Pengagum Lara

Pengagum Lara
Episode 97


__ADS_3

 


 


Aku menyandarkan diriku pada palang pembatas antara jalanan dengan sungai itu. Suara arus sungai ini benar-benar terasa menenangkan. Ku rasa tempat ini memang cocok melepas stress. Kali ini salju kembali turun dengan perlahan. Mereka terjun secara bersaamaan, tapi kali ini terlihat lebih menenangkan. Semua hal  terlihat jauh lebih tenang setelah badai besar itu datang. Sebenarnya juga tidak bisa disebut sebagai badai besar juga. Karena hal itu tak membahayakan banyak orang, tapi tetap saja terjadi kecelakaan.


Suasana di sini benar-benar berganti dengan begitu cepat. Ia lekas membaik, bahkan setelah kejadian yang tadi. Jalanan ini benar-benar tak menunjukkan sedikitpun kesedeihan atau rasa prihatinnya terhadap kejadian miris yang pernah dilihatnya hari ini. Sebenarnya ia mempunyai maksud yang baik. Jika ia menunjukkan perasaan sedihnya, setiap orang yang melewati daerah ini ataupun melintas di atas jalanan ini pasti turut berkabung. Ia hanya tak ingin hal itu terjadi, ia hanya ingin meminimalisir aura negatif. Ia ingin setiap orang yang melewati jalanan ini dalam perasaan bahagia selalu. Ia juga ingin tetap menjaga suasana seperti ini selalu.


Aku juga merasa sangat senang sekaligus lega ketika tahu jika situasinya sudah mulai membaik. Mungkin beberapa hal buruk terjadi untuk memberikan hal baik yang patutu untuk dipelajari. Kekacauan mungkin bisa dibereskan, namun jika bekas nodanya tak bisa hilang, maka mau diapakan lagi. Kita tak bisa memaksa noda tersebt untuk hilang begitu saja tanpa melakukan usaha. Walaupun pada awalnya terasa sangat sulit, percayalah jika suatu saat nanti noda itu akan perlahan pudar. Dan objeek itu akan kembali sempurna seperti dulu.


“Sekarang gue percaya sama kata-kata lo tadi siang.”  ujar pria itu, tanpa memalingkan pandangannya sedikitpun dari jembatan itu.


“Karen ague udah ngeliat sendiri kenyataannya.” lanjutnya.


“Gue selalu ngomong hal yang bener kok, emangnya kapan gue pernah ngucapin sesuatu yang enggak benar sama lo?” balasku.


“Gue enggak ingat sih.” ungkapnya.


“Tapi gue yakin kalo semia manusia pasti pernah bohong. Ya, walaupun dengan cara dan alasan yang berbeda. Ada yang berbohong untuk hal besar, ada pula yang malah sebaiknya. Ada yang berbohong demi kebaikan, atau malah untuk berbuat jahat.” jelasnya dengan panjang lebar.


“Lo ada benernya juga sih.” balasku sambil mengangguk-anggukkan kepalaku.


“Yang barusan itu termasuk pengakuan atau pujian?” tanya Arka secara tiba-tiba.


“Ya pikir aja sendiri.” balasku acuh tak acuh.


“Lo kan pinter dan selalu bertahan di kelas unggulan itu.” lanjutku dengan maksud untuk menyindirnya.

__ADS_1


Pria itu hanya tertawa kecil seperti meledekku. Kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya karena tak habis pikir dengan sikapku yang akhir-akhir ini sering berubah-ubah sesuai dengan suasana hatiku saat itu. Harus ku akui jika kami sudah banyak berubah sejak terakhir kali bertemu. Entah itu memang benar-benar berubah atau karena waktu yang malah membuat kami terasa asing antara satu dengan yang lainnya. Apapun itu alasannya, yang jelas hal itu sudah terjadi sekarang. Kami tak bisa mencegahnya, karena hal itu terjadi begitu saja tanpa memberikan peringatan terlebih dahulu. Sama sekali tak terasa apa-apa ketika kami mulai berubah menjadi sosok monster mengerikan bagi diri kami sendiri. Dan di saat kedua mahluk itu saling bertemu, kami baru tahu jika ternyata ada sesuatu yang salah.


