Pengagum Lara

Pengagum Lara
Episode 8


__ADS_3

  Kali ini aku berada di bandara, sedang menunggu jadwal penerbangan pesawat ke Jepang. Bukan tanpa alasan aku pergi ke negeri sakura itu. Setiap tahunnya, sekolah kami mengadakan program pertukaran pelajar ke berbagai negara. Dengan negara yang berbeda-beda di setiap tahun tentunya. Tahun lalu, tiga orang siswa terpilih di kirimkan ke Australia. Dan tahun ini, kami dikirimkan ke Jepang. Jujur saja, sebenarnya aku tak tertarik dengan program ini. Tapi, wali kelas ku mengajukan aku kepada kepala sekolah untuk mengikuti tes seleksi pertukaran pelajar bersama puluhan siswa lainnya. Bahkan aku tak pernah berharap agar lolos seleksi itu.


 


 


  Sesekali aku mengecek ponselku sambil menunggu. Jadwal keberangkatan kami berbeda-beda, aku yang berangkat pertama lalu disusul oleh dua orang siswa lainnya yang akan berangkat pukul sembilan malam nanti.


 


 


  Aku takut sekaligus khawatir. Aku tak bisa samasekali berbahasa Jepang. Bagaimana aku akan bertahan hidup di sana? Belum lagi ini adalah pertamakali nya untukku bepergian naik pesawat tanpa mama atau papa. Bisa kalian bayangkan, seorang anak berusia 17 tahun yang sedang duduk di kelas XI SMA bepergian keluar negeri sendirian.


 


 


***


 


 


  Aku hanya membawa tas selempang kecil yang berisi tisu, uang dan ponsel. Aku duduk di kursi dekat jendela. Aku tak tau siapa yang akan duduk di sebelahku, sedari tadi tak ada tanda-tanda seseorang akan duduk di sebelahku. Kabin pesawat mulai tampak penuh. Mungkin penumpang disebelahku akan ketinggalan pesawat, atau mungkin memang kosong.


 


 


  Jika aku berangkat ke Jepang, itu artinya aku akan bertemu Kak Sendy dan Renata. Mereka sedang berada di Jepang saat ini. Tapi, sangat kecil kemungkinannya. Jepang sangat luas dan aku tak tau di kota mana mereka sekarang. Paling tidak jika aku bertemu mereka di sana, setidaknya aku tak merasa sendirian di negeri orang.


 

__ADS_1


 


***


 


 


 


 


Awak pesawat memberi tahu kami agar segera bersiap karena pesawat akan segera mendarat. Aku merapihkan rambutku yang tak beraturan.


  Aku memilih untuk duduk sebentar di bangku panjang yang sengaja disediakan di bandara. Benar-benar asing rasanya. Kini aku dikelilingi orang-orang berkulit putih dan bermata sipit.


  Aku pergi ke salah satu mesin penjual makanan otomatis di sudut ruangan besar itu. Aku membeli sebotol susu seharga 5 Yen. Setidaknya bisa sedikit mengganjal lapar sebelum aku pergi ke apartemen.


***


  Aku merebahkan tubuhku di kasur. Benar-benar lelah rasanya hari ini. Perjalanan yang lumayan panjang dari Indonesia ke Jepang. Belum lagi perjalanan dari bandara ke apartemen memakan waktu yang lumayan lama. Besok aku langsung masuk sekolah. Aku benar-benar bingung harus bagaimana menghadapi hari-hari sebagai pelajar di Jepang. Sekolah yang ku tempati memang sekolah berstandar internasional yang dalam bahasa sehari-hari nya menggunakan bahasa Inggris. Tapi aku tak hanya akan di sekolah sepanjang hari. Bagaimanapun, pasti keadaan akan menuntutku harus mampu berbahasa Jepang. Terkadang aku menganggap ini adalah sebuah malapetaka.


  "Kenapa coba, gua ga di kirim ke Korea aja." Dengusku sebal.


  Jika disuruh memilih akan dikirim ke Jepang atau Korea, tentu saja aku akan memilih pergi ke Korea. Pertama, karena aku adalah seorang Kpopers. Kedua, paling tidak aku sudah tau budaya di sana. Ketiga, aku sudah bisa berbahasa Korea meski tak terlalu fasih. Ya Tuhan, mengapa hidupku harus serumit ini.


