Pengagum Lara

Pengagum Lara
Episode 34


__ADS_3

Akhirnya kami keluar dan sukses menyelesaikan permainan rumah hantu. Ketiga orang di depanku akhirnya bisa bernafas lega. Tapi telingaku hampir saja tuli gara-gara teriakan melengking milik Renata. Ia berteriak tepat di samping telingaku saat seseorang berkostum pocong muncul di hadapan kami. Dan yang lebih teganya, kedua pria itu malah lari meninggalkan kami sendirian. Dengan kesal aku menyeret langkah Renata yang membeku ditempat. Tadinya ku kira ini akan menyenangkan, seru dan menantang. Bayangkan saja menyusuri rumah hantu bersama teman-temanmu kemudian mencari jalan keluarnya bersama-sama. Kupikir akan seperti itu tadinya. Ternyata mereka malah membuatku kewalahan.


"Gimana?" Tanyaku.


"Enggak bisa ngomong apa-apa lagi, aku udah nyerah!" Ujar Renata.


"Terserah deh." Balasku.


Kami kembali menjelajahi pasar malam yang kian gulita nya malam, kian ramai juga yang mampir kesini. Entah itu hanya untuk menikmati makanan yang ada di bazar, atau hanya sekedar berkeliling saja.


"Gimana kalau naik bianglala?" Ajak Arka.


"Terserah sih, aku ikut kalian aja." Ujarku.


Kami bergegas menuju ke sana, menunggu permainan ini berhenti agar kami bisa segera naik.


Arka menarik tanganku untuk naik bersamanya, sementara Kak Sendy bersama dengan Renata. Lagi-lagi perasaan ini muncul, entah mengapa dengan diriku. Entah aku cemburu dengan kakak ku sendiri atau dengan pria itu, mungkin dengan mereka berdua. Apa mereka berdua telah berpacaran, mereka terlihat sangat akrab. Ah! Lagipula kenapa bisa-bisanya aku memikirkan hal itu, padahal aku telah memiliki Arka. Tapi di dalam hatiku terselip rasa tak ikhlas.


"Hey!" Arka membuatku tersentak kaget.


"Ha?"


"Kenapa sih, kok bengong." Tanya Arka.


"Ah, enggak kok." Aku mencoba mencari alasan untuk mengelak.


"Yaudah daripada kamu bengong terus ntar kesambet malah. Gimana kalau ngobrolin sesuatu?" Usulnya.


Posisi kami perlahan naik menuju puncak wahana ini. Mataku terus tertuju kepada dua orang di depan kami. Pandanganku terkunci pada mereka berdua, aku tak bisa berpaling sedikitpun meski aku telah mencoba.


"Bahas apa?" Tanyaku penasaran.


"Kamu udah maafin Renata?" Tanya Arka.


Kini raut wajahnya mulai serius, ia menatapku lekat. Ia menunggu sebuah jawaban yang sudah lama diharapkan nya.


"Belum sepenuhnya." Jawabku dengan ragu-ragu.


"Tapi itu artinya kamu udah memaafkan Kak Renata dong. Meskipun hati kamu masih berat untuk melakukannya."


"Mungkin."


"Itu artinya, kamu udah bisa mengalahkan ego kamu."


"Emang bisa begitu?"


"Ya bisa lah, aku yakin suatu saat nanti kamu bakalan bisa maafin kakak kamu dengan tulus."


"Pasti itu perlu waktu yang lama."


Aku tak yakin bisa melakukan semua yang diminta Arka. Aku terlalu pesimis atas diriku sendiri.


"Habis ini kita cari makanan ya." Ujar Arka.


Aku mengangguk mengiyakan perkataannya.


***


Setelah naik bianglala, kami kembali berkeliling kawasan ini. Kali ini kami akan menuju bazar kuliner dengan stan yang menjajakan berbagai jajanan di sepanjang jalan.


"Mau makan apa? Kali ini aku yang traktir deh." Ujar Arka.


"Baru gajian nih ceritanya?" Tanya Kak Sendy.


"Ya hasil upload video kemarin di YouTube lumayan banyak yang nonton. Dan uangnya lumayan lah." Jelas Arka.


"Video apa?" Tanyaku.


