Pengagum Lara

Pengagum Lara
Episode 96


__ADS_3

 


 


Ternyata proses evakuasinya lumayan lama. Itu disebabkan


karena banyaknya korban yang terlibat kala itu. Bukan hanya penumpang bus atau


pengemudi mobil pribadi tersebut yang menjadi korbannya. Bahkan kedua pengemudi


tersebut dinyatakan telah meninggal dunia setelah berhasil dikeluarkan dari


dalam sana. Mereka berdua adalah korban yang menderita luka berat hingga


pendarahan, kemudian meninggal.  Tapi


kedua orang itu bukanlah satu-satunya orang yang terparah. Ku dengar ada


seorang anak remaja yang turut meninggal di tempat.


Kecelakaan ini benar-benar melibatkan begitu banyak pihak


untuk ikut di dalam aksinya. Sungguh menggenaskan, tapi semoga saja mereka


semua tenang di alam sana dan tak pernah kembali ke dunia. Aku tak ingin jika


mereka mengganggu para manusia yang masih hidup. Bahkan beberapa orang yang


sedang menyebrang saat itu ikut terlibat dalam kecelakaan. Untungnya mereka


hanya mengalami luka ringan saja.


Aku bergidik ngeri seketika setelah membayangkannya kembali.


Padahal aku sudah tahu dengan jelas jika diriku menolak hal semacam itu untuk


membekas di dalam sana. Tapi sepertinya kepalaku tengah berusaha menantangku.


Ia terus-menerus memutar ulang semua kejadian itu lagi di dalam kepalaku. Tapi


aku tak akan membiarkannya begitu saja. Kali ini aku tak akan membiarkannya


bertindak sesuka hatinya. Selalu ada cara bagiku untuk terlepas dari beragam


masalah yang terus berusaha untuk menjeratku.


Di sisi lain aku begitu kagum dengan mereka yang sedang


bekerja keras di luar sana. Mereka tetap bertahan di tengah badai besar seperti


ini hanya untuk mengamankan kekacauan itu. Sebagian berusaha menolong


orang-orang yang terjebak di dalam sana. Sebagian lagi memastikan mana yang


masih bisa untuk diselamatkan dan mana yang sudah tak ada harapan lagi. Sementara


itu sisanya terus mondar-mandir mengantarkan korban ke rumah sakit terdekat


untuk diberikan pertolongan pertama.


Sementara itu para pria dan wanita dari kepolisian terlihat


berusaha mengamankan tempat kejadian untuk memudahkan para tenaga medis bekerja.


Beberapa orang terlihat tengah sibuk mengidentifikasi semua hal yang terkait


akan kejadian tersebut. Kemudian menuliskannya di atas selembar kertas sebagai


bentuk laporan yang akan diselidiki lebih lanjut. Tim yang lain terlihat sedang


memintai keterangan dari beberapa saksi mata yang masih berada di sana.


Mereka semua tetap saling bekerja sama dan saling membantu,


terlepas dari segala perbedaan. Mereka juga saling berusaha untuk melindungi


satu sama lainnya. Padahal mereka tahu jelas resikonya jika harus bekerja di


situasi seperti ini. Mereka bisa membahayakan nyawa mereka, sekaligus membuat


keluarganya kehilangan harapan. Tapi itulah konsekuensi yang harus mereka


terima, karena saat ini mereka tengah memenuhi tanggung jawab atas


pekerjaannya. Mereka manusia yang baik hati juga tak egois. Aku bisa melihat


ketulusan itu dari dalam diri mereka masing-masing.


Semua orang yang tengah bersusah payah di luar sana sudah


menepati semua kata-katanya yang pernah ia ucapkan hari itu. Mereka sadar jika


mereka telah bersumpah dengan bangga atas pekerjaan ini. Semua itu dilakukan


tepat sebelum mereka ada di posisi ini.


