Pengagum Lara

Pengagum Lara
Episode 58


__ADS_3

"Terimakasih dok...." Ujarku.


"Baiklah, kelihatannya aku tidak perlu memberikanmu obat lagi." Balas dokter tersebut.


"Kami harus segera pergi lagi, selamat tinggal..." Lanjutnya.


"Jangan biarkan bunga ini tetap di sini saat kau pulang nanti, bawa ia bersamamu. Suatu saat kau akan membutuhkannya." Timpal wanita bule itu.


Aku memilih untuk mengiyakan perkataannya saja. Aku sudah malas berdebat dengannya. Setelah itu mereka segera keluar dari tempat ini.


"Biar bibi telepon mbak Renata dulu ya." Ujar bibi sambil mengambil ponsel jadulnya itu.


"Ntar mereka udah di pesawat lagi, kalau enggak di angkat gimana?"


"Pesawatnya baru terbang jam sembilan nanti kok mbak."


"Ya udah deh terserah bibi aja." Serahku begitu saja.


Tiba-tiba aku teringat akan perkataan suster bule itu tadi. Bagaimana ia tahu jika aku akan membiarkan bunga krisanthemum itu di sini, ku rasa ia memang benar-benar peramal sungguhan. Lagipula kenapa ia harus sok tahu dengan bunga itu, ia bilang aku akan membutuhkannya, tapi untuk apa coba.


Sebentar, ada sesuatu yang aneh. Aku baru menyadari jika bunga itu masih tetap segar meskipun aku tak menaruhnya di vas berisi air. Bunga krisanthemum itu tak layu atau rusak sama sekali. Masih sama segarnya seperti saat pertamakali aku menerimanya. Tapi ya sudahlah, aku tak mau ambil pusing soal itu.


Bibi yang sedang sibuk berbicara di telepon akhirnya menyingkir ke luar sebentar. Padahal di sini tak ada kebisingan sama sekali, mungkin ia tak ingin aku mendengarkan percakapannya atau bisa jadi sinyal juga kurang bagus.


Aku mengambil seikat bunga krisanthemum itu yang terletak di sebelahku sudah sejak tadi malam.


"Bagaimana caranya kamu datang ke sini?" Gumam ku pelan.


Meski aku tahu bunga ini tak akan bisa menjawabnya, tapi tetap saja aku masih penasaran. Aku segera meletakkan bunga itu kembali ke tempatnya semula.


Kemungkinan aku baru bisa pulang setelah jam makan siang nanti. Dokter yang tadi akan mengecek kondisi ku sekali lagi untuk memastikan, dan jika hasilnya sudah cukup memuaskan, mereka akan langsung melepaskan jarum infus ini. Benda itu sudah berhari-hari terbenam di bawah aliran pembuluh darah kapiler ku. Ku harap dokter itu tak datang bersama wanita bule itu lagi nantinya.


"Bibi tadi udah telepon mbak Renata, katanya mereka habis dari bandara bakalan langsung ke sini. Biar sekalian jalan pulang ke rumah, jadi enggak bolak-balik." Jelas bibi yang entah sejak kapan sesudah kembali masuk ke ruangan ini.


"Iya, terserah.... aku ikut aja." Balasku singkat.


Wanita paruh baya itu langsung membereskan semua barang-barang pribadiku yang sengaja di bawa ke sini. Tak banyak memang, hanya beberapa potong pakaian saja dan keperluanku yang lainnya. Sebenarnya aku ingin membantunya, tapi kondisiku saat ini sangat tak memungkinkan. Aku menjadi tak enak jika harus selalu merepotkannya seperti ini.


****


Aku segera menyelesaikan suapan terakhirku, kemudian membersihkan mulutku dengan tisu basah. Semuanya sudah siap, barang-barang yang akan ku bawa kembali pulang ke rumah telah tersusun rapi di dekat pintu. Tinggal menunggu mere mencabut infus ku saja, setelah itu aku bisa langsung pulang.


"Permisi...." Sahut seseorang dari pintu.


Akhirnya, pucuk di cinta ulam pun tiba. Barusaja aku selesai makan mereka langsung sampai. Lebih cepat memang jauh lebih baik.


