
Aku segera bangkit dari posisiku, dan menuju tepi jendela. Aku tak tahu persis kemana benda ini mengarah. Tapi sepertinya bukan ke arah barat, tempat matahari selalu berpulang. Tidak ada tanda-tanda jika matahari akan terlihat dari jendela kamar hotelku. Jika sedikit keluar mungkin aku bisa menemukan benda langit yang satu itu. Sepertinya kalau tak salah di hotel ini ada taman kecilnya.
Dengan konsidi kamar yang belum terlalu rapih dan masih terkesan berantakan, aku bergegas meninggalkan tempat itu. Seingatku di taman itu juga ada tempat memesan kopinya. Lebih baik aku ke sana saja agar bisa melihat lukisan yang dibuat oleh matahari senja. Aku bergegas menuju tempat itu sebelum terlalu banyak orang di sana.
“Mau kemana sha, kok lari-lari?” tanya Stefani yang kembali muncul di layar kaca.
“Keluar bentar.” jawabku dengan singkat.
“Hosh… hosh… hosh…”
Aku membungkukkan badanku sambil mencoba mengatur nafasku yang sedang memburu itu. Akhirnya aku berhasil keluar dan turun dari lantai tiga hanya dalam waktu kurang dari dua menit. Lagipula untuk apa aku berlari-lari seperti itu, toh senja punya cukup waktu untuk dinikmati meski hadirnya selalu sebentar. Sepertinya aku terlalu antusias untuk melihat senja pertama kalinya dari langit Kota bandung.
Sekarang giliran Arka yang mengambil alih posel milik gadis yang paling sering membuatnya emosian tersebut. Mungkin Stefani nyaris lupa dengan ponselnya sendiri karena terlalu sibuk bersama mereka. Seperti yang sering dilakukan pria ini pada umumnya, ia sedikit mengasing dari keramaian tersebut. Menyendiri di sebuah titik paling nyaman dan aman menurutnya, dimana hanya ada dia dan dunianya.
“Sha, senja udah keliatan?” tanya nya padaku.
“Belum, mungkin sebentar lagi.” jawabku sambil menggeleng-gelengkan kepalaku dengan lemah.
Arka hanya mengangguk mengerti, mengiyakan perkataanku. Senja selalu punya cara untuk hadir dan pergi. Mungkin senja sedang mempersiapkan kejutannya untuk semesta, di balik pohon itu. Karena senja selalu datang dengan jutaan hal yang terduga setiap harinya.
“Anggap aja yang satu ini sebagai latihan sha.” ujar pria tersebut secara tiba-tiba.
“Hah? Latihan apa?” tanyaku yang kebingungan.
“Latihan untuk beberapa bulan lagi, di saat kita nggak bisa sama-sama lagi.” ucap Arka tanpa memandangku sedikitpun.
“Anggap aja ini latihan kalau kita jauh nanti, bakalan gini rasanya.” lanjutnya.
Kelihatannya ia sedang sibuk untuk mencari keberadaan senja. Mengintip senja dari tempat persembunyiannya itu. Padahal tak perlu dicari juga, senja pasti akan datang jika waktunya telah tiba. Kecuali jika kumpulan awan kelabu itu, tak mengizinkannya untuk melukis langit sore kala itu. Tapi masih ada hari esok untuk kita bisa menunggunya lagi, jadi tak perlu khawatir.
“Karena matahari cuma satu, jadi kita tetap bisa saling melepas rindu kepada sang mentari petang di penghujung hari.” jelas pria tersebut.
“Maksudnya kalau kita berada dimanapun itu nantinya, kita bisa tetap saling terhubung?” tanyaku yang masih kurang yakin dengan konsep pemikirannya.
“Iya dong! Kalau nanti suatu saat kamu rindu atau keinget sama aku, kamu bisa anggap aku sebagai senja yang selalu hadir buat kamu setiap sorenya.” jelas Arka sekali lagi.
Aku hanya bisa tersenyum kecil mendengar kalimat Arka barusan. Tak pernah benar-benar ada alasan bagi seseorang untuk pergi begitu saja. Dunia terlalu sempit untuk memungkinkan jika kalian akan terpisah selamanya. Padahal mungkin hanya kitanya saja yang kurang melihat kesempatan di sekitar kita. Ada jutaan cara untuk menganggap hadirnya ada, meskipun pada kenyataannya ia tak pernah benar-benar hadir.
