
Aku menuruni tangga untuk sarapan di dapur. Kali ini aku berjalan agak cepat, wajahku tertunduk memperhatikan langkah kakiku.
"Nenek udah sembuh?" Tanyaku kemudian menghampiri wanita tua itu.
"Udah sayang." Balasnya.
Aku menundukkan wajahku untuk mengecup pipinya yang sudah semakin keriput. Senyum penuh arti itu mengembang menghiasi wajahnya yang masih terlihat pucat. Beberapa hari belakangan ini setelah nenek keluar dari rumah sakit, kondisinya cukup lama untuk membaik seperti semula. Meski dokter sudah mengatakan jika nenek sudah tak apa-apa, nenek masih terlihat lemah sekarang ini.
Seperti biasanya aku tak terlalu suka mengisi perutku dengan makanan berat di pagi hari. Aku mengoleskan beberapa sendok selai kacang kesukaan ku di beberapa lembar roti tawar yang ku ambil. Kemudian di selingi dengan segelas susu.
"Kalau makan jangan sambil main handphone dong." Ujar nenek.
"Eh, iya nek." Jawabku kemudian segera meletakkan ponselku.
Aku sedang mengecek siapa tahu Arka ada mengirimiku pesan. Ternyata tak ada, ya sudahlah lagipula itu bukan masalah yang cukup besar.
Setelah selesai sarapan, aku masih belum melihat Arka di depan rumahku. Mungkin hari ini ia tak bisa menjemputku seperti biasanya dan ia lupa untuk mengabari ku. Akhirnya aku memutuskan untuk naik bis saja seperti yang biasa ku lakukan dulu.
Semua tempat duduk telah penuh, dan lagi-lagi aku harus berdiri dan berpegangan pada ring. Aku masih ingat saat pertama kali bertemu Arka di bis, ia sengaja mengikutiku. Jujur saja aku masih merasa geli jika mengingat tingkah Arka waktu itu. Entah sekarang aku berada di bis yang sama dengan saat itu atau tidak.
Aku berhenti di halte dekat sekolah, kemudian berjalan kaki sedikit menuju sekolah. Tempat ini sudah mulai ramai, aku tersenyum kecil sambil mengambil nafas dalam-dalam.
Tiba-tiba seseorang menarik tanganku dari belakang. Lantas aku berbalik dan mencari tahu siapa pemilik tangan tersebut.
"Arka?"
Pria itu telah sampai di sekolah, masih dengan jaketnya yang belum sempat ia buka dari parkiran.
"Maaf tadi aku enggak bisa ngaterin kamu ke sekolah. Tadi aku harus ngantar mama ke kantor."
"Iya enggak apa-apa, biasa aja kali. Eh, tapi kok tumben mama kamu bareng kamu? Enggak naik mobil?"
"Mama lupa kalau hari ini jadwal mobilnya buat ganti onderdil."
"Oh." Jawabku sambil mengangguk-anggukkan kepalaku.
Kami berjalan beriringan menuju kelas walau harus berbeda arah setelah berada tepat di depan tangga.
Kelas juga sudah lumayan ramai, pasti Stefani sudah datang. Yang benar saja, tiba-tiba gadis itu langsung menyambut ku dengan pelukannya.
"Kenapa sih?" Tanyaku sambil berusaha melepaskan diri dari cengkraman gadis gila ini.
"Lo enggak apa-apa kan? Baik-baik aja kan?"
"Bisa kamu liat sendiri kan?"
Stefani menyorotiku lekat dari ujung kaki hingga ujung rambut. Kemudian dia menghela lega sambil memegang dadanya.
"Kenapa sih?"
"Kemarin katanya lo pingsan tiba-tiba."
"Tau dari mana?"
"Kan kemarin malam aku nelpon lo tuh, gue mau ngasih tau kalau gue keterima kerja di cafe itu."
Wajahnya langsung berubah menjadi begitu girang.
"Seriusan keterima? Baguslah." Balasku.
Stefani hanya mengangguk kemudian melanjutkan ceritanya yang belum selesai.
"Tapi yang ngangkat telepon aku Arka, dan dia bilang kalau kamu lagi dibawa ke rumah sakit. Pas aku tanya kamu mau di bawa kemana dia malah langsung matiin telpon nya."
"Oh." Balasku singkat.
