
Kami telah sampai di toko buku yang ku maksud. Pengunjungnya tak terlalu ramai seperti toko-toko yang lainnya. Mungkin karena masih terlalu pagi dan toko ini baru saja buka, bisa jadi kami adalah pengunjung pertamanya untuk hari ini.
Aku berjalan tepat di samping Arka, mengikuti kemana ia pergi. Setiap lorong yang di pisahkan oleh rak-rak berisi buku telah kami lewati. Sebenarnya toko ini bisa di bilang lumayan lengkap. Karena selain menyediakan buku bacaan yang beragam, toko ini juga menjual alat-alat tulis yang lengkap. Karena tempat ini masih tergolong sepi, kami bisa berlama-lama disini tanpa perlu takut antrian yang panjang saat di kasir nanti.
Aku mengeratkan ikatan rambutku yang mulai mengendur. Sebenarnya buku apa yang sedang di cari pria ini.
"Nyari buku apaan sih?" Tanyaku.
"Novel lah."
"Iya tau, maksudnya novel yang genrenya gimana?"
"Hmmm...."
Pria itu akhirnya menghentikan langkahnya sebentar, ia membutuhkan sedikit waktu untuk memikirkan hal itu.
"Novel yang thriller, horor atau misteri gitu deh." Ujar Arka.
Aku segera menarik tangannya ke arah lorong di sebelah kanan kami. Disana terpampang jelas tulisan misteri. Apa ia tak membacanya dengan seksama.
Begitu sampai di ujung lorong, kami langsung disuguhkan pemandangan dari cover-cover novel yang tengah laris di pasaran saat ini. Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru, sambil tetap menarik tangan Arka.
Aku segera berlari ke ujung sebelah sana ketika melihat jejeran buku karya Risa Saraswati. Dia adalah satu-satunya novel bergenre horor yang ku ketahui. Karyanya juga cukup terkenal dan memang tidak di ragukan lagi kualitasnya. Ada beberapa jejeran buku di sana. Muslim dari kisah sahabat-sahabat gaibnya yang merupakan anak Belanda itu, dan juga ada kisah tentang beberapa hantu lokal. Aku yakin Arka pasti menyukai semua ini.
"Nih, pasti cocok deh." Ujarku.
Arka mengamati buku tersebut satu-persatu. Mulai dari sampul depannya, blurb yang dituliskan di belakang novel tersebut. Serta yang paling penting bagi nya adalah tebal bukunya.
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Arka memutuskan untuk membeli salah satu buku tersebut lalu membayarnya ke kasir.
Setelah itu kami pulang ke rumah. Arka langsung kembali ke rumahnya setelah mengantarku, karena memang banyak tugas yang harus ia selesaikan tepat waktu.
Di rumah tak ada seorangpun, hanya aku sendiri. Bibi sedang menemani nenek untuk jadwal check up nya ke dokter bulan ini. Dan Renata tentu saja wanita itu masih sibuk di kampusnya dan baru akan pulang sore atau malam nanti.
Hari ini aku sedikit rajin karena tak ada deadline yang harus segera ku selesaikan. Sebenarnya ada beberapa file tugas yang harus ku pindahkan dari laptop untuk diserahkan ke guru besok. Tapi aku bisa melakukan itu nanti malam saja.
Aku segera mengganti baju seragam ku dengan kaos oblong dan celana pendek selutut, kemudian menjepit rambut ku. Yang paling penting sebelum ujian kenaikan kelas adalah belajar, tapi kalian juga perlu yang namanya refreshing.
Siang ini aku memutuskan untuk maskeran, kemudian bersantai seharian di kamar sambil mendengarkan musik kesukaan ku atau menghabiskan buku yang belum selesai ku baca bulan kemarin.
Aku memgaduk beberapa sendok bubuk masker organik yang telah ku campur dengan air mawar, kemudian mengoleskannya secara merata di seluruh wajahku. Aku merobohkan diriku di atas kasur kesayanganku sambil menyetel sebuah lagu dari ponselku.
"Drrttt!!!"
