Pengagum Lara

Pengagum Lara
Episode 99


__ADS_3

*Arka POV*


Sebenarnya asrama Ereshs juga lumayan jauh dari sini. Lagipula sudah tidak ada lagi bis yang menuju ke sana. Ini sudah larut malam. Bahkan untuk mencari taxi saja pun sulit rasanya. Sebaiknya aku segera membawanya masuk. Udara di luar sini terlalu dingin. Terlebih lagi pada jam-jam segini banyak orang mabuk yang berkeliaran. Aku takut jika sampai terjadi sesuatu padanya.


Aku memutuskan untuk membawanya ke dalam apartemen ku. Sebenarnya untuk di Korea sendiri, ini tak pantas di sebut dengan apartemen. Orang-orang lebih sering menyebutnya dengan one room. Tapi untuk harga sewanya sendiri, sudah sebanding dengan harga sewa apartemen di Indonesia.


Aku menggendongnya masuk ke dalam sana. Untuk malam ini ia akan aman jika berada di sini. Lagipula ia tak bisa memikirkan mau kemana di saat seperti ini. Keadaan benar-benar membingungkan dan serba salah. Jadi semoga saja yang satu ini tak salah. Setelah sampai di dalam apartemen, aku menghidupkan lampu dan menutup semua jendela. Aku meninggalkan tempat ini sejak tadi pagi, jadi wajar saja jika keadaannya sedikit berantakan. Aku tak punya waktu untuk membereskannya.


Aku membaringkan gadis itu di atas tempat tidurku. Aku melakukan semuanya dengan sangat tenang, agar ia tak terbangun. Setelah merasa aman, aku menyelimutinya lalu pergi dari sana. Aku bergegas ke toilet untuk membersihkan diri setelah banyak beraktivitas seharian ini. Aku juga sangat kelelahan dan ingin cepat-cepat pergi tidur. Rasanya sisa tenaga yang ku miliki saat ini tak banyak lagi. Jadi aku melakukan semuanya dengan cepat. Aku mempersiapkan segala sesuatu yang ku butuhkan untuk tidur. Kali ini aku tidur di sofa demi gadis itu. Aku tidak mau membuatnya mengira diriku telah melakukan sesuatu padanya.


Malam ini mungkin akan menjadi detik terakhir sebelum aku memejamkan mataku pada akhirnya. Mungkin inilah pemandangan terakhir yang bisa ku lihat hari ini. Hari ini sepertinya benar-benar hari terakhir bagiku untuk bisa melihat dirinya. Lusa aku akan kembali ke Australia, karena aku sudah membeli tiketnya jauh-jauh hari. Aku tak bisa membatalkannya begitu saja. Kecuali jika aku punya cukup banyak uang untuk membelinya lagi.


Tadinya aku bermaksud ingin membuat kenangan indah bersama Eresha. Tapi sepertinya aku sendiri yang telah mengacaukan semua itu. Aku yakin jika gadis itu tak akan sudi untuk mengingat hari ini. Ia akan berusaha sekeras mungkin untuk menghapus semua memori tentang dari ini dari pikirannya. Orang-orang bilang Tuhan selalu tahu apa yang terbaik. Dan mungkin saja ini yang terbaik.


Aku menarik napasku dalam-dalam, berusaha untuk menenangkan diriku. Aku mulai memejamkan mataku dan perlahan tertidur pulas. Sepertinya hari ini aku terasa jauh lebih mudah untuk terlelap, karena kondisi tubuhku sedang tidak memungkinkan. Aku sedang mengisi ulang energi ku yang nyaris tak tersisa ini. Harus ada cukup energi untuk besok. Aku pasti akan menggunakannya dengan maksimal. Selalu ada saja masalah setiap harinya yang memaksaku untuk menguras habis tenagaku secara sia-sia.


Sejauh ini aku belum bisa memberikan satu hal baik yang bisa diingatnya sepanjang waktu. Aku merasa bersalah atas hal itu. Bahkan untuk membuatnya tertawa saja aku tak mampu. Sepertinya aku memang selalu payah dalam hal itu sejak dulu.

__ADS_1


*Eresha POV*


Aku tak tahu apa yang terjadi denganku kali ini. Terakhir kali aku berada di dalam bis yang sedang berjalan itu bersama Arka. Aku memejamkan mataku untuk beberapa saat, dan ketika aku membuka mataku kembali semuanya telah berubah. Aku bahkan tak tahu siapa yang membawaku kembali ke sini dan kapan semua itu terjadi. Untuk kesekian kalinya di dalam hidupku ini, aku kembali dibawa ke tempat itu. Tempat yang dulu selalu ingin ku datangi, namun sekarang tidak sama sekali.


