentuh ujung kakiku. Ia membawaku semakin jauh ke dalam hingga setinggi lutut ku. Bisa kurasakan arus ombak beberapa kali menyapu kakiku.


Arka melepaskan tangannya dari mataku. Aku membuka mataku kemudian mengernyitkan keningku. Sinar matahari terlalu tajam menusuk pengelihatanku yang sejak tadi diselimuti sang hitam.


"Ngapain kita ditengah-tengah sini." Tanyaku heran.


"Sebentar. Ekhemm... Hemm..." Ia berdeham beberapa kali.


"Bila ada yang tanya, siapakah aku. Sejujurnya telah kau ceritakan ku...." Arka menyanyikan sebait lagu.


Aku tidak pernah mengira sebelumnya jika pria ini memiliki suara yang lumayan juga, tidak buruk.


"Jangan bilang, jangan katakan. Ku penantian mu, tunggu saja waktunya nanti bicara..." Sambung ku.


"Kamu tahu juga lagunya?" Tanya Arka terkejut.


"Kita nyanyi bareng ya." Ajaknya.


"Satu... Dua... Tiga..." Instruksinya.


"Biarkanlah cinta begini adanya... Berdua kita dalam perasaan sama... Kau berlari, ku ikuti... Kamu pergi aku mencari


... Biarkanlah cinta kita begini adanya..."


Biarkanlah cinta begini adanya-OST. Ananta


***


"Makasih banyak ya Arka untuk hari ini." Ucapku dengan tulus.


"Emang hari ini aku ada ngelakuin apa buat kamu? sampai pakai ngucapin terimakasih segala."


"Udahlah enggak perlu di bahas lagi. Ini helm nya." Aku berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Aku masuk dulu ya." Pamitku.


Arka hanya mengangguk dan tetap berada di sana sampai aku masuk, ia memang selalu seperti itu.


Mataku terbelalak lebar ketika mendapati gerbang dikunci dengan gembok besar. Apa nenek sedang pergi? Tapi biasanya jika akan pergi mereka selalu memberitahuku dimana kunci cadangan. Aku mengecek ke bawah pot bunga untuk mencari kunci yang biasa di letakkan disana. Tapi tak ada apapun dibawakan sana.


"Ngapain?" Tanya Arka heran.


"Bi! Bibi! Nek! Nek!" Teriakku dari luar, berharap seseorang di dalam sana mendengar sahutan ku barusan.


"Eresha!" Seseorang menepuk pundak ku dari belakang.


"Iya Bu?" Itu Bu Wati tetanggaku.


"Tadi ibu lihat ada ambulans ke sini." Beritahunya padaku.


"Ambulans? Siapa yang sakit?" Tanyaku panik.


"Kurang tahu kalau soal itu ibu mah neng. Tapi tadi ibu lihat tulisan di ambulans nya milik Rumah Sakit Medika neng kalau enggak salah. Coba neng susul aja kesana, soalnya di rumah enggak ada orang." Jelas Bu Wati.


"Oh iya iya terimakasih ya bu." Ujarku.


Siapa yang sakit, apaa nenek? Setahuku saat aku ke kamar nenek tadi pagi, ia baik-baiknya saja. Apa sekarang kondisinya menurun. Aku segera berbalik menghampiri Arka, beruntung pria itu belum beranjak dari sana.


"Arka, ayo buruan!" Ujarku sambil menepuk-nepuk pundak Arka.


Pria di hadapanku semakin kebingungan melihat tingkah laku ku.


"Kenapa sih, kok panik gini jadinya?" Tanya Arka memastikan.


"Nenek di Rumah Sakit." Jelasku singkat.


"Rumah Sakit mana?"


"Medika. Udah ayo buruan ka." Aku terus mendesak Arka.


"Iya-iya yuk naik biar aku anterin."


Kami langsung menuju ke Rumah Sakit Medika, menembus jutaan rintik air yang jatuh ke bumi. Kota Jakarta sedang hujan deras kala itu saat kami sedang berada di tengah perjalanan.


"Sial! Macet lagi!" Aku mendecak sebal.


Kenapa semesta tak pernah berlaku adil padaku, sekali saja.


Kami terpaksa berhenti diantara banyaknya kendaraan. Beruntung aku masih memakai hoodie saat itu, jadi tidak terlalu dingin.


"Gimana nih?" Tanya Arka dengan suara tak jelas karena tersamarkan oleh derasnya hujan.


"Enggak ada jalan tikus nih?" Tanyaku dengan suara lebih kuat.


"Enggak ada. Kita udah kejebak macet." Jawab Arka pasrah.


