Pengagum Lara

Pengagum Lara
Episode 83


__ADS_3

 


 


Aku hanya mengangguk, mengiyakan perkataan mereka saja. Tak peduli mau makan siang dimana, lagipula tak masalah jika harus ke café itu lagi. Meskipun sebelumnya aku pernah ke tempat itu untuk mengicipi kopinya saja, tapi belum dengan satupun makanannya. Jadi ku kira tak ada salahnya jika singgah ke sana sebentar, sebelum kembali ke Jakarta lagi.


‘Ting!!!’


Lonceng café ini selalu berbunyi setiap kali ada orang yang keluar masuk melalui pintu ini. Hal itu membuat beberapa orang melakukan gerakan refleks untuk menoleh ke arah kami. Sangat biasa untuk terjadi di café, hal-hal semacam ini. Jadi sudah tak perlu heran lagi, apalagi aku terrgolong orang yang sering mampir ke café hanya untuk sekedar duduk atau sambil mengerjakan tugas.


‘DRRTTT!!!’


Sial! Tiba-tiba saja ponselku bergetar pelan. Mau tak mau aku harus mengalihkan seluruh perhatianku kepada benada persegi panjang itu.


“Mau pesen apa sha?” tanya mama padaku.


“Terserah mama aja, samain aja kayak punya mama.” balasku acuh tak acuh.


“Oh, oke deh.” Balasnya singkat.


Aku kembali sibuk berkutat dengan poselku yang satu ini. Entah kenapa belakangan ini layarnya menjadi kurang sensitif dengan sentuhan. Sebenarnya hal ini membuatku sangat kesulitan. Seingatku aku telah memakai ponsel ini sejak kelas tiga SMP, dan sejauh ini aku belum pernah menggantinyya sama sekali. Mungkin aku harus segera menggantinya dengan yang baru.


“Sha, lo kapan pulang?”


“Gue ada hal penting yang perlu diomongin sama lo”


“Ini penting dan gue nggak bisa ngomongin ini gitu aja di telpon.”


“Jadi gue harap lo buruan balik ya.”


Begitu tulis Stefani di pesan teks singkat tersebut. Aku sendiri tak tahu hal apa yang membuatnya seperti ini. Kelihatannya ini hal yang cukup serius, sehingga harus dibicarakan empat mata secara langsung.


“Nanti malam aku udah balik ke Jakarta.”


Ketikku di atas panel keyboard ponsel tersebut.


“Oke, kirim.” batinku dalam hati.


Setelah menekan tombol kirim, itu artinya semua urusanku telah selesai. Aku menyimpan benda itu agar tak menggangguku lagi. Aku tak pernah mengira jika memegang ponsel untuk beberapa waktu saja, mampu membuatku mengabaikan dunia di sekitarku untuk selama itu. Aku telah melewatkan beberapa kejadian yang barusaja terjadi tadi.


“Permisi, ini makanannya.” ujar seseorang yang tiba-tiba datang dengan nampan di tangannya.


Aku lantas mendongakkan kepalaku ke arah pelayan café tersebut.  Ternyata itu adalah orang yang sama dengan yang ku temui kemarin. Kelihatannya dari kemarin cuma Bima saja yang menjadi pelayan di café ini. Aku tak tahu apakah dia akan keteteran atau tidak, untuk menangani café ini seorang diri.


“Terimakasih.” ucapku padanya sambil tersenyum kecil, disusul oleh mama dan papa.


“Selamat menikmati hidangan yang kami sajikan.” balasnya dengan ramah, kemudian undur diri.


Ternyata mama memesan bakso kuah aci, khas kota ini. Sebelumnya aku memang belum pernah mengicipi makanan yang satu ini. Biasanya hanya batagor, cilok, cireng, cimol atau semacamnya. Meskipun aku sering menjumpai makanan yang satu ini di Jakarta, tapi sampai saat ini aku belum pernah mencobanya.


Semua orang tampak menikmati makanannya dengan khidmat. Bahkan tak ada satupun dari kami yang berbicara saat sedang menyantap makanan yang satu itu. Kami terlalu sibuk untuk menikmati cita rasanya, dalam setian centi gigitan. Antara lapar dengan enak memang sulit untuk di bedakan.