"Hehe... Video yang kita nyanyi bareng itu." Ucapnya sambil nyengir seolah tak berdosa.


"Jadi kamu sempat-sempatnya rekam itu diam-diam!" Ucapku dengan nada tinggi.


"Maaf hehe... Ya sebagai permintaan maaf aku makanya aku mau traktir kalian semua." Ujarnya.


Sebenarnya aku masih kesal dengan pria ini, tapi kalau soal makanan aku tak bisa menolak hal itu. Aku mengangguk mengiyakan perkataan Arka barusan.


"Yaudah, silahkan dipilih mau jajan apa, mau beli berapa, mudah-mudahan aku sanggup bayarnya." Ujarnya lagi.


"Kok gitu?" Tanyaku.


"Ya kalau kalian beli semua dagangan di sini ya kemungkinan aku enggak bisa bayar lah." Jelasnya.


"Oh, gitu." Balasku singkat.


Kami masih berkeliling bazar penuh makanan itu. Ini benar-benar surga bagiku, setiap aroma yang menghampiri indera penciumanku membuatku semakin tak berdaya.


Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh stan bazar, memilih makanan apa yang paling ku inginkan. Lapar perut itu wajar saja, tapi tidak dengan lapar mata. Itu sama saja akan membuat kita menjadi lebih boros dan sesuatu yang kita beli malah terbuang percuma. Bingo! Aku sudah menemukannya. Aku segera datang padamu, tunggu aku melahap mu!


"Arka, mau itu!" Ujarku sambil menunjuk ke salah satu stan di ujung sana.


"Itu?" Tanyanya sekali lagi untuk memastikan.


Aku segera mengangguk cepat.


"Kalian mau apa?" Arka bertanya pada yang lainnya.


"Samain aja deh, kamu gimana sen?" Jawab Renata.


"Iya, samain aja kayak kata Renata." Sambung Kak Sendy.


Kami bergegas menuju stan penjual corn dog yang belum terlalu ramai. Seperti yang kalian tahu jika aku merupakan penyuka musik beraliran K-Pop, dan tentu saja begitu pula dengan dramanya. Aku sering melihat makanan itu di drama Korea yang ku tonton. Sebenarnya itu adalah jajanan pinggir jalan di Korea, tapi belakangan ini cukup populer di Indonesia. Di dalamnya akan terasa keju mozzarella yang meleleh begitu digigit karena panas dari penggorengan. Ah, sial! Membayangkan nya saja sudah membuat cacing-cacing di perutku protes.


Arka pergi untuk membeli makanan, sementara kami bertiga menunggu sambil duduk di bangku taman. Oh, iya aku lupa mengatakan jika pasar malam ini diadakan di taman yang ada di dekat rumah Arka.


Renata memecah keheningan diantara kami bertiga "sha!"


Aku menoleh kearahnya, mengangkat alisku sebelah.


"Maafin aku ya, tolong kita lupain tentang masalah kita yang pernah terjadi di masa lalu." Ucapnya dengan nada sedikit memelas.


Aku hanya berdeham pelan "hmmmm."


"Kamu mau maafin aku?"


"Belum bisa sepenuhnya untuk sekarang ini." Jawabku.


"Tapi itu enggak menutup kemungkinan kalau nanti kamu bakal maafin aku kan?"


Senyum penuh harapan itu mulai tergambar jelas di wajahnya.


"Enggak tau." Tungkas ku.


"Kok enggak tau?"


"Karena aku enggak tau apa yang akan terjadi di masa depan. Termasuk kamu dan semua orang. Bisa aja aku maafin kamu di masa depan, atau malah sebaliknya. Untuk saat ini aku enggak bisa kasih janji apa-apa. Mungkin jawaban yang barusan aku kasih udah cukup." Jelasku.


"Enggak apa-apa kok kalau kamu belum bisa buka hati sepenuhnya untuk aku." Balas Renata.


"Sha, saran aku nih ya. Gimana kalau mulai sekarang kamu panggil Renata dengan sebutan kakak. Biar lebih sopan aja kelihatannya. Lagian kan dia memang lebih tua usianya dari pada kamu." Timpal Kak Sendy yang dari tadi hanya menyimak obrolan kami.


"Nah, ini dia makanannya udah datang. Silahkan di ambil."


