Pengagum Lara

Pengagum Lara
Episode 64


__ADS_3

'BRUKK!!!'


Tiba-tiba saja tubuhku tersungkur di atas hamparan pasir tersebut.


"Sha, kenapa?!" Ucap Arka sambil membantuku berdiri.


Aku membersihkan tangan dan kakiku yang menjadi kotor karena terkena pasir. Rasanya aku tahu apa alasannya, kenapa semua ini bisa terjadi secara tiba-tiba seperti ini. Mungkin saja ini adalah efek jangka panjang dari dua kecelakaan sebelumnya.


Semenjak kecelakaan yang ku alami untuk pertama kalinya, lutut ku menjadi cedera berat. Di tambah dengan kecelakaan yang terakhir ini, juga menyerang bagian kakiku. Ku rasa kondisi kaki ku sudah semakin melemah. Ia tak mampu lagi menopang tubuhku. Kenapa harus kakiku yang menjadi korbannya.


"Enggak apa-apa sha?" Tanya Arka khawatir.


Aku menggeleng-gelengkan kepalaku.


"Kamu kenapa kok bisa jatuh tiba-tiba gitu?" Tanya nya lagi.


"Kesandung mungkin." Jawabku.


"Tapi enggak ada batu atau apa loh yang bisa buat kamu kesandung, yakin enggak apa-apa?" Jelasnya.


Aku tahu pria ini tak semudah itu untuk dibodohi. Tapi aku akan tetap berusaha menutupi semuanya, aku tak ingin lebih banyak yang tahu soal ini. Cukup Kak Sendy yang pernah tahu tentang ini.


"Gimana kalau sebelum pulang kita makan dulu." Ucap Arka sambil menuntunku.


"Boleh." Balasku singkat.


Kami segera meninggalkan tempat itu, setelah matahari benar-benar tenggelam dan hanya menyisakan hitam legam. Terkadang langit suka berubah-ubah, terkadang ia kuning, biru, jingga, kelabu, atau bahkan hitam. Tapi nyatanya, manusia punya warna langit kesukaannya masing-masing. Ada yang suka dengan warna cerah dan mencolok, atau bahkan warna sendu yang melambangkan kesedihan.


"Mau makan di mana?" Tanya Arka di tengah perjalanan.


"Ehmmm..... terserah Arka aja deh." Jawabku.


"Kamu maunya makan apa?" Tanya pria itu lagi.


"Arka maunya makan apa?" Tanyaku balik.


"Kok malah nanya balik sih, haha..."


"Gimana kalau makan bakso? Enak kali ya, dingin-dingin gini."


"Dingin-dingin gini tuh enaknya di peluk."


"Mau?"


Pria itu langsung bungkam sesaat setelah kalimat tersebut terlontar dari mulut ku. Wajahnya terlihat kaku sekaligus bingung harus menjawab apa. Tanpa menunggu jawabannya lagi, perlahan aku mulai melingkarkan tanganku di pinggangnya.


"Maafin aku ka.... aku cuma cewek pengecut yang takut akan masa laluku sendiri dan memilih kamu sebagai tempat berlindung ku." Lirihku pelan.


"Barusan ngomong apa sha? Enggak jelas, berisik ada suara angin." Sahut Arka.


"Ah? Enggak kok." Elak ku cepat.


Tapi aku yakin jika tadi saat mengucapkan kalimat itu, aku sangat berhati-hati. Lagipula volume suaraku juga lebih rendah dari biasanya. Bagaimana bisa pria ini mendengarkan semuanya. Aku mulai curiga, jika sebenarnya diam-diam ia bisa mendengarkan isi hatiku juga.


"Arka!" Sahutku.


"Iya....." Balasnya sambil sedikit menoleh ke belakang.


"Terimakasih udah membuat jiwa yang kesepian ini menjadi bahagia." Ucapku.


"Aku janji, kamu enggak akan jadi jiwa yang kesepian lagi mulai hari ini." Jelasnya.


"Kamu ingatkan, waktu aku bilang akan berusaha dapetin kamu balik apapun caranya." Lanjutnya.


"Arka....." Protesku.


"Walau aku tahu ada seseorang yang masih kamu jaga di sana, tapi omongan aku waktu itu serius sha." Jelasnya berusaha untuk meyakinkan ku.


