
“Masih marah?” tanya pria itu padaku.
“Enggak.” balasku singkat.
“Terus kenapa kamu jadi jutek gini?” tanya nya lagi.
“Yang jutek duluan siapa?” tanyaku balik.
“Marahan, baikan, marahan, baikan. Itu-itu mulu siklusnya, bosan!” lanjutku.
“Namanya juga siklus, pasti selalu berputar di hal yang sama.” jelas pria itu.
Ucapannya barusan memang taka da salahnya sama sekali. Siklus memang begitu cara kerjanya dan tak bisa diubah sedikitpun. Tapi aku benci dengan siklus yang satu ini, sangat memuakkan.
“Ya udah, aku ke apotik sebentar ya. Tadi aku sempat lewatin tempat itu pas mau ke sini.” ujarnya sambil menuntunku untuk bersandar di sisi dinding.
“Kamu diam di sini dan jangan kemana-mana, aku enggak akan lama.” Lanjutnya.
Sedetik kemudian ia beranjak meninggalkan tempat ini, lalu menutup pintu masuknya. Entah dia akan mengurungku di sini atau tidak, aku tak tahu soal itu. Tapi mustahil jika Arka mengunci diriku sendirian di ruangan ini, karena memang ruangan ini tak memiliki kunci sama sekali. Aku juga tidak akan kemana-mana selama ia pergi. Bukan karena aku menuruti perintahnya, tapi karena tanganku masih terlalu sakit untuk digerakkan.
Tak lama setelah itu, Arka kembali dengan membawa sekantung obat merah dan perban di dalamnya. Ternyata pria itu memang benar-benar pergi ke apotik, ku kira dia akan meninggalkanku dan membuatku berharap agar dia datang untuk membantuku.
“Sini tangannya!” perintah Arka padaku.
Sebelum aku sempat mengizinkannya, pria itu sudah lebih dulu menarik tanganku secara paksa. Ia terlihat begitu telaten dalam melakukan hal ini. Arka sepertinya juga tahu persis bagaimana cara mengganti perban yang benar.
“Sebenarnya akau udah ngawasin kamu dari tadi.” ungkapnya secara gamblang.
“Aku nungguin dan ngeliatin kamu dari pintu. Benar yang aku bilang, kalau kamu itu memang berbakat.” ujarnya.
“Tau aku lagi di sini dari mana?” tanyaku dengan nada bicara ketus.
“Dari mama kamu.” jawabnya dengan apa adanya.
“Tadi aku ke rumah kamu buat ngajakin jalan, ternyata mama kamu bilang kalau kamu lagi pergi ke studio dance yang ada di mall.” jelasnya sambil tetap mengganti perbanku.
“Maafin aku soal yang tadi. Aku enggak bermaksudbuat nyuekin kamu apalagi temen-temen.” ujarnya.
“Tapi kenyataannya memang begitu kan?” sindirku dengan tajam.
“Alice itu masih saudara aku, dia adiknya Arsen. Semenjak Arsen pergi lanjutin studi ke Australia, Alice jadi sendirian dan Arsen minta aku buat jagain Alice.” jelasnya dengan panjang lebar.
“Terus kenapa Adit sama Titan bisa enggak tahu kalau Alice itu adiknya Arsen? Mereka kan dekat dann saling kenal.” tanyaku dengan segala rasa penasaran yang masih tersimpan.
“Mereka nggak pernah ketemu dan tau soal itu sebelumnya.” jawab pria itu.
“Jadi kamu enggak perlu cemburu lagi sama Alice.” lanjutnya.
Sebenarnya aku tak tahu harus bereaksi bagaimana soal yang satu ini. Perasaanku selalu sulit unutk diungkapkan. Itu sebabnya aku lebih suka menuangkan perasaanku dalam bentuk tulisan.
“Ini foto kita bertiga waktu masih SMP.” ujar pria itu sambil menunjukkan layar ponselnya padaku.
Rasanya aku bisa mengenali wajah mereka satu- persatu. Penampilan mereka yang dulu ternyata tak jauh berbeda dengan yang sekarang. Apalagi Arka, ia nyaris tak berubah sedikitpun, sejak waktu foto itu di abadikan.
