
"Nih mbak saya kasih tau. Mas Arka ini orangnya paling anti sama cewek, kayak rish gitu kalau di deketin. Apalagi kalau cewek nya ini kecentilan dan deketin Mas Arka nya duluan. Makanya tadi saya terkejut Mas Arka jalan sama cewek."
"Emang Arka gitu ya mang?"
"Iya mbak. Monggo di tanya sendiri sama orangnya langsung."
"Apaan sih mang." Elak Arka.
"Saya curiganya nih tadi kepala Mas Arka terbentur sesuatu gitu atau jangan-jangan Mas Arka kesambet setan penunggu sekolah ya?"
"Eh, enggak dong mang. Enak aja bilangin Arka begitu. Emang salah ya kalau Arka punya pacar?"
"Ya jelas enggak dong Mas. Bagus malah."
'Kling.'
Ponselku berbunyi singkat.
Aku lantas mengeceknya. Ada pesan WhatsApp masuk dari Kak Sendy.
"Sha, nanti sore sibuk? Bisa ketemuan di Cafe Star enggak?"
Begitu isi pesannya. Aku sedikit ragu dan bingung ingin menjawab apa. Aku sudah janji akan belajar bersama Arka hari ini untuk persiapan olimpiade.
"Kayaknya enggak bakal sampai sore belajarnya. Paling cuma sebentar." Batinku dalam hati.
"Nanti sore aku kabari lagi." Balasku di pesan WhatsApp tersebut.
"Arka, kita belajarnya sampai sore nggak?" Tanyaku.
"Kenapa emangnya?"
"Aku ada janji sama temen nanti sore. Takutnya waktunya tabrakan."
"Oh, yaudah kalau gitu kita belajarnya enggak perlu sampai sore."
"Serius? Thanks ya ka."
"Emang janjiannya dimana?"
"Cafe Star. Kamu tau?"
"Tau kok. Yaudah nanti sekalian aku anterin kamu kesana gimana?"
"Duh, nanti malah ngerepotin kamu."
"Enggak kok, beneran."
"Nanti aku bisa naik ojek aja kesana."
"Udah, sama aku aja."
"Oke, sekali lagi terimakasih ya."
"Biasa aja kali. Lagian aku kan selalu udah jadi pacar kamu. Jadi enggak apa-apa dong aku nganterin kamu."
Aku hanya mengangguk.
"Mas ini pesanannya, monggo." Ucap si penjual sambil menyodorkan bungkusan plastik berisi gado-gado.
"Ini mang uang nya." Arka mengeluarkan uang pas.
"Punten mas."
"Sama-sama mang. Kalau gitu kita duluan ya."
"Oh iya mas hati-hati."
"Mari mang." Ucapku.
Matahari siang ini tak begitu terik, sangat bersahabat bagiku.
Kami memasuki kompleks perumahan yang tak lain dan tak bukan adalah kompleks tempat nenek tinggal sekarang ini. Aku membuka pintu gerbang yang memang sengaja di kunci dari dalam. Seharusnya sekarang nenek sudah pulang dari pasar dan berada di rumah.
Kami menuju teras rumah. Aku meletakkan tas ku di atas meja kecil yang terdapat di ujung teras.
"Duduk dulu." Aku mempersilahkan Arka duduk di kursi santai samping meja.
Iya hanya mengangguk kemudian membuka sepatunya. Aku membuka gerendel pintu depan kemudian masuk ke area dapur untuk mencari nenek.
"Loh, belum selesai masak nek? Kok tumben lama?" Tanyaku sambil menghabiskan segelas air putih yang barusan ku ambil.
"Udah kok, kamu kalau mau makan itu sudah siap. Ini untuk pesanan catering." Jelasnya.
Oh iya aku lupa. Karena selama ini nenek hidup sendiri, jadi ia juga membuka usaha sampingan catering. Ya walaupun anak-anaknya sering mengiriminya uang bulanan, nenek masih tetap melanjutkan usaha ini. Nenek bilang lebih baik ia bekerja dari pada bingung harus ngapain dirumah. Biasanya nenek dan bibi yang meracik resep masakannya.
"Oh iya nek, teman aku ada yang main kerumah. Kita mau belajar bareng." Ujar ku.
"Kok enggak disuruh masuk? Dia dimana sekarang?"
"Di depan nek."
"Suruh masuk aja, sekalian makan siang disini aja bareng sama kita."
"Oh? Oke."
Aku berlari ke depan.
