Pengagum Lara

Pengagum Lara
Episode 37


__ADS_3

Jakarta, 22 April


04.50 WIB


Aku terbangun lebih cepat pagi ini. Sementara Arka masih tertidur pulas tanpa menghiraukan sekitarnya. Aku duduk sebentar untuk kembali mengumpulkan nyawaku yang belum sepenuhnya utuh. Aku menghela nafas panjang kemudian membenarkan selimut Arka yang tak beraturan. Hawa dingin tidak boleh menusuk tubuhnya sebelum mentari hadir. Kemudian aku bergegas meninggalkan tempat itu. Pagi-pagi seperti ini masih sangat bagus untuk berjalan kaki, belum terlalu banyak polusi. Lagipula taxi dan angkutan umum lainnya sangat sulit di jumpai di saat-saat seperti ini. Apalagi bis, mereka baru beroperasi sekitar pukul enam lewat.


Saat perjalanan pulang, kebetulan saja aku melewati sebuah toko kue yang merk nya sudah cukup lama. Tapi rasanya selalu beradaptasi dengan seiring perkembangan zaman. Aku menepuk pelan jidatku ketika aku baru saja melupakan satu hal yang sangat penting. Aku mengecek ponselku untuk memastikan apakah aku tidak keliru.


Ternyata benar, ini tanggal 22 April yang artinya itu adalah hari ini Arka berulang tahun yang ke delapan belas. Astaga bagaimana bisa aku baru mengingatnya sekarang. Seharusnya tadi aku menunggu Arka bangun kemudian mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya. Tapi, jika aku melakukan itu aku bisa terlambat ke sekolah. Akhirnya aku memutuskan untuk membeli kue saja sepulang sekolah nanti kemudian memberinya kejutan di rumah sakit.


***


Sekarang Clara adalah bagian dari pertemanan kami. Mulai sekarang gadis ini secara resmi telah menjadi sahabatku dan juga Clara. Jam istirahat kali ini kami memilih untuk tidak ke kantin, karena tempat itu sedang ramai-ramainya. Kami duduk di bawah pohon beringin besar yang terletak di ujung lapangan utama. Benar-benar kenikmatan yang tiada tara, minikmati semilir angin sepoi-sepoi yang membelai halus rambut kami di bawah terik mentari yang menyengat ini.


"Gimana kondisi Arka?" Tanya Clara.


Semalam setelah Arka sadar, ia juga ikut pergi sesaat setelah aku meninggalkan tempat itu.


"Udah lebih membaik dari yang kemarin." Ujarku.


"Syukurlah."


"Eh pulang sekolah nanti kalian mau nggak ke rumah sakit bareng aku? Hari ini Arka ulang tahun." Jelasku.


Jika semakin banyak orang yang memberinya ucapan selamat dan memberikannya semangat di dapat seperti ini, pasti ia sangat senang. Ia akan merasa jika banyak orang yang menyayanginya, ia tak akan merasa sedih lagi.


"Boleh." Balas Stefani.


"Kita ceritanya ngasih kejutan buat Arka nih?" Tanya Clara.


Aku mengangguk pelan "jadi nanti sebelum ke rumah sakit kita beli kue ulang tahun dulu buat Arka."


"Kado nya gimana?" Tanya Stefani.


Aku mengangkat kedua bahuku, sampai sekarang aku belum kepikiran soal kadonya. Aku menggigit salah satu bibirku, kemudian berusaha memutar otakku untuk mendapatkan ide.


"Dia suka apa ya kira-kira?" Tanya Clara.


"Lah, lo kan mantannya. Masa enggak tahu sih." Tukas Stefani.


"Kalo lo sha gimana?" Lanjut Stefani.


"Sama kayak Clara hehe, enggak tau." Jawabku sambil tersenyum polos.


"Gimana sih kalian!" Ketus Stefani.


Tapi sejauh ini aku memang tidak mengetahui hal itu, Arka orangnya sangat tertutup. Ia tak semudah itu membicarakan soal privasinya.


"Gimana kalau dreamcatcher aja?" Usulku.


"Dreamcatcher?" Ujar mereka berdua secara bersamaan.