Sesuatu yang tak ku ketahui itu mencoba menjalankan aksinya kembali kali ini. Ia berusaha membawaku ke Piri dan kali ini ia berhasil. Padahal tadi pagi aku sudah memberikan kalung itu kepada gadis itu. Aku tak tahu dari celah mana lagi kali ini ia masuk dan mencoba mengendalikan diriku. Tapi aku tak akan kalah dengan mudah kali ini. Aku tak akan gentar meski bahaya tengah mengarahkan pelurunya tepat di hadapanku.


Aku mencoba untuk menyakiti diriku sendiri, sama seperti yang orang-orang lakukan ketika ragu akan suatu kejadian. Ketika mereka mengira ini semua mimpi, padahal benar terjadi. Aku tahu jika ini tak nyata. Tempat ini tak benar-benar nyata. Ia tercipta begitu saja di alam bawah sadarku. Hal ini perlahan menjelma menjadi sesuatu yang menakutkan.


Ketenangannya telah dirusak entah oleh siapa. Aku tak tahu pasti, tapi ini terlihat benar terjadi. Tempat ini telah berubah. Auranya tak lagi sama, meskipun terlihat tak ada yang berbeda dengan penampakannya. Sekarang mereka benar-benar sudah menjebak jiwaku di sini. Aku tak bisa kemana-mana sekarang. Aku tak tahu bagaimana jalan keluarnya. Aku hanya bisa mengharapkan bantuan dari seseorang. Tapi di sini tak ada siapapun.


Aku berharap aku bisa berteriak dan kemudian seseorang mendengarnya. Bukan seseorang dari tempat yang sama. Tapi orang lain yang berada di dunia ini. Orang yang benar-benar berada di kehidupan nyata. Aku harap ia bisa menyelamatkan nyawaku dengan cara apapun. Ku harap seseorang tahu jika jiwaku sedang terperangkap di sini. Tapi rasanya aku tak bisa melakukan semua itu. Lidahku terasa kelu. Aku hanya bisa terus berharap di tempat ini, sambil bertanya-tanya kapan aku akan keluar. Rasanya bahaya seperti selalu mengintai ku dari segala sudut. Setiap detiknya nyawaku akan terus dipertaruhkan di tempat ini.


"Tapi aku tak akan kalah lagi kali ini." ucapku sembari meyakinkan diriku.


Kemudian aku teringat pada satu hal. Aku ingat persis bagaimana detik-detik terakhir saat aku mulai berjalan untuk meninggalkan tempat ini secara tak sengaja. Aku berpikir untuk melakukan hal yang sama kali ini. Mungkin saja berhasil dan aku bisa keluar. Aku bisa membebaskan jiwaku. Aku bisa kembali ke raga ku.


Tanpa pikir panjang lagi, aku segera berlari menuju sungai kecil itu. Aku mengerahkan seluruh kekuatan yang ku miliki.  Aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Aku tak ingin terlihat lemah di hadapan mereka yang berpura-pura kuat. Tanpa ragu-ragu lagi, aku segera menceburkan diriku ke dalam sana. Sedetik setelahnya, aku merasakan jika ada sebuah tangan yang berusaha meraihku. Ia berhasil untuk mencapai titik itu, tapi sayangnya cengkramannya kali ini tak cukup kuat untuk mencegahku pergi dari sana.

__ADS_1


Sejauh ini apa yang ku harapkan ternyata berhasil. Aku tak tahu bagaimana cara aliran sungai ini bekerja dan bisa membawaku ke tempat semula. Bahkan aku tak tahu pada awalnya ia akan mengalir dam bermuara dimana. Tapi sepertinya kini aku telah tahu dimana jalan keluar dari Piri. Untung saja tadi tangan itu tak bisa menggapaiku. Jika sampai itu terjadi, maka aku mungkin tak akan bisa lolos darinya. Aku terbangun dengan keringat yang membasahi wajahku dan napas yang terasa memburu. Sedikit terasa aneh, ini masih musim dingin. Lntas bagaimana bisa aku mengeluarkan keringat sebanyak ini. Sungguh tak masuk akal sama sekali. Aku mendapati diriku tengah berada di atas tempat tidur saat terbangun. Itu artinya aku telah kembali ke asrama. Untunglah...


