Pengagum Lara

Pengagum Lara
Episode 86


__ADS_3

Tatapannya semakin dalam dan muali terlihat tak bersahabat. Aku merasa ngeri sendiri melihatnya dengan sorot mata seperti itu. Dengan segenap sisa keberanian yang ku punya, akhirnya aku mulai memberanikan diriku sendiri untuk berbicara. Soal bagaimana responnya nanti, itu akan menjadi urusan belakangan saja.


“Arka, aku butuh jawaban dari kamu sekarang juga.” ucapku dengan nada biara yang terkesan buru-buru.


“Jawaban apa?” tanya nya sambil mengerutkan dahinya.


“Apa bener yang dibilang sama Titan tadi?” tanyaku balik dengan sangat hati-hati.


“Kalau aku jawab iya kenapa? Dan kalau misalnya aku jawab enggak kenapa?” balasnya dengan pertanyaan yang jauh lebih membingungkan.


“Jawab aja dulu.” ucapku dengan sembarang.


“Oke, tapi kamu harus janji nggak akan marah kalau udah tau yang sebenarnya.” jelasnya sambil menghelan napas panjang.


“Tergantung jawaban apa yang kamu kasih.” balasku dengan singkat.


“Kalau gitu aku akan kasih jawaban yang nggak akan buat kamu marah atau semacamnya.” jelasnya secara gamblang.


“Udah lah ka! Kasih tau aja jawabannya yang bener.” balasku yang mulai kehabisan kesabaran.


“Walaupun pada akhirnya akan terdengar menyakitkan.” lanjutku dengan volume suara yang sedikit lebih rendah.


“Oke.” jawab pria itu yang terlihat acuh tak acuh


Semakin ke sini ak semakin merasa jika semuanya benar. Ku pikir yang tadinya omongan Titan hanya sekedar guyonan atau semacamnya, tapi sekarang mulai terasa begitu serius. Aku takut jika semuanya terjadi seperti apa yang tengah ku pikirkan sekarang. Di saat aku harus menerima kenyataan paling terburuknya untuk yang kesekian kalinya dalam hidupku.


“Yang Titan bilang bener sha.” ujar pria itu dengan nada bicara sendu.


Lain hal nya denganku yang malah terpaku di tempat. Aku langsung membisu dan terbungkam begitu saja setelah ia mengucapkan kalimat barusan. Rasanya itu adalah sebuah tamparan keras, yang memaksaku untuk berjalan mundur ke belakang. Aku tak habis pikir jika pria itu benar-benar melakukan hal itu padaku.


Namun di sisi lain aku merasa sedang berada di dalam ruang hampa. Aku merenungi tentang diriku sendiri, yang tak sepantasnya seperti ini. Hal ini memaksaku untuk percaya, jika pada kenyataannya tak pernah ada seorang pun yang benar-benar mencintaiku. Termasuk Arka yang selama ini ku kira begitu tulus.


Kenyataan pahit ini juga membuatku tersadar, jika aku tak akan bisa bertahan lebih lama lagi. Ternyata cinta bisa berubah menjadi begitu kejam, dengan mematikan sebuah rasa oleh kekecewan yang mendalam. Lalu anehnya kenapa rasa itu harus hidup lagi, jika hanya untuk dimatikan kembali.


Mulai hari ini aku berhenti percaya dengan yang namanya cinta. Mulai hari ini tak ada cinta dan kasih sayang yang berarti lagi bagiku. Mereka semua hanyalah sebuah tipuan yang menghanyutkanku secara diam-diam. Lalu membunuhku dengan caranya yang kian kejam. Cinta sempat membuatku melayang ke angkasa, namun pada akhirnya harus jatuh kembali.


“Sha, maafin aku. Aku tahu kalau aku salah karena udah jadiin kamu sebagai bahan taruhan saat itu.” jelas pria itu sambil menangkup kedua pipiku dengan tangannya.