“Terus temen-temen udah tau soal ini?” tanyaku.
“Aku bakalan jelasin ini sama mereka nanti.” jawabnya dengan tenang.
“Yang penting untuk sekarang ini kamu udah tau soal itu.” ucapnya sekali lagi.
“Jam sewanya udah mau habis, lebih baik kita keluar dari tempat ini sekarang.” Ucapku sembari mengalihkan pembicaraan.
“Oke.” balasnya singkat.
Setelah Arka selesai membereskan obat-obatan itu, kami sgera pergi meninggalkan tempat ini. Lagi-lagi Arka menggenggam salah satu tanganku, meskipun aku taak membutuhkannya sama sekali.
“Habis ini mau langsung pulang?” tanya Arka di tengah perjalanan.
“Enggak, mau mampir ke toko buku dulu.” jawabku apa adanya.
“Oh, oke. Aku temenin.” balasnya dengan antusias.
Aku tak tahu spesies apa sebenarnya ia. Seorang manusia unik yang sangat jarang kujumpai, dan baru untuk pertama kalinya kau bertemu dengan orang yang seperti ini. Perubahan emosi pria ini sangat cepat dan mencolok. Terkadang ia bisa begitu manis terhadap seseorang, kadang juga bisa menjadi sosok pemarah yang menyebalkan. Arka juga sangat keras kepala dan sedikit pemaksa jika ia sedang mengiginkan sesuatu. Aku tak tahu apakah pria ini mengidap penyakit yang membuatnya memiliki kepribadian ganda atau semacamnya.
“Mau cari buku apa?” tanya pria itu yang tengah berjalan di sebelahku.
“Cari novel yang ceritanya bagus.” jawabku sambil tetap mengedarkan pandanganku ke seluruh rak buku tersebut.
“Misalnya?” tanya nya sekali lagi.
“Ya apa aja, asal ceritanya asik.” Balasku.
Kami kembali melanjutkan perjalanan unutk menyusuri setiap lorong yang semuanya di batasi oleh rak buku. Terlalu banyak pilihan di sini, dan hal itulah yang membuatku kebingungan untuk mendapatkan piihan yang tepat. Jika saja aku punya uang yang cukup, mungkin aku akan memborong seluruh isi toko ini, agar tak perlu pusing-pusing untuk memilih salah satu dari mereka. Tempat ini terlalu sempurna untuk seorang pecinta novel sepertiku. Selayaknya sebuah surge bagi para pecinta buku-buku fiksi maupun non fiksi.
Beberapa waktu yang lalu aku pernah ke tempat yang sama, namun dengan orang yang berbeda. Hari itu aku menemani Kak Sendy untuk membeli sebuah novel yang sangat di inginkan oleh Renata. Meskipun kejadian itu sudah lam berlalu, tapi rasanya masih tetap saja sakit jika mengingatnya. Ternyata rassa benci itu tak pernah bisa benar-benar hilang dan pergi untuk selamanya. Semua hal yang pernah datang dan menghampiri kita, pasti selalu meninggalkan sesuatu untuk di ingat. Entah itu bahagia atau tragis, kita tak bisa menebaknya. Terkadang pertemuan dihadirkan, hanya unutk diberikan sebuah perpisahan..
“Gimana kalau Novel Mariposa?” tanya Arka secara tiba-tiba.
“Kayaknya enggak deh, bukan itu yang aku cari.” tolakku secara mentah-mentah.
Sial! Kenapa pria ini bisa menyebutkan judul novel yang sama dengan yang dipilih Kak Sendy waktu itu. Apa jangan-jangan mereka memang benar saudara kembar yang jiwanya saling terpisah satu sama lain. Ah! Sepertinya aku terlalu berekspektasi lebih soal mereka. Lagipula mana mungkin hal gila semacam itu terjadi di dunia nyata seperti ini.
“Kayaknya aku baca buku ini aja deh.” ujarku sambil mengambil salah satu buku dari dalam rak.
“Buku ini bercerita tentang seorang cewek yang di tinggal pergi cowoknya ke Berlin.” ujarku sambil melihat cover buku ini.
