Pengagum Lara

Pengagum Lara
Episode 59


__ADS_3

"Tara!!!" Ujar Renata setelah selesai memotong poniku.


Aku mulai membuka kelopak mataku dengan begitu hati-hati. Semoga saja hasilnya tak terlalu buruk, ku mohon....


"Lumayan." Ujarku sambil mengamati potongan poni baruku.


"Ciri khas poni see through bang ala Korea selaku terkesan natural kan?"


Aku mengangguk mengiyakan perkataannya. Tidak terlalu buruk juga, masih bisa ku terima.


"Dia tuh emang tipis jadi terkesan kayak tembus pandang, tapi tetap ada unsur estetika nya." Jelasnya.


Kelihatannya ia tahu banyak soal semua hal yang berhubungan dengan fashion. Tapi aku tak tahu apakah ada perubahan di wajahku setelah memakai poni model baru seperti ini. Akan terlihat lebih cantik atau malah terlihat aneh.


"Aku cantik nggak pakai poni beginian?" Tanyaku pada mereka.


"Keliatan lebih fresh sih, terus kayak lebih muda gitu. Eh, apaan sih, haha...." Ujar Stefani.


"Kan Eresha emang masih muda, kamu gimana sih..." Sambung Renata.


Aku hanya bisa melengos kesal mendengarkan perkataan mereka barusan. Sudah jelas-jelas wajahku masih baby face seperti ini, malah di bilang sudah tua. Sebenarnya diantara mereka bertiga, aku jauh lebih muda, lahir paling akhir.


"Udah jangan ngambek, nanti cantiknya ilang. Ntar Arka malah berpaling loh, mau kamu?" Goda Renata dengan sedikit mengolok-olok ku.


"Apaan sih, udah ah aku mau tidur." Balasku kesal.


Jika mereka bukan orang terdekatku, rasanya sudah ingin ku cabik-cabik saja mereka berdua. Itupun kalau aku memiliki cakar panjang seperti manusia serigala. Huh, sepertinya aku terlalu banyak menonton film twilight akhir-akhir ini.


"Jadi Stefani mau nggak kakak potongin poninya begini?" Tanya Renata yang selalu siap sedia dengan guntingnya.


"Boleh deh kak." Jawab Stefani dengan senang hati.


Kapan lagi ia bisa memangkas rambutnya secara gratis seperti ini dan di make over pula. Meskipun Renata hanya menggunakan gunting kertas biasa, tapi hasilnya cukup maksimal menurutku. Bakatnya patut di acungi jempol. Kapan lagi ia mendapatkan pelayanan bak di salon profesional seperti ini.


Aku merebahkan diriku di atas kasur sambil menunggu kedua wanita-wanita tersebut selesai dengan urusannya. Sesekali aku meniup-niup poniku dan memainkannya.


"Sha, kapan mulai sekolah?" Tanya Stefani.


"Besok deh." Balasku acuh tak acuh.


"Kok cepat banget sih? Baru juga lo hari ini pulang." Protes gadis itu.


"Iya, nah bener tuh. Kamu juga perlu waktu untuk tahap pemulihan." Timpal Renata yang sependapat dengan gadis menyebalkan itu.


"Enggak! Pokoknya besok aku harus sekolah!" Tegas ku sekali lagi.


Renata hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sikapku yang begitu keras kepala. Tapi aku melakukan ini karena ada alasannnya. Aku harus benar-benar serius dalam menghadapi tahun ajaran terakhir ku ini.


"Yaudah deh stef, kamu besok jagain dia ya. Rantai sekalian kalau perlu." Ujar Renata.


"Siap laksanakan kak!" Balas gadis itu dengan semangat.


"Eh, kok di rantai-rantai segala sih! Emang aku hewan apa." Protesku sembari memajukan bibirku beberapa centi ke depan.


Ku kira suasana di rumah akan lebih nyaman dan menyenangkan, ternyata semuanya salah total. Semua orang di sini sangat menyebalkan dan selalu ingin mencari ribut denganku. Kelihatannya aku harus bersabar lebih banyak lagi.


