
"Thanks ya!" Ujarku sembari turun dari sepeda motor Arka.
"Sha!" Sahut seseorang dari belakang.
Aku langsung membalikkan badanku untuk mencari arah sumber suara tersebut. Ternyata itu mama dengan setelan baju maroon nya yang tengah berjalan menghampiri ku.
"Kok pulangnya malam banget sih?" Tanya mama.
"Kan ada jam pelajaran tambahan ma, untuk persiapan Ujian Nasional nanti." Jelasku.
"Tapi masa sampai malam begini." Balas mama yang masih penasaran.
"Iya-iya, tadi keluar sebentar. Lagipula kan aku udah nelpon Kak Renata, emang dia enggak ada bilang?" Tanyaku.
"Sama laki-laki ini?" Wanita paruh baya itu malah bertanya balik kepada ku.
Aku mengangguk lemah mengiyakan perkataannya. Di satu sisi aku juga merasa gugup sekaligus takut. Bagaimana jika mama marah besar setelah mengetahui aku pulang malam, karena pergi bersama seorang pria yang bahkan tak dikenalnya sama sekali.
"Kamu yang bawa anak saya pergi sampai pulang malam seperti ini?" Tanya mama dengan sorot mata tajam.
Dengan susah payah Arka meneguk salivanya sendiri. Ia berusaha mengumpulkan seluruh nyali nya untuk menjawab pertanyaan maut dari wanita ini. Entah kenapa mama selalu menjadi lebih sensitif jika aku berurusan dengan seorang pria.
"I...iya tante. Maafin saya tante, gara gara saya Eresha jadi pulang terlambat seperti ini." Jawab pria itu dengan wajah yang tertunduk.
"Mati aku!" Batinku dalam hati.
"Enggak apa-apa kok, ya sudah ayo masuk dulu! Kita makan malam bersama." Balas mama dengan begitu tenang.
Arka mengangguk dengan pasrah, sembari turun dan meletakkan helmnya di atas sepeda motor.
Sebenarnya ada apa dengan wanita yang satu ini. Padahal tadi ia terlihat begitu serius, dengan tatapan mengerikan seolah ingin memangsa seseorang. Sekarang mama malah bersikap biasa-biasa saja, seolah tak terjadi apapun tadi. Malah sekarang ia dengan sengaja mengundang Arka untuk ikut turut dalam acara jamuan keluarga kami. Aku benar-benar tak paham dengan jalan pikirannya.
Aku dan pria ini berjalan beriringan, tepat di belakang mama. Kami menuju ke dapur, tempat dimana seluruh anggota keluarga telah berkumpul untuk bersiap menyantap hidangan makan malam. Aku tahu pasti nantinya mama dan papa akan melontarkan begitu banyak pertanyaan yang membuatku kewalahan menjawabnya. Tapi semoga saja hal itu tak terjadi.
"Silahkan duduk." Ujar mama sambil menarik kan salah satu kursi kosong di meja makan.
"Terimakasih banyak tante." Balas pria ini dengan begitu sopan.
"Loh, ternyata Arka!" Seru Stefani yang baru saja turun.
"Eh, mas Arka!" Sahut bibi yang tiba-tiba datang dengan membawakan sepiring cah kangkung di tangannya.
Aku menurunkan pandanganku dari mereka semua yang berada di hadapanku.
"Ma, aku langsung naik aja ya. Soalnya tadi udah makan juga di jalan." Ujarku sembari beranjak dari tempat dudukku.
"Eh! Jangan gitu dong. Kan kasian temen kamu." Cegah mama.
"Arka juga udah makan kok ma." Lanjutku.
"Duduk!" Perintah mama.
Mau tak mau aku segera mengikuti perintahnya untuk tetap di sana sampai acara makan malam selesai. Meskipun aku enggan berada di sini. Semoga saja mereka semua tak macam-macam denganku selama acara ini berlangsung.
"Jadi ini siapa?" Tanya papa.
"Mantan pacarnya Eresha pa!" Jawab Renata dengan antusias.
"Iya om, ini namanya Arka. Mantan pacarnya Eresha." Timpal Stefani.
