
Kami kembali ke tepi sungai itu, kembali melihatnya untuk yang kesekian kalinya. Tapi kali ini aku memandanganya dari sudut yang berbeda. Tempat ini selalu punya kejutan setiap kali kita melihatnya dari segala arah. Selalu ada pesona tersendiri yang ia pamerkan untuk menunjukkan eksistensinya. Oran-orang tak pernah bosan untuk melihat tempat ini dari beragam sudut pandang. Selalu ada saja orang yang berkunjung ke tempat ini setiap harinya. Sungai Han tak pernah terlihat sepi, ia seperti ingin tetap hidup sepanjang waktu. Aku tak pernah melihat tempat ini kehilangan nyawanya.
Tidak perlu diungkapkan dengan kata-kata lagi. Ini benar-benar momen yang tepat untuk menikmati bungoppang panas pada waktu musin dingin seperti ini. Selain itu, rasa manisnya juga bisa menambah energy. Jangan lupa pada bagian terpentingnya di sini, yaitu tentu akan merasa kenyang. Aku tak pernh menemukan bungoppang dengan rasa seenak ini sebelumnya. Lain kali aku akan mampir ke sini untuk membelinya. Sayang sekali jika aku hanya bisa menikmati makanan enak di tempat ini sekali seumur hidupku.
“Mau cobain punyaku?” tawarnya padaku.
Aku lantas mengangguk antusias. Ternyata bungoppang milik Arka tak kalah enaknya dengan punyaku. Coklatnya benar-benar meleleh di dalam balutan roti lembut ini. Seoertinya bungoppang ini dimasak dengan cara khusus yang tepat sehingga bisa seenak ini. Selalu ada kejutan baru yang meledak saat aku menggigitnya lagi dan lagi.
Kini giliranku yang menawarkan bungoppang milikku kepadanya. Rasa kacang merah jjuga tak kalah enak dengan rasa coklat miliknya. Kacangnay dimasak dengan sangat baik sehingga menjadi lembut dan halus saat ditumbuk untuk membuat pasta kacang seperti ini. Rasa gurih dan manis juga bisa didapatkan secara bersamaan saat kita menggigitnya. Makanan yang satu ini benar-benar cocok untuk disantap pada cuaca dingin seperti ini. Selain bisa menghangatkan tubuh, roti ini juga bisa memperbaiki suasana hati yang sedang kacau.
“Ini rasa apa?” tanya pria itu sambil mengunyah bungoppang.
Ia terlihat berusaha keras untuk menebak rasa apa yang sedang dimakannya saat ini.
“Ini rasa kacang merah.” jawabku.
“Kacang merah yang untuk campuran rendang itu?” tanya pria itu lagi.
“Mungkin.” jawabku dengan ragu-ragu.
“Tapi kacang merah di sini biasanya dipakai untuk isian kue beras manis itu. Sekilas kalau di liat emang mirip mochi jepang sih.” jelasku.
“Di Sukabumi juga ada mocha kali, haha.” balasnya sambil tertawa pelan.
“Iya juga ya. Tapi ya intinya begitu lah.” balasku.
“By the way aku juga pernah dikasih kue beras kayak gitu loh sama seseorang.” ungkapnya secara tiba-tiba.
“Oh ya? Sama siapa?” tanyaku spontan.
“Waktu pertama kali aku datang ke tempat tinggal aku yang sekarang, tetangga aku ngasih satu kotak kue beras. Gede banget, dia bilang salam kenal.” jelasnya dengan begitu antusias.
__ADS_1
Aku lantas mengangguk mengerti dengan ucapannya barusan. Hal itu memang biasa dilakukan oleh orang-orang di sini untuk salam perkenalan jika ada anggota baru di lingkungan tempat ia tinggal. Sebenarnya bukan hanya kue beras saja yang dapat diberikan untuk salam perkenalan. Seperti mengajak minum bersama atau memberi makanan lain juga bisa. Hanya saja memang lebih sering dengan kue beras.
“Makan kue beras kayak gitu lagi enak kali ya.” ujarnya secara tiba-tiba.
“Tapi kan ini aja belum habis.” balasku.