Tapi aku tak tahu apakah Tuhan akan kembali mengembalikan sosok pria itu kepadaku. Kak Sendy telah aman bersamanya, aku bisa mempercayainya. Tapi aku belum bisa benar-benar percaya dengan perasaanku sendiri. Entah kenapa masih terlalu berat bagiku untuk melepaskannya begitu saja.
***
Setelah menyelesaikan panggilan video call ku dengan mereka, aku memutuskan untuk kembali masuk ke dalam hotel. Lagipula lukisan indah itu sudah mulai memudar oleh kegelapan, karena langit malam harus segera merebut posisinya. Sejujurnya langit malam dengan jutaan benda angkasa yang bersinar bak kerlip abadi itu, tak kalah indah dengan pemandangan senja. Jika Arka adalah senja, maka mungkin Kak Sendy adalah malam. Terlalu banyak kenanganku dengannya yang menjadi abadi di bawah langit malam.
Jika ada bintang jatuh malam ini, maka bolehkan aku meminta satu perrmohonan yang sangat ku harapkan. Orang-orang bilang sebutkan saja satu harapanmu ketikan ada bintang jatuh di langit. Maka permintaan itu akan segera menjadi sebuah perwujudan nyata dari sebuah harapan pasif. Tapi sepertinya aku terlalu cepat untuk percaya kepada hal semacam itu. Lagipula permintaanku yang kali ini sangat tak masuk akal. Jadi tak mungkin bisa jadi kenyataan.
“Apa aku salah jika meminta agar orang yang sudah mati, kemabli dihidupkan untuk beberapa saat saja.” gumamku pelan sambil menghela panjang.
Aku tak langsung kembali ke kamar hoteal, setelah kupikir-pikir langit malam bagus juga. Jadi tak ada salahnya mungkin jika aku tetap berada di sini untuk sebentar lagi. Sampai aku mulai bosan melihat pemandangan sekitarku, atau sampai angina malam menjadi terlalu dingin dan tak lagi menyenangkan bagiku.
“Kopi Americano latte nya satu.” ucapku kepada salah satu barista di sana.
“Silahkan ditunggu!” balasnya dengan begitu ramah.
Kedua bola mataku membulat sempurna saat melihat sosok barista tersebut. Sekilas wajahnya sangat mirip dengan Kak Sendy. Aku tak tahu apakah ini hanya sekedar mirip atau memang benar itu adalah Kak Sendy. Tapi sepertina tak mungkin, dia kan sudah meninggal. Mungkin hanya aku yang salah lihat. Aku pasti terlalu merindukannya, sehingga aku menganggap irang lian sebagai Kak Sendy. Sepertinya aku benar-benar butuh secangkir kopi untuk mengembalikan kesadaranku. Aku sudah tersihir oleh diriku sendiri, di tambah dengan isi kepala yang sangat kejam ini.
“Ini pesanannya, Americano latte. Selamat menikmati!” ucap barista yang ku sebut mirip dengan Kak Sendy itu, sambil mengantarkan kopi pesananku.
“Te-te-terimakasih.” balasku dengan terbata-bata.
Aku mulai menyeruput secangkir kopi Americano latte yang baru saja datang itu. Sekarang pertemuan yang tan disengaja itu, seolah membuatku dalam lubang pertanyaan. Ketika kedua garis parallel itu kembali bertemu, apakah akan menjadi sebuah pertanda baik atau malah sebaliknya. Tapi kurasa itu bukan benar-benar Kak Sendy, sangat mustahil rasanya untuk bertemu dengannya lagi di situasi yang rumit seperti ini. Jarak kami terlalu jauh untuk saling meraih. Bahkan nyaris sudah taka da lagi kesempatan yang tersisa bagiku untuku bertemu dengannya.
__ADS_1
Aku mulai berhenti percaya dengan kesempatan yang satu itu. Jika malam ini aku melihat bulan purnama itu, apakah dirinya di sana akan melihat hal yang sama juga? Atau mungkin akan jauh lebih indah. Ku harap kapan-kapan jika ia sempat, maka ada baiknya kalau Kak Sendy menyapaku setidaknya lewat mimpi saja.