"Kamu berhak untuk berusaha, tapi aku mohon jangan sakiti dia demi menyingkirkan sosoknya dari aku. Karena semua itu percuma aja." Balasku yang kini juga mulai terbawa suasana.


"Sebagai laki-laki, aku nggak di didik untuk jadi seorang pecundang gitu sha. Setidaknya aku masih bisa mengagumi mu selamanya." Ucapnya dengan bijaksana.


Aku tak mengerti entah kenapa akhir-akhir ini, rasanya Arka semakin pandai merangkai kata-kata. Apa ia memiliki alasan tersendiri untuk ini. Setiap kalimat yang ia lontarkan, bukanlah omong kosong belaka. Bukan kata-kata hampa yang terucap tanpa makna.


***


Arka memarkirkan motornya di pinggir jalan. Tepat di depan jajaran pedagang kaki lima di daerah Kalibata. Tempat ini seolah menjadi pusat kuliner malam. Meskipun hari sudah mulai menggelap, suasana terlihat riuh di balik tenda-tenda pedagang kaki lima tersebut.


"Aku tau salah satu bakso yang enak banget di sini. Pokoknya kamu harus coba." Jelasnya sambil merapihkan rambutnya.


"Oh ya? Emang kamu pernah makan di sana?" Tanyaku penasaran.

__ADS_1


"Sering, waktu kecil dulu." Balasnya kemudian menarik tanganku menuju salah satu tenda terpal di sana.


Sementara pria itu memesan bakso, aku duduk di kursi panjang khas pedagang kaki lima pada umumnya. Sedetik kemudian, ia menghampiriku sambil tersenyum kecil.


"Hari ini enggak apa-apa pulang agak telat?" Tanya Arka.


"Enggak kok, lagian aku udah izin sama Renata." Jawabku.


"Sha....." Sahutnya.


"Iya?" Balasku singkat.


"Enggak jadi deh." Ujar Arka sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Lagi-lagi ia melakukan hal yang sama. Ini adalah kedua kalinya untuk hari ini. Tadi pagi ia juga seperti ini, sebenarnya apa maunya.


"Tadi pagi kamu juga gitu." Ucap ku.


"Ngomong aja, ada apa emangnya? Aku tahu kok ada sesuatu yang kamu sembunyikan." Jelasku.


"Bukan gitu sha, aku enggak nyembunyiin itu. Aku berusaha untuk mengutarakannya, tapi aku enggak bisa." Jawab Arka dengan serius.


Aku juga mulai menanggapi ucapannya dengan serius. Pembicaraan ini bukanlah hal ringan layaknya guyonan. Pria ini sedang gusar dan ragu.


"Apa yang buat kamu enggak bisa ngelakuin hal itu?" Tanyaku yang terus berusaha menggali informasi.


"Aku takut kalau kamu malah marah, jadi aku enggak yakin mau ngomongin ini." Jelasnya dengan tatapan sendu.


"Ngomong aja."


"Tapi harus janji jangan marah."


"Aku enggak bisa janji ka, tapi aku akan usahain."


Pria itu menarik nafasnya dalam-dalam sebelum memulai berbicara. Kelihatannya ini adalah hal yang sukar untuk di lakukannya, hatinya terasa begitu berat. Tapi mau tak mau ia harus menyampaikan ini, jika tak ingin terus dirundung rasa gelisah.


"Kamu mau nggak balikan sama aku?" Ucapnya dengan segenap keberanian.


Mataku membulat sempurna setelah mendengar kalimatnya barusan. Aku berusaha memastikan jika aku sedang tak salah dengar tadi, dan dalam kondisi yang sadar seutuhnya. Aku tak habis pikir bagaimana pria ini begitu bertekad atas perkataannya kemarin.


"Sha...." Sahutnya dengan hati-hati.


"Kamu marah ya? Maafin aku sha, enggak seharusnya aku ngomong gituan sama kamu tadi." Jelas Arka yang mulai merasa bersalah.


"Enggak kok, aku enggak apa-apa." Balasku dengan kaku.


Entah kenapa sejak kalimat itu terlontar dari mulutnya, kami menjadi canggung satu sama lain. Suasana benar-benar berubah menjadi kaku.


"Tapi aku enggak bisa ngasih jawaban sekarang." Ucapku memecah keheningan suasana diantara kami berdua.