Aku menghela nafas panjang sambil tetap memutar otak untuk mendapatkan jalan keluar.


"Pegangan." Ucap Arka secara tiba-tiba.


"Mau ngapain?" Udah pegangan aja.


Aku tak ingin bertanya lebih banyak lagi, aku hanya menurut pada perkataan Arka. Aku menggenggam erat jaket berbahan jeans milik Arka. Entah apa yang akan di lakukannya kali ini.


Tiba-tiba ia melaju tanpa memberikan ku peringatan sebelumnya. Aku mengeratkan peganganku. Dengan cepat Arka membaca kesempatan dan peluang untuk menyalip kendaraan di depan kami. Ilmu matematikanya benar-benar berguna di situasi seperti ini. Dengan cepat ia mengukur keakuratan waktu dan menentukan seberapa besar kesempatan yang ia punya untuk menyalip.


Setelah usaha Arka barusan, kau akhirnya terbebas dari kemacetan itu. Arka semakin memacu kecepatan sepeda motornya. Aku memejamkan mataku sambil tetap berpegangan erat pada Arka.


"Ini anak nyari mati kali ya." Batinku dalam hati karena ngeri melihat lelakuan Arka.


Ia mengerem mendadak, dan itu sukses membuat jantungku hampir copot rasanya. Aku mengatur nafasku yang memburu.


"Udah sampai." Ucapnya dengan tenang tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Aku sedikit terkejut mendengar pernyataan Arka barusan. Aku memberanikan untuk membuka kedua mataku dan memastikan jika kami sudah benar-benar sampai. Aku menghela lega ternyata benar-benar sudah di rumah sakit. Ku kira Arka telah menabrak seseorang di jalanan akibat kebut-kebutan dan itu sebabnya ia mengerek mendadak. Untungnya itu semua tak seperti yang ku bayangkan.


Hujan sudah berhenti, sementara langit masih mendung. Yang tampak hanyalah air hujan yang tersisa dan masih menetes pelan dari atas pohon serta jalanan yang penuh genangan air. Aku bahkan terkejut bukan main ketika melihat sepasang sepatuku penuh dengan lumpur dari cipratan ban motor Arka.


Kami masuk ke dalam Rumah Sakit kemudian menuju meja administrasi.


"Permisi mbak, pasien atas nama Sumiyati diruang mana ya?" Tanyaku.


"Oh, sebentar ya mbak."


Perawatan itu kemudian mengecek desktop di mejanya.

__ADS_1


"Di ruang nomer 34 mbak. Dari lorong ini mbak lurus aja. Ruangannya di paling ujung." Jelasnya.


"Terimakasih mbak." Ucapku.


Aku segera menuju ruangan yang diberitahu oleh perawat tadi, tanpa menghiraukan Arka yang berjalan di belakangku.


Begitu sampai di depan lorong, aku menghentikan langkahku. Aku mengurungkan niatku untuk berjalan lebih jauh kesana. Apa semua lampu di lorong ini sedang rusak?


Aku memutar balik badanku. Arka yang tertinggal di beberapa langkah di belakangku mengangkat sebelah alisnya.


"Kenapa?" Tanya nya saat sudah berada di sampingku.


"Kamu jalan duluan." Jawabku sambil mendorong tubuh Arka ke depan.


Aku membuntuti pria itu dari belakang sambil mengapit lengannya.


"Ini ruangannya?" Tanya Arka.


"Iya kali, coba masuk aja dulu." Aku mulai memberanikan diri.


"Nenek?" Sahutku sambil berlari menuju wanita tua yang terbaring lemas itu.


Sementara itu, Arka menyusul di belakangku.


Kondisinya tak begitu buruk saat ini, ia tengah menyantap makanan yang dibantu oleh bibi.


"Nenek kenapa?" Tanyaku cemas.


"Gula darah nenek sempet turun tadi mbak. Tapi sekarang kondisi nenek udah membaik kok kata dokter." Jelas bibi.


"Ini pacar kamu itu?" Tanya nenek.


Mataku terbelalak lebar saat mendengar ucapan nenek barusan.


"Tau dari mana?" Tanyaku


"Bibi yang ceria sama nenek." Jawab bibi dengan polosnya.


Aku menepuk jidatku.


"Siapa namanya?" Tanya nenek.


"Arka nek." Jawab Arka dengan ramah lalu mencium tangan nenek.


"Ganteng anaknya, pantesan Eresha mau sama kamu." Puji nenek.


Aku menundukkan wajahku menyembunyikannya diantara rambutku yang tergerai begitu saja. Aku benar-benar malu di situasi seperti ini.