Aku memilih untuk tidur lebih dulu dan meninggalkan mereka yang sedang sibuk dengan urusannya. Aku sengaja tidur memalang di atas tempat tidur dengan posisi tak beraturan. Biar saja mereka tahu rasa karena telah coba-coba mencari masalah denganku.


***


"Kringgg!!!!"

__ADS_1


Bel nyaring yang tercipta dari hantaman logam yang saling beradu satu sama lain, memekak telingaku di antara sunyinya fajar. Aku membuka mataku secara perlahan sambil terus berusaha mengumpulkan seluruh nyawaku.


Aku melihat sekelilingku dan tidak mendapati kedua gadis itu berada di ruangan ini. Apakah mereka tidur di ruang tamu karena perbuatan ku kemarin. Tapi ya sudahlah lagipula kan mereka yang mulai duluan. Jadi itu artinya ini bukan salahku.


Aku beranjak dari tempat tidurku dan segera merapikan kekacauan kecil yang ku buat kemarin malam. Kemudian aku segera menuju ke arah jendela, menepikan kain penutup celah tersebut kini terbuka lebar. Dari ufuk timur terlihat dengan jelas sang fajar yang mulai menyingsing. Sinarnya siap menyapa seisi semesta hari ini. Entah kenapa saat melihat objek luar angkasa yang menjadi pusat tata surya itu, aku malah teringat dengan kisah bulan dan matahari. Sampai sekarang aku masih bingung, dimana dan bagaimana semuanya bisa terjadi seperti mimpi.


Aku lantas tak ambil pusing soal itu. Aku segera mengambil handuk dan bersiap. Tak lupa aku juga mematikan lampu kamarku yang sedang menyala, kita harus bijak dalam penggunaan energi demi masa depan kita bersama.


***


Seperti biasanya, aku bersiap di depan kaca full body yang ku bawa dari kota lama tempat ku tinggal. Setelah merapikan rambutku, aku langsung mengikatnya dengan ikat rambut. Setiap siswi yang berambut panjang memang harus selalu di ikat seperti ini rambutnya. Itulah baru yang namanya murid teladan. Tapi terkecuali dengan Stefani yang bisa di bilang potongan rambutnya termasuk pendek. Ia tak di wajibkan untuk mengikat rambutnya, namun sesekali ia juga melakukan hal itu jika sedang kepanasan. Langkah yang terakhir adalah parfum. Ritual yang satu ini tak boleh terlewatkan bagiku.


Kemudian aku segera menyandang tas ransel milikku, dan bergegas turun ke bawah.


"Tap! Tap! Tap!"


Suara langkah kakiku terdengar begitu jelas saat itu, menggema diantara tembok-tembok beton kokoh. Aku tak yakin jika mereka telah bangun, suasana masih sepi seperti ini. Padahal sekarang sudah hampir pukul tujuh. Tak biasanya rumah menjadi sepi begini. Setidaknya pasti selalu ada keributan kecil yang berasal dari dapur. Tapi tidak untuk hari ini, tempat ini benar-benar seperti telah mati.


"Mungkin pada capek kali kemarin habis pulang." Batinku dalam hati.


Mungkin tubuh mereka butuh istirahat lebih dari yang biasanya. Lagipula perjalanan kemarin memang terbilang cukup jauh. Sepertinya memang karena itu makanya mereka belum ada yang bangun sama sekali meski sudah sepagi ini.


Aku segera menuju ruang tengah untuk membangunkan Stefani. Bisa-bisa ia terlambat jika aku tak segera membangunkannya. Namun sesampainya aku di ruang tengah, aku tak menjumpai seorangpun di sana kecuali sofa dan perabotan lainnya.


"Loh, kok enggak ada sih?" Batinku dalam hati.


Tidak mungkin jika mereka tidur di kamar Renata kemarin malam, tempat itu kan sudah di pakai oleh mama dan papa. Apalagi jika di kamar nenek atau bibi, itu jauh lebih tidak masuk akal.


"Apa jangan-jangan Stefani udah berangkat ke sekolah lagi? Terus enggak mau bangunin aku." Gerutu ku saat itu juga.