Aku hanya diam dan tak ingin menggubris ucapannya barusan sama sekali. Lidahku terlalu kelu untuk diajak berbicara. Suasana hatiku terlalu kacau, hingga aku tak tahu harus bagaimana caranya mengekspresikan perasaanku. Aku masih terlalu terpukul dengan yang barusaja terjadi.


“Tapi ada satu hal lagi yang harus kamu tahu.” ucapnya yang masih tetap berusaha untuk meyakinkanku.


“Apa?” balasku dengan suara yang mulai bergetar.


“Kamu tahu, sejak hari dimana kita untuk pertama kalinya menjadi satu. Di saat itu juga aku mulai belajar untuk mencintai sosok Eresha si anak baru itu. Lama-kelaman aku mulai terjebak dan nggak bisa keluar dari rasa itu. Rasa yang semakin hari semakin membelenggu, semakin bertambah besar dan semakin menyiksa.” jelasnya dengan panjang lebar.


“Kalau kamu pikir saat itu aku ngajak kamu balikan karena taruhan, maka kamu udah salah besar sha. Itu karena aku udah benar-benar jatuh cinta sama kamu.” lanjutnya dengan sorot mata yang begitu lekat mengarah ke arahku.


“Apa aku harus percaya sama omongan kamu yang barusan?” tanyaku dengan suara yang mulai terdengar parau.


Kini kedua bola mataku mulai memanas. Pandanganku mulai terlihat tak begitu jelas lagi. Seperti ada sesuatu yang menghalanginya di dalam sana. Pada akhirnya genangan air mata yang tak tertahan itu, hanya bisa menjatuhkan dirinya sendiri. Mengalir membasahi pipiku, hingga tak tahu kemana tetesan air itu akan berakhir.


“Aku nggak mau kehilangan kamu sha. Mulai hari ini, besok dan seterusnya, kamu harus janji kalau kita nggak akan berpisah.” ucapnya lalu memeluk diriku secara tiba-tiba.


“Perpisahan nggak akan bisa diajak untuk berdamai ka, bisa aja kita bakalan berpisah hari ini.” balasku dengan tangis yang terisak.


“Enggak, pokoknya kita nggak boleh berpisah. Karena kamu udah tau kalau pada dasarnya aku nggak sepenuhnya salah di dalam persoalan ini.” jelasnya dengan dekapan yang terasa semakin erat.

__ADS_1


“Tapi tetap aja kamu yang salah ka!” tegasku.


Aku berusaha melepaskan diri dari pelukannya yang tak kunjung selesai itu. Semakin lama aku berada di dalam sini, yang ku rasakan hanyalah dadaku yang terasa semakin sesak. Di satu sisi aku tahu jika Arka belum siap untuk melepaskanku begitu saja. Namun di sisi lain aku merasa jika hubungan kami tak akan baik-baik saja setelah ini.


Setelah melakukan usaha pelarian diri yang berulang kali, aku mulai menyerah dan pasrah dengan keadaan. Tenagaku rasanya tak pernah sebanding untuk melawan pria ini. Aku tak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan dirinya. Sebesar apapun usaha yang aku lakukan, rasanya sia-sia saja.


Aku tak tahu berapa lama lagi ia akan tetap bertahan dalam posisi seperti ini. Mungkin sebaiknya aku membiarkannya saja sampai ia merasa cukup. Siapa tahu suasana hatinya bisa sedikit membaik setelahnya. Siapa tahu juga jika ini adalah pelukan terakhir yang bisa kami lakukan dan anggap saja ini sebagai pelukan perpisahan. Anggap saja semua hal yang terjadi hari ini hanya akan terjadi untuk yang terakhir kalinya.


Aku mulai mendekatkan diriku kepada pria ini. Merasakan detak jantungnya yang terdengar dengan jelas oleh indera pendengaranku. Jika dilihat dari detak jantungnya, rasanya temponya mulai tak stabil. Aku mulai berpikir jika ini adalah terakhir kalinya aku bisa berada di jarak sedekat ini dengan Arka.