"Sudah merasa lebih baikan." Tanya dokter tersebut.


Aku mengangguk cepat begitu bersemangat.


"Baiklah biarku tangani satu masalah lagi." Ujarnya sambil mengeratkan sarung tangannya.


Kemudian ia meraih salah satu tanganku. Dengan perlahan ia menarik sebatang logam yang menancap di punggung tanganku. Aku meringis kesakitan menahan rasa sakit yang tak bisa ku deskripsikan dengan kata-kata lagi. Bahkan aku tak berani melihatnya bagaimana cara benda itu keluar dari sana. Hal itu terlalu mengerikan bagiku.


"Sudah selesai..." Ujarnya sambil mengusap-usap tanganku dengan kapas beralkohol.


Aku membuka kelopak mataku dengan takut-takut. Ternyata lukanya tak terlalu besar, bahkan nyaris tak terlihat. Untungnya pada saat memasang jarum infus ini aku sedang tak sadarkan diri, jadi aku bisa sedikit lega karena tak sempat merasakan bagaimana rasa sakitnya.


Setelah mereka pergi, aku langsung mengelus halus tanganku yang masih terasa perih karena efek alkohol.Aku benar-benar benci dengan tempat ini sejak dulu.


"Hai...." Sahut seseorang dari balik pintu.


"Huh! Siapa lagi yang datang kesini?!" Batinku dalam hati.


Tiba-tiba saja seorang wanita bergaya modis itu langsung menyerobot ku begitu saja. Ia memelukku dengan begitu erat, bahkan aku sampai kesulitan untuk bergerak.


Oh, jadi ternyata mereka sudah sampai di sini. Para orang tua itu memilih untuk langsung duduk di sofa. Aku tahu jika punggungnya perlu di lemaskan sebentar saja setelah perjalanan panjang tadi.


Tapi tidak dengan wanita muda yang satu ini. Ia bahkan tak memberi aba-aba terlebih dahulu kepadaku. Pokoknya Renata harus tanggung jawab jika aku mati karena kehabisan nafas.


"Ayolah, lepaskan aku! Di sini sangat pengap, bajunya juga berkeringat. Ya ampun sangat menjijikkan." Batinku dalam hati.


"Lepaskan aku!" Ujarku dengan nada yang lebih tinggi.


Aku sudah tak tahan lagi dengan semua ini. Bisa-bisa aku malah pingsan di tempat sekarang juga. Aku tak bisa lebih lama lagi terjebak di situasi seperti ini.


Sedetik kemudian ia langsung meleoaskan cengkraman mautnya itu dari ku.


"Maafkan aku....." Ujarnya sambil nyengir seolah tak berdosa.


Akhirnya aku bisa bernafas lega sekarang. Ini jauh lebih baik daripada yang sebelumnya.


"Pastikan jika hari ini kakak memakai deodorant! Bau mu hampir membunuhku secara perlahan." Celetuk ku.


"Hei! Aku tak seburuk itu!" Balasnya sambil mendengus kesal.


Aku segera mengibas-ngibaskan tanganku tepat di depan indera penciumanku, dengan harapan agar aku bisa menghirup udara segar.


"Dimana Reksa?" Tanyaku.


Aku tak mendapati pria itu di ruangan ini. Bukankah mereka pergi dan pulang bersama. Jangan bilang jika pria yang akan menikahi kakak perempuan ku ini malah tertinggal pesawat.


"Oh, dia lagi nunggu di mobil. Katanya biar ada yang jagain mobil di parkiran." Jelasnya.


Mulutku membulat sempurna meng-oh kan perkataannya, "oh....."


"Ayo pulang!" Ajak ku.


"Sebentar lagi, papa perlu istirahat sebentar." Sahut papa dari ujung ruangan.


Aku mendesis kasar mendengar jawaban tersebut dari papa. Padahal aku sangat bersemangat untuk kembali ke rumah.


"Udah ah! Ayo pa, kita pulang ke rumah. Istirahatnya ntar aja di rumah, bisa sepuas papa." Timpal mama.