"Kalian pulang dulu gih ganti baju, terus nanti kalau mau kesini lagi boleh. Kalau enggak juga enggak apa-apa. Nanti masuk angin loh basah-basahan gini." Perintah nenek.


Aku mendongakkan kepalaku menatap nenek sekilas. Kemudian segera berpamitan dengan nenek setelah itu langsung menyeret Arka keluar dari tempat itu, bahkan sebelum ia sempat berpamitan dengan nenek.


"Kenapa sih kok buru-buru?" Tanya Arka.


"Dingin." Aku mencoba mencari alasan.


"Yaudah mendingan kita ke rumah aku dulu ya. Rumah aku dekat sini kok lagian. Biar enggak kelamaan di jalan, nanti malah masuk angin jadinya." Tawar Arka.


"Terus kalau aku ke rumah kamu nanti aku ganti baju pakai apa?"


"Tenang aja, nanti kamu bisa pakai kaos aku sama celana training aku."


Aku menerima tawaran Arka. Jika dipikir-pikir benar juga perkataan Arka barusan. Aku bisa masuk angin karena terlalu lama di perjalanan.


***


"Ayo masuk." Ajak Arka.


Aku membuka sepatuku yang semakin berlumpur.


"Eh, Arka. Udah pulang nak?"


Kami langsung disambut mamanya di depan pintu. Arka mencium tangan wanita itu, begitu pula denganku.


"Ini siapa?" Tanya Mamanya.


Aku menurunkan pandanganku, tak berani menatap mata Mamanya. Sorot matanya yang begitu tajam lekat ke arahku.


"Oh, kenalin ma. Ini pacar Arka." Arka bicara jujur pada Mamanya seolah tanpa beban.


Tak seperti aku yang takut-takut mengakui hal itu pada nenek.


"Oh, jadi ini yang sering kamu ceritain ke Mama itu?" Ucap Mamanya Arka sambil tersenyum lebar hingga semua deretan giginya terlihat.


Aku mendongak tak percaya.


"Di ceritain Arka?" Tanyaku heran.


"Iya, Arka sering banget loh curhat ke Tante soal kamu. Nanti Tante ceritain deh semuanya. Masuk dulu yuk, kasihan basah kuyup gini." Persilakan Mamanya.


"Yah, jangan di ceritain sama Eresha dong ma." Rengek Arka.


Aku mengikuti Mamanya masuk ke ruang tamu. Ia mempersilakan aku untuk duduk sambil menunggu Arka mengambilkan bajunya untukku.


"Nah, duduk disini dulu ya. Biar Tante buatin teh hangat untuk kalian berdua." Ujar Mamanya Arka.


"Aduh, enggak usah repot-repot Tante." Aku merasa tak enak dengan Mamanya.


"Aku ambilin baju buat kamu dulu ya." Ujar Arka kemudian masuk ke kamarnya yang terletak disamping ruang tamu.


Aku menganggukkan kepalaku.


Tak lama ia keluar dengan beberapa potong pakaian.


"Ini, kaosnya dan ini celananya." Ujar Arka sambil menunjukkannya satu persatu padaku.


"Enggak usah kamu bilangin juga, aku udah tau kali. Semua orang juga tau yang mana baju yang mana celana."


"Udah enggak usah banyak protes, buruan sana ganti. Nanti masuk angin." Ucapnya sambil mendorong tubuhku.


"Eheheh.... Tunggu. Gantinya dimana?" Aku menghentikan langkahku.


"Di kamar mandi aku aja, di dalam kamar. Nanti pintu kamarnya kamu kunci aja." Jelasnya.


"Masa di kamar kamu sih." Protesku.


"Kan aku bilang di kamar mandi aku yang ada di kamar. Nanti pintu kamar aku kamu kunci." Jelasnya sekali lagi.


Sorot mataku menatap lurus pria itu dengan sinis. Aku lebih memilih menuruti saja perkataan pria itu, dari pada harus berdebat panjang lebar dengannya.


Aku segera masuk ke kamar Arka.


"Jangan ngintip! Awas aja kalau ketahuan." Acamku.


"Makanya pintu kamar aku di kunci Eresha." Arka tampak hampir putus asa untuk mengingatkanku tentang hal itu.


Aku lantas menutup pintu kamar Arka dengan hati-hati kemudian menguncinya seperti yang di minta Arka.


Kamar pria ini.... Wahhhh.... Sungguh mengagumkan. Semua barang disini tersusun dengan rapih. Bahkan tempat tidurnya saja lebih rapih dari tempat tidurku. Aku memutar bola mataku ke arah figura itu, aku lantas menghampirinya. Itu foto keluarga Arka, sama seperti foto yang ku lihat di mansion waktu itu. Hanya saja ukurannya lebih kecil dan ia memajangnya di atas meja belajar miliknya. Ternyata ia masih menyimpan foto itu. Aku yakin jika ia masih sangat menyayangi Ayahnya. Andai saja Ayahnya tak pergi secepat itu, mungkin kebahagiaan Arka akan terasa lebih lengkap.


