
Aku berjalan meninggalkan pria itu tepat di belakangku. Dengan langkah tergesa dan nyaris seperti sedang berlari itu, aku mencari halte bis terdekat. Semoga saja aku belum ketinggalan bis terakhir. Jika sampai hal itu terjadi, maka aku akan menyalahkan Arka atas segalanya. Aku gak ingin tidur di luar sana dengan udara yang dingin seperti ini.
Setelah sampai di sana, aku mengecewakanmu jadwal keberangkatan. Aku duduk sebentar untuk melemaskan otot-otot kakiku. Napas ku terasa memburu, tapi setidaknya kali ini aku bisa merasa lebih lega karena tahu jika masih ada dua keberangkatan lagi. Ya, pada akhirnya malam ini aku bisa kembali ke asrama yang semakin ini selalu ku sebut sebagai rumah.
Sekarang aku hanya perlu menunggu sekitar lima belas menit lagi, sampai bis selanjutnya datang. Akhirnya aku bisa mendapatkan apa yang kuinginkan selama ini.
'Tap! Tap! Tap!'
Tiba-tiba saja terdengar suara langkah kaki yang begitu nyaring. Tempo nya terdengar cepat di awal, lalu melambat pada akhirnya. Tempat ini lumayan sepi sekarang. Hanya aku satu-satunya calon penumpang yang sedang menunggu bis di sini. Ku rasa itu adalah orang lain yang juga ingin naik bis. Aku tak terlalu ambil pusing soal hal itu sama sekali. Orang itu duduk tepat di sebelahku dengan jarak kurang dari satu meter. Padahal semua orang tahu betul jika pada saat seperti sekarang ini, semua orang harus saling menjaga jarak dan tidak boleh melakukan kontak fisik. Hal itu bisa membuat orang lain memiliki kemungkinan untuk terinfeksi virus.
Aku mulai kesal saat mendapati sepatu ku dengan sepatu nya bersebelahan. Orang ini sungguh tak mengindahkan peraturan saat ini. Aku tak tahu siapa dia, dan yang pasti aku tak bisa melihatnya untuk saat ini. Aku masih sibuk mengatur nafasku yang masih memburu sedari tadi. Bahkan untuk mengangkat kepalaku saja rasanya sudah tak sanggup.
Kenapa aku bisa menjadi sangat kelelahan seperti ini? Apa yang telah ku lakukan sejauh ini? Apakah aku benar-benar telah mencoba berlari kabur dari pria itu? Apa aku sungguh melakukannya? Ah, dasar bodoh! Bagaimana bisa aku meninggalkannya sendirian di sana. Bagaimana kalau dia tersesat dan tidak bisa pulang. Itu tak menutup kemungkinan baginya untuk hilang di tengah keramaian seperti itu.
Arka baru beberapa Minggu berada di sini. Ia tak paham betul seluk beluk kota ini. Aku benar khawatir jika sesuatu yang buruk akan menimpanya. Aku benar-benar ceroboh. Padahal aku tahu betul jika aku adalah satu-satunya orang yang bertanggung jawab atas dirinya sedari tadi. Kami saling mengandalkan satu sama lainnya.
Aku tak tahu harus berbuat apa sekarang. Pikiran ku benar-benar sedang kacau saat ini. Aku mengambil keputusan sepihak secara spontan, tanpa memikirkan akibatnya. Benar kata orang jika penyesalan selalu datang di akhir cerita. Aku benar-benar bingung saat ini. Kurang dari lima menit lagi, bis terakhir akan datang. Ternyata aku salah melihat jadwal. Untuk hari ini, itu hanyalah bis yang terakhir. Untuk besok masih ada dua bis lagi yang akan beroperasi pada jam segini. Jika ia beranjak dari sana, maka akan sulit bagiku untuk menemukannya. Sebenarnya aku ingin pergi dan menyusulnya, sebelum ia pergi lebih jauh. Tapi, aku tak bisa melangkahkan kakiku untuk saat ini. Jika aku pergi, maka itu artinya aku akan ketinggalan bis terakhir dan tidak bisa pulang. Apa aku benar-benar harus mengorbankan diriku sendiri untuk orang lain? Bahkan ia tak pernah melakukan itu padaku.