“Ya tunggu habis.” ucapnya dengan begitu santai.
Sepertinya udara dingin di sekitar sini membuat nafsu makannya melonjak tinggi. Ku rasa ia akan naik beberapa kilo setelah pulang dari sini. Mungkin teman-temannya di Australia juga akan terkejut melihat perubahan drastis pada dirinya ini.
“Jadi lo yakin kalau kita bakalan tetap di sini terus sampai malam?” tanyaku.
“Seperti yang udah gue bilang tadi.” jawabnya.
Aku menarik napasku dalam-dalam, sambil memasukkan kedua tanganku ke dalam saku jaket musin dingin. Aku melemparkan pandanganku ke segala arah. Membiarkan rambutku berserakan karena hembusan angina. Bahkan paru-paruku mulai terasa begitu dingin. Sesekali aku menatap lurus ke depan, mencoba menerka hal apa yang ada di seberang sana. Ku pikir pasti ada sesuatu yang sedang bersembunyi di balik bangunan-bangunan yang menjulang tinggi itu.
Aku akan tetap mengingat hari ini sampai kapan pun. Bahkan jika sesuatu yang buruk mencoba merebutnya dariku, tak akan ku biarkan hal itu terjadi. Akan ku pastikan jika waktu tak akan mampu melawanku kali ini. Mereka tak akan bisa mencuri memoriku lagi, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk mencegah hal itu terjadi lagi. Karena rasanya saat ini semuanya serba tak mungkin, itu sebabnya aku tak punya pilihan lagi. Bahkan jika pilihan itu masih ada, jangan tanyakan aku akan memilih yang mana.
Saat ini semuanya serba sulit untuk sekedar diucapkan dengan kata-kata. Bahkan satu bukti saja belum cukup untuk membenarkan dirimu. Rasanya untuk saat ini dan selamanya hanya ini yang ku miliki dari pria ini. Semua kejadian hari ini adalah satu-satunya bagian dari Arka yang masih bisa ku miliki. Jadi jangan membuat apalagi harus memaksaku untuk melupakan hari ini.
“Gimana kalau misalnya hari yang kita harapkan bakalan baik-baik aja ini, malah berbalik menerang kita?” tanyaku tanpa perlu alasan apapun.
“Ya kalau tiba-tiba ada badai salju atau hal buruk lainnya, terus gara-gara itu kita enggak bisa di sini sampai malam buat liat jembatan itu.” jelasku.
“Kenapa lo bisa bicara kayak gitu?” tanya Arka lagi.
“Kita mungkin bisa berharap pada bagian terbaiknya, tapi kita juga harus siap pada kemungkinan terburuknya yang akan terjadi.” jelasku sekali lagi.
“Lo ada benernya juga.” balasnya.
“Tapi gue enggak akan biarin hal itu terjadi.” lanjutnya.
“Ini keajaiban sekali dalam seumur hidup gue. Dan hari ini harus tetap terjadi seperti apa yang gue mau. Bahkan semesta enggak bisa menghalangi gue. Apalagi takdir, enggak akan gue biarin dia buat nyegah gue. Hari ini milik gue sepenuhnya dan gue yang berhak buat ngatur semua hal nya hari ini.” jelasnya dengan panjang lebar.
Aku hanya tersenyum miring sambil melemparkan tatapan sinis ke arahnya. Kali ini sikap angkuhnya mulai muncul lagi. Ia berlagak seolah-olah jika dirinya lah yang bisa mengatur semua kejadian hari ini sepenuhnya. Apa ia pikir jika ia memiliki kekuatan istimewa untuk melakukan semua itu atau semacamnya. Bahkan ia tak sadar dengan posisinya saat ini.
__ADS_1
Arka benar-benar bisa berubah dalam sekejap. Berubah menjadi apapaun yang ia mau, tanpa perlu pusing mendengarkan apa kata orang lain tentang dirinya. Menjadi optimis memang penting, tapi kembali ingat pepatah lama itu. Segala sesuatu yang berlebihan tidak baik. Jadi mari mulai hari ini bersikaplah dengan realistis saja.
