Pengagum Lara

Pengagum Lara
Episode 33


__ADS_3

Arka sengaja merubah rencananya secara mendadak. Ia memutuskan untuk memboyong mereka semua ke pasar malam dekat rumahnya yang kemarin baru saja di buka. Lagipula taman hiburan sudah terlalu mainstream baginya.


Arka masih tampak menunggu jawaban dari gadis itu. Walaupun kali ini ia tetap menolaknya, seorang Arka terlalu sulit untuk menyerah di situasi seperti ini. Tekadnya terlalu kuat untuk sebuah penolakan kecil seperti tadi.


***


"Gimana, mau ya..." Ujar Arka sambil memasang tampang memelas.


Aku berpikir sekali lagi. Tapi tidak mungkin aku harus pergi bersama Renata.


"Aku tetap enggak mau kalau sama Renata." Jawabku dengan yakin.


Tubuh Arka langsung berubah lemas, senyum penuh harapan itu perlahan memudar dari wajah tampannya. Ia tak berkata apapun setelahnya.


"Padahal aku udah rencanain ini dari dua hari yang lalu loh." Ungkapnya padaku.


Aku jadi merasa kasihan melihat pria ini yang telah bersusah payah membuatku bahagia, tapi caranya kali ini salah. Aku tetap tak bisa menerima kehadiran wanita itu.


"Ya maaf tapi aku kali ini benar-benar enggak bisa." Balasku dengan sedikit kecewa.


"Ayo lah sha.... Kali ini aja...." Bujuknya sekali lagi.


Wajahnya tertunduk, ia benar-benar berharap terlalu tinggi padaku.


"Aku janji kamu bakalan senang disana walaupun ada Renata nanti." Ia masih berusaha meyakinkan ku.


"Kalau misalnya aku bohong, kamu boleh pukul aku sampai puas." Ia mengeluarkan kalimat bujukan mautnya sekali lagi.


Aku menghela berat, kali ini aku benar-benar bingung.


"Untuk kali ini aja, tolong berdamai sama ego kamu." Ucap Arka.


"Tapi ada situasi dimana kita harus menjadi seseorang yang egois."


"Dan sekarang bukan situasi yang seperti itu sha, kalau kamu terus-terusan nurutin ego kamu hubungan kalian enggak akan pernah membaik."


"Mulai hari ini dan seterusnya, hubungan aku dan Renata enggak akan pernah membaik."


"Jangan lari dari masalah ini sha, kamu harus hadapi dan cari jalan keluarnya."


"Aku enggak pernah mencoba lari Arka, aku udah coba buat nyelesaikan ini. Tapi diriku sendiri udah terlalu benci sama dia. Hati aku udah terlanjur sakit dan hampir mati karena Renata."


"Kita coba sekali lagi ya, kali ini kita sama-sama cari jalan keluarnya. Aku yakin pasti ada sha."


Arka merangkul bahuku mencoba menenangkan perasaanku. Mungkin Arka bisa merasakan tekanan batin yang selama ini ku pendam.


"Tapi masalahnya udah terlalu rumit ka." Ujarku dengan nada sendu.


"Aku yakin pasti ada jalan keluar nya."


Kenapa pria ini bisa seniat itu untuk mengajakku ke pasar malam bersama Renata. Padahal ia tahu tak mudah bagiku untuk memaafkannya.


"Iya, aku mau." Jawabku dengan berat hati.


Meski sebenarnya intuisi ku menolak semua itu. Hati dan logika ku enggak berteman kali ini.


"Seriusan?" Arka melongo tak percaya.


Aku menganggukkan kepalaku.


Wajah mendung nya kini kembali bersinar. Senyuman yang sempat luntur itu, kini kembali lagi bahkan lebih lebar. Ia terlihat begitu girang setelah mendengar jawabanku barusan.


"Yaudah nanti malam, aku sama Kak Sendy ke rumah kalian ya." Ujar Arka.


Sorot matanya berkilau penuh arti, bisa kulihat rasa kepuasan terpancar dengan jelas dari sana.


"Terserah kalian aja deh." Serahku pada Arka.


"Oke, siap laksanakan." Ujar Arka sambil memperagakan gerakan seolah sedang menghormat.