Aku melirik jam tanganku sekilas, ternyata sudah jam delapan malam saja. Sebaiknya aku segera kembali ke kamar hotel saja. Tempat itu massih terlalu berantakan meskipun aku sudah memberreskannya untuk beberapa kali hari ini. Lagipula aku harus belajar sedikit untuk persiapan besok.
Aku menuju meja kasir untuk membayar tagihannya. Walaupun sebenarnya aku hanya memesan satu cangkir americano latte saja. Mungkin tak sampai seratus ribu harganya. Lagi-lagi aku bertemu dengan barista café yang tadi. Aku curiga apa jangan-jangan hanya dia yang bertugas di sini sedari tadi. Tapi rasanya tidak mungkin, kemana karyawan café yang lainnya.
“Permisi, dari meja nomer tiga.” ucapku dengan hati-hati.
Kelihatannya ia sedang sibuk dengan sesuatu di sana. Setelah pria itu menoleh, aku baru berani untuk mulai berbicara.
“Boleh minta bill nya?” ucapku.
“Oh tentu saja.” balasnya kemudian segera mengambilkan bill tersebut.
“Semuanya jadi tiga puluh dua ribu lima ratus.” lanjutnya sembari menyerahkan rincian harganya.
Aku segera mengeluarkan uang pas untuk membayarnya. Setelah aku menyelesaikan pembayarannya, aku langsung memutar balik tubuhku untuk pergi meninggalkan tempat itu. Tapi tiba-tiba pria itu menghentikan langkah ku dengan segera. Membuatku terpaku di tempat itu dengan seketika.
“Nona!” sahutnya dari belakang.
Aku memastikan jika orang yang dimaksud itu adalah aku. Aku lantas membalikkan badanku ke arahnya. Tak baik jika berbicaraa dengan orang baru tanpa melihat wajahnya sama sekali.
“Apa kau sedang memanggilku?” tanyaku dengan ragu-ragu.
Pria itu mengangguk pelan, kemudian segera berlari menuju ke arahku. Aku tak tahu apakah aku telah meninggalkan sesuatu di mejanya barusan, sehingga pria ini memanggilku. Tapi kurasa aku tidak begitu sama sekali.
“Bisa kita bicara sebentar?” tanya nya padaku.
“T-ta-tapi aku harus segera kembali ke hotel.” ujarku dengan jawaban penolakan secara tak langsung.
“Apa kau menginap di hotel ini?” tanya nya sekali lagi.
“Hmm…” balasku singkat.
“Tapi aku janji hanya sebentar saja.” ucapnya dengan wajah memelas.
Aku jadi bingung harus menerimanya atau menolaknya. Lagi pula kenapa harus ada orang aneh di tempat seperti ini. Bikin ribet saja, sekarang lihatkan urusannya malah repot begini. Sejujurnya aku sedang tak ingin berurusan dengan pria yang satu ini, meskipun wajahnya sangat mirip dengan Kak Sendy aku masih yakin jika dia adalah orang lain yang kebetulan wajahnya hanya mirip saja. Tapi aku juga menjadi tidak enak jika harus menolaknya. Lagipula seperti apapun aku menolaknya, pria ini pasti memiliki jutaan taktik untuk tetap menahanku.
“Terimakasih banyak, maaf telah merepotkanmu. Tapi aku janji jika ini tak akn lama-lama.” ujarnya dengan panjang lebar.
“Bagaimana kalau duduk di meja kosong itu? Yang itu kebetulan barusaja ku bersihkan tadi.” lanjutnya.
“Baiklah.” balasku dengan singkat, untuk yang kesekian kalinya.
Untuk sekarang ini sebaiknya turuti saja dulu kemauanya. Akan jauh lebih cepat kelar urusannya jika aku mengiya-iyakan semua perkataannya saja. Kami segera menuju meja yang dimaksud, untuk mengobrol ringan. Aku tak tahu entah memang tempat ini yang sedang sepi, atau memang selalu begini setiap harinya.
“Ah, entahlah!” batinku dalam hati.
