Pengagum Lara

Pengagum Lara
Episode 23


__ADS_3

Aku masih tercengang mendengar pernyataan gila Arka barusan.


"Lo udah gila ya?" Balasku.


"Loh? Gila kenapa? Aku serius."


"Tapi hati itu bukan untuk jadi mainan tau."


"Mainan gimana?"


"Kan kamu bilang tadi mau nunjukin ke Stefani kalau kita bakal pacaran. Itu artinya kamu cuma nganggep ini suatu pembuktian ke Stefani. Iya kan?"


"Haha... Makanya jangan suka ngambil kesimpulan seenak jidat. Kamu tau nggak? Soal kejadian di bis tadi, itu sebenarnya aku udah siapin dari beberapa hari yang lalu. Aku sengaja ngikutin kamu pas pulang sekolah kemarin. Dan aku tahu kamu suka nunggu bis di halte tadi. Makanya tadi pagi aku buru-buru ke halte itu supaya bisa barengan sama kamu." Jelasnya.


"Ohhhh so sweet." Ledek Stefani.


"Terus soal bolu cokelat ini, enggak ada tuh yang namanya tugas praktik atau apalah itu. Aku sengaja buat ini memang khusus buat kamu."


"Jadi gini sha. Intinya selama ini tuh Arka suka sama lo diem-diem ya semacam pengagum rahasia gitu lah. Dia terlalu gengsi buat nyatain perasaannya." Tambah Stefani


"Enggak usah sok tau deh lo." Timpal Arka.


"Emang gitu kan kenyataannya?"


"Udah deh. Apaan sih kalian. Nggak jelas banget sumpah."


"Loh enggak jelas apanya lagi sih sha? Ini tuh udah jelas banget kalau si Arka suka sama lo dan mau lo jadi pacarnya dia."


"Seharusnya soal kejadian di bis tadi dan bolu cokelat ini enggak aku ceritain ke kamu. Dan harusnya ini seolah-olah kebetulan. Tapi gara-gara cewek resek ini semuanya berantakan kan."


"Loh kok gara-gara gue."


"Ya iya lah gara-gara lo."


"Harusnya lo itu berterimakasih sama gue. Coba tadi gue enggak nanyain begituan. Enggak mungkin kan sekarang lo nembak dia gini."


Aku tak habis pikir melihat kelakuan dua orang di depanku. Mereka bisa juga berantem ternyata.


"Jadi gimana sha jawaban dari pertanyaan aku tadi?"


"Elah, ngomong pakek aku kamu segala. Tadi nyolot sama pakek gue lo."


"Itu mulut bisa diem enggak sih? Nyerocos mulu. Jadi gimana sha?"


"Ha? Ya gimana ya. Aku juga bingung."


"Yaudah daripada kamu bingung, mending pikir-pikir aja dulu. Nanti pulang sekolah aku tanya lagi. Gimana?"


"Ha? Pulang sekolah?"


"Iya. Sekalian kita pulang bareng."


"Terus kalau misalnya jawaban aku enggak seperti yang kami harapkan gimana? Kamu bakal tetap mau pulang bareng sama aku?"


"Ya emang kamu bakal jawab begitu nanti?"


"Ya enggak gitu juga, kan misalnya."


"Kan aku udah buat janji buat pulang bareng. Dan janji itu harus di tepati kan?"


"Iya juga sih. Tapi kalau misalnya kamu sakit hati sama aku gara-gara aku enggak nerima kamu, enggak apa-apa kok aku pulang sendiri. Bahkan kalau kamu mau jadi benci sama aku juga enggak apa-apa. Itu kan hak kamu."


"Terus kalau misalnya kamu nerima aku, aku berhak apa?"


"Ya menurut kamu."


"Iya deh gue nontonin kalian aja." Sambung Stefani.


"Hmmm..... Aku pikir-pikir dulu ya." Aku membenarkan posisi dudukku.


"It's okay. You can take your time."


"Sok Inggris lo!" Ledek Stefani.


Kami kembali ke kegiatan kami sebelumnya. Waktu istirahat masih sekitar sepuluh menit lagi. Setelah membahas topik yang barusan, kami bertiga jadi saling diam. Tak ada yang membuka suara sedikitpun. Bahkan Stefani yang dari tadi terus mengoceh tanpa jeda, kini turut diam.


"Teh! Ini uangnya ya!" Sahut Stefani dari tempat duduk.


