
Aku bergegas menuju halte bus sebelum busnya datang. Jika sampai aku terlambat, maka itu artinya aku harus menunggu selama setengah jam lagi. Ternyata hari ini halte tak seramai yang ku kira.
Arka sudah naik bus dari stasiun sebelumnya. Dan mungkin saat ini ia sedang menunggu di dalam bus. Setiap setengah jam hanya ada satu bus yang akan mampir ke halte. Aku sudah tak sabar untuk bertemu dengannya. Mungkin hari ini kami akan menghabiskan banyak waktu bersama. Atau bahkan seharian penuh.
Haruskah aku senang atau malah bersikap biasa saja? Hari ini kami memutuskan untuk pergi ke Kuil Sinheungsa. Tempat ini terletak di lereng Seoraksan di Sokcho, Provinsi Gangwon, Korea Selatan.
Tak perlu menunggu lama, bus yang seharusnya datang kini telah berhenti tepat di hadapanku. Kedua bola mataku juga langsung tertuju kepada seorang pria yang duduk di belakang sana. Ia tak terlihat asing lagi bagiku, meski sudah cukup lama sejak terakhir kali aku melihatnya. Penampilannya banyak berubah, tapi sepertinya hal itu tak berpengaruh banyak.
Aku segera menghampiri Arka yang tengah sibuk dengan dunianya sendiri. Ia terlihat menatap keluar jendela sambil mendengarkan sesuatu dari headphone nya. Aku tak yakin jika ia mendengarkan musik. Ia tak memiliki ketertarikan khusus terhadap musik. Sepertinya ia sedang mendengarkan podcast atau semacamnya. Ia selalu butuh kata-kata motivasi setiap harinya.
"Udah datang ternyata." ucapnya dengan nada datar.
Aku hanya mengangguk pelan, mengiyakan perkataanya. Situasi kami saat ini sama-sama saling canggung. Menurutku itu hal wajar, karena kami sudah lama tak bertemu.
Sepanjang perjalanan menuju stasiun berikutnya, hening adalah teman akrabku. Lagipula di dalam bus memang ada larangan untuk tidak berbicara terlalu keras. Rasanya tak apa jika harus diam sementara. Karena posisi semua orang di dalam ini sama. Kami semua sama-sama saling membisu.
Tunggu dulu, aku baru ingat jika ternyata aku belum sempat sarapan. Aku benar-benar tak memiliki waktu sedikitpun tadi pagi. Bahkan jika itu untuk memperdulikan diriku sendiri. Itu semua karena kejadian tadi malam, dan sekarang semuanya jadi terkena imbas olehnya. Jam tidur ku menjadi berkurang dua jam dari biasanya.
Tiba-tiba saja tanpa diperintah sama sekali, Arka menatap ku dengan tatapan yang begitu asing. Ia melihat begitu dalam, melalui bola mataku. Sedetik kemudian, ia melepaskan salah satu headphone nya. Ia letakkan benda itu dengan sedemikian rupa di lubang telingaku, sehingga suaranya terdengar begitu jelas.
Aku tak tahu harus bereaksi bagaimana, saat lagu itu sampai di telingaku. Entah sejak kapan pria itu mulai mendengarkan lagu ini. Tapi sepertinya, ini bukan yang pertama kalinya. Sebenarnya tak ada yang salah dengan lagu itu. Hanya saja iramanya benar-benar membuatku mati ketakutan.
Aku berusaha melawan semua itu, tapi sia-sia saja. Aku bersikap biasa saja dalam ketakutan ini. Aku tak ingin membuat Arka kecewa, karena aku tak suka dengan lagunya.
Dadaku semakin terasa sesak saat aku berharap menemukan satu hal. Akhirnya aku mengingat sesuatu yang cukup mengejutkan. Sekaligus itu menjadi alasan kenapa aku bisa mengalami semua ini. Aku bisa mengingat persis jika benar lagu ini yang terakhir kali aku dengarkan di bis itu. Tepat sesaat sebelum kecelakaan itu terjadi.
