
Sejak hari itu, hubungan kami mulai merenggang. Kami mulai mencoba saling menjauh, atau mungkin hanya aku yang mencoba menjauh darinya. Perbuatan Arka untuk menghindari ku tak pernah selaras dengan hatinya. Sorot matanya tak bisa berbohong.
Hari demi hari telah berlalu seiring waktu yang tak pernah kusadari perubahannya begitu cepat. Semuanya terus berganti, berubah, berkembang, hingga tiba waktunya nanti ketika semua perubahan itu harus terhenti.
Hari ini pengumuman pembagian ulang setiap kelas. Disekolah ini setiap kenaikan kelas, akan terus terjadi perubahan. Penghuninya tak pernah menetap dikelas tersebut selama tiga tahun penuh berturut-turut. Namun lain hal nya jika ia bisa mempertahankan nilai semester yang menjadi tolak ukur bagi sekolah ini untuk menentukan seberapa pantas muridnya berada di kelas tersebut.
Satu hal yang tidak bisa ku cerna dengan baik kali ini adalah, kenapa di tahun terakhir ku harus berada di kelas unggulan. Bukan hanya itu, kelas unggulan artinya persaingan disana super ketat. Jujur aku agak pesimis soal itu, aku juga bukan tipikal orang yang kompetitif. Beruntung Stefani dan Clara juga berada di kelas yang sama denganku. Kalau Clara jangan tanya lagi kenapa bisa menjadi salah satu siswa di kelas unggulan. Kemampuannya memang sudah tidak diragukan lagi. Sementara aku dan Stefani, apa yang mereka lihat. Dilihat dari sisi manapun kami tetaplah orang yang sama, biasa-biasa saja. Tidak terlalu pintar juga tidak terlalu bodoh.
Ada sekitar lima belas orang murid yang berhasil masuk ke kelas unggulan, termasuk denganku. Aku tak tahu harus bereaksi bagaimana. Sementara murid yang tersisih dari kelas tersebut harus rela digantikan posisinya oleh orang lain.
Dan itu artinya aku akan sekelas bersama Arka, namanya sudah disebutkan lebih dulu di awal sebelum namaku.
"Gue duduk sama Clara ya." Ujar Stefani.
Kami menghampiri dua bangku dari barisan paling belakang.
"Yah! Terus aku sama siapa?" Keluhku.
Untuk saat ini hanya mereka berdua yang ku kenal. Aku melihat sekelilingku, setiap meja memang hanya mampu menampung dua orang. Akhirnya aku mengambil posisi tepat didepan mereka, sambil menunggu siapa yang akan mengisi tempat duduk di sebelahku.
Ruangan ini hampir penuh, tapi tak ada seorangpun yang menghampiri ku. Seharusnya semua orang disini duduk dengan berpasangan, karena jumlah kami genap empat puluh orang.
"Citttt!"
Tiba-tiba aku mendengar seperti suara orang yang sedang menggeser kursi disebelahku. Kemungkinan sebentar lagi aku tak akan sendirian lagi.
"Akhirnya!" Batinku dengan lega.
Aku sontak mendongakkan kepalaku yang tadinya sedikit tertunduk karena hampir putus asa.
Sial! Kenapa orang itu harus Arka. Semangatku tiba-tiba hilang, kepalaku kembali tertunduk lemas.
Lagipula aku tak bisa menyuruhnya untuk pindah atau sebaliknya. Semua meja telah terisi penuh. Kenapa kejadiannya harus sama persis dengan di kantin waktu itu.
"Selamat datang di kelas unggulan." Ujar Arka dengan nada datar.
Aku tak tahu persis kepada siapa kalimat itu di tujukan.
"Jangan tunduk terus peri, nanti mahkota mu jatuh." Ujar Arka.
Kemudian salah satu tangannya menggapai daguku, membuatku menatap lurus kedepan.
Sontak aku terkejut dengan perlakuan Arka.
"Sejak kapan peri punya mahkota?" Tanyaku dengan polos.
"Sekarang peri itu telah menjelma menjadi seorang ratu. Dia meninggalkan kurcaci sendirian, dan kembali bersama sang raja ke istana. Tapi kurcaci tak akan pernah membenci peri. Peri itu akan terus hidup dan abadi di dalam hatinya." Jelas Arka.