“Selamat tinggal Arka, terimakasih telah memberikanku keberanian untuk kembali jatuh cinta. Hari ini aku belajar banyak hal. Terimakasih telah membuat cerita ini pernah ada, namun sayangnya cerita ini harus segera berakhir. Aku ataupun kamu tak pernah menyangka dan tak pernah menginginkan agar cerita ini berakhir tragis seperti ini.”


***


Setelah kejadian itu, aku menjadi sedikit lebih pendiam. Aku berjalan dengan tatapn kosong, di sepanjang trotoar pinggiran toko itu. Rasanya masih sulit untuk dipercaya jika kejadian ini benar-benar menimpa kami berdua. Bukan ini yang ku inginkan, apalagi Arka. Aku tak pernah menyalahkannya untuk yang kali ini, karena aku juga salah. Kenapa aku tak tahu jika saat itu diriku sedang dijadikan sebagai bahan taruhan, seperti barang yang tidak ada artinya sama sekali.


Ternyata tadi Arka juga berbohong padaku soal mamanya. Wanita itu memang mendadak drop tadi malam, dan segera dilarikan ke rumah sakit terdekat. Dan memang benar jika wanita itu harus segera dirujuk ke salah satu rumah sakit di Singapura. Sejauh ini semua ucapannya masih benar, namun ada satu hal yang sengaja dibuatnya menjadi agak berbeda.


Sebenarnya mamanya sudah diberangkatkan ke sana, tepat tadi malam. Ia berkata sebaliknya saat di sekolah tadi, karena pria itu tahu jika ia harus segera menyelesaikan masalah ini denganku. Hal ini adalah satu-satunya cara yang bisa ia lakukan agar bisa keluar denganku sepulang sekolah nanti. Tapi sebenarnya pria itu tak harus berbohong untuk melakukan semua ini.


Sebenarnya sampai sekarang aku masih tak habis pikir. Ternyata seorang Arka yang selama ini ku kenal, bisa berbuat serendah itu juga. Pada dasarnya aku masih terlalu kecewa kepada pria ini. Jalan pikiran nya yang selama ini ku anggap bijak, ternyata tidak sama sekali.


“Pulang aja lah ka….” ujarku kepada pria itu.


“Hari hampir gelap, mana mungkin aku ninggalin seorang cewek di kota seperti ini. Berjalan sendirian pula itu.” balasnya.


Aku hanya bisa mendengus sebal, karena pria ini tak kunjung menuruti kemauanku juga. Ia terus membuntuti langkahku dari tepi jalan, dengan sepeda motornya. Pria ini sudah melakukan hal itu sejak aku pergi dari gang petokoan itu.


Saat ini aku hanya ingin sendiri saja, menikmati sisa waktuku di kota ini. Lebih tepatnya menikmati sisa waktuku di Negara kelahiranku, tempat dimana aku dibesarkan. Di tempat aku berpijak sekarang, di Indonesia.


Aku dari tadi hanya melangkah lurus ke depan, mengikuti barisan pertokoan di sepanjang jalan ini yang terkesan nyaris tak ada ujungnya sama sekali. Namun tanpa ku sadari, ternyata kedua kakiku in telah membawaku untuk melangkah ke tempat itu. Tempat yang dulunya sering ku kunjungi, namun tidak dengan sekarang karena urusanku terlalu banyak.


Dengan ragu-ragu, aku memutuskan untuk mengakhiri perjalananku di café itu. Pasti Stefani masih berada di sana untuk bekerja dan baru akan pulang malam nanti. Setidaknya aku tak perlu memikirkan harus pulang bersama siapa nantinya, karena gadis itu adalah jawabannya.


“Stef, yang biasa aku pesen dong satu.” ujarku sesaat setelah sampai di meja kasir.


“Loh, kok lo bisa sampai di sini? Terus Arka mana, masa dia yang ngajak lo jalan tapi nggak mau nganterin lo pulang.” balas gadis itu dengan panjang lebar.


