
Setelah sampai di tempat itu, aku mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru taman. Tempat ini kelihatannya masih sangat sepi dan tidak ada siapa-siapa di sana. Aku mengerang kesal degan diriku sendiri dan juga pria itu. Coba saja kalau tadi Hwang Jeongin tidak menghalangiku dan mencari masalah denganku. Aku pasti tak akan terlambat seperti ini jadinya. Sekarang Ahn Yoo Ra pasti telah kembali ke asrama. Ia sudah pergi dari sini dan itu semua adalah salahku. Seharusnya aku bisa datang lebih cepat dan mencegahnya untuk meninggalkan tempat ini.
Aku jongkok di taman tersebut sambil memeluk kuat kakiku. Rasanya aku seudah benar-benar putus asa. Sangat payah! Namun, tiba-tiba saja sebuah tangan terasa tengah menepuk pundakku dengan perlahan. Aku lantas membuka mataku dan mendongakkan kepalaku untuk mencari tahu siapa orang itu. Yang ku lihat saat pertama kali membuka kedua kelopak mataku adalah sepasang kaki yang tengah berdidi tepat di depanku. Lalu saat ku lihat ke atas, aku mendapati Ahn Yoo Ra tengah berdiri tepat di depanku sambil mengulurkan tangannya kepadaku. Aku lantas tersenyum tipis dan segera membalas uluran tangannya tersebut.
Aku memeluk tubuhnya dengan seerat mungkin. Aku tak akan melepaskannya sampai ia berjanji jika tak akan meninggalkanku secara tiba-tiba lagi seperti kali ini. Aku tak ingin dia meninggalkanku sendirian dengan semua hal buruk yang terus menghantuiku setiap malam. Aku tak ingin jika Ahn Yoo Ra meninggalkanku dalam dunia yang kejam ini. Dan aku yakin jika ia tak akan mnungkin membiarkanku hidup di dalam ketakutan untuk selamanya. Aku tahu jika aku selalu bisa mengandalkannya.
“Kenapa lo tiba-tiba pergi?” tanyaku sambil tetap melingkarkan tanganku di tubuhnya.
“Gue enggak pergi kok.” balasnya.
Gadis itu kemudian menepikan kedua tanganku. Memintaku untuk memberinya sedikit ruang agar ia bisa menjelaskan semuanya dengan leluasa.
“Tadi gue ngerasa kedinginan. Jadi gue mutusin untuk keliling tempat ini sebentar. Gue pikir kalau gue bergerak, rasa dinginnya bakalan jauh berkurang. Dan sekarang gue udah ngerasa lebih baik kok.” jelasnya dengan panjang lebar.
Setelah dipikir-pikir, ternyata ucapan Ahn Yoo Ra ada benarnya juga. Sepertinya kejadian buruk itu benar-benar membuatku menjadi paranoid dengan semua hal. Tak terkecuali dengan hal sepele seperti ini. Kali ini aku benar-benar telah overthinking.
“Mendingan kita sekarang duduk di situ sambil ngobrol.” ujarnya dengan begitu menenangkan.
Aku mengangguk pelan, mengiyakan perkataannya. Kami duduk di sebuah bangku taman yang letaknya tak terlalu jauh dari tempat kami berdiri saat ini. Ia menggenggam tanganku, berusaha untuk menenangkan diriku.
“Jadi apa yang buat lo dan gue harus ke sini pada jam segini?” tanya Ahn Yoo Ra.
“Emangnya hal apa lagi yang bisa bikin gue setakut ini kalau bukan mimpi itu.” jawabku dengan apa adanya.
“Itu bukan mimpi sha.” ungkapnya secara gamblang.
“Itu beneran terjadi, tapi bukan di sini. Itu benar-benar terjadi di dimensi lain. Di saat lo kembali ke tempat itu, semuanya nyata.” jelasnya dengan panjang lebar.
“Lo serius?” tanyaku.
__ADS_1
“Gue pikir ini semua karena akhir-akhir ini gue terlalu banyak pikiran, makanya jadi sering mimpi buruk kayak gitu.” jelasku.
Sebenarnya aku jga merasa kalau semua hal yang terjadi kala itu nyata. Mereka semua terlalu realistis untuk disebut sebagai sebuah mimpi. Tapi meskipun aku tahu, tetap saja aku tak mau mengakuinya sebelum tahu kebenarannya.
“Gue mohon Yoo Ra, bawa gue keluar dari sana untuk selamanya.” ucapku dengan sungguh-sungguh.
“Gue enggak mau terus-terusan hidup di dalam ketakutan kayak gini.” lanjutku.
“Cuma lo yang bisa ngelakuin itu buat gue.” ungkapku.
“Gue juga tau sha. Gue tau kalau lo enggak bisa tidur beberapa hari ini karena hal itu.” balasnya.
“Lo tau dan bisa ngerasain kan, semua penderitaan yang gue rasain selama ini?” tanyaku.
Gadis itu terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya pelan.
