
"Terimakasih ya mang! Ini helmnya, jadi berapa mang?" Ujarku setelah turun dari sepeda motor.
"Sepuluh ribu aja mbak." Jawabnya.
Aku merogoh saku celanaku dan mendapati beberapa uang pecahan lima ribu rupiah.
"Ini mang." Ucapku sambil menyodorkan dua lembar uang lima ribuan.
"Terimakasih mbak."
Setelah urusanku dengan pengemudi ojek ini selesai, aku memasuki area kampus yang terlihat ramai. Banyak lampu sorot yang sengaja dipasang di sepanjang jalan menuju gedung tempat perlombaan.
Tak jarang juga ku dapati kelompok marching band dari berbagai tim yang sedang bersiap di luar area lomba. Kostum dengan warna-warna mencolok itu terlihat begitu jelas di malam hari. Di tambah lagi ornamen payet yang terlihat berkilauan karena pantulan dari cahaya lampu. Barisan alat-alat perkusi hingga melodis terjejer rapih di sepanjang jalan.
Ada juga beberapa orang tua yang terlihat menyemangati dan membantu anaknya bersiap. Benar-benar pemandangan yang luar biasa. Tempat ini sungguh luar biasa, begitu datang ke tempat ini, orang-orang langsung di suguhkan dengan jutaan pesona alat musik.
Aku rindu dengan suasana seperti ini. Tempat yang akan sangat jarang ku temui. Betapa beruntungnya aku bisa di undang ke sini oleh Kak Sendy. Ngomong-ngomong, di mana pria itu. Kenapa aku tidak melihat batang hidungnya sedari tadi.
"Apa dia sudah ke dalam?" Gumam ku pelan.
Aku melanjutkan perjalanan menyusuri jalanan batako setapak tersebut, sambil tak henti-hentinya berdecak kagum.
"Sha!" Sahut seseorang dari belakang.
Aku lantas menoleh untuk mencari tahu sumber suara tersebut. Aku mendapati seorang anggota marching band lengkap dengan seragamnya, menuju ke arahku.
Perlahan bayangan itu semakin solid, menyuguhkan sesosok mahluk ciptaan Tuhan yang malam itu sungguh rupawan.
"Kak Sendy?" Ujarku spontan.
"Thanks ya udah mau datang ke sini."
"Iya sama-sama. Lagian aku kangen tau sama suasana kayak gini."
"Kita ke sana yuk!" Ujar pria itu sambil menarik tanganku.
Ia menuntunku ke suatu tempat di tepi jalanan ini. Membawaku kehadapan rekan-rekan satu tim nya.
"Siapa tuh?" Tanya salah satu dari mereka.
Mereka duduk lesehan di lantai batako ini tanpa takut seragam mereka menjadi kotor. Sepertinya sedang menunggu giliran ataupun sedang bersiap.
"Kenalin ini Eresha, dia anak marching band juga loh." Ujar Kak Sendy.
"Oh ya?"
"Iya, kita dulu satu tim pas masih sekolah."
"Megang alat apa nih by the way?"
"Anak melodis, lebih tepatnya bell."
Aku hanya bisa nyengir dengan kaku. Sesungguhnya aku bukanlah tipe orang yang cepat beradaptasi dengan lingkungan baru seperti ini.
"Dulu juga pernah jadi anak terompet." Tambahku.
Sebenarnya bukan hanya dua alat itu saja yang pernah ku tekuni di dalam dunia marching band. Saat awal pertama kali terjun ke dunia marching band, lebih tepatnya saat aku duduk di kelas empat sekolah dasar. Alat pertama yang ku latih adalah posisi color guard. Entah apa alasannya pelatih menempatkan ku di posisi itu. Tapi hal itu tak berlangsung lama, beberapa bulan kemudian aku di pindahkan ke terompet. Dan aku tetap menjadi pemain terompet sampai lulus sekolah dasar.
Aku sempat vakum dari dunia marching band selama tiga tahun berturut-turut. Itu karena sekolahku pada saat SMP memang tidak menyediakan sarana ekstrakurikuler marching band. Dan aku sempat menjadi anggota palang merah remaja selama tahun-tahun kekosongan itu.