"Iya, Arka kan punya banyak mimpi yang ingin dia wujudkan. Kalau dreamcatcher itu kan katanya bisa menjauhkan kita dari mimpi buruk." Jelasku.


"Terserah sih." Balas Clara.


"Oke yaudah nanti pulang sekolah kita cari barang-barang nya." Ujar Clara.


Kami berdua sependapat dengan Clara.


***


"Ting."


Lonceng kecil yang tergantung di atas toko berbunyi nyaring. Itu sudah dirancang sedemikian rupa agar setiap orang yang melalui pintu ini, loncengnya selaku berbunyi.


Clara dan Stefani membeli kado untuk Arka di toko aksesoris dan souvernir yang ada di seberang sana. Semoga saja mereka tetap akur selama disana dan tidak membuat masalah sedikitpun. Sementara aku pergi ke toko kue untuk mencari kue ulang tahun Arka.


"Mau beli yang mana mbak?" Tanya si pelayan toko.


Aku melihat-lihat seluruh kue yang sengaja di pampangkan di etalase.


"Kalau yang ini berapa ya mbak?" Ujarku sambil menunjuk salah satu kue coklat disana.


"Tujuh puluh ribu mbak."


"Oh, yaudah saya ambil itu ya. Sama saya beli lilin nya juga, angka delapan dan satu."


"Sebentar ya mbak saya siapkan dulu pesanannya."


Kemudian si pelayan toko mengambilkan kue yang ku pinta tadi lalu mengemasi nya di dalam plastik bertuliskan nama toko tersebut.


"Ini mbak uangnya."


"Terimakasih, silahkan datang kembali."


Aku keluar dari toko tersebut sambil menunggu Clara dan Stefani yang tak kunjung kembali.


Apa mereka bertengkar lagi disana karena pendapat mereka yang berbeda soal kado.


"Huft!" Aku menghela nafasku.


Tadi aku sudah menghubungi Mamanya Arka, dan telah ku ceritakan soal rencana ini. Untungnya ia mau meluangkan sedikit waktunya untuk terlibat dalam rencana ini. Aku juga mengajak Kak Sendy dan Renata. Bisa di bilang semua sahabat dan teman dekat Arka akan berada disana nanti.


Kedua gadis itu akhirnya memperlihatkan batang hidungnya yang sedari tadi ku tunggu. Mereka membawa sebuah bungkusan plastik yang di dalamnya terdapat kotak dengan ukuran lumayan besar. Mereka menunggu lalu lintas sedikit lenggang sebelum akhirnya menghampiri ku disini.


"Lama banget sih." Protesku yang sudah lama menunggu.


"Ya maaf, soalnya kita punya banyak kado buat Arka." Ujar Stefani.


"Kado apaan aja?" Tanyaku penasaran dengan isi kotak tersebut.


"Nanti aja deh di rumah sakit ya. Gue udah pegel nih, yuk buruan." Ujar Clara.


"Kalian pikir kalian doang yang pegel, yuk ah!" Ajak ku.


***


Semua orang telah berkumpul di depan ruangan Arka. Semoga saja acara kami ini tidak sampai mengganggu pasien lain yang sedang istirahat. Lagipula setelah sadar, Arka langsung di pindahkan ke ruangan rawat inap biasa.


Kami mempersiapkan segalanya dengan begitu sempurna. Setelah lilin yang tertancap di atas kue menyala, kami masuk ke dalam sambil bernyanyi happy birthday.


Aku membawakan kue tersebut kehadapan Arka yang tengah dalam posisi duduk di atas ranjangnya sambil menonton televisi. Aku tak bisa mengartikan secara jelas ekspresinya, terlalu banyak rasa yang hadir disana sehingga sulit untuk diterjemahkan satu-persatu.


Happy birthday to you


Happy birthday to you


Happy birthday, happy birthday


Happy birthday Arka


"Yeay!" Kami semua bersorak bahagia merayakan hari jadi Arka.


Tepat delapan belas tahun yang lalu di hari yang sama, seorang Arka terlahir ke dunia dengan segala kelebihan yang ia miliki. Dan sekarang menjadi sosok seorang Arka yang tengah berada dihadapan kami saat ini.