Aku mendecak sebal sambil menghentak-hentakkan kakiku ke lantai. Pasti gadis itu telah berangkat duluan tanpa menghiraukan aku sama sekali. Kan kemarin ia tidak setuju jika hari ini aku akan berangkat ke sekolah. Aku menggerutu kesal sambil berjalan menuju dapur. Lihat saja, tak akan ku maafkan dia. Akan ku habisi gadis yang satu itu, aku tak akan memberinya ampun sedikitpun.


"Happy birthday Eresha!!!" Sorak mereka.


"Happy birthday to you..... happy birthday to you.... happy birthday, happy birthday, happy birthday to you..... yeah!" Mereka berjalan ke arahku sambil tetap terus bernyanyi.


Mereka semua menyanyikan lagu itu dengan kompak tanpa ada nada yang false sama sekali. Aku tak menyangka jika keluarga ku mewarisi bakat menyanyi seperti ini.


"Happy birthday my little sister!" Ucap Renata seraya menyodorkan kue tar tersebut.


"Terimakasih semuanya." Ucapku dengan suara yang agak bergetar.


Aku bahkan hampir saja menangis terharu saat itu, tapi aku masih bisa menahannya. Aku benci jika harus terlihat cengeng di depan mereka.


"Tiup lilinnya..." Ujar mama.


"Make a wish dulu." Sambung Renata.


Aku memejamkan mataku dengan penuh harap. Banyak hal yang aku semogakan di umurku yang sekarang. Semoga Tuhan mendengarkan doaku. Semoga perubahan yang ku harapkan akan terwujud pada waktunya. Kemudian aku segera meniup susunan lilin-lilin kecil tersebut. Api yang merah membara kini telah menjadi gumpalan-gumpalan asap yang melayang bebas di udara.


"Happy birthday sayang..." Ujar mama sambil memelukku, di susul dengan papa.


Sudah lama aku tak merasakan kehangatan seperti ini. Suasana yang belakangan ini hampir tak pernah terjadi sama sekali terhadapku. Aku berharap agar di tahun-tahun berikutnya aku masih bisa merayakan momen berharga ini bersama mereka semua.


"Terimakasih mama, papa..." Ujarku dengan suara parau.


Meskipun aku telah mencoba untuk tak menangis sedari tadi, namun kini tangisku telah pecah. Aku langsung menyeka air mataku sebelum mereka melihatnya. Walaupun mereka pasti tahu aku menangis, karena mataku telah merah sembab dan berkaca-kaca. Aku sangat jarang menangis seperti ini di depan mereka.


"Anggap aja poni ini sebagai kado dari aku ya." Ucap Renata sambil mengusap-usap halus puncak kepalaku.


Tiba-tiba aku teringat satu hal yang membuat begitu panik. Sekarang sudah pukul tujuh lewat pasti. Tadi terakhir kali saat aku melihat jam, sudah hampir pukul tujuh. Itu artinya aku sudah terlambat masuk kelas, sekarang pasti sudah pukul tujuh lewat. Bisa habis aku jika sampai terlambat.

__ADS_1


"Eh, aku pamit ke sekolah dulu ya. Udah telat ini, aku harus buruan berangkat. Bye...." Ujarku.


Renata malah menarik tanganku saat aku hendak pergi dari sana. Sementara itu Stefani malah tertawa dengan terbahak-bahak. Aku menatap mereka dengan sorot mata kebingungan sekaligus kasihan. Kasihan apakah Stefani sedang kesambet setan penunggu pohon beringin lagi atau tidak. Belakangan ini ia benar-benar aneh. Mungkin aku harus membawanya ke ustad terdekat untuk segera di rukyah. Aku khawatir jika kewarasannya akan terganggu. Bayangkan saja jika aku harus sekamar dengan orang yang agak gila.


Aku semakin di buat bingung oleh orang-orang ini. Kini tak hanya Stefani yang tertawa, bahkan nenek dan kedua orang tuaku ikut tertawa geli. Mereka berhasil mempermainkan pikiranku dan membolak-balikkan otakku. Kelakuan mereka barusan memaksaku berpikir keras untuk mencari alasannya.


"Kenapa sih kok malah ketawa?" Tanyaku yang kebingungan.


Stefani mencoba mengatur nafasnya yang tak terkendali karena tertawa terbahak-bahak. Setelah itu akhirnya ia mulai mau menjelaskan semuanya kepadaku.


