Pengagum Lara

Pengagum Lara
Episode 60


__ADS_3

"Jangan lupa ya, nanti siang aku jemput lagi." Ujar Renata.


"Iya, oke sip." Balasku singkat.


Kemudian aku dan Stefani segera segera berjalan masuk menuju sekolah. Masih ada cukup banyak waktu sebelum kelas di mulai. Kami datang terlalu pagi hari ini, entahlah apakah di sana sudah ada orang atau belum. Ini semua karena ulah Renata yang menyetel jam di kamarku satu jam lebih cepat dari yang seharusnya.


"Tumben banget lo di jemput." Ujar Stefani sambil menyenggol lengan ku.


"Kak Renata minta di temenin buat fitting baju pengantin." Balasku tak semangat.


"Bakalan jadi nyamuk dong lo ntar di sana."


Aku tak berniat sama sekali untuk menggubris ucapannya. Kami terus berjalan menyusuri koridor sekolah yang masih tampak sepi. Kemudian menaiki anak tangga menuju kelasku satu-persatu. Biasanya hanya Clara dan beberapa murid lainnya yang datang lebih awal setiap harinya. Terkadang juga termasuk Arka.


Aku melirik jam tanganku, memastikan jika aku tak salah lagi. Tak biasanya para manusia-manusia aneh itu datang lebih cepat seperti ini. Apalagi Adit yang selalu nyaris terlambat setiap harinya. Mereka semua telah lengkap dan tengah duduk di sekitar meja ku untuk mengobrol. Setiap harinya mereka memang selalu begitu.


"Kok udah sekolah, kapan pulangnya?" Tanya Adit.


"Kemarin." Jawabku singkat sambil meletakkan tasku di atas meja.


"Padahal udah gue bilang jangan sekolah dulu, eh dianya bandel. Keras kepala banget ini anak." Celetuk Stefani.


"Eh, bentar deh. Kayanya ada yang aneh sama kalian berdua hari ini." Ujar Clara tiba-tiba.


"Apaan?" Balas kami secara bersamaan.


Aku mendesis kasar pada Stefani yang mendadak sok kompak begini denganku.


"Poni kalian kembar ya?" Ujarnya sambil menunjuk ke arah dahi kami berdua.


"Enggak!" Tolak ku dengan segera.


Aku langsung mengeluarkan biaya pin dari dalam saku seragamku. Kemudian menyingkirkan juntaian rambut tersebut dari hadapanku. Aku menjepitnya dengan erat, sehingga tak akan mungkin baginya untuk lepas lagi. Ini jauh lebih baik daripada sebelumnya.


"Eh, gue malah baru sadar dong kalau Stefani hari ini pakai poni. Pantesan dari tadi gue ngerasa kalau ada yang beda sama dia. Tapi gue enggak berhasil nemuin perbedaan itu." Jelas Titan panjang kali lebar.


"Kalian kayak anak kembar tau, kalok begitu." Timpal Arka yang akhirnya mulai buka suara.


"Enggak!" Tegas ku sekali lagi.


Bagaimana bisa mereka menyama-nyamakan aku dengan gadis itu. Aku dan Stefani sudah jelas-jelas berbeda. Mungkin mata mereka sedang bermasalah.


Aku menyenderkan diriku di kursi sambil menatap lurus ke arah papan tulis yang masih kosong. Padahal ini adalah hari pertama bagiku kembali bersekolah, sekaligus hari ulang tahun ku. Namun kenapa hari ini mereka semua begitu menyebalkan. Semua ini lagi-lagi karena ide Renata yang menjadikanku sebagai kelinci percobaan nya. Coba saja ia tak melakukan hal itu padaku, pasti ini semua tak akan terjadi. Padahal ini masih pagi, mood ku sudah di buat tak karuan oleh mereka semua.


Tiba-tiba saja sebuah tangan dengan lancangnya menarik bobby pin ku, hingga menyebabkan poniku kembali terurai bebas. Aku lantas mengalihkan pandanganku untuk mencari tahu siapa pemilik tangan tersebut. Ternyata itu adalah seorang pria yang selama ini duduk di sebelahku.


"Balikin Arka...." Pintaku.


Arka hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan wajah datar. Mau cari masalah apa lagi pria ini denganku. Aku benar-benar tak bersemangat untuk berdebat dengannya.


"Arkaaaaa balikin please...." Rengek ku.


"Begini jauh lebih baik." Ujarnya sambil merapihkan poniku yang tak beraturan.