Waktu terus berlalu dengan cepat dan meninggalkan semua


orang di sekitarnya. Ia tak ingin menunggu apapun yang membuatnya harus


berhenti sejenak. Karena memang begitulah cara waktu bekerja. Jangan pernah


menunggu waktu, karena pada saatnya ia juka akan meninggalkan kita. Berjalan


lah beriringan dengannya selagi kau mampu. Setarakan langkahmu dengan sang


waktu, maka posisi kalian akan sejajar. Jangan biarkan siapapun mendahului atau


justru tertinggal jauh di belakang.


Aku dan Arka terjebak di tempat ini bersama yang lainnya.


Sudah berjam-jam kami menunggu seperti anak ayam yang akan dikeluarkan dari


kandangnya. Kekacauan besar itu hampir selesai ditangani dan kami bisa segera


keluar dari tempat ini. Badai juga terlihat mulai reda, setidaknya tak apa jika


berada di luar sana untuk berjalan kaki pulang ke rumah. Semua sudah mulai


kembali seperti kondisi semula. Di saat semua orang terlihat menjalani hidupnya


dengan biasa saja, seperti tak akan pernah ada hal buruk yang terjadi. Tetapi


ada satu masalah di sini yang tak bisa diatasi oleh satu orang pun yang berada


di tempat ini. Kami harus menunggu petugas dari pemerintah datang untuk


menyingkirkan tumpukan salju di jalanan itu. Bahkan pintu café ini nyaris


tertutup setengahnya oleh salju. Jika di ruangan ini taka da alat penghangat


ruangan, mungkin kami juga turut mati memberku di sini. Karena di sekeliling

__ADS_1


tempat ini sudah dipenuhi oleh kapas-kapas putih yang membeku itu.


Sekarang sudah pukul lima sore, sebentar lagi hari akan


gelap. Mentari akan kembali ke sarangnya dan posisi tempat ia berada saat ini


akan segera digantigak oleh bulan. Karena memang seperti itulah siklusnya dan


itu adalah yang paling adil menurutku. Harus ada yang datang dan pergi, karena


tak semua orang bisa menetap pada tempat yang sama selamanya.


Karena seharian terjebak di tempat ini, kami juga harus


makan siang di sini atau mati. Jujur aku merasa bosan harus termenung menunggu


bantuan datang. Terjebak di tempat ini membuatku terlihat seperti orang bodoh.


Aku harap seseorang segera mengeluarkan kami semua dari sini. Karena ini masih


musim dingin, jadi matahari akan terbenam lebih cepat dari biasanya. Lagit juga


akan menjadi gelap gulita lebih cepat. Suasana malam di pusat perkotaan seperti


ini juga akan terlihat lebih cepat daripada biasanya. Jika langit sudah hampir


gelap itu artinay sebentar lagi akan malam, padahal ini masih pukul lima sore.


Bagian terbaiknya pada waktu ini adalah jika aku akan segera kembali ke rumah


secepat mungkin. Tepat setelah aku menepati perkataanku kepada pria itu.


Aku hanya perlu menunggu sampai kami keluar dari tempat ini


dan melihat lampu jembatan itu menyala. Kemudian semuanya selesai dan aku bisa


bebas dari jeratan pria ini. Beberapa menit lagi aku akan mendapatkan semua


yang ku mau sejak tadi. Hanya perlu bersabar sedikit saja. Sekali saja aku


gegabah dan melakukan kecerobohan, maka semuanya akan berakhir sia-sia. Aku


tidak bisa merusak hal penting ini, atau aku akan terjebak bersama pria ini


untuk selamanya.


“Menurut li sampai kapan kita bakalan kayak gini terus?”


tanyaku pada Arka.


“Entah lah, gue juga enggak tau.” balasnya dengan pasrah.


Aku hanya bisa menghela napas dalam-dalam. Aku berusaha


untuk meningkatkan level kesabaranku yang nyaris telah mencapai titik


terakhirnya. Namun aku tak tahu apa yang terus membuatku bisa bertahan di saat


seperti ini. Aku tak tahu darimana lagi kesabaran itu ku dapatkan setelah


hampir habis di saat seperti ini. Aku tak berhenti berdoa agar semua kejadian


buruk dan nasib sial yang menimpaku hari ini segera berlalu. Aku tak bisa


terlarut terlalu lama dalam pusaran badai ini.