Tiup lilinnya, tiup lilinnya


Tiup lilinnya sekarang juga


Sekarang juga


Sekarang juga.


Aku menyodorkan kue nya kepada Arka agar ia lebih mudah untuk meniup lilinnya.


"Eh, tunggu!" Cegah ku saat nyaris saja Arka meniup api kecil itu.


"Make a wish dulu." Ucapku sambil nyengir seolah tak berdosa.


Sementara Arka yang wajahnya sempat terlihat kebingungan tadinya, langsung tersenyum kecil setelahnya.


"Oke, harapan aku di umur yang ke delapan belas ini semoga menjadi pribadi yang lebih baik, lebih dewasa dan semoga Tuhan selalu melindungi aku dan mama juga semua orang yang ada disini, yang Arka sayang." Ucap Arka dengan penuh harap.


"Amin!" Ucap kami semua secara serentak.


Aku memberikan kue itu kepada Arka untuk segera di tiup sebelum lilinnya meleleh kemana-mana.


"BRUKK!!!"


***


Disaat yang bersamaan saat Arka meniup lilinnya, tiba-tiba saya tubuh Eresha tumbang. Sontak semua orang yang ada di sana panik tak karuan. Renata memanggil dokter yang biasanya menangani Eresha yang kebetulan sedang berada di piket.


Eresha segera di tangani di ruangan dokter tersebut tanpa ada seorangpun yang boleh ikut masuk. Mereka semua menunggu kabar tentang kondisi Eresha di ruang tunggu. Arka langsung beralih ke kursi rodanya dan ikut menunggu bersama yang lainnya.


"Eresha kenapa sih kok belakang ini dia sering pingsan?" Tanya Clara.


"Ada sesuatu tentang Eresha yang harus kalian tau."

__ADS_1


Semua orang disana mulai tampak serius memperhatikan. Renata.


"Eresha kena penyakit meningitis, penyakit radang selaput otak." Jelas Clara dengan berat hati.


Ia terpaksa mengingkari janjinya dengan adiknya sendiri. Tapi bagaimanapun mereka harus tau tentang kondisi Eresha yang sebenarnya.


Raut wajah Arka langsung berubah sendu, Mamanya menepuk pelan pundak Arka mencoba menenangkan anaknya yang satu ini.


"Kenapa lo enggak cerita sama gue!" Ucap Sendy dengan suara yang cukup tinggi.


"Eresha nyuruh gue rahasiakan ini semua!" Balas Renata yang tak kalah kuat suaranya.


"Tapi gue berhak tau! Gue itu..." Sendy tak mampu melanjutkan kalimatnya lagi.


"Kakak siapa?" Tanya Arka dengan suara yang mulai parau.


Sendy langsung menusukkan wajahnya. Ia kembali sadar kalau ia hanya kekasih Eresha di masa lalu buka sekarang.


"Enggak." Jawab Sendy lemas.


"Gimana aku mau ngasih tau kalian, sementara Eresha aja enggak ngizinin aku buat ngasih tau mama sama papa." Jelas Renata.


"Terus penyakit Eresha enggak apa-apa kan? Cuma sakit biasa kan? Dia bakalan bisa sembuh kan?" Stefani langsung mengeluarkan sejuta pertanyaan yang ia pendam dari tadi.


"Kata dokter untuk sekarang penyakitnya belum tergolong parah. Namun kalau pola hidupnya tidak sehat, kondisinya bisa saja memburuk. Bahkan yang lebih fatalnya mungkin kesempatan hidupnya bisa terancam." Jelas Renata sambil menahan tangis.


Mereka tak mengira jika gadis itu harus mengalami hal semacam ini.


"Eresha enggak boleh pergi! Kemarin dia udah janji enggak akan ninggalin Arka!" Tegas Arka.


Ia yakin jika masih ada harapan untuk Eresha, mengingat kata dokter jika kondisinya belum terlalu memburuk. Arka dan semua orang yang berada di si i yakin jika Eresha masih berhak untuk kesempatan ini.


"Bukan ini yang Arka mau, di hari ulang tahun Arka." Ujar Arka dengan nada pelan.