***


"Ngapain lo, lama banget?" Tanya Stefani.


"Udah, selesai tugas nya?"


"Udah barusan, itu buku lo di laci. Thanks ya."


"Sama-sama."


"Lo belum jawab pertanyaan gue yang tadi."


Aku berusaha mengingat pertanyaan yang ia maksud.


"Oh, ada Arka tadi di depan." Jawabku.


Stefani memutar tubuhnya ke arahku, ia menyondongkan tubuhnya ke arahku. Wajahnya mulai terlihat lebih serius.


"Arka?"


Aku mengangguk lemah.


"Kenapa harus di luar? Kok enggak masuk, biasanya juga main nyelonong aja." Sambung Stefani.


"Nah, tadinya aku juga nanya gitu ke dia."


"Terus dia jawab apa?"


"Katanya malu, ntar diliatin sama anak-anak."


"Yaelah, gara-gara itu doang. Kirain kenapa."


Aku mengangkat kedua bahu ku.


"Eh, sha." Lanjut Stefani.


Kedua alisku terangkat naik.


"Gue mau pindah tempat kerja deh." Ujarnya.


"Kenapa? Kan kamu udah lumayan lama kerja di situ."


"Gue pengennya jadi waiters di cafe atau restoran gitu. Kalau kerjaan gue yang sekarang kan harus jadi kasir di minimarket, pegel tau enggak bisa duduk. Harus berdiri mulu, lama-lama bisa varises kaki gue " Keluhnya padaku.


"Ya emang kalau mau jadi waiters bisa duduk duduk? Bisa hongkang-hongkang kaki gitu?"


"Ya enggak sih, tapi gue pengen jadi waiters aja gitu."


"Emang kamu mau ngelamar kerja di mana?"


"Nah...."


Ia sengaja tak menyelesaikan kalimatnya barusan, dan memancing rasa penasaranku.


"Nah apa?"


"Cariin dong, cafe yang lagi cari karyawan gitu."


"Aku?" Tanyaku sambil menunjuk diriku sendiri.


"Ya iya lah. Emang sekarang gue lagi ngomong sama siapa?"


Aku memutar kepalaku tiga ratus enam puluh derajat untuk memastikan jika gadis yang duduk di depanku saat ini memang sedang berbicara denganku.


Stefani menepuk pelan jidat nya, karena melihat kelakuanku barusan.


"Tolong cariin ya..." Ujarnya dengan nada memohon.


"Ogah." Tolak ku.


"Ayo lah please."


Sial! Ada apa dengan mereka hari ini. Kenapa semua orang memaksaku untuk menuruti keinginan mereka, astaga!


"Ya mana aku tau, cafe mana yang buka lowongan." Ketus ku.


"Masa selama di Jakarta kamu enggak pernah ke cafe sih. Apa lagi sekarang kamu kan pacarnya Arka."


"Emang kenapa kalau aku pacaranya?"


"Ya pasti kalian sering lah ngedate di cafe gitu."


Mendadak aku mual gara-gara kalimat yang dilontarkan oleh Stefani barusan. Aku dan Arka memang tidak pernah ngedate sebelumnya, atau mungkin pernah hanya aku nya saja yang tidak menganggap nya sebagai hal yang di mama date.


"Enggak, enggak mau aku sibuk."


"Ih, parah lo sama temen sendiri."


"Ayolah sha.... Eresha.... Eresha Caitlyn Ananda..... Please..... Bantu temanmu yang satu ini."


Stefani menarik-narik tanganku hingga membuat tubuhku terguncang.


"Ih, udah lepasin. Pusing tau."


"Makanya bantuin dong."


Aku berdecak sebal, ini bukan hari impian ku selama ini.


"Bayangin nih kalau aku enggak kerja, terus enggak bisa makan gimana?"


"Ya kerja di tempat yang lama lah."


"Gue pengen pindah."


Aku menghela napasku panjang, aku berusaha meningkatkan level kesabarannku untuk mengahadapi gadis ini. Kenapa Tuhan mengirimkan gadis yang bawel ini untuk menjadi sahabatku.


"Yaudah deh nanti aku coba tanyain di Cafe Star." Ujarku.