Arka tiba-tiba datang sambil membawa corn dog yang kelihatannya masih hangat. Aku berusaha mengelak dan tak menggubris sama sekali ucapan Kak Sendy tadi. Aku mengambil salah satu corn dog milikku dan kemudian memakannya.


Arka mengambil tempat duduk tepat disebelah ku. Kami berempat menikmati makanan ini dengan begitu khidmat, jangan tanya lagi bagaimana dengan ku. Aku sudah tak bisa berkata apapun soal makanan ini, rasanya benar-benar di luar ekspektasi ku.


"Daebak!"


***


"Eh, mampir ke rumah aku gimana? Kita makan malam bareng disana." Ajak Arka.


"Gratis enggak nih?" Tanya Kak Sendy.


"Satu piring dua puluh ribu ya." Jawab Arka.


"Mending makan di kosan dah." Balasnya.


"Enggak lah canda kali." Sambung Arka.


Aku memainkan kakiku sambil menyimak obrolan kedua pria itu.


"Gimana? Kalian ikut kan?"


Pertanyaan itu ditujukan kepadaku dan Renata yang sama sekali tidak membuka suara dari tadi.


Aku hanya mengangguk mengiyakan perkataannya, begitu pula dengan Renata.


Karena kebetulan pasar malam ini di dekat rumah Arka, jadi kami tak harus menunggu lama di perjalanan apalagi sampai harus macet-macetan.


Arka memboyong kami masuk ke istananya, kemudian menemui Mamanya yang sedang menonton televisi sendirian di ruang tengah.


"Eh, udah pulang?" Tanya Mamanya Arka kemudian bangkit.


"Udah, ma." Arka mengecup punggung tangan wanita itu.


Aku dan yang lainnya juga menyalim tangan Mamanya.


"Eh, iya langsung ke ruang makan aja yuk!" Ajak Mamanya Arka.


Mataku membulat sempurna ketika melihat semuanya sudah tertata rapih di atas meja makan. Tak ada yang kurang sedikitpun, benar-benar sempurna.


"Ini siapa yang nyiapin?" Bisik ku pada Arka.


"Tadi aku sama mama yang nyiapin, sebelum pergi jemput kamu." Jelasnya dengan nada pelan agar tak didengar orang lain.


"Kan jadi ngerepotin." Ujarku.


Kami berempat segera duduk bersama dengan Mamanya Arka.


"Tadi Arka bilang kalau mau makan malem sama teman-temannya di sini sehabis pulang dari pasar malam." Jelas Mamanya Arka sambil menyendok kan nasi ke piring kami masing-masing.


"Aduh Tante jadi ngerepotin." Ujar Renata.


"Ya enggak lah. Tante malah senang kalian bisa mampir ke sini. Biasanya rumah ini sepi, hanya ada Tante dan Arka. Tapi kalau gini kan Tante jadi senang. Ramai, banyak orang." Jelas Mamanya Arka sekali lagi.


"Emangnya Papanya Arka kemana tante?" Tanya Renata.


"Ren!" Ucapku dengan cepat.

__ADS_1


"Oh, Papanya Arka udah lama meninggal." Jawab Mamanya Arka dengan berat hati.


Renata langsung meminta maaf "Oh, maaf tante. Saya enggak tau."


"Iya enggak apa-apa kok."


Senyum kebahagiaan itu langsung pudar seketika setelah mendengar pertanyaan Renata. Ah! Dasar dia benar-benar! Tatapannya langsung berubah menjadi sendu. Aku bisa menangkap jelas perubahan suasana hati wanita itu.


"Oh iya, tante belum tahu nama kalian berdua."


Yang di maksud Mamanya Arka adalah Renata dan Kak Sendy.


"Oh, saya Renata tante. Kakaknya Eresha." Ucap Renata.


Sebenarnya aku masih belum Sudi mengakuinya sebagai kakak ku sendiri.


"Oh, kakaknya Eresha. Pantas sama cantik nya dengan adiknya." Balas Mamanya Arka.


Aku hanya bisa tersenyum dengan terpaksa kemudian menundukkan wajahku.


"Terus sekarang kuliah?" Lanjut Mamanya Arka.


"Iya tante."


"Jurusan apa."


"Jurusan sastra Indonesia tante."