Dan semuanya kembali seperti dulu lagi. Kini aku menemukan kebahagiaanku lagi di marching band. Aku kembali tergabung dalam tim maupun band sekolah. Kali ini aku di posisikan sebagai pemain bell, yang memegang kunci utama setiap lagu.
"Sekarang masih jadi anggota marching band?" Tanya salah seorang dari mereka.
Aku hanya bisa menggeleng pasrah.
"Loh kenapa?"
"Kebetulan sekolah memang enggak ada ngebentuk tim marching band. Jadi ya mau gabung ke mana." Jelasku.
"Gabung sama tim kita aja gimana?"
"Lah? Emang bisa?"
"Bisa banget lah. Ini kan terbuka untuk umum dengan batas usia tertentu. Maksimal kurang dari dua puluh lima tahun." Jelas Kak Sendy.
Aku hanya mengangguk sambil meng-oh kan pernyataan mereka.
"Jadi itu artinya anggota tim ini tak murni dari mahasiswa kampus tempat Kak Sendy kuliah? Ternyata bisa menerima orang dari luar juga." Batinku dalam hati.
"Jadi gimana mau gabung sama kita?"
Sial! Pertanyaan itu membuatku kehabisan kata-kata. Aku tak tahu harus menjawab apa. Di satu sisi aku memang sangat ingin kembali ke duniaku. Namun di sisi lainnya, keadaan memaksa ku untuk menjauh. Entah untuk sementara atau mungkin selamanya.
Aku harus fokus untuk kelulusanku dulu, baru bisa memikirkan hal lain. Tapi yang lebih membuatku bimbang adalah kondisi kesehatan ku yang tak memungkinkan diriku untuk latihan seperti dulu lagi.
"Kok bengong aja?" Ucap Kak Sendy sambil menepuk pundak ku.
"Ah? Enggak kok."
"Jadi gimana? Mau gabung nggak sama kita?"
"Untuk sekarang kayaknya jangan dulu deh. Soalnya mau fokus ke ujian akhir sekolah dulu."
"Oh, nggak apa-apa kok. Lagian enggak ada yang maksa. Tapi kalau misalnya kau mau join kapanun itu, kita welcome banget kok."
Aku hanya mengangguk mengiyakan perkataannya.
"Semuanya, persiapkan diri kalian masing-masing. Setelah itu masuk ke dalam." Sorak seseorang dari ujung sana.
Wajahnya tidak terlalu jelas. Karena memang tempat ini hanya mendapatkan separuh dari sorot lampu yang ada. Tapi jika di lihat dari penampilannya, kelihatannya dia adalah pelatih tim ini.
Kak Sendy segera memasang topi pelengkap seragam marching band nya ini. Dengan ornamen bulu berbagai warna di bagian atasnya sebagai ciri khas.
Mereka langsung mengambil alatnya masing-masing dan berjalan masuk ke dalam satu-persatu. Aku berjalan beriringan dengan pria itu. Ia tampak gugup, itu tak bisa di pungkiri lagi.
Hingga akhirnya kami telah sampai di ambang pintu masuk aula. Ia dan rombongan tim nya harus berbelok ke arah kanan, menuju sebuah lorong kecil di bawah tribun penonton.
__ADS_1
"Semangat!" Ujarku.
Ia hanya tersenyum tipis membalas ucapanku.
Setelah ia masuk ke lorong itu, aku segera naik ke tribun penonton untuk mendapatkan tempat duduk. Tentu saja aku tak ingin melewatkan penampilan hebat orang-orang yang berbakat ini.
Aku membenarkan posisi dudukku sambil menunggu aba-aba jika acaranya akan segera di mulai.
Lorong yang tadi itu, mungkin menuju ke area belakang panggung. Dan nantinya setiap peserta yang masuk dari sana tadi, akan keluar dari balik tirai yang di depanku ini.
Jujur saat ini aku menjadi ikut-ikutan gugup, entah apa alasannya. Tapi aku mencoba terlihat setenang mungkin.
"Selamat malam para juri yang kami hormati, dan selamat datang bagi para penonton sekalian."
Akhirnya si pembawa acara segera memulainya.