Tiba-tiba saja ponselku bergetar pelan. Ada sebuah pesan masuk dari Zahra di grup. Sebenarnya kami telah lama membuat grup percakapan WhatsApp, hanya saja jarang ada yang berbicara di sana. Mereka semua sibuk, termasuk aku juga sebenarnya.
"Lagi pada apa guys!" Zahra.
Tak lama pesan-pesan lain segera datang dengan tujuan untuk membalas pesan Zahra.
"Lagi jam istirahat nih." Rahma.
"Sini makan bekal bareng." Rini.
"Hmmmm...." Eresha.
Untungnya mereka hanya mengirimkan pesan WhatsApp saja, jadi aku bisa membalasnya. Jika sampai mereka nelepon atau video call, aku tak tahu harus bagaimana lagi. Masker ku hampir mengering dan wajahku sudah tertarik olehnya sehingga tak bisa digerakkan sedikitpun. Jika aku sampai melakukan itu, mungkin maskernya akan retak dan aku harus memulainya ulang.
"Udah pada makan belum?" Rini.
"Belum, kirimin ke sini gih" Eresha.
Dengan lincahnya jariku melompat dari tombol yang satu ke tombol yang lainnya untuk merangkai kalimat tersebut.
"Elah, lo jauh di Jakarta gimana ngirimnya. Sayang di ongkir sha." Zahra.
"Eh, nanti kalau pas liburan sekolah kita rencananya mau ke Jakarta." Rahma.
"Ngapain?" Eresha.
"Mau ketemu lo lah. Udah kangen nih!" Zahra.
"Emang di kasih izin sama orang tua kalian?" Eresha.
"Kita belum ada ngomongin masalah ini sama orang tua kita sih." Rini.
"Kalau enggak di bolehin yaudah nurut aja. Jangan bandel!" Eresha.
"Jangan pesimis dulu sebelum mencoba." Rahma.
"Terserah deh, tapi aku yakin sih enggak bakal di bolehin." Eresha.
"Jahat banget sih." Rini.
"Bukannya gitu. Buktinya dulu aja kita enggak di kasih izin buat berenang bareng pas Minggu pagi kan? Padahal kolam renangnya deket banget. Boro-boro kalian mau nyusuli aku ke Jakarta." Eresha.
"Masih ingat aja sih, wkwkw." Rahma.
"Oh jelas, Eresha jangan di tanya lagi." Eresha.
"Tapi kita kan juga pengen liburan sekolah ke luar kota. Cari suasana baru, jangan di rumah mulu." Zahra.
"Nah iya. Tumben bener ra." Rini.
"Sayang ongkos lagian." Eresha.
"Mending nanti aja deh pas lulus kalian sekalian kuliah disini. Terus kita bisa kumpul-kumpul bareng kayak dulu deh." Eresha.
Sedetik kemudian aku langsung menghapus pesanku. Beruntung baru Zahra yang sempat membaca pesan itu. Akhirnya aku bisa bernafas lega sekarang ini.
Aku tak ingin menyakiti perasaan salah satu sahabatku ini. Rahma, ya aku takut kali ini salah bicara lagi. Setiap kali kami membahas tentang bagaimana ekspektasi kami saat kuliah nanti, ia selalu bungkam tak ingin ikut campur dalam masalah itu.
Aku, Zahra dan Rini berniat melanjutkan ke jenjang kuliah saat lulus nanti. Itupun jika ada kesempatan. Sejujurnya kami bertiga juga masih mengharapkan beasiswa dari manapun itu. Aku mempunyai impian sejak dulu untuk mendapatkan program beasiswa KGSP yaitu Korean Government Shcoolarship Program. KGSP adalah beasiswa yang di sediakan pemerintah Korea Selatan untuk beberapa negara yang menjadi anggota progam beasiswa tersebut, kurang lebih seperti itu.
Sama halnya dengan Rini dan Zahra yang merupakan pejuang beasiswa juga. Tapi berbeda halnya dengan Rahma, wajahnya selalu murung jika kami membahas soal itu. Ia pernah bercerita kepada kami jika selepas sekolah nanti, ketika ia sudah lulus gadis itu akan memilih untuk bekerja saja di banding duduk di bangku kuliah. Banyak alasan yang ia lontarkan, mulai dari biaya hingga tugas-tugas.