"Wah, calon penulis nih kalau dari bau-bau nya."


"Hehe... Tante bisa aja."


"Kalau yang ini namanya siapa?"


Kali ini pertanyaan tersebut di tujukan kepada Kak Sendy.


"Oh, saya Sendy Tante." Ucapnya memperkenalkan dirinya sendiri.


"Kuliah juga?"


"Iya Tante."


"Dia ini jurusan arsitektur loh ma." Timpal Arka begitu saja.


"Wah, hebat dong." Mamanya Arka berdecak kagum.


"Tuh, kamu banyak-banyak belajar sama Sendy mulaiĀ  sekarang kalau mau jadi arsitek." Sambung Mamanya.


Arka hanya mengangguk, ia terlalu sibuk menyantap makan malamnya.


"Emang Arka mau jadi arsitek?" Tanyaku kepada siapa saja yang ada di sana.


"Iya, dari dulu cita-citanya enggak pernah berubah." Jawab Mamanya Arka.


Tak heran jika ia memilih untuk menjadi seorang arsitek. Ia cukup lumayan dalam soal hitungan dan menggambar mungkin. Tapi ia juga memiliki bakat di bidang seni. Walaupun sebenarnya arsitektur termasuk seni juga menurutku. Tapi... Ah! Sudahlah!


"Aku pengen bangun rumah impian aku suatu saat nanti buat Mama. Dan satunya lagi untuk tempat tinggal ku bersama orang yang aku cintai." Ujar Arka.


"Sama Eresha maksudnya?" Goda Mamanya Arka.


"Enggak tau juga ma."


"Loh, kok enggak tau?"


"Karena bisa jadi kalau Eresha bukan di takdirkan untuk aku di masa depan nanti." Ucap Arka kemudian menatap Kak Sendy.


Mereka berdua saling bertatapan sebentar. Seolah ada komunikasi rahasia antara mereka yang dilakukan secara tidak langsung.


"Iya, benar Tante. Lagipula, kita enggak akan tau apa yang akan terjadi dengan kita di masa depan. Kita enggak bisa merubah setiap hal yang udah di gariskan untuk kita di masa depan nanti." Sambung ku.


Lagipula aku masih tak yakin jika aku akan selalu bisa bersama Arka selamanya. Aku merasa jika suatu hari nanti pria misterius itu datang kembali padaku dan mungkin aku akan kembali juga ke pelukannya. Dan mungkin hal itu akan menyakiti Arka.


"Benar juga sih sama apa yang kalian bilang barusan." Balas Mamanya Arka.


"Tapi kenapa sih kalian ngomong seperti itu? Apa kalian enggak yakin kalau suatu hari nanti, di masa depan kalian bakalan abadi dalam ikatan cinta sejati?" Tanya Mamanya Arka.


Jujur pertanyaan itu membuatku gundah.


"Enggak ma."


"Enggak Tante."


Kami menjawabnya secara bersamaan tanpa disengaja.


Aku dan Arka saling bertatapan setelah kami menyadari jika inti dari jawaban kami barusan memiliki makna yang sama persis.


"Kalian jangan pesimis gitu dong." Ucap Mamanya Arka.


Kepalaku masih tertunduk lemas. Kami berdua sama-sama tak yakin jika kami akan masih terus bersama sebagai sepasang kekasih di masa depan nanti.


Semakin aku dewasa semakin semesta tak pernah berlaku adil padaku. Jika di masa lalu aku dipisahkan oleh takdir yang yang membelenggu jiwaku untuk bertemu dengan pria misterius itu, apakah di masa depan aku juga akan melupakan Arka. Apa ia juga akan perlahan menghilang dari ingatanku dan tidak akan kembali lagi. Apa aku juga akan kembali sendirian dimasa depanku, menikmati kesunyian tanpa seorangpun di sisiku. Apa kehidupanku di masa depan begitu hampa, atau jangan-jangan aku tak memiliki masa depan. Sudahlah, pada dasarnya suatu hari nanti semua orang juga akan kembali sendirian. Mereka tak membutuhkan seorangpun pada saat itu, kecuali dengan Tuhannya.