"Baiklah untuk pertandingan kali ini, setiap tim marching band dari berbagai cabang akan berkompetisi dalam dua cabang. Cabang pertama yaitu display dan yang kedua adalah battle." Jelas si pembawa acara kepada seluruh penonton yang ada.
"Oh? Ada battle juga? Ku kira tadinya ini hanya permainan display seperti pada umumnya." Batinku dalam hati.
Itu artinya Kak Sendy akan ikut dalam kedua babak tersebut. Untuk permainan display biasanya, semua anggota akan terlibat. Sementara untuk battle sendiri, biasanya hanya battle antara anak perkusi.
Sejak aku kecil, diantara semua perlombaan yang pernah ku ikuti aku paling suka jika melihat pertunjukan battle seperti ini. Rasanya sulit untuk di deskripsikan dengan kata-kata. Kalian harus merasakannya sendiri agar tahu bagaimana sensasi yang berbeda itu. Di tambah dengan suara basa drum yang membuat jantung kalian terasa seperti ikut bergetar.
Aku duduk di kursi tribun paling belakang. Karena hanya tempat ini yang tersisa, bagian depan sudah di isi semua. Setidaknya aku masih bisa melihat mereka dengan jelas nantinya.
Penampilan pertama sudah di mulai, tapi sepertinya itu bukan mereka. Aku menikmati seluruh penampilan para peserta yang tiap-tiap penampilannya hanya di berikan warna selama dua menit.
Mereka semua hebat, tak jarang aku merinding sendiri melihat penampilan mereka yang begitu luar biasa.
"Sekarang mari kita sambut penampilan display dari Marching Band Graha Swara!" Sorak si pembawa suara dengan semangat yang menggebu-gebu.
Terdengar suara irama stick snare drum yang di pukul dengan beraturan. Ini tak asing lagi bagiku. Biasanya hal ini di lakukan sebelum memulai lagu atau bahkan sesudahnya. Saat itu pemain snare drum sedang memegang peran pentingnya dalam menjaga tempo dan langkah kaki arah seirama.
Terlihatlah pasukan marching band berseragam serba biru itu keluar dari balik panggung dengan seseorang Gita Patih sebagai pemimpinnya. Aku langsung berdiri dari tempat duduk ku, kemudian bertepuk tangan bersama penonton lainnya.
Ini yang ku tunggu-tunggu dari tadi. Kelihatannya bukan hanya aku, bahkan semua penonton di sini tampak begitu antusias ketika mereka akan segera tampil. Setelah barisan formasi awal mereka sudah benar-benar sempurna, aku kembali duduk.
Aku segera mengeluarkan kamera ponselku untuk menangkap momen tersebut. Momen yang belum tentu bisa terulang untuk yang kedua kalinya.
"Kling!"
Suara tombol shooter tenggelam diantara keriuhan suasana.
Sesekali aku mencuri pandang kepada pria itu. Ia yang sedang berdiri kaku di barisan belakang. Tangannya tampak menggenggam stick quint tom miliknya dengan erat. Ia tak ingin benda terjadi sesuatu dengan benda itu dan membuat penampilan yang telah mereka latih bersama ini hancur.
"Band on up!" Instruksi Gita Patih.
Seluruh anggota bersiap dengan posisinya masing-masing. Mouth piece seluruh alat tiup telah menempel pada bibir pemiliknya masing-masing. Para pemegang stick seperti pemain bell, snare drum, quint tom dan bass drum mencengkeram sticknya masing-masing dengan semakin kuat. Pemain simbal juga mengeratkan genggaman talinya. Para pasukan color guard berpose seelok mungkin.
Mereka memiliki satu tujuan yang sama, yaitu memberikan seluruh kemampuan terbaik mereka di hadapan para juri. Soal menang atau tidak itu adalah urusan belakangan. Tujuan sesungguhnya dari sebuah kompetisi bukan untuk menang, tapi bersaing untuk menjadi yang terbaik.
Inilah yang dinamakan "Dua Menit Untuk Selamanya."
"Tu...wa...tu...wa...ga...pat...tu...wa...ga...pat!"