“Aku aja yang bayar ma.” usulku pada wanita itu.


Mama hanya mengangguk singkat, sambil menyerahkan beberapa lembar uang pecahan seratus ribu rupiah kepadaku. Aku lantas menuju meja kasir untu bertemu dengan Bima, sekaligus membayar tagihan bill nya. Aku harus mengucapkan sesuatu padanya, yang sempat ku lupakan begitu saja. Aku ingin mengucapkan terimakasih kepada pria itu, atas sarapan yang ia berikan tadi pagi. Aku terlalu terburu-buru sehingga sampai lupa hanya untuk sekedar mengucapkan terimakasih saja.


“Permisi, boleh minta bill nya?” ucapku dengan perlahan dan lembut.


“Tentu saja!” balasnya sambil tersenyum girang.


“Maaf kalau tadi pagi aku langsung pergi begitu saja.” ujarku sambil memainkan jari tanganku.


“Tidak apa-apa, bukan masalah yang serius kok.” balasnya dengan santai.


“Omong-omong terimakasih untuk sarapannya tadi pagi.” ucapku dengan kedua sudut bibir yang terangkat.


“Bagaimana, kau suka?” tanya nya padaku.

__ADS_1


Aku mengangguk dengan antusias, sambil mengiyakan perkataannya barusan.


“Adikku Dhea, dulu juga suka dengan roti isi kacang merah  begitu. Karena ku pikir kau mirip dengan Dhea, mungkin kau akan menyukai yang satu itu.” jelasnya dengan panjang lebar.


“Ini bill nya, totalnya tujuh puluh lima ribu.” lanjutnya sambil memberikan bill tersebut padaku.


Aku segera mengeluarkan satu lembar uang dengan pecahan seratus ribu rupiah. Aku tak memiliki uang pas, karena hanya ini yang diberikan oleh mama tadi.


“Sebentar akan ku ambilkan kembaliannya.” ujarnya sambil berkutat dengan mesin kasirnya tersebut.


Aku kembali mengangguk, untuk yang kesekian kalinya. Tak lama kemudian akhirnya Bima selesai dengan pekerjaannya barusan, dan segera memberikan uang sisa kembalian yang menjadi alasan utamaku menunggu di sini. Pria itu juga mengingatkanku agar jangan lupa untuk kembalil lagi ke sini nanti malam. Sesuai dengan janji yang telah kami sepakati bersama seperti kemarin malam.


Mungkin aku akan langsung beberes, agar nanti malam bisa mengobrol sedikit lebih lama dengannya. Aku ingin merasakan Kak Sendy kembali hadir untuk malam ini. Hanya sekali lagi saja sebelum aku kembali ke Jakarta. Meskipun aku tahu jika orang itu bukan benar-benar Kak Sendy. Dia hanyalah seorang penjaga café bernama Bima yang berwajah mirip dengan pria itu.


Sampai saat ini aku tak tahu pasti kenapa aku belum bisa melepaskannya. Mungkin dulu aku terlalu mencintainya, sehingga sangat sulit untuk menjadi terlalu membencinya. Walaupun sebenarnya di satu sisi aku sangat membenci diriku sendiri dan dirinya. Entah kenapa erangan takdir harus membawa kami bertemu. Aku tak pernah meminta untuk dipertemukan dengan orang seperti dirinya.


Mencintainya benar-benar membuat diriku seperti orang yang sangat memalukan. Aku tak tahu harus bagaimana, semuanya telah terjadi begitu saja. Rasa dan harapan yang terus tumbuh ini, membuatku kehilangan kendali atas diriku sendiri. Semua terjadi di luar kendaliku untuk pertama kalinya.