"Maaf ya kalau semalam aku enggak sempat jenguk kamu, soalnya Arka enggak mau ngasih tau tempatnya."
"Enggak apa-apa kok. It's okay."
***
Clara mengintip Eresha dan Arka yang baru saja keluar dari parkiran menuju kelas. Untuk saat ini ia tak bisa berbuat apa-apa walaupun hatinya menjerit melihat semua itu. Ia menyandarkan dirinya di balik pilar penyangga bangunan ini. Wajahnya berubah murung, ia berharap jika Arka masih memiliki sedikit saja rasa yang tersisa untuknya. Setiap kali ia berpapasan dengan Arka, di dalam hatinya selalu terselip sebuah harapan yang tak bisa ia utarakan. Kalimat itu akan terdengar terlalu aneh untuk diutarakan oleh seorang wanita yang terlalu mencintai lelakinya. Untuk sekarang ini rasanya Clara hanya bisa mengikhlaskan semuanya. Mengapa tidak jika Arka bahagia bersama Eresha, rasanya itu sudah lebih dari cukup untuknya. Melihat pria itu tersenyum lepas tanpa beban.
"Kenapa ra?" Sahut Arka yang tiba-tiba melintas di depannya.
Kelas Arka dan Stefani bersebelahan, jadi hampir setiap hari Arka melewati jalanan di depan kelas gadis ini.
Clara mendongakkan wajahnya yang dari tadi tertunduk pilu.
"Eh Arka, enggak kok." Clara mencoba menutupi semuanya.
"Terus kenapa sedih?"
"Enggak kok, tadi kaki aku kesandung dan jatuh. Jadi aku nahan sakitnya, makanya mataku berkaca-kaca." Clara mencoba mencari alasan lainnya.
Arka membungkukkan tubuhnya untuk melihat kondisi kaki gadis yang dulu sempat menjadi kekasihnya walau sebentar. Sontak Clara terkejut bukan main melihat perlakuan Arka kepadanya.
"Yang mana?" Tanya Arka sambil tetap mengamati kaki gadis itu.
"Di dalam sepatu jadi enggak kelihatan."
"Mending ke UKS aja gih."
Clara mengangguk pelan mengiyakan perkataan pria di depannya. Arka kembali berdiri tegak lalu bergegas pergi dari tempat itu menuju kelasnya.
"Lo tau ka? Kalau yang sakit itu sebenarnya hati gue." Gumam Clara pelan.
Clara menahan air matanya yang hendak jatuh dari pelupuk matanya. Gadis ini kembali mendongakkan kepalanya agar cairan itu tak jatuh. Ia menatap langit biru di atas sana. Tapi siapa yang menduga sebelumnya jika kali ini matanya akan bertemu pandang dengan Eresha yang sedang melihat ke bawah dari lantai atas.
Wajah Eresha terlihat begitu datar, tak ada ekspresi sama sekali yang menghiasi paras cantiknya. Namun meski begitu, tatapan matanya benar-benar penuh arti. Clara tersenyum kecil sambil tetap menyorot lekat Eresha. Gadis yang menyorotinya dari atas, membalas senyumannya dengan agak terpaksa.
"Apa Eresha melihat semuanya tadi?" Batinnya dalam hati.
Clara mengalihkan pandangannya dari gadis itu, kemudian berlari masuk menuju kelas. Kalian tahukan bagaimana perasaan Clara sekarang ini? Kini ia merasa serba salah, ia tak tahu harus berbuat apa.
***
Aku tak tahu kenapa Clara menatapku seperti itu tadi. Matanya juga terlihat berkaca-kaca. Apa ia baru saja menangis, atau akan menangis? Ditambah lagi ia tersenyum kepadaku. Padahal selama ini yang ku tahu jika Clara tak begitu menyukai ku karena status hubungan ku dengan Arka. Tapi senyuman nya tadi terlihat begitu tulus, aku tahu itu. Entahlah apa yang terjadi dengannya. Yang jelas hari ini dia tak seperti biasanya, tak seperti seorang Clara yang ku kenal. Belakangan ini sifatnya juga berubah.
Aku kembali masuk ke kelas, sebentar lagi bel pertanda jam pelajaran pertama akan berbunyi.
***
"Stef." Sahutku.
"Oit?"