Ini benar-benar keputusan yang sangat sulit bagiku. Antara mendahulukan kepentingan orang lain atau kepentingannya diriku sendiri. Aku tak tahu harus bagaimana sekarang. Jika saja aku masih memiliki waktu lebih banyak, aku pasti akan melakukannya keduanya. Ah! Aku mohon jangan hadapkan aku pada pilihan yang sulit seperti ini. Aku tak bisa memilih salah satu dari mereka. Aku ingin kedua hal itu terjadi sesuai dengan yang ku inginkan.
Ku kira tadi pria itu akan mengejar ku dari belakang. Atau paling tidak mengikuti diam-diam. Tapi ternyata tidak sama sekali. Sepertinya ia memang sudah menyerah dengan keadaan. Kali ini Arka tak egois, ia tak mau memaksa. Karena yang seharusnya pergi akan teta pergi pada akhirnya. Tak peduli bagaimana dan sekeras apa usahamu untuk mencegahnya.
Sementara itu, dari kejauhan aku telah melihat bis itu. Perlahan ia mulai berjalan melambat untuk berhenti di halte ini. Aku semakin gugup saat bis itu semakin mendekat. Aku benar-benar tak bisa memikirkan ataupun memutuskan satu hal pun. Ini artinya waktu yang ku miliki tinggal sedikit lagi. Aku harus segera mengambilnya keputusan yang paling tepat dalam waktu kurang dari satu menit. Aku harus memilih antara diriku sendiri atau Arka.
__ADS_1
Hingga bis itu berhenti tepat di hadapanku. Beberapa penumpang terlihat keluar dari dalam sana. Sementara aku sendiri belum memutuskan apapun. Tanpa pikir panjang lagi, aku segera beranjak dari tempat dudukku untuk kemudahan pergi mencari Arka. Ku pikir aku masih bisa pulang dengan taxi. Yang terpenting sekarang adalah aku harus menemukan Arka. Jika tidak, maka aku mungkin akan merasa bersalah seumur hidupku karena telah menelantarkan anak orang di tengah kota.
Tapi, lagi-lagi secara tiba-tiba ada seseorang yang mencoba mencegahku untuk pergi dari sana. Ia menarik tanganku, kemudian membawaku masuk ke dalam bis. Ia memaksaku naik dan kami berdua duduk di bangku paling belakang. Aku sudah berusaha untuk memberontak dan melepaskan diri darinya berkali-kali, tapi sepertinya sia-sia saja karena aku tahu jika orang ini tak akan melepaskan ku begitu saja. Cengkeramannya terasa begitu erat, hingga darah ku tak bisa mengalir lagi rasanya.
Setelah kami duduk, tak lama kemudian bis itu mulai menginjak pedal gas dan beranjak pergi dari sana. Aku hanya bisa mendengus kesal sambil melihat keluar jendela. Di saat pertahanannya melemah, aku berusaha untuk melepaskan tanganku. Dan itu benar'Bergas kali ini.
"Ya!!!!" bentakku.
"Apa kau sudah gila?! Kenapa kau begitu lancang pada orang asing yang baru kau temui?" jelasku dengan amarah yang meledak-ledak.
"Perbuatanmu ini sungguh tak sopan!" tegas ku sekali lagi.
Aku terus mengumpat tajam padanya dengan menggunakan bahasa Korea. Tapi sepertinya manusia yang satu ini sama sekali tak merasa bersalah. Ia terlihat begitu santai dan tetap enggan untuk melihat ke arahku. Kepalanya selalu tertunduk dari tadi. Ia enggan mengucapkan satu katapun sebagai bentuk perlawanan. Aku benar-benar tak mengerti dengan jalan pikirannya.
"Harusnya aku yang bilang begitu." ucapnya secara tiba-tiba.