Tapi aku tahu jika ia tak ingin memberi tahu kami alasan yang sebenarnya. Aku bisa menangkap kilau penuh arti dari sorot matanya.
Tak ingin memperpanjang topik pembicaraan kami, aku langsung mematikan ponselku kemudian membilas masker wajah yang sudah benar-benar kering. Aku memilih untuk tidur siang sejenak.
***
17.20
Aku membuka kedua kelopak mataku perlahan, melirik benda bundar yang terus bergerak yang tergantung di dinding. Aish! Sudah berapa jam aku ketiduran di sini, dua atau tiga jam? Yang pasti sudah lebih dari satu jam.
Aku mencoba bangkit dari posisiku sekarang dengan mata yang masih terkantuk-kantuk. Setelah semua nyawaku terkumpul dan niatku sudah bulat akhirnya aku bangkit dari sana.
Aku berjalan menuruni tangga untuk menuju ke meja makan. Dari tadi sing aku belum ada makan apa-apa. Tapi tak ada apapun disana. Apa nenek belum pulang sehingga bibi belum sempat masak. Aku mengambil beberapa lembar roti tawar di atas kulkas kemudian menyiapkan beberapa isiannya seperti saos tomat, selada, telur mata sapi, tomat dan mentimun. Untungnya semua bahan mentah itu masih tersedia di kulkas.
Akhirnya aku memutuskan untuk memasak sandwich saja untuk makan siang. Lagipula ini akhir bulan, jadi aku harus menghemat. Jika aku memesan makanan fast food atau delivery makanan, pastinya akan memakan banyak biaya.
Setelah semuanya selesai, aku kembali ke kamarku dengan sepiring makan siang. Aku mengecek kamar nenek sebentar untuk memastikan apakah wanita itu sudah pulang atau belum. Pintu kamarnya tidak di kunci, dan memang tidak ada seorangpun di sana. Aku kembali melanjutkan langkahku menuju ke kamar.
Aku mengunyah sandwich yang baru saja ku gigit agar lebih mudah untuk di telan. Kemudian aku mengecek tugas-tugas yang harus ku selesaikan malam ini. Benar-benar tak ada tugas lain selain hanya memindahkan file-file itu ke ponselku untuk di serahkan kepada guru sebagai tugas akhir semester.
__ADS_1
Aku segera mengambil laptop di dalam laci kemudian menyalakannya. Aishh kemana flashdisk milikku, semua filenya ada di sana. Bisa mati aku jika sampai benda kecil itu hilang. Aku terdiam sejenak mencoba memperkuat daya ingatku, kira-kira dimana terakhir kali aku meletakkan benda itu.
Aku kembali mengeceknya di laci, karena aku yakin biasanya aku selalu meletakkannya disana setelah selesai digunakan. Bingo! akhirnya aku menemukannya. Benda kecil itu terselip diantara tumpukan buku-buku tulis. Aku tak akan kehilangannu lagi sayang.
Pelajaran yang ku dapat hari ini adalah: gunakan intuisi mu ketika logika mu tak bisa di ajak bekerja sama.
Setelah laptopnya menyala, aku lantas menancapkan benda kecil yang sempat hilang tadi di lubang yang telah di sediakan. Kemudian aku menyambungkan ponselku ke laptop dengan kabel USB. Setelah selesai memindahkannya, aku tak langsung mematikan laptop karena harus menaruh piring kotor ini ke bawah.
Sepertinya aku akan memberikan beberapa file yang tidak berguna lagi di flashdisk. Penyimpanan nya hampir penuh, aku tak ingin membuang uang hanya untuk membeli sebuah flashdisk baru.
"Drrttt."
Lagi-lagi ponselku berdering singkat. Aku lantas langsung mengecek, kali ini ada pemberitahuan apa. Hh, ternyata hanya pemberitahuan dari aplikasi berita harian.
Aku mengalihkan pandanganku kembali ke laptop, men-scroll semua file yang ada di sana. Aku menemukan satu file yang berisikan kumpulan foto-foto ku. Mungkin ini adalah foto di kota kecil itu, soalnya selama di Jakarta aku belum pernah berfoto.