"Arka, yuk masuk!" Ajak ku.
"Udah disini aja. Enggak enak ntar sama orang rumah."
__ADS_1
"Nenek kok yang nyuruh."
"Nenek kamu?"
"Iya Arka...."
"Oh, yaudah deh."
***
Kami makan siang sebentar untuk mengisi tenaga. Meskipun saat di meja makan nenek sempat beberapa kali melemparkan pertanyaan yang membuatku terpojok. Aku tidak mungkin terus terang jika Arka adalah pacarku. Untuk saat ini rasanya biar aku sendiri dulu yang tahu soal ini. Walau tadi Arka sempat hampir keceplosan mengatakan semuanya, untung saja aku bisa mencegahnya.
Sebenarnya jika kami belajar bersama pun, topiknya tidak akan nyambung. Dia Matematika sedangkan aku Bahasa Inggris. Tapi ya sudahlah ini kan permintaannya.
Biarpun tajuknya belajar bersama, tapi sesungguhnya kami tetap belajar masing-masing. Ia sibuk dengan hitung-hitungan yang melihatnya dari kejauhan saja sudah membuat kepalaku pusing. Sedangkan aku sibuk mendengarkan audio berbahasa Inggris atau video pembelajaran Bahasa Inggris.
Aku merebahkan tubuh di lantai. Suhu Jakarta yang kian meningkat membuatku merasa lebih baik jika tiduran di lantai keramik ini.
Aku memejamkan mataku dengan audio yang masih ku dengar tentunya dengan earphone.
Aku mendengarkan semua audionya dari ponsel. Dan tentu saja itu karena aku terlalu malas untuk mengambil laptop di kamar.
Tiba-tiba ada suara panggilan masuk ke ponselku. Aku terbangun dan mengeceknya.
"Kak Sendy?" Batinku.
Bukannya tadi aku telah membalas pesannya? Kenapa dia masih menelepon ku?
"Halo, Eresha! Nanti lo ke Cafe ya plis. Bantuin gue, ada tugas dari dosen gue nih." Ucapnya sesaat setelah aku mengangkat teleponnya.
"Udah pakai lo gue aja." Batinku dalam hati.
"Tut... Tut... Tut..." Aku mematikan sambungan teleponnya.
"Nih, makan batagornya." Arka melepas salah satu earphone dari telingaku.
Aku segera bangkit kemudian mengikat rambutku yang tergerai sudah sejak tadi.
"Nih." Ucapnya sembari menyodorkan bungkusan batagor yang telah dibuka.
Aku memasukkan satu ke dalam mulutku. Luar biasa! Rasanya melebihi ekspektasi ku. Bumbu kacangnya tidak hanya sekedar gurih, seolah ada resep rahasia yang turut si racik kan ke dalamnya.
"Enak ya." Ujar ku.
"Beneran kan apa yang aku berikan bilang, hehe..."
"Eh, by the way nih ya ka, aku bingung deh."
"Bingung kenapa?"
"Kan gini aku punya temen, kita belum lama sih kenalannya. Tapi udah kayak deket banget... Akrab banget..."
"Dan aku ngerasa udah kayak udah lama banget kenal sama dia. Jauh sebelum pertemuan kita itu. Aku ngerasa wajah, nama, semua hal tentang dia itu enggak asing lagi bagi aku."
"Mungkin kalian udah pernah ketemuan sebelumnya, cuma kamu enggak terlalu merhatiin dia."
"Nah yang anehnya lagi, bukan cuma aku doang yang ngerasa gitu. Dia juga ngerasain hal yang sama. Jadi pada intinya kita itu sama-sama ngerasa kalau kita pernah saling kenal sebelumnya. Ya walaupun aku enggak terlalu yakin juga sih tentang hal itu."
"Jangan-jangan..."
"Jangan-jangan apa?"
"Jangan-jangan kalian itu sebenarnya memang udah saling kenal sebelumnya. Cuma mungkin ada sesuatu hal yang buat kalian lupa soal itu."
"Misalnya?"
"Ya misalnya aja kayak di film-film. Si pemeran utamanya amnesia gara-gara kecelakaan. Terus dia lupa sama pacarnya sendiri, sama keluarganya, temen-temennya."
"Kecelakaan?"
"Iya. Eh, atau jangan-jangan kalian berdua kecelakaan bareng, terus saling lupa? Ya semacam amnesia gitu. Jadi kalian saling enggak ingat."
