
BREATHE
Akhirnya aku kembali tersadar setelah kepalaku secara tidak sengaja menghantam batu di sungai itu dengan begitu keras. Aku tak tahu bagaimana caranya, tapi aku benar-benar telah keluar dari Piri dan itu terjadi secara ajaib. Aku membuka kedua kelopak mataku dan mendapati diriku tengah berada di atas ranjang. Aku menatap langit-langit kamar dan semua benda yang berada di sekitarku, untuk memastikan jika aku baik-baik saja.
Aku terbangun dengan keadaan yang tak baik-baik saja. Napasku terengah-engah, dadaku juga terasa begitu sesak. Bahkan jantungku berdetak dengan ritme yang tak beraturan sama sekali. Sekujur tubuhku bergetar dengan sangat hebat. Keringat itu tiba-tiba membuat diriku basah kuyup, seperti baru keluar dari sungai itu setelah hanyut. Aku benar-benar gugup dan tak bisa mengendalikan diriku sendiri lagi.
Sepertinya aku telah mengalami mimpi buruk yang begitu menakutkan. Tapi sayangnya aku tak bisa mengingat sepotong kisahnya. Aku tak tahu apa yang terjadi, hingga aku bisa begitu ketakutan seperti ini. Aku meraih ponselku yang terletak di atas meja, tepat di samping ranjangku. Dengan tangan yang masih gemetar, aku berusaha mencari kontak seseorang yang mungkin bisa membantuku pada saat seperti ini. Tanpa ragu lagi, aku segera meneleponnya larut malam seperti ini. Tak peduli jika ia sedang tidur atau tidak, yang jelas aku membutuhkan bantuannya saat ini.
“Ha-lo.” ucapku dengan suara bergetar, sesaat setelah ia mengangkat teleponnya.
“Ada apa? Kenapa meneleponku selarut ini?” tanya seseorang dari seberang sana.
“Tunggu dulu, kenapa kau terdengar begitu ketakutan?” lanjutnya.
“Aku butuh bicara denganmu.” jawabku secara gamblang.
“Pada jam segini?” tanyanya lagi.
“Ini sangat penting. Aku terbangun dari tidurku karena hal ini.” jelasku.
“Ini benar-benar membuatku tak nyaman.” lanjutku.
“Apa yang sebenarnya terjadi? Apa kau baik-baik saja?” ujar orang itu.
“Hmm… untuk saat ini aku masih baik-baik saja.” balasku.
“Baiklah, aku akan ke sana sekarang.” ucapnya.
“Baiklah, cepat!” perintahku.
Aku menutup teleponnya dengan begitu ketakutan. Sambil harap-harap cemas, semoga bantuan itu segera datang. Tanpa kusadari sama sekali, aku telah meneteskan air mata tanpa alasan yang jelas. Aku lantas segera menyekanya. Aku tak ingin Amel menyadari hal ini, walaupun kelihatannya ia tengah tertidur pulas saat ini.
Tadi aku menelepon Ahn Yoo Ra, teman satu kampusku. Dia merupakan keturunan antara Korea dan Indonesia. Ayahnya asli Bandung dan kini menetap di Korea. Sementara itu ibunya sendiri adalah orang Korea asli, ia berasal dari daeraH Busan. Ibunya seorang syaman korea, begitu yang aku dengar darinya saat pertama kali bertemu dengannya di kampus. Entah memang terjadi secara kebetulan atau tidak, aku tak tahu pasti. Yang aku tahu, ia bisa meramal setiap kejadian dan memprediksikan sesuatu. Kebanyakan dari ucapannya selalu tepat.
Yoo Ra tinggal di asrama ini, yang masih satu gedung denganku. Ia berada di lantai lima, sedangkan aku di lantai empat. Jadi kurasa tak akan memakan banyak waktu saat perjalanannya menuju tempat ini. Lagipula para penjaga asrama telah selesai berpatroli sejak tiga jam yang lalu. Tempat ini benar-benar sepi sekarang. Sekarang sudah pukul dua pagi, dan aku masih tetap terjaga karena sesuatu yang buruk telah menimpaku.
‘DRRTTTT!!!!’
