
Kedua pria itu berjalan menyusuri lorong menuju kamar Arka. Padahal ini baru jam empat sore, tapi suasananya sudah sepi seperti ini. Walaupun sebenarnya sekarang mereka sedang di landa ketakutan tapi ekspresi mereka terlihat begitu meyakinkan. Bisa jatuh harga diri mereka jika sampai hal itu terjadi.
"Ceklekk!"
Sendy membuka gerendel pintu ruangan Arka. Kemudian mendorong kursi roda itu menuju kasurnya di sebelah sana.
"Mau di gendong enggak?" Ledek Sendy saat melihat Arka tengah kesulitan turun dari kursi rodanya.
"Ogah!" Tolak Arka mentah-mentah.
Sementara pria yang setahun lebih tua darinya itu hanya tertawa kecil melihat Arka. Setelah memastikan Arka telah benar-benar aman, Sendy menepikan kursi rodanya di samping ranjang Arka.
"Aku balik dulu ya." Ujar Sendy
Arka menganggukkan kepalanya "Iya, terimakasih ya btw."
"Oke sip lah." Sendy mengacungkan jempolnya pada pria itu.
Tiba-tiba ia menghentikan langkahnya saat akan keluar, kemudian memutar balik badannya. Arka menyorot tajam pria aneh tersebut.
"Kenapa?" Tanya Arka.
"Sendirian nih?"
"Bisa liat sendiri kan."
"Ih, awas loh nanti si mbak kunti datang nemenin mas Arka. Hahaha...."
Sendy mencoba menakut-nakuti pria itu.
"Idih, yang ada kakak tu nanti pas jalan balik di lorong malah di ikuti." Balas Arka.
Sendy tak langsung menggubrisnya, ia kemudian menutup pintu tersebut dengan perlahan sehingga engselnya sedikit berderit dan menciptakan suasana horor. Arka bergidik ngeri sendiri setelah memastikan Sendy sudah benar-benar pergi dari sana.
Arka memilih untuk kembali tidur, kemudian segera menarik selimutnya.
***
"Tap... Tap... Tap..."
Langkah kaki Sendy terdengar begitu jelas di sepanjang lorong ini. Sepertinya memang sangat jarang di lewati oleh para petugas rumah sakit kecuali saat mengantar makanan dan mengecek kondisi pasien.
"Bagaimana bisa anak itu mendapatkan ruangan ditempat yang seperti itu." Gumam Sendy.
Ia baru mengingat satu hal, jika ia meninggalkan hoodie miliknya di dalam jok sepeda motornya. Ia terlalu terburu-buru tadi untuk menemui Eresha setelah menerima telepon dari Renata. Sampai-sampai ia melupakan hoodie kesayangannya.
Sendy memutuskan untuk kembali ke bawah dulu untuk mengambil hoodie nya yang sedang bersama dengan sepeda motornya di parkiran.
Setelah mendapatkan apa yang ia mau, Sendy segera kembali ke ruangan Eresha dengan hoodie yang melingkar di pinggang nya.
***
Aku memainkan kuku ku sambil menunggu pria itu kembali ke sini.
"Oh ya Tuhan! Aku sangat bosan berada disini!" Keluh ku.
Aku bahkan tak bisa melakukan kegiatan apapun selain berbaring atau ke toilet. Ini menjadi hal kedua yang ku benci dari rumah sakit selain bau khas yang mereka miliki.
"Dimana handphone ku?" Gumam ku pelan.
Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru ruangan untuk menemukan benda itu. Benda kecil berbentuk persegi panjang itu pasti bisa menghilangkan kejenuhan ku saat ini.
Ah! Itu dia!
Aku segera meraih benda itu yang tergeletak begitu saja di atas meja. Karena kebetulan mejanya berada di samping ranjang ku, jadi ini tak terlalu sulit.
"Huft! Siapa yang meletakkannya di sana?" Ujarku sambil menyeka beberapa debu yang menempel di sana.
Padahal belum ada sehari benda ini ku tinggalkan, sudah kotor saja. Ya, lagipula ponsel memang akan selalu menjadi lebih kuat setelah di pakai.
