Pengagum Lara

Pengagum Lara
Episode 71


__ADS_3

“Maksudnya gimana?” tanyaku pada pria itu.


“Untuk hari ini kamu tukeran tempat duduk sama Alice ya, aku mohon cuma untuk sementara doang sampai Alice sembuh.” jelasnya sekali lagi.


“Hari ini Alice di sini dulu sama aku, nanti kamu duduk sama Lauren di bangkunya Alice.” lanjutnya.


“Oh, oke.” jawabku dengan singkat.


Meskipun sebenarnya aku agak merasa sedikit keberatan dengan hal ini, tapi untuk kali ini rasnya aku sedang malas untuk cari masalah baru. Sementara ini lebih baik aku mengalah dan menuruti permintaan Arka saja. Mungkin dengan melakukan hal ini, aku bisa sedikit meringankan beban pikiran pria itu. Tapi tetap saja aku merasa cemburu dan tak suka jika ia memperlakukan gadis itu dengan begitu perhatian.


Aku segera membereskan barang-baranku yang berserakan di sana, tak lupa turut membawa serta tas ranselku. Ini hanya untuk sementara, jadi ada baiknya jika aku tak perlu sekhawatir itu. Setelah semuanya selesai, aku segera beranjak untuk meniggalkan tempat itu. Tapi seseorang datang unutk menghentikan langkahku.


“Sha, lo mau kemana? Apa lo seriusanmau beneran pindah dari tempat ini?” tanya Stefani yang menarik salah satu tanganku.


“Iya lah, terus? Emangnya keliatan enggak serius gitu?” balasku.


“Eh, ka! Lo udah gila ya?! Ha!” bentak gadis itu.


“Lo bahkan sampai ngusir Ereesah dari tempat duduknya sendiri!” lanjutnya.


“Lo ngapain ikut-ikutan segala sih stef? Lagian ini Cuma untuk beberapa hari doang.” jelas Arka.


“Emangnya lo enggak punya otak apa ya? Eresha itu……”


Aku segera membungkam mulut gadis itu sebelum mengatakan satu rahasia lagi. Aku tahu persis apa yang ingin dia katakana. Sebaiknya tak perlu terlalu banyak orang yang tahu soal hubunganku dan Arka yang kembali lagi seperti dulu. Stefani lantas menoleh ke arahku dengan sorot mata kebingungan, aku hanya menggelengkan kepalaku sebagai sebuah isyarat baginya jika ia tak boleh melakukan hal itu lagi. Mau tak mau Stefani terpaksa meredam amarahnya sendiri, demi aku dan dirinya. Aku juga tak mau jika sampai gadis ini malah mempermalukan dirinya sendiri di hadapan seisi kelas.


“Dari pada kalian jadi berantem gini, mending aku aja deh yang pindah.” ucap Alice secara tiba-tiba.


“Enggak apa-apa, kamu di sini aja.” balasku dengan segera.


“Tapi aku enggak enak kalau kalian malah berantem gini gara-gara aku.” Ujarnya dengan wajah tertunduk.


“Yang tadi enggak usah di ambil pusing.” balasku dengan berusaha untuk terlihat tenang.


Sementara itu Stefani terlihat berdecak sebal, sepertinya ia tak terlalu suka dengan pendapatku barusan.


“Lo duduk di kursi gue aja sha, lo duduk sama Clara, Biar gue aja yang pindah ke sana.” ujar Stefani dengan raut wajah yang masih terlihat kesal.


“Tadi gue udah nurutin keinginan lo, jadi please sekarang ikuti kemauan gue juga.” Lanjutnya.


Padahal baru saja aku akan memberikan jawaban untuk tawarannya itu, tapi gadis ini malah memotong kalimatku bahkan saat aku belum sempat mengucapkan sepatah kata pun. Sepertinya gadi ini tahu jika aku akan mengatakan tidak untuk tawarannya tadi, makanya Stefani mengatakan hal itu sedikit lebih cepat.


“Oke.” balasku dengan singkat.