Itu adalah satu-satunya cafe yang paling sering ku datangi, dan kebetulan aku pernah manggung disana dengan Kak Sendy. Siapa tahu salah satu staff cafe yang mengurusi acara kami saat itu masih mengenali wajahku dan aku bisa minta tolong kepadanya.


"Serius?"


Aku mengangguk, mengiyakan perkataannya.


"Tapi,...."


Sekarang giliran ku yang memancing rasa penasaran nya.


"Tapi apaan? Lo minta traktir? Oke."


"Bukan."


"Terus apaan?"


"Ya nanti kamu mesti ikut lah sama aku ke sana. Kan kamu yang butuh bukan aku, aku cuma bantuin."

__ADS_1


Tiba-tiba gadis itu langsung memelukku dengan erat sampai aku tak bisa mengambil nafas. Aku mencoba melepaskan pelukannya, tapi usahaku sia-sia. Tubuhnya sekeras batu.


***


Seperti biasanya, aku menunggu di depan gerbang sekolah. Tapi kali ini aku sedikit menepi ke bawah pohon yang cukup rindang disana. Cuaca siang ini benar-benar terik, belum lagi dengan suara keramaian yang diciptakan oleh ribuan klakson kendaraan. Arka belum keluar kelihatannya, dari tadi di belum ada lewat sini.


Tapi kali ini si gadis bawel ini masih bersamaku, biasanya ia langsung buru-buru pulang kemudian kembali ke tempat kerjanya. Stefani tampak mengibas-ngibaskan tangannya agar sedikit ada sedikit udara yang menyapu halus kulitnya.


Harus ku akui, meskipun kami sudah berada di bawah pohon itu tak banyak membantu.


"Kita naik apa kesana?" Akhirnya gadis itu membuka suara lebih dulu.


"Jalan kaki lah." Jawabku singkat.


"Jalan kaki? Di cuaca sepanas ini? Yang bener aja lo sha."


Aku segera membungkam mulut gadis itu sebelum ia menyumbat telingaku dengan semua kalimat yang ia lontarkan.


"Udah diem." Ucapku.


"Kamu aja kali yang jalan panas-panas gini. Enggak ada yang larang juga kan?" Ujarku.


"Eresha, gue serius."


"Iya, aku juga serius. Kita emang jalan kaki. Tapi nanti kalau udah enggak begitu panas. Lagian dekat kok dari sini." Jelasku.


"Sha, ayo naik. Loh, Stefani masih di sini?" Sebuah suara hadir secara tiba-tiba.


Siapa lagi jika bukan Arka. Sepertinya tadi ia harus menunggu parkiran sedikit sepi, karena disana lumayan padat saat pulang sekolah. Ia adalah tipe orang yang tak ingin kehabisan oksigen karena harus  berkerumun. Banyak siswa yang memarkirkan motornya disana, termasuk Arka.


"Ka, mending kamu pulang duluan deh. Soalnya aku sama Stefani mau ke cafe." Jelasku pada Arka yang sudah menungguku di atas sepeda motor miliknya.


"Ngapain? Mau hang out, atau numpang free WiFi di Cafe buat ngerjain tugas." Arka mencoba menebak beberapa alasannya.


"Stefani mau ngelamar kerja di sana." Jawabku langsung to the point.


"Lo di pecat sama bos lo yang lama?" Tunding Arka pada Stefani.


"Enak aja, ya enggak lah. Gue cuma mau nyari kerjaan yang lebih tinggi gajinya." Jelas Stefani.


"Oh, jadi karena gajinya yang lumayan nih." Ucapku dengan nada sedikit menyindir.


Stefani tak mengatakan soal ini sedikit pun padaku tadi.


"Ya, maklum aja sha. Nasib anak kosan ya gini." Balas nya sambil nyengir seolah tak berdosa.


"Dari pada lo kerja di cafe nih ya, gue ada pekerjaan bagus buat lo." Ujar Arka.


"Kerjaan apa?" Tanya Stefani.


"Mending lo jadi babu gue aja, gimana? Hahaha." Ucap Arka dengan nada mengejek.