Aku membulatkan mataku lebar-lebar ke arah mereka berdua, dengan tatapan yang berapi-api. Bagaimana bisa dua orang yang menyebalakan itu mendahuluiku. Ini adalah pertanda jika mereka mulai cari gara-gara denganku. Lihat saja nanti malam, kalian akan tidur di luar lagi sama seperti beberapa hari yang lalu.
"Oh iya?" Ucap mama dan papa secara bersamaan.
"Nama kamu siapa?" Tanya mama.
"Arka tante." Jawabnya singkat.
"Iya, tante juga tahu kalau nama kamu Arka. Kan dari tadi mereka semua manggil kamu begitu." Jelas mama.
"Nama lengkap kamu siapa?" Lanjutnya.
"Arka Ray Lionando tante..." Jawab pria itu dengan begitu canggung.
Aku tahu jika ia tak begitu nyaman dengan situasi seperti ini. Sama seperti yang ku alami sekarang. Rasanya memang agak berbeda jika mama dan papa berada di sini. Baginya, kedua orang tuaku adalah orang baru yang tiba-tiba muncul begitu saja. Karena selama ini mereka memang tak pernah ada di tempat ini. Arka juga terbilang cukup dekat dengan semua penghuni rumah ini termasuk bibi dan Stefani.
__ADS_1
"Kalian kenapa kok bisa sampai putus?"
Kini giliran papa yang buka suara.
Satu detik, dua detik, tiga detik berlalu. Tapi tak kunjung ada seorangpun dari kami yang berani menjawab pertanyaan tersebut. Aku sendiri bahkan menyembunyikan wajahku di balik poni, sambil terus melanjutkan kegiatanku.
"Hey, kok enggak di jawab?" Tanya papa sekali lagi.
"Kita mau fokus ujian dulu om." Jawab Arka dengan perasaan gugup.
"Haha.... Itu alasan klasik yang selalu di gunakan semua orang dari dulu. Om juga pernah muda loh." Balas papa sambil tertawa kecil.
"Udahlah jangan bahas itu lagi! Mau makan atau malah buka forum sih?" Sambung ku yang sudah tak sabar.
"Iya-iya deh, papa enggak akan ungkit soal itu lagi. Papa enggak akan maksa kalau kalian belum mau cerita." Jelas papa.
Akhirnya setelah itu, aku bisa bernafas lega karena papa memang menepati janjinya. Meskipun pada awalnya aku merasa tidak begitu yakin dengan perkataannya. Semua orang kembali melanjutkan kegiatannya untuk menyantap makan malam milik mereka masing-masing. Terkadang juga diselingi beberapa obrolan ringan dan candaan yang mengundang gelak tawa. Suasana ini yang ku inginkan, kehangatan bersama keluarga yang semoga bisa terus ku rasakan.
***
"Anterin gih Arkanya ke depan." Ujar mama.
Aku lantas langsung mengangguk cepat kemudian membereskan piring dan alat makanku yang lainnya, sembari menunggu Arka hingga selesai berpamitan dengan keluarga bersarku. Setelah itu, aku mengantarnya hingga ke pintu gerbang. Sama seperti yang di perintahkan oleh mama tadi.
"Maaf ya, malah gini jadinya." Ujarku sambil memainkan jari tanganku.
"Gini gimana maksudnya?"
"Ya, yang kamu di tanya-tanyain tadi. Kan aku jadi nggak enak."
"Santai aja enggak apa-apa kok. Hitung-hitung buat latihan kalau ketemu calon mertua nanti."
Aku hanya tersenyum kecil ke arah pria itu. Tapi tiba-tiba, Arka turun dari sepeda motornya dan malah berbalik untuk menghampiriku lagi. Kini ia berdiri tepat di depanku, dengan sorot mata yang sulit ku tangkap apa maknanya.
"Kamu mau tahu siapa cewek yang bakalan aku temui orang tuanya di masa depan nanti?" Ujar Arka sambil menyondongkan tubuhnya ke arahku.
"Siapa?" Jawabku singkat.
"Kamu." Balasnya dengan jawaban yang tak kalah singkat juga.
"Udah sana pulang, keburu malam!" Ujarku sembari mendorong pelan tubuhnya agar menjauh dari hadapanku.
