
Ternyata proses evakuasinya lumayan lama. Itu disebabkan
karena banyaknya korban yang terlibat kala itu. Bukan hanya penumpang bus atau
pengemudi mobil pribadi tersebut yang menjadi korbannya. Bahkan kedua pengemudi
tersebut dinyatakan telah meninggal dunia setelah berhasil dikeluarkan dari
dalam sana. Mereka berdua adalah korban yang menderita luka berat hingga
pendarahan, kemudian meninggal. Tapi
kedua orang itu bukanlah satu-satunya orang yang terparah. Ku dengar ada
seorang anak remaja yang turut meninggal di tempat.
Kecelakaan ini benar-benar melibatkan begitu banyak pihak
untuk ikut di dalam aksinya. Sungguh menggenaskan, tapi semoga saja mereka
semua tenang di alam sana dan tak pernah kembali ke dunia. Aku tak ingin jika
mereka mengganggu para manusia yang masih hidup. Bahkan beberapa orang yang
sedang menyebrang saat itu ikut terlibat dalam kecelakaan. Untungnya mereka
hanya mengalami luka ringan saja.
Aku bergidik ngeri seketika setelah membayangkannya kembali.
Padahal aku sudah tahu dengan jelas jika diriku menolak hal semacam itu untuk
membekas di dalam sana. Tapi sepertinya kepalaku tengah berusaha menantangku.
Ia terus-menerus memutar ulang semua kejadian itu lagi di dalam kepalaku. Tapi
aku tak akan membiarkannya begitu saja. Kali ini aku tak akan membiarkannya
bertindak sesuka hatinya. Selalu ada cara bagiku untuk terlepas dari beragam
masalah yang terus berusaha untuk menjeratku.
Di sisi lain aku begitu kagum dengan mereka yang sedang
bekerja keras di luar sana. Mereka tetap bertahan di tengah badai besar seperti
ini hanya untuk mengamankan kekacauan itu. Sebagian berusaha menolong
orang-orang yang terjebak di dalam sana. Sebagian lagi memastikan mana yang
masih bisa untuk diselamatkan dan mana yang sudah tak ada harapan lagi. Sementara
itu sisanya terus mondar-mandir mengantarkan korban ke rumah sakit terdekat
untuk diberikan pertolongan pertama.
Sementara itu para pria dan wanita dari kepolisian terlihat
berusaha mengamankan tempat kejadian untuk memudahkan para tenaga medis bekerja.
Beberapa orang terlihat tengah sibuk mengidentifikasi semua hal yang terkait
akan kejadian tersebut. Kemudian menuliskannya di atas selembar kertas sebagai
bentuk laporan yang akan diselidiki lebih lanjut. Tim yang lain terlihat sedang
memintai keterangan dari beberapa saksi mata yang masih berada di sana.
Mereka semua tetap saling bekerja sama dan saling membantu,
terlepas dari segala perbedaan. Mereka juga saling berusaha untuk melindungi
satu sama lainnya. Padahal mereka tahu jelas resikonya jika harus bekerja di
situasi seperti ini. Mereka bisa membahayakan nyawa mereka, sekaligus membuat
keluarganya kehilangan harapan. Tapi itulah konsekuensi yang harus mereka
terima, karena saat ini mereka tengah memenuhi tanggung jawab atas
pekerjaannya. Mereka manusia yang baik hati juga tak egois. Aku bisa melihat
ketulusan itu dari dalam diri mereka masing-masing.
Semua orang yang tengah bersusah payah di luar sana sudah
menepati semua kata-katanya yang pernah ia ucapkan hari itu. Mereka sadar jika
mereka telah bersumpah dengan bangga atas pekerjaan ini. Semua itu dilakukan
tepat sebelum mereka ada di posisi ini.
Waktu terus berlalu dengan cepat dan meninggalkan semua
orang di sekitarnya. Ia tak ingin menunggu apapun yang membuatnya harus
berhenti sejenak. Karena memang begitulah cara waktu bekerja. Jangan pernah
menunggu waktu, karena pada saatnya ia juka akan meninggalkan kita. Berjalan
lah beriringan dengannya selagi kau mampu. Setarakan langkahmu dengan sang
waktu, maka posisi kalian akan sejajar. Jangan biarkan siapapun mendahului atau
justru tertinggal jauh di belakang.