Aku membuka aplikasi pesan singkat WhatsApp, memastikan apakah ada notifikasi yang masuk atau tidak. Begitu juga dengan aplikasi-aplikasi lainnya termasuk sosial media.
Aku men-scroll semua kontak yang ada di sana, memandangnya satu persatu. Kira-kira siapa yang bisa ku ajak mengobrol sekarang ini. Aku berpikir sebentar sambil tetap mencari nama yang sesuai.
"Ah, mereka!" Ujarku antusias.
Sudah lama aku tak mengobrol dengan mereka para sahabat ku. Tiga orang aneh yang masih tinggal di kota itu. Mungkin mereka akan pergi meninggalkan kota kecil itu saat sudah lulus sekolah. Entahlah mungkin begitu, tapi aku tak tahu pastinya bagaimana. Mereka pernah bilang jika saat lulus nanti akan mengambil beasiswa di luar kota untuk melanjutkan kuliah.
Tanpa pikir panjang lagi aku segera menelpon mereka dengan video call. Wuahhh... Aku sudah tak sabar ingin melihat mereka. Apakah wajah ketiga gadis itu mengalami perubahan setelah lama tak ku lihat.
Layar ponselku langsung terbagi menjadi empat bagian, dan masing-masing bagian tersebut menunjukkan tulisan "sedang menghubungkan."
Zahra yang mengangkat video call itu terlebih dahulu, disusul dengan Rini dan Rahma. Kami berempat langsung berteriak histeris saat itu juga.
Aku yakin pasti akan banyak gosip yang belum mereka ceritakan padaku.
"Wooahh... Eresha!"
Mereka tampak begitu girang saat melihatku.
"Hai hai hai..." Balasku sambil melambai-lambaikan tangan di depan layar ponselku.
"Kangennnn!" Ujar Zahra.
"Aku juga tau, makanya aku video call kalian." Ujarku.
Akhirnya aku bisa bertemu lagi dengan tiga manusia ini walaupun hanya dari layar kaca.
"Maaf ya waktu kecelakaan kemarin kita enggak bisa jenguk. Soalnya kan habis pulang dari rumah sakit, lo langsung berangkat ke Jakarta." Jelas Rini.
"Iya lagian rumah sakit lo sih di luar kota." Timpal Rahma.
"Ya keburu lewat dong kalau harus di bawa ke sana dulu. Kan kemarin itu nyari rumah sakit yang paling dekat sama tempat kejadian." Ujarku dengan sedikit mengguyon.
"Eh iya, kalian apa kabar by the way?" Tanyaku antusias.
Entah kenapa jika bertemu mereka, setelahnya energi ku seperti bertambah dengan begitu drastis. Tak bisa ku pungkiri jika mereka adalah mood booster ku.
"Alhamdulillah, baik-baik aja." Ujar Rahma.
"Baik kok." Balas Rini.
"Baik Alhamdulillah. Lo sendiri gimana?" Jawab Zahra.
"Alhamdulillah baik juga kok, cuma sekarang lagi pindah tempat rebahan aja." Jelasku.
"Maksudnya?" Tanya Zahra.
Aku langsung merubah mode ke kamera belakang dan memperlihatkan seluruh isi ruangan ini kepada mereka. Kemudian tak lupa juga dengan tanganku yang terpasang jarum infus di atasnya.
"Astaga!" Ujar Rini.
Aku segera mengembalikannya ke mode kamera depan agar mereka bisa melihat wajahku. Aku tahu jika mereka bertiga sangat merindukanku dan hampir mati jika aku tak ada bersama mereka. Ayolah! itu terlalu hiperbola, lagian mereka sekarang masih baik-baik saja tanpaku di sana.
"Lo dirawat lagi, di rumah sakit?" Tanya Zahra memastikan.
Aku mengangguk, mengiyakan.
"Ya ampun, cepat sembuh ya." Ujar Rini.
"Terimakasih."
"Sakit apa sih?" Kini gantian Rahma yang bertanya padaku.
"Biasalah kecapean, banyak kegiatan, kurang tidur dan malah nge-drop." Jelasku.
"Eh sadar enggak sih kalau si Eresha sekarang semenjak di Jakarta ngomongnya pakai aku kamu, hahaha.... Padahal dulu lo gue." Timpal Zahra yang tiba-tiba main nyelonong aja.