Sarapan apa pria ini barusan, hingga ia mendadak se-bucin ini. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan Arka.
"Eh, bukan menjelma sih lebih tepatnya." Ujar Arka sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Terus?"
"Sebenarnya dia memang pada dasarnya adalah seorang ratu. Ratu yang menghilang dari kerajaan nya sendiri."
Aku mengiyakan perkataannya.
Selang beberapa menit kemudian, guru wali kelas kami yang baru telah sampai di ruang kelas.
"Selamat pagi anak-anak!"
"Pagi Bu!"
Aku tak tahu persis siapa namanya. Aku memang sering melihatnya wara-wiri di lingkungan ini, tapi sepertinya dia memang seorang guru yang ditunjuk secara khusus untuk mengajar murid kelas tiga saja.
__ADS_1
"Perkenalkan nama saya adalah ibu Nur." Ujar wanita separuh baya itu.
Jadi namanya adalah Nur. Semua murid fokus hanya pada wanita itu, termasuk aku.
"Ibu akan menjadi wali kelas kalian mulai sekarang." Tegasnya.
"Dan ibu mengajar bidang studi Kimia untuk seluruh kelas dua belas."
Aku mengangguk mengerti. Sepertinya dia bukanlah tipikal guru killer pada umumnya jika dilihat dari penampilannya. Tapi hal itu tak cukup untuk menjadi tolak ukur bagiku. Kita tidak bisa menilai orang hanya dari penampilannya saja.
"Baiklah untuk hari ini kita akan langsung memulai kegiatan belajar mengajar intensif seperti biasanya." Jelas Bu Nur.
Kepalaku langsung pusing seketika, otakku rasanya sudah sangat kusut. Kimia bukan bidang ku, lebih tepatnya hampir semua mata pelajaran kejurusan. Seharusnya hasil tes IQ pada saat proses pemilihan kejurusan tak menuntunku ke IPA. Bisa dibilang nilai untuk mata pelajaran kejurusan tidak terlalu bagus, seperti fisika, kimia, biologi, matematika wajib dan matematika peminatan. Nilainya selalu berada di ambang aman meski tak bisa melambung jauh seperti ekspektasiku, namun tidak begitu mengecewakan juga. Cukup lah untuk tetap berada di peringkat kelima teratas di kelas. Namun di kelas ini aku tak yakin bisa mempertahankan posisi itu.
Mungkin seharusnya aku masuk SMK saja, lalu mengambil jurusan bahasa. Nilai raporku cukup baik di bidang bahasa. Seperti bahasa Inggris dan bahasa Jerman misalnya. Terakhir kali, di semester lalu aku mendapatkan nilai sembilan puluh empat untuk pelajaran Bahasa Jerman dan delapan puluh enam untuk bahasa Inggris. Skor bahasa ku tak pernah dibawah angka delapan puluh kecuali bahasa Indonesia.
"Silahkan buat kelompok belajar kalian masing-masing yang beranggotakan lima orang. Dimulai dari sekarang, silahkan." Jelas Bu Nur.
Aku langsung sibuk, berharap Clara mau satu kelompok denganku. Hanya dia yang bisa ku harapkan untuk saat ini, satu kelompok dengan anak olimpiade kimia akan membuatku aman selama kelas berlangsung.
"Kita sekelompok ya... Please..." Ujarku dengan sedikit memelas.
"Udah-udah gini aja, kita semua sekelompok oke?" Timpal Arka.
Kami bertiga hanya diam tak berkutik.
"Tapi baru empat orang. Masih kurang satu lah." Tungkas Stefani.
"Woy! Adit! Sini lo." Sahut Arka dari seberang sambil melambaikan tangannya.
Objek yang dimaksud tampak telah menerima informasi dari kejadian barusan lalu meresponnya seketika.
"Apaan?" Tanya Adit.
"Lo sekelompok sama kita berempat." Ujar Arka to the point.
"Ha?! Terus si Titan gimana, masa gue tinggalin dia sendirian." Protes Adit yang tidak sependapat dengan pria ini.