Sepertinya aku tahu kenapa ia begitu ngotot untuk memberikan tempat itu kepadanya. Ternyata aku baru menyadari satu hal yang membuatku mengerti dengan permainan gadis ini. Ternyata ia pandai juga dalam mengurus sebuah taktik, bahkan ia berpikir selangkakh lebih maju dari pada yang lainnya. Aku tak tahu harus menyebut rencananya yang barusan itu dengan sebutan apa, taktik atau malah lebih cocok di sebut dengan sebuah modus.


“I know if you have a reason for that.”  bisikku pelan di telinganya.


“What?!” ucapnya dengan sedikit terkejut.


“Your crush.” jelasku dengan singkat sambil menyenggol lengannya dengan pelan.


Sepertinya Stefani tahu persis dengan apa yang ku maksud barusan. Ia langsung mencuri pandang sebentar kea rah sosok yang barusan ku maksud. Aku tadi memang agak sedikit menyinddirnya dengan halus. Gadis itu kira, aku tak tahu soal rencananya yang satu ini. Tentu saja Stefani rela bertukar tempat duduk denganku. Ternyata karena tempat duduk Alice pada kenyataannya, berada di belakang yempat duduk Titan dan Adit. Aku tahu persis siapa yang ia incar di sana, sedikit permainan kecil yang di kemas dengan apik tak akan membuatnya malu. Gadis itu akan terkesan seolah tak sengaja harus rela pergi ke tempat itu karena aku. Aku tak habis pikir jika ternyata gadis ini bisa berpikir licik seperti ini juga.


***


Sepertinya keputusanku untuk duduk bersama dengan Clara di belakang sini, bukanlah suatu pilihan yang baik. Pemandangan menyedihkan itu malah semakin terpampang dengan jelas di depan mataku sekarang. Ternyata bukannlah aku satu-satunya orang yang di perllakukan dengan spesial oleh Arka. Selama ini aku salah, pria ini memang selalu baik dan begitu perhatian kepada semua orang yang ia kenal. Statusku sebagai pacarnya memang tak berarti apa-apa, karena itu memang hanya sekedar status saja. Harusnya aku tahu lebih awal soal ini, tapi penyesalan memang selalu datang di akhir cerita. Jadi sekarang tak ada gunanya jika terus protes dan menggerutu seperti ini. Karena semua itu tak akanbisa menyelesaikan masalah.


Bahkan saat jam istirahat telah tiba, dan biasanya kami berenam selalu bercengkrama bersama atau melakukan hal-hal lainnya secara bersama. Namun tidak untuk kali ini, Arka terlalu sibuk mengurusi Alice dan bahkan tak menghiraukan kami sedikitpun. Sepertinya bukan hanya aku yang merasa di abaikan oleh pria itu, namun yang lainnya juga terlihat merasakan hal yang sama. Aku tahu jika Arka ingin memperbaiki kesalahan yang barusaja ia perbuat, tapi bagiku bukankah ini terlalu berlebihan.

__ADS_1


“Kantin yuk!” ajak Adit dengan wajahnya yang di tekuk.


Baru kali ini aku melihat Adit dengan ekspresi seperti itu, biasanya anak ini nyaris tak pernah cemberut. Tapi unutk kali ini, ia memasang ekspresi itu dengan bibir yang turut maju beberapa centi ke depan. Ia lebih cocok jika di samakan dengan seorang anak kecil yang ngambek karena tak di belikan permen oleh orang tuanya.


“Lo enggak mau ikut sama kita buat makan di kantin ka?” tanya Titan yang mencoba selalu bersikap ramah.


“Nanti deh kalau gue sempat, gue bakal nyusul kalian ke sana.” balas Arka dengan acuh tak acuh.


“Kalau kamu enggak sempat gimana?” tanyaku yang mulai geram dengan kelakuan Arka hari ini.


Arka langsung terbungkan dan tak bisa berkata-kata sedikitpun. Ia terlihat bingung harus menjawab apa, pria ini sudah kehabisn kata-kata. Pria itu terlihat menurunkan pandangannya untuk bebrapa saat. Tanpa ambil pusing soal itu, kami semua segera beranjak dari tempat itu da meninggalkan Arka begitu saja. Jujur kami agak sedikit kecewa dengan sikap Arka kali ini.