Mamanya Arka mencoba mencairkan suasana "Udah kita semua mendingan berdoa aja supaya kondisi Eresha membaik ya."


Mereka semua masih sangat labil saat ini, rata-rata merek masih tergolong remaja. Sebagai yang paling dewasa disana, Mamanya Arka yang paling tau harus bagaimana menghadapi situasi seperti ini.


"Kak ren, kak sen. Aku mau bicara sama kalian." Ujar Arka.


Mereka kemudian sedikit menepi karena ada hal serius yang harus mereka bicarakan, terlebih lagi ini adalah privasi mereka bertiga.


"Ada apa?" Tanya Sendy.


"Mau sampai kapan kakak nyembunyiin jati diri kakak?" Tanya Arka balik.


"Kan udah aku bilang kalau biarin waktu yang menjawab semua itu." Jelas Sendy.


"Iya, mau sampai kapan kita nyembunyiin semua ini dari Eresha. Dia juga berhak tau." Timpal Renata.


"Kalau Eresha enggak bisa sampai ke waktu itu gimana!" Bentak Arka tak sabar.


"Lo doain Eresha mati! Ha!" Balas Sendy sambil menarik kerah baju Arka.


"Udah-udah! Eresha lagi drop kalian malah berantem!" Renata mencoba memisahkan kedua pria itu.


"Aku yakin Eresha masih punya banyak waktu, Tuhan masih sayang sama dia." Ujar Sendy dengan penuh harap.


"Aku juga berpikir gitu awalnya kak. Cuma di situasi yang sekarang ini bukannya semakin cepat semakin baik?" Jelas Arka berharap Sendy mengerti dengan maksudnya.


"Aku cuma enggak mau Eresha makin drop pas tau semuanya. Karena dia pasti bakalan shock begitu tau semuanya." Ujar Sendy.


Ini adalah keputusan yang sangat sulit bagi mereka. Sekarang semuanya menjadi serba salah. Akhirnya mereka memutuskan untuk tidak membahas soal ini dulu sampai kondisi Eresha benar-benar membaik dan pulih.


***


Eresha akhirnya diputuskan untuk rawat inap di rumah sakit. Kondisinya menurun belakangan ini. Mungkin karena ia terlalu sering begadang saat menjaga Arka di rumah sakit belum lagi di tambah aktifitas nya disekolah.


"Dokter bilang Eresha ngedrop." Ujar Clara memberitahukan kepada ketiga orang ini yang baru datang.


Tak banyak yang bisa mereka perbuat untuk saat ini. Seharusnya Arka tadi memohon agar Eresha baik-baik saja. Tapi doanya saat make a wish tadi sudah mewakili semuanya, semua orang yang di sayanginya termasuk Eresha


Padahal tadi gadis itu terlihat baik-baik saja dan begitu ceria. Ia sama semangatnya seperti hari-hari biasanya, selalu tersenyum lebar sepanjang hari. Namun siapa kira di balik sosok Eresha yang ceria ada jiwa yang terluka, ada raga yang tak mampu bertahan lebih lama lagi. Jika kondisinya semakin hari kian memburuk, harapan hidup bisa menipis.


Clara dan Stefani juga turut bersedih atas keadaan sahabatnya sekarang ini. Mereka tak habis pikir jika gadis itu akan mengalami hal semacam ini.


Renata telah menelepon orang tuanya untuk memberitahu kondisi Eresha sekarang ini, dan mereka bilang akan segera terbang ke Jakarta dalam waktu dekat. Mereka harus menunggu hingga semua pekerjaan papanya selesai, mencari tiket untuk waktu dekat ini juga lumayan susah. Ini bukan lagi waktunya untuk merahasiakan semuanya, ia tahu jika yang ia lakukan saat ini tidak seperti yang adiknya harapkan. Tapi itu semua ia lakukan demi kebaikan Eresha. Orang tuanya lebih tau apa yang terbaik untuk anak bungsunya yang satu ini.


"Maafin kakak dek." Batin Renata dalam hati.