"Udahlah, lagian dia kan udah sekelompok bareng Bianca. Nilai dia pasti aman kok, percaya deh." Jelas Arka.
Adit menoleh sejenak kearah kerumunan orang disebelahnya. Ia mendengus sebal, merutuki sahabatnya sendiri.
"Gini deh, sekarang posisi lo yang enggak jelas. Kalau lo gabung sama kita, gue jamin nilai kimia lo buat kerja kelompok kali ini enggak bakal mengecewakan. Lo liat kan disini anak olimpiade semua." Jelas Arka sekali lagi, mencoba untuk meyakinkan Adit.
"Hh! Negosiasi macam apa ini." Batinku dalam hati.
"Kecuali Stefani sih." Sindir Arka halus kepada gadis yang satu itu.
"Enak aja! Gini-gini gue juga jago soal itung-itungan. Kan gue kerja jadi kasih sekarang." Tegas Stefani mencoba mempertahankan posisinya.
"Kita liat aja nanti." Balas Arka seraya tersenyum licik.
***
Sekarang kami semua telah berada di laboratorium kimia. Tempat yang paling ku benci selain rumah sakit. Rasanya aku sudah ingin menyerah saja ketika melihat jejeran tabung reaksi, gelas elemenyer, dan pemanas spritus di depanku.
Aku menghela nafas panjang. Ayolah! Ini baru hari pertama di semester ini. Apa kalian serius ingin langsung praktikum, bahkan tanpa penyampaian materi dulu sebelumnya. Dasar kelas unggulan, pantas saja mereka selalu disanjung.
Aku memakai jas praktikum dan masker tanpa semangat sedikitpun. Pagi ini semuanya buyar begitu saja.
"Baiklah kali ini kita akan melakukan pengujian larutan asam dan basa. Ibu sudah sediakan beberapa larutan di meja kelompok masing-masing. Nanti larutan itu kalian berikan larutan indikator yang ada di botol dengan menggunakan pipet tetes. Kemudian amati perubahan warnanya, hitung konsentrasi larutannya dan laporan hasil kerja kalian diserahkan kepada ibu setelah jam pelajaran berakhir." Jelas Bu Nur tanpa melewatkan sesuatu sedikitpun.
"Baik bu!" Balas kami secara bersamaan.
Itu artinya praktikum telah dimulai, semua orang langsung berubah sibuk seketika. Waktu praktikum hanya 3x45 menit. Aku sendiri bahkan tak yakin bisa mengerjakan semuanya tepat waktu.
__ADS_1
"Ada berapa larutan yang harus di uji?" Batinku dalam hati sambil menghitung botol-botol berwarna gelap di depanku.
"Oke, kita bagi tugas ya." Ujar Arka.
Untuk kali ini selain ia tetap menduduki jabatan lamanya sebagai ketua kelas, Arka juga baru saja diangkat sebagai ketua di kelompok kami.
Semua mata langsung tertuju padanya, menatap pria yang satu itu dengan ekspresi sangat serius. Bahkan Stefani sekalipun tunduk dibawah perintah Arka. Jiwa kepemimpinannya terlihat jelas, sudah tak diragukan lagi.
"Clara sama Adit campurin larutannya, gue sama Stefani yang ngitung konsentrasinya, Eresha yang ngamatin perubahan warnanya sama buat laporannya." Instruksi Arka.
Mataku langsung membulat sempurna setelah mengetahui tugasku yang baru saja dibagikan. Ini tidak adil! Jelas tidak adil. Yang lainnya hanya mendapatkan satu tugas dan dikerjakan secara bersamaan. Sedangkan aku mendapatkan dua tugas yang dikerjakan sekaligus. Apa tadi ia benar-benar waras saat berbicara seperti itu.
"Kok gitu!"
Aku langsung membuka suara memprotes ketidakadilan ini.
"Ya mau gimana lagi, laporan memang harus dibuat sama satu orang doang kan? Lagian kalau buat laporan bareng-bareng jadinya bakalan ngawur." Jawab Arka dengan santai.
"Apa ia tak merasa bersalah sedikitpun?" Batinku dalam hati.
Anggota kelompok yang lainnya tak bisa berbuat apa-apa untuk membantuku. Walau aku tahu mereka sangat ingin memberikanku sedikit pembelaan. Tapi untuk kali ini mereka pasrah begitu saja, termasuk aku.