Aku menghela napas dengan kasar, sehingga menciptakan gumpalan asap putih terlihat keluar dari mulutku. Bahkan aku nyaris tak bisa berbicara lagi kali ini. Bibirku hampir membeku jika terus-terusan bertahan di tempat ini. Aku bahkan tak tahu sampai kapan ia akan menahanku di sini. Apakah ia tak bisa membiarkan ku untuk pulang ke rumah saja. Tempat itu jauh lebih baik dari pada di sini.
Tiba-tiba saja ia menarik tanganku dan membawa langkahku ikut pergi bersamanya. Entah sudah yang keberapa kalinya ia melakukan hal ini padaku hari ini. Jika boleh berkata jujur, aku sudah muak dengan semua ini. Ia selalu memimpin semuanya di depan dan membiarkan yang lemah berada di belakangnya. Ia pikir dengan begitu, dirinya mampu melindungi insan lemah tersebit dan pantas disebut sebagai pemimpin. Jika ia berpikir seperti itu, maka bisa ku pastikan jika ia salah besar.
Kaki ku lelah jika dipaksa terus-menerus untuk mengikuti pria ini. Aku bahkan tak tahu kemana ia akan melangkahkan kakinya. Aku tak tahu dimana tempat ia akan menginjakkan kakinya pada langkah berikutnya. Dan aku juga tidak tahu berapa banyak langkah yang harus ku tempuh bersamanya dengan aku yang terus tertinggal. Aku sama sekali tak tahu kapan dan dimana semua ini akan berakhir. Aku ingin segera untuk menyudahinya, tapi aku sama sekali tak bisa melakukan apapun. Aku tak bisa mengakhiri semua ini begitu saja. Aku tak bisa meski aku sangat ingin.
Aku benar-benar terlihat sangat memalukan saat ini. Semesta menatapku dengan begitu menakutkan. Ia melempar semua kata-kata kasar itu dan tepat menyerang pada inti kehidupanku. Aku seperti seorang pengecut yang sesungguhnya.
Tapi bagaimanapun itu, aku tak bisa melepaskan genggaman ini. Ia yang memulai semuanya, maka aku tak berhak untuk mengakhirinya. Hanya dia satu-satunya orang yang mau mengulurkan tangannya secara sukarela untukku saat ini. Selama ini tak ada yang mau menggapainya saat aku terjatuh, meskipun aku telah mengulurkannya.
Setelah berjalan agak jauh, ia menepi di depan sebuah café. Kali ini terlihat lebih besar dan lebih ramai daripada tempat yang sebelumnya. Ia membawaku masuk ke dalam sana, tanpa pernah melepaskan genggamannya dariku sedetikpun. Kemudian ia segera menarikku kea rah salah satu meja kosong di sudut ruangan itu. Hanya itu satu-satunya meja yang kosong di tempat ini. Hal ini mengingatkanku pada masa SMA kami, saat kami harus berlomba cepat dalam mendapatkan meja. Kejadiannya benar-benar sama persis.
“Kita berlindung di sini dulu.” ujarnya sesaat setelah melepaskan genggaman tangannya dariku.
“Kenapa?” tanyaku.
“Sebentar lagi salju bakalan turun lebat.” jelasnya.
“Kenapa lo malah bawa gue ke sini?” tanyaku lagi.
“Kenapa enggak lo cegah aja?! Bukannya tadi lo bilang kalau lo bisa ngatasi ini semua dan semua ini enggak akan terjadi?” lanjutku.
Aku barusaja menyadarinya jika kata-kataku tadi itu terdengar agak kasar. Tapi memang itu kenyataannya, mau bagaimana lagi.
“Gue udah lakuin itu.” ujarnya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan apa maknanya kali ini.
“Setidaknya gue udah berhasil buat ngelindungi lo.” jelasnya.
“Yang lo lakuin ini enggak sepadan sama ucapan lo tadi, tau nggak?!” ujarku.
“Tadi kita sok-sok an nantang semesta, sekarang malah sembunyi di balik dinding ini kayak seroang pengecut.” jelasku.
“Semut bahkan ketawa liat kita!” sindirku dengan terang-terangan.
__ADS_1