Pengagum Lara

Pengagum Lara
Episode 26


__ADS_3

Arka dan Kak Sendy sontak panik tak karuan. Mereka segera turun ke bawah, menghampiri tubuh Eresha yang terbaring lemas di atas tanah.


Arka beberapa kali mencoba membangunkannya dengan cara menepuk-nepuk pipinya. Tapi hasilnya nihil. Ia jatuh dari ketinggian kurang lebih tiga meter. Mereka sendiri tak tahu bagaimana tiba-tiba tubuh gadis ini bisa terjatuh begitu saja, karena tadi Arka dan Kak Sendy berada di dalam rumah pohon sedangkan Eresha di balkonnya. Saat sedang sibuk berbincang-bincang, tiba-tiba muncul suara debaman keras seolah ada sesuatu yang jatuh dari atas pohon. Saat mereka keluar dan mengecek ke bawah, mereka terkejut bukan main ketika mengetahui jika Eresha baru saja terjatuh.


Melihat kondisinya yang tak kunjung sadar, tanpa pikir panjang Arka langsung menggendong Eresha dan membawanya ke sofa di ruang tamu.


Tangannya terluka, tak parah memang hanya luka lecet. Wajahnya kotor karena terkena tanah, begitu pula dengan kakinya. Arka pergi ke belakangnya sebentar untuk mengambil sesuatu. Sementara Kak Sendy masih tak percaya dengan kejadian barusan. Ia membukakan sepatu Eresha, lalu mengganjal kepalanya dengan bantal sofa.


Arka kembali dengan baskom berisi air dan sebuah handuk kecil. Ia membasahi handuk itu dengan air kemudian membersihkan wajah serta kaki gadis itu.


Kini giliran arka yang merasa begitu bersalah. Harusnya ia tak memaksa Eresha untuk naik ke atas rumah pohon jika ia tahu akhirnya akan seperti ini. Tapi, penyesalan selalu datang terakhir. Ia menatap nanar gadis di depannya. Matanya berkaca-kaca, ia tak tega melihat wanita yang ia cintai harus celaka karenanya. Ia berharap agar Eresha segera sadar. Arka tak mungkin bisa memaafkan dirinya sendiri jika sampai terjadi suatu hal yang buruk kepada Eresha karena kecerobohannya. Ia pasti akan merasa bersalah seumur hidupnya.


Sementara Kak Sendy masih berdiri mematung. Ia berharap jika kejadian barusan adalah mimpi buruknya. Entah kenapa hatinya begitu sedih saat ini. Ia merasa jika Eresha seperti seseorang yang sangat ia cintai selama ini. Seperti orang yang ada di ingatannya yang hilang. Orang yang pernah duduk bersamanya sebelum kecelakaan itu terjadi. Melihat Arka yang tampak begitu cemas dengan Eresha, tak banyak yang bisa ia perbuat. Sebenarnya di dalam lubuk hatinya terselip sebuah rasa cemburu. Entah mengapa, ia tak tahu pasti atas dasar apa rasa itu muncul.


Saat ini kedua pria itu tak banyak membuka suara. Mereka masih syok berat dengan kejadian barusan.


***


Aku terbangun dari mimpi gelap ku. Tubuhku rasanya linu semua, kepalaku pusing. Aku berusia mengumpulkan kesadaran ku seutuhnya.


Aku memutar bola mataku dan mendapati Arka dengan wajah cemasnya di sebelahku dan Kak Sendy berdiri dengan tatapan yang sama dibelakangnya. Aku tak bisa mengingat apapun yang terjadi barusan.


"Aku kenapa?" Tanyaku pada mereka.


"Maafin aku sha." Ucap Arka dengan nada sedih kemudian menenggelamkan wajahnya di antara kedua tangannya.


"Maafin aku, seharusnya tadi aku enggak maksa kamu buat naik ke atas rumah pohon. Karena aku kamu jadi kayak begini." Jelasnya.


"Lho? Emang aku kenapa?" Tanyaku yang dibuat semakin kebingungan oleh semua penjelasan Arka.


Seingatku, aku memang sempat naik ke atas rumah pohon. Setelah itu aku tak mengingat apapun. Bagaimana bisa aku lupa dengan kejadian barusan. Dasar payah!


"Kamu enggak ingat apapun soal kejadian tadi?" Tanya Kak Sendy.


"Seingatku aku memang naik ke atas rumah pohon. Setelah itu


.... Aku enggak ingat apa-apa. Emangnya kenapa sih?"


"Kamu jatuh dari atas rumah pohon." Akhirnya Arka mengatakan yang sebenarnya terjadi.


"Jatuh?" Tanyaku tak begitu yakin.


