Pengagum Lara

Pengagum Lara
Episode 17


__ADS_3

  Seperti biasanya, hanya ada aku dan Zahra di kelas. Sepagi ini memang baru kami berdua saja yang datang. Aku masih memikirkan kejadian kemarin. Aku takut jika itu akan menjadi sebuah masalah baru baginya. Aku juga mencemaskan pria itu seperti biasanya, saat ia tak datang tepat waktu. Biasanya jam segini Kak Sendy sudah datang, apa ia masih membeli sarapan. Aku terus saja mengkhawatirkan pria itu.


 


 


   Bahkan hingga jam sekolah telah usai, aku tak melihatnya sama sekali hari ini. Apa ia tak masuk sekolah. Mungkin ia sakit, atau ada sesuatu yang terjadi pada dirinya. Sampai sekarang aku belum menerima kabar darinya. Mungkin ia memang sengaja ingin menjauh dariku. Tapi kenapa semalam ia tidak memutuskan hubungan ini saja jika ia ingin menjauh dariku. Mengapa ia harus menjauh saat status kami sekarang masih pacaran. Tak seharusnya aku menyalahkan diri nya yang menjauh dariku. Ini semua salahku, aku salah. Tak seharusnya aku menulis novel itu.


 


 


  Hari ini hariku terlalu datar. Sangat monoton, begitu kelabu. Bagai awan mendung yang siap menurunkan hujannya. Dulu kita pernah sedekat nadi sebelum sejauh matahari. Pernah ada dialog diantara kita sampai akhirnya kini menjadi monolog. Benarkan yang pernah kukatakan dulu, bahwa manusia itu cepat berubah. Hari ini kamu segalanya, besok kamu siapa. Manusia tak pernah konsisten. Kadang manusia terlalu egois.


 


 


***


 


 


  Hari ini ada jadwal rapat seluruh anggota Marching band yang akan pergi ke kota Binjai esok lusa. Lebih tepatnya para anggota angkatan delapan dan sembilan saja yang rapat. Kami membahas beberapa hal. Termasuk perlengkapan, jadwal latihan dan lainnya. Setidaknya aku merasa lega begitu hadir di rapat ini. Kak Sendy berada disana. Jauh diujung sana. Ia berada di ruangan ini. Setidaknya itu telah mematahkan asumsi negatif ku tentangnya, jika ia tak masuk sekolah hari ini. Meski kelihatannya ia sama sekali tak berniat menyapaku atau hanya sekedar tersenyum. Padahal ia tahu aku ada persis di depannya.


 


 


"Jadi pekan olahraga antar pelajar esok lusa yang di adakan di kota Binjai, adalah penampilan terakhir seluruh angkatan delapan. Setelah itu, mereka tidak di wajibkan mengikuti latihan. Karena harus menyiapkan diri untuk menghadapi ujian nasional." Jelas Pak Chandra sebagai pelatih kami.


 


 


"Penampilan terakhir kita guys." Beberapa senior tampak sedih setelah mendengar perkataan Pak Chandra barusan.


 


 


"Jelas dong kita kan udah mau tamat." Cetus salah satu senior angkatan delapan.


 


 


"Yakin kalian bakal tamat?" Tanya Kak Sendy dengan suara lantangnya.


 


 


  Semua orang yang berada di ruangan ini seketika bungkam. Mereka mati kutu lebih tepatnya. Toh, benar juga perkataan Kak Sendy barusan. Apakah ada yang menjamin bahwa mereka akan lulus seratus persen?


 


 


"Sudah-sudah, kok malah berdebat. Baiklah rapat saya tutup. Silahkan kembali." Ucap Pak Chandra mengakhiri rapat.


 


 


  Tak ingin berdesakan di pintu keluar, aku menunggu hingga ruangan sepi lalu keluar paling akhir. Kukira semuanya sudah pulang, ternyata masih ada satu orang yang baru saja beranjak dari kursinya. Ia berjalan tepat di depanku.


 


 


"Kak Sendy!" Sahutku.


 


 


  Pria itu menghentikan langkahnya tanpa berbalik ke arahku. Kurasa ia sudah mengenali suaraku, sehingga ia tahu betul siapa yang sedang mengajaknya bicara barusan.


 


 


"Kita putus." Ucapku.


 


 


  Meski sebenarnya aku tak ingin kata-kata ini keluar dari mulutku. Pria itu berbalik ke arahku. Wajahnya datar, tanpa ekspresi sama sekali.


 


 


"Enggak, gua enggak mau ngingkarin janji gua." Ujarnya dengan nada bicara ketus.


 


 


"Tapi cinta kita ini cuma cinta monyet."


 


 


"Kalau cinta kita cinta monyet, lo gak mungkin mau nunggu gua selama bertahun-tahun." Ujarnya kemudian pergi.


 


 


  Bahkan aku sendiri tak tahu untuk apa aku menunggunya. Mungkin aku yang terlalu memaksa pada keadaan. Aku terlalu egois pada diriku sendiri.


 


 


***


 


 

__ADS_1


  "Eresha!" Sahut seseorang dari belakang.


 


 


  Aku menghentikan langkahku menuju kamar, lalu berbalik tanpa berniat meladeni sahutannya barusan.