"Kantin yuk, laper nih."
"Sebentar ya, gue rapihin buku dulu."
Kami bergegas menuju kantin sebelum kehabisan tempat duduk. Beruntung masih ada beberapa meja yang kosong di sana. Kami menikmati mie ayam yang masih hangat-hangatnya, kalau istilah kerennya "fresh from the oven".
"Hai, aku boleh kan duduk di sini?"
Tiba-tiba suara itu muncul. Aku mendongakkan kepalaku untuk mencari sumber suara tersebut.
"Ngapain lo disini?" Tanya Stefani ketus.
"Bolehkan kalau makan bareng sama kalian?" Clara kembali memohon.
Meskipun masih ada beberapa tempat duduk yang kosong, kenapa ia memilih untuk duduk disini.
Stefani menatapku, aku mengangkat kedua pundaku kemudian kembali menyeruput kuah mie ayam. Stefani mendesis pelan, namun aku masih tetap bisa mendengarnya.
"Yaudah iya." Jawab Stefani sambil mendengus sebal.
"Terimakasih stef, sha." Ucapnya dengan senyum lebar.
"Hmm." Balas kami secara bersamaan.
"Emang lo enggak punya teman sampai harus sama kita terus?" Tanya Stefani dengan polosnya.
Aku refleks menghentikan kegiatanku, lalu menyimak pembicaraan mereka.
"Enggak."
Clara menggelengkan kepalanya pelan. Wait wajahnya yang tadinya begitu girang langsung berubah muram.
"Satu orangpun?" Stefani kembali memastikan.
"Satu orangpun." Clara mengangguk lemas.
"Stef! Udah lah. Liat tuh Clara jadi sedih." Timpal ku.
"Udah lanjutin lagi makannya." Ucapku pada mereka berdua.
Kami kembali fokus menikmati makanan di depan kami.
"Sha!" Sahut Clara.
"Cowok itu siapa?" Tanya Clara dengan polosnya.
"Yang mana?" Tanyaku balik.
Aku mengedarkan pandanganku seluruh penjuru. Ayolah! ini kantin, ada banyak pria disini.
"Yang kemarin jemput lo pas pulang sekolah. Saat lo masih marahan sama Arka." Jelasnya.
Aku mencoba mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. Mungkin saja kejadian itu masih melekat di dalam ingatanku.
"Yang mana sih?" Tanyaku balik.
Aku menyerah! Ingatanku benar-benar payah. Aku kesal dengan diriku sendiri.
"Lo emang lupa atau pura-pura lupa? Bisa-bisanya ya lo jalan sama cowok lain disaat lo sama Arka lagi enggak baik-baik aja." Jelasnya.
Aku menahan emosiku agar tak meluap. Aku yakin jika pria yang di maksud oleh Clara adalah Kak Sendy.
"Lo selingkuh?"
Clara menuduhku dengan nada yang sedikit ragu.
"Itu temen aku, anak Arsi." Jawabku dengan tenang.
"Berarti udah kuliah dong?"
Aku mengangguk, mengiyakan perkataannya.
"Temen Arka juga kok." Sambung ku.
__ADS_1
"Oh, baguslah. Setidaknya itu artinya lo enggak lebih munafik dari aku." Ujarnya.
"Heh! Maksud lo apaan? Kalau cuma mau cari gara-gara mending sana deh." Seru Stefani sambil mendorong pelan tubuh Clara.
Tapi samasekali tak ada perlawanan dari Clara, ia hanya diam di tempat. Tak berkutik sedikitpun.
"Cuma mau mastiin kok, supaya Arka enggak sakit hati lagi. Supaya luka lamanya enggak kembali terbuka."
"BRAKK!!!"
Emosiku sudah berada dipuncak kesabaran, aku tak bisa mencegahnya lagi. Aku mengambil sumpit yang tergeletak di mangkok kemudian menodongkan benda itu tepat di depan wajah Clara. Hampir saja aku melakukan hal yang diluar akal sehatku.
"Kalau Arka sampai terluka lagi, ia akan sukar untuk pulih." Ujar Clara dengan kilau penuh arti dari sorot matanya.
"Eresha!" Sebuah suara yang sangat familiar meneriakkan namaku dari kejauhan.