Lagi-lagi terdengar suara sorak-sorai dan tepuk tangan yang menggema, berpadu satu dalam intro lagu tersebut yang terdengar begitu menggelegar. Kini suasana semakin riuh.
Aku mengabadikan momen tersebut dalam sebuah video berdurasi singkat.
"Kling!"
Aku mematikan menghentikan rekaman videonya setelah mereka kembali ke balik panggung. Aku sempat melakukan pratinjau beberapa kali terhadap video itu dan bahkan sampai tak menghiraukan sama sekali peserta yang tampil berikutnya.
Penampilan tadi rasanya sangat singkat bagiku. Andai panitia lomba bisa memberikan durasi waktu yang lebih lama lagi, pasti seluruh penonton akan terhipnotis dengan penampilan mereka.
Tapi terkadang di balik dua menit yang berarti tadi, ada perjuangan yang panjang. Ada pengorbanan yang di sampaikan secara tak langsung. Aku tahu persis bagaimana sulitnya menyiapkan semua ini.
Setiap hari harus menghafal not, berjemur di bawah matahari siang bolong. Bahkan tak jarang harus mendengar makian pelatih yang akan mendorong kita untuk maju secara kasar. Tapi percayalah akan ada sebuah senyuman puas yang tersungging nantinya tanpa disadari. Akan ada perasaan lega setelah berhasil menyelesaikan lagu ini dengan sempurna.
***
Aku melirik jam tanganku yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Tadi aku berangkat ke sini sekitar pukul setengah delapan. Dan ini baru separuh dari acara. Kelihatannya aku akan pulang larut malam. Beruntung semua tugas hari ini sudah ku kerjakan di sekolah saat jam kosong. Jadi aku bisa langsung tidur nanti, tanpa perlu begadang seperti kemarin malam.
"Baiklah para hadirin sekalian. Setelah menikmati pertunjukan display dari anak-anak bangsa yang begitu berbakat tadi, sekarang mari kita saksikan babak battle antara dua tim sekaligus!" Pembawa acara bersorak dengan semangat.
Kali ini pesertanya datang dari pintu samping yang terletak di sisi kanan dan kiri bangunan ini. Aku baru menyadari jika ada tiga pintu untuk menuju ke arena.
Sial! Tim nya Kak Sendy mendapatkan giliran paling pertama. Apa mereka tidak merasa kelelahan sama sekali. Baru beberapa menit yang lalu mereka selesai, sekarang sudah bertanding lagi.
"Tim Marching Band Graha Swara melawan tim Marching Band Gita Bahana!"
Seperti biasanya, pembawa acara terus memandu semua orang di sini dari awal acara berlangsung sampai berakhir nanti. Memang karena itulah pihak panitia mau membayar mahal mereka. Karena kemampuan bicaranya yang sering di anggap sepele bagi sebagian orang.
Kali ini aku menonton dengan serius tanpa merekamnya sama sekali. Aku tak ingin melewatkan yang satu ini, yang di tunggu-tunggu oleh semua orang.
"BAMM!!!"
Suara basa drum yang di pukul tanpa keraguan, membuat jantungku bergetar hebat. Itu adalah pertanda jika battle akan segera di mulai.
Tim Marching Band Gita Bahana yang akan memulainya terlebih dahulu. Aku menegurnya salivaku dengan susah payah. Kelihatannya mereka adalah lawan yang sama kuat.
Hingga pukulan-pukulan abstrak itu mulai terdengar mengisi seluruh ruangan. Tak lupa dengan formasi yang di susun sedemikian rupa. Sebagai pelengkap pertunjukan mereka, tak jarang terdengar suara sorakan yang mereka ciptakan sendiri agar semakin memicu semangat.
Semua penonton sepertinya sudah tergila-gila dengan pertunjukan mereka, tak terkecuali dengan ku. Sesekali aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Tak habis pikir bagaimana bisa mereka melakukan hal ini. Benar-benar sebuah konsep yang out of the box namun tetap memukau, patut di acungi jempol.
Sesaat setelah tim Gita Bahana menyelesaikan permainannya, barulah tim Graha Swara mulai menunjukkan keahliannya yang tak kalah hebat dengan lawan mainnya saat itu.