Teh Lisa yang dimaksud Stefani tadi langsung menghampiri kami  untuk mengambil uangnya.


"Oh, iya. Pas ya uang nya. Terimakasih non." Ucapnya.


"Yuk balik." Ajak Stefani.


"Yuk."


Baru beranjak dua langkah dari tempat duduk, aku segera memutar badanku ke belakang.


"Arka enggak balik?" Tanyaku.


"Sebentar lagi, kalian balik duluan aja. Aku masih mau disini."


"Oh, yaudah. Kita duluan ya. Bye!"


"Bye!"


***


"Jadi gimana?" Tanya Stefani.


"Gimana apanya?"


"Soal Arka tadi. Masa lupa sih."


"Sejauh ini aku belum kepikiran sih."


"Menurut gue nih ya. Mending lo terima aja."


"Kenapa?"


"Liat nih dia itu ketua kelas IPA 1, anaknya juga lumayan pintar, terus dia leader tim basket sekolah kita."


"Aku enggak yakin sih."


"Enggak yakin apanya lagi sih. Udah terima aja. Gue jamin lo enggak bakal nyesel pacaran sama dia."


"Kayak beli barang elektronik aja ada jaminannya segala."

__ADS_1


"Ih gue serius tau."


***


Sejauh ini aku masih belum memikirkan jawaban yang tepat. Aku tidak tahu apakah harus menerima permintaan pria itu tadi atau tidak. Kami baru merasa saling akrab satu sama lain baru hari ini. Bukankah rasanya itu akam terlalu cepat jika ia menyatakan perasaannya padaku. Memang beberapa hari belakangan ini aku sering melihatnya berseliweran di sekolah terlebih di depan kelasku. Awalnya aku tak begitu ambil pusing. Semua orang bisa saja bolak-balik lewat di depan kelasku. Lagipula itu jalanan yang bisa di lalui umum. Banyak orang sering lewat sana. Lebih-lebih jika Arka adalah salah satu siswa kelas IPA 1, posisinya juga sebagai ketua kelas. Jadi tak heran jika dia tergolong murid yang sibuk.


"Selamat siang anak-anak!" Sapa Bu Rita.


"Siang bu!" Jawab kami serentak.


"Eresha, kamu tadi di panggil Bu Tar untuk segera datang ke ruangannya." Ucap Bu Rita.


"Baik bu. Kalau begitu saya permisi." Izinku.


Aku segera keluar dari kelas setelah mendapatkan izin dari Bu Rita, guru bidang studi Kimia yang sedang mengajar di kelas kami.


"Emang aku pernah buat masalah ya? Kayaknya enggak deh. Kok sampai di panggil segala." Batinku dalam hati.


Bu Tar adalah guru bagian kesiswaan yang menangani beberapa hal menyangkut siswa disini. Aku merasa selama aku bersekolah disini beberapa hari ini, tak ada masalah yang terjadi. Bisa habis aku jika nenek sampai mendapatkan SPO (Surat Panggilan Orangtua). Tapi kenali harus takut, lagipula aku memang tidak pernah cari gara-gara.


"Woy!" Seseorang menepuk pundak ku dari belakang.


"Arka? Kok kamu masih di luar? Kan udah masuk. Atau jangan-jangan kamu mau ngikutin aku lagi ya? Udah sana balik. Nanti kalau kamu ketahuan cabut pas pelajaran gimana? Haduh Arka."


"Udah selesai ngomongnya?"


"Udah. Hehe..."


"Gini ya sekali lagi aku bilangin. Jangan suka ngambil kesimpulan seenak jidat tau!"


"Ya maaf. Terus kamu ngapain keluar di jam pelajaran?"


"Aku di panggil Bu Tar ke ruangan dia. Kamu sendiri?"


"Loh? Kok sama? Jangan-jangan..."


"Jangan-jangan apa? Jodoh? Iya kita kan emang jodoh."


"Ih apaan sih. Bukan itu, jangan-jangan kamu ada buat masalah terus bawa-bawa aku! Iya kan?"


"Enak aja tampang berandalan gini aku juga tetap jaga image sebagai murid kelas unggulan lah. Ya kali murid kelas unggulan, murid yang di segani sama seluruh sekolah. Yang paling di sayang sama guru, malah buat masalah. Enggak mungkin lah."


"Idih enggak salah denger tuh."