Ah iya aku baru menyadari hal itu. Aku hanya tertawa kecil bersama mereka. Tak lama percakapan kami yang tak jelas itu pun selesai. Percakapan yang tak pasti apa topik nya, dan bisa berubah-ubah sesuai dengan mood mereka.
Walau itu tadi hanya berlangsung beberapa menit karena mereka harus masuk ekskul sebentar lagi, tapi aku benar-benar menikmatinya. Mereka semua sama lucunya seperti dulu, bahkan sekarang mereka jauh lebih lucu.
"Ceklekk!"
Tiba-tiba saja ada seseorang yang membuka pintu dari luar. Tadinya ku kira itu perawatan atau dokter jaga yang sedang berkeliling. Ternyata aku salah, itu Kak Sendy. Ia merapihkan rambutnya yang sedikit berantakan kemudian menarik kursi di sebelahku.
"Maaf lama, tadi aku ke parkiran dulu. Ada yang ketinggalan." Ujarnya.
"Enggak apa-apa kok." Balasku dengan tenang.
Lalu ia mengambil tas ranselnya yang ia tinggalkan disini sewaktu mengantarkan Arka tadi. Tangannya merogoh isi benda itu kemudian mengeluarkan sebuah laptop dari sana.
Entah apa yang ia kutak-katik di dalam sana, yang jelas ia terlihat sangat serius. Mungkin mengerjakan tugas kuliahnya. Aku melemparkan pandangan ku ke langit-langit, kemudian menghela berat.
"Nah ini dia!" Ujar Kak Sendy sambil memetik jarinya.
Aku sontak mengalihkan pandangan ku kepada seorang pria di sebelahku.
"Coba deh liat." Ujarnya kemudian menyodorkan laptopnya ke arahku.
Aku mengernyitkan dahi ku, tak mengerti dengan apa yang ia lakukan barusan. Tanpa pikir panjang aku langsung menatap layar laptop miliknya.
"While you were sleeping." Aku berusaha mengeja judulnya yang di tuliskan dalam aksara Hangul Korea.
Kemudian Kak Sendy men-scroll nya sedikit ke bawah, dan muncul lah tulisan judulnya dalam Bahasa Inggris. Aku mendengus sebal. Kenapa tidak dari tadi saja tunjukkan judulnya yang di tulis dalam huruf alfabet, itu jelas akan jauh lebih praktis ketimbang aku harus membaca huruf Hangul Korea yang tidak pernah benar-benar ku kuasai sejak kelas dua SMP.
__ADS_1
Ya, kalian tahu jika aku suka dengan semua hal yang berbau Korea. Termasuk genre musiknya yang sudah ku gemari sejak kelas VIII SMP. Saat itu aku juga sempat belajar tentang Bahasa Korea, dan tentu saja huruf Hangul masuk ke dalam daftar. Aku belajar secara otodidak, namun tak pernah benar-benar bisa ku kuasai secara sempurna layaknya orang Korea asli. Aku tak pernah bisa fasih berbahasa Korea sefasih Bahasa Inggris ku.
"Biar enggak bosan, kita tonton ini ya." Ujar Kak Sendy.
"Ini apa?" Tanyaku.
"Drama Korea alias drakor."
"Kok bisa tau aku suka tentang Korea?"
Ia terdiam sejenak tampak berfikir keras kemudian menjawab pertanyaan ku barusan.
"Ya tau lah, lagian kan cewek-cewek sekarang memang sukanya begitu semua." Ucapnya sambil tersenyum kaku.
Aku tersenyum kecut mendengar jawabannya.
Hey! Tidak semua gadis suka dengan Korea! Bahkan teman-teman ku ada yang menghujat mereka. Lagipula aku bukan suka dengan hal berbau Korea karena mengikuti tren seperti mereka, aku sudah lama berkecimpung dalam hal itu. Bisa di bilang aku sudah sangat pro dan master dalam urusan yang satu ini, kecuali bahasanya.
Kak Sendy memencet tombol play disana dan musik intro nya sudah di mulai. Aku beralih fokus ke laptop tersebut. Jangan coba mengganggu ku di situasi seperti ini.