Aku sudah pernah membaca tentang resensi buku ini sebelumnya. Jadi sedikit banyaknya aku tahu jalan ceritanya seperti apa. Meskipun selama ini aku belum pernah membaca novelnya secara langsung.
“Tapi sayangnya mereka enggak bisa bertahan dengan jarak, menanti sesuatu yang kadang belum tentu pasti akan datang. Mereka dipaksa menyerah oleh sang waktu, meskipun keduanya masih ingin melanjutkan semuanya. Tapi waktu terlalu kejam, karena menamatkan kisah mereka tanpa sebab.” jelasku dengan panjang lebar.
“Mungkin kjta nanti juga akan seperti itu.” lanjutku.
“Jarak bukan alasan bagi kita untuk menyelesaikan cerita ini.” ujarnya.
“Tapi jarak adalah salah satu dari sekian banyak hal yang membuat dua insan harus saling merelakan.” jelasku.
“Ke belahan bumi manapun nanti kita dicampakkan, percayalah jika kita sedang menatap lanit yang sama.” Balas Arka dengan pemilihan kata yang begitu indah.
__ADS_1
Sekali lagi, kata-katanya mampu membuatku merasa lebih baik. Semua ucapan yang terlontar dari mulutnya, seolah seperti obat anti depresan yang disuntikkan kepadaku untuk membuat diriku merasa lebih tenang. Sekarang Arka sudah kembali ke dirinya sendiri, setelha kejadian tadi siang. Kembali menjadi kurcaci yang selama ini selalu memanggilku peri.
Setelah selesai membeli buku yang ku inginkan, Arka membawaku pergi ke suatu tempat. Ia bilang rahasia, pria ini memang selalu begitu. Ia memberikanku sebuah clue yang bisa dijadikan acuan unutk menerka. Katanya tempat yang satu ini belum pernah kami datangi bersama. Tapi kurasa aku tak bisa menebaknya dengan semudah itu. Terlalau banyak tempat di kota ini yang belum pernah kami datangi bersama-sama. Mungkin jika Arka memberikan clue yang sebaliknya, maka aku pasti akan menebaknya dengan mudah.
Tapi dari tadi yang kami lakukan hanyalah membawaku keliling tempat ini. Kelihatannya kami akan pergi ke tempat yang berbeda, namun masih berada di lokasi yang sama. Sepertinya tempat yang di maksud olehnya adalah sesuatu yang berada di dalam mall.
“Mau noton film romantis atau horror?” tanya pria itu secara tiba-tiba.
Aku lantas mendongakkan kepalaku, yang dari tadi hanya tertunduk memperhatikan jalan. Sepertinya kami telah sampai di tempat yang dimaksud oleh pria ini. Apakah ia akan mengajakku untuk menonton sebuah film di bioskop. Kami memang belum pernah datang ke sini sebelumnya.
“Hmmm…..” gumamku sambil berpikir sejenak.
“Komedi.” jawabku setelahnya.
“ Kenapa komedi?” tanya pria itu kebingungan.
Tentu saja ia kebingungan, karena aku tidak memilih satupun dari kedua pilihan yang ia berikan kepadaku.
“Karena kalau romantis udah terlalu bosen, dan kalau horror ntar kamu malah nyari kesempatan lagi. Ya walaupun aku enggak akan takut sama sekali sih.” jelasku.
“Dih! Siapa yang nyari kesempatan, dan buat apa juga di cari. Karena kesempatan itu selalu ada dan terbuka lebar.” Balas pria tersebut yang tengah berdiri di hadapanku.
“Jadinya film komedi nih?” tanya nya sekali lagi.
“Iya.” jawabku singkat, sambil mengangguk-anggukkan kepalaku.
“Karena kamu butuh sesuatu yang bisa menghibur diri kamu sendiri, supaya Arka menjadi seseorang yang lebih ekspresif dan nggak terlalu kaku.” jelasku.
“Kamu benar. Terkadang menghibur diri sendiri, tak semudah menghibur orang lain..” ucapnya padaku.