Aku kembali melanjutkan kegiatan makan malam ku bersama dengan keluarga ini. Ekspresi Arka masih belum berubah, aku tahu ada sesuatu yang mengganjal di hatinya dan ia mencoba menutupi hal itu dari semua orang. Ia pikir bisa mengelabuhi ku dengan begitu mudahnya. Tapi seorang pembaca mimik wajah dengan intuisi yang kuat seperti ku, tak semudah itu untuk dibohongi.


***


"Kita pamit dulu ya Tante."


"Eresha pulang ya Tante." Ucapku kemudian mengecup punggung tangannya.


"Iya hati-hati di jalan ya." Balas Mamanya Arka.


Aku hanya membalasnya dengan senyuman kecil.


Seperti biasanya aku diantar oleh Arka malam ini. Barusaja aku melangkah beberapa langkah dari pintu jati itu, tiba-tiba....


"Brukk!!!"


Tubuhku roboh begitu saja ke lantai, rasanya kekuatanku tiba-tiba lenyap sehingga tidak bisa menopang berat tubuhku sendiri.


***


Semua orang yang berada di sana saat itu langsung panik bukan main. Tak biasanya Eresha pingsan secara tiba-tiba seperti ini. Arka langsung menopang tubuh gadis itu yang sudah sempat menyentuh lantai. Mamanya Arka juga ikut-ikutan panik karena kejadian ini.


"Arka, bawa kerumah sakit aja nak." Ujar Mamanya Arka.


"Pakai mobil mama ya." Sambung Mamanya.


Arka mengangguk cepat kemudian segera mengambil kunci mobil milik Mamanya. Arka membuka mobil kemudian Sendy menggendong tubuh lemah gadis itu masuk ke dalam.


"Mending aku aja ka yang bawa mobil." Tawar Kak Sendy.


"Kamu lagi panik dan takutnya malah enggak fokus. Mendingan kamu jagain Eresha aja di belakang." Sambungnya.


Arka langsung menuju bangku di belakang untuk duduk bersama gadis itu, sementara Renata duduk di kursi depan bersama Sendy. Arka meletakkan kepala gadis itu di pangkuannya sambil terus berharap agar kesadaran Eresha kembali lagi. Mereka semua benar-benar-benar tak mengerti dengan apa yang terjadi barusan. Ia pingsan begitu saja tanpa tanda-tanda awal sebelumnya.


Sambil menunggu Eresha di tangani, mereka bertiga menunggu di balik tirai yang menjadi pembatas ruangan tersebut. Tak lama sang dokter keluar dengan raut wajah sendu. Tentu saja hal itu membuat mereka bertiga semakin panik tak karuan.


"Eresha kenapa dok?"


Arka langsung melontarkan pertanyaan yang mewakili mereka semua sekarang ini. Mereka harus tau bagaimana kondisi Eresha sekarang dan apa penyebabnya ia pingsan. Mengingat mereka bertiga termasuk orang yang paling dekat dengan gadis yang satu ini.


Dokter mengambil nafas dalam-dalam sebelum mulai berbicara.


"Sepertinya ada kelainan yang terdapat pada bagian kepalanya." Ujar dokter.


"Kelainan bagaimana dok maksudnya?" Tanya Arka.


"Untuk mengetahuinya lebih jelas kami akan melakukan tes sample darah atau ronsen."


Ketiga orang itu langsung tertunduk lemas.


"Apa pasien sebelumnya punya riwayat sakit kepala atau hal lainnya?"


"Kebetulan adik saya memang memiliki riwayat penyakit vertigo dok." Ungkap Renata.


"Itu bisa jadi indikasi gejala awal untuk penyakitnya kali ini." Ucap dokter.


"Apa penyakitnya parah dokter?" Tanya Kak Sendy.


"Untuk itu kita memerlukan untuk melakukan tes agar mendapatkan hasil yang akurat dan jelas. Besok kalian bisa kembali lagi untuk mengambil hasil tes nya."


"Apa Eresha sudah boleh pulang dok? Atau harus rawat inap?" Arka kembali membuka suara.


"Ia boleh kembali setelah sadarkan diri. Tapi untuk sekarang ini dia belum juga siuman. Mungkin sebentar lagi, kalian bisa mendampingi nya disana." Ucap si dokter kemudian berpamitan keluar ruangan.


***


"Ayo!"


