
Setelah selesai membuka hadiah yang anggap saja sebagai sebuah pemanasan untuk hadiah berikutnya. Atau mungkin sesutatu yang bisa ku jadikan sebagai sebuah clue, walaupun aku tak perlu hal itu sama sekali karena semuanya telah jelas.
Selanjutnya ada sebuah stick khusus quintom yang memang agak berbeda daripada stick drum pada umumnya. Stick sebagai alat pemukul alat musik yang satu ini, memang memiliki ukuran yang lebih kecil dan ringan. Ada banyak alasan yang membuatnya diciptakan seperti itu. Tak ada yang istimewa, hanya stick biasa saja, seperti pada umumnya. Aku bahkan tak tahu kenapa ia memberi hadiah semacam ini kepadaku, padahal pria itu tahu dengan jelas jika aku tak pandai sama sekali untuk memainkan alat musik sejenis perkusi.
“Itu apa lagi?” tanya Arka dengan suara yang terputus-putus.
“Stick untuk alat musik qunitom.” jelasku.
Aku tak tahu pasti apakah sekarang ia bisa mendengar suaraku dengan jelas atau tidak. Sepertinya koneksi internetnya sedang terganggu karena hujan. Tak lama setelah aku sampai di rumah tadi, langsung turun hujan yang cukup lebat. Sepertinya itu menjadi salah satu alasan kenapa malam ini hawanya begitu dingin. Tapi tak apa jika hujannya tetap berlangsung hingga saat ini. Tak ada masalah juga kecuali jika hal itu membuat koneksi internetnya mati, atau yang lebih buruk lagi malah listrik yang mati.
Tak lama setelah aku memikirkan hal buruk itu, yang benar saja jika kejadian itu akan benar-benar terjadi setelahnya. Aku menyesal telah membayangkan kejadian itu di dalam pikirankku sebelumnya. Aku tak tahu apakah ini karena kekuatan pikiranku yang sehebat itu, atau malah karena memang kebetulan. Mungkin memang hanya sebuah kebetulan, hal semacam ini selalu terjadi.
“Yah, pake mati lampu segala lagi!” gerutuku pelan.
Aku lantas segera menyalakan lampu meja belajarku yang memang tak menggunakan listrik sebagai sumber daya utamanya. Beruntung aku berada pada jarak yang sangat dekat dengan benda itu. Jadi aku tak perku bangkit kemudian berjalan tak tentu arah di dalam kamar sendirian. Ini jauh lebih baik, sedikit cahaya setidakknya bisa membatuku untuk melihat di dalam kegelapan. Walaupun aku tak tahu akan mampu bertahan sampai kapan benda yang satu ini.
Aku memeriksa layar ponselku yang sepertinya sudah mati, karena benda persegi panjang itu hanya menunjukkan tampilan hitam legam. Baterainya juga hanya tinggal tersisa sepuluh persen lagi. Sebaiknya aku isi ulang dayanya ketika lampu sudah kembali menyala saja.
“Dimana yang satu itu?” tanyaku pada diriku sendiri.
Aku berusaha menemukan sesuatu yang hilang dari pengelihatanku. Sesekali aku mengarahkan sorot lampu tersebut ke berbagai arah. Tapi sayangnya semua usaha yang telah ku lakukan itu hasilnya tetap saja nihil. Bagaimana bisa aku kehilangan benda kecil yang satu itu. Bahkan aku belum sempat mengecek apa isi di dalamnya.
Kini flashdisk itu telah hilang entah kemana, di telan kegelapan mungkin. Itu adalah hadiah terakhir yang belum sempat ku buka. Ukurannya yang sangat kecil, membuatku kesulitan untuk menemukannya lagi. Kenapa aku bisa begitu ceroboh seperti ini. Sepertinya aku telah mengecewakan pria itu, ia bilang jika aku tak boleh menghilangkan salah satu dari barang pemberiannya. Tapi sekarang aku telah melakukan hal bodoh itu, tanpa disengaja. Aku benar-benar payah dan tak bisa untuk diandalkan sama sekali.