Aku terlalu emosi untuk sekedar menoleh ke arah sumber suara tersebut. Tiba-tiba tanganku bergetar hebat, sumpit stainless itu terjatuh ke lantai dan menimbulkan suara dentingan.
Tak lama Arka datang ketempat kejadian. Ia meraih dagu ku dengan tangannya. Membuat wajahku yang tadinya tertunduk, bertemu pandang dengan nya.
"Kamu mau celakain Clara?" Tanya Arka dengan nada tinggi.
Aku hanya bisa bungkam, tak ada kalimat yang bisa ku ucapkan. Tak ada sesuatu yang bisa membela ku, karena kali ini aku benar-benar salah.
"Kontrol emosi kamu sha! Aku kecewa sama kamu." Ujar Arka yang emosinya ikut tersulut saat itu.
"Eresha enggak salah ka, aku yang mulai duluan." Ujar Clara mengaku.
Coba saja tadi ia tidak melontarkan kalimat yang menyakiti hatiku, pasti ini semua tidak akan terjadi.
"Enggak ra! Aku liat sendiri Eresha mau nyelakain kamu." Balas Arka.
"Aku benci sama kamu!" Kalimat kasar itu terlontar dari mulut Arka begitu saja.
Komentar kasar tanpa rasa kemanusiaan itu langsung menghujam keras jantungku.
"Yaudah, kita putus?" Tanyaku membalas ucapannya barusan.
Walau sebenarnya aku tak ingin mengucapkan kalimat itu sama sekali. Lidahku kelu seketika setelah mengucapkan kalimat yang barusan itu.
"Enggak!" Jawabnya dengan tegas.
"Untuk apa dipertahankan kalau pada akhirnya hanya saling memberikan luka?" Tanyaku dengan berat hati.
"Kalau kamu terluka lagi, itu akan sukar untuk pulih." Aku kembali melanjutkan kalimatku yang sempat terjeda.
"Kita selesaikan masalah ini di kantor BK." Ujar Arka sambil menarik tanganku dan Clara.
Ia menyeret kami untuk masuk ke ruangan BK. Tempat terhoror yang enggan seorang siswa pun masuk ke sana.
Bu Wati mulai menginterogasi kami bertiga "Jadi apa masalah kalian?"
"Eresha hampir saja mencelakai Clara tadi di kantin bu." Jelas Arka.
"Apa itu benar Eresha?" Tanya Bu Wati padaku.
Aku mengangguk pasrah, aku sama sekali tak berani membalas sorot matanya yang mengerikan itu.
"Atas dasar masalah apa?" Tanya Bu Wati lagi.
"Saya yang salah bu, saya tersulut emosi." Jawabku.
"Enggak bu, saya yang salah. Saya yang mulai duluan, saya udah nuduh Eresha yang enggak-enggak." Ungkap Clara dengan jujur.
"Sudah kalian berdua salah!" Tegas Bu Wati.
"Kalian berdua ibu hukum! Berdiri menghormat tiang bendera sampai jam pulang nanti." Ujar Bu Wati.
Ini masih jam istirahat pertama, sekarang sekitar pukul setengah sepuluh pagi. Sementara sekolah baru di pulangkan jika sudah pukul dua siang. Apakah aku harus berdiri disana sekitar empat setengah jam? Aku tak terlalu yakin jika aku bisa menyelesaikan ini. Tapi aku tak ingin menjadi seorang pecundang, kali ini aku salah dan harus menerima konsekuensinya.
***
"Maafin gue sha." Ucap Clara saat kami berdua sudah berada di lapangan.
"Aku juga minta maaf." Ucapku tanpa memalingkan wajahku kearahnya.
"Arka masih sayang sama lo." Ucapnya.
"Tau dari mana? Jangan ngawur deh." Balasku.
"Buktinya tadi pas lo minta putus, Arka enggak mau kan?"
"Denger sendiri kan kalau dia bilang dia benci sama aku."
"Dia bohong waktu bilang itu."
"Ekspresinya terlalu meyakinkan untuk kamu bilang kalau dia bohong."
"Lo juga bohong sama diri lo sendiri."
"Aku?"
"Lo bohong pas lo bilang mau putus dari Arka."
Lagi-lagi aku berhasil terbungkam. Bagaimana ia tau soal semua ini.
"Sorot mata kalian enggak bisa bohong." Lanjutnya
Clara hanya tertawa pelan menanggapi ucapan ku.