“Tapi lo juga harus tahu kalau kita enggak bisa ngatasin semua masalah itu secara sekaligus.” ujarnya.
“Kita harus mulai dari hal yang menjadi masalah utama terlebih dahulu. Baru setelah itu, kita tinggal beresin sisa-sisanya.” jelasnya dengan panjang lebar.
“Mungkin ini semua enggak akan menghilang dengan begitu aja. Tapi setidaknya ini akan berkurang dengan sedikit demi sedikit. Dan lo harus percaya itu.” jelasnya sekali lagi.
“Kita akan ngelewatin ini sama-sama.” lanjutnya.
“Terimakasih Yoo Ra!” balasku sembari memeluk erat tubuh gadis itu.
Kelihatannya ia juga membalas pelukanku itu. Aku sungguh beruntung bisa bertemu dengan orang sebaik dirinya. Aku tak bisa membayangkan akan bagaimana nasib diriku saat ini jika Ahn Yoo Ra taka da, atau kami tak pernah saling berteman sebelumnya.
“Sekarang kita balik ke asrama ya.” ujarnya.
“Lo balik tidur. Lo pasti capek banget. Gue bisa liat semua itu dari wajah lo.” jelasnya.
“Tapi gue takut.” balasku dengan apa adanya.
__ADS_1
“Jangan terus-terusan nyiksa diri lo sendiri kayak gini. Lo juga harus punya tenaga buat ngelawan mereka kan? Jangan sampai lo kalah dari mereka.” jelasnya sekali lagi.
“Tenang aja, gue bakalan terus berada di samping lo. Dan gua bakalan pastiin kalau mereka enggak akan bisa bawa lo ke alam mereka lagi.” lanjutnya.
Aku lantas segera mengiyakan perkataannya begitu saja kali ini. Lagipula aku tak bisa menolaknya. Tak bisa dipungkiri jika aku benar-benar lelah saat ini. Rasanya aku ingin jatuh begitu saja. Aku bahkan sudah tak tahu lagi bagaimana caranya agar aku bisa merasa aman dalam satu menit saja. Rasanya aku benar-benar membutuhkan itu sekarang. Kedamaian adalah satu-saatunya hal yang paling sulit untuk ku dapatkan pada saat ini. Aku tak menginginkan hal yang orang lain inginkan. Aku hanya ingin tenang untuk beberapa saat, atau bahakn selamanya.
Ahn Yoo Ra mengantarku kembali ke arsama. Ia melakukan semua hal yang ia bisa untuk membuatku agar selalu aman. Gadis itu bahkan sengaja berbohong kepada petugas keamanan asrama dan mengatakan jika aku baru kembali dari kampus. Semua orang juga tahu jika tempat itu tak pernah sepi. Bahkan pada saat hari libur seperti ini pun, para mahasiswa tetap datang ke sana untuk menyelesaikan tugas mereka atau hanya sekedar untuk mencari tempat belajar yang nyaman saja. Para petugas itu lantas langsung percaya saja dengan semua perkataan Ahn Yoo Ra. Lagipula bukan aku satu-satunya orang yang baru pulang ke asrama di saat matahari sudah mulai melelehkan sebagian butiran salju itu.
Ahn Yoo Ra mengantarkan ku ke kamar asramaku dan ia terus memeganguku dengan erat di sepanjang jalan menuju ke kamar. Ia khawatir jika aku kehilangan kesadaranku secara tiba-tiba dan terjatuh di lantai tanpa seorangpun tahu. Gadis itu paham betul dengan keadaanku saat ini. Aku benar-benar sedang mengalami krisis energi saat ini. Tak peduli berapa banyak ATP yang terbentuk dari pembakaran kalori yang terdapat dari setiap makanan yang masuk ke tubuhku. Itu semua tak ada artinya jika tubuh kita tak mendapatkan jam istirahat yang cukup. Sama sekali tak ada gunanya, ia tak akan bisa digunakan dengan maksimal.
Ahn Yoo Ra terus memanduku ke tempat tidur dengan begitu hati-hati. Amel juga tamak khawatir saat itu ketika mendapati kondisiku yang tengah seperti ini. Gadis itu membaringkanku di atas tempat tidurku dengan perlahan. Sementara itu, Amel mengambil selimut miliknya untuk menutupi sleruh tubuhku. Ia tak akan membiarkan udara dingin mengusikku lagi kali ini. Aku tak punya cukup banyak waktu untuk menatap mereka lagi. Kedua kelopak mataku tak bisa bertahan lebih lama lagi. Aku harus segera tidur dan ku harap semoga kali ini aku mengalami tidur yang sebenarnya. Dimana ketika jiwa dan ragaku, mereka semua benar-benar beristirahat dan tidak melakukan apapun. Aku hanya ingin menghilang dari dunia ini untuk eberapa saat dan kemudia di saat aku terbangun semuanya menjadi jauh lebih baik dibanding dengan situasi sebelum aku memejamkan mataku. Aku yakin jika setiap detiknya selalu ada perubahan yang terjadi.
__ADS_1