__ADS_1


Aku langsung mengangguk setuju dengan mama. Kemudian mama lantas menarik tangan papa agar bangkit dari posisinya. Aku pun turut beranjak dari tempat tidurku dengan antusias. Tak lupa turut membawa bunga krisanthemum itu bersamaku, sepertinya aku akan mengurungkan niatku untuk membiarkannya begitu saja.


Bunga ini layaknya seperti sebuah kutukan. Jika aku tetap membiarkan nya di sini, penghuni ruangan ini yang berikutnya pasti akan mengalami hal serupa denganku. Hal-hal aneh yang tak masuk akal itu lebih pantas di sebut sebagai sebuah kutukan. Sebagai orang yang berperikemanusiaan, aku tak ingin orang lain menderita atas kutukan yang ditujukan kepada ku.


"Bunga dari siapa?" Tanya mama dengan sinis.


"Temen...." Balasku singkat.


"Siapa? Sendy?" Ujar mama dengan begitu tajam.


"Mama dengar Sendy juga ada di Jakarta, ternyata dia lagi kuliah di sini." Lanjutnya.


"Enggak, bukan dari Kak Sendy. Ini dari temen Eresha yang kemarin jenguk." Tegas ku sekali lagi.


"Mama percaya kok, selama kamu enggak manfaatin kepercayaan mama ini." Ucap mama setengah memperingatkan ku.


"Udah lah, pulang yuk! Ngobrolnya di lanjutkan pas udah di dalam mobil aja nanti." Balasku.


Selalu ada saja yang di permasalahkan oleh mama. Terlebih di saat seperti ini aku tak ingin membuat keributan dengan mama. Yang ku perlukan sekarang hanyalah suasana yang tenang.


"Lebih baik kamu jangan dekat-dekat lagi dengan laki-laki itu. Mama enggak suka sama dia, anak itu bukan pria yang baik-baik." Jelas mama mencoba memberikan pengertian kepada ku.


"Dia baik kok ma, aku lebih kenal sama dia daripada mama." Bantah ku.


Aku tak setuju dengan pendapat mama yang mengambil kesimpulan begitu saja. Ia tak bisa hanya menilai seseorang berdasarkan tampak luarnya saja. Semua orang punya sisi baiknya tersendiri, bahkan preman sekalipun. Mungkin mereka hanya belum siap untuk menunjukkan itu pada dunia. Dunia yang terlalu kejam bagi sebagian orang.


"Maafin mama kalau udah sok tahu soal dia. Tapi mama cuma enggak mau kamu malah kecewa...." Ujar mama sambil merangkul bahuku.


"Maksud mama?"


"Lebih baik kamu jangan terlalu dekat dengan dia, supaya saat ia pergi nanti kamu enggak terlalu sakit. Kamu harus membiasakan diri kamu sama hal itu nak...." Jelasnya dengan suara lirih.


Aku memilih mengangguk mengiyakan perkataannya saja. Tak berguna juga jika harus berlama-lama berdebat seperti ini. Bukan ini yang aku mau. Meskipun ia adalah ibu sambung ku sejak ayah dan ibu kandungku berpisah, dan mereka adalah orangtua Renata juga sebenarnya. Ia sempat ku anggap seperti ibu kandungku sendiri, ia begitu menyayangi dan memanjakan ku dahulu. Hingga akhir-akhir ini ia menjadi sedikit menyebalkan bagiku, kami tak pernah sependapat, selalu berseteru. Hubungan kami belakangan ini mulai sedikit renggang entah karena apa. Aku merindukan sosok mama yang dulu.


***


"Hai, sha...." Sapa Kak Reksa dari bangku paling depan.


"Hai kak...." Balasku singkat.


Ia menatapku dari pantulan kaca yang berada tepat di depannya, sambil membenarkan sabuk pengaman miliknya. Biasanya selalu papa yang mengemudi ketika kami bepergian bersama seperti ini. Tapi sekarang Kak Reksa yang telah mengambil alih posisi itu, papa juga sudah terlalu tua untuk dipaksakan tetap mengemudi.


Kini para wanita ini telah menemukan pelengkap hidupnya. Seseorang yang akan selalu menjaganya. Mama memiliki papa, Kak Renata memiliki Kak Reksa, sedangkan aku masih bergantung pada mereka.