"Lain kali jangan melakukan hal bodoh seperti itu." ujarnya sekali lagi, sambil melemparkan pandangannya ke arah ku.
Pada akhirnya ia angkat bicara dan mengubah posisinya. Benar-benar mengejutkan saat ia menatapku dengan cara seperti itu. Aku terkejut bukan main, sekaligus tak percaya dengan apa yang baru saja ku alami. Kedua bola mataku terbelalak lebar saat mengetahui jika pria itu adalah Arka. Bagaimana bisa semua ini terjadi. Apakah ia merencanakan hal ini sebelumnya?
Aku memukulnya geram sekaligus kesal. Aku melampiaskan seluruh amarahku kepadanya. Pria ini benar-benar menguji kesabaran ku hari ini. Kali ini aku benar-benar merasa sangat marah saat melihat wajahnya. Kenapa ia begitu menyebalkan hari ini. Aku mencoba untuk mengontrol emosiku saat itu. Aku tak ingin menjadi pusat perhatian di dalam sana.
Aku menghela nafas dalam-dalam. Berharap agar otakku tak kekurangan oksigen. Tapi semarah apapun aku saat ini, setidaknya masih ada satu hal yang bisa menjadi angin segar bagi ku. Paling tidak kini Arka sudah kembali bersamaku dan yang terpenting ia aman saat ini. Aku tak perlu mengkhawatirkan apa-apa lagi sekarang. Mari ambil sisi baiknya. Itu akan membuatku merasa jauh lebih tenang.
__ADS_1
Beberapa halte sudah kami lewati untuk menuju perjalanan pulang. Beberapa orang terlihat naik dan turun secara berkala. Semua hal di dalam sini selalu berubah setiap saatnya. Hanya aku dan manusia menyebalkan ini yang masih tetap berada di sini. Itu karena kami hanya akan turun di pemberhentian terakhir.
Tapi sejauh ini kami masih saling membisu satu sama lainnya. Benar-benar seperti dua orang asing yang tak pernah bertemu sebelumnya. Ada satu hal yang tak berubah dari tadi. Yaitu perasaan kita kepada Arka. Aku masih marah sekaligus kesal kepadanya. Aku belum bisa memaafkannya sedikitpun. Ia benar-benar keterlaluan hari ini. Jika aku tahu kalau kejadiannya akan berakhir seperti ini, maka aku tak akan mau menyetujui permintaannya untuk menemaninya jalan-jalan.
Aku benar-benar lelah dan ia masih sempat-sempatnya menguji kesabaran ku. Andai dia tahu jika aku nyaris kehilangan kewarasan ku karenanya. Aku benar-benar seperti orang gila yang kebingungan di tengah jalanan kota. Harusnya ia tahu hal itu sejak dulu. Harusnya aku memberitahunya lebih dulu.
Masih ada beberapa halte lagi yang harus ku lewati untuk sampai di asrama. Ku rasa masih sempat untuk mengistirahatkan diriku sejenak di tempat ini. Lagipula aku berhenti di halte terakhir, jadi tak masalah. Tempat itu masih jauh lagi dari tempat kami berada saat ini. Jika mungkin aku ketiduran, sopir bis ini pasti akan membangunkan ku.
Aku harus memikirkan bagaimana caranya untuk masuk ke asrama pada jam segini. Aku pasti akan ketahuan penjaga kalau masuk begitu saja. Dan mereka akan memberikanku sanksi. Aku tak mau hal itu sampai terjadi, meskinya ku akui jika diriku bersalah saat ini. Tapi, aku juga tak mungkin menunggu hinggap dini hari agar bisa masuk ke sana. Aku tak mau menunggu di luar sendirian.
Aku menyandarkan diriku pada kursi bis, sambil melihat ke langit-langit. Sementara itu, aku tengah berusaha memutar otak untuk mencari cara yang paling tepat.