Aku mematung di tempat seketika itu juga. Mataku terbelalak lebar menatap pria itu dengan perasaan tak percaya. Ada suatu organ yang tersembunyi di dalam sana, berdegup kencang dan semakin cepat.


"Jauh lebih cantik." Ucapnya sekali lagi.


Ia memundurkan wajahnya dari hadapanku. Membidik wajahku dari kejauhan.


"Sempurna." Lanjutnya.


"Cieee...... ada yang clbk nih." Sorak mereka dengan kompak.


Aku langsung melemparkan tatapan sedingin mungkin kepada kumpulan manusia-manusia menyebalkan itu. Lagi-lagi aku berdecak sebal menghadapi kelakuan mereka.


"Kalian enggak mau ngucapin sesuatu gitu sama Eresha, biar di nggak kusut lagi mukanya?" Ujar Stefani sambil tersenyum licik.


"Apaan?" Sambut Adit.


"Masa kalian lupa sih ini hari apa." Balas gadis itu.


"Hari apa emangnya?" Clara bertanya balik.


"Hari ini kan Eresha ulang tahun, masa kalian lupa sih. Sahabat macam apa coba yang lupa hari istimewa sahabatnya sendiri." Ujar Stefani tak sabar.


"Loh apa bener?" Balas Adit seraya mengecek tanggal di ponselnya.


"Oh iya gue lupa." Sambung Clara yang menepuk jidatnya.


"Gue malah enggak tahu sama sekali lagi." Timpal Titan dengan wajah polosnya.


Sepertinya mereka memang tak peka dengan kode yang di berikan Stefani. Atau jangan-jangan malah anak ini saja yang tidak pandai memberi aba-aba.


"Gue enggak lupa kok." Ujar Arka tiba-tiba.


"Serius lo?" Sambung Stefani.


Aku hanya tetap bungkam sambil menatap pria itu.


"Happy birthday Eresha Caitlyn Ananda. Wish you all the best, dan ini kado buat kamu." Ujar Arka sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam lacinya.


"Semoga suka." Lanjutnya.


"Maaf kalau kita lupa ulang tahun lo, tapi bohong. Haha....


Tenang aja, kita ingat kok." Timpal Clara kemudian menyodorkan sebuah kue donat ukuran jumbo yang di pasangi lilin warna-warni.


"Happy birthday!" Sorak mereka secara bersamaan.


"Terimakasih semuanya, aku enggak nyangka kalau kalian bakal sebaik ini sama aku." Ujarku setengah tak percaya.


"Eh, by the way gue udah dua kali ngucapin nih sha." Ucap Stefani.


"Buruan tiup lilinnya gih!" Perintah Arka.


Aku mengangguk cepat mengiyakan perkataannya. Setelah itu aku langsung mendekatkan wajahku ke arah kue tersebut sambil meniup apinya hingga habis.


"Horeee!" Sorak mereka dengan bahagia.


Senyum kecil itu kembali mengembang setelah sempat sirna. Aku beruntung bisa memiliki mereka semua. Sahabat yang tak bisa ku deskripsikan dengan kata-kata. Mereka semua terlalu sempurna untuk orang sepertiku.


"Buruan potong dong kuenya!" Protes Adit tak sabaran.

__ADS_1


"Donat..." Balasku.


"Eh iya, donatnya maksudnya."


Clara segera mengeluarkan sendok makan miliknya, yang akhir-akhir ini selalu ia bawa ke sekolah karena harus makan siang di tempat ini. Meskipun hanya sepotong donat, namun ukurannya bisa di bilang cukup raksasa dibandingkan donat yang di jual pada umumnya.


"Buka kadonya." Perintah Arka.


"Sekarang banget nih?" Tanyaku.


Arka mengangguk semangat mendengar ucapanku barusan. Aku lantas segera menuruti permintaannya.


"Wahhh...... siapa nih yang gambar ini?" Ujarku sambil berdecak kagum.


"Ada aja, yang penting kamu suka." Balasnya.


"Aku suka kok, aku janji bakal pajang ini di dinding kamarku."


"Tapi jangan sampai kena paku lagi ya."


"Aman..."


Lukisan ini begitu sempurna, bahkan setiap detail kecil dari wajah kami, di gambarkan dengan begitu persis. Siapapun yang menggambar ini aku yakin, pasti ia memiliki darah seni yang pekat. Gambaran indah tentang persahabatan kami berenam yang di tuangkan dalam sebuah lukisan.