Aku memainkan kakiku, sesekali juga menggigiti kuku jari


yang bisa ku lakukan di dalam tempat ini. Aku dan semua orang hanya bisa terus


menunggu dan menunggu tanpa diberi kepastian sama sekali. Semua orang juga


tidak suka jika harus disuruh menunggu seperti ini. Tak ada orang yang suka


untuk dibuat menanti. Termasuk aku yang tak sabaran jika berada pada situasi


seperti ini.


Aku nyaris tertidur di tempat itu karena bantuan terlalu


lama datang. Pemilik tempat ini sudah menelepon petugas untuk membersihkan


jalan keluar kami sejak dua jam yang lalu. Namun, orang-orang itu baru datang


sekarang. Kecelakaan hebat itu membuat beberapa rute jalan harus dialihkan demi


menyelamatkan nyawa korban. Mereka harus berpacu dengan waktu, sehingga mencari


jalan alternative dengan rute perjalanan paling singkat. Hal itu jelas


berdampak pada kondisi lalu lintas. Kemacetan terjadi dimana-mana. Nyaris


seluruh kendaraan di setiap seluk –beluk kota ini tak bisa bergerak sama


sekali.


Akhirnya aku bisa bernapas lega kali ini. Rasanya seluruh


tubuhku sudah pegal dan kaku karena terlalu lama berada dalam posisi yang sama


setiap detiknya. Aku bahkan tak bisa bergerak dengan leluasa di dalam tempat


itu. Tapi sekarang kesabaranku malah membuahkan hasil. Ini adalah yang aku mau


sejak tadi. Pada akhirnya aku bisa menghirup udara bebas di luar sini.


Aku dan Arka melangkah keluar dari tempat itu dengan


perasaan senang sekaligus lega. Kami berjalan menuju seberang sana. Tapi untuk


yang kesekian kalinya, seluruh perhatianku mengarah kembali pada titik kejadian


itu. Seperti ada sesuatu yang mencoba menarik perhatianku saat itu. Aku lantas


memperlambat langkahku saat melintas tepat di sebelahnya saat hendak


menyebrang. Sesekali mengamati setiap bagian kecilnya yang bahkan tak


seorangpun ingin memperhatikannya. Aku benar-benar seperti orang yang tengah


dihipnotis saat itu.


Bangkai mobilnya sudah disingkirkan dari tempat kejadian.


Entah kemana mereka membawa barang rongsokan tersebut. Sementara bis tersebut


masih berada di sana dengan kondisi yang sama. Yang mereka lakukan hanyalah memasangi


garis polisi di sekitar tempat kekacauan itu terjadi tadi. Jiwa penasaranku


sepertinya terlalu besar untuk hal semacam itu. Padahal aku tahu jelas jika itu


bukanlah hal yang ku kuasai. Aku bukanlah seorang ahli pada bidang itu, aku

__ADS_1


bahkan tak mengerti sama sekali dengan apa yang terjadi. Lantas kenapa seperti


ada puluhan pertanyaan yang harus dijawab olehku saat itu juga. Seperti


seolah-olah aku lah tersangkanya.


Arka lantas cepat-cepat menarikku dari sana, karena sebentar


lagi lampu lalu lintas akan berubah tanda. Jika kami masih berada di sana,


mungkin kami berdua lah yang akan menjadi korban tabrak lari berikutnya. Saat


itu pula aku merasa tersentak dan kembali tersadar. Aku tak tahu apa yang dan


siapa yang sedang menguasai pikiranku saat itu.


Seluruh perhatianku bahkan masih tertuju kepada objek itu


saat kami telah sampai di ujung jalan. Sepertinya hari ini aku terlalu


kelelahan, baik secara fisik maupun mental. Itu sebabnya aku sering merasa


seperti kehilangan kendali atas diriku sendiri. Atau bahkan yang lebih buruknya


mungkin bisa mengalami halusinasi yang bisa membahayakan diriku sendiri. Tidak!


Aku tidak ingin hal itu terjadi padaku. Aku masih terlalu muda untuk menegalami


hal semacam itu. Hidupku masih panjang dan harus tetap panjang. Masih banyak


cerita dam impian yang akan ku wujudkan satu-persatu. Terlalu banyak rencana


yang masih ingin ku lakukan saat ini. Jadi kuharap semoga Tuhan selalu


melindungiku.