***


Stefani tak menyangka jika pada akhirnya pacar sahabat nya yang sudah menyebalkan dari lahir malah meledeknya. Padahal Stefani sudah menganggapi ucapan Arka dengan serius.


***


Dengan emosi yang sudah berada di ujung ubun-ubun nya, Stefani mengepal kuat tangannya untuk menggertak Arka dengan tinjuan maut nya. Ia memperingati Arka untuk tidak bermain-main seperti ini lagi dengannya, jika tidak maka Stefani bisa memastikan jika Arka akan habis di tangannya.


Aku memegangi kepalaku yang tak pusing melihat tingkah mereka berdua. Kapan dua orang ini bisa akur, padahal mereka adalah orang-orang yang terdekat denganku.


***


"Mbak yang kemarin nyanyi di sini kan ya?" Tanya si staff cafe yang tak ku ketahui pasti apa jabatannya di sana.


Stefani menatapku kebingungan sesaat setelah si staff berbicara begitu padaku. Kedua matanya lekat menyoroti ke arahku.


"Kebetulan kami memang memerlukan sekitar lima karyawan lagi mbak."


Wajah Stefani berubah menjadi begitu bersemangat, ia begitu kegirangan saat itu.


"Kalau begitu, mbak nya bisa masuk langsung ke ruangan manager cafe ini untuk di interview." Ucap si staff.


"Sekarang nih mbak interview nya?" Tanya Stefani.


Si staff hanya mengangguk.


"Mari saya antar ke ruangan nya." Ucap si staff.


Stefani mengangguk-anggukkan kepalanya dengan begitu semangat. Ia segera membuntuti si staff dari belakang, tanpa menghiraukan ku sedikitpun.


Sambil menunggu mereka interview, ada baiknya aku minum sebentar di cafe ini.


"Mas!" Aku mengacungkan tanganku ke arah si pelayan di sudut ruangan.


Ia kemudian segera menghampiriku.


"Mas, moca latte nya dua ya." Ucapku bahkan sebelum ia sempat memberikanku daftar menu.


Ia mengangguk cepat kemudian pergi ke belakang.


Aku memebelikan satunya untuk Stefani, pasti ia lelah berjalan dari sekolah menuju ke cafe ini. Sebenarnya bagiku berjalan kaki sudah hal yang biasa dan aku tak pernah protes sedikitpun soal itu. Tapi mungkin berbeda lagi jika orang itu adalah Stefani. Ia pengguna setia bis, itu wajar karena jarak dari sekolah ke tempatnya bekerja lumayan jauh.


***


"Gimana tadi interview nya?" Tanyaku sambil menikmati moca latte yang ku pesan di cafe tadi.


Kami berjalan santai di pinggir trotoar jalan. Hari sudah beranjak menjadi sore. Setelah di persimpangan jalan sana, mungkin aku akan belok ke kanan. Aku akan pulang dengan berjalan kaki saja. Lagipula uang saku ku hari ini sudah habis karena harus memfoto copy tugas kelompok, juga untuk  membelikan minuman ini. Tapi itu bukan hal yang buruk, bukan masalah besar. Seperti yang ku bilang tadi, jika aku sudah terbiasa dengan semua ini.


"Dahh."


***


"Sha, Arka udah bilang sama kamu soal nanti malam?" Tanya Renata yang entah sejak kapan berada di sana.


"Udah." Jawabku singkat kemudian melanjutkan menonton tv.


"Jadi kamu mau?" Renata memastikan sekali lagi.


"Hmmm.... Terpaksa sih." Jawabku dengan sedikit ragu.


"Yaudah deh, enggak apa-apa kalau kamu terpaksa. Yang penting kita jadi kesana malam ini."


"Tapi aku yang apa-apa."


Renata terdiam sejenak. Mungkin kalimat barusan cukup membuat nya sadar jika mustahil bagiku untuk menerimanya.


"Terimakasih banyak ya karena kamu udah mau pergi sama kita." Renata mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


"Iya, terserah kalian." Jawabku dengan nada ketus.


"Eh udah jam segini. Ayo siap-siap." Tanpa pikir panjang, Renata menarik tubuhku untuk bangkit dari sofa.


"Apaan sih." Aku langsung melepaskan tanganku dari genggaman tangannya.