“Ayo foto!” ucapnya, kemudian mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam saku.


“Mari buat beberapa kenangan yang mengesankan di tempat ini.” ujarnya kembali saat aku tak mengubris ucapannya yang barusan.


Sepertinya ia takut kalau aku merasa ragu dengan semua yang ia katakana tadi. Jadi ia berusaha untuk meyakinkan ku kembali setelahnya. Tak ingin membutanya lebih banyak bicara lagi, aku  segera menyetujui permintaannya. Mungkin suatu hari nanti ia akan memajang foto yang kami ambil hari ini di dalam kamarnya. Sama seperti saat aku memajang foto olimpiade itu di kamarku, hingga saat ini. Tak bnayak yang tahu soal filosofi dari foto itu. Mungkin orang-orang di masa depan yang mungkin melihat foto kami hari ini juga akan beranggapan sama.


Kami mengambil beberapa foto selfie dengan latar belakang pemandangan jembatan Han Gang yang dihiasi kerlap-kerlip lampu berwarna-warni. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, akhirnya kami kembali mengambil foto berdua lagi. Lagi-lagi dua anak manusia ini mengabadikan kisahnya malam itu pada sebuah tangkapan momen. Kemudian di simpan dalam perekan jejak waktu. Atau mungkin akan terbingkai dengan apik dan di letakkan pada tempat yang memang seharusnya ia berada.


Setelah merasa cukup dengan foto yang kami ambil, aku dan Arka melihat-lihat ulang semua hasil fotonya. Memastikan jika setiap jepretan yang kami ambil terlihat sempurna. Tak bisa dipungkiri jika kami berdua memang tipe orang yang perfeksionis. Bagiku sendiri selalu ada alasan untuk berusaha menjadi sempurna, meski pada dasarnya taka da satupun manusia yang sempurna. Itu sebabnya manusia diciptakan berbeda-beda, untuk saling melengkapi kekurangan satu sama lain.


Aku sendiri merasa puas dengan hasilnya. Tak ada satupun dari mereka yang terlihat mengecewakan. Harus ku akui jika Arka benar-benar terlihat berbakat malam ini. Ia benar-benar tahu bagaimana cara mengambil foto yang bagus. Ia paham betul dari sudut mana ia harus mulai mengambil setiap fotonya. Arka benar-benar membuat jembatan itu seolah-olah seperti objek utama dalam foto. Namun, ia juga tak melupakan kami sebagai bagian dari foto tersebut. Arka membuat porsi keduanya terlihat adil di dalam setiap gambar yang ia jepret.


“Bagus semua nih, menurut lo gimana? Bagus nggak?” tanya pria itu padaku.


“Kerja bagus!” lanjutku, kemudian menepuk pelan bahunya sebagai bentuk apresiasi atas usahanya.


Pria itu terlihat tersenyum tipis. Aku tahu persisi jika ia sangat ingin menyembunyikan perasaannya saat itu. Namun, kau tak akan bisa membohongi dirimu sendiri. Setiap hal yang kau rasakan di dalam sana, akan di ekspresikan di luar. Hanya saja ada orang yang bisa melakukan semua itu dengan baik dan ada pula yang justru malah sebaliknya. Sebagian orang kadang tak bisa mengekspresikan perasaannya dengan baik, atau bahkan tak bisa menunjukkan nya sama sekali.