“Kita beli minum dulu ya.” ujarku kepada pria itu.


Arka hanya mengangguk, mengiyakan perkataanku kala itu. Kami


lantas menuju finding machine minuman yang paling dekat dengan tempat kami


berdiri saat itu. Aku membeli dua botol air mineral untuk aku dan Arka. Ku


pikir air mineral akan membantuku untuk kembali fokus. Aku tak mau terus-terusan


seperti ini.


“Ini, buat lo.” ujarku sambil menyodorkan minuman tersebut


kepadanya.


“Terimakasih banyak.” balasnya.


Aku lantas melemparkan pandanganku ke arah pria itu, sambil


tetap meneguk minumanku. Aku tak tahu sejak kapan ia mulai menggunakan bahasa


formal seperti itu. Padahal aku dan dirinya bukanlah sepasang orang asing yang


baru saling mengenal. Kami sudah sangat dekat sejak pertama kali aku pindah ke


sekolah itu. Dan dia adalah satu-satunya orang yang berani mendekat padaku


terlebih dahulu. Atau mungkin sekarang ia benar-bebar sudah menganggapnya


seperti itu. Kami adalah dua orang asing yang barusaja bertemu kemarin, dan


pertemuan itu sama sekali tak disengaja. Cerita kami juga baru dimulai hari


ini.


Sepertinya pria ini sudah berhasil melupakan semua itu.


Menganggap semua hal yang pernah terjadi di masa lalu telah selesai sepenuhnya.


Karena pada kenyataannya memang sudah tamat. Ia tak pernah mengungkit atau


bahkan menganggap cerita itu pernah ada sebelumnya. Ia tak pernah bersikap


seperti itu saat berdiri di sini. Mungkinkah ini adalah awal dari sebuah cerita


baru yang baru akan mulai ditulisnya, atau justru inilah sebuah akhir dari


cerita kemarin yang belum sempat ia tulis. Sebuah bagian dari bab terakhir yang


belum tuntas dan sempat tertunda untuk beberapa waktu. Dan kini ia kembali


untuk meluruskan semuanya. Untuk mempertegas setiap jalan ceritanya, agar para


pembacanya tak tersesat. Supaya para tokohnya juga saling memahami situasinya.


Mungkinkah ini yang dia inginkan saat ini? Mungkinkah ia datang untuk


menuntaskan segala sesuatu yang belum tuntas di masa lalu itu?


“Lampu jembatannya udah dinyalaain!” seru Arka sambil


menunjuk ke arah objek raksasa di seberang sana.


Aku bisa melihat sekilas kegembiraan yang terpancar dari


dalam wajahnya. Senyumya kali ini benar-benar terlihat tulus. Ia seperti anak


kecil yang kegirangan karena di ajak ke pasar malam. Ekspresinya benar-benar


polos dan menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya. Aku lantas ikut tersenyum


tipis saat ia bersikap seperti itu. Seolah semua penat yang kurasakan hari ini


hilang begitu saja. Mendadak bahuku terasa begitu ringan dan hatiku terasa


lega.


Setidaknya hari ini aku pernah membuatnya bahagia.


Setidaknya aku telah menepati janjiku kepadanya. Paling tidak, jika benar hari


ini benar adlah akhir dari cerita yang tertunda itu, maka aku berhasil membuat


tokoh utamanya tersenyum lebar pada akhir ceritanya. Melihat tokoh utamanya


berakhir dengan bahagia, pasti pembacanya juga turut bahagia.


Sekurang-kurangnya aku berhasil membuat banyak orang tersenyum. Tersenyum untuk


melupakan sejenak masalah mereka. Tersenyum untuk membahagiakan diri mereka


sendiri yang terlihat begitu menyedihkan kala itu. Atau mungkin bisa membuat


mereka kembali bangkit pada titik terlemahnya kala itu. Senang rasanya bisa


membuat semua orang bahagia.

__ADS_1


__ADS_2