"Eh, by the way lo tau nggak ka, puisi yang lo buat itu juga di pajang loh di kamarnya Eresha." Jelas Stefani panjang lebar.


"Oh ya?" Balas Arka tak percaya.


Aku langsung menggebrak meja saat itu juga, membuat semuanya bungkam dan tercengang. Berani-beraninya Stefani mengatakan hal itu kepada Arka.


"Sorry..." Ucapnya sambil tersenyum kaku.


"Kadang Eresha tuh kayak kucing rumahan, jinak banget. Tapi ternyata bisa bringas kayak gini juga." Timpal Adit yang masih terpaku.


"Hehe...." Balasku seraya nyengir seolah tak berdosa.


"Eh aku punya sesuatu buat kalian." Lanjutku kemudian merogoh isi tas ku.


"Ini, datang ya.... acaranya minggu depan." Ujarku sambil menyodorkan undangannya.


"Siapa nih nikahan?" Tanya Adit.


"Udah dateng aja." Jawabku.


"Kakaknya Eresha mau nikahan, udah kalian datang aja. Kapan lagi bisa makan gratis sepuasnya, ya nggak." Jelas Stefani panjang lebar.


"Kak Renata maksud lo?" Tanya Arka setengah terkejut.


"Iyap!" Balasku.


"Gila sih, jodohnya udah datang aja. Cepat banget cuy!" Balas pria itu.


"Jangan lupa datang ya." Ujarku sekali lagi.


"Aman, kalau ini sih gue pasti dateng." Balas Titan.


"Nih, setiap orang cuma ambil satu potong ya." Ujar clara sambil menyodorkan kotak donat tersebut.


Tangan kami langsung berebut masuk ke dalam kotak tersebut. Sementara Clara dengan teliti mengamati setiap tangan yang masuk agar tak terjadi kecurangan. Semuanya sudah di bagi sama rata, jadi harus adil.


***


"Akhirnya kamu balik lagi ke sekolah." Ujar Arka.


"Kenapa emangnya?" Tanyaku.


"Kamu tau nggak selama kamu enggak masuk, yang nempatin bangku kamu ini si Titan. Stress banget tau kalau semeja sama dia gini." Jelas Arka dengan begitu antusias.


Sepertinya, aku memang telah melewatkan begitu banyak cerita di kelas ini.


"Emangnya kalau aku yang di sini enggak stress?" Tanyaku sekali lagi.


"Ehmmm..... ini jepitan rambut kamu." Balasnya kemudian mengembalikan bobby pin itu kepadaku.


"Terimakasih."


"Jangan di jepit lagi poninya."


"Kenapa? Aku nggak mau di kira anak kembar sama Stefani."


"Kamu jauh lebih cantik begini. Lagian kamu sama Stefani beda jauh kok."


"Oke..."


Kelihatannya Arka enggan membahas soal hal itu. Ia langsung mengalihkan pembicaraan setelah aku berusaha untuk menanyakannya. Pria itu sedang berusaha menyembunyikan sesuatu dariku, tapi sayangnya aku telah mengetahuinya lebih dulu.


Pelajaran pertama di hari ini telah kembali di mulai. Harus ada sesuatu yang di korbankan demi mencapai sebuah tujuan, termasuk juga belajar.


Tak terasa waktu berjalan begitu cepat meninggalkan semua hal di masa lampau. Tanpa menghiraukan sedikit saja orang-orang di sekitarnya. Hanya tinggal hitungan bulan umur kami di sekolah ini. Sebentar lagi, sekolah ini telah siap melepas ratusan siswa yang telah mereka didik sebaik mungkin.


Saat itu juga kami akan menjalani takdir hidup yang sebenarnya. Akan jauh lebih banyak cerita lagi setelah kami meninggalkan tempat ini. Tapi di sinilah awal dari kisah itu di mulai. Sebuah kenangan yang tak akan ku lupa seumur hidupku. Kenangan masa putih abu-abu.


Di saat hari terakhir nanti, ketika hari kelulusan telah tiba. Di saat itu lah kita akan merasa bangga, bahagia, puas, tapi sekaligus sedih dan haru. Semuanya akan terjadi pada waktu itu. Percayalah jika masa depan yang gemilang akan segera menanti kita. Itulah harapanku dan juga harapan seluruh siswa kelas dua belas di SMA Nusantara. Bukan hanya SMA ini, seluruh Indonesia juga berharap seperti itu kepada generasi muda harapan bangsa.


***


"Mau aku antar pulang sekalian?" Tanya Arka yang tiba-tiba berhenti di depanku dengan sepeda motornya.