“Apa lo?! Gue di sini, jadi nggak usah banyak protes lo.” balas Arka yang tiba-tiba datang entah dari mana.


Aku lantas tak menjawab pertanyaan yang barusaja dilontarkan oleh gadis itu kepadaku. Kepalaku rasanya sudah terlalu penuh untuk menampung beberapa petanyaan darinya, yang tak cukup jika hanya satu saja. Padahal aku yakin jika ia bisa melihat kondisiku yang sedang tidak baik-baik saja seperti ini.


Dengan langkah yang agak terkesan di seret, aku menuju salah satu meja di dekat panggung. Kali ini aku sengaja tak memilih meja yang dekat dengan dinding kaca, hanya agar aku bisa menatap keluar ruangan. Entahlah, kali ini aku hanya ingin mencari sebuah suasana baru dan berbeda dari biasanya.


Seperti biasanya, tempat ini tak terlalu ramai jika pada hari biasa seperti ini. Hanya terlihat beberapa pengunjung yang sepertinya juga masih seumuran dengan kami. Mahasiswa semester pertama mungkin.


Sesaat kemudian, Arka menghampiriku lalu mengambil tempat tepat di depanku. Aku masih belum bisa mengondisikan perasaanku saat ini. Rasanya masih terlalu canggung untuk kembali memulai sebuah obrolan. Duan insan yang pernah begitu dekat sebelumnya, mendadak berubah menjadi saling kaku seperti ini. Kami tak tahu harus memulai obrolan dari mana dan dengan topik apa. Ini benar-benar seperti pertemuan pertama kami, walau pada kenyataannya tidak begitu sama sekali.


“Aku tahu kalau aku udah terlalu banyak salah. Dan untuk yang kali ini mungkin kesalahanku udah nggak bisa buat ditolerir lagi. Ini pasti udah terlalu fatala untuk sekedar kata maaf.” jelasnya dengan tatapan sendu.


“Baguslah kalau udah sadar diri.” sindirku dengan nada bicara ketus.


“Kali ini kamu boleh kasih hukuman apapu buat aku. Apapun itu yang kamu rasa pantas buat aku terima.” ujarnya dengan raut wajah yang begitu meyakinkan.


“Yakin, mau aku yang ngasih hukumannya?” tanyaku dengan hati-hati.


Pria itu hanya mengangguk, mengiyakan perkataanku dengan cepat. Aku tak yakin pada awalnya jika harus memberikan hukuman semacam ini kepadanya. Meskipun pada akhirnya aku harus benar-benar mengatakan hal ini kepadanya. Tapi ku rasa ini adalah hukuman yang mempu menguntungkan kedua pihak. Di satu sisi Arka akan mendapatkan pelajaran, dan di sisi lain aku akan belajar untuk mulai terbiasa untuk hidup tanpa cinta sama sekali.

__ADS_1


“Kita putus, dan jangan pernah minta aku untuk balikan lagi.” ujarku dengan berat hati.


Arka lantas langsung mendongakkan kepalanya. Matanya terbelalak lebar, dengan ekspresi kaget yang muncul begitu saja. Semuanya terlihat alami, karena memang hal itulah yang ia rasakan sekarang. Semuanya terjadi begitu saja, tanpa ia rencanakan sebelumnya.


“Nggak! Aku nggak mau sha.” ucapnya dengan segera.


“Aku nggak aka lepasin kamu, karena kamu tahu persis kan setiap hal yang udah berada di genggaman aku nggak akan bisa pergi dengan mudah.” jelasnya.


“Karena yang pergi akan terluka?!” balasku dengan naddan bicara yang lebih tinggi.


“Aku udah siap untuk luka itu ka, bahkan kalau harus sekarang.” lanjutku.


Terlihat jelas sebuah penolakan keras darinya. Tapi itu yang dia putuskan tadi, dan kini pria itu harus menerima semua konsekuensinya.


“Aku nggak akan pernah pergi, karena itu adalah janji aku waktu itu. Kamu ingatkan soal itu?” ujarnya sembari terus meyakinkanku.