Selang beberapa menit kemudian, akhirnya kami sampai pada halte pemberhentian. Aku merasa lega sekaligus senang. Akhirnya lagu itu berhenti diputar di dalam kepala ku. Harus ku akui jika iramanya masih terngiang-ngiang. Tapi tak masalah selama itu tak mengganggu ku. Setelah turun dari bis, aku duduk di salah satu bangku kosong sambil berusaha bernapas.
Sepertinya Arka menyadari jika aku sedang dalam kondisi yang tak baik-baik saja. Ia berlari ke arahku dengan tatapan cemas. Pria itu jongkok tepat di depanku, sambil menanyakan apakah aku baik-baik saja. Ia menatapku dari sudut yang lebih rendah dari biasanya.
"Apa lo baik-baik aja?" tanyanya padaku.
Aku mengangguk pelan, mengiyakan perkataanya. Aku tak punya banyak tenaga, bahkan jika itu untuk sekedar berbicara sekalipun.
"Tapi muka lo kelihatan pucat banget." ujarnya.
"Lo yakin enggak kenapa-kenapa?" lanjutnya.
"Berhenti bertanya!" ucapku dengan nada tinggi.
Pria itu lantas mematung di tempat. Ia tahu jika aku tak biasanya seperti ini.
"Ayo kita pergi ke cafe itu." ajaknya.
Kami pergi dari halte tersebut, menuju sebuah cafe yang terletak tepat di belakangnya.
"Kita bicara di sini aja. Di sana terlalu banyak orang. Yang lo lakuin tadi cuma bakal ngundang keributan aja." jelasnya.
"Maaf." balasku dengan singkat.
"Gue bakalan pesenin teh. Lo tetap di sini dan jangan kemana-mana." ujarnya.
Tak lama kemudian ia datang dengan secangkir teh hangat di tangannya. Kemudian ia meletakkannya tepat di depanku.
"Teh bisa bantu lo buat tenang. Setelah itu lo bisa cerita semuanya. Itupun kalau emang lo mau." jelasnya.
Aku segera meminum beberapa teguk. Berharap apa yang dikatakan oleh Arka barusan itu benar. Sekarang keadaanku jauh lebih baik. Berada di dalam bis itu benar-benar membuatku sengsara. Seperti ada sesuatu yang sedang mencoba untuk menyerangku secara diam-diam. Leherku benar-benar seperti dicekik.
"Sebenarnya...." ucapku.
__ADS_1
Aku lantas tak melanjutkan kalimatku, saat pria itu mulai menatap tajam ke arahku.
"Sebenarnya kenapa?" tanya Arka.
Aku yakin jika ia sedang sebal karena perjalanannya harus tertunda untuk beberapa menit. Dan itu semua karena aku. Aku juga tak mengerti kenapa dari dulu diriku selalu merepotkan semua orang yang berada di sekitarku.
"Sebenarnya gue masih trauma sama kecelakaan itu." jelasku secara singkat.
"Tapi bukannya lo udah sering naik bis? Ini bukan yang pertama kalinya kan? Seharusnya lo udah lupa semua itu." balasnya.
"Lo bener, tapi bukan itu yang buat gue kayak gini." ungkap ku dengan gamblang.
"Terus?" tanya Arka lagi.
"Dari mana lo nemuin lagu itu?" tanyaku balik.
"Kemarin baru gue download. Kenapa emang?" ucapnya.
"Sejak kapan lo suka dengerin musik?" tanyaku untuk yang kesekian kalinya.
"Entahlah." balasnya acuh tak acuh.
Aku menarik napas dalam-dalam sebelum mulai menjelaskan semuanya.
"Apa pernah denger detail kecelakaan yang menimpa gue waktu itu?" tanyaku dengan penasaran.
Pria itu terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya. Sepertinya ia benar-benar tak pernah tahu soal itu. Yang ia tahu selama ini hanyalah, jika aku merupakan korban dari kecelakaan itu. Arka tak tahu bagaimana alur peristiwa itu bisa terjadi.
"Itu lagu yang gue dengerin terakhir kali, sebelum kecelakaan itu terjadi." ucapku dengan apa adanya.