Hari inii kantin tak begitu ramai, mungkin mereka memang sedang malas ke kantin. Entah kenapa tiba-tiba siang ini, cuaca menjadi agak mendung dan hawanya juga terasa lebih dingin. Bisa jadi ini adalh salah satu penyebab kenapa para siswa malas keluar untuk makan di kantin. Sebenarnya kam juga sedang malas dan tak ingin ke tempat ini sama sekali. Namun kami melakukakan ini, karena bagi kami ini jauh lebih baik dari pada melihat suasana monoton di kelas. Orang-orang ini butuh untuk mencari sedikit udara segar di luar kelas. Sudah terlalu muak rasanya jika kami berlama-lama berada di ruangan itu.


Kami berenam sengaja tak makan apapun untuk kali ini. Masih terlalu pagi untuk mengisi perut kami dengan makanan atau sekedar cemilan. Kami hanya mengambil beberapa minuman di dalam lemari pendingin, kemudian duduk di salah satu meja di sana. Sementara aku hanya mengambil sebotol kopi cappuccino dingin di dari sana, yang satu ini lumayan bagus untuk menjaga konsentrasiku saat di kelas nanti.


“Menurut kalian, Arka hari ini rada nyebelin nggak sih?” tanya Adit dengna polosnya.


Aku mengangguk setuju dengan perkataannya, begitu pula dengan yang lainnya.


“Menurut aku anak itu rada berlebihan.” balasku sambil meneguk kopi kemasan itu.


“Emang dasar Si Alice nya aja keganjenan, kepengen godain Arka. Dan yang lebih bodohnya lagi, Arka tuh mau aja dan nggak sadar sama sekali.” celetuk Stefani dengan pendapat yang tak kalah pedas.


“Sampai-sampai dia enggak peduli lagi sama kita, gara-gara Alice.” sambung Titan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Ku rasa pria itu harus meninggalkan Alice sendirian di kelas, dan duduk bergabung bersma kami. Ia perlu tahu jika hari ini dirinya telah melakukan lebih dari satu kesalahan saja. Arka perlu mendengar pendapat orang lain tentang dirinya sendiri. Kami semua tak habis pikir bagaimana bisa Arka menjadi begitu peduli dengan gadis itu, padahal sebelumnya tak pernah seperti ini. Lagipula kepalanya hanya terbentur ke lantai, dan itu bukanlah masalah yagn terlalu serius.


Kami memutuskan untuk menghabiskan waktu istiahat pertama ini di kantin. Kemungkinan besar, kami juga akan berada di tempat ini saat jam istirahat ke dua nanti dan jam makan siang sebelum masuk ke pelajaran tambahan. Sambil menunggu bel masuk berbunyi, banyak hal yang kami lakukan di sana. Selalu ada topic baru yang menjadi bahan pembicaraan kami, da Adit adalah orang yang paling banyak menyumbang topic tersebut. Waktu memang akan terus berjalan tanpa menghiraukan sekitarnya, ia juga tak akan menunggu sesuatu karena memang waktu tak bisa menunggu. Tapi tidak dengan kami yang selalu bisa menunggu kehadiran Arka yang katanya akan segera menyusul kami itu. Tapi sepertinya kesabaran kami telah habis dan waktu sudah tak mengizinkan itu lagi.


Bel masuk sudah menggema di seluruh penjuru sekolah, membuat kami tak bisa berlama-lama lagi untuk tetap berada di tempat ini. Kami harus segera masuk ke kelas untuk mengikuti pelajaran berikutnya. Setiap detik di kelas itu, mampu menghasilkan nilai yang tak sedikit jumlahnya untuk penilaian harian kami.


Saat kami baru saja mencapai lantai dua, aku melihat Arka berlari keluar kelas dengan tergesa-gesa seperti sedang mengejar sesuatu. Ternyata pria itu malah berhenti tepat di depan kami, sambil mengatur nafasnya yang sudah mmemburu.