"Kamu tau nggak cerita dari drama ini?" Tanya Kak Sendy.
Aku menggelengkan kepalaku tanpa memalingkan pandanganku sedikitpun. Aku tak ingin melewatkan sedetikpun tontonan yang satu ini.
"Jadi, ceritanya tentang seorang cewek yang setiap dia bermimpi, mimpinya itu akan menjadi kenyataan. Semenjak itu, ia trauma dengan mimpinya sendiri. Karena dari situ dia bisa mengetahui hal-hal buruk yang akan terjadi sama dia dan orang-orang di sekitarnya." Jelas Kak Sendy secara detail.
Sepertinya pria ini sudah pernah menontonnya terlebih dahulu sebelum ia menonton denganku. Buktinya ia tahu persis bagaimana jalan ceritanya.
"Kayaknya bakalan seru nih." Ujarku.
Ia mendekatkan kepalanya ke arahku. Sebentar, ada yang aneh denganku ada apa ini. Detak jantungku tidak normal, astaga!
Aku meremas kuat selimutku karena mendadak tempo jantungku semakin cepat dan tak terkendali. Oh seseorang ku mohon tolong diriku! Kurasa jantungku sebentar lagi akan segera meledak.
Sial! Aku jadi tidak fokus dengan drama nya. Pria ini kini menyandarkan kepalanya di bahuku.
Aku mencoba mengatur nafasku yang memburu saat itu. Tarik nafas.... Buang..... Fiuhh.... Tenang.... Tenang....
***
Sendy sengaja menyandarkan kepalanya di bahu wanita ini. Sudah lama rasanya ia tak seperti ini dengan Eresha. Ia melepaskan segala penat yang melelahkan pikirannya sekarang ini.
Sendy berharap agar semua ingatan dan memori tentangnya kembali lagi. Ia ingin semuanya membaik seperti dulu. Ia ingin selalu berada di sampingnya, bercerita tentang semua hal yang mereka suka. Tapi itu dulu, sekarang situasinya berbeda.
Eresha yang sekarang adalah milik seorang Arka. Bukan lagi Eresha yang ia kenal dulu. Walaupun sebenarnya mereka masih dalam status pacaran tanpa Eresha sadari. Bukan diri mereka sendiri yang membuat mereka berpisah. Waktu yang terlalu kejam, takdir yang terlalu tega melakukan semua rencana ini kepada mereka.
Andai gadis itu tau jika orang disampingnya ini adalah orang yang dulunya sangat ia cintai. Tapi sepertinya sangat mustahil jika semua memorinya di masa lalu kembali lagi.
Ia terus menyoroti gadis itu dengan lekat. Sementara Eresha tak bisa menenangkan dirinya karena kejadian yang diluar dugaannya ini. Huft! Ya intinya tak ada seorangpun dari mereka yang benar-benar fokus menonton drama. Lalu untuk apa tayangan itu diputar, sia-sia saja.
***
Baiklah kini aku sudah lebih bisa mengendalikan diriku. Setidaknya ini sudah lebih baik dari yang sebelumnya. Aku berusaha fokus menonton drama itu agar aku tahu bagaimana jalan ceritanya.
Aku menoleh ke samping, ke arah Kak Sendy. Aishh! Scene yang benar-benar seru tapi tak untuk di lihat. Astaga! Gara-gara aku memalingkan wajahku, kini aku dan pria ini bertemu pandang. Wajah kami benar-benar dalam jarak yang dekat, aku bisa merasakan hembusan nafasnya yang hangat.
Aku segera memalingkan wajahku kembali. Aku mengalihkan pandanganku kembali ke laptop. Kenapa kami malah saling canggung seperti ini, aku jadi salah tingkah.
"Hmmm...." Aku berdeham pelan.
"Kenapa tadi?" Tanya Kak Sendy sembari mencairkan ketegangan suasana.
"O...oh... Enggak kok. Tadi ada scene itu, aku enggak mau liat." Jelasku dengan nada bicara yang masih terbata-bata karena salah tingkah.
"Tapi kan itu scene yang wajar, wajib sih malah kalau di drama Korea seperti ini."
"Ya...a...ya... Iya sih cuma kan a...a..gak gimana gitu."