"Menurut kamu mungkin nggak kalau hal semacam itu terjadi?"
"Kenapa enggak. Eh, emangnya kamu pernah ngalamin kecelakaan?"
Aku mengangguk.
"Seriusan? Kapan?"
"Baru-baru ini sih sebelum ke Jakarta. Dan aku ketemu sama dia juga di rumah sakit. Karena kebetulan kita di rawat di rumah sakit yang sama waktu itu. Dia juga kecelakaan dan katanya amnesia ringan. Sedangkanaku cuma cedera di bagian kaki aja sih. Kalau bagian kepala, menurut hasil ronsen aman-aman aja. Dan kayaknya enggak mungkin sih kalau aku amnesia dan lupa sama semua kejadian sebelumnya."
"Iya juga sih, enggak mungkin amnesia seharusnya kalau bagian kepala kamu enggak ada masalah serius."
"Nah, makanya itu."
***
Aku dan Arka sudah selesai belajar. Kini kami sedang menuju Cafe untuk menemui Kak Sendy. Aku mengenakan setelan kaos dengan kardigan beserta celana sport dan sepatu snikers. Aku lebih suka bepergian dengan gaya kasual. Sementara Arka masih dengan seragam sekolahnya.
Kami menunggu bis di halte dekat perumahan.
***
"Hai." Sahut Kak Sendy dari meja di sudut ruangan.
Aku hanya melambaikan tangan kemudian menghampirinya.
"Udah lama?" Tanyaku.
"Enggak kok, aku baru sampai malah." Balas Kak Sendy.
__ADS_1
"Ini siapa?" Tanya Kak Sendy.
"Oh, kenalin Arka. Pacarnya Eresha." Ujar Arka sambil mengulurkan tangannya.
"Oh, pacar? Kenalin Sendy, temennya Eresha." Kak Sendy membalas uluran tangan pria itu.
"Oh, iya btw ada apa kok ngajak aku ke sini?" Tanyaku.
"Oh, gini. Jadi aku ada tugas dari kampus tentang penelitian gitu. Jadi kita disuruh ngumpulin foto beberapa eksterior bangunan restoran atau cafe gitu. Dan yang menarik pastinya."
"Sebentar, kok tentang eksterior bangunan? Bukannya kakak anak jurusan komunikasi?" Tanyaku kebingungan.
"Makanya kalau aku masih ngomongin di telepon, jangan sembarangan main matiin aja."
"Ya maaf."
"Jadi gini, setelah aku pikir-pikir mendingan aku ngambil jurusan arsitektur. Karena peluang suksesnya lebih besar menurut aku."
"Okey.... Terus aku harus bantu gimana?"
"Tolong cariin alamat
-alamat cafe atau restoran gitu. Biar besok aku yang datengin langsung tempatnya dan fotoin bangunannya."
"Waduh... Kayaknya enggak bisa deh. Kan tau sendiri aku baru sampai di Jakarta. Ke sini aja tadi aku dianterin sama Arka."
"Yah... Terus tugas aku gimana dong?"
"Ah, gini aja. Gimana kalau tanya Arka. Kan dia udah lama nih di Jakarta." Usul ku.
"Boleh sih. Tapi besok sorean dikit enggak apa-apa ya. Kemungkinan besok ada jadwal rapat peserta olimpiade." Jelas Arka.
"Seriusan nih?" Tanya Kak Sendy memastikan.
Ia hanya mengangguk, tak banyak berkata.
"Gimana kalau besok kita bertiga aja langsung ke lokasi. Buat foto eksterior bangunannya secara langsung. Gimana? Setuju?" Ajak ku.
"Setuju." Balas mereka secara bersamaan.
***
Cafe ini lumayan ramai di sore hari. Mungkin malam jauh lebih ramai. Ada satu yang menarik, band di cafe ini semua anggotanya wanita. Tak seperti band di cafe pada umumnya yang kebanyakan adalah pria. Ya mungkin band ini band honorer, tak selalu nge-band di cafe ini.
Kami menikmati makanan yang kami pesan sambil mendengarkan lagu yang dinyanyikan band tersebut. Hingga tiba-tiba...
"Uri... Ijen... Annyeong..."
"Lagu itu...." Ucapku dan Kak Sendy serempak.