“Oke, kalau gitu aku yang bakalan pergi!” tegasku sekali lagi.


Pria itu langsung terbungkam dan tak bisa berkutik sedikitpun. Sebenarnya ia sangat tak setuju dengan permintaanku barusan, yang ia anggap sebagi hukuman atas kesalahannya. Tapi lihat saja sisi baiknya, setidaknya yang satu ini win-win. Terkadang manusia lebih sering melihat satu salah daripada seribu kebaikan.


Tak lama kemudian Stefani datang dengan secangkir kopi latte yang ku pesan tadi. Wajahnya terlihat begitu serius memperhatikan perselisihan yang tengah terjadi diantara kami berdua. Sampai-sampai karena terlalu seriusnya gadis itu tak memperhatikan langkah nya sendiri, hingga ia nyaris terjatuh karena tali sepatunya sendiri. Setelah sampai ke tempat yang telah menjadi tujuannya barusan, akhirnya gadis itu bisa bernapas dengan lega karena ternyata kali ini nasib baik masih menghampirinya.


“Ini kopi pesenan lo sha.” ujar Stefani sambil menyodorkan secangkir kopi yang masih hangat.


“Thanks stef, lain kali hati-hati kalau jalan.” balasku seraya memperingatinya.


“Tenang aja, cuma tali sepatu gue yang rada kendur.” ucapnya kemudian membungkukkan posisi tubuhnya sedikit.


Aku mulai menyeruput kopi latte favoritku itu. Minuman yang satu ini memang paling nikmat jika dimunum saat masih dalam kondisi hangat sepeti ini. Apalagi dengan asap berwarna putih yang masih bergumpal di bagian atasnya, seperti layaknya sebuah gumpalan awan. Setidaknya minuman yang satu ini bisa membuatku agar merasa lebih tenang. Entah apa kandungan yang ada di dalamnya, yang ku tahu hanyalah kafein. Namun pada kenyataannya minuman ini seperti obat anti depresan bagiku.


“Kalian kenapa? Berantem lagi?” tanya Stefani dengan polosnya.


“Menurut lo kita lagi ngerayain ulang tahun apa?!” ketus Arka.


“Ya elah, nggak usah nyolot gitu kenapa sih. Kan gue cuma nanya, dan baik-baik juga kan caranya.” jelas gadis itu yang tak terima jika dirinya diperlakukan seperti itu.


“Sensi banget sih, kayak cewek lagi datang bulan aja!” umpat Stefani dengan pelan.


“Apa lo bilang barusan?!” tanya Arka dengan emosi yang sudah berada di puncak ubun-ubun.


“Apa! Orang nggak ada ngomong juga.” celetuk gadis itu yang berusaha membela dirinya sendiri.


Siapa kira jika pria itu mampu mendengar sebuah suara dengan tingkat volume serendah itu. Pasti pendengarannya sangat tajam, apalagi saat emosi seperti ini. Biasanya orang yang sedang emosi tak akan terlalu memikirkan kondisi sekitarnya, namun berbeda dengan pria yang satu ini. Jangan salah sangka jika ia tak mampu melakukan hal yang biasanya tak bisa dilakukan oleh orang biasa.


“Huh! Terserah deh stef, gue lagi males ribut sama lo.” ujar pria itu sambil mendengus kesal.


“Baguslah, gue juga ogah adu mulut sama lo.” balas Stefani acuh tak acuh.


Seperti biasanya, aku hanya menjadi penonton setia dari drama persahabatan mereka yang tak pernah akur sama sekali. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan keduanya yang selalu seperti ini. Entah sampai kapan mereka akan tetap seperti ini, tak pernah berdamai dengan ego nya masing-masing. Padahal sebentar lagi adalah hari kelulusan untuk sekolah kami. Apakah mereka sama sekali tak ignin membuat sesuatu yang mengesankan untuk tterakhir kalinya, sebelum mereka benar-benar berpisah. Aku benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiran kedua anak ini.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2