Pengagum Lara

Pengagum Lara
Episode 55


__ADS_3

Clara kemudian segera membuka kotak berwarna ungu indigo tersebut. Sementara aku mempersilahkan mereka untuk duduk di sofa panjang yang terletak di sudut ruangan. Biasanya bibi tidur di sana kalau malam.


Aku mendudukkan posisi ku, sambil bersandar pada sisi tempat tidur. Rambutku masih begitu berantakan, akhh! Aku lantas menyelimutkan kain ini hingga menutupi bagian kepalaku. Aku bahkan tak ingat di mana terakhir kali aku meletakkan ikat rambutku.


"Brownies ya?" Tanyaku setelah kotak tersebut di buka.


"Iya, lo suka kan?"


Aku mengangguk cepat mengiyakan ucapan Clara barusan.


"Arka yang milihin ini buat lo." Lanjutnya.


"Oh, jadi Arka? Thanks ya buat brownies nya, sama buat yang kemarin." Ujarku.


"Santai aja kali, kayak sama siapa aja." Balasnya.


"Emangnya kemarin Arka ngapain?" Tanya Adit yang selalu merasa ingin tahu.


"Balikin handphone aku." Balasku dengan cepat.


Setelah selesai di potong, Clara membagikan kue tersebut kepada kami semua termasuk bibi. Bibi selalu ada berada di sini selama dua puluh empat jam bersamaku. Lagi pula di rumah juga tidak ada orang. Nenek dan Renata belum juga kembali dari perjalanan mereka.


Malam itu rasanya aku sangat bahagia akan kehadiran mereka di sana. Setidaknya rasa sakit yang ku alami perlahan mulai menghilang. Apalagi saat itu ada Adit di sana, yang mengeluarkan seluruh kemampuan terbaiknya dalam membuat lawakan. Pelan-pelan semangatku mulai kembali lagi. Memang benar kata orang-orang, suasana hati yang bahagia akan mempengaruhi kondisi fisik juga.


Malam itu kami berbincang hingga larut, tak ingat waktu sama sekali. Banyak cerita di malam itu. Tempat yang awalnya begitu ku benci, perlahan mulai bisa ku terima. Hingga akhirnya waktu harus memaksa kami untuk kembali terpisah. Mereka segera berpamitan pulang karena memang ini sudah sangat larut.


"Hati-hati ya..." Ujarku sambil tersenyum kecil.


"Get well soon sha, i miss your self on beside me." Ujar seseorang yang berjalan di posisi paling belakang.


Arka menghampiriku sejenak, mengucapkan beberapa kata yang ingin ia utarakan sedari tadi. Hanya saja ia baru bisa mengatakannya sekarang, karena tadi lidahnya sempat kelu.


"Ich liebe dich..." Lanjutnya.


Kemudian pria itu segera keluar menyusul yang lainnya. Ia adalah orang terakhir yang keluar dari ruangan ini.


Kedua mataku membulat sempurna ketika Arka mengucapkan kalimat yang paling terakhir itu. Sebuah kalimat berbahasa Jerman yang jika di artikan ke dalam Bahasa Indonesia maka artinya adalah aku mencintaimu.


Apa ia sungguh mengatakan itu sesuai dengan perasaannya, atau hanya.... Ah, entahlah! Lagipula kenapa aku harus pusing memikirkan hal itu.


Setelah mereka pergi, suasana di ruangan ini kembali menjadi sunyi seperti biasanya. Yang tersisa hanya aku dan bibi. Aku kembali jenuh sekarang. Rasanya setelah mereka datang tadi, rasa kantukku langsung hilang seketika.


"Drrttt!!!"


Tiba-tiba saja ponselku berdering pelan. Aku segera mengeceknya, siapa tahu penting.


"Halo?" Jawabku.


Aku langsung mengangkat telepon yang masuk saat itu, tanpa melihat nyaman terlebih dahulu. Pada dasarnya aku memang selalu seperti itu.


"Halo sha...."


Jawab suara dari seberang.


Kelihatannya sinyal sedang tak begitu bagus. Mungkin di luar sana sedang angin kencang atau cuacanya yang kurang bagus mungkin, sehingga kerap terjadi gangguan komunikasi seperti ini.