"Jadi gini, coba lo liat jam gue sekarang." Ujar Stefani sambil menyodorkan jam tangannya.


"Kok jam enam?" Tanyaku.


"Nah, coba liat jam yang itu." Lanjutnya.


Kedua bola mataku mengikuti kemana arah jari telunjuk Stefani. Aku yakin telah melihat jam dinding itu dengan seksama dan memastikan jika aku tak sedang salah lihat. Bagaimana bisa semua jam di sini masih menunjukkan pukul enam, sementara di kamarku sendiri benda itu malah berjalan lebih cepat. Tapi aku masih ingat jika semalam saat aku menyetel ulang alarmnya, semuanya sesuai dengan waktu yang tertera di ponselku.


"Atau jangan-jangan, handphone ku yang salah?" Batinku sambil mengecek ponselku.


Aku semakin di buat bingung ketika jam di ponselku menunjukkan angka yang sama dengan mereka semua. Tunggu sebentar, seperti aku tahu apa yang sedang terjadi. Aku yakin pasti mereka sedang mempermainkan ku.


"Kalian ngerjain aku ya?" Tanyaku dengan sorot mata sinis.


"Surprise!" Balas Stefani.


Aku melengos parah saat tahu yang sebenarnya sedang terjadi. Mereka semua benar-benar-benar seniat ini untuk mengerjai ku di hari ulangtahun ku. Sepertinya mereka sudah merencanakan ini dengan matang jauh-jauh hari sebelumnya. Tapi bagaimana bisa aku tidak tahu soal itu. Mereka sangat hebat untuk menutupi semuanya dariku.


"Ini semua ide nya Kak Renata." Ujar Stefani.


"Setidaknya surprise kita enggak keterlaluan banget kan?" Balas Renata.


"Ya terserah kalian deh." Jawabku acuh tak acuh.


Aku tak tahu harus bersikap bagaimana. Aku benar-benar kesal saat ini tapi di satu sisi aku juga merasa bahagia. Mereka benar-benar pandai memainkan perasaan ku yang labil ini.


"Udah lah jangan cemberut gitu, peace...." Ucap wanita itu sambil merangkul bahuku.


"Mending kita sarapan dulu sekarang." Lanjutnya.


Lagi-lagi wanita yang lebih tua dariku ini berhasil meluluhkan hatiku. Rasa marah dan kesal yang tadinya sempat muncul, hilang begitu saja.


Kami semua segera menuju meja makan untuk sarapan bersama. Hari ini nenek telah memasak menu spesial dengan porsi jumbo untuk semuanya. Udang goreng sambal madu adalah makanan kesukaan keluarga kami. Menu masakan itu selalu ada dan tak pernah absen di acara-acara keluarga seperti ini. Itu adalah hal yang selalu ku rindukan saat lebaran tiba. Tapi sekarang aku tak perlu menunggu momen itu untuk menikmati masakan legendaris dari nenek.


***


Hari ini aku dan Stefani di antar ke sekolah oleh Kak Renata dan juga Kak Reksa. Pria itu memang akhir-akhir ini selalu mengantar jemput Renata ke kampus. Kak Reksa juga mengucapkan selamat ulang tahun untukku. Aku tak tahu persis ia tahu dari mana soal ulang tahunku ini. Mungkin dari kekasihnya yang sebentar lagi akan menjadi pendamping hidupnya.


"Sha, nanti tolong sebarin undangan ini ke teman-teman kamu ya." Ujar Renata sambil memberikanku beberapa lembar undangan yang telah di cetak.


"Enggak banyak kok, cuma temen-temen deket kamu doang." Lanjutnya.


Aku memperhatikan nama-nama yang tertera di bagian depan undangan pernikahan tersebut. Semuanya memang hanya orang-orang terdekatku.


"Kakak tahu nama temen-temen aku semua ini dari mana?" Tanyaku heran.


"Tuh, tanya aja sama yang di sebelah kamu." Jawabnya dengan enteng.


"Dari kamu stef?"


"Iya, hehe... Enggak salah kan kalau yang kali ini?"

__ADS_1


"Ya enggak sih. Oke deh nanti aku kasih sama mereka." Balasku seraya menyimpan benda itu di dalam tas ku.


__ADS_2