Bagaimana bisa aku jatuh dari tempat itu. Jika dipikir-pikir, terakhir kali aku masih berpegangan erat pada kayu pembatas balkon. Tapi jika benar aku terjatuh, itu sangat tinggi. Jaraknya sekitar tiga meteran dan jika aku terjatuh saat itu, pasti tubuhku menghantam tanah dengan sangat kuat. Pantas saja tubuhku rasanya sakit semua.


"Aku beneran enggak ingat apa-apa. Aneh..." Batinku.


"Maaf ya, karena nemenin aku buat tugas kamu jadi celaka kayak gini." Ujar Kak Sendy dengan wajah tertunduk.


"Enggak apa-apa kok. Kejadian ini bukan salah kalian. Namanya juga kecelakaan, kan enggak ada yang tahu kalau ini bakal terjadi." Ujarku.


Aku berusaha bangkit dan bersandar pada salah satu bagian sofa ini. Arka membantuku untuk duduk.


"Tangan kamu luka, aku obati dulu ya. Sebentar aku ambil peralatannya." Ucap Arka kemudian masuk ke salah satu ruangan si sebelah kanan.


"Ini minum dulu." Tawar Kak Sendy sambil menyodorkan sebotol air mineral.


Aku menerima tawarannya dengan senang hati. Kebetulan aku juga lapar. Ada yang aneh, tiba-tiba pikiranku kembali ke kejadian itu. Aku ingat disana sebelum kecelakaan itu terjadi, aku bersandar di badan bis. Ya benar, itu tidak salah lagi. Aku berusaha mengingat nya lebih jauh.


Aku dapat mengingat dengan persis kejadiannya, waktu itu ada seorang pria yang menghampiri ku. Kemudian ia memberikanku sebotol air mineral. Pria itu,....


Sial! Lagi-lagi aku tak bisa mengetahui siapa pria itu sebenarnya.


Tapi aku yakin itu adalah orang yang sama dengan pria yang duduk di sebelahku saat di bis. Lalu kami berbagi earphone untuk mendengarkan lagu itu, lagu yang kemarin ku dengar di cafe.


Perasaanku mengatakan jika aku pernah mencintai pria itu sebelumnya. Hatiku tak bisa dibohongi soal itu. Aku ingin tahu siapa sebenarnya dia dan dimana dia sekarang. Kenapa ia bisa menghilang begitu saja dari ingatanku.


"Sini tangannya aku liat dulu."


Suara Arka menyentak ku dari lamunan.


Arka membasahi secuil kapas itu dengan alkohol. Kemudian ia membersihkan lukaku. Sedikit perih memang, hanya saja aku tak ingin terlihat lemah di depan Arka. Ini tak sebanding dengan rasa sakitnya ketika aku terjatuh dari pohon, meski aku tak sadarkan diri tadi.


Arka membubuhkan obat merah di luka ku. Kali ini benar-benar perih, aku tak bisa berpura-pura lagi. Aku meringis kesakitan saat perihnya menusuk tajam ke kulitku.


"Sakit?" Tanya Arka.


Aku hanya bisa mengangguk lemah.


Kemudian Arka segera menutup lukaku dengan plester luka.


"Udah selesai kok. Cepat sembuh ya." Ucap Arka sambil mengacak-acak puncak kepalaku.


Untuk kesekian kalinya aku tersenyum tipis.


"Kakak masih mau ngambil foto lagi?" Tanya Arka.


"Oh, enggak kok ini aja udah cukup." Balas Kak Sendy.


"Kalau masih mau ngambil foto lagi juga enggak apa-apa kali kak. Biar aku bantuin." Tawar Arka.


"Enggak kok udah ini aja cukup. Ngerepotin kalian lagi tau. Gimana kalau kita pulang aja?"


Aku kembali mengangguk.


***


"Makasih banyak ya ka udah nganterin aku sampai rumah." Ucapku sembari mengembalikan helm Arka.


"Udah kewajiban aku kali." Balasnya.


"Eh, kewajiban segala kayak apa aja."


Arka meraih kedua tanganku. Wajahnya tampak serius kali ini.


"Sha."


"Iya?"

__ADS_1


"Aku benar-benar minta maaf soal kejadian tadi."


"Udahlah ka, enggak usah di bahas lagi. Lagian ini bukan salah kamu kok."


"Aku janji mulai sekarang aku bakal jagain kamu semampu aku. Dan kalau sampai terjadi apa-apa lagi sama kamu, aku enggak akan bisa maafin diri aku sendiri.". Jelasnya.


Sejak kapan pria ini mendadak menjadi romantis seperti ini.


"Udah sih, enggak usah bucin gini. Mending kamu fokus belajar. Kan olimpiade udah makin dekat. Ingat kan kamu pernah bilang waktu itu kalau kita enggak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang Tuhan titipkan sama kita."