"Halo!" Ujarku.


Tapi tak ada jawaban sama sekali dari sana. Kemudian telepon itu segera terputus dengan sendirinya. Aku lantas melihat namanya yang belum sempat ku baca tadi. Ternyata itu dari Kak Sendy. Tak biasanya ia menghubungiku selarut ini. Ada apa kira-kira?


Aku mencoba meneleponnya balik, siapa tahu ada hal penting yang ingin ia bicarakan. Tapi tetap saja hasilnya tak sesuai dengan yang ku harapkan.


"Maaf nomer yang anda tuju tidak dapat dihubungi, cobalah beberapa saat lagi..."


Hanya suara itu yang dapat ku dengar dari ponselku. Selain itu tidak ada jawaban sama sekali.


"Nelepon siapa mbak?" Tanya bibi.


"Temen bi, tadi dia nelpon aku duluan. Tapi kita belum sempat ngomong karena sinyalnya ada gangguan." Jelasku apa adanya.


"Udah di coba telepon lagi mbak?"


"Udah bi, cuma masih tetap enggak bisa dihubungi."


Aku sudah mulai menyerah untuk terus mencoba menghubunginya. Toh jika dia benar-benar perlu membicarakan hal itu padaku, pasti ia akan berusaha untuk menghubungiku juga.


"Permisi..." Sahut seseorang yang entah sejak kapan telah berada di ambang pintu.


Itu adalah seorang perawat yang biasanya memang selalu berkeliling untuk mengecek kondisi pasien. Setiap harinya selalu orang yang berbeda, sehingga aku tidak bisa menghafal wajah mereka satu-persatu.


Yang datang kali ini juga berbeda lagi dari yang kemarin ataupun yang tadi siang. Wanita ini terlihat seperti orang yang berasal dari daratan Eropa. Berbeda dengan suster yang biasanya datang ke sini, biasanya mereka adalah orang-orang lokal yang memang bekerja di rumah sakit ini.


Wanita itu terlihat begitu tinggi jika di bandingkan dengan orang Indonesia pada umumnya. Tubuhnya langsing dan posturnya juga sangat proporsional. Rambutnya yang berwarna sedikit pirang tersebut di sanggul kan dengan rapih.


Ia datang menghampiriku dengan membawa beberapa lembar kertas di atas papan jalan yang ia bawa bersamanya.


"Selamat malam..." Ujarnya.


Pelafalan Bahasa Indonesia sangat baik dan begitu fasih. Hampir terdengar seperti orang Indonesia asli. Kelihatannya ia sudah lama tinggal dan menetap di sini.


"Malam sus!" Balasku.


Wanita itu hanya tersenyum tipis ke arahku. Kemudian ia mengecek beberapa hal yang harus ia berikan laporannya ke kepala rumah sakit. Ia juga memeriksa cairan infus ku yang mulai habis. Jika cairan itu besok tidak di tambah dengan cairan yang baru, kemungkinan aku bisa segera kembali ke rumah.


Tak lupa, ia juga turut mengecek suhu tubuhku dengan thermometer yang di tempatkan diantara kedua rahang ku. Belakangan ini aku memang mengalami demam ringan semenjak berada di sini. Sering tidak nafsu makan dan bahkan tak jarang aku mengeluh merasa tak enak badan.


Wanita itu menyoroti ku lekat dengan tatapan mata yang sulit untuk ku artikan. Walaupun sebenarnya aku merasa tak nyaman dengan sorot matanya yang begitu tajam, hal itu membuat sedikit takut dan enggan membalas tatapannya.


"Matamu sangat berkilau." Ujarnya.


Aku langsung mengalihkan pandanganku ke arahnya. Entah apa yang ia maksud barusan, aku sama sekali tak mengerti.

__ADS_1


"Kau seorang peramal masa depan yang hebat. Tapi sayangnya kau tak bisa memprediksi setiap hal yang akan terjadi padamu." Lanjutnya.


Semakin ke sini aku semakin kebingungan dibuatnya. Entah apa yang ia bicarakan. Aku sama sekali tak mengerti. Pikiranku sedang tak ingin di ajak bermain tebak-tebakan seperti ini.