Tapi yang jelas dulunya ia adalah sosok yang kaku. Bahkan gengsi dengan perasannya sendiri saat itu. Jika saja Stefani tak memojokkan situasi Arka saat itu, mungkin ia tak akan pernah mengakui perasaannya sendiri.
"Dah!!!" Ucap Arka sembari meninggalkan tempat ini.
Aku membalasnya dengan melambaikan tanganku. Menatap lekat sosoknya yang berjalan keluar gerbang kompleks. Hingga akhirnya pria itu menghilang dari hadapanku. Aku kembali masuk ke dalam, kemudian segera menuju kamar untuk mandi. Sejak tadi pagi hingga sekarang, aku tak pernah mencopot seragam putih abu-abu ini. Aku yakin aromanya sudah tak sesegar itu.
"Lo udah balikan sama Arka?" Tanya Stefani.
Aku langsung disambut oleh pertanyaan yang bahkan tak ingin ku jawab sedikitpun itu, saat barusaja sampai di kamar.
"Heh! Jawab dong!" Lanjutnya.
"Apa sih?!" Tanyaku balik dengan nada bicara yang tak kalah kuat.
"Lo udah balikan sama Arka?" Tanyanya lagi untuk yang kesekian kalinya.
Aku menghela nafas dengan berat, sembari meletakkan tasku di atas meja belajar milikku.
"Emang siapa yang bilang kalau kita balikan?"
"Ya enggak ada sih, gue cuma nebak aja. Makanya gue nanya langsung sama lo buat mastiin semua itu."
"Enggak kita enggak balikan! Udah jelaskan?"
"Tapi akhir-akhir ini gue liat, kalian tuh sering banget keluar bareng."
"Terus?"
"Tadi lagi, lo abis jalan sama Arka. Habis pacaran kan? Hayoo ngaku..."
"Bodo ah!"
Aku lantas memilih untuk tak memperpanjang soal hal itu. Sesuatu yang jika dibandingkan dengan masa depanku sambil sekali tak penting.
__ADS_1
"Lalu bagaimanakah jika pria itu malah seseorang yang menantiku di masa depan nanti?" Batinku dalam hati.
Kini aku mulai terpengaruh oleh asumsi ku sendiri. Aku segera mengambil handuk kemudian masuk ke ruangan lembab itu. Membanting pintunya dengan sangat keras, sehingga benda-benda di sekitarnya ikut bergetar pelan.
Entah kenapa hari ini rasanya dunia seolah sedang memusuhiku. Semua orang yang kutemui hari ini bersikap begitu menjengkelkan, tak terkecuali Arka. Mungkin saja aku yang terlalu sensitif. Aku selalu mencoba untuk berpikir positif saat sedang dalam masalah seperti ini. Meskipun aku tahu dengan jelas jika hal itu tak akan menyelesaikan masalahku.
***
Setelah selesai dengan urusanku di kamar mandi, aku mengecek tiga sekolah yang akan di kumpulkan besok. Beruntung aku selalu memanfaatkan jam kosong saat di sekolah, sehingga sekarang aku bisa bersantai. Bergaul dengan orang-orang di kelas itu, memang membawa banyak perubahan bagi hidupku.
Masih ada waktu setengah jam lagi sebelum jam tidurku yang memang telah dijadwalkan. Aku mengisi waktu luang ku untuk melanjutkan novel fiksi remaja yang belum selesai kubaca. Setidaknya malam ini aku bisa menyelesaikan enam hingga sepuluh halaman.
"Sha!" Sahut Stefani sambil mengguncang-guncang tubuhku.
"Apa?" Balasku singkat.
"Arka mau video call sama lo. Dia bilang handphone lo enggak aktif, makanya dia nelpon ke handphone gue." Jelasnya.
Mau tak mau, aku lantas membalikkan badanku ke arahnya. Dan yang benar saja, wajah pria itu telah terpampang jelas di layar ponsel Stefani. Ada perlu apa kira-kira pria itu, hingga membuatnya menghubungiku malam-malam seperti ini.
"Hai!" Sapa nya dari balik layar ponsel.