Tiba-tiba secara refleks pandanganku tertuju pada kumpulan foto dengan seragam merah menyala. Itu foto kenangan ku selama berada di marching band. Aku menatap lekat layar laptopku sambil flashback dengan semua foto disana. Aku benar-benar rindu dengan suasana ini. Dengan suara kebisingan yang kami ciptakan dimana-mana, namun selalu mampu diterima oleh telinga kami yang cukup kebal.
"Eh, ini Kak Sendy?" Tanyaku dalam hati.
Aku memperhatikan foto itu secara seksama sekali lagi, memastikan jika aku tak salah orang. Iya benar ini adalah Kak Sendy. Aku bahkan tak mengingat kapan foto ini di ambil, ternyata dulu aku pernah foto bersama kakak seniorku yang satu itu. Setelah melepas rindu dengan hanya sekedar memandangi kumpulan foto tersebut terasa cukup bagiku, kurasa tidak ada yang perlu di hapus di bagian yang satu ini.
Aku segera beralih ke album foto lainnya. Semua file di flashdisk ini selalu ku urutkan berdasarkan kategori sehingga mudah mencarinya. Termasuk foto-foto ku, aku membuatkan sebuah album kecil disana yang ku beri nama sesuai kategori.
"Dear."
Sebuah judul album yang terletak di bagian paling bawah telah menarik perhatianku. Aku lantas mengklik tulisan yang terpampang jelas di layar laptop ku.
Aku terkejut bukan main ketika mendapati begitu banyak fotoku dan foto...... Kak Sendy disini. Aku melongo tak percaya, bagaimana bisa kami mempunyai foto sebanyak ini. Apakah kami dulunya begitu dekat. Tapi tunggu dulu, aku melihat sebuah foto di ujung sana, kelihatannya ini saat ulangtahun ku. Pria itu terlihat membawakan ku kue ulang tahun di foto tersebut, dan aku yakin jika foto ini di ambil saat sedang latihan. Tapi bagaimana bisa aku tidak mengingat sedikitpun tentang hal ini. Rasa penasaranku semakin menjadi-jadi, aku terus men-scroll semua foto tersebut hingga ke akar-akarnya.
Sekarang aki telah menemukan jawabannya! Pria itu, pria misterius itu. Wajahnya yang tak pernah ku lihat sedikitpun di dalam mimpi ku sebelumnya, sosok yang sempat hampir menghilang itu, kini bayangannya semakin solid membentuk suatu sosok yang ku cari selama ini.
Jadi.... pria itu adalah..... Kak Sendy? Tanganku bergetar hebat, kakiku kehilangan kekuatannya secara mendadak. Lidahku kelu, tak bisa berkata sepatah katapun. Aku terduduk lemas di atas lantai dengan tatapan kosong.
Dari kedua biji mataku keluar air mata yang telah terkumpul penuh. Aku memeluk kedua kakiku, menenggelamkan wajahku diantaranya. Aku menangis dalam diam. Hatiku seolah tersentak dengan hebatnya.
Akhirnya semua hal berharga itu kembali lagi ke hidupku setelah menghilang sekian lama. Kecelakaan yang merenggut semuanya, termasuk dia. Tragedi pahit yang menyisakan luka batin kian mendalam.
Ia yang dulunya pernah hadir di masa lalu ku, melengkapi setiap ketukan nada yang kami ciptakan bersama. Yang akhirnya menjadi sebuah lagu perpisahan yang paling ku benci.
Aku mengusap jejak air mataku yang tak henti-hentinya mengalir meski aku tak ingin. Dengan susah payah aku berusaha bangkit dari posisiku yang sudah tak bertenaga, aku benar-benar shock berat saat itu.
Tanganku meraih kursi yang tadi ku duduki. Aku menenangkan diriku sejenak atas kenyataan pahit yang barusaja ku terima. Aku melemparkan pandanganku ke sebuah figura yang tergantung di sebelah sana, di sisi dinding yang lainnya. Kedua mataku terpaku menatap lekat suasana selepas olimpiade waktu itu yang sempat terabadikan.