Bahkan kali ini pertunjukan tim Graha Swara jauh lebih menarik simpati penonton. Bagaimana tidak, mereka sempat melakukan gerakan akrobatik yang agak mustahil untuk di lakukan sambil memainkan alat musik. Tapi nyatanya mereka berhasil melakukan itu dengan sempurna. Sorot mata mereka tajam menatap lurus ke depan, seolah sedang menantang lawan di depannya. Permainan mereka di akhiri dengan pose melipat tangan di depan dada, sambil menatap remeh tim Gita Bahana.
Pertunjukan ini benar-benar membuat seluruh bulu kudukku berdiri tegak. Sebuah persaingan yang sengit antara dua pihak yang sama kuat. Penampilan mereka barusan cukup untuk membuat seluruh penonton, bahkan juri di sini ikut terpaku.
Aku merasa tak menyesal menerima ajakan Kak Sendy waktu itu. Semua pertunjukan ini benar-benar memuaskan seluruh hasrat ku. Walau aku tak bisa ikut bermain bersama mereka di bawah sana, rasanya ini sudah lebih dari cukup.
Ternyata duduk di tribun penonton jauh lebih menegangkan daripada saat berkompetisi di bawah sana. Dari sini kita bisa melihat keseluruhan formasi yang begitu luar biasa. Yang mampu membuat semua lawannya berubah menjadi pesimis. Sebuah barisan yang di susun dan di latih selama berbulan-bulan lamanya. Padahal itu tak sebanding dengan waktu pertunjukan mereka.
***
__ADS_1
10.45
Sekarang kita sudah tiba di akhir acara. Babak penentuan yang di putuskan oleh tim juri. Waktu pembuktian siapa yang paling baik dari semua yang terbaik. Saat yang membuat seluruh jantung di ruangan ini berdegup kencang.
Aku meremas-remas tanganku, menahan kegugupan yang sedang ku alami. Sebenarnya penampilan Kak Sendy dan tim nya cukup sempurna di mata penonton, termasuk aku. Tapi entahlah dengan juri, jalan pikirannya selalu tak bisa ku tebak.
Juri akan menilai setiap hal secil yang bahkan tak di sadari penonton. Mereka akan menghitung setiap inchi kesalahan yang diperbuat selama penampilan.
"Baiklah saya sudah memegang nama-nama kandidat pemenangnya." Ujar si pembawa acara tersebut.
Cara bicaranya sukses membuat kami semakin tak sabar menunggu hasilnya. Semoga saja semuanya seperti yang ku harapkan. Semoga apa yang ku semogakan, segera tersemogakan. Mudah-mudahan semesta mendengar harapanku malam ini.
"Selamat untuk Mega Simfoni yang berhasil menduduki peringkat ke tiga. Perwakilan silahkan naik ke atas podium." Ujar si pembawa acara.
Aku bertepuk tangan pelan, turut mengapresiasi prestasi mereka.
"Selanjutnya yang akan menempati posisi peringkat kedua yakni....."
Sial! Kenapa selalu begini setiap kali pengumuman. Aku juga pernah mengalami hal seperti ini saat olimpiade kemarin. Mereka selalu menggantungkan kalimatnya untuk memainkan emosi penonton dan juga peserta.
"Selamat kepada Gita Bahana!"
Masih ada satu posisi lagi yang belum di debut siapa pemiliknya. Ku harap masih ada kesempatan bagi tim Graha Swara untuk memenangkan posisi tersebut. Mereka tak kalah bagusnya dengan tim Gita Bahana, seharusnya mereka bisa membawa thropy itu malam hari ini.
"Selamat kepada....."
Aku mohon jangan lakukan itu lagi, langsung saja umumkan.
"Graha Swara!"
Mataku terbelalak lebar sesaat setelah mendengar kalimat barusan. Aku bertepuk tangan dengan bangganya. Akhirnya mereka keluar sebagai runer up di kompetisi kali ini.
Setelah penyerahan thropy dan hadiah hiburan lainnya selesai di lakukan. Para Gita Patih yang menjadi perwakilan dari masing-masing tim, memberikan hormat dengan sangat anggun sebagai ucapan terimakasih.