“Aku telat ya?” tanya Arka dengan nafas yang tersengal-sengal.


“Menurut lo?” sindir Stefani dengan tajam.


“Pikir aja sendiri ka, kan lo pinter.” Sambung Adit yang tak kalah pedas berkomentar.


“Lain kali punya otak di pakai, buat ngitung lo udah terlambat atau belum.” ketus Titan.


Sementara aku dan Clara sama sekali tak berkomentar apapunsoal pria ini. Aku sedang tak mood untuk terlalu banyak bicara hari ini, dan kelihatannya Clara juga begitu. Di satu sisi aku juga tak ingin semakin melukai hati pria yang satu ini, setelah mendengar komentar pedas dari sahabatnya barusan.


“Maafin gue temen-temen, gue enggak bermaksud buat nyuekin kalian kayak gini.” ujar Arka dengan wajah penuh penyesalan.


“Semuanya udah terjadi, jadi nggak ada gunanya ka.” balas Clara yang mulai buka suara soal itu.


Tak ingin berlama-lama di sana, kami segera memutuskan untuk segera masuk ke dalam kelas dan membiarkan Arka berada di luar sendirian. Toh, nanti ia pasti ikut masuk juga ketika ada guru yang lewat. Namun lagi-lagi Arka berhasil menghentikan langkahku dengan cara menarik salah satu tanganku. Meskipun aku tetap berusaha untuk menepikan cengkraman tangannya, tetap saja tenaganya jauh lebih kuat.


“Arka, lepasin!” perintahku dengan segera.


“Enggak akan sebelum kamu maafin aku.” balasnya dengan wajah serius.


“Ngapain minta maaf sama aku? Kamu harusnya minta maaf sama mereka.” jelasku.


“Tapi kamu kan salah satu bagian dari mereka.” ujarnya yang tetap bersikeras.


Aku sama sekali tak menggubris jawabannya barusan. Aku terlalu sibuk untuk mencari cara agar aku bisa melepaskan diri dari pria ini. Sebentar lagi guru akan datang dan masuk ke kelas, jadi ku pikir ia tak akan mau berlam-lama di sini.

__ADS_1


“Arka, lepasin nggak! Sebentar lagi guru bakalan datang.” ancamku.


Namun pria ini terlalu keras kepala untuk diberikan peringatan semacam itu. Sia-sia rasanya semua usaha yang ku lakukan. Sekarang tenagaku sudah muali habis, sementara itu aku telah melihat salah satu guru yang akan masuk ke kelas kami telah berada di ujung koridor. Setelah mengumpulkan segenap tenaga dan sedikit menunggu pria ini lengah, akhirnya aku bisa melepaskan tanganku secara paksa dari cengkramannya.


Namun aku tak pernah mengira jika hal ini akan terjadi sebelumnya. Sepertinya aku salah perhitungan lagi untuk kali ini. Secara tak sengaja, pergelangan tanganku menggores ujung pengait dari jam tangan pria ini, saat hendak melepaskan tanganku dari sana. Hal itu membuatku terkejut bukan main, begitu pula dengan Arka.


Aku tak bisa berkata sepatah katapun lagi, setelah melihat goresan kasar tersebut yang perlahan berubah menjadi kemerahan. Kemudian dalam waktu beberapa detik, cairan berwarna merah pekat itu menyembul keluar dari baliknya. Dengan ngeri sekaligus takut, aku menatap darah yang terus mengalir dengan derasnya dari pergelangan tanganku. Akuu tak tahu harus berbuat apa sekarang ini, otakku sudah tak bisa untuk diajak berpikir lebih jauh lagi.


“Kenapa kalian belum masuk?!” suara lantang itu terdengar secara tiba-tiba.


Itu adalah guru mata pelajaran fisika yang memiliki jadwal mengajar di kelas kami setelah jam istirahat. Dan ini adalah sosok yang sama dengan yang ku lihat di ujung koridor tadi. Ternyata langkahnya cepat juga, ia bisa mencapai tempat ini dalam hitungan detik dan bahkan aku tak menyadari pergerakannya sama sekali. Thu-tahu dia sudah berada di samping kami saja.