"Kau harus berhati-hati, tak semua yang kau lihat akan selalu seperti itu kapan saja. Mereka mencoba memainkan sebuah skenario di dalam hidupmu." Ujarnya sekali lagi.


Rasanya aku ingin mengatakan sesuatu sekarang juga, tapi aku tak bisa membiarkan thermometer ini lolos dari cengkraman ku. Aku harus mengulangi nya lagi jika sampai hal itu terjadi.


"Tolong berhenti menatapku seperti itu!"


Kira-kira itulah yang ingin ku teriakkan di depan wajahnya saat itu juga. Menurutku ia sangat lancang karena telah sok tahu tentang hidupku. Seolah saat itu ia sedang mencari sesuatu di dalam diriku. Itu sebabnya ia menatapku dengan begitu dalam, aku bisa merasakan hal itu. Ia mencoba mencuri informasi pribadiku.


"Baiklah, sepertinya kondisimu sudah mulai membaik." Ujarnya sambil mencatat suhu yang tertera di thermometer.


"Lain kali jangan lakukan hal itu padaku." Ujarku sesaat setelah benda tersebut di ambil dari mulut ku.


"Jangan bercanda, aku kan harus memeriksa mu." Balasnya sambil tertawa kecil.


"Bukan yang itu, yang satunya lagi."


Ia tampak berpikir sejenak, sambil mengusap-usap pelan dagunya.


Ekspektasi ku tentangnya tadi, langsung buyar seketika. Ia sangat jauh dari apa yang ku bahan sebelumnya. Parasnya tak sesuai dengan perilakunya. Terkadang manusia memang seperti itu. Oleh karena itu ada sebuah pepatah lama yang mengatakan jangan menilai sebuah buku hanya dari sampulnya saja.


"Oh, yang itu? Perkataanku yang tadi ya?" Ujarnya.


Akhirnya wanita itu menyadari apa kesalahannya.


"Tapi percayalah padaku, aku tak berbohong. Ada yang mencoba memainkan sandiwara di dalam hidupmu. Jangan terlalu percaya kepada mereka. Bisa jadi orang itu adalah orang terdekatmu." Jelasnya dengan begitu meyakinkan.


"Baiklah aku permisi dulu, aku harus pergi memeriksa ke ruangan lainnya." Lanjutnya.


Setelah itu ia benar-benar meninggalkan ruangan ini. Sebenarnya hati ku masih jengkel karena di perlakukan seperti itu. Tapi ya sudahlah, lagipula di tempat ini selalu ada banyak orang aneh.


"Mbak kenal sama yang tadi?" Tanya bibi kebingungan.


Aku menggelengkan kepalaku. Mood ku benar-benar menjadi berantakan sekarang karena perkataannya barusan. Itu lebih terdengar seperti sebuah kutukan. Tapi entah kenapa rasanya aku perlu mempertimbangkan perkataannya tadi.


Tiba-tiba aku menjadi memikirkan tentang ucapan wanita itu tadi. Ia bilang ada sebuah sandiwara di hidupku. Dan is juga memperingatkan ku agar tidak mudah percaya dengan mereka, walau aku tak tahu persis siapa yang sedang ia maksud di sini.


Tapi ada satu hal yang membuatku merasa sedikit aneh. Kalimat terakhir yang ia ucapkan sebelum ia pergi dari sini. Ia mengklaim, bisa saja itu adalah orang mempunyai hubungan yang dekat denganku. Sebuah kalimat yang mewakili perumpamaan musuh dalam selimut. Mungkin saja orang itu adalah seseorang yang berusaha menusukku dari belakang.


Aku sempat berfikir jika itu adalah mama atau papa, belakang ini mereka memang berubah. Bahkan mereka mengirimk ku ke tempat ini. Ke kota metropolitan yang penuh akan hiruk-pikuk. Tapi di sini aku justru menemukan begitu banyak orang yang peduli dan sayang terhadapku.


"Tidak mungkin jika itu orang tuaku! Sadar sha, ini semua cuma omong kosong belaka." Gumam ku dalam hati.