Aku mengumpulkan segenap tenaga yang tersisa di dalam tubuhku. Ku yakinkan langkahku untuk menemui Kak Sendy. Aku perlu memberitahu nya soal ini.
"Eh, mbak mau kemana? Kok nangis? Mbak!" Sahut bibi yang baru saja pulang.
Aku sama sekali tak menggubris pertanyaan nya barusan.
Apa Kak Sendy masih ada di kampusnya, atau di kost-an ayu dimana biasanya dia berada. Aku menghentikan langkahku sambil merutuki diriku sendiri. Aku tak tahu sekarang dimana pria itu berada.
Baiklah pertama-tama mari kita cek ke kost-an nya. Tempatnya tak begitu jauh dari sini. Aku memutuskan untuk naik ojek pangkalan yang berada di ujung kompleks ini agar tidak terjebak macet.
"Tok...tok...tok!!!"
Aku mengetuk pintu kamar kost nya berharap seseorang yang kucari berada disana. Dua menit kemudian keluarlah seorang pria berkaos hitam dengan rambut acak-acakan yang membukakan pintu untukku.
Aku memperhatikannya secara intens, memastikan jika itu benar orang yang sedang ku cari.
"Ada apa ya?" Tanya pria itu sambil mengucek matanya.
"Kak Sendy nya ada?"
"Oh Sendy, dia baru aja berangkat ke bandara."
"Dia mau ke Belanda buat seminggu kedepan, ada penelitian dari kampus nya." Jelas pria tersebut yang kelihatannya adalah teman sekamar Kak Sendy di kost.
"Udah lama perginya?"
"Belum sih, kalau mau susul seharusnya masih bisa sih. Karena pesawatnya baru berangkat jam delapan nanti."
"Oh gitu ya, terimakasih ya mas."
Pria itu mengangguk memilih untuk mengiyakan perkataan ku saja. Beruntung tukang ojek tadi belum pergi dari sana, aku memang menyuruhnya untuk menunggu sebentar.
"Pak, ke bandara ya!" Ujarku sambil menepuk pundak tukang ojek tersebut.
Sesekali aku melirik cemas ke arah jam tanganku. Semoga lalu lintas menuju bandara tidak macet, ku mohon... Hanya tersisa tiga puluh menit lagi.
Kenapa ia tak memberi tahuku jika hari ini ia ada perjalanan ke Belanda. Aku terus berharap dengan perasaan gusar. Semoga saja tak terlambat.
Aku sudah sampai di bandara, masih ada waktu sepuluh menit lagi. Aku buru-buru membayar ojek tersebut dengan uang yang tak sempat ku hitung sebelumnya. Aku langsung berlari masuk, mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru dan sudut bangunan itu.
"Eresha!" Sahut seseorang dari belakang.
Aku lantas memutar balik tubuhku. Tak ku sangka jika itu adalah Kak Sendy. Aku langsung memeluknya dengan erat, tangisku pecah saat itu juga. Aku menggigit bibir bawahku agar tak terisak, namun sama saja hasilnya.
"Kok disini, ngapain?"
"Kok nangis?"
"Kenapa, ada yang nyakitin kamu?"
Pertanyaan-pertanyaan itu tak henti-hentinya terlontar dari mulut pria itu. Namun aku tak memiliki kekuatan barang sedikitpun rasanya. Lidahku benar-benar kelu, aku tak bisa mengutarakan semuanya. Rasanya untuk saat ini aku hanya ingin menangis saja, tapi aku harus mengatakan ini. Aku kesini untuk memberitahu nya.
Aku melepaskan cengkraman ku terhadap dirinya. Kemudian mengatur nafasku untuk mulai berbicara.
"Pria misterius.... Aku udah tau semua jawabannya." Ujarku dengan suara yang masih terisak-isak.
"Maksudnya?"
"Aku udah ingat semuanya kak! Aku udah menemukan kembali jiwa yang hilang itu. Dia enggak pernah benar-benar hilang, dia selalu ada disisi aku."
Aku mencoba memperjelas kalimatku barusan.