"Udah daripada ngebacot panjang lebar gak jelas. Mending kita langsung ke ruangannya aja biar tau ada masalah apa sebenarnya."


"Yaudah yuk."


***


"Permisi bu." Ucap Arka.


Aku mengikuti langkah Arka tepat di belakangnya.


"Silahkan duduk." Persilakan Bu Tar.


"Baik bu." Ucapku.


"Iya bu, terimakasih."  Lanjut Arka.


Ya Tuhan, jantungku semakin tak beraturan lagi detaknya.


Dengan susah payah aku menelan saliva ku.


"Bahwa kalian berdua mempunyai potensi yang luar biasa."


Aku tercengang setengah mati. Sedikit lega rasanya memang, ini jauh dari apa yang ku bayangkan sebelumnya.


"Kamu Arka sangat berpotensi di pelajaran Matematika. Dan kamu Eresha sangat berbakat di pelajaran Bahasa Inggris. Jadi kebetulan dalam waktu dekat ini akan diadakan olimpiade tingkat provinsi untuk semua mata pelajaran. Jadi untuk mata pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris, ibu menunjuk kalian berdua untuk menjadi perwakilan dari sekolah kita untuk olimpiade nanti."


Kami saling bertatapan seolah tak percaya dengan penjelasan Bu Tar barusan. Apa menurut mereka aku cukup mahir berbahasa Inggris? Kurasa tidak begitu. Tapi yang pasti, aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini.


"Baiklah itu saja yang ingin ini sampaikan. Besok akan diadakan rapat bersama siswa peserta olimpiade lainnya. Untuk waktu dan tempat akan kembali diinformasikan besok. Sekarang silahkan kembali ke kelas kalian masing-masing."


"Baik bu, terimakasih." Ucap Arka.


"Terimakasih bu." Ucapku.


Kami keluar ruangan Bu Tar dengan perasaan senang bercampur.... Ah entahlah sudah tak karuan rasanya.


"Eh, kamu percaya enggak sih kalau barusan kita dipilih jadi perwakilan sekolah buat olimpiade." Tiba-tiba kedua tangannya menangkup pipiku.


Aku terdiam sejenak, sedikit kebingungan. Sial! Semburat merah itu muncul di pipiku. Astaga! Benar-benar memalukan.


"Ga nyangka ya ternyata kamu pinter matematika juga. Eh, wajar sih kan murid kelas unggulan." Aku mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Padahal aku enggak pinter-pinter amat sih. Masih dalam yang lebih pinter dari aku sebenarnya. Tapi ya mungkin udah rezeki aku buat dapetin kesempatan ini."


"Kita udah di kasih kesempatan ini. Dan itu artinya kita enggak boleh sia-siakan ini. Kita harus berjuang. Harus belajar keras."


"Nah aku ada ide."


"Apaan?"


"Gimana kalau nanti kan kita pulang sekolah bareng, terus aku mampir ke rumah kamu. Kita belajar bareng."


"Hah? Kerumahnya aku?"


"Iya." Arka berusaha meyakinkanku.


"Hmmm... Liat situasi nanti deh."


"Yaudah aku duluan ya." Ucap Arka.


Arka harus belok duluan ke arah lapangan. Karena kelas kami berbeda arah. Sementara kelasku berada di lantai dua.


"Oh iya." Balasku.


Ia segera berlari menuju kelasnya. Tampaknya ia begitu antusias mengikuti pelajaran dikelas. Ia tak ingin melewatkan sedikitpun rapalan rumus-rumus dan teori masa lampau itu. Meskipun sebenarnya ia telah melewatkan banyak hal yang terjadi di kelas saat kami di panggil ke ruangan Bu Tar tadi.


Aku mematung ditempat, pandanganku lekat memmperhatikan punggung pria itu yang kian menjauh dariku.


***


"Tok... Tok... Tok..."


Aku mengetuk pintu kelas saat pelajaran Bu Rita sedang berlangsung. Seisi kelas melemparkan pandangannya kepadaku.

__ADS_1


"Silahkan masuk Eresha." Persilakan Bu Rita.


"Terimakasih bu." Aku segera masuk dan bersiap mengikuti pelajaran.


Aku membenarkan posisi dudukku lalu mengeluarkan beberapa buku tulis dan buku cetak.


"Ngapain aja tadi sama Bu Tar?" Bisik Stefani.


"Aku ditunjuk jadi peserta olimpiade nanti."


"Serius?"