Di lihat dari sisi manapun, pria ini tetap saja mirip dengan Kak Sendy. Bahkan dari jarak sedekat ini semuanya terasa sama persis. Tak ada yang berbeda sedikitpun dari mereka berdua. Aku terkadang tak habis pikir, bagaiman abisa mereka berdua begitu mirip seperti ini.
“Kau gadis yang duduk di meja nomer tiga itu tadi kan?” tanya nya padaku sembari membuka obrolan.
Aku menganggukkan kepalaku dengan hati-hati. Karena sampai saat ini aku tak tahu sakan kemana arah pembicaraan ini dibawa. Sebaiknya tetap berhati-hati, karena aku belum pernah mengenal atau bahkan bertemu dengannya.
“Dari tadi aku terus memperhatikanmu di balik alat drip kopi itu.” Ujar pria itu.
“Kenapa memperhatikanku, apa ada yang aneh dengan penampilanku?” tanyaku dengan begitu polosnya.
“T-ti-tid-tidak!” jawabnya dengan cepat sambil menyilangkan tangannya.
“Be-begini….” lanjutnya sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal itu..
Aku hanya bisa ikut-ikutan menggaruk kepalaku juga. Bukan karena gatal, tapi karena aku sama sekali tak mengerti dengan apa yang ia ucapakan dari tadi. Perkataannya hanya mutar-mutar di situ saja, sama sekali tak memiliki arah pembicaraan yang jelas. Ku kira pria ini hanya membuang-buang waktuku saja, yang seharusnya bisa ku pakai untuk belajar.
“Aku dari tadi melihatmu, karena wajahmu sangat mirip dengan almarhum adik perempuanku.” jelasnya dengan tatapan sendu.
“Aku? Mirip dengan adik perempuanmu kau bilang?” tanyaku yang masih dibuat kebingungan..
Pria itu mencoba mengutak-atik poselnya tersebut selama beberapa saat. Kemudian dia menunjukkan layar poselnya kepadaku. Yang benar saja, aku dibuat tercengang oleh isi foto tersebut. Anak perempuan yang berada di dalam foto itu sangat mirip denganku. Gadis itu berdiri dengan pose imut andalannya tepat di samping pria ini. Mereka juga terlihat sangat akrab dan dekat. Pria ini juga menunjukkan foto-foto lainnya yang memamerkan potret kebersamaan dia dan adik perempuannya.
__ADS_1
Aku bahkan tak habis pikir bagaimana pria itu bisa memiliki adik yang sangat mirip denganku. Aku sampai mengira jika orang yang ada di dalam foto itu adalah benar-benar diriku. Kebetulan macam apa ini. Aku benar-benar dibuat kebingungan dengan keadaan yang sekarang ini.
Ku rasa foto itu telah cukup untuk memberikanku jawaban dari pertanyaan sebelumnya. Namun kini pertanyaan baru kembali muncul dan meminta untuk segera dijawab. Tak baik jika aku terlalu lama menunggu, karena aku juga ingin mengatakan sesuatu kepadanya.
“Terus dimana gadis ini? Kenapa kami bisa begitu mirip?” tanyaku sekali lagi.
Pria itu menarik napasnya dalam-dalam. Sepertinya ini adalah hal yang sulit baginya, meskipun aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan hubungan kakak beradik ini. Satu hal yang pasti jika intuisiku mengatakan kalau ada sesuatu yang tak beres dengan mereka. Semoga saja tidak begitu pada kenyataannya. Aku selalu berharap agar firasatku menjadi salah untuk sesekali saja. Aku lelah jika harus selalu benar seperti ini. Kebenaran yang selalu mengecewakan bagiku.
“Dia adikku, namanya Dhea Ersarahsa. Dia meninggal tepat satu tahun yang lalu, karena kecekalakaan busa yang ia tumpangi saat pergi study tour bersama teman-temannya.” jelas pria tersebut.
“M-ma-maaf.” ucapku yang mendadak menjadi tak enak.
Aku terkejut bukan main setelah mendengar penjelasannya barusan. Ternyata gadis yang mirip denganku itu telah meninggal. Bagaimana bisa jalan ceritanya menjadi sama persis seperti ini. Apakah aku adalah reingkarnasi dari gadis yang telah meninggal itu. Tapi rasanya tak mungkin, kejadian itu hanya terjadi baru-baru ini.