Ku pikir aku akan tetap bertahan di sana dan melawan rasa kantuk yang menerpaku kala itu. Tapi rasanya kali ini aku telah kalah telak. Hawa dingin yang diam-diam menyeruak masuk itu membuatku tunduk begitu saja. Tak bisa dipungkiri lagi jika aku benar-benar kelelahan hari ini. Meskipun aku tak banyak melakukan kegiatan apapun secara fisik, tapi sepertinya energiku telah dikuras habis secara mental. Mereka bahkan tak menyisakannya sedikit untukku. Paling tidak, sisakan sedikit tenaga saja agar aku bisa tetap terjaga selama perjalanan.
*Arka POV*
Sudah sejak beberapa saat yang lalu gadis ini tertidur dengan begitu pulas. Bahkan dinginnya malam tak mampu lagi untuk mengusiknya kali ini. Aku melewati setiap jalanan ini sendirian, tanpa satu kalimatpun yang terucap diantara kami tadi. Sepertinya aku telah memberikan kesan yang sangat buruk padanya untuk hari ini. Aku tahu dan dapat memaklumi jika ia tak inging memngingat semua kejadian sepanjang hari ini. Eresha sempat tertawa dan menjadi gadis yang periang untuk beberapa saat. Tapi, setelah itu wajahnya kembali mendung dan kurasa aku lah penyebab nya. Tak ada lagi hal lain yang bisa ku jadikan sebagai alasan untuk mengelak kali ini. Aku mengakui semua itu, aku mengakui jika aku benar-benar bersalah atas hari ini.
Pertemuan kami di tempat makan itu sungguh tak terduga. Aku tak menyangka jika aku akan kembali menemukannya di tempat seluas ini. Terakhir yang aku tahu soal dirinya adalah jika ia telah pindah ke Korea untuk melanjutkan studinya. Tapi aku tak tahu persis di kota mana ia tinggal. Aku tak mungkin mencarinya di antara milyaran manusia yang berada di sini. Tapi ternyata keajaiban itu benar-benar ada. Ia muncul tepat di hadapanku kala itu dengan sorot mata yang terlihat kebingungan. Jangankan dia, aku saja tak paham bagaimana semua ini bisa terjadi.
Tiba-tiba saja bis ini menginjak tuas rem nya dan berhenti tepat di depan sebuah halte. Aku melihat keluar jendela, memastikan dimana saat ini kami sedang berhenti. Seteah melihat bangunan yang ada di sekitarnya, sepertinya aku merasa taka sing lagi dengan tempat ini. Akhirnya kami telah sampai di pemberhentian terakhir. Tapi yang menjadi masalahnya adalah, saat ini Eresha masih belum bangun juga. Aku tak tahu harus ku apakan dia saat ini.
Tanpa pikir panjang lagi, aku segera membawanya turun dari dalam bus tanpa membangunkannya. Setelah itu akan ku pikirkan lagi nanti. Akan ku cari jalan keluar dari semua ini. Kali ini aku tak ingin membuatnya kecewa lagi. Ku harap kali ini aku melakukan tindakan yang benar.
__ADS_1
Setelah turun, kami duduk di halte untuk beberap saat. Aku berusaha kera untuk memutar otak. Aku tahu jika aku bisa mengandalkannya kali ini. Ia tak pernah mengecewakanku sejauh ini. Dan semoga saja itu termasuk untukk yang satu ini. Aku tak berharap banyak, tapi tolonglah beri aku jalan keluarnya. Aku tak bisa melakukan ini sendirian lagi.
Kali ini aku benar-benar di buat bingun oleh situasi yang serba salah ini. Sekarang keadaannya benar-benar rumit. Bahkan itu lebih rumit dari soal matematika yang pernah ku selesaikan sejauh ini. Jika aku membawanya pulang kembali ke asrama, maka bagaimana caranya. Aku tak tahu dimana kamarnya, dan bagaimana cara masuk ke sana. Itu asrama, tak sembarang orang bisa masuk ke sana kecuali yang berwenang. Penjagaan di tempat itu benar-benar ketat. Jika aku membawanya ke sana secara terang-terangan, maka itu sama saja dengan aku menyeretnya ke dalam masalah.