"Hai!" Sapa ku balik.
"Lagi apa?" Tanyanya padaku.
"Enggak ada, lagi me time aja." Jawabku.
Tak biasanya Arka basa-basi seperti ini. Ada yang aneh dengannya belakangan ini.
"Jadi gimana sama jawaban dari pertanyaan aku tadi?" Ujarnya.
Mataku langsung membulat sempurna sesaat setelah ia mengatakan kalimat itu. Habis aku! Bahkan aku tak mengingat yang satu itu jika ia tak mengingatkanku soal itu. Aku bahkan belum sempat memikirkannya sama sekali. Harus aku jawab apa pertanyaannya tadi malam, iya atau tidak. Akhhh! Kedua jawaban itu memiliki konsekuensinya masing-masing, dan aku tak bisa memilih salah satu dari mereka. Andai saja ia tak mengajukan pertanyaan itu kepadaku, mungkin sekarang aku tak perlu pusing-pusing memikirkan soal itu.
"Eresha...." Sahutnya dengan lembut.
"Iya?" Jawabku dengan cepat.
"Jadi gimana?" Tanyanya lagi.
"Sekarang banget nih?" Tanyaku balik.
"Dua tahun lagi juga boleh kok sha." Balasnya dengan begitu sabar.
"Ntar ya, aku mikir dulu. Ini enggak mudah ka." Jelasku.
"Oke." Balasnya dengan singkat.
Bisa ku lihat dengan jelas raut wajahnya yang tak sabar menanti jawaban dariku di balik layar ponsel miliknya. Sesekali ia menggigit bibir bawahnya, untuk mengurangi rasa gugupnya. Aku tahu jika Arka mengerti ini bukan keputusan yang mudah. Tapi di sisi lain aku juga paham jika perasaan pria ini tak bisa dibiarkan begitu saja terlalu lama. Ia juga berhak untuk bahagia, semua manusia berhak atas itu tanpa terkecuali seorangpun.
"I...iya aku mau." Ucapku dengan hati-hati.
"Serius?" Ucapnya setengah tak percaya.
Untuk beberapa detik, kami saling diam. Arka masih sibuk tercengang tak percaya dengan apa yang barusaja ia dengar. Sementara aku tak tahu harus berbuat apa sekarang.
"Jadi kita resmi balikan nih?" Tanya Arka sekali lagi.
Aku mengangguk mengiyakan perkataannya.
"Apa?! Balikan? Kalian balikan lagi? Seriusan?" Celetuk Stefani yang tiba-tiba nimbrung.
Aku yakin jika mulutnya sudah gatal untuk berbicara sedari tadi. Mengingat jika anak ini tak pernah diam sedikitpun, ia terlalu hiperaktif, mungkin begitu lebih tepatnya. Tapi untuk beberapa menit yang ia luangkan tadi, aku akan sangat berterimakasih padanya karena telah sudi untuk menahan hasratnya yang menggebu-gebu. Meski pada akhirnya tetap saja gadis ini ikut buka suara juga.
"Eh, kalian serius nih balikan?" Tanyanya sekali lagi.
Aku tak tahu harus menjawab apa. Bahkan Arka sepertinya juga sama, lebih tepatnya ia sedang tak ingin menggubris pertanyaan gadis yang selalu bersikap menyebalkan baginya ini.
"Jawab dong!" Ucap Stefani yang mulai habis kesabarannya.
"Iya!" Balasku dan Arka secara bersamaan.
Bahkan kami tak tahu kenapa hal itu bisa terjadi. Mungkin hanya kebetulan saja. Stefani memang tak akan tinggal diam begitu saja jika sudah penasaran dengan satu hal. Ia akan terus berusaha untuk mencari sesuatu yang dapat memuaskan rasa keingintahuannya.
"Serius?" Tanya gadis itu untuk yang kesekian kalinya.
__ADS_1
"Bodo ah!" Balasku kesal.
"Gue harus dapet PJ ya, enggak mau tau. Pokonya gue harus dapet paling banyak. Kalau tanpa bantuan dari handphone gue, kalian enggak bakalan bisa balikan." Jelasnya panjang lebar setelah memutuskan untuk inframe.