Tapi aku yakin jika aku pasti bisa menemukan benda itu lagi, aku berani berjanji untuk itu. Lagipula benda yang satu itu tak mungkin beranjak kemana-mana dengan sendirinya. Pasti flashdisk itu tak pernah benar-benar hilang dari tempat ini. Sama seperti sebuah harapan dan impian di masa lalu yang akan selalu membekas di ingatanku.
“Ouchhh!!!” teriakku kesakitan.
“Benda apa yang barusan tak sengaja ku pijak itu?” batinku dalam hati, sambil menyoroti lantai tersebut dengan lampu.
‘Bingo!’
Sudah ku duga, apa yang ku bilang tadi. Aku pasti bisa menemukan benda ini kembali. Ternyata benda ini ada di bawah sana, tapi bagaimana bisa hal itu terjadi. Seingatku terakhir kali aku meletakkannya di atas meja ini. Tapi ya sudahlah, lagipula hal itu tak perlu di permasalahkan. Yang penting sekarang flashdisk ini telah kembali ke tanganku.
Tanpa pikir panjang, aku segera menancapkan benda berwarna putih tersebut ke dalam laptop untuk melihat apa isinya. Pasti ada sesuatu yang menjadikannya alasan untuk memberiku kado ulang tahun semacam ini. Aku membaca semua nama filenya sambil mengeryitkan dahiku, kemudian sedikit mendekatkan tubuhku ke arah laptop tersebut. Sepertinya ada sesuatu yang salah dengan nama file-file di sini.
“Titrasi, larutan asam dan basa, kesetimbangan larutan, larutan penyangga.” ejaku sambil menggaruk kepalaku yang tak gatal.
Apa ia mencoba menghinaku secara tak langsung, dengan memberikan file yang berisi materi pelajaran kimia untuk kelas sebelas. Hey! Apakah pria itu lupa jika sekarang aku telah berada di kelas dua belas, dan sebentar lagi akan lulus. Apa jangan-jangan Kak Sendy sengaja meledekku dengana hal ini, karena aku tak begitu baik di pelajaran kimia. Aku tahu soal hal itu, tapi tak perlu meledekku seperti ini. Yang ia lakukan sama sekali tak lucu bagiku.
Tunggu sebentar, sepertinya ada sesuatu yang salah. Aku telah berusaha untuk mengingatnya dengan jelas dan memastikannya berulang kali.
“Ya Tuhan, kenapa aku begitu bodoh!” cercaku pada diriku sendiri.
Aku menepuk pelan dahiku, kemudian mengacak-acak rambutku dengan kesal. Ini bukan flashdisk yang benar, aku pasti salah lagi. Bukankah ini flahsdisk milikku yang sengaja disiapkan untuk membantuku dalam menghadapi ujian kimia tahun lalu. Lalu bagaimana bisa aku mengira jika ini adalah salah satu flashdisk yang kudapatkan dari tabung gambar itu. Aku benar-benar tak habis pikir dengan kebodohanku sendiri. Ku rasa siapapun itu yang memasukkanku ke kelas unggulan, pasti telah membuat suatu kesalahan besar.
Aku merutuki diriku sendiri dengan kesal. Sesekali menghentak-hentakkan kakiku ke lantai dengan perasaan yang tak kalah kesalnya. Bagaimana aku bisa lupa jika aku memiliki lebih dari lima flashdish di tempat ini, yang benar saja. Beberapa orang menganggapku sebagai jenius, namun tak sedikit di antaranya yang malah menganggapku sebaliknya.
“Kau terlalu jenius, sehingga orang-orang menganggapmu sebagai seorang idiot.” bisik seseorang di telingaku
“Siapa itu?” tanyaku dengan spontan.
“Stef….” lirihku sambil menoleh ke arah Stefani.
Tapi yang ku temui hanyalah Stefani yang sedang tertidur pulas. Posisinys tak berubah sama sekali dan aku sangat yakin jika tak mungkin gadis itu yang melakukannya. Suara itu lebih terdengar seperti suara seorang pria. Tapi tak mungkin jika ada orang lain yang masuk ke sini, karena aku yakin telah mengunci kamarku.
Kenapa suasananya malah berbalik menjadi menyeramkan seperti ini. Semakin lama atmosfir di sekitarku berubah menjadi kian mencekam. Kegelapan seolah mencekikku dan membuatku terpatri di dalamnya. Aku benci kegelapan yang selalu menyulitkanku.