Sepertinya Arka tak keberatan dengan keputusanku barusan. Sementra menunggu Arka memesan tiket, aku membenarkan ikatan tali sepatuku yang muali mengendur. Kelihatannya karena aku terlalu banyak bergerak tadinya.¬
***
Ini adalah pertama kalinya Arka mengajakku nonton. Dan mungkin setelah pulang nanti, aku akan dimarahi oleh mama karena pulang terlalu larut malam. Ini sudah lewat dari janjiku tadi kepada mama. Tapi aku tak mungkin juga jika menolak ajakan Arka. Aku tahu jika ia telah berharap banyak soal ini, jadi tak mungkin menolaknya begitu saja. Aku tak ingin membuat hatinya terluka untuk yang kesekian kalinya.
“Aku antar pulang ya.” ucapnya padaku.
Aku menganggukkan kepalakau, mengiyakan perkataannya barusan. Lagipula mana mungi aku menolak tawarannya untuk pulang bersama. Di luar sana pasti transportasi umum sudah mulai berhenti beroperasi. Jadi mau tak mau aku harus pulang bersama Arka malam ini.
“Kita mampir ke tukang bakso sebentar ya.” ujarnya di tengah perjalanan pulang.
“Tapi ini udah malem ka, nanti aku dimarahin mama.” cegahku dengan segera.
“Bentar doang.” dalihnya kemudian segera menepikan motor miliknya di bahu jalan.
Sepertinya aku mengenali tempat ini. Kalau tidak salah, ini adalah daerah kalibata yang waktu itu. Ya, ini pasti benar karena aku tak mungkin salah lagi kali ini. Aku biisa mengingatnya dengan jelas, jika ini adalah tempat dimana Arka pernha mengajakku untuk makan di sini. Hari itu dia nyaris sekali meninggalkanku sendirian.
Aku menunggu pria itu yang sedang memesan bakso. Udara malam ini ternyata jauh lebih dingnin dari yang ku bayangkan sebelumnya. Jika tahu jadinya akan naik motor seperti ini, aku pasti akan membawa hoodie milikku. Sekarang tak ada sesuatu yang bisa menghangatkan tubuhku sedikitpun.
“Yuk!” ucapnya seraya menghampiriku.
Aku kembali mengangguk untuk membalas ucapannya barusan.
Kami kembali melanjutkan perjalanan pulang yang sempat tertunda karena harus singgah ke tempat tadi. Ini sudah sangat terlambat dari yang ku perkirakan sebelumnya. Aku tak tahu akan bagaimana nasibku setelah sampai di rumah nanti. Mungkin mama tak akan mengizinkanku untuk keluar dari rumah selama beberapa hari ke depan. Itu adalah salah satu hukuman yang paling sering ku dapat ketika pulang terlambat.
Ku harap mama dan papa akan segeran kembali ke kota itu. Aku lebih nyaman di sini bersama nenek dan yang lainnya, meskipun di satu sisi aku merindukan kota yang menjadi tempat kelahiranku itu. Aku sempat mendengar jika mama akan tinggal lebih lama di sini, jauh dari apa yang mereka rencanakan sebelumnya. Tapi ku harap mereka tak terlalu lama berada di sini.
“Sama pacar sendiri kok pakek terimakasih segala sih.” balasnya sambil tertawa kecil.
“Oh, iya ini buat kamu.” ujarnya kemudian menyodorkan sebungkus bakso yang ia beli tadi.
“Buat aku nih?” tanyaku untuk memastikan.
“Iya.” jawabnya dengan singkat.
“Bukannya ini buat mama kamu?” tanyaku sekali lagi.
“Buat mama sama aku udah ada kok, yang ini. Sengaja aku pisahin karena mama suka pedas.” Jelasnya.
Aku mengangguk paham dengan perkataannya. Bagaimana bisa aku tak melihat beberapa kantong plastic kresek yang tergantung di stang motornya itu. Ini pasti lagi-lagi karena keteledoranku, harusnya aku memakai lensa kontak ataupun kacamata. Sudah tahu seperti ini malah membiarkan mataku tanpa alat bantu.
“Dasar aku!” batinku dalam hati.
“Oh, kalau begitu thanks ya sekali lagi buat baksonya.” ucapku kepadanya.
“You are welcome baby.” balasnya dengan nada bicara sok kebarat-baratan.
“Jangan lupa dimakan dan yang paling penting jangan bagi ini sama Stefani.” lanjutnya sembari memperingatkanku.