"Sesekali enggak apa-apa dong kalau bucin. Kan namanya juga orang pacaran, hehe. Aku janji bakal ngasih yang terbaik pas olimpiade nanti."


"Semangat." Ucapku.


"Kamu juga semangat. Eh, aku pamit pulang dulu ya."


"Hati-hati."


Arka lantas menyalakan sepeda motornya.


"Aku pulang dulu ya." Pamitnya sekali lagi.


"Iya, hati-hati."


Perlahan punggung pria itu menghilang dari pandangan ku. Aku segera masuk, tubuhku sudah benar-benar lelah.


***


Aku merebahkan tubuhku di atas kasur sambil memainkan ponselku. Aku mengecek beberapa sosial mediaku dan menonton beberapa video di aplikasi YouTube.


Tiba-tiba ada satu pesan masuk dari grup WhatsApp peserta olimpiade. Itu pesan dari Bu Tar berisi pemberitahuan jika olimpiade akan di percepat, lebih tepatnya besok.


"Apa?" Ucapku tak percaya.


"Seriusan ini di majuin hari-h nya? Tapi kok dadakan banget sih besok." Gerutu ku.


Beberapa murid yang tergabung di grup itu tampak membalas pesan Bu Tar. Mereka semua sangat kecewa dengan keputusan panitia yang mempercepat jadwal olimpiade, begitu juga denganku. Tapi, kami bisa apa. Bahkan Bu Tar sendiri tak memiliki wewenang sedikitpun untuk memprotes keputusan panitia, jadi untuk sekarang rasanya sudah tak ada harapan lagi. Dan satu-satunya hal yang bisa kami lakukan hari ini, di sisa waktu ini adalah belajar mati-matian.


Tiba-tiba ada video call masuk dari Arka.


"Hai." Sapa nya lebih dulu.


"Hai."


"Kamu lagi ngapain?"


"Rebahan lah, hehe... Kamu sendiri lagi ngapain?"


"Baru selesai mandi nih. Aku kaget banget tau baru selesai mandi, liat handphone eh malah dapet berita kayak gini."


"Aku juga tau, kecewa banget."


"Btw kamu udah makan malam belum?"


"Belum nih, masih capek. Males mau turun ke bawah, lagian udah mager ngapa-ngapain kalau udah rebahan gini."


"Dasar kau rebahan hehe..."


"Ya enggak lah masih lebih banyakan kamu jam rebahannya di bandingkan sama aku tau."


"Ya udah deh terserah."


"Eh, aku boleh nggak main ke rumah? Sekalian kita belajar bareng."


"Eh, ngapain enggak ah enggak usah udah malem. Lagian nih ya kan besok kita olimpiade. Kalau misalnya kamu pulang dari sini nya kemalaman, terus di jalan kenapa-kenapa. Terus besoknya kamu enggak bisa ikut olimpiade gimana? Enggak seru dong, masa aku olimpiade nya sendirian. Enggak semangat lah kalau enggak ada kamu disana besok."


"Jadi kamu doain aku kenapa-kenapa nih abis dari rumah kamu?"


"Ya enggak gitu. Kan aku nasehatin. Mendingan jangan deh, dari pada kamu kenapa-kenapa."


"Terus gimana dong?"


"Gimana apanya?"


"Ya aku pengen ke rumah kamu buat belajar bareng, kamu malah enggak ngizinin."


"Emmmm..... Gimana ya...."


Aku berusaha memutar otak.


"Aha.. gimana kalau kita belajarnya sambil video call aja. Kan tetap bisa komunikasi tuh."


"Wah, boleh juga idenya. Pacar aku kok pintar banget sih."


"Ya iya lah pintar, kalau enggak gimana bisa kepilih jadi peserta olimpiade."


"Hehe... Iya juga ya."


"Yaudah aku ngambil buku dulu. Kamu jangan kemana-mana."


"Terus kalau aku disini aja gimana mau ngambil bukunya? Terus gimana mau belajarnya?" Ucap Arka dengan wajah manyun nya.


"Ya ambil lah sana bukunya. Lagian kan aku cuma bercanda."


"Siap bos." Ucapnya sambil menghormat.


Lagi-lagi pria ini sukses membuatku tertawa karena melihat tingkah lakunya.


Aku mengambil beberapa buku di lemari samping meja belajarku. Si layar ponselku hanya terlihat langit-langit kamar pria itu. Aku yakin ia meletakkan ponselnya begitu saja kemudian mengambil buku.


"Udah?" Tanyaku begitu wajahnya muncul di layar ponselku.


"Udah dong. Eh, sebelum mulai aku mau nanya sesuatu sama kamu."


"Apaan?"


"Kan kamu anak olimpiade Bahasa Inggris, aku mau tanya dong kalau Bahasa Inggrisnya aku cinta kamu apaan?"