 


 


"Gua mau bicara sama lo." Ucap Renata.


 


 


  Sebenarnya aku tak mau meladeni wanita yang satu ini. Ia hanya membuang-buang waktu ku saja.


 


 


"Mau ngomong apaan lagi sih? Lo mau pamer iya?" Balasku.


 


 


"Pamer apa sih maksud lo?"


 


 


"Apa lo kurang puas udah ngerebut semua kebahagiaan gua? Udahlah gua capek ngeladeni lo." Jelasku kemudian berniat kembali ke kamar.


 


 


  Tiba-tiba gadis itu menarik tanganku. Ia tampak meringis kesakitan. Entah apa yang terjadi padanya. Mungkin sedang berpura-pura saja agar aku mau mendengarkan ceritanya. Tapi, tampaknya ini serius.


 


 


"Mama! Papa!" Teriakku.


 


 


  Tak lama mereka berdua datang dengan kebingungan. Sementara Renata yang sudah tak sanggup berdiri lagi tengah terbaring di pangkuanku.


 


 


"Renata kenapa Eresha?" Tanya Mama.


 


 


 


 


"Apa yang sudah kamu lakukan pada Renata?" Sambung Papa.


 


 


"Ngelakuin apa sih pa?" Balasku mencoba membela diriku, karena aku memang tidak bersalah.


 


 


"Pasti kamu yang buat Renata sampai seperti ini kan? Kalian itu selalu saja bertengkar. Sudah-sudah, ayo bawa Renata ke mobil." Jelas Papa.


 


 


"Kami emang sering berantem dan enggak pernah akur pa! Tapi aku enggak segila itu sampai harus ngelukain Renata! Bagaimanapun dia itu kakak kandung aku!" Balasku yang mulai tersulut emosi.


 


 


"Pokoknya kalau sampai Renata kenapa-kenapa, kamu enggak akan papa maafkan." Ancam papa.


 


 


"Aku enggak salah pa!" Tegas ku kembali.


 


 


"Sudahlah, kenapa malah berantem. Sebaiknya kita bawa Renata ke rumah sakit." Ucap Mama mencoba melerai kami.


 


 


"Ayo Eresha." Sambung Mama.


 


 


"Iya nanti aku nyusulin." Balasku singkat.


 


 


   Aku membanting keras pintu kamarku. Kemudian menenggelamkan wajahku diantara bantal-bantal. Aku tak menyangka jika keluarga ku akan sekacau ini. Bahkan papa bisa-bisanya menuduhku yang tidak-tidak. Duniaku benar-benar berubah. Semuanya berubah tak seperti yang ku inginkan. Harusnya gadis itu tak hadir di hidupku. Kenapa ia selalu merebut semua kebahagiaanku. Ia merusak duniaku. Hingga aku merasa tak ada seorangpun yang menganggap ku ada. Mereka berubah, ceriaku yang dulu sirna. Semangat ku yang pernah ada, musnah. Semuanya hilang, lenyap tak bersisa.

__ADS_1


 


 


"Tok... Tok... Tok..."


 


 


  Ada seseorang yang mengetuk pintu kamarku. Siapa kira-kira, semua orang sudah pergi ke rumah sakit. Apa itu si mbok? Aku segera menghapus jejak air mataku. Kemudian beranjak dari tempat tidur untuk membukakan pintu.


 


 


"Iya sebentar." Teriakku dari dalam.


 


 


"Kak Sendy?"


 


 


Aku terkejut melihat pria itu berada di depan pintu kamarku. Apa yang ia lakukan disini.


 


 


"Ayo ikut gua sekarang." Ucapnya sambil menarik paksa tanganku.


 


 


"Pelan-pelan kak." Ucapku.


 


 


  Tapi sepertinya ia tak menghiraukan ucapanku sama sekali. Ia menuntunku keluar ke arah sepeda motornya.


 


 


"Nih pakek." Ia menyodorkan helm dan sebuah hoodie padaku.


 


 


"Mau kemana?"


 


 


"Lo tau gak Renata di rawat di rumah sakit gara-gara lo. Asam lambungnya kambuh gara-gara lo. Gua liat tadi dia ada di rumah sakit pas gua nganterin mama gua checkup. Dan papa lo udah jelasin semuanya." Jelasnya secara membabi-buta.


 


 


"Itu bukan salah aku kak."


 


 


"Pengecut banget sih lo enggak mau ngakuin kesalahan lo sendiri. Tega banget lo nyelakain kakak lo sendiri. Terlebih itu kakak kandung lo."


 


 


"Aku enggak salah kak. Dia tiba-tiba megang tangan aku udah lemas."


 


 


"Udah ayo ikut gua."


 


 


"Enggak mau!"


 


 


"Kenapa sih lo enggak mau ngaku aja."


 


 


"Kalau aku salah pasti bakal aku akuin. Tapi kali ini bukan aku yang salah. Kenapa sih enggak ada seorangpun yang percaya sama aku."


 


 


"Karena lo itu pembohong."


 


 


  Kata-kata itu begitu menusuk hatiku. Bahkan orang yang selama ini ku jaga perasaannya, dengan mudahnya melukai perasaan ku. Dengan terpaksa aku harus ikut bersama pria ini. Entah kemana ia akan membawaku.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2