Dasar pemimpin yang licik! Apa seperti ini yang dinamakan sebagai pemimpin. Arka berubah, tak seperti yang ku kenali dulu. Hh, mungkin dia hanya ingin balas dendam denganku.
Mau tidak mau, dengan berat hati aku terpaksa melakukan semua itu sendirian. Lagipula ini demi nilai pertamaku, harus ada sedikit pengorbanan.
Suasana laboratorium yang tadinya begitu sunyi dan senyap kini mendadak riuh dan ramai. Semua orang panik, termasuk aku. Waktu yang tersisa tinggal lima menit lagi, sementara laporan kami..... Aku bahkan belum memindahkan data hasil ujinya ke atas kertas ini. Oh Tuhan..... Argghh! Aku harus bagaimana.
"Cepetan dong!"
Arka menyuruhku untuk sedikit lebih cepat. Tapi nyatanya ia sendiri tak membantuku sedikitpun. Aku memilih untuk tak menggubris perkataannya barusan. Itu hanya akan membuang-buang waktu ku, percuma saja. Bagaimana laporan jauh lebih penting daripada ucapannya.
"Udah sini!"
Arka tiba-tiba merampas ballpoint dari tanganku. Ia juga mengambil alih kertas laporan milikku.
"Tes!"
Saat itu juga kejadian yang membuat kami semua terkejut bukan main terjadi. Cairan berwarna merah kental yang keluar dari tanganku menetes di atas objek berwarna putih tersebut, meninggalkan sedikit noda disana.
Arka yang tadinya ingin menuliskan sisanya langsung tercengang, terpaku ditempatnya sekarang. Ia lantas menyuruh Adit untuk melanjutkan pekerjaanku, dengan seenak jidatnya. Coba saja ia tak melakukan hal ini dengan tiba-tiba dan membiarkan aku menyelesaikannya sendiri. Pasti semua ini tak akan terjadi.
Aku memegangi luka tersebut sambil meringis kesakitan. Lukanya tak terlalu lebar, namun darahnya tak kunjung berhenti mengalir. Aku tak menyangka jika terkena goresan ujung ballpoint berukuran 0,5mm saja bisa begitu menyakitkan.
"Enggak apa-apa kan? Duh... Maaf banget. Aku enggak tahu kalau bakalan kayak gini kejadiannya." Ujar Arka meminta maaf.
Dari ekspresinya terlihat jelas jika kali ini ia benar-benar merasa bersalah. Kecemasannya tak bisa dipungukiri.
"Kejadian di masa depan selalu tak mampu untuk di terka. Ada sejuta misteri disana. Mungkin jika manusia tahu akan semua hal buruk di masa depannya, ia pasti akan menghindar sebisa mungkin. Manusia bisa saja menjadi begitu sempurna jika ia benar-benar tahu hal itu." Batinku dalam hati.
Ia meraih tanganku, mencoba menghentikan darahnya. Tapi tetap saja tak ada perubahan. Satu-satunya pilihan yang terbaik memang harus segera dibawa ke UKS. Aku harus bertahan, hanya beberapa menit lagi.
Setelah kelas dibubarkan, Arka menarik ku menuju UKS untuk mendapatkan penanganan.
***
Syukurlah, akhirnya darahnya telah berhenti. Rasa perihnya juga telah jauh berkurang dari yang sebelumnya.
Arka duduk di kursi panjang dekat pintu UKS. Wajahnya sedikit tertunduk, poninya hampir menutupi paras tampannya tersebut. Raut wajahnya berubah sedih, sungguh perubahan emosi yang begitu menakjubkan. Tatapan matanya kosong menyorot ke arah ubin-ubin keramik dibawah sana.
"Sudah selesai." Ucap ibu penjaga UKS.
"Terimakasih bu." Balasku sambil meninggalkan tempat tersebut.
Tanpa berkata sedikitpun, aku menarik tangan Arka yang sedang termenung itu. Aku membawanya keluar dari ruangan tersebut. Sekarang gantian aku yang akan menyeret pria yang menyebalkan ini untuk masuk ke dalam kelas.
__ADS_1