Di satu sisi ia telah merasa gagal menjadi seorang kakak yang baik bagi Eresha. Tapi di sisi lain ia tau jika yang ia lakukan ini benar. Eresha tak bisa terus-terusan menutupi lukanya, karena perlahan semua orang akan mengetahuinya.


***


Aku berusaha bangkit dan mendudukkan diriku di atas rerumputan dan ilalang. Aku melemparkan pandanganku sejauh yang ku bisa. Apa di tempat ini tak ada seorangpun yang melintas, apa aku benar-benar sendirian disini.


Tiba-tiba sebuah tangan menghalangi pandanganku. Ia menutup mataku dari belakang tanpa peringatan sebelumnya, sontak hal itu membuatku terkejut bukan main. Mengingat tak ada seorangpun disini tadinya, lalu siapa yang menutupi mataku ini.


"Hey, bagaimana tadi malam? Tidak sendirian kan, benar bukan yang aku katakan?" Ujar suara misterius yang tiba-tiba tertangkap oleh gendang telingaku.


Tanganku berusaha menyingkirkan kedua tangannya dari pandangan ku. Kemudian ia berpindah posisi ke depanku.


"Kamu?" Tanyaku.


Ia menganggukkan kepalanya pelan.


Itu pria misterius yang selalu bersamaku di setiap mimpiku. Ia kembali datang ke sini setelah kemarin meninggalkan ku sendirian di atas sini tanpa seorangpun yang bisa ku ajak bicara. Ku kira ia akan pergi dan tak akan pernah kembali kesini lagi. Tapi kini kehadirannya bisa mematahkan semua asumsi buruk ku tentangnya.


Ia menarik tanganku untuk ikut bersamanya, entah kemana lagi hari ini dia akan membawaku.


"Ayo ikut." Ujarnya.


Aku spontan menghentikan langkahku saat itu juga.


"Kemana?"


"Ke suatu tempat yang kali ini tempatnya ramai, kamu pasti suka." Jelasnya.


Ia membawaku menuruni bukit, menuju sebuah sungai kecil yang ada di kaki bukit. Ia menuntunku untuk masuk ke dalam sungai, jujur aku ragu-ragu untuk melangkahkan kaki ku ke dalam sana.


"Ayo, enggak apa-apa." Ujarnya.


Akhirnya aku memutuskan untuk mengikutinya masuk ke dalam sana.


"Rasain arusnya." Ucapnya kembali.


"Katanya kita mau pergi ke suatu tem..."


Aku belum sempat menyelesaikan kalimat ku karena ia buru-buru membungkam mulutku dengan jari telunjuk nya.


"Arus ini yang akan bawa kita ke tempat itu." Bisiknya di telingaku.


Suara berat yang sedikit serak itu membelai halus indera pendengaranku.


Ia mendorong tubuhku hingga tenggelam di dalam arus sungai tersebut secara tiba-tiba. Setelah itu aku tak tahu apapun lagi.


"Hey, bangun!" Sebuah suara kembali menyapa pendengaranku.


Pria misterius itu menepuk pelan pipiku agar aku segera dasakan diri. Aku menatapnya dengan samar-samar. Nyawaku belum kembali sepenuhnya ke ragaku ini.


"Kita dimana?"


Aku berusaha memperjelas pandanganku.


"Si sekolah." Jawab pria itu.


"Sekolah siapa?"


"Coba ingat-ingat lagi."


Ia membantuku untuk bangkit dari posisiku sekarang. Kami memasuki gedung sekolahan yang tak lagi bisa ku kenali. Karena kalian tahu betapa payahnya ingatanku.


Eh tunggu dulu, sebentar. Aku meraba-raba semua pakaian dan rambutku. Padahal jelas-jelas tadi kami hanyut di sungai, kenapa malah bisa sekarang tidak basah sama sekali. Benar-benar aneh.


Ia mengajakku berkeliling sekolahan ini. Sepertinya aku mengingat sesuatu tentang bangunan ini. Aku yakin jika aku pernah meninggalkan banyak kenangan disini. Kami berjalan menuju lapangan utama. Bisa ku dengar suara hiruk pikuk keramaian di atas sana.


Aku tercengang, berdecak kagum melihat barisan rapih puluhan siswa dengan alat musiknya. Mereka terlihat begitu menawan, sangat berkharisma.