‘Brakk!!!’
***
Pagi ini tak sepeti biasanya, Stefani pergi ke sekolah sendirian tanpa gadis itu. Tunggu dulu, dimana tokoh utama kita berada. Seorang anak perempuan yang bernama Eresha Caitlyn Ananda itu.
Stefani menenteng tasnya untuk masuk ke dalam kelas. Kali ini ia berangkat jauh lebih awal dari pada biasanya. Sesekali ia meniup-niup poninya dengan kasar dan membuat susunannya menjadi tak beraturan lagi.
“Eresha mana? Kok nggak bareng sama lo, tumben banget.” tanya Arka secara tiba-tiba.
Pertanyaan itu langsung dilontarkan kepada gadis itu, sesaat setelah ia menghampiri teman-temannya itu. Seperti yang sudah ia duga sebelumnya jika akan seperti ini nantinya. Stefaani mengambil nafasnya dalam-dalam, sebelum memulai bebicara.
__ADS_1
“Sekhawatir itu lo sama Eresha, ha?!” ujar Stefani dengan nada bicara tak senang.
“Ya wajar lah, dia kan pacar gue!” balas Arka yang tak kalah ngegas.
“Baru sadar sekarang kalau Eresha itu pacar lo?” sindir gadis itu dengan sinis.
“Kemarin kemana aja lo? Ada ya orang yang ngehina pacarnya sendiri di depan umum?” lanjut Stefani dengan kalimat yang jauh lebih menusuk.
‘Brakk!!!’
Pria itu kelihatannya tak sabar lagi dengan Stefani. Gadis yang satu ini selalu cari gara-gara dengannya. Hari ini suasana hati pria itu sudah berantakan saja, padahal masih pagi seperti ini. Stefani memang membawa banyak hal buruk baginya. Arka tak pernah paham bagaimana Eresha bisa bersahabat dengan gadis ini.
“Gue nanya baik-baik, kok lo jawabnya malah nyolot!” bentak Arka yang mulai tak bisa mengendalikan dirinya sendiri.
“Emang gitu kan kenyataannya.” balas Stefani dengan setenang mungkin.
“Udah! Kok malah berantem sih!” ujar Adit yang berusaha untuk melerai keduanya.
Apakah tak bisa jika sehari saja mereka tak membuat keributan. Melihat momen di saat kedua orang ini menjadi sangat akrab adalah hal yang mustahil.
“Masalah kemarin enggak usah diperpanjang lagi. Alice itu Cuma sepupunya Arka, dia adiknya Arsen. Orang yang kalian temui pas acara party di mansion Keluarga Arka.” jelas Titan yang mulai buka suara.
Sepertinya Stefani memang telah ketinggalan berita yang satu itu. Karena Arka sudah menjelaskan semuanya tepat sebelum Stefani datang.
“Clara mana?” tanya Stefani yang tampaknya baru menyadari hal tersebut.
“Dia harus pergi ke Yogyakarta buat beberapa hari kedepan.” jawab Titan dengan apa adanya.
“Loh kok mendadak sih? Ngapai emang?” tanya gadis itu lagi.
“Clara ikut lomba main piano, kita doain aja supaya dia menang.” balas Titan yang tampaknya serba tahu ini.
“Biar kita dapat traktiran.” timpal Adit dengan seenak jidatnya saja.
Sementara Stefani hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, dengan mulut yang membulat sempurna. Sepertinya untuk hari ini hanya gadis itu lah yang menjadi satu-satunya perempuan di sana. Di dalam geng mereka maksudnya.
“Sekarang giliran lo yang jawab pertanyaan kita. Eh, pertanyaan gue maksudnya.” ujar Arka dengan tatapan yang tak menyenangkan.
“Eresha nggak ke sekolah hari ini.” jawab Stefani dengan sedikit terpaksa.
“Loh, kenapa?” tanya Arka yang langsung memasang tampang cemasnya.
“Eresha lagi nggak enak badan, dia agak demam.” Jelas Stefani sambil meletakkan tasnya yang masih ia sandang sedari tadi.
“Kok bisa?” tanya Arka sekali lagi.