"Muka kamu pucat, kamu sakit?" Tanya Clara.
Raut wajahnya berubah cemas, ia menurunkan tangannya yang sedang menghormat. Merasa tak percaya dengan semua hal yang di katakan nya, aku bercermin dari pantulan ponsel milikku. Ternyata benar aku pucat, tapi kenapa.
"Bawa lipbalm enggak?" Tanyaku pada Clara.
Seorang gadis yang sangat menjaga penampilan, seperti Clara pasti memiliki benda kecil itu. Clara mengangguk kemudian merogoh kantongnya.
"Ini." Clara menyodorkan lipbalm miliknya padaku.
Aku segera mengambil benda itu dari tangannya kemudian memakannya secara sembunyi-sembunyi agar tidak ada seorangpun yang melihat.
"Masih keliatan pucat?" Tanyaku untuk memastikan.
"Enggak." Jawabnya singkat.
Kebetulan lipbalm milik Clara memiliki warna pink muda yang kupikir cukup untuk menutupi bibirku yang pucat.
"Thanks ya." Ucapku sembari mengembalikan lipbalm miliknya.
Clara mengangguk pelan.
"Kenapa sih lo kok pucat gitu?"
Aku mencoba mengelak "Ah, paling kurang minum doang."
"Lo sakit?"
"Enggak kok." Jawabku cepat.
"Terus kenapa lo lebih milih untuk nutupin itu?"
"Aku enggak menutupi, cuma memperbaiki."
***
Akhirnya hukuman kami selesai, kakiku benar-benar pegal saat ini. Aku dan Clara duduk di lapangan dengan wajah yang letih, kami saling membelakangi agar bisa bersandar satu sama lain.
Semua siswa sudah berhamburan keluar dari kelas mereka masing-masing. Kuharap seseorang mau menolong kami untuk bangkit dari tempat ini.
"Eresha!" Sahut Stefani sambil berlari ke arahku.
Aku tersenyum lega akhirnya gadis bawel itu datang kesini sambil menenteng dua buah tas di kedua tangannya.
"Ini tas lo sha." Ucapnya sambil memberikan tas ku.
"Ini tas lo ra." Ujarnya dengan nada ketus.
"Terimakasih banyak ya." Balas Clara.
"Ko jangan kepedean dulu, gue cuma kasian aja sama lo karena lo enggak punya teman. Jadi sebagai orang yang masih memiliki rasa peri kemanusiaan yaudah gue bawain deh tas lo."
"Iya, enggak apa-apa kok. Sekali lagi terimakasih." Balas Clara sambil tersenyum kaku.
"Tapi ingat ya. Sekali lagi lo cari gara-gara sama gue apalagi sama Eresha, abis lo." Ancam Stefani serius.
Aku mencoba melerai keduanya "Udah lah jangan pada berantem, pulang yuk." Ajak ku.
"Sini gue bantu berdiri." Ujar Stefani kemudian mengulurkan tangannya padaku.
Aku berhasil bangkit, namun tiba-tiba saja tubuhku kembali kehilangan keseimbangan. Beruntung mereka berdua segera mencegah tubuhku yang nyaris saja terjatuh. Rasanya kepalaku pusing tiba-tiba, apa vertigo ku kambuh lagi.
"Ko kenapa sha?" Tanya Stefani.
"Pusing." Balasku singkat.
Aku memejamkan kedua mataku, rasanya kini sinar mentari lebih menusuk ke mataku.
"Muka kamu juga pucat." Timpal Clara.
"Kita ke UKS dulu kali ya?" Usul Stefani.
"UKS udah tutup lah, lagian ini udah jam berapa." Ketus Clara.
"Udah, ke gerbang aja yuk. Sebentar lagi aku juga bakal di jemput kakak ku." Ujarku pada mereka berdua.
Akhirnya mereka berdua berhenti bertengkar seperti anak-anak. Mereka memapah ku menuju gerbang. Aku yakin tidak akan ada yang melihat kondisiku sekarang termasuk Arka, lagipula sekolah sudah sangat sepi sekarang aku yakin jika ia sudah sampai di rumahnya.
"Kita di bawah pohon itu aja yuk." Ujar Stefani.