Lelaki misterius yang masih belum ku ketahui rupanya itu mengajakku ke suatu tempat, entah dimana itu.


"Kemana?" Tanyaku.


Ia menarik tanganku untuk ikut bersamanya. Ia membawaku ke atas bukit, entah dimana lokasinya.


"Aku kok di bawa kesini?" Tanyaku masih belum mengerti.


"Sebentar lagi matahari terbenam. Kalau di lihat dari sini sinar jingga nya lebih memukau." Jelasnya kemudian duduk di sampingku.


"Nama kamu siapa? Aku sering melihat mu tapi aku selalu lupa bertanya siapa namamu." Ujarku.


"Aku enggak bisa menjawabnya sekarang. Suatu saat nanti jawaban itu akan muncul dari dirimu sendiri." Jelasnya.


Tetap sama saja seperti yang sebelumnya, aku tak bisa melihat wajahnya. Ia menggenakan hoodie hitam yang menutupi kepalanya. Dengan hati-hati aku mencoba menepikan hoodie hitam itu, tapi dengan sigap ia mencegahku.


"Jangan." Ujarnya dengan begitu lembut.


"Kenapa? Aku ingin melihat wajahmu."


"Suatu saat nanti kamu akan mendapatkan semua jawabannya."


"Kenapa tidak bisa sekarang saja?"


"Karena semua ini tergantung pada dirimu sendiri dan juga takdir."


Aku memeluk tubuh lelaki di samping ku. Aroma hoodie ini tak asing lagi indera penciumanku.


"Jangan pergi lagi, aku ingin kamu kembali lagi. Jangan tinggal aku." Ucapku sambil terus mengeratkan pelukanku.

__ADS_1


Tangannya meraih puncak kepalaku dan mengelus halus rambut legam ku.


"Aku hanya akan kembali jika kamu menghendaki nya." Jawabnya.


"Apa kita pernah bertemu di masa lalu?" Tanyaku.


"Kita pernah jadi satu di masa lalu."


"Satu?"


"Tapi sekarang kita hanya separuh garis yang mungkin tak akan pernah utuh kembali."


"Mataharinya sudah mulai terbenam, indah bukan?" Ia menyambung kalimatnya yang sempat terjeda.


Aku mengangguk lemah.


"Aku harus pulang." Ucapnya.


Ia kemudian beranjak dari tempat itu saat matahari sedang indah-indah nya di ujung barat.


"Sebentar lagi setelah matahari ini tenggelam secara sempurna, gulita akan menyapa." Ucapku.


Langkahnya terhenti seketika itu juga.


"Apa kamu tega meninggalkan ku sendirian disini? ditengah gelapnya malam?" Aku kembali melanjutkan kalimat ku.


"Akan ada seberkas cahaya yang menemanimu disini. Kamu tidak akan sendirian." Ia menjawab pertanyaan ku tanpa memalingkan sedikitpun wajahnya ke arahku.


Kemudian ia bergegas pergi dari sana. Ia berlari menuruni bukit, entah kemana perginya.


"Apa dia akan kembali lagi?" Tanyaku pada diriku sendiri.


Perlahan tapi pasti, sang mentari meninggalkanku sendirian disini. Sekarang aku tak tahu harus pulang ke mana, aku tak bisa beranjak dari tempat ini. Aku merebahkan diriku diatas rerumputan dan ilalang. Aku menghela berat, mataku tertuju pada satu objek indah yang tergantung di atas sana. Ia berkilau, sangat indah. Ia bersinar sendirian di langit yang hitam legam kala itu. Sendirian, tanpa kilauan-kilauan lainnya yang biasanya menemani dirinya. Rembulan itu kini bersinar sendirian, sama seperti diriku sekarang ini.


"Rembulan, kemana bintang-bintang yang selalu menemanimu?"


"Kenapa kali ini engkau bersinar sendirian? Sebenarnya aku juga barusaja kehilangan bintangku. Tadi sore ia pergi meninggalkan ku begitu saja di atas bukit ini."


"Tapi ia bilang jika nanti akan ada seberkas cahaya yang menemaniku. Apa itu kamu bulan?"


Aku terus mengajak benda angkasa itu berbicara seolah ia sedang mengerti isi hatiku sekarang.