Tiba-tiba saja ponselku bergetar pelan. Aku segera mengeceknya, siapa tahu itu telepon dari Ahn Yoo Raa.
“Cepat buka pintunya… Aku sudah sampai di depan.” bisiknya dengan nada rendah.
“Baiklah.” balasku singkat.
Aku segera berlari pelan ke arah pintu dan berusaha untuk tak membuat suara sama sekali. Aku masih belum mematikan teleponnya, untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu yang di luar dugaan. Aku membuka gerendel pintu dengan sangat hati-hati. Karena ini malam hari dan suasananya lumayan sepi, bahkan suara sekecil ini pun bisa terdengar.
Ahn Yoo Ra langsung menyerobot masuk, tepat setelah aku membukakan pintu untuknya. Setelah memastikan semuanya aman, aku segera menutup pintu rapat-rapat, sebelum ada seorangpun yang menyadari akan hal ini.
“Kenapa sih lo manggil gue selarut ini?” tanyanya.
“Stttt!!!!” ucapku sambil berusaha membungkam mulutnya.
__ADS_1
“Jangan berisik, nanti Amel bangun. Brabe ntar urusannya!” bisikku pelan.
Aku menuntunnya ke tempat tidurku dan memilih untuk membicarakan ini di sana saja.
“Lo kenapa belum tidur jam segini?” tanyaku penasaran.
“Gue sendiri juga enggak tau kenapa gue enggak ngantuk sama sekali dari tadi. Enggak biasanya tau kayak gini.” jawabnya secara gamblang.
“Mungkin karena lo bakalan nelpon gue tengah malam gini.” lanjutnya.
“Ini udah pagi!” tegasku.
“Udah langsung ke inti permasalahannya aja.” ujar Yoo Ra
“Oke-oke, jadi gini….” balasku.
Aku bahkan tak tahu harus memulainya dari mana dulu. Aku harus menjelaskan semua ini kepadanya, tapi tak tahu bagaimana. Yang jelas, sekarang ini aku akan mencobanya.
“Apa lo bisa liat sesuatu dari mata gue?” tanyaku.
“Gue enggak tahu harus mulai dari mana. Gue bahkan enggak tahu awalnya yang mana dan akhirnya yang mana.” jelasku.
“Lo sendiri kan yang bilang, kalau mulut itu bisa aja bohong. Tapi mata enggak akan pernah bisa bohong.” lanjutku.
“Gue paham kok sama kondisi lo sekarang.” balasnya dengan singkat padat dan jelas.
“Cowok itu kembali.” ujarnya secara gamblang.
“Cowok? Yang mana?” tanyaku dengan sejuta pertanyaan yang sebenarnya masih ada di dalam sana.
“Jujur, gue bener-bener tersentu sama cerita ini. Maaf, cerita kalian maksudnya.” ujar Ahn Yoo Ra pada permulaan cerita.
“Lo tau satu hal? Seharusnya lo enggak nulis kisah sebanyak ini di buku dia. Bahkan sampai saat ia harus pergi sekalipun, dia tetap masih baca cerita yang lo buat. Dia baca itu berulang-ulang sampai bukunya using dan salah satu halamannya hilang. Sampai tulisannya pudar dan kertasnya robek. Tapi tetap aja kisah itu enggak akan bisa hilang. Karena terlalu sering dibaca, semua kalimat itu tersimpan di memorinya.” jelasnya dengan panjang lebar.
Sementara itu, di sisi lain aku masih berusaha keras untuk memahami semua kalimat yang keluar dari mulutnya saat itu. Aku sama sekali tak bisa mengerti satu hal pun dari apa yang ia katakanya barusan. Aku tak bisa mengambil kesimpulan dari itu semua. Kedengarannya memang sangat sederhana, tapi pada kenyataannya sangat sulit untuk dipahami. Jadi sebenarnya, apa yang sedang terjadi sekarang.
“Jadi lo bisa jelasin ke gue nggak, secara langsung sebenarnya siapa orang itu?” tanyaku dengan hati-hati.
“Percuma aja sha, karena lo juga enggak bakalan ingat.” jawabnya secara gamblang.
“Tapi gue pengen tau!” tegasku sekali lagi.