“Kita mau ke UKS bu, tangannya Eresha berdarah karena kena ujung penggaris tadi bu.” jelas Arka dengan raut wajahnya yang terlihat panik.


“Ya ampun, kalau begitu cepat bawa dia ke UKS.” balas guru tersebut.


Tanpa pikir panjang lagi, pria itu segera membawaku ke UKS. Langkah kaki kami sangat cepat, nyaris seperti berlari. Aku harus segera mencapai tempat itu dan segera mendapatkan penanganan, sebelum darahnya semakin banyak keluar. Aku masih tak bisa berkata apa-apa selama perjalanan, hingga sampai di tempat tersebut.


Arka langsung menggebrak pintu ruangan tersebut, dan mendapati seseorang di sana. Ternyata orang itu adalah Alhin, ku kira dia sudah kembali ke kampusnya. Tapi ternyata ia masih bekerja di tempat ini. Wanita itu langsung memberikanku penanganan secara profesional.


“Sudah selesai, apa kalian mau kembali ke kelas sekarang?” tanya Alhin sambil membereskan peralatannya.


“Lebih cepat lebih baik.” jawabku dengan singkat.


“Kami permisi dulu, terimakasih telah membantu.” pamit Arka, kemudian menuntunku keluar.


Kali ini kami berjalan dengan langkah yang jauh lebih santai dari pada sebelumnya. Aku sama sekali tak mengatakan apapun kepada pria ini, setelah kejadian yang tadi itu. Hari ini Arka telah membuat dirinya sendiri terjebak lebih dari satu masalah.


“Maafin aku.” ujarnya dengan singkat.


“Hmm…” balasku dengan jawaban yang tak kalah singkat.


“Hmm itu artinya iya atau enggak?” tanya Arka.


“Menurut kamu?” tanyaku balik.


Aku bahkan tak menatap matanya sama sekali saat berbicara dengannya. Aku hanya berjalan sambil tetap menundukkan kepalaku. Aku tak tahu harus bagaimana caranya unutk mendeskripdikan persaanku sekarang ini.


“Sekali lagi aku minta maaf sha.” ucapnya.


“Hari ini kamu udah buat dua cewek terluka, tapi kamu malah lebih mentingin yang satunya.” ujarku dengan nada sedikit menyindirnya.


“Alice maksud kamu?” tanya pria itu sekali lagi.


“I don’t know.” balasku dengan singkat.


“Jadi kamu cemburu sama Alice?” tanya nya.


Aku bungkam dan tak ingin mengakui yang satu itu, meskipun aku merasakannya untuk kali ini.


“Seperti yang kamu tau, aku itu orangnya keras kepala dan enggak akan melepaskan sesuatu yang udah aku dapetin.” ujarnya.


“Siapapun itu kalau dia udah jatuh ke dalam genggaman aku, dia akan selamanya berada di genggaman aku. Akan sulit baginya untuk kembali lepas dan lolos begitu saja. Kalaupun dia berhasil melakukan hal itu, dia akan terluka karena terlalu nekat.” jelasnya dengan panjang lebar.


“Terus kenapa kamu bisa ngelepasin Clara dengan begitu mudah?” tanyaku.


Sepertinya pertanyaan yang barusan kku tujukan kepadanya itu, mampu membungkam mulutnya. Pria ini kelihatannya telah kehabisan kata-kata, karena ia telah termakan oleh ucapannya sendiri. Terkadang itulah sebabnya mengapa kita harus memikirkan sebuah perkataan atau tindakan, sebbelum kita memutuskan untuk melakukannya. Bisa jadi hal yang akan kita lakukan tersebut malah menjadi senjata makam umpa, sama seperti situasi yang di hadapi oleh Arka sekarang ini.


“Dia berbeda.” ucap Arka dengan singkat.

__ADS_1


“Clara memang terluka karena telah memaksa untuk keluar dari genggaman itu. Dan lukanya masih abadi hingga saat ini.” jelasku.


__ADS_2