Aku dan Arka terjebak di tempat ini bersama yang lainnya.
Sudah berjam-jam kami menunggu seperti anak ayam yang akan dikeluarkan dari
kandangnya. Kekacauan besar itu hampir selesai ditangani dan kami bisa segera
keluar dari tempat ini. Badai juga terlihat mulai reda, setidaknya tak apa jika
berada di luar sana untuk berjalan kaki pulang ke rumah. Semua sudah mulai
kembali seperti kondisi semula. Di saat semua orang terlihat menjalani hidupnya
dengan biasa saja, seperti tak akan pernah ada hal buruk yang terjadi. Tetapi
ada satu masalah di sini yang tak bisa diatasi oleh satu orang pun yang berada
di tempat ini. Kami harus menunggu petugas dari pemerintah datang untuk
menyingkirkan tumpukan salju di jalanan itu. Bahkan pintu café ini nyaris
tertutup setengahnya oleh salju. Jika di ruangan ini taka da alat penghangat
ruangan, mungkin kami juga turut mati memberku di sini. Karena di sekeliling
__ADS_1
tempat ini sudah dipenuhi oleh kapas-kapas putih yang membeku itu.
Sekarang sudah pukul lima sore, sebentar lagi hari akan
gelap. Mentari akan kembali ke sarangnya dan posisi tempat ia berada saat ini
akan segera digantigak oleh bulan. Karena memang seperti itulah siklusnya dan
itu adalah yang paling adil menurutku. Harus ada yang datang dan pergi, karena
tak semua orang bisa menetap pada tempat yang sama selamanya.
Karena seharian terjebak di tempat ini, kami juga harus
makan siang di sini atau mati. Jujur aku merasa bosan harus termenung menunggu
bantuan datang. Terjebak di tempat ini membuatku terlihat seperti orang bodoh.
Aku harap seseorang segera mengeluarkan kami semua dari sini. Karena ini masih
musim dingin, jadi matahari akan terbenam lebih cepat dari biasanya. Lagit juga
akan menjadi gelap gulita lebih cepat. Suasana malam di pusat perkotaan seperti
ini juga akan terlihat lebih cepat daripada biasanya. Jika langit sudah hampir
gelap itu artinay sebentar lagi akan malam, padahal ini masih pukul lima sore.
Bagian terbaiknya pada waktu ini adalah jika aku akan segera kembali ke rumah
secepat mungkin. Tepat setelah aku menepati perkataanku kepada pria itu.
Aku hanya perlu menunggu sampai kami keluar dari tempat ini
dan melihat lampu jembatan itu menyala. Kemudian semuanya selesai dan aku bisa
bebas dari jeratan pria ini. Beberapa menit lagi aku akan mendapatkan semua
yang ku mau sejak tadi. Hanya perlu bersabar sedikit saja. Sekali saja aku
gegabah dan melakukan kecerobohan, maka semuanya akan berakhir sia-sia. Aku
tidak bisa merusak hal penting ini, atau aku akan terjebak bersama pria ini
untuk selamanya.
“Menurut li sampai kapan kita bakalan kayak gini terus?”
tanyaku pada Arka.
“Entah lah, gue juga enggak tau.” balasnya dengan pasrah.
Aku hanya bisa menghela napas dalam-dalam. Aku berusaha
untuk meningkatkan level kesabaranku yang nyaris telah mencapai titik
terakhirnya. Namun aku tak tahu apa yang terus membuatku bisa bertahan di saat
seperti ini. Aku tak tahu darimana lagi kesabaran itu ku dapatkan setelah
hampir habis di saat seperti ini. Aku tak berhenti berdoa agar semua kejadian
buruk dan nasib sial yang menimpaku hari ini segera berlalu. Aku tak bisa
terlarut terlalu lama dalam pusaran badai ini.