"Gimana?" Tanya pria itu.
"Udahlah enggak usah di bahas kak."
Aku berusaha mengalihkan pembicaraan yang semakin ngawur ini.
"Lanjut ke episode dua kak!" Pintaku.
"Hey! Kan disini buat istirahat, bukan buat maraton drama Korea."
Bibirku maju beberapa centi karena pria ini tak menuruti permintaan ku. Aku sanggat bosan disini, apakah tidak ada hal lain yang bisa ku lakukan selain berbaring disini. Aku mendengus kesal.
Pria itu segera mengembalikan laptop nya ke menu utama.
"Eh!" Cegah ku.
"Kenapa?"
"Oh, foto aku dulu pas SMA. Eh enggak SMA sih, SMK lebih tepatnya."
Fotonya di edit seperti karakter kartun, apa dia yang mengedit.
"Ini baju marching band kan?" Tanyaku dengan antusias.
Pria itu hanya mengangguk mengiyakan perkataan ku barusan.
"Kalau yang ini kakak, yang rambut panjang ini pasti cewek." Ujarku sambil menunjuk dua orang di foto itu.
"Tu... tunggu dulu aku sepertinya pernah melihat seragam ini." Tukas ku.
Aku berfikir sejenak mengingat-ingat lagi tentang semua ini.
"Oh ya, dimana?" Tanya balik Kak Sendy.
"Ini sama kayak seragam marching band aku!"
Akhirnya aku mengingat hal itu, bingo! Ya benar ini seragam marching band yang sama persis dengan seragamku dulu.
"Berarti kakak satu sekolah dong sama aku. Eh bukan satu sekolah, tapi satu tim. Tim marching band." Jelasku.
"Itu artinya kamu adik junior aku dong." Balas Kak Sendy.
Aku mengangguk cepat mengiyakan perkataannya. Ya benar, akhirnya aku mengingat semuanya. Aku mengingat jika orang ini adalah kakak senior ku. Itu artinya kami pernah bertemu sebelumnya. Aku tak menyangka bisa bertemu dengannya lagi di sini, bahkan kami kini menjadi sahabat baik. Aku tak pernah bermimpi agar dekat dengan salah satu seniorku sebelumnya.
"Terus cewek ini anak marching band juga ya?" Tanyaku lagi.
"Iya lah, dia itu cantik. Paling sempurna kalau udah latihan sore." Jelasnya.
"Ini siapa kak?"
Aku masih penasaran dengan sosok wanita itu yang tidak terlalu ku kenali wajahnya karena ini bukan foto aslinya.
"Ini pacar aku." Ujar Kak Sendy.
"Pacar?" Gumam ku pelan.
Ternyata ia juga berpacaran dengan salah satu anak marching band.
"Kamu dulu angkatan sembilan ya kalau enggak salah." Ucap pria itu yang mencoba menebak.
Aku mengangguk-anggukkan kepala ku dengan cepat. Bagaimana bisa ia tahu soal itu.
"Kakak kok bisa tau sih."
"Ya tau lah, kamu anak bell kan? Kalau di barisan kan anak bell selalu di depan. Jadi otomatis yang di belakang kan lebih sering liat ke depan, bakalan ngeliat anak bell dong." Jelasnya.
"Itu artinya anak bell selalu jadi pusat perhatian dong kalau pas latihan. Hehehe..."
"Jangan kepedean deh, please..."
"Ya wajar dong. Eh, btw kakak dulu megang alat apa?"
"Perkusi." Jawabnya singkat.
"Perkusi kan banyak macemnya. Ada snare, quint tom, bass sama simbal." Ujarku sambil menghitung jariku satu-persatu.
"Ya coba aja tebak sendiri. Aku tau kamu, masa kamu enggak tau aku."
"Nyerah deh!" Ujarku sambil mengangkat kedua tanganku.
Ia tertawa pelan kemudian mengacak puncak kepalaku dengan gemas.
"Sekarang kalau boleh tau, hubungan kakak sama pacar kakak gimana?"
"Ya gitu deh, kita pisah."