Akhirnya acara selesai, dengan kepuasan tersendiri bagiku. Benar-benar malam yang penuh kesan. Hari ini aku sangat bahagia, meski hanya berada di tribun penonton. Jiwaku yang telah haus akan nada seolah meronta-ronta tadi.
Aku bergegas keluar gedung aula ini bersama para penonton lainnya. Aku berdiri di samping pintu masuk sambil menunggu Kak Sendy keluar dari tempat ini. Rasanya aku tak sabar ingin memberikan ucapan selamat untuk pria itu.
"Akhirnya...."
Tiba-tiba Kak Sendy datang dari sebelahku sambil melepaskan topi yang mengikat kepalanya itu.
Aku langsung memeluknya, kemudian membisikkan sesuatu di telinganya.
"Selamat!"
Keringat mengguyur seluruh tubuhnya, hingga membuat bajunya turut basah. Beberapa terlihat menetes lalu mengalir menuruni wajahnya. Aku lantas segera melepaskan pelukanku karena hal itu.
"Ya ampun menjijikkan!" Batinku dalam hati.
Padahal aku dulu juga sering begitu. Tapi kenapa sekarang aku malah protes, dasar aku.
"Kakak hebat tadi. Selamat ya sekali lagi."
Aku kembali melanjutkan kalimatku yang sempat terjeda.
"Ah masa sih? By the way makasih banyak loh."
"Iya seriusan, bahkan lebih hebat dari yang pernah aku tahu dulu."
"Emang dulu aku enggak jago main quint tom nya?"
"Ya.... Gimana ya..."
"Haha.... Dasar!" Ujar pria itu sambil mengacak-acak gemas puncak kepalaku.
"Pulang yuk!" Ajakku seraya menarik tangannya.
"Eh... tunggu dulu." Cegahnya.
"Apa lagi? Kan udah selesai acaranya." Keluh ku.
"Cuma ucapan selamat aja nih? Enggak ada yang lain gitu, apa kek..."
Aku mengernyitkan dahi ku tak mengerti dengan maksud perkataannya.
"Ha? Maksudnya?"
"Enggak mau kasih sesuatu gitu selain ucapan selamat doang?"
"Aku enggak ngerti, otak aku kalau udah malam gini emang sudah di ajak buat mikir. Gini aja deh, langsung aja bilang kakak mau apa."
"Anu...."
"Anu apaan sih?"
"Udah lah lupain!"
Ekspresi wajahnya langsung berubah. Tak dapat ku tangkap apa maksudnya. Bibirnya maju beberapa centi, ia pasti kesal karena aku tak kunjung mengerti dengan ucapannya.
"Marah ya? Maaf..."
"Enggak, udah lupain aja."
"Yaudah deh. Buat Nebus kesalahan aku, gimana kalau besok aku traktir? Sekalian itung-itung buat ngerayain kemenangan kakak, gimana mau nggak?"
"Enggak usah, mending uangnya kamu tabung."
Sepertinya aku tak berhasil membujuk pria ini dengan makanan. Lagipula dasar aku nya saja yang bodoh. Dia bukan anak kecil lagi, yang langsung luluh hatinya jika di beri permen.
Aku berusaha memutar otak untuk membujuk orang yang satu ini. Jujur aku sedikit ragu untuk melakukan yang satu ini. Tapi tidak ada salahnya mencoba bukan.
Aku mengecup singkat dahi pria itu dengan segenap keberanian yang ku miliki. Agak terkesan nekat mungkin. Tapi jika ini bisa memperbaiki suasana hatinya, kenapa tidak. Meski aku harus melakukannya sambil berjinjit karena ia jauh lebih tinggi daripada aku.
Kedua bola matanya membulat sempurna saat itu juga. Pria itu terpaku di tempat dengan tatapan kosong. Aku jadi merasa bersalah karena telah melakukan ini padanya. Jujur aku merasa sangat bodoh saat itu.
"Ayo kita balik, biar aku antarkan pulang." Ucap pria itu sambil menarik tanganku.
__ADS_1
Apa aku tidak salah lihat? Ia benar-benar tersenyum lagi barusan. Ini aku yang sudah gila atau bagaimana. Aku butuh seseorang yang bisa menjelaskan situasi ini kepadaku.