"Gimana kondisimu?" Tanya Kak Reksa sambil tetap fokus pada jalanan di depannya.


"Alhamdulillah udah mendingan kak." Jawabku apa adanya.


"Syukurlah......"


"Oh, iya jadinya tanggal berapa nih yang udah pasti?"


Sekarang giliran ku yang bertanya kepada mereka atas kejelasan kapan sepasang calon suami istri ini akan saling mengikat janji suci.


"Minggu depan." Jawab Renata antusias.


"Kita semua udah sepakat kok, dan enggak ada yang keberatan."


"Ya terserah kalian juga sih, kan yang punya acaranya kalian berdua. Aku sih ikut aja lah..." Serahku.


"Lusa kamu ikut kita fitting baju ya." Pinta Renata padaku.


"Aku? Ngapain bocil kayak gini di ajak?"


"Kita pengen beliin kamu gaun juga buat acara nikahan kita, biar kompak. Jadi semacam dress code gitu lah." Jelas wanita itu.


"Aku bisa cari sendiri nanti." Balasku setengah menolak ajakannya barusan.


"Enggak pokoknya harus ikut, titik! Enggak mau tau!" Celetuk wanita itu.


Entah kenapa mendadak wanita ini menjadi begitu menyebalkan seperti ini. Aku hanya melengos kesal, tak menanggapi perkataannya sama sekali.


***


"Welcome back sha!!!"


Tiba-tiba saja terdengar suara melengking yang begitu khas dari seseorang yang tak asing lagi bagiku. Sudah ku duga pasti pemilik suara tinggi yang telah memekakkan telinga ku ini adalah Stefani. Ia muncul begitu saja dari balik pintu sambil merentangkan kedua tangannya.


"Siapa dia?" Tanya mama kebingungan.


"Temen Eresha, dia untuk sementara tinggal di sini." Jawab Renata.


"Iya, tante.... om...." Stefani ikut mengangguki perkataan Renata.


Mendadak Stefani langsung bersikap seramah mungkin di hadapan orang tuaku. Ia langsung mencium tangan mereka satu-persatu. Kelakuannya langsung berubah seratus delapan puluh derajat. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuannya barusan. Gadis ini benar-benar mampu berkamuflase dengan keadaan di sekitarnya begitu cepat.


"Renata, kamu tidur di kamar Eresha ya malam ini dan seterusnya. Sampai hari pernikahan kamu nanti. Mama sama papa kamu biar tidur di kamar kamu." Ujar nenek.


"Oh, oke enggak masalah." Balas Renata dengan senang hati.


Wanita yang satu itu memang tidak akan merasa keberatan sama sekali. Tapi apa mereka memikirkan perasaanku sebagai pemilik kamar, kurasa tidak sama sekali.


Untuk beberapa hari kedepan aku harus tidur sekamar dengan para gadis yang menyebalkan. Semoga saja aku masih tetap waras selama berada di sana. Aku tak yakin jika tempat tidurku akan sanggup menampung tiga orang sekaligus seperti ini.


"Yuk, masuk!" Ajak nenek.


"Sini biar gue aja yang bawain tas lo, pasti lo belum kuat ngangkat beginian." Ujar Stefani.


Kesambet apa gadis ini barusan? Aku tak yakin jika ia baik-baik saja. Aku sangat yakin ada sesuatu yang salah dengannya, apakah dia sedang sakit atau bagaimana. Tapi tak apa sesekali ia bersikap baik seperti ini kepadaku. Memang sudah seharusnya ia bersikap seperti ini padaku.


Aku dan Stefani segera naik menuju kamar ku yang berada di lantai dua, sementara Renata masih harus membereskan kamarnya yang sudah ia tinggalkan selama berhari-hari itu sebelum di tempati oleh mama dan papa. Rumah ini kehilangan seluruh penghuninya sejak beberapa hari yang lalu. Hanya Stefani yang satu-satunya tetap berada di sini.


"Liat nih, kamar lo bakalan bersih terus kalau sama gue." Ujar Stefani sambil membuka pintu dengan antusias.

__ADS_1


"Gimana?" Lanjutnya.