Itu potongan lirik lagu berjudul Downpour yang dinyanyikan oleh girl band Korea bernama IOI. Bingo! Sekarang perlahan semuanya mulai kembali. Perlahan ingatanku tentang kecelakaan itu muncul satu-persatu. Ya! Aku ingat dengan jelas waktu itu di bis aku mendengarkan lagu itu dengan earphone bersama seseorang yang duduk di sebelahku. Sial! Tapi aku belum bisa mengingat dengan pasti siapa sosok itu.
***
"Lagu itu.... Akhh! Kenapa semuanya hitam! Sial! Aku yakin ada sesuatu tentang lagu itu! Aku yakin lagu itu bisa mengembalikan ingatanku!" Batin Sendy dalam hati.
Ia memejamkan matanya kuat-kuat. Ia yakin kali ini dia akan mengingat sesuatu. Minimal satu hal kecil, itu akan sangat membantu memulihkan ingatannya yang sempat hilang karena kecelakaan.
"Dingin."
Itu satu-satunya yang ia ingat.
"Ya, gadis itu. Gadis di sebelahku, ia bilang dingin. Tapi siapa dia. Wajahnya tak bisa ku kenali. Semuanya gelap, hitam legam. Yang terdengar hanya suara gadis itu." Batinnya lagi dalam hati.
***
"Hey, kalian kenapa?" Tanya Arka yang kebingungan ketika melihat kami melamun sesaat setelah lagu itu dinyanyikan.
"Arka, lagu itu ka..." Ucapku sambil berusaha mengingat lebih jauh.
Aku berharap bisa menemukan sesuatu disana, jauh di dalam otakku ada sebuah memori yang hilang dan aku harus menemukan itu. Aku telah berusaha mengingat semuanya, aku telah berusaha sekuat tenagaku. Tapi hasilnya nihil, tak ada apa-apa disana.
"Lagu itu kenapa?"
"Lagu itu... Akhh! Aku bingung bagaimana harus menjelaskannya."
"Apa ada hubungannya dengan temanmu ini? Soalnya dia juga mendadak bertingkah aneh begitu mendengar lagu ini."
"Sudahlah tidak penting." Sambung Kak Sendy.
***
Aku menjatuhkan diriku di atas kasur. Aku masih kepikiran dengan kejadiannya di Cafe tadi. Bagaimana bisa Kak Sendy juga ikut tercengang dengan lagu itu. Apa lagi itu memiliki sesuatu hal yang spesial baginya. Atau ada sebuah kenangan tentang lagu itu.
Apa benar yang dikatakan Arka tadi siang, jika aku mengalami suatu masalah di kepalaku dan membuat beberapa memoriku hilang begitu saja. Tapi aku masih ragu soal hal itu. Menurut hasil ronsen laboratorium, aku samasekali tak mengalami cedera di bagian kepala. Lalu bagaimana bisa aku melupakan sesuatu, dan anehnya aku tak bisa mengingat kembali hal itu meskipun aku telah berusaha keras.
Ada banyak hal aneh yang terjadi belakangan ini.
***
"Eresha sama Sendy kok aneh gitu sih tadi?" Tanya Arka pada dirinya sendiri.
"Ya walaupun Eresha sama Sendy cuma sekedar teman aku kok ngerasa enggak suka ya liat mereka deket-deket banget. Ya secara usia mereka aja udah beda. Walaupun enggak jauh-jauh banget sih bedanya. Apa aku cemburu? Ah, enggak lah mana mungkin aku cemburu sama temennya sendiri. Eh, tapi apa salah ya kalau aku cemburu?" Kali ini ia bertanya di depan cermin.
Dari tadi ia terus bertanya hal-hal seperti itu pada dirinya sendiri. Ia mondar mandir dari sudut kamarnya ke sudut yang lain.
"Gila sih, ternyata urusan cinta lebih bikin pusing daripada hitungan Matematika." Keluhnya.
Wajar saja Arka bicara begitu, ia tak pernah jatuh cinta sebelumnya. Hidupnya terlalu sibuk untuk mengurus urusan yang baginya tak begitu penting ini. Nilai rapor nya di akhir semester jauh lebih penting baginya. Tentu saja begitu, semua siswa juga akan setuju dengan Arka kalau soal itu.
Tapi untuk kali ini Arka kalah. Ia kalah dengan keegoisannya. Hatinya tak bisa menafikan cinta, hatinya kini jatuh kepada gadis itu. Gadis yang lebih dari sempurna baginya. Menurut sebagian orang, cinta itu adalah anugerah terindah bagi seorang insan. Mungkin sekarang pun Arka akan setuju dengan pendapat itu.
__ADS_1