Aku mengangguk mengiyakan perkataannya, kemudian kembali fokus mendengarkan penjelasan Bu Rita.


"Mata pelajaran apa?"


"Bahasa Inggris."


"Widih cakep..."


"Udah ah, aku udah ketinggalan nih pelajarannya gara-gara dipanggil tadi." Protes ku.


"Ya maaf."


***


"Teng... Teng... Teng..."


Lonceng pertanda pulang sekolah telah berbunyi. Suara yang menjadi penyemangat bagi semua siswa di jam-jam seperti ini. Kembali kerumah adalah hal terbaik yang bisa kami lakukan dan akan selalu begitu setiap harinya.


Aku membereskan beberapa buku yang berserakan dan memasukkannya ke dalam tasku. Kemudian mengecek laci, memastikan tak ada satupun barang yang tertinggal.


"Udah selesai?" Tanya Stefani.


"Udah yuk." Lalu menyandang tas ranselku.


"Hey!" Jegat Arka di depan pintu kelas.


"Ngapain sih lo ngehalangin jalan kita. Udah sana awas kita mau lewat. Mau pulang udah laper." Ketus Stefani.


"Gue enggak ada urusan sama lo ya." Balas Arka.


"Gimana sha? Iya atau enggak?" Tanya Arka.


"Hmmm..."


"Oh iya gue lupa. Lo kan nunggu jawaban dari Eresha ya? Astaga kok gue bisa lupa ya. Eh iya nih sha gimana? Gue juga penasaran nih jadinya."


Kedua orang ini terus mendesak ku.


"Oke aku bakal jawab. Dan jawabannya...."


Mereka berdua tampak antusias ingin mendengar keputusan ku.


"Iya." Jawabku dengan yakin.


"Yeah!" Arka berseru sambil mengepalkan kedua tangannya.


"Ekhemm... Ada yang baru jadian nih. Jangan lupa dong traktirannya." Kode Stefani.


"Aman kalau soal itu mah... Tenang aja." Ucap Arka sambil menepuk keras pundak Stefani.


"Aduh! Sakit tau, lo sengaja kan!"


Arka samasekali tak menggubris tuduhan gadis itu.


"Thanks banget sha... Akhirnya kamu mau nerima aku. Dan aku masih enggak percaya sama semua ini. Berasa kayak mimpi tau nggak."


"Idih lebay." Ejek Stefani.


"Iya sama-sama." Entah kenapa senyumku mengembang begitu saja.


"Udah yuk pulang, udah laper." Ajak ku


"Yuk." Balas Arka antusias.


Karena biasanya pulang sekolah waktunya tidak terlalu buru-buru jadi aku selalu berjalan kaki ketika pulang sekolah. Aku dan Stefani kebetulan berbeda arah, jadi kami tak pernah pulang bersama. Tapi kali ini aku bersama Arka.


"Kamu selalu jalan kaki setiap pulang sekolah? Ntar kaki kamu varises loh."


"Enggak ah, biasa aja kali. Lagian kan jalan kaki sehat."


"Iya sih, tapi kenapa enggak pakai bis aja kayak tadi pagi? Atau naik ojek online."


"Ya enggak kenapa-kenapa juga sih. Kan enggak buru-buru juga mau sampai rumah."


"Oh gitu. Eh makan batagor dulu yuk. Mau nggak?"


"Dimana?"


"Itu di situ. Aku biasanya sering beli di situ, enak kok."


Kami menghampiri penjual batagor kaki lima di pinggir trotoar tempat kami berjalan.


"Mang, batagornya dua porsi ya." Ujar Arka.


"Eh, mas Arka. Oke siap mas."


Arka tampaknya sudah begitu akrab dengan penjual batagor ini.


"Dia kok tau nama kamu?" Tanyaku penasaran.


"Kan udah di bilang kalau aku langganan disini."


"Oh gitu, pantesan."


"Sudah pulang sekolah mas?" Tanya si penjual sambil menyiapkan pesanan.


"Udah mang. Hehe..."


"Itu siapa mas? Temennya atau pacarnya?"


"Pacar aku dong mas. Gimana cantik kan?"


"Eh, serius mas Arka sudah punya pacar? Wah selamat ya mas."


"Hehe... Iya makasih mang."

__ADS_1


Aku hanya nyengir mendengar obrolan mereka berdua. Apa Arka begitu terkenal hingga keluar sekolah? Dasar manusia yang satu ini.


__ADS_2