Bisa ku tangkap dengan jelas arti sorot matanya yang begitu dalam. Semangat nya menghilang entah kemana. Ia hampir menyerah menghadapi sikapku yang tak kunjung melunak padanya. Aku sudah mencoba semampuku untuk hal itu, tapi tetap saja hasilnya tak sesuai ekspektasi ku.


Tapi dengan gigihnya, ia kembali menarik tanganku dan menuntun ku masuk ke dalam kamarnya. Ia menyuruhku duduk di depan meja rias miliknya. Jujur aku lumayan canggung di posisiku sekarang, benda ini Sam sekali tak pernah ada di kamarku. Begitu pula dengan seluruh isinya yang tak pernah ku sentuh.


"Mau ngapain sih!" Seru ku.


Ia tak menggubris sama sekali, Renata sibuk mengeluarkan semua isi lemari nya. Ia terlihat berpikir sebentar sambil menatap tumpukan kain itu. Kemudian mengambil sweater putih polos dengan rok lipit selutut berwarna hitam.


"Nih, coba pakai." Ucapnya sambil menyodorkan benda itu kepadaku.


"Apaan sih, buat apa?"


"Udah nih, cobain."


Ia langsung meletakkan pakaian itu ditanganku tanpa persetujuan terlebih dahulu dariku. Kemudian mendorong tubuhku untuk mencoba baju yang ia berikan itu di kamar mandi. Aku mencoba menahan langkah kakiku, tapi tetap saja aku kalah dari tenaganya yang terlalu kuat.


Sejujurnya aku sedikit canggung menggenakan pakaian ini. Aku biasanya hanya memakai rok untuk ke sekolah, setelah itu celana training i'm coming!!! Seingatku terakhir kali aku berpakaian seperti ini saat ada kompetisi dance, itu sudah sangat lama. Dan kini aku harus menggenakan nya kembali.


"Cih."


Aku berdecak kesal dengan perlakuan Renata padaku.


Aku mengepas pakaian ini di badanku. Tidak terlalu buruk, tapi hanya bagian atas nya tidak dengan bawahannya. Aku keluar dengan begitu canggung.


"Nah, gini dong. Kan lebih cantik." Ia memuji penampilan ku.


"Cantik dari Hongkong."


"Ih, seriusan tau. Kayak ini, kamu tau nggak ullzang Korea itu. Nah ini style nya cocok sama kamu." Jelasnya.


"Ini mau ngapain sih sebenarnya?"


Aku masih penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh Renata padaku selanjutnya.


"Udah, duduk di sini."


Ia kembali membawaku ke tempat yang sebelumnya sempat ku sambangi meski hanya beberapa detik.


"Kan nanti kamu mau ngedate sama Arka, jadi harus cantik." Ujarnya sambil memainkan rambutku.


"Ah, enggak."


Aku langsung menepikan tangannya seketika.


"Lagian enggak ada kata nge date di dalam kamus aku. Titik! Lagian ini cuma jalan-jalan biasa kok." Sambung ku.


"Yaudah terserah mau apa namanya, yang penting sekarang kamu duduk anteng aja." Ujarnya dengan sedikit unsur pemaksaan disana.


Terserah sajalah padanya, aku sudah lelah bersitegang terus dengannya.


Ia terlihat mengambil beberapa kuas yang menurutku tak ada bedanya satu sama lain. Kemudian Renata mengulas kan bubuk berwarna creme di wajahku. Kemudian di lanjutkan dengan lipstik yang sepertinya berwarna baby pink.


"Merem!" Perintahnya.


"Mau ngapain?"


"Mau make in eyeliner di mata kamu."


"Eye liner apaan, lagian itu spidol!" Ucapku sambil menunjuk sebuah benda yang ia pegang dan katanya itu adalah eyeliner.


Yang benar saja, masa spidol yang untuk menulis di pakai untuk daerah sekitar mata. Jika mataku iritasi lalu buta karena benda ini, bagaimana? Apa dia mau tanggung jawab.


"Ini eye liner Eresha." Ucapnya sekali lagi.


Ia kembali mencoba membuat beberapa goresan kecil di daerah mataku tanpa seizin ku. Apa ini bagian dari rencananya. Ia ingin membuatku mati! Lihat saja jika memang benar, jika aku mati karenanya aku akan terus menghantui hidupnya.