Ucapan wanita itu barusan, berhasil membuatku berburuk sangka kepada orang-orang terdekatku. Aku berusaha untuk melupakan kejadian tersebut. Mungkin tadi itu hanya lelucon, meskipun tak terdengar lucu sama sekali.


Aku memutuskan untuk langsung tidur setelahnya. Sementara bibi tampak masih sibuk mondar-mandir ke sana-kemari meski aku tak tahu pasti kenapa ia melakukan hal itu.


"Drrttt!!!"


Baru saja aku akan memejamkan mataku, ponselku sudah kembali berdering. Aku berdecak sebal sambil mengangkat telepon tersebut. Nama yang tertera di sana dari Kak Sendy lagi.


"Halo sha, kamu baik-baik aja?" Tanya pria tersebut.


"Ya gitu deh." Balasku singkat.


"Maaf, aku baru tahu kondisi kamu dari Arka. Belakangan ini aku lagi sibuk banget sama tugas kuliah." Jelas Kak Sendy.


Kelihatannya ia memang mengatakan hal itu apa adanya. Aku bisa merasakannya, semua orang bisa mengerti akan hal itu. Pertengahan tahun yang sekaligus sebagai akhir dari semester ini memang sedang menjadi waktu yang sangat sibuk bagi para pelajar maupun mahasiswa. Rasanya waktu kami hanya tinggal tersisa sedikit lagi untuk menyelesaikan semuanya. Waktu dua puluh empat jam sehari terasa berlalu begitu cepat memburu kami. Seharusnya semalam rasanya masih sangat kurang.


Terkadang demi menggapai sebuah mimpi yang kita inginkan, harus ada sesuatu yang kita korbankan.


"Halo?" Ujar pria tersebut di telepon.


"Eh, iya kenapa?" Balasku setengah terkejut.


Aku baru menyadari jika kami sempat mis komunikasi tadi. Itu semua karena aku kembali melamun secara tiba-tiba.


"Maaf soal yang tadi..." Ucapnya lirih.


"Enggak apa-apa."


"Aku ke sana sekarang ya..."


"Eh, jangan! Jam besuk nya udah habis. Lagian ini udah malam juga." Cegah ku.


"Oke, kalau gitu besok aja deh."


"Itu lebih baik."


"Ya udah, selamat malam."


"Malam..."


Sedetik kemudian terdengar suara telepon yang sengaja di putuskan, "Tut...tut...tut..."


Aku segera menyingkirkan benda persegi panjang tersebut dari hadapan ku. Tak lupa aku juga menonaktifkan semua nada deringnya, agar tak ada lebih banyak gangguan lagi dari benda itu.


Aku kembali mencoba terlelap kali ini. Pandanganku menatap lurus ke arah langit-langit ruangan ini. Sebuah tatapan kosong yang ku lemparkan ke atas sana. Pikiranku tak bisa diam, mereka terus berkeliaran kemanapun yang mereka mau.


"Gimana caranya Arka bisa masuk ke sini kemarin?" Batinku dalam hati.


Menurut cerita bibi kemarin, pria itu datang ke sini sekitar jam sebelas malam. Harusnya jam besuk sudah habis sejak jam sepuluh kemarin. Tapi kenapa ia bisa lolos dan masuk kemari begitu saja. Ah, lagipula kenapa aku harus bingung memikirkan hal itu. Arka punya jutaan taktik di kepalanya. Otaknya mampu berpikir empat kali lebih cepat dibandingkan manusia pada umumnya.


Aku tak mengira jika ponselku akan berada di tangannya saat itu. Ku kira benda itu tertinggal begitu saja di laci tanpa ada seorangpun yang mengetahuinya. Bahkan aku tak menyangka jika pria itu akan sudi datang kemari malam-malam seperti kemarin. Ia terlalu memaksakan dirinya untuk itu. Aku yakin banyak hal yang harus ia tunda karena masalah kecil seperti ini.


"Krukk...krukk...."


Sial! Bikin malu saja! Dasar cacing tidak tahu diri! Padahal aku barusaja makan malam beberapa jam yang lalu. Meskipun makanan rumah sakit selalu terasa hambar, tetap saja aku harus memakannya. Sekarang kenapa cacing-cacing kecil itu malah protes lagi.

__ADS_1


"Huh, dasar menyebalkan!" Gerutu ku dalam hati.