Aku mengantuk, mataku memberat. Aku terlelap diantara ilalang dan hanya berteman rembulan yang mungkin saja ia tak akan bertahan sepanjang malam.


Dengan perlahan aku membuka kedua kelopak mataku dan mendapati diriku tengah terbaring di sebuah ruangan di temani oleh ketiga orang yang dari tadi selalu bersamaku.


"Akhirnya siuman juga." Ujar Kak Sendy.


Mereka semua tampak begitu sumringah.


"Aku kenapa?" Tanyaku kepada mereka semua.


"Tadi tiba-tiba pas mau balik dari rumah Arka, kamu pingsan tiba-tiba." Jelas Renata.


"Terus sekarang aku di rumah sakit?"


"Iya." Jawab Arka.


"Pantas aku benci sama baunya." Ucapku sambil mengibas-ngibaskan tanganku tepat di depan hidung.


Jika dari tadi aku pingsan dan ragaku hanya terdiam di tempat ini, lalu apakah kejadian tadi hanya mimpi. Aku tak yakin jika itu benar-benar sebuah mimpi. Itu terasa begitu nyata, ku kira aku memang benar-benar bertemu dengan pria itu. Ia bilang semua jawabannya tergantung padaku, apa maksudnya.


"Aku tadi ketemu cowok misterius itu tadi." Ujarku.


Mata mereka langsung terbelalak lebar setelah mendengar kalimatku barusan. Ketiga orang di depanku, mereka saling bertatapan satu sama lain.


"Dimana?" Tanya Kak Sendy.


Kenapa ekspresi mereka langsung berubah drastis, apa yang terjadi? Apa aku salah jika mengatakan hal itu.


"Di bukit." Jawabku.


"Tapi kamu dari tadi disini sha." Balas Arka.


"Iya aku tau. Semua itu terjadi di dimensi yang berbeda." Jelasku.


"Dia ngajak aku ke sebuah bukit buat ngeliat sunset. Tapi disaat sunset itu hadir, dia pergi ninggalin aku begitu aja."


Aku melanjutkan ceritaku yang belum selesai.


"Dia enggak akan ninggalin kamu." Ujar Kak Sendy.


"Kakak tau dari mana?"


"Karena dia selalu ada di dekat kamu."


"Apa itu termasuk sekarang?"


Kak Sendy mengangguk mengiyakan pertanyaan ku.


"Dimana dia sekarang?"


Jujur saja aku semakin penasaran dengan sosok pria misterius itu.


"Sangat dekat dengan kamu."


"Berarti dia ada di tempat ini juga? Kakak kenal sama dia?"


"Iya, bukan kenal lagi. Dia itu udah seperti separuh dari diri kakak."


"Kasih tau aku dimana dia."


Aku memohon kepada Kak Sendy agar ia mau mengabulkan permintaanku untuk bertemu dengan pria misterius itu. Sepertinya hanya Kak Sendy yang mengenalnya dengan cukup baik.


"Dia ada di hati kamu."


"Hati aku?"


Kak Sendy kembali mengangguk.


"Apa dia cuma sosok yang ada di imajinasi aku?"


"Enggak, dia benar ada."


"Kapan aku bisa ketemu sama dia?"


"Yang pasti bukan sekarang."


***


Arka dan Sendy baru saja mengantarkan kedua gadis itu kembali ke rumahnya. Mereka masih duduk di atas keretanya yang terparkir di depan rumah gadis-gadis tadi.


"Kak, menurut aku nih ya cowok misterius yang ada di mimpi Eresha tadi itu adalah kakak." Ujar Arka.


"Ya enggak mungkin lah, dia aja udah enggak ingat apa-apa lagi soal aku."


"Tapi kak, bisa jadi ingatan Eresha akan kembali lagi."


"Udahlah kita pulang aja yuk, udah malam juga lagian. Besok kamu mau sekolah dan aku mau kuliah juga besok kan."


Sendy tak ingin membahas tentang hal ini untuk sekarang. Ia mencoba menghindar dari obrolan ini.


Setelah itu mereka bergegas kembali ke rumahnya masing-masing.


***


Arka memasukkan mobil mamanya kembali ke garasi. Kemudian ia menghampiri sang mama yang telah menunggunya dengan perasaan cemas dji depan pintu.


