
"Gua beneran tulus sama lo sha."
"Cinta enggak perlu dipaksakan kak. Kakak bilang waktu itu adalah proses kakak untuk mencintai aku sepenuhnya. Itu artinya kakak berusaha buat mencintai aku walaupun sebenarnya kakak enggak ada rasa ke aku."
"Enggak gitu sha."
"Rasa yang ada diantara kita sekarang, adalah rasa yang dipaksakan untuk ada."
Padahal seharusnya cinta bukan karena keterpaksaan. Tapi cinta adalah reaksi alamiah yang muncul tanpa disengaja.
"Kita ngobrol di luar aja yuk. Enggak enak kalau yang lain dengar."
Kami segera menuju keluar ruangan sebelum lebih banyak mata yang tertuju ke arah kami. Sejujurnya, ini adalah sesuatu yang sulit untuk dipahami oleh ku.
"Sebaiknya kakak kembali ke Renata. Aku mohon."
"Enggak semudah itu untuk membalikkan perasaan sha."
"Aku yakin kakak pasti bisa asalkan kakak bertekad."
"Dengerin gua sha."
Pria itu menghela nafasnya sejenak. Kemudian secara tiba-tiba kedua tangannya berada di pipiku.
"Enggak akan pernah terbesit sedikitpun di pikiran gua untuk ninggalin lo."
Ia tampak berusaha sekuat tenaga untuk meyakinkanku. Walaupun sebenarnya aku juga tak ingin pria ini meninggalkan ku ataupun sebaliknya. Tapi, aku harus melakukan ini. Lebih cepat aku pergi, ia akan semakin terbiasa disaat aku benar-benar tak lagi berada di sisinya.
"Kak."
Aku berupaya menyingkirkan tangannya yang masih berada di pipiku sejak tadi.
"Kak, kan ini adalah penampilan terakhir kita. Dan setelah ini kita enggak akan pernah tampil bareng-bareng lagi. Jadi aku mohon. Apapun yang terjadi, kakak harus tetap ikut tampil ya."
"Sha, sebenarnya..... Emmm... Iya gua bakal tampil bareng lo. Kita semua bakal tampil bareng-bareng. Ini penampilan terakhir kita kan?"
__ADS_1
Aku tau pria itu sedang menyembunyikan sesuatu. Kesedihan yang terpancar begitu jelas saat ia mengatakan "Penampilan terakhir." Aku tahu ia berusaha terlihat tegar di depanku. Namun sebenarnya ia juga tau, jika yang ia lakukan itu percuma saja. Karena ia tahu jelas jika aku adalah pembaca mimik wajah yang lumayan baik.
***
Semua orang telah bersiap dengan alat mereka masing-masing. Dengan berat aku melangkahkan kakiku sambil menggendong alat musikku. Begitu juga dengan nya. Jujur saja aku sangat benci dengan penampilan kali ini. Aku benci dengan semua lagu yang telah kami latih bersama. Aku benci ketika mengenakan seragam ini.
Mungkin sejak kita tak lagi jadi satu dalam lagu ini, aku bisa saja membenci semua hal yang menyimpan memori tentangnya. Aku terus berharap agar perpisahan ini tak terjadi. Aku benci kepada waktu yang telah merebut segalanya dariku.
***
Kami datang lebih awal ke lapangan, dari waktu yang seharusnya telah ditentukan. Kami sempat beberapa kali melakukan gladi resik. Memastikan jika penampilan kami nanti sudah benar-benar sempurna.
"Baiklah kita istirahat sampai upacara pembukaan di mulai." Ucap Pak Chandra.
"Baik Pak!" Balas kami dengan serentak.
Kemudian kami membubarkan diri kesegala arah mencari tempat yang cukup teduh untuk beristirahat. Aku langsung melepaskan topi dengan ornamen bulu di atasnya. Padahal baru pukul tujuh pagi, tapi mataharinya sudah seterik ini. Sesekali aku mengibas -ngibaskan tanganku, berharap ada sedikit udara yang menyegarkan. Lagi-lagi, secara tiba-tiba sebuah tangan merangkul bahuku.
"Enggak dong. Selama ada kakak pasti semangat lah."
"Gua juga. Dan gua juga berharap bisa lebih lama di Marching band."
"Jangan pergi."
"Gua juga enggak pengen pergi."
"Kita masih bisa tampil barengan lagi seperti ini kan?"
"Gua pengennya juga gitu."
"Tolong jangan pergi, lagu kita masih belum selesai kak."
"Lo janji ya harus tetap jadi pemain Marching band. Meskipun tanpa gua."
__ADS_1
"Aku enggak yakin bisa ngelakuin itu."
"Hey, jangan gitu dong. Ingat pertama kali lo lolos seleksi Marching band? Tujuan lo masuk Marching band bukan karena gua kan? Ko harus konsisten sama tujuan lo."
"Ya iyalah. Gimana bisa tujuan aku masuk Marching band karena kakak. Kan kita belum saling kenal waktu itu."
"Makanya itu, kita bisa ketemu di Marching band karena dunia kita sama. Kita suka hal yang sama, nada."
"Mau minum?"
Aku mengalihkan pembicaraan, karena jujur saja aku tak ingin diriku sendiri semakin sedih.
"Boleh."
"Ya udah, sebentar ya aku ambil dulu."
Aku menghampiri beberapa kotak air mineral yang memang disediakan panitia untuk kami. Aku mengambil dua botol, satunya untuk pria itu.
"Ini." Ujarku seraya menyodorkan botol air mineral.
Aku mengambil posisi di depan pria itu. Duduk di atas tanah yang di lapisi rerumputan tipis. Aku menghela berat setelah meneguk tenggakan terakhir. Posisiku membelakanginya, pandangan ku menyapu setiap sisi lapangan itu. Aku menyandarkan diriku ke kaki pria itu, yang saat itu posisi nya sedikit lebih tinggi dari posisiku.
Dengan lancang sinar matahari siang itu menusuk netraku tanpa peringatan sebelumnya. Refleks aku mengernyitkan mataku. Kemudian sebuah benda yang tak begitu besar, namun cukup untuk menghalau sinar mentari itu berada tepat di atas kepalaku. Aku meraba dan mencoba menebak kiranya benda apa yang berada di atas sana. Tapi, sebuah tangan mencoba menghentikan ku seraya berbisik...
"Jangan di lepas, nanti lo kepanasan."
Aku tahu dengan jelas siapa pemilik suara itu. Kalian juga pasti tahu siapa dia. Siapa lagi jika bukan Kak Sendy. Kali ini ia meletakkan topi berornamen bulu di atas kepalaku. Tentu saja itu adalah topi dari seragam ini yang belum lama ku lepaskan dari kepalaku.
Aku hanya tersenyum geli melihat tingkah konyol pria itu. Mungkin bagi sebagian orang itu adalah hal yang romantis. Tapi bagiku itu benar-benar konyol. Bahkan aku tak bisa menahan rasa geli ku hingga aku tertawa dan membuatnya kebingungan sendiri.
Tapi, jujur saja aku masih belum bisa melepas dirinya. Bisakah ku hentikan waktu saat ini juga? Nada yang ku kira akan kami mainkan bersama, sekarang telah patah. Tempo yang selama ini kami jaga, sekarang berantakan.
"Kita satu, tapi tak sempat utuh."
__ADS_1