Mereka membawaku ke sana sambil tetap menyokong tubuhku yang sudah lemah tak berdaya. Kuharap Renata menepati janjinya dan segera datang kesini. Kepalaku benar-benar sakit sekarang, tidak bisa di tahan lagi rasanya
"Sha?"
Arka yang barusaja melintas di depan kami, langsung turun dari sepeda motornya dan kemudian menghampiri ku.
"Kamu kenapa sha?" Ucapnya dengan salah satu tangannya menangkup pipiku.
Aku tak menggubris pertanyaannya sama sekali. Aku memalingkan wajahku darinya.
"Dia kenapa?"
__ADS_1
Arka masih berusaha mendapatkan jawabannya dari kedua gadis ini.
"Enggak, tau tiba-tiba aja dia begini." Jawab Stefani.
Aku melihat sebuah taxi menepi di depanku, aku sangat yakin jika Renata berada di dalamnya. Dengan mengumpulkan segenap sisa tenaga yang ku punya, aku melepaskan cengkraman ku dari kedua gadis itu. Aku berjalan menuju pintu taxi tersebut dengan langkah sempoyongan. Dan lagi-lagi aku kehilangan keseimbangan sebelum bisa meraih pintu itu, yang lebih sialnya kenapa kesadaran ku juga ikut-ikutan menghilang. Sial!
***
Arka langsung menangkap tubuh Eresha. Untungnya Renata langsung keluar dari dalam taxi menghampiri keramaian tersebut.
"Bawa masuk aja ke dalam taxi." Perintah Renata.
Arka menggendongnya masuk ke dalam taxi, kemudian ia mengikuti mobil di depannya dengan sepeda motor. Sementara kedua gadis itu hanya bisa menunggu informasi dari Arka, mereka tak bisa ikut bersama Eresha.
"BRUKK!!!"
Tiba-tiba saja dari arah yang berlawanan ada sebuah mobil yang melawan arus kemudian tanpa sengaja menabrak sepeda motor Arka. Tubuhnya langsung terpental ke ujung jalan.
Mendengar suara keributan tersebut, sontak Renata tak mendapati Arka yang dari tadi mengikuti mereka dari belakang.
"Pak berhenti pak!" Ujar Renata.
Renata keluar dari taxi meninggalkan adiknya yang sudah tak sadarkan diri. Ia berlari menghampiri kerumunan masyarakat yang jauh dibelakangnya.
"Bawa masuk ke taxi itu aja pak, ini teman saya." Ujar Renata.
Tanpa pikir panjang, orang-orang yang berkumpul di tempat kejadian langsung menggotong Arka masuk ke dalam taxi. Beruntung bagian kepalanya tak mengeluarkan darah, karena Arka memang selalu taat berlalu lintas kemanapun ia pergi.
"Kenapa kalian jadi gini sih?" Ucap Renata yang semakin di buat panik dengan kondisi Arka.
Taxi tersebut melaju dengan kecepatan penuh menuju rumah sakit atas perintah Renata. Ada dua nyawa yang harus segera diselamatkan. Mereka terlalu berarti untuk di sia-siakan kehidupannya.
Sesampainya di rumah sakit, keduanya langsung ditangani secara profesional. Renata tak bisa menemani Arka yang sedang berada di IGD sekarang ini. Lagipula ia tak bisa ikut masuk ke dalam sana. Sementara Eresha segera di bawa ke ruangan dokter yang kemarin menanganinya. Dokter menyarankan agar Eresha segera melakukan ronsen di bagian kepala nya. Sampai sekarang kondisi Eresha masih belum sadarkan diri.
"Bagaimana dok keadaan adik saya?" Tanya Renata khawatir.
"Sebentar lagi hasilnya akan keluar, untuk sementara ini kita tunggu sampai Eresha sadar dulu." Jawab dokter.
"Baik dok."
Renata menghampiri adiknya yang terindah terbaring lemah di atas tempat tidur. Ia masih berharap semoga tak terjadi apa-apa dengan adiknya saat ini.
***
Lagi-lagi aku berusaha membuka kedua kelopak mataku dan mendapati diriku tengah berada di tempat yang sangat ku benci.
"Udah sadar dek?" Ujar Renata.
Aku memegangi kepalaku yang masih terasa sedikit sakit.
"Kita duduk di sana yuk, kita liat hasil tes ronsen kamu." Ujar Renata.