"Kamu dulu anggota marching band sekolah ini." Ujar pria itu.


"Beneran di sekolah ini?" Tanyaku yang masih tak begitu percaya.


Aku memang mengingat dengan jelas jika aku dulunya adalah seorang anggota marching band sebelum pindah ke Jakarta. Tapi sekarang saja aku sudah lupa bagaimana bentuk bangunan sekolahku yang lama. Padahal sebelum ada setahun aku tinggal di Jakarta.


"Ayo kita kesana." Ujarnya.


Ia mengajakku untuk pergi ke sana menghampiri para siswa yang sedang berbaris rapih.


"Eh, nanti kita di marahin sama pelatihnya kamu mau? Dia akan terlihat sangat menakutkan loh kalau marah. Terutama yang paling sering di marahin itu anak bass." Jelasku.

__ADS_1


Perlahan aku mulai mengingat semuanya kembali, tentang Pak Chandra yang dulunya merupakan pelatihku. Apa kabarnya ya kira-kira sekarang, sudah lama aku tak bertemu dengannya.


"Tenang aja mereka enggak akan melihat kita kok." Ujarnya.


Tanpa berkata lagi, ia segera menarik tanganku untuk ikut bersamanya. Ia mengajakku untuk ikut masuk ke dalam barisan. Ia membawaku ke depan, ke barisan alat musik bell yang sempat ku mainkan selama kurang lebih setahun. Jujur saja aku masih was-was, bagaimana jika Pak Chandra melihat kami berdua, bisa habis kami di buatnya.


"Coba lihat ini siapa." Ucapnya sambil menunjuk salah satu pemain bell.


"I... itukan aku!" Ujarku setengah tak percaya.


Bagaimana bisa aku melihat diriku sendiri disana. Aku melihat diriku sendiri sedang begitu serius di barisan itu, menanti instruksi dari mayoret dan gita patih di depan. Jika seperti ini keadaannya, apa ini artinya aku kembali ke masa lalu.


"Aku kok bisa ada disini?" Ujarku yang sekarang masih tak mengerti.


"Ya karena kamu pernah berada di sini sebelumnya."


"Sebelumnya?"


"Iya."


"Itu artinya waktunya sudah lewat dong?"


"Iya benar, ini kejadian di masa lalu."


"Terus sekarang kenapa kita bisa ada di sini, dan kenapa mereka enggak bisa liat kita?"


"Kita lagi melakukan perjalanan waktu. Aku harus menyelesaikan suatu misi bersamamu."


"Misi apa?"


"Nanti kamu juga akan tahu. dan soal kenapa mereka tidak bisa melihat kita adalah karena yang melakukan perjalanan ini adalah ruh kita bukan raga kita."


"Ruh? Itu artinya ruh ku terpisah dari ragaku?"


"Iya benar, tapi hanya untuk sementara."


"Apa aku akan mati? Atau jangan-jangan aku telah mati?"


"Enggak, nanti kamu akan kembali lagi setelah kita selesai berjalan-jalan."


Kemudian kami kembali ke barisan di belakang sana, barisan para anak perkusi. Ia membawaku kepada salah satu pemain quint tom atau yang biasa disebut tom jika ingin lebih singkatnya.


"Kamu masih kenal dia?" Tanya pria itu.


Aku menatap lekat wajah si pemain tom yang penuh keringat tersebut. Wajahnya tidak terlihat asing lagi. Tentu saja begitu, semua anggota marching band di sini wajahnya tak asing lagi bagiku.


"Coba ingat lagi siapa namanya." Ujarnya.


"Aku enggak ingat sama sekali. Tapi aku kenal wajahnya."


"Jika kamu tahu siapa pria ini, maka kamu akan tahu siapa aku."


Itu artinya pria misterius ini ada hubungannya dengan si pemain tom ini.


"Aku beneran lupa." Ucapku sambil mendengus kesal.


"Ayolah, coba berusaha lagi. Aku yakin jika kamu pasti bisa. Aku sedang membantu mu untuk memberi tahu sesuatu."


"Kalau begitu katakan saja, kenapa harus menyuruhku mengingat nya?"