"Ini apa lagi?" Tanyaku.


"Mascara."

__ADS_1


"Buat apa?"


"Ya buat nebelin bulu mata kamu."


"Cih! Kenapa sih jadi cewek ribet banget."


Setelah ia mengaplikasikan mascara di bulu mataku, rasanya sangat tidak nyaman. Aku ingin mengucek mataku rasanya, tapi Renata bilang jika aku melakukan itu maka mascara nya akan meleber kemana-mana dan justru akan terkesan berantakan.


"Ingat, cantik itu perlu perjuangan." Ucapnya.


"Aku enggak butuh itu." Balasku.


Setelah selesai melakukan pekerjaannya, Renata menghela nafas. Seolah hal-hal yang dilakukannya tadi adalah pekerjaan yang benar-benar melelahkan.


"Rambutnya mau model kayak mana?" Tanyanya padaku.


"Di ikat satu aja kayak biasa."


Aku sudah mulai lelah menanggapi semua pertanyaan yang dari tadi terus ia lontarkan kepada ku.


"Jangan dong. Itu terlalu polos."


"Ya terus mau di apain?"


"Gimana kalau di kepang ke samping? Biar kayak Elsa."


"Elsa mana?"


"Yaelah, tokoh kartun Disney itu loh. Yang di film Frozen, masa kamu enggak pernah nonton."


"Aku bukan anak-anak yang masih nonton kartun!"


"Paling enggak ya pernah dengar lah."


"Enggak!"


"Yaudah, aku kepang nih ya."


"Terserah!"


"Jutek banget dari tadi sama kakaknya sendiri, senyum dong."


"Bodoamat, aku lagi badmood!"


Tangan Renata yang tadinya sibuk mempercantik tampilan wajahku, kini bergegas beralih ke bagian rambut. Ia tampak sudah begitu handal dan terampil melakukan semua hal ini. Kenapa dia tidak bekerja sampingan di salon saja untuk mencari tambahan. Ah, sudahlah lagipula itu bukan urusanku. Terserah dia mau jadi apa, toh dia kan yang menentukan jalan hidupnya.


"Nah, udah selesai."


Aku menatap diriku sendiri di cermin. Benar-benar berbeda seratus delapan puluh derajat dari sosok Eresha yang ku kenal. Bahkan aku sendiri pangling melihat perubahan drastis yang terjadi pada diriku.


Aku cukup puas dengan hasil make over nya, ya bisa di bilang lumayan lah. Jika disuruh memilih dari angka satu sampai sepuluh, penampilan ini cukup layak mendapatkan angka delapan bagiku.


"Tinggal pakai sepatu snikers. Punya kan sepatunya?"


"Ya punya lah, biasa juga pakai itu kalau pergi."


"Siapa tau udah kamu buang."


Aku mendengus sebal, bagaimana bisa aku sampai membuang sepatu kesayangan ku. Dasar! Aku sudah tidak mengerti lagi dengan pola pikir manusia yang satu ini.


"Udah, sana keluar."


Lagi-lagi ia mendorong pelan tubuhku.


"Aku mau siap-siap dulu, nanti aku nyusul keluar." Sambungnya kemudian langsung menutup pintu.


Padahal aku belum sempat berkata apa-apa.


"Sabar sha... Sabar." Ucapku pada diriku sendiri.


"Dia kakak kamu sha, tapi.... Argghh!"


Hampir saja tanganku terluka karena nyaris menonjok pintu kayu jati yang tebalnya sekitar dua inci itu.


Aku segera turun ke lantai bawah untuk memakai sepatu. Aku berkaca sekali lagi melihat penampilan ku dari pantulan kaca jendela.


"Tin... Tin... Tin..."


Suara klakson itu mengalihkan perhatianku.


"Apa mereka sudah sampai?" Gumam ku.


Aku segera berlari ke arah gerbang, ternyata benar jika itu adalah Kak Sendy dan Arka. Apa ada yang salah denganku, sampai-sampai mereka menyoroti ku dari bawah hingga ke atas. Apa Renata membuatku seperti boneka Annabelle di depan mereka.