__ADS_1


"Haha... Masa gitu aja kamu enggak tau."


"Aku mah orang Indonesia jadi wajar kalau enggak tahu Bahasa Inggris."


"Ya sama dong aku juga orang Indonesia."


"Yaudah buruan apa Bahas Inggrisnya aku cinta kamu?"


"Yakin mau aku jawab?"


"Yakin pakek banget sha."


"I love you."


"Iya love you too."


"Udah ah jangan bucin. Kan tadi mau ngapain awalnya? Mau belajar kan? Besok udah olimpiade loh."


"Yang tadi cuma pemanasan supaya enggak serius-serius amat."


"Bisa aja."


Kami kembali fokus ke tujuan utama kami.


BELAJAR!!!


Masih seperti yang lalu, aku mendengarkan beberapa audio Bahasa Inggris sambil membaca buku panduan ujian tes TOEFL. Sedikit banyaknya pasti soal tentara grammar adalah soal materi yang wajib keluar di segala ujian, tes, termasuk olimpiade.


"Eresha! Sha!" Sahut nenek dari bawah.


"Ka... Arka!" Sahutku dengan nada sedikit lebih tinggi daripada biasanya.


"Ada apaan?" Arka mengambil jeda sebentar dari kesibukannya menghitung angka yang tak terhingga jumlahnya.


"Aku ke bawah sebentar ya, di panggil nenek." Ujarku.


"Oh iya, yaudah. Tapi jangan di matiin ya."


"Oke lah sip."


Aku segera turun kebawah untuk menghampiri nenek.


***


"Apa makanannya udah sampai ya?" Gumam Arka dalam hati.


Tadi Arka sempat memesan makanan dari salah satu restoran favoritnya untuk Eresha, setelah ia tahu jika ia tak akan mendapatkan izin dari gadis itu untuk kesana malam ini. Padahal tadinya Arka berniat mengantarkan makanan ini sendiri ke rumah Eresha, hitung-hitung sebagai permintaan maafnya atas kecerobohan uang ia lakukan tadi siang hingga mengakibatkan Eresha celaka. Tapi gadis itu menolak ia untuk datang kesana, oleh sebab itu ia mengantarkannya lewat ojek online.


"Semoga Eresha suka sama makanannya." Gumam Sekali lagi.


***


"Iya nek, ada apa?" Tanyaku.


"Ini ada orderan makanan dari ojek online."


"Loh, tapi aku enggak ada order makanan kok nek. Salah orang mungkin, udah balikin aja ke tukang ojol nya."


Aku merasa tak ada memesan makanan hari ini. Lalu kenapa makanan ini diantar kesini atas namaku.


"Udah ini, ambil aja buruan. Nenek mau lanjut nyuci piring."


Aku terpaksa menerima bungkusan makanan itu karena nenek memaksaku.


***


"Udah sampai?" Tanya Arka.


"Apanya yang udah sampai?" Aku semakin di buat tambah bingung saja oleh pria ini.


"Makanannya." Ujar Arka.


"Makanan ini?" Tanyaku sambil menunjukkan bungkusan makanan yang baru saja ku terima itu.


"Iya." Ucapnya sambil menganggukkan kepalanya.


"Jadi kamu yang ngirim ini ke rumah?"


"Iya lah emang siapa lagi."


"Dasar ya... Eh, btw ini apaan?" Aku membuka bungkusan makanan itu.


"Martabak telur. Enak loh, cobain deh."


"Masa? Seenak itu?"


"Iya aku belinya di restoran favorit aku. Ya semoga kamu suka. Itung-itung sebagai tanda permintaan maaf dari aku."


"Arka.... Kan udah aku bilang kamu enggak salah. Ini sekarang pakai acara tanda permintaan maaf segala."


"Kan kamu juga belum makan malam. Enggak salah dong aku beliin kamu makanan."


"Ya enggak sih. Thanks ya by the way martabaknya." Ucapku dengan mulut penuh karena menguyah martabak.


"Iya sama-sama. Itu di habisin dulu dong awas entar keselek."


"Hehe... Mau? Nih." Aku menunjukkan sepotong martabak di depan layar ponselku.


Berharap Arka ikut lapar melihatku menghabiskan semua pemberiannya ini sendirian.


"Aaaaaaa.... Suapin dong." Arka membuka mulutnya lebar-lebar sambil merengek meminta disuapi seperti anak kecil yang tengah bermanja dengan ibunya.


"Hahaha.... Ada-ada aja, mana bisa."


"Terus kalau enggak bisa kenapa nawarin ke aku?"


"Ya supaya kamu ngiler."

__ADS_1


"Dasar ya pacar aku... Ih gemes deh. Sini aku cubit online pipinya."


"Sakitnya juga online dong."


__ADS_2