"Sayangnya aku tidak bisa mengatakannya meski aku ingin."


Tapi semua usahaku sia-sia, tetap saja aku tak bisa mengingat siapa dia.


Tiba-tiba saja aku refleks memutar bola mataku. Instruksi dari gita patih terdengar sangat lantang dan jelas hingga ke belakang disini. Tongkat mayoret pun ikut menyiapkan barisan dengan tongkatnya. Semua orang disini terlihat begitu serius, pandangan mereka lurus menatap ke arah depan sama seperti pria pemain quint tom yang tak lagi ku ingat namanya. Kalau tidak salah ia adalah seniorku dulunya, tapi siapa namanya. Argghh! Sial! Ingatanku memang payah!


"Siap gerak!" Instruksi gita pati dari depan.


Mereka dengan serentak merapatkan kakinya, menyiapkan posisinya dengan stick pemukul alatnya masing-masing. Sementara alat tiup sudah siap dengan posisinya yang berbeda lagi.


"Band on up!"


Terompet, trombone dan melophone serta seluruh pasukan alat tiup lainnya sudah dalam posisi mouth piece yang tepat berada di depan mulut mereka. Gebrakan nada-nada siap di tiupkan sesaat lagi.


Pria ini juga telah menunggu kapan saatnya ia memukul quint tom untuk menciptakan tempo bersama pasukan alat perkusi lainnya.


Lagunya sudah dimulai, aku berdecak kagum melihat pemandangan di sekitarku. Lagu ini.... Ya akhirnya aku mengingat lagu ini, sekarang adalah latihan terakhir kami. Latihan perpisahan antara angkatan delapan dan sembilan.


Gita pati memberi instruksi untuk membentuk barisan parade kemudian berjalan seperti parade pada umumnya. Pria itu berjalan ke arah depan sambil tetap memainkan alat musiknya, ku kira ia akan menabrak ku. Ternyata ia malah menebus tubuhku, bagaimana bisa aku lupa kalau sekarang ini aku hanyalah ruh.


Aku terduduk lemas sesaat setelah pria pemain quint tom itu menembus ruh ku. Aku memegangi dadaku yang luar biasa sakitnya. Kenapa bisa begini, rasa sakitnya tepat seperti sedang menusuk bagian jantungku. Hingga aku tak bisa berkutik sama sekali.


Pria misterius itu membungkukkan kepalanya kemudian berbisik pelan di telingaku "Orang itu adalah sebagian dari jiwamu yang menghilang."


Salah satu tangannya menunjuk punggung pria itu yang kian menjauh dari kami. Aku meringis kesakitan menahan rasa sakit yang semakin tak terkendali. Tiba-tiba pandanganku memburam dan semua objek yang ada di sana perlahan menghilang secara satu-persatu.


***


Sudah dua jam lebih Eresha belum sadarkan diri. Hanya Arka dan Sendy yang masih tersisa disana. Mereka semua telah kembali pada kesibukannya masing-masing. Kedua pria itu sudah menanti sedari tadi di samping ranjang Eresha dengan perasaan gusar.


Kini wajah gadis itu terlihat begitu pucat, nyaris seperti mayat hidup. Sekujur tubuhnya juga mendingin. Hal itu berhasil membuat mereka berdua panik tak karuan. Mereka takut jika akan terjadi hal yang tak di inginkan dengan gadis ini.


Namun disisi lain mereka masih punya harapan. Nafasnya masih terasa, begitu juga dengan denyut nadinya. Setidaknya ia akan baik-baik saja meskipun kondisi fisiknya seperti ini.


***


Aku membuka mataku secara perlahan dan mendapati diriku tengah terbaring lemah di atas tempat tidur. Aku memegangi kepalaku yang sedikit pusing entah karena apa. Dengan pandangan yang masih samar-samar aku melihat Kak Sendy dan Arka yang juga berada di sini, raut wajah mereka tampak begitu girang.