"Siapa yang membawakuk ke sini?" gumamku pelan.


Setelah memperhatikan sekelilingku dengan seksama, aku baru menyadari jika ini bukanlah kamar asramaku. Aku salah, ternyata aku tak sedang berada di kamar asrama. Lantas dimana aku dan siapa yang membwakau ke sini. Apa seseorang sedang menculikku? Tapi kalau memang benar, kenapa ia berlaku sangat baik kepadaku. Aku jadi mulai memikirkan hal itu berkali-kali.


Aku bangkit dari posisiku, kemudian mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan ini. Aku kembali mengamati kondisi di sekitarku, sembari mengumpulkan nyawaku. Setelah merasa memiliki cukup energi kembali, aku mulai beranjak dari sana. Aku melangkahkan kakiku dan berjalan ke sembarang arah. Aku berjalan dan menghampiri apa saja yang ku mau saat itu. Aku berkeliling tempat ini untuk mencari tahu sedang dimana kah aku saat ini dan apa yang membawaku hingga sampai ke sini.


Aku lantas segera menghentikan langkahku ketika sampai di depan tv. Aku meihat ada seseorang yang tengah tertidur di sana. Ternyata aku tak sendirian di sini. Penculik itu tak membiarkanku sendirian di sini, mungkin ia khawatir jika aku akan melarikan diri. Tapi kenapa aku bisa sampai di culik, siapa yang bernai melakukan ini padaku. Kemana Arka pada saat itu? Apa ia sedang tak bersamaku? Mungkin dia masih marah denganku. Padahal seharusnya aku lah yang marah kepadanya.


Aku memberanikan diriku sendiri untuk mendekati orang tersebut. Aku perlu tahu siapa yang telah menculikku. Ia juga harus tahu jika perbuatannya ini sungguh tak berperikemanusiaan. Sebenarnya apa yang ia inginkan dariku? Jika ia meminta tebusan dariku, maka aku akan terus terang jika aku hanyalah anak rantau yang sedang kuliah di sini. Aku tak punya apa-apa. Aku tak punya hal lain yang jauh lebih berharha dari nyawaku sendiri. Dengan begitu hati-hati, aku mencoba menyingkirkan selimut yang menutupi hampir seluruh bagian dari wajahnya itu. Sontak aku terkejut bukan main saat mengetahui jika orang itu adalah Arka.


Jika ia membawaku ke sini, maka itu artinya ini adalah tempat yang ia tinggali selama ini. Kelihatannya ia tak punya pilihan lain, itu sebabnya ia membwaku ke sini. Aku benar-benar sudah banyak merepotkannya hari ini dan aku masih saja tetpa menyalahkannya sejauh ini. Apakah aku tak bisa berhenti untuk menyalahkan orang lain atas kesalahanku sendiri? Aku benar-benar tak bisa mengerti dengan semua hal yang terjadi di sini.


Aku memutuskan untuk berkeliling-keliling di sekitar tempat ini sebentar. Aku penasaran dengan tempat tinggalnya yang selama ini hanya di huni oleh dirinya sendiri. Lagipula ku pikir tak masalah jika aku melihat-lihat tempat ini untuk sebentar saja. Lagipula ia juga masih tidur dan aku juga tak akan merusak atau mengambil sesuatu yang berharga dari tempat ini. Aku hanya sebatas penasaran saja dengan tempat ini. Aku tak punya maksud lain untuk berkeliling tempat tinggalnya pada dini hari seperti ini.


Setelah ku pikir-pikir, tempat ini tak terlalu buruk untuknya. Ia juga kelihatannya telah merawat tempat ini dengan sangat baik. Ia bisa merawat dirinya dan semua hal di sekitarnya dengan sangat baik. Jadi ibunya pasti tak perlu khawatir dengan Arka. Ia selalu bisa diandalkan. Aku percaya jika ia tetap bisa hidup, dimana pun ia berada nantinya.

__ADS_1


Setelah merasa cukup, aku kembali ke tempat tidur yang ku duga kuat jika ini adalah milik Arka. Baunya sama persis dengan aroma pria itu. Aku tak bisa tidur sekarang ini, meski aku ingin. Aku takut jika aku kembali tidur dan terjebak di Piri lagi. Aku tak mau hal buruk itu terulang lagi. Bagaimana jika kali ini aku tak bisa keluar dari sana. Aku tak bisa beristirahat jika seperti ini. Aku tak bisa terus-terusan hidup dalam ketakutan.


__ADS_2