Aku memainkan kakiku, sesekali juga menggigiti kuku jari
yang bisa ku lakukan di dalam tempat ini. Aku dan semua orang hanya bisa terus
menunggu dan menunggu tanpa diberi kepastian sama sekali. Semua orang juga
tidak suka jika harus disuruh menunggu seperti ini. Tak ada orang yang suka
untuk dibuat menanti. Termasuk aku yang tak sabaran jika berada pada situasi
seperti ini.
Aku nyaris tertidur di tempat itu karena bantuan terlalu
lama datang. Pemilik tempat ini sudah menelepon petugas untuk membersihkan
jalan keluar kami sejak dua jam yang lalu. Namun, orang-orang itu baru datang
sekarang. Kecelakaan hebat itu membuat beberapa rute jalan harus dialihkan demi
menyelamatkan nyawa korban. Mereka harus berpacu dengan waktu, sehingga mencari
jalan alternative dengan rute perjalanan paling singkat. Hal itu jelas
berdampak pada kondisi lalu lintas. Kemacetan terjadi dimana-mana. Nyaris
seluruh kendaraan di setiap seluk –beluk kota ini tak bisa bergerak sama
sekali.
Akhirnya aku bisa bernapas lega kali ini. Rasanya seluruh
tubuhku sudah pegal dan kaku karena terlalu lama berada dalam posisi yang sama
setiap detiknya. Aku bahkan tak bisa bergerak dengan leluasa di dalam tempat
itu. Tapi sekarang kesabaranku malah membuahkan hasil. Ini adalah yang aku mau
sejak tadi. Pada akhirnya aku bisa menghirup udara bebas di luar sini.
Aku dan Arka melangkah keluar dari tempat itu dengan
perasaan senang sekaligus lega. Kami berjalan menuju seberang sana. Tapi untuk
yang kesekian kalinya, seluruh perhatianku mengarah kembali pada titik kejadian
itu. Seperti ada sesuatu yang mencoba menarik perhatianku saat itu. Aku lantas
memperlambat langkahku saat melintas tepat di sebelahnya saat hendak
menyebrang. Sesekali mengamati setiap bagian kecilnya yang bahkan tak
seorangpun ingin memperhatikannya. Aku benar-benar seperti orang yang tengah
dihipnotis saat itu.
Bangkai mobilnya sudah disingkirkan dari tempat kejadian.
Entah kemana mereka membawa barang rongsokan tersebut. Sementara bis tersebut
masih berada di sana dengan kondisi yang sama. Yang mereka lakukan hanyalah memasangi
garis polisi di sekitar tempat kekacauan itu terjadi tadi. Jiwa penasaranku
sepertinya terlalu besar untuk hal semacam itu. Padahal aku tahu jelas jika itu
bukanlah hal yang ku kuasai. Aku bukanlah seorang ahli pada bidang itu, aku
__ADS_1
bahkan tak mengerti sama sekali dengan apa yang terjadi. Lantas kenapa seperti
ada puluhan pertanyaan yang harus dijawab olehku saat itu juga. Seperti
seolah-olah aku lah tersangkanya.
Arka lantas cepat-cepat menarikku dari sana, karena sebentar
lagi lampu lalu lintas akan berubah tanda. Jika kami masih berada di sana,
mungkin kami berdua lah yang akan menjadi korban tabrak lari berikutnya. Saat
itu pula aku merasa tersentak dan kembali tersadar. Aku tak tahu apa yang dan
siapa yang sedang menguasai pikiranku saat itu.
Seluruh perhatianku bahkan masih tertuju kepada objek itu
saat kami telah sampai di ujung jalan. Sepertinya hari ini aku terlalu
kelelahan, baik secara fisik maupun mental. Itu sebabnya aku sering merasa
seperti kehilangan kendali atas diriku sendiri. Atau bahkan yang lebih buruknya
mungkin bisa mengalami halusinasi yang bisa membahayakan diriku sendiri. Tidak!
Aku tidak ingin hal itu terjadi padaku. Aku masih terlalu muda untuk menegalami
hal semacam itu. Hidupku masih panjang dan harus tetap panjang. Masih banyak
cerita dam impian yang akan ku wujudkan satu-persatu. Terlalu banyak rencana
yang masih ingin ku lakukan saat ini. Jadi kuharap semoga Tuhan selalu
melindungiku.