Wajahnya langsung tertunduk dan berubah muram. Aku menjadi merasa bersalah pada kakak senior ku yang satu ini. Tak seharusnya aku menanyakan soal itu jika pada akhirnya akan seperti ini. Tapi aku mana tahu jika ia akan menjadi sedih seperti ini.
"Maaf aku udah buat kakak sedih ya?"
Aku memastikan jika pria ini baik-baik saja.
"Ah? Enggak kok." Ujarnya sambil mendongakkan kepalanya, mengarah ke arahku.
Aku tak ingin bertanya lebih banyak lagi soal pacarnya itu jika hanya akan membuatnya sedih. Aku tak ingin luka lamanya terbuka kembali. Itu mungkin akan sedikit menyakitkan baginya dan mungkin juga akan sukar untuk pulih, sama seperti Arka. Sepertinya semua pria yang patah hati memang begitu jika diungkit lagi soal luka lamanya.
"Jadi gini, kamu ingat nggak pas kita pergi ke kota Binjai?" Tanya pria itu padaku.
__ADS_1
Aku mengangguk lemah.
"Jadi waktu itu pas jalan pulang bis kita kecelakaan kan?"
Aku kembali mengangguk. Kejadian mengerikan itu masih tersimpan apik di kepalaku. Bagaimana bisa aku melupakan kejadian tragis yang hampir merenggut nyawa ku dan seisi bis. Aku bergidik ngeri saat mengingat kembali kejadian beberapa waktu yang lalu itu.
"Aku sama dia duduk bersebelahan di bangku belakang. Terus pas bis ngalamin kecelakaan kita berdua adalah salah satu korban dengan luka parah. dan kita berdua sempat koma selama beberapa hari. Kita di rujuk ke rumah sakit yang sama." Jelas Kak Sendy dengan serius.
Aku turut menyimak kisah yang ia cerita dengan penuh konsentrasi. Karena aku sendiri juga mengalami hal itu. Sama persis dengan pria ini, aku juga duduk di bangku belakang. Tapi kan banyak orang yang duduk disana jadi aku tak terlalu memperhatikan seniorku yang satu ini mungkin.
Aku juga sempat koma beberapa hari menurut pengakuan mama yang menjagaku saat itu disana. Dan saat pertama kali aku bertemu Kak Sendy adalah ketika kami bertemu di ruang tunggu terapi.
Akhirnya aku bisa mengambil kesimpulan dari kisah ini. Itu artinya semua penumpang bis yang kecelakaan waktu itu langsung di larikan di rumah sakit yang sama. Itu sebabnya aku bertemu dengan Kak Sendy disana.
"Terus pacar kakak gimana kondisinya saat kecelakaan itu?" Tanyaku.
"Kondisinya baik-baik aja, sama seperti aku. Kami perlahan pulih dan sehat kembali seperti sedia kala. Tapi masalahnya adalah kita berdua sama-sama kehilangan ingatan soal hubungan yang pernah di jalani sebelumnya." Jelas Kak Sendy dengan nada parau.
Matanya berkaca-kaca, ada air mata yang tertahan di dalam sana. Padahal tadinya aku tak mau mengungkit soal ini lagi. Tapi dia duluan yang memulainya, Kak Sendy yang menceritakan semuanya tanpa ku minta.
Sudah ku duga jika akhirnya akan seperti ini. Hatinya terlalu rapuh saat ini. Aku menepuk pelan pundaknya mencoba memberikan semangat kepadanya. Tak apa jika ia ingin menangis, ia tak akan ku ejek. Bahkan seorang pria pun bisa menangis di titik terendah mereka. Mereka bukan menangis karena cengeng, tapi mereka adalah seorang pria sejati. Pria kuat yang selama ini menutupi segala kesedihan nya dengan apik.
"Aku udah mengingat semuanya soal dia. Tapi enggak dengan dia." Ujar pria itu.
Sebenarnya aku ingin menyuruh nya untuk berhenti bercerita tentang pacarnya itu. Karena aku tahu jika itu hanya akan semakin memancing air matanya untuk mengalir lebih deras. Tapi mungkin disisi lain ia akan mereka sedikit lega.
"Kenapa kakak enggak coba buat bantuin dia untuk mengingat soal masa lalunya bersama kakak?" Tanyaku.