"Enggak apa-apa kok sha, aku tau ini pasti sulit buat kamu. Yang penting jangan terlalu mikirin hal ini ya, aku enggak mau kamu drop lagi." Jelasnya.


Aku menganggukkan kepalaku sambil tersenyum kecil ke arah pria tersebut.


"Ini mas pesanan nya, selamat menikmati." Ujar abang tukang bakso yang tiba-tiba datang.


"Terimakasih pak." Ucapku dan Arka secara bersamaan.


"Tuh, kan bener enaknya kalau dingin-dingin gini makan bakso. Liat nih asap dari kuahnya, masih hangat-hangatnya ini." Jelasku.


"Haha,.... iya deh. Eresha memang selalu benar." Balas Arka sambil mengacak-acak puncak kepalaku.


"Eresha Caitlyn Ananda." Timpal ku.


"Iya-iya Eresha Caitlyn Ananda." Ucapnya.


Kami segera menyantap makanan tersebut selagi masih hangat. Kendaraan yang berseliweran di jalanan menjadi pemandangan utama saat itu. Sesekali aku mencuri pandang ke arah pria ini.


Rasanya sudah lama kami tak bercengkrama dan tertawa bersama seperti ini. Sejak malam itu, ia sudah kembali menjadi sosok yang tertutup. Aku tak pernah lagi melihat kedua sudut bibirnya terangkat seperti ini. Tapi untuk malam ini, Arka kembali menjadi dirinya sendiri.


Mendadak aku menjadi teringat dengan perkataan Clara waktu itu. Ia tak ingin jika aku menyakiti hati pria yang pernah ia cintai. Gadis itu bilang, akan terlalu sulit baginya untuk bangkit. Pada kenyataannya memang benar begitu, Arka masih terpuruk di dalam situasi yang sama. Ia terjebak di dalam masa lalunya sendiri. Aku menjadi merasa tak enak dengan gadis itu, aku telah gagal menjadi orang yang ia harapkan selama ini. Mungkin memang hanya Clara lah yang bisa mendampingi pria labil ini.


"Arka!" Sahutku tiba-tiba.


"Iya, kenapa?" Tanya pria itu sambil menyeruput kuah baksonya.


"Kenapa kamu enggak balikan sama Clara aja? Menurut aku, kamu lebih cocok sama Clara. Kayaknya cuma dia yang bisa ngertiin kamu." Jelasku langsung pada inti permasalahannya.


"Kok tiba-tiba nanya gitu?" Arka malah bertanya balik padaku.


"Aku yakin kalau Clara masih punya rasa sama kamu." Jawabku.

__ADS_1


Arka langsung menghentikan kegiatannya saat itu juga, ia terdiam dan sibuk dengan dunianya sendiri dalam sesaat. Kemudian secara tiba-tiba, ia merangkul kedua bahuku.


"Aku enggak bisa lakuin itu, dia udah ngelakuin hal yang keterlaluan." Ujar Arka dengan sorot mata yang begitu dalam.


"Aku yakin ada alasan tersendiri dibalik semua itu." Balasku.


"Kamu udah dengar sendiri kan ceritanya dari aku? Kamu tahu persis bagaimana sifat Clara yang cuma manfaatin orang bodoh kayak aku." Jelasnya dengan penuh emosi.


"Tapi itu adalah cerita menurut sudut pandang kamu, dan aku belum mendengar cerita menurut sudut pandang Clara. Mungkin aja berbeda ka...."


"Kamu lebih belain Clara?"


Sial! Kenapa malah begini! Padahal aku sudah berniat baik, tapi sekarang malah berantakan seperti ini.


"Bukan gitu ka..." Ucapku berusaha menjelaskan semuanya.


"Terus aja belain sahabat kamu itu, sampai pada akhirnya kami sadar kalau dia itu adalah musuh dalam selimut." Balas Arka kemudian memalingkan wajahnya.


Sedetik kemudian ia beranjak dari tempat duduknya, menuju ke etalase untuk membayar semuanya. Padahal makanannya saja baru habis setengah, tapi ia malah membiarkannya begitu saja.


"Arka, mau kemana!" Sahutku dari tempat duduk.


"Mau pulang! Capek bahas dia mulu!" Jawab Arka dari kejauhan dengan nada bicara tinggi.