  ***


  Aku membereskan kasurku, kemudian membuka tirai jendela dan bergegas mandi. Udara disini benar-benar sejuk. Apartemen kami terletak di lereng bukit, itu sebabnya jaraknya lumayan jauh dari bandara. Jika kalian membuka jendela belakang, akan terlihat pemandangan perbukitan yang rindang. Dan bagian balkon depan akan langsung mengarah ke perkotaan.


  Jika setelah seragamku selama di Indonesia hanyalah seragam putih abu-abu lengkap dengan atributnya, maka disini berbeda lagi. Kami menggunakan seragam sailor dengan rok lipit diatas lutut, kaus kaki putih panjang dengan dua garis hitam di bagian atasnya. Dan sebagai pelengkapnya, sepatu putih. Tak jauh beda dengan seragam di Korea memang.


   Aku segera keluar dari kamar apartemenku. Kemudian memencet bel di kamar sebelah. Itu kamar Rahel, teman Indonesia ku. Kamar kami bertiga berendeng. Tak lama, sang pemilik membuka pintunya.

__ADS_1


"Oh, Eresha? Udah siap? Berangkat yuk." Ujar Rahel.


Aku hanya mengangguk mengiyakan perkataannya.


"Rian enggak bareng kita?" Tanyaku.


"Dia udah berangkat tadi pagi. Takut ketinggalan bis katanya. Kita naik taksi aja ya. Kalo naik bis udah telat." Jelasnya.


"Iya, lagian kelamaan ngantri tiket nya nanti." Balasku.


***


  Kami berdua telah sampai di sekolah yang dimaksud. Agak canggung memang. Sejak tadi, kami tak melihat batang hidung Rian. Kemana bocah itu pergi?


  Lumayan banyak wajah orang asing yang kami lihat, ada wajah timur tengah dan barat. Namun tetap saja di dominasi oleh wajah-wajah orang Asia, terutama wajah orang Jepang. Kami berdua pergi ke kelas yang di maksud. Jantungku semakin berdebar tak beraturan. Ini pengalaman pertamaku. Kami dipersilahkan masuk oleh guru yang sedang mengajar di sana.


"Oh, They come." Ucap guru yang kelihatannya berasal dari daratan Eropa itu.


"Please introduce your self." Persilakan wanita itu.


"Good morning all." Sapa ku.


"Morning too." Sapa mereka balik.


"My name is Eresha Caitlyn Zie Ananda. You can call me Eresha. I'm from Indonesia. And i'm 17 years old. Nice to meet you all." Jelasku.


***


   Aku, Rahel, dan Rian sedang duduk berderet di sebuah bis. Hari pertama sekolah, merupakan pengalaman tak terlupakan. Bukan hari yang buruk ataupun hari yang menyenangkan, biasa saja. Aku bahkan baru mengenal beberapa orang di sana. Salah satunya, Gerry. Dia berasal dari Singapura. Setidaknya aku masih bisa berkomunikasi dengan mereka menggunakan bahasa Inggris. Kami sampai di halte pukul delapan malam. Dan bahkan kami masih harus berjalan kaki melewati hutan kecil dengan jalan setapak yang memang sengaja di buat untuk menuju apartemen. Jika kalian berfikir bahwa apartemen kami terletak di dalam hutan, itu benar tetapi juga salah. Apartemen kami terletak di lereng bukit yang memang sengaja di tempatkan agak kedalam hutan. Tenang saja, hutan itu tak semengerikan yang kalian kira. Walaupun terletak agak masuk ke dalam hutan, banyak orang yang tinggal di sana. Apartemen akan selalu ramai 24 jam.


   Rian memilih untuk langsung ke kamarnya. Sementara aku mampir dulu ke kamar Rahel. Kami tak terlalu akrab sebelumnya meskipun kelas kami bersebelahan dulunya.


   Aku meletakkan tas ku di sudut ruangan. Kami menuju dapur kemudian memasak makan malam. Lidahku belum terbiasa dengan makanan setempat, oleh sebab itu kami memasak nasi goreng.

__ADS_1


__ADS_2