Aku tak ingin membuat Arka menunggu lama di luar sana, takut jika  nanti Arka malah salah paham denganku. Aku segera mengganti bajuku yang sebenarnya tak basah karena aku memakai hoodie, hanya rok ku yang basah kuyup. Aku mengepas kaos hitam yang diberikan oleh Arka, dan celana training berwarna abu-abu itu. Bajunya memang sedikit kebesaran. Wajar saja, badan Arka memang lebih besar daripada aku. Tapi itu tidak masalah, karena aku sendiri adalah tipe orang yang menyukai baju over size.


Aku segera keluar dari kamar Arka.


"Gimana?" Tanya Arka


"Gimana apanya?" Tanyaku balik.


"Ya bajunya lah, kebesaran nggak?"


"Ya sedikit. Tapi not bad lah." Balasku sambil memasukkan seragam sekolagku ke tas.


"Eh, udah pada ganti baju?"


Mama Arka tiba-tiba datang dengan membawa sebuah nampan.


"Udah Tante." Jawabku dengan hati-hati.


Sebenarnya Mamanya Arka baik, ramah. Jauh dari bayanganku sebelumnya.


Arka dan Mamanya hanya tinggal berdua disini. Tentu saja seperti yang sudah kalian ketahui jika Papanya Arka telah lama meninggal.


"Ini diminum." Persilakan Mamanya Arka sambil meletakkan dua cangkir teh hangat.


"Iya Tante."


"Oh iya Tante hampir lupa mau ceritain tentang yang tadi."


"Yang tadi?"


Maklum saja jika aku lupa, aku terlalu gugup saat di depan Mamanya Arka. Aku takut salah bicara atau salah tingkah.


"Yang soal Arka sering curhat ke Tante soal kamu itu loh."


"Oh iya Tante."


"Aduh ma.... Jangan di ceritain dong plis... Aku malu lah..." Potong Arka.


"Enggak apa-apa kok Tante kalau Arkanya belum mau cerita. Lagian itu kan privasi dia, semua orang pasti punya privasi yang enggak mau dia publikasi Tante." Sambung ku.


"Yaudah deh kalau emang enggak mau di ceritain, Mama nurut aja deh. Daripada nanti anak kesayangan Mama ngambek."


Arka mengacak-acak rambutnya sendiri.


Aku meneguk sedikit cairan berwarna coklat kemerahan itu. Kenyataannya, minuman itu memang mampu menghangatkan tubuhku.


"Eh,gimana kalau Eresha sekalian makan malam aja disini sama kita." Usul Mamanya Arka secara tiba-tiba.


Aku tersentak kaget, nyaris saja tersedak saat menikmati secangkir teh hangat yang ia sajikan itu.


"Aduh enggak usah Tante, saya jadi enggak enak." Ucapku sambil menggaruk tengkuk kepalaku yang tak gatal.


"Udah lah ayo, mau dong. Sekali ini aja, ya...." Mohon Arka.


Pria itu memang paling pandai dalam merayuku dan membuat hatiku luluh. Aku tersenyum miring kepada pria itu.


"Mau ya?" Tanya Mama Arka sekali lagi padaku untuk memastikan.


"Yaudah deh Tante." Jawabku pasrah.


***


"Mau masak apa nih Tante?" Tanyaku antusias.


"Nasi goreng aja deh yang simpel ya?"


"Boleh deh Tante, gimana ka?" Aku meminta pendapat anak satu ini yang sedang sibuk bermain game online di ponselnya.


"Apa aja deh. Mama aja yang masak udah enak, apalagi ini Mama sama Eresha yang masak. Pasti bakal jadi makan malam yang paling enak nih." Jelas Arka panjang lebar.


"Biar makin enak, mending kamu bantuin kita sini." Perintah Mamanya Arka.


"Oke siap, laksanakan." Ujarnya dengan nada humor.


Yang benar saja, Arka langsung mematikan ponselnya dan melaksanakan apa yang di perintahkan oleh Mamanya.

__ADS_1


"Gila sih! Ini anak penurut banget sama nyokap nya. Tapi wajar sih. Lagian kan nyokap nya emang baik. Beda jauh sama nyokap aku." Batinku dalam hati.


Perasaanku langsung berubah sedih, namun aku berusaha untuk tak memperlihatkan nya.


__ADS_2