Ahn Yoo Ra terlihat menghela napasnya dengan kasar. Kurasa ia mulai kehilangan kesabaran untuk menghadapi gadis keras kepala sepertiku. Tapi aku tak akan berhenti begitu saja. Tak banyak hal yang bisa membuatku menyerah, bahkan jika sekalipun aku ingin menyerah. Ambisiku selelu lebih besar daripada apapun.
“Gue akan jelasin untuk lo yang terakhir kalinya.” ujarnya.
“Ingat, ini yang terakhir. Jadi setelah ini jangan tanya apapun, atau minta apapun dari gue.” jelasnya sekali lagi.
Aku mengangguk lemah, mengiyakan perkataannya barusan.
“Satu-satunya yang gue liat dari mata lo, cuma insiden itu.” ujarnya pada permulaan cerita.
__ADS_1
“Gue tau kalau lo pernah hilang ingatan sementara karena kecelakaan itu, bahkan lo punya trauma yang lo sendiri nggak tau.” jelasnya.
“Jadi intinya, sekarang efek jangka panjang dari kecelakaan itu berhasil ngambil sebagian memori lo dan itu enggak akan kembali lagi. Tapi tokoh utama dari memori yang hilang itu terus datang dan enggak bisa pergi dengan tenang sebelum lo lakuin satu hal ini. Dia Cuma pengen lo ikut ke dunianya, padahal dunia kalian udah beda. Walaupun dulu sebenarnya kalian berasal dari alam yang sama. Jadi jangan pernah datang ke tempat itu lagi.” jelasnya dengan panjang lebar.
“Tempat yang lo sebut Piri itu udah berubah jadi mala petaka.” lanjutnya.
“Piri?” batinku dalam hati.
“Lo enggak seharusnya nyari kedamaian di sana, karena hal yang lo sebut dengan kedamaian itu udah enggak ada lagi di sana. Tempat itu udah berubah jadi neraka buat siapa aja yang berani masuk ke sana. Jadi jangan sampai lo terjebak dan enggak bisa keluar dari sana.” jelasnya sekali lagi.
“Ini terakhir kalinya lo pergi ke sana, jangan pernah coba-coba untuk pergi ke sana lagi. Atau nyawa lo yang akan jadi taruhannya.” ujarnya dengan apa adanya.
Aku kehilangan kata-kata setelahnya, bahkan aku tak tahu harus bereaksi bagaimana. Kalimat yang barusaja diucapkan oleh Ahn Yoo Ra berhasil membungkam mulutku.
“Tapi gue bahkan enggak tahu gimana cara keluar atau masuk ke sana. Itu semua terjadi secara tiba-tiba aja dan gue enggak pernah ngerti soal hal itu.” ungkapku.
“Itu dia masalahnya! Sesuatu yang ada di dalam sana terus berusaha untuk nguasain diri lo.” balasnya.
“Kita harus bisa menghentikan dia sebelum sesuatu yang buruk terjadi sama lo.” Lanjutnya.
“Caranya gimana?” tanyaku dengan polos.
“Kita harus musnahkan Piri dan semua hal yang ada di dalamnya.” jelasnya dengan begitu yakin.
“Mendingan sekarang lo balik tidur, ini udah pagi. Lo harus punya cukup energy untuk hari ini. Nanti siang bakalan gue kasih tau gimana caranya.” ujarnya.
Lagi-lagi aku hanya bisa mengangguk mengiyakan perkataannya barusan. Untuk saat ini sepertinya tak banyak yang bisa ku lakukan. Mungkin ini adalah cara terbaik untuk mengamankan diriku. Aku tak ingin sesuatu terjadi kepadaku. Jadi lebih baik aku menuruti perkataan gadis ini saja. Aku yakin dan percaya jika dia bisa mneyelamatkanku dari kekacauan ini atau paling tidak bisa melindungiku untuk sementara waktu.
“Apa gue boleh bawa kalung lo itu?” tanya gadis itu dengan hati-hati.
Aku menatapnya dengan tatapan bingung bercampur cemas. Sejak aku mendapatkannya, aku tak pernah melepaskan benda ini. Bahkan aku tak tahu dari mana ini berasal. Entahlah, semua ingatan itu hilang begitu saja dari dalam pikiranku. Mereka seolah pergi tanpa jejak.