"Aku udah coba tapi rasanya semua usaha yang aku lakuin sia-sia sha. Mungkin dia enggak akan pernah dapetin kenangan itu lagi. Ingatannya mungkin enggak akan kembali lagi."
"Kenapa?"
"Karena takdir udah berkata lain." Ucapnya sambil berusaha tersenyum.
Ia berusaha tetap terlihat tegar dan baik-baik saja. Meski aku tahu ia terlalu memaksakan senyumannya yang tadi itu.
"Aku juga ngerasa kehilangan seseorang tau kak setelah kecelakaan itu." Ujarku.
Kini giliran ku untuk bercerita.
"Oh ya, siapa?"
Ia langsung menghapus jejak air matanya, tampak begitu antusias untuk mendengarkan kisah ku.
"Nah itu aku enggak tahu."
"Kok bisa gitu?"
"Aku lupa gimana wajahnya. Ya intinya dia itu seorang cowok."
"Terus terus gimana?"
"Setelah kecelakaan itu aku enggak bisa mengingat wajahnya secara jelas, sampai sekarang. Terus belakangan ini dia selalu datang ke mimpi aku."
Aku menjeda ceritaku sebentar untuk mengambil nafas kemudian melanjutkannya kembali.
"Aku enggak tahu sih itu mimpi atau bukan. Tapi kejadiannya selalu saat aku enggak sadarkan diri, ya mungkin bisa di bilang semacam itu lah."
Tarik nafas lagi....
"Kemarin dia bawa aku ke atas bukit dan terakhir kali dia bawa aku ke sekolah kita dulu kak. Pas kita lagi latihan Marching band."
"Loh emang bisa gitu?"
"Namanya juga mimpi, apa sih yang enggak bisa."
"Terus gimana?"
"Dia bawa aku ke salah satu pemain quint tom. Pas pemain quint tom ini nembus badan aku rasanya dadaku sesak dan sakit."
Entah kenapa pria ini tampak begitu serius mendengarkan ceritaku. Apa kisah ku semenarik itu baginya? Padahal ini kan cuma kejadian di alam mimpi.
"Dan dia bilang kalau itu adalah jiwa yang hilang gitu-gitu lah. Aku enggak ngerti."
Kepalaku semakin pusing rasanya saat menjelaskan mimpi ku yang sulit untuk di deskripsikan.
"Apa jangan-jangan...." Ujarku.
"Jangan-jangan apa?" Tanya Kak Sendy yang tampak tak sabar.
"Jangan-jangan kita pasangan itu kali ya. Kan kita sama-sama lupa sesuatu setelah kecelakaan itu. Tapi... Ya mana mungkin lah aku pacaran sama kakak." Ujarku dengan nada sedikit mengguyon.
"Kenapa enggak mungkin?" Tanya pria itu.
Kemudian ia menyondongkan tubuhnya ke arahku dengan begitu elegan. Gerak-geriknya tak bisa ku duga, ia selalu memberikan kejutan di setiap gerakan yang ia buat.
Aku menjadi sedikit gugup sekarang.
"Kalau di pikir-pikir sih dari cerita kakak tadi memang ada banyak kesamaan sama cerita aku." Ujarku.
"Hmmm... Terus?" Tanya nya sambil tersenyum miring.
"Tetap aja enggak mungkin... Hehe,.." Ujarku sambil nyengir seolah tak berdosa.
Pria itu langsung mendengus kesal, kemudian menjauhkan dirinya dariku. Ia kembali membenarkan posisi duduknya.
"Terserah deh sha, dasar enggak peka." Gumamnya dengan suara pelan.
Tapi kalimat itu sudah sampai lebih dulu di telingaku dengan jelas, meskipun dengan frekuensi sekecil itu.
"Ha? Apa?" Tanyaku mencoba memperjelas.
"Ah? Apaan sih? Enggak ada ngomong apa-apa juga lagian." Elaknya.
Kak Sendy mendadak menjadi salah tingkah, ia menggaruk kepalanya yang tak gatal. Senyum nya terlihat kaku, sangat aneh. Aku mengernyitkan dahi ku, curiga dengan sikap pria ini.
"Tidak peka apa maksudnya, aku sungguh tidak mengerti." Batinku dalam hati sambil terus bertanya-tanya sendiri.