Tak lama kemudian, sosoknya segera menghilang dari hadapanku. Aku tak habis pikir, bagaimana bisa ia tega meninggalkan seorang gadis sendirian di tengah malam seperti ini. Aku kembali terduduk dengan lemas, sembari menghabiskan sisa makananku. Walaupun sebenarnya aku sudah tidak selera lagi untuk menyantap beberapa bola daging itu, di keluargaku tak di ajarkan untuk membuang-buang makanan.


"Kadang manusia memang cepat berubah." Gumam ku pelan sambil mengunyah bakso.


Arka terlalu cepat mengambil kesimpulan. Ia lebih mementingkan sifat egoisnya di atas semuanya. Terkadang hidup ini memang melelahkan, seperti yang barusaja terjadi contohnya. Sebentar marahan, sebentar baikan, marahan lagi, baikan lagi, gitu aja seterusnya seperti layaknya sebuah siklus. Nyaris setiap saat aku lelah dengan hal itu. Dan sekarang yang lebih membuatku lelah adalah, bagaimana caranya aku kembali ke rumah.


"Pak, berapa jadinya?" Tanyaku sambil menghampiri pedagang bakso tersebut.


"Oh, yang itu udah di bayar sama mas yang tadi mbak." Jawabnya.


"Ehmmm, gitu ya pak? Terimakasih banyak kalau begitu." Balasku.


"Iya mbak." Jawabnya singkat.


Aku merapatkan hoodie milikku agar hawa dingin tak masuk dengan sembarangan. Dengan langkah bingung, aku berjalan keluar dari balik tenda terpal tersebut. Tiba-tiba saja seseorang menarik tanganku dari belakang. Sontak hal itu membuatku terkejut setengah mati. Nyaris saja aku akan berteriak, namun sebuah tangan kembali datang untuk membungkam mulutku.


"Ayo pulang." Bisiknya pelan di telingaku.


Aku seperti mengenali suara ini. Aku lantas membalikkan badanku ke arahnya, dan yang benar saja ternyata itu adalah Arka. Ku pikir tadinya aku sedang di culik oleh sekelompok preman jalanan yang berkuasa atas daerah ini.


"Arka!" Teriakku kesal.


"Maaf...." Lirihnya pelan.


Untung saja aku tak langsung menghabisinya saat itu juga. Tapi sepertinya aku akan kalah dengannya jika sampai melakukan hal itu. Tenaga pria ini jauh lebih besar daripada aku.


"Belum pulang? Tadi katanya mau pulang." Ujarku dengan ekspresi yang terlihat tak nyaman.


"Emang cowok mana sih yang tega ninggalin seorang cewek sendirian, malam-malam gini lagi." Jelasnya.


"Maafin aku karena udah emosi tadi." Lanjutnya.


"Maafin aku juga." Balasku acuh tak acuh.


Sedetik kemudian, tangannya kembali menggapai bagian dagu ku. Arka berusaha memalingkan wajahku ke arahnya, karena sedari tadi aku berbicara tanpa melihatnya sama sekali. Pria ini sukses membuat kedua mata kami saling bertemu pandang.


"Yang tadi namanya monolog, kalau ini baru dialog." Ujarnya.


"Terserah!" Balasku acuh tak acuh.


"Jangan marah lagi dong." Ucapnya sambil sedikit membungkukkan badannya.


Tubuhnya memang terlalu jenjang untuk berbicara dengan orang sepertiku. Sehingga tak jarang ia harus melakukan hal itu demi menyamaratakan tinggi kami.


"Siapa yang marah..." Balasku dengan nada bicara yang menyebalkan.


"Kalau enggak marah senyum dong." Ujarnya.


"Enggak mau!" Tolak ku mentah-mentah.


"Ayo dong sha, jangan sampai aku harus pakai kekerasan nih." Ancamnya.


Aku bahkan tak menggubris ancaman yang ia berikan kepada ku barusan. Sebuah ancaman itu akan terdengar konyol untuk urusan semacam ini. Namun lagi-lagi, pria ini terus melakukan sesuatu secara tiba-tiba. Tanpa peringatan terlebih dahulu sebelumnya, ia mengecup singkat dahi ku dengan begitu cepat. Setelahnya ia tersenyum lebar ke arahku.


"Apa ini ancaman yang di maksud pria gila ini?" Batinku dalam hati.


"Yuk pulang!" Ajaknya sembari menarik tanganku untuk yang kesekian kalinya dalam hari ini.

__ADS_1


__ADS_2