Aku memutar otakku, berusaha mengingat kembali kejadian beberapa saat yang lalu. Terakhir aku mengingat jika aku bersama pria misterius itu berada di sekolah lama ku. Tapi kenapa sekarang aku bisa berada di sini, mengingat jaraknya dari sana ke Jakarta sangatlah jauh. Mungkin aku memang masih di Jakarta dan itu hanyalah mimpi seperti biasanya yang sering terjadi padaku.


"Akhirnya kamu sadar sha, tau nggak kita udah nungguin kamu disini dua jam lebih." Jelas Arka.


"Eh, liat deh. Tadi Eresha pucat banget kan. Sekarang malah kembali kayak semula, seperti orang sehat." Ujar Kak Sendy sambil menunjuk diriku.


"Mungkin karena dia udah sadar kali." Jawab Arka dengan gamblang.


Aku masih berusaha mencerna semua hal yang terjadi di sekitar ku. Ibaratnya sekarang ini aku seperti orang linglung. Hh, dasar!


"Dokter bilang kamu harus rawat inap disini." Ujar Arka.


"Kenapa?" Tanyaku sambil menggaruk kepalaku yang tak gatal.


"Kondisi kamu ngedrop lagi. Kita semua udah tau kok, Renata udah ngasih tau semuanya ke kita." Jelas Kak Sendy.


"Renata?" Ujarku.


Dasar wanita yang satu itu, padahal kemarin ia sudah berjanji padaku. Baru saja aku memaafkannya, sekarang ia malah sudah berbuat ulah lagi yang membuatku menjadi kesal dengannya.


Tapi ya sudahlah, aku malas memperpanjang masalah ini. Lagipula kan sebenarnya mereka memang harus tau soal ini.


"Kak Renata juga udah nelepon mama papa kamu, dan mereka bilang bakalan ke Jakarta secepatnya." Ujar Arka.


Aku menganggukkan kepalaku pelan. Tak biasanya mereka berdua mau memperdulikan ku seperti ini. Apalagi harus sampai meninggalkan pekerjaan mereka. Apalagi enam bulan pertama di awal tahun, mereka sedang sibuk-sibuknya. Syukurlah setidaknya kali ini hati mereka mau melunak sedikit saja.


"Nanti malam Renata enggak bisa balik ke sini lagi, katanya dia masih ngerjain tugas kelompok di kos temannya." Jelas Kak Sendy.


"Yaudah enggak apa-apa kok." Ujarku.


"Gimana kalau aku aja yang jagain kamu." Tawar Arka.


Padahal kondisinya baru saja membaik, bagaimana bisa ia memberiku tawaran seperti ini.


"Kamu masih sakit ka." Ujarku.


"Enggak apa-apa kok."


"Kalau nanti kamu drop gimana?"


"Udah biar aku aja yang jagain Eresha." Ujar Kak Sendy.


"Lagian kelas aku hari ini udah selesai semua kok." Sambungnya.


"Yaudah deh kakak aja, lagian aku ngerasa lebih aman kalau Eresha sama kakak." Balas Arka.


Bisa ku tangkap arti kilau di kedua manik matanya, ada rasa kecewa disana. Kali ini Arka lebih memilih mengalah dengan Kak Sendy. Ia memutar balik kursi rodanya kemudian bergegas keluar dari ruangan ku tanpa meninggalkan sepatah katapun.


"Arka!" Sahutku.


Ia menghentikan laju kursi rodanya kemudian menoleh ke arahku sebentar.


Aku memukul pelan tangan Kak Sendy yang masih berdiri di sebelahku.


"Anterin Arka gih." Bisik ku pelan.


Ia langsung menganggukkan kepalanya menyatakan ia telah mengerti. Kemudian ia bergegas menghampiri Arka, anak laki-laki yang kadang emosinya masih sangat labil.


Ia segera mengambil kendali kursi roda Arka kemudian membawanya keluar ruangan dan mengantarkannya kembali ke ruangannya.


Aku menghela nafas panjang. Rasanya belakangan ini setiap mimpi yang ku alami terasa begitu nyata. Termasuk rasa sakit yang tiba-tiba muncul di pertengahan mimpiku tadi. Rasa sakit itu masih tersisa sekarang. Aku memegangi dadaku yang terasa sedikit sesak, namun itu tak menjadi masalah untukku.

__ADS_1


__ADS_2