"Lo tau?! Yang tadi itu benar-benar bikin gue kayak mayat hidup!" lanjutku.
"Maafin gue juga, karena gue perjalanan lo jadi ketunda." balasku.
Kini benar-benar sudah tak ada yang bisa dilakukan lagi untuk memperbaiki semuanya. Baik itu aku maupun Arka, kami hanya bisa bungkam. Aku benar-benar terlihat seperti seorang pengecut saat ini. Aku tak bisa memperbaiki apapun, bahkan saat aku ingin melakukan itu.
"Terus gimana?" tanyaku dengan hati-hati.
"Ya mau gimana lagi, kita udah ketinggalan kereta juga kan?" balasnya dengan begitu enteng.
Aku sungguh merasa bersalah karena telah merusak harinya. Harusnya saat ini kami telah berada di dalam kereta dan bukannya di cafe ini. Tapi semesta memang selalu punya kejutan yang tak terduga. Aku tak tahu berapa lama lagi ia akan menetap di sini. Bagaimana jika besok atau lusa aku tak bisa memperbaiki kesalahanku ini. Bagaimana jika dalam waktu dekat ia akan kembali ke Australia dan kami tak sempat berkunjung ke sana. Aku takut jika ia tak kembali ke sini lagi.
Aku berharap ada satu hal yang bisa kulakukan untuk memperbaiki semuanya. Aku berusaha keras untuk memutar otak. Tapi sepertinya aku terlalu lemah dalam hal itu.
"Lo kapan balik ke Australia?" tanyaku dengan penasaran.
"Kurang tau sih. Gue juga harus liat situasi dan kondisi saat ini." jelasnya.
"Lo juga tau kalau sekarang mau kemana-mana udah enggak sebebas dulu lagi." lanjutnya.
"Gimana kalau kita ke sana kapan-kapan lagi?" tanyaku.
"Atau mungkin besok, atau lusa, atau kapan aja lo mau gue selalu siap kok." ujarku.
"Nanti pasti gue kabarin." balasnya.
Aku mengangguk mengiyakan perkataanya sambil berusaha tersenyum tipis ke arahnya.
"Sekarang kita udah terlanjur ada di sini, terus mau ngapain?" tanya pria itu padaku.
__ADS_1
"Apa kita balik aja?" tanyaku balik.
"Jangan dong." cegah nya.
"Gimana kalau kita jalan-jalan di daerah sini aja nanti?" usulnya.
"Terserah lo aja, gue mah ngikut aja." balasku.
"Oke deh kalau gitu. Sekarang kita makan dulu mumpung lagi ada di sini. Gue juga belom sarapan sih kebetulan." jelasnya.
"Lo mau pesan apa?" tanya Arka.
"Terserah lo aja. Sama kayak lo juga enggak apa-apa." jawabku.
Arka mengangguk mengiyakan perkataanku dengan segera. Kemudian ia mengecek daftar menu yang ada di sana. Dari dulu sifatnya yang satu ini tak pernah berubah. Ia selalu bisa manfaatkan kesempatan yang tersisa. Pria ini juga terkenal akan pendiriannya yang tak ingin ambil pusing atas satu hal.
Setelah memesan dua porsi bibimbap ukuran sedang, kami kembali melanjutkan topik pembicaraan yang benar-benar random. Kami membicarakan apa saja yang bisa kami bahas. Selagi itu masih berada di dalam jangkauan kami. Sampai satu kalimat ini terucap keluar dari mulut Arka dan membungkam mulutku dengan tiba-tiba.
"Lo udah punya pacar baru di sini?" tanya Arka dengan hati-hati.
Aku menjawabnya tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Aku hanya bisa mengisyaratkan nya dengan bahasa tubuhku.
"Apa terakhir kali lo pacaran waktu pas sama gue doang?" tanya Arka lagi.
Aku hanya kembali menjawabnya tanpa suara.
"Kenapa lo lakuin ini semua?" ujarnya.
"Gue cuma enggak mau buang-buang waktu gue." balasku.
Pada akhirnya setelah ia membungkam mulutku, ia juga yang berhasil membuatku bersuara.