"Oh, enggak usah ka. Hari ini aku ada janji sama Kak Renata buat nemenin dia fitting baju pengantin." Jelasku.


"Oh yaudah deh aku tungguin kamu di sini sampai Kak Renata datang. Lagian Stefani udah cabut duluan kan?"


"Iya sih, dia kan harus kerja dulu."


"Itu makanya aku temenin di sini. Lagian udah mau gelap ntar lagi."


"Thanks udah mau nungguin aku."


"Udah santai aja, kayak sama siapa aja."


Tak lama kemudian ada sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan kami. Setelah itu si pemilik mobil tersebut membuka kaca mobilnya hingga tampaklah seorang wanita di dalamnya.


"Yuk naik!" Ajak Renata.

__ADS_1


Aku mengangguk cepat mengiyakan perkataannya.


"Eh ada Arka juga? Kamu mau ikut kita sekalian nggak?" Tanya Renata basa-basi.


"Eh, Arka kamu bilang?" Tanya Kak Reksa balik.


Sesaat kemudian mereka berdua memutuskan untuk keluar dari mobil. Kedua orang tersebut menghampiri kami yang sedang berdiri di trotoar.


"Eh, Arka?" Ujar Kak Reksa seolah telah kenal dekat dengan pria yang satu ini.


"Eh, Kak Reksa." Balasnya.


"Ini Arka tetangga aku, ternyata dia satu sekolah juga sama Eresha?" Tanya pria itu sambil merangkul bahu Arka.


"Iya kak..." Balasku dengan sedikit kaku.


"Kita sekelas, sebangku malah." Tambah Arka.


"Oh ya? Udah kenal dekat dong berarti." Balas Kak Reksa.


"Sangking dekatnya mereka ini pacaran loh." Tambah Renata saat itu juga.


"Kak!" Bentak ku.


"Emang bener ka?" Tanya Kak Reksa memastikan.


"Ya gitu deh kak." Balas Arka dengan ragu-ragu.


Ya ampun, kenapa situasinya menjadi serumit ini. Padahal kan tadinya aku yang akan mengurusi urusan Renata. Tapi kenapa sekarang pembahasannya malah keluar dari jalur seperti ini. Aku bahkan tak mengetahui sebelumnya jika Arka adalah tetangganya Kak Reksa.


"Tapi kalau di lihat-lihat, kalian emang cocok sih." Ujar Kak Reksa dengan enteng.


Aku hanya bisa mengelus dada sambil terus meningkatkan level kesabaranku. Mereka ini sebenarnya sedang ingin mengujiku atau bagaimana.


Sementara Arka tetap bungkam tak berkata apapun. Kelihatannya ia juga merasakan hal yang sama denganku.


"Gimana kalau kamu ikut sama kita aja buat fitting baju? Sekalian kita beliin dress code buat kamu juga." Ucap Kak Reksa.


"Kayaknya aku mau langsung pulang aja deh kak." Tolak Arka tanpa mengurangi rasa hormat sedikitpun.


"Enggak ada alasan pokoknya. Soal mama kamu biar kakak yang ngomong." Tegas pria itu.


"Gini aja deh, kamu boncengan sama Eresha. Kita sama-sama ke butik. Dan enggak ada acara nolak-nolakan." Lanjutnya.


"Nah setuju!" Tambah Renata.


"Ya udah deh." Jawabku pasrah.


Aku tak ingin berdebat lebih panjang lagi dengan mereka. Aku lantas segera naik ke atas sepeda motor Arka dan sepasang kekasih itu kembali ke mobilnya. Sekarang kami selalu pulang lebih lama dari biasanya. Itu semua semenjak ham pelajaran tambahan telah diberlakukan. Hal itu memang selalu di lakukan setiap tahunnya oleh sekolah ini.


Kami membuntuti mobil Kak Reksa dari belakang. Kendaraan kami saling berpacu menuju butik sebelum gelap malam menyapa. Tapi kelihatannya kami akan pulang lebih malam saat selesai dari butik. Memilih baju pernikahan bukanlah hal yang sebentar. Apalagi mereka bilang akan memilihkan dress code untuk aku dan Arka.


"Kamu udah kenal lama sama Kak Reksa?" Tanyaku di tengah perjalanan.


"Oh, udah lama banget malah. Kita dulu sering main bareng pas kecil, cuma semenjak aku masuk SMA dan dia juga udah kuliah. Jadi sama-sama sibuk deh, dan jarang ketemu." Jelasnya.