Jangan salahkan mereka jika suatu hari nanti mereka berbuat begitu. Mereka tak salah, hanya saja belum terbiasa. Hidup di bawah tekanan atas dunia yang kejam ini membuat mereka terlalu tertutup pada dunia luar. Jadi, akan sangat sulit pastinya untuk mengekspresikan semuanya. Karena pada kehidupan sebelumnya mereka tak pernah melakkukan hal itu sama sekali. Kadang berada di dunia yang kejam ini, membuat kita buta hingga tak bisa melihat sisi lain dari semesta. Kita menganggap semua itu sama saja, padahal tidak sama sekali. Bahkan ada pepatah kuno mengatakan jika seribu hal baik bisa rusak karena satu hla buruk. Itu karena manusia lebih mudah mengingat satu salah daripada seribu kebaikan yang pernah datang sebelumnya.


“Karen ague udah menaptin janji gue untuk bisa ngebuktiin semua ucapan gue tadi siang, dan sekarang semua itu udah terbukti…..” ucapku sambil sengaja menggantung kalimatnya.


“Itu artinya gue udah boleh pulang dong.” lanjutku dengan semangat.


“Ya sebenernya bisa sih, tapi….” balasnya dengan melakukan hal yang sama dengan apa yang ku lakukan barusan.

__ADS_1


Dan ia juga harus tau kalau hal itu membuatku sangat kesal.Aku punya dua alasan untuk hal itu. Pertama, aku kesal karena ia menggantung kalimatnya, persis seperti apa yang ku lakukan tadi. Yang kedua, aku benci kata “Tapi” yang ia selipkan di akhir kalimatnya barusan. Kata “Tapi” berarti sebuah pengecualian. Dan itu sama sekali bukan kabar baik yang aku harapkan dari percakapan ini.


Jika ia mencoba untuk berbuat seenaknya padaku, maka aku tk akan membiarkan hal itu terjadi lagi. Aku tak akan tinggal bersamanya lebih lama lagi. Bahkan untuk melihat wajahnya saja rasanya sudah muak. Bagaimana tidak, aku sudah bersamanya satu harian ini. Aku sudah bosan dengan semua hal yang kami lakukan bersama, dengan waktu yang ku habiskan bersamanya secara sia-sia. Dan kini waktu ku yang terbuang itu tak akan kembali lagi. Hari yang ku harapkan berjalan normal ini tak akan terulang kembali untuk yang kedua kalinya. Semesta juga tak akan pernah memberikan kesempatan lagi bagiku.


“Tapia pa lagi?!” tanyaku dengan nada kesal.


“Tapi, apa lo enggak mau di sini untuk sebentar aja?” tanya pria itu dengan hati-hati.


“Enggak!” jawabku dengan yakin.


“Kita udah nunggu sampai waktu ini tiba selama itu. Dan di saat waktu ini udah datang, lo malah acuh gini.” jelasnya dengan panjang lebar.


“Tapi gue udah capek ka!” balasku.


“Gue udah terlalu capek buat nunggu waktu itu, dan bahkan sebelum penantian gue berakhir, gue lebih milih buat nyerah!” tegasku sekali lagi.


“Dan jangan pernah paksa gue untuk apapun.” ujarku.


“Oke, kalau memang itu yang lo mau.” serahnya begitu saja.


“Tapi mungki suatu hari nanti lo bakalan nyesal sama semua ini.” jelasnya.


“Terserah, apa kata lo. Intinya sekarang gue cuma mau pulang. Gue udah capek badan dan mental untuk hari ini. Dan gue udah bener-bener capek.” jelasku dengan panjang lebar, kemudian bernjak pergi meninggalkan pria itu sendirian di sana.


Aku bahkan sudah tak peduli lagi dengan apa yang akan ia lakukan atau apa yang akan terjadi padanya nanti. Aku bahkan tak memiliki waktu untuk memikirkan tentang kondisi diriku saat ini yang terlihat begitu memprihatinkan. Lalu bagaimana mungkin aku sempat untuk memikirkan orang lain?!


 

__ADS_1


 


__ADS_2