"Lumayan lah untuk ukuran orang kayak kamu." Balasku.


"Maksudnya biasa aja gitu?"


"Jauh lebih baik daripada aku sih, hehe...."


"Dasar ya lo sha, haha...."


Aku segera berlari menuju kasur empuk yang telah lama ku tinggalkan, dan langsung merobohkan diriku begitu saja di atas sana. Rasanya benar-benar nikmat, aku sudah rindu dengan tempat ini.


"Mulai hari ini kita bakalan tidur bertiga dong sekamar." Ujar Stefani.


"Enggak bakal lama kok." Balasku.


Stefani langsung menghampiri ku dan berbaring di sampingku. Kami menatap langit-langit kamar untuk yang kesekian kalinya dalam hidupku. Terkadang obrolan kami memang suka tak jelas arah pembicaraannya. Namun itulah yang namanya persahabatan, tak butuh yang namanya kesempurnaan. Hanya hal-hal kecil seperti ini sudah membuat semuanya terasa lebih dari sempurna.


"Mau cerita apa? Kemarin katanya mau cerita banyak." Tanyaku memulai pembicaraan lebih dulu.


"Oh, itu...." Jawab Stefani dengan agak ragu.


"Soal Titan?"


Aku berusaha memancing gadis yang satu ini agar menceritakan semuanya kepadaku. Tak baik memendam semua masalah yang ia miliki sendirian seperti ini.


Stefani mengangguk pasrah ketika aku berhasil mengetahui semua hal yang ia tutupi selama ini.


"Kenapa si Titan?" Tanya ku.


"Menurut lo Titan ada rasa nggak sama gue?" Ujar Stefani yang mulai terbuka.


"Apa yang buat kamu bisa langsung nyimpulin semua itu?" Tanyaku balik.


"Belakangan ini Titan jadi bersikap sweet banget sama gue, dan kayaknya gue udah baper sama dia...." Lirih gadis itu.


"Terkadang cinta itu memang rumit stef, mendingan kamu tunggu sebentar lagi. Sampai kamu benar-benar yakin sama dia." Jelasku.


"Kalau dia ternyata malah enggak punya rasa sama sekali ke gue gimana dong sha?"


"Harus siap sama yang namanya kecewa. Cinta selalu datang dan pergi dengan caranya sendiri."


Stefani menghela nafas kasar, ia terlihat berpikir keras untuk mencerna perkataanku barusan. Sebelumnya ia adalah gadis yang terlalu kaku, enggan berurusan dengan yang namanya cinta. Stefani paling anti jika harus membahas soal hati. Ia terlalu takut untuk jatuh cinta, patah hati selalu membuatnya tak ingin bersahabat dengan rasa itu. Meskipun terkadang akan ada waktunya bagi cinta untuk menyapa kita.


"Hai....." Sapa seseorang dari balik pintu.


Sudah ku duga, itu pasti Renata. Wajahnya terlihat begitu sumringah, pipinya bersemu merah merona sedari tadi. Ia terlalu bahagia hari ini.


"Lagi ngapain kalian?" Tanya Renata sambil menutup pintu.


Renata menghampiri kami yang sedang terlihat galau. Ia duduk di ujung tempat tidur sambil terus memperhatikan kami.


"Kenapa sih?" Tanyanya sekali lagi.


Tiba-tiba aku teringat akan janjiku pada Stefani waktu itu. Sepertinya sekarang adalah waktu yang tepat bagiku untuk menepati janji yang satu itu.


"Eh, kak!" Sahutku kemudian bangkit dari posisiku sebelumnya.


Sementara wanita yang sedang ber-euphoria itu hanya menaikkan salah satu alisnya.


"Make over-in Stefani dong..." Pintaku.


"Eh, kok aku sih?" Celetuk gadis itu yang kemudian segera bangkit juga.


"Biasalah kak, cinta monyet anak SMA...." Ujarku dengan nada bercanda.


Yang benar saja, Stefani langsung salah tingkah saat aku mengucapkan kalimat itu. Sangat lucu ternyata jika melihat ekspresi gadis ini saat sedang salah tingkah seperti ini.


"Oh.... iya-iya aku tahu...." Balas Renata yang ikut menggoda Stefani.