Orang bilang cinta itu indah, tapi tidak denganku. Aku adalah satu-satunya orang yang bertentangan dengan pendapat itu mungkin. Aku terlalu membantah pendapt yang satu itu, karena pada kenyataannya semua hal itu tak seindah yang ku bayangkan selama ini. Ekspektasi sering berlaku dengan begitu kejam memang. Terkadang ekspektasi membuat kita melambung tinggi, menerbangkan kita dengan sayap-sayap harapan yang belum tentu akan terwujud. Ketika kita sudah terbang hingga puncaknya, realita datang untuk menjatuhkan kita dengan tiba-tiba. Jika dipikir-pikir sangat tragis memang, tapi begitulah cara kerjanya.


***


Hari ini mau tak mau aku terpaksa menggunakan kacamtaku, meski sebenarnya aku enggan. Lensa kontakku yang terakhir itu sudah berakhir di tempat sampah hotel. Jadi tak ada pilihan lain selain memakai kacamata ini. Terkadang memang menyebalkan, memiliki kondisi mata sepertiku. Aku harus terus bergantung kepada kontak lensa atau tidak kacamata.


“Fiuh…”


Aku menyeka keringat yang berjalan menyusuri wajahku. Akhirnya selesai juga berberesnya, aku juga telah memastikan ke semua ruangan yang ada di sini jika barangku taka da yang tertinggal satupun. Sepertinya semua barang memang telah masuk koper, aku yakin sekali soal itu. Tapi meskipun begitu aku harus tetap mengeceknya berulang kali. Karena kami akan check out nanti malam, maka bisa ribet urusannya kalau sampai ada barang yang tertinggal. Untuk kali ini aku tak boleh ceroboh lagi.


Aku mengalihkan pandanganku ke arah jam tangan, yang tengah melingkar dengan indah di pergelagan tanganku tentunya. Baru pukul lima sore, sepertinya masih sempat untuk bersiap-siap sebentar. Aku akan bilang kepada mama dan papa, jika nanti aku akan keluar sebentar. Setidaknya hari ini aku harus izizn, setelah kemarin main pergi-pergi saja. Ku pikir hal itu sama sekali tak sopan untuk dilakukan.


Tanpa berlama-lama, aku segera menuju ke kamar mandi. Tak lupa dengan membawa handuk putih yang tadi pagi ku campakkan dengan sembarangan seperti itu. Bahkan terkadang aku suka geleng-geleng kepala melihat kelakuanku sendiri.


‘SYURR!!!’


Mandi air hangat memang selalu menjadi pilihan terbaik. Kegiatan yang satu ini memiliki sisi relaksasi tersendiri yang cukup menenangkan. Mungkin ini alasannya kenapa kebanyakan orang yang patah hati selalu mandi dengan air hangat setelah mereka menangis sampai sembab semalaman. Ternyata air hangat ini bisa cukup membantu.


‘Tok! Tok! Tok!’


“Ya sebentar!” balas seseorang dari dalam.


Tak lama kemudian seseorang dengan handuk yang masih menelpel di kepalanya, datang menghampiriku untuk membukakan pintu bagiku.


“Eh, Eresha udah siap? Tapi kan kita baru mau check out nanti malam. Mama sama papa juga belum siap-siap.” jelas wanita tersebut yang langsung berbicara panjang.


“Aku mau minta izin keluar sebentar.” ucapku sambil berusaha meningkatkan level kesabaranku.


“Eh, mau kemana? Emangnya kamu tahu Bandung? Ntar kalau nyasar gimana? Ini udah malam loh.” balas mama yang langsung menyerangku dengan pertanyaannya.


Aku hanya bisa tersenyum tipis, meski agak terkesan terpaksa melakukannya. Aku berusaha menahan emosiku yang sebenarnya ingin sekali ku luapkan saat itu. Bagaimana tidak, lihat saja wanita ini terus-menerus berbicara dari tadi. Bahkan ia tak memberikanku kesempatan sedikitpun untuk menjawab pertanyaannya.


Namun kenyataan membawaku kembali pada diriku sendiri. Aku sedang menghadapi orang yang jelas-jelas lebih tua dariku. Jadi mau tak mau aku harus tetap menjaga sikap, meski terkadang mereka tak kalah menyebalkannya dengan Stefani.


Aku menarik napasku dalam-dalam, kemudian berkata,”mau ke café di depan sebentar.”