“Gue nggak akan jawab yang satu itu. Karena gue cuma nanya dua pertanyaan tadi, dan itu artinya lo juga cuma boleh ngajuian dua pertanyaan buat gue.” jelas gadis itu dengan panjang lebar.
“Dasar perhitungan lo sama temen sendiri!” protes Arka tak terima.
“Jin di dalam botol aja bisa ngajuin tiga permintaan, ya kali lo cuma ngasih dua.” lanjutnya.
“Heh! Lo kira gue jin apa?!” balas Steafani yang mulai merasa tersindir.
“Itu artinya om jin jauh lebih baikd dari pada lo.” sindir Arka sekali lagi.
Titan dan Adit hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan keduanya. Padahal mereka sekarang sudah duduk di bangku SMA, kelas dua belas pula. Tapi kelakuannya setiap kali bertemu selalu saja seperti anak kecil. Mereka semua sudah menyerah terhadap Arka dan Stefani, yang jika sudah berkelahi tak peduli dengan keadaan sekitarnya. Sudah sebibu satu cara mereka lakukan untuk mengakurkan keduanya. Tapi sepertinya kedua anak manusia ini tak akan pernah damai untuk selamanya.
***
‘Tok! Tok! Tok!’
Seseorang mengetuk pintu kamarku dari balik benda tersebut. Mungkin bibi atau mama yang ingin mengantarkan makan siang untukku. Atau mungkin juga untuk mengingatkanku agar meminum obatku dengan segera. Karena pada kenyataannya aku belum ada menyentuh benda itu sama sekali sejak tadi pagi. Entahlah, biasanya aku tak terlalu sulit untuk minun obat, bahkan tak perlu dipaksa sama sekali aku pasti akan meminumnya. Tapi kali ini rasanya beda, tak biasanya aku seperti ini.
“Masuk!” balasku dari kamar.
‘Ceklek!’
Beberapa saat kemudian aku mendengar jika gerendel pintunya telah dibuka. Pasti orang itu sudah masuk ke sini. Sementara itu, aku masih bersembunyi di balik selimutku sambil berkutat dengan poselku. Entah sudah berapa lama aku melakukan hal semacam itu, bahkan aku tak tahu sudah jam berapa sekarang ini.
__ADS_1
“Sha…” sahut seseeorang sambil menepuk pundakku pelan.
“Udah pulang stef?” tanyaku yang masih tetap pada posisi sebelumnya.
“Udah, tapi gue nggak sendirian loh.” jawabnya dengan nada bicara yang sedikit menggantung.
“Liat dong siapa yang datang.” lanjutnya sambil menarik selimutku.
Mau tak mau aku harus berbalik dan mengalihkan pandanganku dari ponsel tersebut. Aku membalikkan badanku yang sedang dalam posisi rebahan, sambil agak sedikit mengulet. Kenapa gadis ini tak mengatakannya secara langsung saja. Benar-benar membuatku repot saja, padahal ia tahu jika aku tak memiliki cukup tenaga lagi.
“Eh, kalian?!” tanyaku yang terkejut bukan main.
Bagaimana bisa Stefani membiarkan ketiga pria itu masuk ke kamarku bgitu saja. Terlebih lagi gadis ini tak memberitahuku jika mereka akan datang ke sini. Aku buru-buru merebut kembali selimut tersebut dati tangan Stefani. Aku tak ingin jika mereka melihat penampilanku yang terkesan berantakan ini. Hari ini aku juga sedang mengalami bad hair day. Benar-benar buat malu saja. Jika tadi Stefani memberitahuku soal hal ini, aku pasti menyempatkan diriku untuk bersiap sebentar saja.
“Ngapain?” tanyaku dengan ketus.
“Emang nggak boleh apa jenguk temen sendiri?” balas Adit yang justru bertanya balik padaku.
“Lagian kenapa datangnya dadakan sih?” tanyaku sekali lagi, sambil berdecak sebal.
“Ya lo sakitnya juga dadakan.” jawab Titan yang menyandarkan dirinya di ambang pintu.
“Biar surprise aja.” timpal Adit yang main sambar saja.
“Cih! Dasar.” balasku.