"By the way gimana sih cowoknya? Ganteng nggak?" Lanjutnya.


"Lumayan sih kak..." Jawabku.


Aku tertawa kecil melihat Stefani yang semakin tak bisa mengontrol dirinya sendiri. Tiba-tiba saja gadis itu malah memukul ku dengan bantal guling. Aku mendesis kasar kepada gadis itu.


"Enggak usah malu-malu gitu lah stef, kakak juga pernah muda kok. Pernah ngalamin masa-masa SMA." Ujar Renata turut diangguki olehku.


"Masa SMA itu adalah masa yang indah, pokoknya kalian harus nikmati masa-masa SMA kalian." Lanjutnya.


Aku setuju dengan pendapat Renata, karena setelah ini kami harus serius menghadapi kehidupan yang sebenarnya. Kehidupan yang sesungguhnya baru akan di mulai setelah kami lulus dari sekolah menengah atas. Di sinilah persaingan yang sesungguhnya baru di mulai. Oleh sebab itu kami harus pandai-pandai memanfaatkan waktu kami. Karena waktu sangat mahal dan tak bisa di bayar dengan apapun, ia juga tak bisa di putar ulang kembali.


"Yuk, duduk sini biar aku make over-in." Ujar Stefani sambil mengambil bangku dari meja belajarku.


Stefani memilih menurut saja dengan wanita yang satu ini. Renata termasuk orang yang modis dan mengerti soal fashion. Sangat berbanding terbalik denganku yang sama sekali tak tahu apa-apa soal itu.


Renata mulai mengeluarkan berbagai alat tempurnya dari dalam pouch make up, yang selalu menjadi andalannya selama ini. Dengan seksama, ia membidik segala sudut wajah Stefani dari berbagai arah. Dengan begitu lihainya, butiran-butiran halus berwarna putih itu mulai di sapukan dengan sentuhan tangan dan kuasnya. Sebuah sentuhan profesional yang menciptakan hasil akhir yang begitu sempurna.


"Gimana kalau kamu pakai poni ala Korea itu? Biar kelihatan lebih cute dan fresh."Usul Renata.


"Hmmm.... Gimana ya, aku takut enggak cocok sama aku." Jawab Stefani dengan ragu-ragu.


"Yaudah deh gini aja, biar aku coba potongin di Eresha dulu. Nanti kalau kamu srek sama modelnya baru aku potongin, gimana?" Usul wanita itu.


"Eh, enggak! Enak aja masa aku di jadiin kelinci percobaan sih." Tolak ku tak setuju.


"Udah, percaya deh sama aku pasti hasilnya bagus." Ujar Renata sambil menarik tanganku ke arahnya.


Aku hanya bisa pasrah dengan keadaan. Saat ini aku tak bisa berkutik sedikitpun, aku sudah benar-benar mati kutu. Tidak apa-apa juga jika sesekali mengalah demi kebahagiaan kakakku. Mengingat dulu kami pernah saling benci, hubungan kami tak sehangat sekarang.


"Matanya merem, ntar sisa potongan rambutnya masuk ke mata kamu lagi." Perintah wanita itu.


Aku tak berkata banyak, memilih menuruti perintahnya saja. Aku sudah benar-benar pasrah jika nanti hasilnya malah jauh di luar ekspektasi ku. Aku tak berharap banyak sebetulnya, hanya berharap semoga hasilnya tak begitu mengecewakan.

__ADS_1


Bisa ku rasakan sentuhan dingin dari logam tajam tersebut sesekali secara tak sengaja menyentuh dahi ku. Aku semakin gugup tak karuan. Helai demi helai rambut yang jatuh ke pangkuan ku membuat jantung ini semakin cepat temponya.


Sesekali aku menggigit bibir bawahku agar tak gugup. Namun sama saja, tak ada perubahan sama sekali. Kini gantian sisir yang membelai halus dahiku. Renata sesekali merapihkan susunan rambut yang telah ia potong, mensejajarkan nya dengan bagian lain. Memastikan agar panjangnya sama satu sama lain. Aku tak tahu akan seperti apa jadinya nanti.


__ADS_2