Bibi langsung menghentikan kegiatannya sejenak, kemudian segera menghampiriku.


"Mbak laper ya?" Tanya bibi.


Dengan malu-malu aku terpaksa menjawabnya, "i-iya bi..."


Bibi hanya tertawa kecil mendengarkan jawabanku barusan. Sudah ku duga, pasti akan seperti ini ujung-ujungnya.


"Mau bibi belikan makanan di depan?"


"Emang masih buka bi, kan udah jam segini."


"Kalau itu mah dua puluh empat jam buka terus."


Di depan rumah sakit ini terdapat beberapa warteg dan juga restoran yang memang buka sepanjang hari. Staf rumah sakit juga tak jarang mampir ke sana saat makan siang atau pergantian shift.


"Mbak mau apa? Biar bibi beliin sebentar." Ujar bibi sambil mengambil dompetnya.


"Eresha ikut ya bi, cari angin."


"Aduh, kan udah malam. Mending jangan deh mbak, biar bibi aja yang beliin."


"Enggak apa-apa, ya... please...."


Wanita itu mendesah berat kemudian berkata, "yaudah deh mbak."


"Terimakasih bi...."


Bibi segera mengambil kursi roda di sudut sana. Tapi aku menolak untuk memakainya. Aku merasa telah cukup kuat untuk berjalan. Akhirnya kami segera menuju ke satu-satunya lift yang ada di lantai ini untuk menuju ke lantai dasar.


Tiba-tiba saja rasanya dadaku terasa begitu sakit saat kami sedang menunggu lift. Rasanya begitu khas, aku bisa mengingat rasa sakit ini dengan jelas. Rasanya sama seperti aku menabrak tubuh Kak Sendy saat jiwaku di ajak berkelana. Saat aku berdiri tepat di depannya, kemudian ia maju dan menabrak jiwaku tanpa ia sadari.


"Mbak, kenapa? Kita balik aja yuk." Ujar bibi yang mulai terlihat panik.


"Enggak apa-apa kok bi, kita lanjutin aja."


"Beneran enggak apa-apa mbak? Tapi kelihatannya itu sakit banget."


"Enggak apa-apa kok bi..."


Lebih baik kami terus melanjutkan perjalanan. Kami sudah berjalan sejauh ini dan sudah hampir separuh dari perjalanan. Aku berusaha menahan rasa sakit yang kian menjadi itu. Aku meringis kesakitan sambil tetap terus memegangi dadaku.


Anehnya saat aku telah masuk ke dalam lift, perlahan rasa sakit itu menghilang dan mulai mereda. Akhirnya aku bisa berdiri dengan tegak. Hingga lift berhenti di lantai terakhir, rasa sakit itu telah benar-benar hilang sepenuhnya dan aku kembali seperti sediakala.


"Mau makan apa mbak?" Tanya bibi setelah keluar dari bis.


Aku bingung harus memilih yang mana satu. Di depan sana terlalu banyak makanan yang dijajakan. Jika boleh, sebenarnya aku ingin itu semua. Tapi aku tak yakin lambungku kuat menampungnya, itu sebabnya mau tak mau aku harus memilih beberapa


"Beli bubur ayam aja enak kali ya bi?" Ujarku.


"Yaudah kita beli bubur ayam aja." Balas bibi.


Tiba-tiba saja bibi langsung menarik tanganku saat kami akan menyebrang. Ada mobil ambulans yang akan melintas di depan kami saat itu. Untung saja bibi segera menarik tanganku. Jika tidak, mungkin malah aku yang akan berada di ruang UGD bukannya pasien yang sedang mereka bawa.


Aku benar-benar shock saat itu. Bagaimana bisa aku tidak mendengarkan suara sirine dari mobil ambulans itu. Jika terlambat sepersekian detik saja, aku sudah tak tahu lagi apa yang akan terjadi pada diriku. Aku menenangkan diriku sejenak setelah kejadian barusan. Rasanya jantungku ingin copot saat itu juga.


Mobil ambulans tersebut masuk ke pelataran rumah sakit. Kemudian beberapa petugas medis yang sedang berjaga di sana, langsung berhamburan keluar menyambut suara sirine itu. Beberapa orang dengan pakaian serba putih keluar dengan membawa tandu untuk membawa pasien tersebut masuk ke dalam.