Mama terlihat mengangguk mengerti. Setidaknya aku bisa bernafas lega kali ini. Karena akhirnya mama berhenti berbicara juga untuk sementara waktu. Aku tak tahu apakah ia sedang kehabisan kata-kata atau semacamnya. Tapi yang jelas itu adalah sebuah hal baik bagiku.


“Ya udah, jangan kelamaan ya.” ujar mama sambil membenarkan handuk di kepalanya.


Aku mengangguk dengan semangat, sambil tersenyum puas. Karena akhirnya semuanya sesuai dengan dugaanku sebelumnya.


“Eh, tunggu dulu.” ucap mama secara tiba-tiba.


Aku lantas menaikkan kedua alisku dengan sorot mata penuh tanya.


“Mama liat-liat, barista café itu tadi mirip Sendy. Jangan-jangan kamu mau ketemua dia ya?” tuduh mama.


“Enak aja, ya enggak la.” bantahku dengan sgera.

__ADS_1


“Itu bukan Kak Sendy, cuma mirip aja kali.” lanjutku.


“Oh, gitu ya.” balasnya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Iya.” jawabku dengan singkat.


“Ya udah Eresha pergi dulu, bye!” lanjutku sembari berlari ngacir meninggalkan tempat itu


Aku bahkan tak ingin mendengar balasan darinya sama sekali. Jika aku terus memperpanjang obrolan dengan wanita itu, mungkin percakapan kami tak akan ada ujungnya nanti. Bisa-bisa aku akan terlambat untuk pergi ke sana. Jadi mau tak mau harus aku yang mengambil keputusan lebih dulu. Jika semua cerita harus diselesaikan, maka aku akan menamatkan kisah itu sekarang juga.


Dengan napas yang masi terengah-engah, aku memperlambat langkahku. Rasanya tak mungkin jika mama menyusulku sampai ke sini. Aku sudah sampai di lantai pertama, jadi ku pikir situasinya telah aman. Aku bisa pergi sekarang juga, tanpa perlu takut dibuntuti.


Aku merapihkan poniku yang sudah tak beraturan lagi susunannya. Pasti karena aku berlari-lari seperti tadi. Benar-benar melelahkan saja, ini jauh lebih lelah dari pada berlari keliling lapangan basket saat pelajaran olahraga.


‘Ting!’


Seperti yang tadi siang dan kemarin malam, lonceng ini kembali berbunyi. Tempat ini juga tak terlalu raimai setiap kali aku datang kemari. Aku mengedarkan pandanganku, untuk mencari tempat duduk yang nyaman menurutku. Setelah sampai di tempat duduk, aku kembali mengedarkan pandanganku ke segala penjuru tempat ini.


“Kemana pria itu, kenapa tidak terlihat sama sekali? Katanya mau bertemu denganku malam ini.” batinku dalam hati, sambil terus mencari batang hidungnya yang tak kunjung ku temukan itu.


Sekarang aku mulai terlihat seperti orang linglung yang kehilangan arah. Aku tak tahu harus tetap menunggu atau memutuskan untuk pergi. Satu menit, dua menit, tiga menit, aku masih berusaha untuk bertahan lebih lama lagi.


“Kemana dia? Biasanya dia selalu berjaga di café ini setiap saat.” gumamku pelan.


Setelah menunggu sekitar kurang lebih setengah jam, akhirnya aku memutuskan untuk beranjak dari tempat ini. Menungguunya hanya membuat waktuku terbuang secara cuma-cuma saja. Lagipula kenapa mendadak ia menjadi orang yang begitu menyebalkan seperti ini. Ku kira dia orangnya bukan seperti itu, namun kali ini dugaanku salah besar. Ternyata semua orang sama saja menyebalkannya.


Jika ia berniat untuk mengerjaiku, maka ini sama sekali tak lucu. Aku tak suka dipermainkan seperti ini. Aku tak suka jika harus dibuat menunggu oleh sesuatu yang tak jelas kapan ia akan datang. Karena aku terlalu sering menunggu, untuk sebuah ketidak pastian. Dan sejauh ini yang ku dapatkan dari menunggu hanyalah kecewa yang berlebihan. Aku mulai menyerah dengan setiap situasi yang memaksaku untuk menunggu.