“Nih kita bawa buah buat lo, cepat sembuh ya.” ujar Titan sambil meletakkan bungkusan tersebut di atas meja belajarku.
“Cepat balik ke sekolah. Emangnya mau kalau tempat duduk di sebelah aku malah diisi sama cewek lain?” ucap Arka sambil tersenyum licik.
Aku buru-buru melemparnya dengan bantal yang berada tepat di sebelahku. Lihat saja perhitunganku nanti, kalalu sampai hal itu terjadi.
“Tapi ada sesuatu yang aneh tau guys.” ungkap Stefani secara tiba-tiba.
“Maksud lo?” tanya Arka sambil mengernyitkan dahinya..
“Tadi pagi pas gue bangun, lampu meja belajar punya Eresha udah pecah dan belingnya berserakan dimana-mana.” jelas gadis itu yang tengah duduk di atas kasur.
“Terus gue coba bagunin Eresha, eh katanya dia malah lagi nggak enak badan dan badannya emang bener-bener panas saat itu. Tapi pas gue cek, Eresha enggak ada terluka sama sekali.” lanjutnya.
“Nggak sengaja kesenggol doang kali, makanya bisa pecah.” balas Titan yang terlihat berpikir lebih logis.
“Nah, bener!” timpal Adit yang ikut membenarkan perkataan sahabatnya barusan.
Kami dian untuk beberapa saat, saling bisu dan menatap satu sama lain. Entah karena kehabisa bahan obrolan atau karena hal lainnya.
“Flashdisknya ilang ka.” ujarku pada pria itu.
“Tapi kamu udah sempat liat apa isinya kan?” tanya Arka padaku..
Aku hanya bisa menggeleng-gelenkan kepalaku dengan pasrah. Aku sangat menyesal dan terus merutuki diriku sendiri. Andai aku bisa menjadi seperti merreka, yang nyaris tak pernah melakukan kecerobohan yang telah menjadi kebiasaanku. Aku tak tahu jika akibatnya akan benar-benar fatal sekarang. Kecerobohanku telah merusak semuanya, padahal kemarin itu sedikit lagi peretanyaanku akan terjawab dengan seutuhnya.
“Hai, semuanya!” sapa seseorang dari ambang pintu.
“Nih tante bawain beberapa kue sama teh hangat buat kalian.” ujar mama sambil meletakkan isi dari nampan tersebut di atas karpet.
“Terimakasih banyak tante.” balas mereka semua secara bersamaan.
“Ya udah, lanjutin ngobrolnya. Tante mau ke dapur dulu.” pamit wanita paruh baya tersebut.
Setelah mama benar-benar telah pegi, kami kembali melanjutkan obrolan yangs sempat tertunda tersebut. Kelihatannya hanya aku dan Arka yang mengerti tentang flashdisk itu. Mereka semua mungkin hanya mengira jika itu cuma flashdisk biasa yang digunakan untuk menyimpan sesuatu pada umumnya. Tapi menurutku barang yang satu itu, lebih dari sekedar flashdiask biasa yang mereka tahu.
Sementara yang lainnya sibuk dengan cemilan dan teh hangat yang barusaja diantarkan oleh mama, Arka menganggap hal ini sebagai kesempatan bagus. Sebaiknya memang mereka tak perlu tahu soal hal ini, karena aku tahu jika mereka belum siap dan belum tentu akan mengerti dengan semua ini. Aku takut mereka salah paham jika sampai tahu aku telah menerima hadiah dari pria lain.
Pria itu mengasingkan dirinya dari kerumunan orang lainnya. Aku dan Arka memilih untuk melakukan perbincangan pribadi. Pria itu mendekatkan dirinya ke arahku dengan rasa penasaran.
“Kok bisa hilang sha?” tanya pria itu.
“Aku juga nggak tahu ka.” balasku apa adanya.
__ADS_1
“Kemarin tiba-tiba aja mati lampu, karena hujan deras. Orang bilang trafo listrik daerah sini rusak lagi. Setelah itu flashdisknya ilang gitu aja, nggak tau kemana. Aku udah coba cari tapi nggak ketemu.” jelasku dengan oanjang lebar.
“Abis itu apa yang terjadi?” tanya nya sekali lagi.