“Oh iya, siapa namamu?” tanya pria itu kepadaku.
“Kita sudah mengobrol panjang dari tadi, tapi aku masih belum tahu siapa namamu.” lanjutnya.
“Oh, perkenalkan. Namaku Eresha Caitlyn Ananda.” ucapku sambil mengacungkan tanganku.
“Namaku Bima Ajirha, panggil saja Bima.” ujarnya seraya membalas uluran tanganku.
“Terus aku manggilnya apa?” lanjutnya dengan kalimat yang tergantung.
“Eresha!” jawabku dengan cepat.
Setelah perkenalan barusan, aku merasa seperti bertemu dengan Kak Sendy lagi. Apa ini yang dinamakan keajaiban itu. Apa mungkin saat aku mengucapkan harapan itu, tiba-tiba saja muncul bintang jatuh.
“Kalau boleh jujur, kamu juga mirip kayak kakak senior aku.” ujarku secara gamblang.
Pria itu langsung mendongak ke arahku. Menatapku dengan sorot mata tajam, yang sulit untuk diartikan begitu saja. Aku tahu jika hal ini kedengarannya tak masuk akal. Tapi semua kebetulan ini benar-benar terjadi seperti layaknya sebuah keajaiban.
Aku segera menunjukkan semua foto yang ku punya kepada Bima. Aku berusaha sebisa mungkin untuk meyakinkannya jika aku tak sedang bercanda. Apakah kali adalah kembaran tak nyata dari jiwa yang telah lama mati itu. Mungkin benar yang dibilang oleh orang-orang selama ini, jika pasti diri kita memiliki setidaknya ada satu di dunia ini yang sama persis dengan kita.
“Ini siapa?” tanya Bima kepadaku.
“Kak Sendy, yang aku bilang mirip sama kamu.” jelasku kemudian menyimpan foto tersebut.
“Beberapa hari yang lalu aku juga baru mendengar kabar duka cita darinya, jika dia telah meninggal dunia.” jelasku.
“Jadi aku pikir aku telah bertemu dengan Kak Sendy lagi, tapi ternyata hanya mirip saja.” lanjutku sambil menurunkan pandanganku darinya.
“Kelihatannya kau begitu menyayangi kakak seniormu itu.” ucap Bima yang kemudian segera menyimpulkan inti dari penjelasanku barusan.
“Ya begitulah, sulit untuk dijelaskan.” balasku dengan singkat.
Pria yang tengah duduk tepat di depanku, berdecak kagum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Sepertinya Bima tak habis pikir dengan kebetulan yang tak masuk akal ini. Kenapa belakangan ini setiap hal yang terjadi kepadaku, terjadi dengan begitu aneh. Sulit dijelaskan dengan logika dan akal sehat manusia pada umumnya.
“Wah…. Ckckck.” ucapnya sambil mengelus-elus dagunya.
“Hari ini kita sama-sama bertemu dengan orang yang kita kira telah meninggal padahal dia adalah orang lain.” ucap Bima dengan perasaan sedihnya yang tka bisa ditutup-tutupi lagi.
“Kau pasti tadinya juga mengira jika aku adalah adikmu yang bernama Dhea itu kan?” ujarku dengan hati-hati.
Pria itu mengangguk pelan mengiyakan perkataanku barusan. Aku tahu jika pria ini sangat merindukan adiknya yang satu itu. Meskipun baru pertama kali bertemu, aku bisa paham betul dengan apa yang ia rasakan sekarang ini. Saat ini kami sama-sama sedang merindukan sosok orang yang wajahnya sangat mirip dengan yang berada di depan kami masing-masing. Kedua insan yang tak sengaja bertemu ini sama-sama sedang rapuh. Jadi kami harus saling menjaga omongan, agar tak saling menyakiti.
“Hey, lihat sisi positif nya dari pertemuan ini.” ujarku sambil mengepuk pelan pundak Bima.
“Kau benar.” ucapnya dengan kedua sudut bibir yang terangkat.
“Setidaknya kita bisa merasakan bagaimana rasanya jika mereka kembali hidup, walaupun hanya untuk malam iini saja.” jelasnya.
__ADS_1