Keduanya bola matanya membulat sempurna, ia hampir tak percaya dengan apa yang barusan ku katakan. Kedua sudut bibirnya terangkat sempurna membentuk sebuah senyuman yang lebar.
"Seriusan?" Ujarnya sambil membalas dekapanku.
Akhirnya sekarang waktu sudah berhenti bersekongkol dengan takdir, mereka berdua yang menciptakan sandiwara ini. Drama kini telah selesai, separuh hati yang sempat terpisah kini kembali satu. Meski masih rapuh dan tak sekokoh dulu, mereka tetap akan melindungi satu sama lain. Satu hati yang sempat terpecah kini akan melanjutkan sisa hidupnya dengan kepingan-kepingan tajam yang masih menyisakan luka.
"Lalu bagaimana dengan Arka?" Bisik pria itu dengan suara parau ditelinga ku.
Lagi-lagi aku merasa seolah diriku telah dijatuhkan dari atas gedung pencakar langit. Aku tak bisa berkata apapun. Bagaimana nasib Arka setelah ini. Sebenarnya Kak Sendy adalah pria misterius itu, yang kuharap kan akan kembali lagi kehidupku. Sampai saat ini posisinya belum bisa tergantikan oleh siapapun, termasuk Arka. Disatu sisi aku juga tak ingin membuat Arka merasa sedih apalagi sampai patah hati.
Pria ini kemudian melepaskan dekapannya, kedua tangannya memegang erat pundaku. Ada suatu kata tak terucap yang sebenarnya sedang ia sampaikan saat ini.
"Kuatkan dirimu!"
Kira-kira begitulah kalimat kiasan yang dapat ku tangkap dari bahasa tubuhnya.
"Aku harus pergi sekarang. Jaga diri baik-baik ya." Ujar Kak Sendy dengan senyum yang terlihat sedikit memaksa.
Aku hanya mengangguk lemah menjelang kepergiannya. Setiap hal di dunia ini pasti selalu mengalami siklus yang sama. Mereka datang kemudian pergi, silih berganti. Soal akan kembali lagi atau tidaknya, itu bersifat opsional. Tergantung lagi kepada takdir, manusia hanya bisa terus berharap. Entah harapannya itu akan terjadi atau tidak, manusia tak peduli itu. Yang penting mereka sudah berusaha. Meski terkadang ada hal yang tak pantas untuk kita harapkan.
__ADS_1
Aku hanya bisa menatap punggungnya yang kian menjauh dariku. Aku mencoba menahan tangis kali ini, aku bukan anak yang cengeng! Aku benci menangis! Ayo, berhentilah untuk mengalir!
***
Aku duduk di bangku paling ujung dekat pintu. Duduk termenung di kala malam temaram hari itu. Sesekali menyeruput kopi latte dari cup kecil tersebut sambil menikmati live music.
Aku melirik sekilas ke benda bundar yang tergantung di dinding cafe. Sudah pukul sepuluh malam, satu jam lagi cafe ini tutup. Aku bergegas menghabiskan kopi latte yang tinggal tersisa sepertiganya, kemudian membayar tagihannya di kasir.
Aku bahkan lupa untuk mengambil hoodie saat pergi tadi, aku terlalu terburu-buru hingga melupakan hal kecil yang sebenarnya akan menjadi sangat penting di saat-saat seperti ini. Untungnya aku tak lupa membawa beberapa lembar uang cash di saku celanaku.
Aku bahkan tadi tak sempat mengganti bajuku terlebih dahulu. Sehingga aku masih dengan kaos oblong dan celana pendek model training. Jika diperhatikan sekilas aku terlihat seperti seorang gembel yang sedang berkeliaran di jalanan ibukota.
Aku melambaikan tanganku di tepi trotoar untuk menyetop sebuah taxi yang datang dari arah utara. Sepanjang perjalanan aku hanya bisa diam membisu.
***
"Dari mana?"
Tiba-tiba suara itu langsung menyambut ku sesaat setelah membuka pintu gerbang. Aku melihat Arka dengan ekspresi yang tak bisa ku tebak. Ia melipat kedua tangannya didepan dada sambil menyorotiku dengan lekat. Aku tak berani membalas tatapannya yang kali ini terlihat sangat menyeramkan. Aku terus berjalan masuk kedalam rumah tanpa menghiraukan nya sedikitpun.