"Kenapa?" Tanyaku dengan ragu.


"Enggak, aku cuma pangling aja. Enggak biasanya kamu berpenampilan sefeminim ini." Ujar Arka dengan polosnya.


"Oh, aku tahu. Jadi maksudnya selam ini aku tomboy gitu? Enggak pernah benar-benar jadi seorang cewek yang sesungguhnya?" Aku langsung menyeranh Arka habis-habisan.


"B-bu-bukan gitu." Ucapnya terbata-bata sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Cieee, yang mau nge date udah dandan habis-habisan nih." Goda seorang pria di samping Arka.


"Ini semua kerjaannya Renata tau!" Tungkas ku.


"Kalian udah baikan?" Tanya Kak Sendy.


"Emang ada yang bilang gitu? Enggak kan." Balasku.


"Terus kenapa kamu mau di dandanin sama dia kalau belum baikan?" Tanya Kak Sendy lagi.


"Terpaksa." Balasku singkat.


"Hai!" Sapa seseorang dari belakang yang tiba-tiba merangkul bahuku.


Aku yakin jika ini adalah wanita yang menyandang status sebagai kakak ku sekarang. Tanpa menoleh ke belakang, aku segera melepaskan rangkulannya.


"Apaan sih!" Ketus ku.


"Nah, dari pada nanti kita ke malaman, mending kita berangkat sekarang ya." Ajak Arka.


"Renata sama aku, Eresha sama kamu." Ujar Kak Sendy.


Aku dan semua orang yang sedang berada di sana saat itu hanya mengangguk dan enggan berkata sedikitpun.


***


Suasana disini sudah lumayan ramai, padahal baru dibuka beberapa menit yang lalu. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling ku. Sorot warna-warni lampu benar-benar memanjakan mataku. Semua orang disana tampak sedang berbahagia. Tapi entah bagaimana denganku. Kuharap Arka tak mengingkari janjinya tadi.


Kami berkeliling menjelajahi pasar malam sebentar, untuk memutuskan kami akan melakukan apa disana.


"Naik komidi putar gimana?" Usul Renata.


"Badannya aja yang gede, tapi jiwanya anak-anak." Balasku.


Tentu saja aku bisa mengatakan hal seperti itu karena ada alasannya. Yang pertama ia terlihat benar-benar paham soal tokoh kartun, apa lagi film kartun produksi Disney. Dan yang kedua, kalian lihat saja. Dengan polosnya ia mengajak kami untuk naik komidi putar. Apa ia tak bisa melihat dengan jelas, jika yang menaiki wahana disana semuanya adalah anak-anak. Apa yang akan orang lain bilang jika kami nekat bermain wahana itu. Itu tak menutup kemungkinan jika kami akan di tertawa kan dan menjadi pusat perhatian seluruh pengunjung.


"Yang lain aja udah!" Tungkas ku.


"Oke." Balasnya.


Kami berkeliling lagi mencari permainan yang bisa kami mainkan.


"Gimana kalau rumah hantu." Usul Kak Sendy sambil menunjuk ke arah pintu masuk.


"Boleh juga." Balasku.


Arka pun mengangguk setuju, sependapat dengan kami berdua.


"Gimana?" Tanya Kak Sendy ke wanita yang lebih tua dariku.


Ia tampak ragu untuk ikut bersama kami.


"Kalian aja deh." Ujarnya dengan sedikit gugup.


"Kenapa? Takut?" Ucapku dengan nada sedikit meledeknya.


Renata segera menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat.


"Elah, lagian ngapain takut sih. Itu bukan hantu beneran, mereka cuma manusia biasa sama kayak kita." Jelasku.


"Tapi tetap aja rupa mereka menyeramkan." Ujarnya sambil bergidik ngeri sendiri.


Aku memimpin jalan di depan, spontan mereka mengikuti jejak ku. Renata tampak tak benar-benar yakin untuk mengikuti permainan kami kali ini.


Kami memasuki area pintu masuk, dan permainannya sudah di mulai sekarang. Seperti rumah hantu pada umumnya yang terkesan horor. Tapi tempat ini tak lebih horor dari jembatan kemarin. Suasananya sengaja di buat sedemikian rupa dengan pencahayaan yang minim, juga suara-suara misterius yang aku yakin sumber suaranya dari sound sistem yang di sembunyikan di area ini.