“Ya uddah aku masuk dulu.” pamitku.
Setelah Arka meninggalkan tempat itu untuk kembali, aku bergegas masuk lewat pintu belakang sebelum ada seseorang yang menyadari. Beruntungnya aku berhasil lolos dari mereka semua dan kelihatannya memang sudah pada tidur.
“Sha, dari mana aja lo?”
Tiba-tiba pertanyaan itu langsung menyambutku sesaat setelah sampai di kamar. Gadis menyebalkan itu nyaris saja membuat jantungku serasa ingin copot. Tapi bukannya seharusnya ia telah tidur pada jam segini. Tapi kenapa malah sebaliknya. Atu jangan-jangan Stefani sedang euphoria karena kencan tadi, dan jadi sulit untuk tidur.
“Ngagetin aja sih!” protesku.
Aku segera menutup sekaligus mengunci pintu kamarku. Aku tak ingin jika ada orang lain yang masuk ke sini, karena mengetahui jika aku barusaja pulang. Bisa panjang urusannya nanti, sebaiknya hal itu memang tak terjadi.
“Dari mana aja lo, jam segini kok baru pulang.” tanya gadis itu sekali lagi.
“Kamu sendiri kenapa belum tidur udah jam segini?” tanyaku balik.
“Dih! Di tanyain malah nanya balik.”ucapnya.
Aku tak menggubris ucapannya yang barusan sama sekali. Aku sedang malas menanggapi pembicaraan gadis ini, yang selalu berujung pada perdebatan. Kebetulan sekali hari ini aku belum sempat makan malam. Tadi sepulang sekolah, aku langsung bergegas menuju tempat itu. Aku duduk di meja belajar, sambil membuka bungkusan bakso yang di berikan oleh Arka tadi.
“Stef, ambilin mangkok sama sendok dong di dapur. Minta tolong banget nih gue.” ujarku.
“Males, ambil aja sendiri. Punya kaki kan?” sindir gadis itu dengan tajam.
Aku hanya bisa tersenyum kecut mendengar balasannya barusan. Tapi bukan Eresha namanya, jika tak banyak akal.
“Please lah stef….. Ribet ntar urusannya kalau aku ketahuan.” ujarku sambil terus memohon.
“Lah, bodo amat mau ketauan kek mau enggak kek. Lagian siapa suruh pulang malam-malam gini.” celetuknya, tak lupa disertai dengan bibir yang maju beberapa centi.
“Gini deh, nanti kita baksonya bagi dua. Gimana, mau nggak?” tawarku.
__ADS_1
Aku yakin jika kali ini Stefani tak akan menolak tawaranku yang satu ini. Gadis ini tak pernah bisa berkutik lagi jika sudah soal makanan. Dan yang benar saja, semuanya sesuai dugaanku. Apa yang ku bilang barusa, rencana ini pasti berhasil.
“Bener ya.” ucapnya.
“Iya.” jawabku singkat.
“Ya udah tunggu sebentar di sini.” ujarnya kemudian pergi keluar untuk menuju ke dapur.
Sekarang aku tinggal menunggu saja sambil bermain dengan ponselku. Namun tiba-tiba entah kenapa pandanganku malah tertuju kepada sesuatu di ujung kamarku. Aku sudah meletakkannya di sana sejak dua hari yang lalu, bahkan aku belum menyentuh benda itu sedikitpun. Sepertinya beberapa hari belakangan ini ada saja sesuatu yang membuatku sibuk dan melupakan hal itu. Aku belum sempat membuka tabung gambar itu, yang diberikan Kak Rayhan kemarin.
Sebenarnya aku sangat penasaran dengan isi di dalamnya. Hany asaja ku pikir jika aku tak bisa membukanya untuk sekarang ini. Stefani pasti akan banyak tanya soal itu, dan semua hal itu selalu membuatku merasa terganggu. Mungkin aku akan membukanya besok sepulang sekolah. Karena besok pasti gadis itu akan pergi untuk kerja paruh waktu di cafe. Besok aku akan langsung membuka isinya setelah sampai di rumah. Aku penasaran benda apa yang ia titipkan untukku, setelah sekian lama menghilang begitu saja.
__ADS_1