Aku terpaku melihat kejadian di depanku saat itu. Setelah pintu ambulans di buka, banyak petugas rumah sakit yang berkerumun di sana. Tapi aku bisa melihat orang yang sedang sekarat itu dari sela-sela mereka.


Kelihatannya pria itu barusaja kecelakaan. Wajahnya bersimbah darah yang tak jarang memancing rasa mual orang-orang di sekitarnya. Tapi tidak denganku, aku sudah cukup terbiasa melihat cairan kental berwarna merah tersebut.


Sepertinya kondisinya benar-benar kritis. Bahkan ia harus memakai alat bantu pernapasan saat itu. Aku begitu iba melihat kondisinya saat itu. Ia harus segera diselamatkan. Sekarang semuanya tergantung kepada para dokter.


Aku hanya bisa berharap semoga pria itu selamat. Ia masih berhak untuk hidup, masih banyak hal yang ingin ia gapai. Jika di lihat dari penampilannya kelihatannya ia masih muda. Kasihan jika ia harus pergi secepat ini. Orang-orang yang menyayangi nya pasti sangat sulit menerima hal itu. Semoga saja para dokter bisa menyelamatkan nyawanya yang sedang terancam. Sekarang para petugas medis tersebut sedang melakukan usaha terbaiknya.


"Kasihan ya mbak." Ujar bibi yang ternyata ikut melihat kejadian itu.


"Iya bi, kasihan masih muda. Semoga aja dia selamat ya bi." Balasku.


"Amin..." Ucap bibi.


Setelah para perawat membawanya masuk ke UGD, orang-orang yang melihatnya saat itu mulai kembali beraktifitas. Begitu pula dengan aku dan bibi, kami kembali melanjutkan perjalanan singkat yang sempat terhenti sesaat.


Aku terus berjalan di samping bibi, mencoba mensejajarkan langkah kakiku dengan wanita ini sambil terus memegangi botol infus milikku.


Kami menuju salah satu warung di pinggir jalan. Lebih tepatnya pedagang kaki lima. Aroma masakannya sudah mengundang ku dari kejauhan, kemudian menuntun langkahku hingga akhirnya sampai ke sini.


"Bang, bubur ayamnya dua porsi ya..." Ujar bibi.


Sementara pesanan kami sedang di siapkan, bibi mengajakku untuk duduk di kursi panjang yang memang biasanya sering dijumpai di warung-warung pinggir jalan seperti ini.


"Mbak belum ngantuk?" Tanya bibi.


Aku hanya menggeleng lemah.


"Ini udah jam dua belas lewat loh mbak." Ujarnya.


"Beneran bi?" Tanyaku setengah terkejut.


"Iya mbak, nih liat aja jam bibi." Balas bibi sambil menunjukkan jam yang tertera di layar ponselnya.


Aku benar-benar tak menyangka jika sekarang sudah selarut ini. Ku kira ini masih sekitar pukul sepuluh malam. Ternyata sudah jam segitu saja. Benar-benar tak terasa saat waktu bekerja dalam diam.


"Mungkin karena tadi siang tidur mulu kali bi, makanya udah jam segini belum ngantuk sama sekali." Ujarku dengan nada datar.


"Tapi nanti harus tetap tidur ya mbak." Balas bibi.


"Kalau udah ngantuk ya bi, hehe..." Ujarku sambil nyengir seolah tak berdosa.

__ADS_1


Bibi hanya bisa menggeleng-geleng tak habis pikir. Ia harus benar-benar menyiapkan kesabaran extra untuk menghadapi ku.


Aku memang tergolong anak yang suka bermanja dengan orang-orang terdekatku. Termasuk bibi dan nenek. Tapi semenjak aku mulai beranjak dewasa, aku menjadi lebih sering menghabiskan waktu ku sendirian di kamar. Jauh sebelum aku pindah ke kota ini. Setelah sekian lama akhirnya takdir membawaku ke tempat ini. Ke tempat yang tak pernah ku duga jika aku akan menemukan jutaan tawa di sini.


__ADS_2