"Hari gini baru pulang!" Ujar Arka sekali lagi.
Kali ini nada bicaranya lebih tinggi. Ia terlihat serius, tak sedang bercanda. Cengkraman tangannya berhasil menghentikan langkahku seketika. Aku menghela nafas panjang, kemudian memutar balik tubuhku menghadap pria ini. Lagipula ada urusan apa ia kesini.
Aku menaikkan salah satu alisku, sembari membalas tatapan maut tersebut.
"Sekali lagi aku tanya, dari mana?"
Arka terlihat jelas sedang meningkatkan level kesabarannya yang perlahan hampir tak tersisa.
"Cari angin." Balasku singkat.
"Iya cari anginnya kemana? Bibi bilang tadi kamu pergi dari rumah sambil nangis dan enggak bilang mau kemana. Kamu tahu nggak, kalau kamu itu udah bikin panik seisi rumah. Kita takut kamu kabur atau nekat kayak waktu itu." Jelas Arka.
Jadi Arka tahu aku pergi dari bibi. Pantas saja malam-malam seperti ini ia berada di depan rumahku, tak biasanya.
"Liat sendiri kan, aku enggak apa-apa. Aku enggak bakalan nekat lagi lah ka..." Jawabku acuh tak acuh.
Kondisiku saat ini sedang lelah secara fisik juga mental. Aku perlu istirahat dan memenangkan diriku sejenak, tapi malah harus meladeni pria yang satu ini. Huft!
"Disaat kamu nekat bukan hanya kamu yang beresiko untuk terluka, tapi orang lain juga bisa sha."
Arka mencoba memberikan ku pengertian. Ayolah! Aku bahkan tak melakukan hal semacam itu sedikitpun. Kenapa mereka selalu menganggap ku seperti seorang psikopat disaat aku sedang emosi. Sebenarnya pada realita, aku sangat jauh dari asumsi mereka itu. Mereka semua terlalu khawatir akan hal itu.
"Apa aku selalu terlihat begitu berbahaya dimata kalian?" Tanyaku.
Aku nekat menerobos masuk saja meski Arka masih menggenggam tanganku. Namun cara berpikir pria ini selangkah lebih maju, ia selalu memiliki jutaan cara yang tak pernah ku duga. Tiba-tiba ia memojokkan tubuhku di sudut pintu garasi. Kedua tangannya mengunci tubuhku untuk tetap berada disana. Wajahnya hanya berjarak sepuluh centi dari wajahku. Dasar gila!
"Kasih tau aku, kamu habis dari mana?" Tanya Arka sambil mendengus kesal.
"Kamu enggak bakalan ngerti ka...."
"Jawab aja sha... Dari mana!"
"Okey! Aku jawab. Aku dari bandara!"
"Bandara?"
Ia mengerutkan dahi nya heran. Arka memundurkan sedikit wajahnya dari hadapanku, tanpa membiarkan aku kabur dari sana. Syukurlah akhirnya aku bisa bernafas lega, fiuh...
"Ngapain?" Tanyanya lagi.
"Kak Sendy... Dia bakalan ada tugas penelitian ke Belanda untuk seminggu kemudian." Jelasku.
"Kok enggak ngasih tau aku? Kan kita bisa barengan kesananya."
"Udah aku bilang kamu enggak bakalan ngerti."
Aku tak tahu bagaimana harus memulainya. Hal ini sangat sulit untuk dijelaskan.
"Aku udah tau siapa cowok misterius yang selama ini selalu datang ke mimpi aku ka..."
Lagi-lagi Arka kembali mendongakkan kepalanya kearah ku, dan sukses membuatku kesulitan bernafas lagi.
"Serius?"
Mata Arka membulat dengan sempurna.
Aku tahu jika ini menyakitkan baginya. Tapi aku harus tetap mengatakan ini.
"Dan dia adalah orang yang aku cintai dulu, hingga sekarang ka..." Ujarku dengan suara terisak.