Tanpa pikri panjang lagi, aku segera melepaskan benda itu dari leherku dan memberikannya kepada Ahn Yoo Ra. Mungkin ini adalah salah satu jalan keluarnya. Lagipula tak mungkin jika gadis ini memiliki niatan jahat kepadaku. Itu bukan kalung mahal, hanya sekedar perhiasan imitasi mungkin.
“Ini terakhir kalinya lo ngeliat kalung ini. Benda ini kutukan, jadi kita harus musnahin ini supaya lo dan Piri enggak ada hubungan lagi.” jelasnya.
Aku hanya mengangguk pasrah dengan perkataannya barusan. Aku akan melakukan apapun demi menyelamatkan nyawaku sendiri. Lagi pula aku tak ingat sedikitpun bagaimana bisa aku mendapatkan benda itu. Jika benar benda itu alah kutukan, maka aku harus segera terlepas dari kutukan itu.
“Kembali tidur, jangan sampai terlalu lelah.” ujarnya saat berada di ambang pintu.
Aku tak tahu lagi harus bagaimana membalas semua kebaikannya kepadaku selama ini. Gadis itu sudah teralu banyak membantuku dan aku juga sudah terlalu sering merepotkannya. Setelah ia pergi, aku kembali ke ranjang dan mencoba untuk terlelap lagi. Ia bilang aku akan aman selama tidur tanpa kalung ini. Setelah ia datang dan menjelaskan semuanya padaku, aku merasa jauh lebih tenang saat ini. Meskipun pada awalnya semua kalimat itu membuatku ketakutan serta bingung disaat yang bersamaan.
***
Ternyata benar apa kata Ahn Yoo Ra, aku jauh lebih tenang saat tertidur tanpa kalung itu. Hari ini aku kembali bangun pada pukul sembilan pagi. Sebenarnya hari ini aku masih libur dan mungkin baru masuk kembali minggu depan. Tapi tetap saja aku harus segera beriap, karena aku harus bergegas pergi. Aku nyaris lupa jika hari ini aku memiliki janji dengan Arka untuk menemaninya ke situs sejarah. Dia bilang perlu beberapa referensi bangunan dan model arsitektur bangunan Korea pada zaman kerajaan dulu.
Kejadian mengerikan kemarin membuatku benar-benar kacau hingga hari ini. Bahkan taka da sedikitpun aura positif yang menghampiriku hari ini. Suasana hatiku benar-benar buruk. Dan yang lebih parahnya lagi adalah, aku sama sekali tak bisa mnegatur pikiranku sendiri. Sepertinya semua ini benar-benar membawaku satu langkah menuju gila.
Aku hampi kehilangan kewarasanku seutuhnya karena kejadian kemarin. Sebenarnya aku tak terlalu percaya dengan hal-hal gaib yang banyak dibicarakan oleh orang lain. Aku percaya jika dimensi lain itu ada, namun tak ingin tahu lebih banyak soal mereka. Tapi semenjak kecelakaan bus yang pernah ku alami itu, semuanya berubah. Kjadian itu benar-benar merubah kehidupanku seratus delapan puluh derajat. Sejak saat itu, banyak kejadian aneh yang pernah ku alami. Tapi aku tak pernah mengambil pusing atas semua kejadian itu. Sekarang mereka malah memaksaku untuk berpikir keras soal kehidupan mereka yang bahkan tak kasat mata itu. Sesuatu yang tak terlihat dari masa lalu, terus datang dan mengusik kehidupan baruku saat ini.
Aku tak tahu ia datang dari lorong waktu yang mana. Yang aku tahu hanyalah, jika ia berasal dari masa lalu. Jika aku telah melepaskan semua ikatanku dengannya, apakah ia tak bisa berbuat hal yang sama seperti itu juga? Berhenti menggangguku karena aku juga tak pernah mengganggunya sama sekali. Akan sulit bersatu seperti dulu jika kehidupan kami telah berbeda. Terlalu banyak perbedaan saat ini yang tak memungkinkan untuk kembali seperti dulu. Sosok itu berusaha melawan arus waktu demi menemui seseorang dari masa depan. Dan orang yang sedang ia cari adalah aku.
__ADS_1