"Mama nungguin Arka dari tadi?" Tanya Arka yang merasa bersalah karena telah membuat mamanya cemas.


Mamanya Arka malah bertanya balik kepada anak semata wayangnya itu "Eresha gimana keadaan nya?"


"Dokter bilang ada kelainan di bagian kepalanya dan dokter bilang kemungkinan Eresha mengidap penyakit tertentu." Jelas Arka dengan berat hati.


"Penyakit apa ka?"


"Arka enggak tau ma. Dokter bilang besok Eresha mau di tes untuk mastiin penyakitnya dia apa."


"Kasian banget sih Eresha, semoga dia cepat sembuh dan hasil tes nya baik-baik aja ya."


Arka hanya mengangguk lemah.


"Yaudah Arka ke kamar dulu ya ma. Udah ngantuk." Pamit Arka pada mamanya.


Mamanya Arka hanya mengangguk sambil menepuk pundak anaknya. Sebagai seorang ibu yang mempunyai ikatan batin yang sangat kuat dengan anaknya, wanita ini tahu dengan jelas jika Arka sedang terpukul. Semua orang terus berharap agar Eresha baik-baik saja.


Arka merobohkan dirinya di atas kasur miliknya. Tiba-tiba ia teringat akan perkataan Eresha saat makan malam tadi. Semua orang juga pasti setuju jika mereka tak akan tahu apa yang akan terjadi di masa depan mereka. Semua orang juga tahu betul jika mereka sama sekali tak bisa merubah takdir. Tapi apakah salah jika manusia berusaha. Walaupun besar kemungkinannya suatu hari nanti Eresha akan kembali kepada Sendy, tapi apakah Arka salah jika ia berusaha mempertahankan hubungan ini.


Arka berharap semoga besok hasil tes nya tak membawa arti apa-apa bagi Eresha. Setidaknya ia bisa sedikit tenang jika peri kecilnya itu baik-baik saja.


***


"Besok pulang sekolah aku jemput kamu ya." Ucap Renata.


"Ngapain?"


"Kita kerumah sakit."


"Untuk apa lagi?" Ia belum menjawab inti dari pertanyaan ku.


"Dokter suruh kamu buat tes besok."


"Tes apa?"


"Besok kamu juga bakalan tahu kalau hasil tes nya udah keluar." Jawabnya kemudian bergegas keluar dari kamarku.


Apa ada yang salah denganku, sampai aku harus melakukan tes segala. Bahkan aku tak tahu pasti tes untuk apa itu, Renata enggan memberi tahukan soal hal itu padaku.


"Kenapa sih semua orang selalu bilang, suatu saat nanti kamu bakal tau, besok kamu bakalan tau, enggak sekarang, bla... bla... bla..." Gerutu kesal.


"Mereka berkata seperti itu seolah waktu bisa menjawab semua pertanyaan ku itu."


"Lalu bagaimana jika aku tidak bisa sampai di waktu itu, apa aku enggak bakalan nemuin jawabannya?"


"Lagipula umur enggak ada yang tau kan. Eh, apaan sih kok aku ngomong gituan. Astagfirullah!"


Aku terus saja berceloteh pada diriku sendiri, mengutrakan semua kegundahan hatiku.


Aku memutar musik akustik dari ponselku dengan volume penuh. Aku merebahkan diriku di kasur yang mulai mendingin permukaannya. Kedua netraku sengaja ku pejamkan, aku menikmati lagu itu meski tanpa lirik. Alunan melodinya, temponya, sukses membawa jiwaku berkelana ke dimensi lainnya. Ke tempat yang tak pernah aku ataupun seorang pun mengunjunginya. Hanya aku dan imajiku. Jauh di alam bawah sadarku.

__ADS_1


Aku membayangkan jika diriku kembali berada di bukit tadi. Bersama purnama yang sedang sendirian disana. Imajiku mampu menciptakan beberapa suara binatang malam yang semakin melengkapi alunan musik ini.


Aku membuka mataku perlahan, kemudian menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya. Aku berharap jika suatu saat nanti aku masih berada di tempat itu sendirian, si pria misterius itu kembali menghampiri ku. Kemudian kami berkeliling ke tempat-tempat lainnya, suatu tempat yang jauh disana.


__ADS_2