Aku bahkan tak menyadari jika air mataku lagi-lagi telah menetes. Arka melekatkan dahinya dikepalaku. Pria ini juga turut menangis, maafkan aku Arka.
"Kita masih bisa kan tetap bersama kayak dulu dan untuk seterusnya?" Tanya Arka.
Kilau matanya penuh harap, ia menangkup kedua pipiku dengan tangannya. Aku tak bisa memberi jawaban yang pasti untuk saat ini.
"Jika aku boleh egois, bolehkah aku mencintai kalian berdua? Aku tak ingin kehilangan salah satu dari kalian." Ujarku sambil menahan tangis.
"Kalau aku juga boleh egois, bolehkah aku mencintaimu tanpa harus dimiliki oleh orang lain juga? Hanya aku yang berhak mencintaimu tanpa pernah ada kata perpisahan. Katakan jika kamu memang di takdirkan untuk aku."
Ucapan Arka barusan benar-benar membuatku kehabisan kata-kata.
"Aku tau ini berat bagi kamu ka, dan bagi aku juga. Tapi kita harus belajar untuk nerima semua ini." Ujarku dengan kata-kata sok bijak, padahal diriku sendiri tengah rapuh.
"A...aku pengen ki...ki....ta... putus." Ujarku dengan nada terbata-bata.
Jujur aku enggan mengucapkan kalimat itu, tapi ini harus ku lakukan. Arka berhak bahagia bersama hati yang seharusnya memang di takdirkan untuknya, dan yang pasti itu bukanlah aku. Untuk saat ini harus ada hati yang rela menahan perih demi menyelamatkan hati yang lainnya. Hati itu belum sepantasnya mati karena rasa kecewa yang membunuhnya, menikamnya bertubi-tubi.
"Enggak sha... Aku enggak mau..."
Arka langsung menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat. Sudah kuduga ia pasti sama sepertiku, tak mudah untuk melupakan semuanya.
"Mulai sekarang kamu harus benci sama aku Arka. Karena aku memang pantas untuk kamu benci."
"Enggak sha... Keputusan ini enggak bisa diambil secara sepihak."
"Bisa disaat memang benar-benar perlu."
"Oke, kita putus!" Ujar Arka kemudian mundur beberapa langkah dari posisinya sekarang ini.
Kalimat barusan terasa tajam menusuk jantungku. Aku mengepal kuat kedua tanganku. Aku kembali mendongakkan wajahku yang sempat tertunduk tadi, memaksakan sebuah senyum untuk mengembang disana. Senyuman yang terlahir dari sebuah luka.
"Tapi aku enggak akan pernah membenci kamu. Karena bagaimanapun kamu adalah seorang peri kecil yang pernah menemani si kurcaci ini. Tak ada satupun alasan kenapa kurcaci berhak untuk membenci peri."
"Arka..." Balasku dengan suara lirih.
"Aku terpaksa menyetujui ini, karena memang aku tau hanya ini satu-satunya jalan supaya kamu bahagia. Aku tahu betapa selama ini kamu diselimuti sejuta pertanyaan, banyak teka-teki, semua yang hadir menyapa terkesan seolah misterius."
"Sudah waktunya kamu tahu semuanya. Jawaban yang kamu cari selama ini sudah kamu dapatkan."
"Karena sebenarnya dirimu sendirilah yang menuntun mu pada jawaban itu. Selama ini kamu mengikuti intuisi kamu, suara hati kamu dan ikatan batin kalian berdua. Semua hal itu yang membawamu pada jawaban itu."
Bagaimana bisa kata-kata Arka sedalam ini maknanya. Lagi-lagi aku tak bisa berkata banyak.
__ADS_1
Kemudian Arka bergegas menyalakan sepeda motornya, melaju kencang meninggalkan tempat ini dengan emosi yang tak beraturan. Sementara aku sendiri yang masih mematung ditempat, tubuhku melorot ke lantai. Lemah tak berdaya tanpa tenaga sedikitpun. Bahkan tangisanku kini tak bersuara, diam, sunyi, bisu, membaur dalam hitam legam langit malam.