Situasi saat ini benar-benar menjadi begitu canggung setelah ia membahas hal itu. Untuk apa ia menanyakan hal semacam itu setelah sekian lama tak mengatakannya. Aku pikir pria ini sudah kehilangan sebagian besar memorinya, sama sepertiku. Tapi ternyata beberapa kenangan manis akan tetap bertahan untuk beberapa saat. Ia akan sulit pergi, apalagi jika dipaksa untuk pergi.
Aku pikir ia sudah tak peduli lagi dengan semua omong kosong ini. Kisah kami sama sekali tak menyentuh seperti kisah cinta pada umumnya. Terlalu banyak drama yang dimainkan para tokohnya, untuk membuat para tokoh lainnya tetap berada di dalam cerita. Karena mereka tahu konsekuensinya jika semakin dibiarkan, maka cerita ini akan kehilangan para tokohnya secara satu-persatu.
Kenapa hal bodoh semacam itu harus terjadi padaku. Andai aku bisa kembali ke masa lalu dan mengubah beberapa hal yang ingin ku ubah. Jika kami tak saling jatuh cinta sebelumnya, mungkin sekarang situasinya akan berbeda. Kami bisa mengobrol dengan nyaman layaknya percakapan antara dua sahabat akrab.
Setelah kisah yang kemarin kita tulis bersama, ku harap itu telah benar-benar selesai. Cerita itu kini sudah kehilangan seluruh tokohnya. Ia tak akan bisa berjalan sendiri dan tetap berlanjut, jika yang ada di dalamnya hanyalah dua tokoh utamanya saja. Semua orang menghendaki cerita ini untuk berakhir. Aku harap tak ada bagian kedua dari cerita ini. Semoga tak ada salah satu dari kami yang berniat untuk menulisnya. Kisah ini tak seharusnya berlanjut pada latar yang baru.
Aku atau siapapun tak bisa menulisnya lagi. Bahkan jika aku ingin melakukannya dan semua tokoh di dalam cerita itu mendukungnya. Cerita ini memang sudah seharusnya berakhir sampai di sini. Kisah dua anak SMA yang saling jatuh cinta itu telah tamat. Entah bagaimana akhirnya, tak ada yang bisa menebak. Karena sebenarnya itu masih menjadi rahasia sampai sekarang. Epilognya adalah satu-satunya bagian dari cerita ini yang tak pernah dipublikasi.
Sekarang para anak SMA itu telah menempuh hidup baru mereka. Berjalan di atas jalanannya masing-masing. Hanya mereka yang tahu kemana ujung jalanan itu berakhir dan apa yang akan mereka temui pada akhirnya. Aku seharusnya tak berharap lebih soal ini. Kami sedang mengatur hidup kami masing-masing dan aku tak berhak untuk ikut campur. Apalagi jika itu soal urusan hati. Bukankah setiap orang berhak menyukai siapa saja dan bahkan mereka juga berhak untuk membenci siapa saja.
“Gue bayar dulu ya.” ujarku setelah selesai makan.
“Enggak usah, biar gue aja.” cegah Arka saat itu juga.
“Gue pengen ngelakuin hal yang berbeda dari biasanya, supaya lo selalu ingat kalau gue pernah ngelakuin ini.” jelasku.
Aku lantas segera menuju kasir untuk membayar semuaya, bahkan tanpa perlu persetujuan dari pria itu. Iya, aku pergi bahkan sebelum ia sempat mengucapkan sepatah katapun. Setelah selesai, aku kembali ke meja. Arka terlihat sudah menunggu di sana.
“Jadinya habis ini mau kemana?” tanyaku.
“Gimana kalau ke pasar dekat sini aja? Di sana banyak jual pernak-pernik gitu katanya.” balas Arka.
“Jadi lo mau beli buat oleh-oleh ya?” tanyaku lagi.
“Lebih tepatnya untuk kenang-kenangan sih.” jawab pria itu.
__ADS_1
“Supaya nanti gue tetap ingat kalau gue pernah nginjakin kaki di tempat ini bareng sama lo.” lanjutnya.