Renata menuntunku menuju meja dokter. Kami menunggu dokter mengambilkan hasil tes ronsen ku di lab.
Tak lama dokter kembali dengan membawa sebuah map berwarna coklat. Kemudian ia mengeluarkan beberapa lembar foto organ dalam pengontrol motorik dari seluruh tubuhku.
"Baiklah menurut hasil tes nya, ada hal serius yang harus saya beritahu kepada kalian." Ucap si dokter sambil menghela berat.
Aku semakin gugup, telapak tanganku berkeringat dingin seketika.
"Anda menderita penyakit meningitis." Ucap dokter.
Itu sebuah istilah asing bagiku. Aku tak tahu jenis penyakit macam apa itu, meskipun aku seorang siswi SMA jurusan IPA.
"Penyakit apa itu dok?"
Pertanyaan Renata barusan cukup mewakili diriku juga.
"Itu adalah penyakit radang selaput otak yang jika di biarkan semakin lama, tidak menutup kemungkinan untuk mempertipis harapan hidup."
Mataku membulat sempurna setelah mendengar penjelasan orang berjas putih tersebut. Apa penyakit yang ku derita saat ini seganas itu. Kuharap ini hanyalah mimpi buruk dan aku segera terbangun.
"Itu artinya..." Renata tak mampu melanjutkan kalimatnya.
Dokter mengangguk pasrah.
"Untuk sekarang ini apakah kondisi saya parah dokter?" Tanyaku.
"Untuk sekarang kondisi adik tidak terlalu parah, namun juga tidak bisa di anggap enteng juga. Karena bisa saja kondisinya semakin memburuk seiring berjalannya waktu." Jelas si dokter.
"Apa bisa sembuh dok?" Tanya Renata penuh harap.
"Tentu saja bisa. Banyak orang diluar sana yang juga mengalami penyakit ini dan berhasil sembuh."
"Lalu apa adik saya masih bisa sembuh dok?"
"Untuk sekarang ini kita masih memiliki kesempatan itu."
Dokter kembali memasukkan hasil tes ronsen nya ke dalam map kemudian diserahkan kepada Renata.
"Apa adik sebelumnya sering terpapar sinar matahari yang menyengat dan sangat panas?" Tanya si dokter.
"Iya dok pernah, dulu saya anggota marching band dan kebetulan kita memang sering latihan panas-panasan dok." Ungkap ku.
"Kalau begitu, mulai sekarang kamu tolong hentikan aktivitas itu demi kesehatan kamu ya."
"Baik dok."
"Dan mungkin riwayat penyakit vertigo yang kamu alami merupakan indikasi awal dari penyakit ini. Jadi mulai sekarang jangan terlalu sering terpapar sinar matahari yang terlalu menyengat, jangan terlalu banyak pikiran, jangan stress, dan juga jangan terlalu lelah apalagi sampai mengurangi jam tidur kamu." Jelas si dokter yang memberikan saran padaku.
"Baik dok." Balasku.
"Kalau tidak nanti kondisi kamu semakin drop dan memburuk."
Dokter memperingati ku sekali lagi.
"Baik dok, terimakasih." Ucapku berpamitan.
Inilah yang dinamakan dengan takdir. Aku tidak bisa menghindari hal ini, meskipun bukan ini yang ku inginkan. Meskipun aku tahu jika semua orang pasti akan kembali kepada Tuhan, aku masih belum bisa menerima kenyataan ini. Bila aku kembali kepadanya dengan jalan seperti ini, apakah orang-orang yang menyayangiku akan keberatan dengan cara Tuhan memanggilku untuk pulang atau tidak. Ah, untuk apa aku memikirkan hal itu. Orang yang ku kira akan menyayangiku dengan segenap hatinya, ternyata malah kebalikannya.
Mama dan papa, bahkan mereka tak pernah menelepon ku untuk sekedar menanyakan bagaimana kabar ku disini. Arka seseorang yang ku kira akan mencintai ku selamanya, ternyata beberapa jam yang lalu perasannya berubah drastis.
"Kak." Ucapku pada Renata.
Setidaknya sebelum aku pergi, aku telah melakukan satu hak baik yang bisa menolong ku nanti di alam yang berbeda.
Renata melongo tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan "Kamu barusan manggil aku kakak?"