Baiklah sekarang aku menyerah! Aku tidak bisa menemukan jawabannya, ini bahkan lebih sulit dari sebuah teka-teki. Sebenarnya tidak peka itu bisa digolongkan menjadi beberapa arti, kata itu memiliki banyak definisi. Argghh! Kepalaku sudah tak sanggup memikirkannya.
"Enggak peka gimana sih maksudnya?"
Akhirnya aku memutuskan untuk bertanya kembali. Ada pepatah yang bilang begini "malu bertanya, sesat di jalan."
"Udah enggak usah bahas lagi Eresha Caitlyn Ananda..." Balasnya.
Kali ini giliran ku yang mendengus kesal karena pria ini tak ingin memberi tahuku sesuatu yang sungguh ingin ku ketahui. Terlihat sepele memang, tapi jiwa keingin tahunku sudah meronta-ronta.
Ia ternyata benar-benar tak mempunyai niat sedikitpun untuk menjawab pertanyaan ku. Ia terlihat mengalihkan perhatiannya di laptop, tampak begitu sibuk berkutat dengan benda kesayangannya itu.
Bibirku maju beberapa centi, manyun karena ia malah mengacuhkanku. Dan sekarang perasaan bosan itu kembali hadir ditengah-tengah ruangan ini.
Tak lama ia menepikan laptopnya, kemudian mengambil tabung gambar yang turut ia bawa kesini tadi.
"Itu apa?" Tanyaku secara spontan sambil menunjuk benda yang terlihat asing itu bagiku.
Tentu saja terlihat asing, itu bukan benda yang sehari-hari nya ku jumpai. Lagipula aku ini adalah anak SMA dengan jurusan IPA. Jadi wajar saja jika tak tahu benda semacam itu. Hal itu sudah melenceng jauh dari jurusan yang saat ini tengah ku tekuni.
"Tabung gambar." Ujarnya singkat.
Aku hanya membulatkan mulutku "Oooo...."
"Mau liat nggak?" Tawarnya padaku.
Aku mengangguk cepat mengiyakan perkataannya, lagipula aku juga penasaran dengan isi dari benda ini.
Kemudian Kak Sendy membentangkan sebuah kertas gambar yang entah ukuran berapa. Intinya sangat besar, satu kajang mungkin? Atau dua? Ah entahlah.
Ia memamerkan jejak coretan pensil yang terekam dengan indah. Benar-benar di buat dengan hati. Sungguh menakjubkan.
"Ini rancangan hotel untuk tugas kuliah aku." Ujarnya kemudian menggulung kembali kertas gambarnya.
"Hebat!"
Aku mengacungkan kedua jempol ku. Jika bisa sebenarnya aku ingin turut mengacungkan jempol kaki ku juga. Tapi sayangnya itu tidak bisa ku lakukan.
"Dulu kan kakak bilang kalau kakak itu anak SMK, jurusan apa?" Tanyaku.
Ia merapihkan tabung gambar nya sebentar kemudian menjawabnya.
"Teknik kendaraan ringan." Ucapnya secara gamblang.
"Kok pas kuliah malah ngambil jurusan arsitektur?" Tanyaku.
Jelas saja jurusan kuliah yang ia ambil saat ini sudah menyimpang jauh dari jurusan yang di ambilnya saat SMK dulu.
"Enggak tau, tiba-tiba aja kepengen jadi anak Arsi." Jelasnya.
"Kenapa enggak ambil jurusan teknik otomotif aja?"
"Males aja gitu. Lagian nih ya dulu itu pas zaman sekolah ada satu pelajaran yang paling sulit. Namanya kelistrikan, semua anak teknik kendaraan ringan pada angkat tangan kalau soal itu. Nah aku kemarin juga sempat lihat kalau di jurusan teknik otomotif itu, ada mata kuliah tentang kelistrikan dasar dan bla...bla...bla..." Jelasnya secara panjang lebar.
"Entah kenapa dimana ada otomotif pasti ada si listrik yang nyebelin itu." Keluhnya.
"Mereka udah di takdirkan untuk bersama kali, dan enggak bisa di pisahkan lagi." Balasku sambil sedikit mengguyon.
__ADS_1