Baru beberapa langkah dari pintu masuk, Renata sudah ketakutan tak karuan. Aku menawarkan uluran tanganku untuk digenggamnya agar mengurangi sedikit rasa takutnya. Renata dengan tatapan tak percaya langsung menyambar tanganku dan berjalan di sampingku. Ia menempel denganku sepanjang jalan. Sementara kedua pria itu sibuk berbincang-bincang sendiri di belakang, ada bisnis pribadi mungkin.


Tiba-tiba sebuah suara tertawa iblis wanita yang suka bergelantungan di pohon saat malam hari itu, terdengar dengan begitu jelas di telinga kami.


"Cih!" Aku mendecak sebal.


Disaat yang bersamaan pula seorang gadis yang sedari tadi berjalan lekat di sampingku langsung berteriak dan memeluk erat tubuhku. Ia memejamkan matanya kuat-kuat, ia benar-benar merasa ketakutan disini. Apa mungkin tak seharusnya tadi aku membawanya ke sini secara paksa. Ah, tapi tadi ia juga memaksaku untuk memakai pakaian ini dan berdandan. Anggap saja ini pembalasan dendam karena ia telah memaksakan kehendaknya padaku dan posisi kami sekarang seri.


Sementara kedua pria yang sibuk berbincang-bincang di belakangku tadi, mereka langsung berlari ngacir meninggalkan kami. Mereka terlalu bersemangat untuk segera menyelesaikan permainan ini, ayolah nikmati dulu suasana nya. Suasana yang tak bisa kau rasakan setiap hari.


Aku mempercepat langkahku untuk menyusul kedua pria itu yang sudah berpuluh-puluh langkah di depan kami. Di satu sisi, Renata yang memang sudah mati ketakutan memintaku agar kami segera meninggalkan tempat ini.


"Arka! Kak Sendy!" Sahutku dari belakang.


Akhirnya mereka menghentikan langkahnya juga, sehingga aku bisa menyusul mereka tanpa harus berjalan terburu-buru.


Mereka berdua masih terlihat mengatur nafasnya yang memburu saat itu telah menghampiri mereka.


"Gimana sih, tadi kan kalian yang ngajak main ini." Ucapku dengan nada seolah meremehkan nyali mereka.


"Hosh... Hosh... Bu-bukan aku. Kak Sendy yang ngajak." Ujar Arka yang masih ngos-ngosan.


"Kita tadi kaget tau, bukan takut. Iya kan ka." Kak Sendy mencoba melakukan pembelaan terhadap dirinya sendiri dan Arka.


"Iya, kita lagi asik-asik ngobrol malah tiba-tiba ada suara gitu. Enggak permisi dulu lagi, kalau dia bilang mau ketawa kan kita enggak bakalan kaget." Timpal Arka.


"Yang ada kalau mereka permisi dulu, pengunjungnya enggak ada yang ketakutan lah." Ujarku.


Entah sudah di mana kami, mungkin sudah di pertengahan labirin. Kami bergegas melanjutkan perjalanan kami menuju pintu keluar. Kami berempat memutuskan untuk saling berpegangan tangan satu sama lainnya. Untuk berjaga-jaga jika ada hal-hal menakutkan yang datang secara tiba-tiba seperti tadi.


"Kamu kok enggak takut sih sha?" Tanya Arka padaku.


"Ya karena aku tahu kalau mereka bukan hantu beneran dan aku udah sugestiin diri aku dengan hal itu sejak kecil. Karena dulu mama sama papa sering bawa aku ke tempat ini kalau ada pasar malam di sana." Jelasku.


Jujur aku merindukan kedua orang tua ku yang dulu sempat membenciku karena ulah Renata. Tapi sudahlah, lupakan masalah itu.


"Itu artinya secara tidak langsung, orang tua kamu udah menanamkan jiwa pemberani di diri kamu sejak kecil."

__ADS_1


"Mungkin." Balasku singkat.


Aku tak pernah benar-benar paham dengan itu semua.


__ADS_2