Aku mengangguk lemah.
"Jangan kasih tau ini sama siapapun ya. Hanya kita berdua yang boleh tau, dan Tuhan." Ucapku.
"Termasuk keluarga kita?"
"Iya. Termasuk mama, papa, nenek, dan yang lainnya."
"Tapi sha, mereka berhak tau."
"Aku mohon." Ujarku dengan nada sedikit memelas.
"Oke, tapi aku enggak janji."
Aku mengangguk, mengiyakan perkataannya. Setidaknya untuk saat ini mereka masih belum tau walau suatu saat nanti pasti Renata akan membongkar semuanya.
"Sha, ada yang harus kamu tau tentang Arka." Ujar Renata.
"Kenapa sama Arka?"
"Dia kecelakaan."
Mataku terbelalak lebar, tolong tampar aku. Yang kali ini aku mohon jika aku memang hanya sedang mimpi buruk.
"Kok bisa? Gimana ceritanya?"
"Jadi pas kamu pingsan tadi, Arka ngikutin taxi kita dari belakang buat ikut nemenin kamu ke rumah sakit." Jelas Renata.
Ia bilang Arka mengikuti ku, mengapa dia masih memperdulikan ku. Padahal dengan begitu jelasnya kalimat kasar itu terlontar dari mulutnya. Dan itu benar-benar sampai di telingaku tanpa kekeliruan sedikitpun.
"Sekarang dia dimana?" Tanyaku.
"IGD."
Aku dan Renata yang mengikuti langkahku di belakang bergegas menuju ruang IGD. Aku berlari dengan tertatih, karena kondisiku belum begitu stabil. Sepasang mataku tertuju pada seseorang yang terbaring tak berdaya di dalam sana. Perlahan tubuhku melemah, kakiku bergetar hebat hingga tak sanggup menopang tubuhku lagi. Aku terduduk lemas di lantai, wajahku tertunduk menyesal. Air mata yang sudah tak bisa ku tahan lagi, mengalir membasahi pipiku. Aku menggigit kuat bibirku agar tak terisak, namun tangisanku semakin menjadi.
Renata membantu ku untuk duduk di kursi tunggu. Aku sudah tak bisa berkata-kata lagi.
"Ma- mamanya Arka u-udah di kasih tau soal ini?" Tanyaku pada Renata sambil terisak.
Renata menggelengkan kepalanya.
"Kenapa!"
Aku segera mengeluarkan ponselku kemudian menelepon Mamanya Arka. Aku tau ini adalah hal buruk bagi semua orang yang dekat dengan Arka, tapi mereka harus tau tentang kepedihan ini.
"Ha-halo Tante. Arka kecelakaan, na-nanti aku share loc." Ujarku pada Mamanya Arka.
Aku langsung mematikan teleponnya, aku benar-benar tak sanggup jika harus mengatakan semuanya. Aku segera membagikan lokasi ini dan mengirimkannya ke nomer Mamanya Arka.
"Kak Sendy." Gumam ku pelan.
Bagaimanapun juga, Kak Sendy adalah teman Arka juga. Akhirnya ku putuskan untuk memberi tahu pria itu soal ini.
***
Seorang wanita berjas hitam dengan sebuah tas di bahunya datang dengan langkah tergesa.
"Arka kenapa sha?"
"Dia kecelakaan Tante, ada mobil yang melawan arus dan malah nabrak Arka."
"Ya ampun!"
Aku segera memeluk wanita itu, ia terlihat begitu rapuh. Aku mencoba menguatkannya, meskipun sebenarnya aku tak yakin jika itu akan berhasil.
"Maafin Eresha Tante, ini semua salah Eresha makanya Arka bisa jadi seperti ini." Bisik ku di telinga Mamanya Arka.
Mamanya Arka masih begitu terpukul. Ia tak ingin terjadi apa-apa dengan anak semata wayangnya ini. Ia tak ingin jika sampai Arka ikut meninggalkannya. Cukup papanya saja yang pergi, tidak dengan Arka.
"Ini bukan salah kamu sayang, Ini sebuah kecelakaan. Enggak ada yang bisa disalahkan."
Wanita paruh baya itu mengelus pelan punggung ku.
__ADS_1
"Tapi bukan ini yang Eresha inginkan."