“Kita beli minum dulu ya.” ujarku kepada pria itu.
Arka hanya mengangguk, mengiyakan perkataanku kala itu. Kami
lantas menuju finding machine minuman yang paling dekat dengan tempat kami
berdiri saat itu. Aku membeli dua botol air mineral untuk aku dan Arka. Ku
pikir air mineral akan membantuku untuk kembali fokus. Aku tak mau terus-terusan
seperti ini.
“Ini, buat lo.” ujarku sambil menyodorkan minuman tersebut
kepadanya.
“Terimakasih banyak.” balasnya.
Aku lantas melemparkan pandanganku ke arah pria itu, sambil
tetap meneguk minumanku. Aku tak tahu sejak kapan ia mulai menggunakan bahasa
formal seperti itu. Padahal aku dan dirinya bukanlah sepasang orang asing yang
baru saling mengenal. Kami sudah sangat dekat sejak pertama kali aku pindah ke
sekolah itu. Dan dia adalah satu-satunya orang yang berani mendekat padaku
terlebih dahulu. Atau mungkin sekarang ia benar-bebar sudah menganggapnya
seperti itu. Kami adalah dua orang asing yang barusaja bertemu kemarin, dan
pertemuan itu sama sekali tak disengaja. Cerita kami juga baru dimulai hari
ini.
Sepertinya pria ini sudah berhasil melupakan semua itu.
Menganggap semua hal yang pernah terjadi di masa lalu telah selesai sepenuhnya.
Karena pada kenyataannya memang sudah tamat. Ia tak pernah mengungkit atau
bahkan menganggap cerita itu pernah ada sebelumnya. Ia tak pernah bersikap
seperti itu saat berdiri di sini. Mungkinkah ini adalah awal dari sebuah cerita
baru yang baru akan mulai ditulisnya, atau justru inilah sebuah akhir dari
cerita kemarin yang belum sempat ia tulis. Sebuah bagian dari bab terakhir yang
belum tuntas dan sempat tertunda untuk beberapa waktu. Dan kini ia kembali
untuk meluruskan semuanya. Untuk mempertegas setiap jalan ceritanya, agar para
pembacanya tak tersesat. Supaya para tokohnya juga saling memahami situasinya.
Mungkinkah ini yang dia inginkan saat ini? Mungkinkah ia datang untuk
menuntaskan segala sesuatu yang belum tuntas di masa lalu itu?
“Lampu jembatannya udah dinyalaain!” seru Arka sambil
menunjuk ke arah objek raksasa di seberang sana.
Aku bisa melihat sekilas kegembiraan yang terpancar dari
dalam wajahnya. Senyumya kali ini benar-benar terlihat tulus. Ia seperti anak
kecil yang kegirangan karena di ajak ke pasar malam. Ekspresinya benar-benar
polos dan menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya. Aku lantas ikut tersenyum
tipis saat ia bersikap seperti itu. Seolah semua penat yang kurasakan hari ini
hilang begitu saja. Mendadak bahuku terasa begitu ringan dan hatiku terasa
lega.
Setidaknya hari ini aku pernah membuatnya bahagia.
Setidaknya aku telah menepati janjiku kepadanya. Paling tidak, jika benar hari
ini benar adlah akhir dari cerita yang tertunda itu, maka aku berhasil membuat
tokoh utamanya tersenyum lebar pada akhir ceritanya. Melihat tokoh utamanya
berakhir dengan bahagia, pasti pembacanya juga turut bahagia.
Sekurang-kurangnya aku berhasil membuat banyak orang tersenyum. Tersenyum untuk
melupakan sejenak masalah mereka. Tersenyum untuk membahagiakan diri mereka
sendiri yang terlihat begitu menyedihkan kala itu. Atau mungkin bisa membuat
mereka kembali bangkit pada titik terlemahnya kala itu. Senang rasanya bisa
membuat semua orang bahagia.
__ADS_1