Aku lantas menganggukkan kepalaku sambil meng-oh kan kalimatnya.


***


"Yuk masuk!" Ujar Renata sambil membenarkan tasnya.


Aku mengangguk mengiyakan perkataannya. Kemudian kami segera masuk ke toko yang terletak diantara jajaran toko-toko elit lainnya. Cahaya lembut kuning keemasan dari lampu gantung, menambah kesan mewah tempat ini. Jejeran gaun-gaun anggun terpajang di sepanjang jalan.


Kedua anak remaja ini hanya mengikuti langkah orang di depannya. Renata dan Reksa sedang menemui pemilik toko dan berbincang-bincang sebentar. Kami hanya menunggu dengan rasa jenuh yang mulai menghampiri. Kami hanyalah anak kecil yang bahkan belum lulus SMA, tahu apa kami soal urusan mereka.


"Nah, kita mau coba gaunnya dulu. Kalian tunggu di sini sebentar enggak apa-apa kan?" Ujar Kak Reksa.


"Iya kak..." Jawabku pasrah.


Sementara Arka hanya mengangguk dengan wajah datarnya yang selalu sulit di artikan.


"Maafin aku ya. Gara-gara aku kamu jadi ikut di bawa ke sini." Ujarku dengan merasa bersalah.


"Enggak apa-apa kok. Lagian kan yang ngajak aku Kak Reksa, jadi it's oke lah." Balasnya.


Pria ini memang selalu sulit di tebak. Terkadang apa yang ku pikirkan tentangnya, tak selalu sama pada kenyataannya.


"Besok mau ikut aku nggak?" Tanya Arka.


"Eh, kemana?"


"Ada deh, ke suatu tempat. Anggap aja ini sebagai hadiah ulang tahun dari aku."


"Kan tadi kamu udah ngasih aku kado."


"Kalau itu sih kado dari kita semua. Ini khusus dari aku buat kamu."


Aku mengangguk cepat mengiyakan perkataannya. Lagipula semenjak hubungan kami renggang, aku menjadi jarang menghabiskan waktu bersamanya seperti dulu. Tak dapat salahnya menerima ajakannya kali ini. Lagipula besok aku juga tidak ada jadwal yang terlalu sibuk.


Wajah Arka juga langsung terlihat begitu sumringah. Sebuah perubahan suasana hati yang berlangsung dengan cepat. Setidaknya aku pernah melihatnya tersenyum bahagia seperti ini setelah kami tak lagi bersama. Meskipun aku mau, tapi aku tak bisa melanjutkan kisah itu yang seharusnya sudah tamat.


Tak lama kedua calon mempelai itu keluar dari kamar pas nya masing-masing. Tentu saja dengan penampilan barunya yang membuatku pangling. Ternyata Kak Reksa jauh lebih terlihat tampan dan begitu cool saat memakai setelan jas seperti ini.


"Gimana?" Tanya Renata.


Aku mengamati penampilan mereka berdua secara seksama. Menyoroti nya satu persatu dari mulai bagian paling bawah, hingga ke ujung rambut. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, tak habis pikir dengan penampilan mereka. Benar-benar luar biasa, layaknya sepasang raja dan ratu.


Aku mengacungkan kedua jempol ku kepada mereka berdua sambil tersenyum kecil.


"Gimana ka?" Tanya Kak Reksa pada pria itu.


"Bagus sih." Balasnya.


"Jadi semua udah pas nih ya?" Ujar Renata.


"Kita ambil ini aja ya." Lanjutnya.


Calon suami Renata itu hanya mengangguk mengiyakan permintaan kekasihnya itu.


"Mbak kita ambil yang ini aja ya." Ujar Kak Reksa kepada pemilik butik tersebut.


Aku yakin pasti harga satu setel penampilan ini tidak murah. Di lihat dari luar saja, toko ini sudah terlihat begitu elit. Busana-busana yang dipajang di sini juga bukan pakaian sembarangan. Kelihatannya semua pakaian di sini telah dirancang sedemikian rupa oleh designer profesional yang ternama. Barang-barangnya saja rata-rata bermerek semua. Berapa banyak biaya yang mereka keluarkan untuk menyelenggarakan acara pernikahan ini.

__ADS_1


Mereka berdua segera kembali masuk lagi ke dalam ruangan untuk mengepas pakaian. Dan kami berdua juga harus menunggu lagi. Benar-benar sesuatu yang membosankan bagiku.


__ADS_2