“Mau pergi?” sahut seseorang dari belakang.


Tiba-tiba saja ada seseorang yang mencoba untuk menghentikan langkahku. Ia meraih salah satu tanganku dengan mendadak seperti ini. Aku lantas membalikka badanku, untuk melihat siapa kiranya orang ini. Dan yang kudapati hanyalah pria itu, yang selama ini ku sebut dengan Bima.


“Maaf kalau aku telat, tadi harus antar pesanan dulu.” ujarnya samblil menurunkan pandangannya.


“Enggak apa-apa.” balasku dengan tenang.


Sepertinya aku tak perlu mempermasalahkan hal itu. Lagipula ia sudah datang ke sini, sesuai dengan janjinya padaku meski agak terlambat. Aku bisa memaklumi hal itu, setidaknya alasan yang diberikannya itu cukup masuk akal.


“Bisa langsung bicara, ada perlu apa? Aku harus segera balik ke Jakarta.” ujarku dengan sedikit ragu.


“Oh, gitu ya. Andai aja aku datang lebih cepat tadi, pasti kita punya lebih banyak waktu buat ngobrol.” jelasnya dengan begitu kecewa.


Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa sekarang ini. Aku bilang begitu bukan karena marah dengannya, atau semacamnya karena Bima sempat terlambat. Tapi tadi mama sudah sempat meneleponku jika mereka sudah menungguku di parkiran. Mama juga sudah turut membawa serta semua barang-barangku ke bawah. Kami akan segera kembali ke Jakarta dalam beberapa menit lagi.


Jika bisa memilih, sebenarnya aku ingin sekali berada lebih lama di sini. Melihat bentuk nyata dari sosok semu yang selama ini hanya ada di dalam pikiranku saja. Hal ini terlalu ajaib bagiku, namun terkadang semesta tak pernah selaras dengan kita. Setidaknya aku ingin jika hari ini adalah hari terakhirku untuk melihat sosok Kak Sendy dalam bentuk senyata ini. Meskipun aroma tubuh mereka berbeda. Aku masih ingin melihat jiwa itu hidup sekali lagi, walaupun harus berada di raga yang berbeda.


“Ini hadiah dariku, sebagai kenang-kenangan kalau kita penah bertemu sebelumnya.” ujarnya sambil menyodorkan sebuah kotak yang dibungkus oleh kertas coklat.


“Terimakasih.” ucapku sambil menerima pemberiannya dengan senang hati.


“Aku akan anggap kamu sebagai adik aku sampai kapanpun, dan kamu bisa anggap aku sebagai kakak senior kamu itu sampai kapanpun.” jelasnya sambil tersenyum kecil.


“Itu pasti.” balasku dengan senyum tipis.


“Oh ya, kalau sudah sampai Jakarta jangan lupa dibuka. Di dalamnya ada nomer telepon aku, kalau nggak keberatan mungkin kamu bisa kabari aku kalau kamu suka sama hadiahnya. Jangan lupa simpan nomer aku, supaya lain kali kita bisa bicara tanpa harus terburu-buru gini. Lain kali kalau mau ke Bandung, kamu bisa kabarin aku juga lewat situ. Aku bisa nganterin kamu buat jalan-jalan keliling Bandung seharian.” jelasnya dengan panjang lebar.


Sepetinya pria ini terlalu menyayangi adiknya. Sampai-sampai ia menganggapku sebagai adiknya sendiri. Padahal hanya kebetulan saja wajah kami yang mirip. Kasihan Bima, pria ini harus kehilangan seseorang yang sangat disayanginya.


Meskipun wajahnya terlihat baik-baik saja, tapi aku tahu jika hati kecilnya sedang menangis. Mereka tak pernah benar-benar mengikhlaskan setiap orang yang pergi. Karena kepergian adalah sesuatu yang tak akan pernah bisa diterima dengan mudah. Termasuk diriku yang tak kunjung membaik setelah mendengar kabar buruk itu. Jiwa yang kesepian ini tak pernah benar-benar pulih setelah rasa sakit itu datang dengan kejamnya.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2