Pengagum Lara

Pengagum Lara
Episode 13


__ADS_3

  Setelah kejadian tadi sore, aku benar-benar tak habis pikir. Bagaimana bisa takdir sekejam ini padaku. Jika diizinkan, aku ingin menulis ulang takdirku. Aku tersentak dari lamunanku. Tak seharusnya aku berlarut dalam situasi ini. Bahkan jika ini memang takdirku, aku harus menerimanya. Walaupun sebenarnya aku ingin sekali menolaknya. Sial! Cacing-cacing di perut ku sudah berdemo. Wajar saja jam segini aku sudah lapar. Aku belum makan apapun dari tadi pagi. Aku hanya minum sekaleng susu di bandara tadi. Setelah itu tak ada satupun makanan masuk ke mulutku.


 


 


   Aku pergi ke dapur untuk mencari sesuatu yang bisa ku makan saat ini. Berharap menemukan sisa-sisa makanan di kulkas atau sepotong roti di atas meja makan. Tapi tak satupun ku temui.


 


 


"Mbok, enggak ada makanan lagi ya?" Tanyaku pada Mbok Wati.


 


 


  Seorang asisten rumah tangga yang telah lama mengabdi pada keluarga kami. Bahkan kami sudah menganggap nya seperti bagian dari keluarga kami sendiri.


 


 


"Waduh mbak, kebetulan udah abis. Tadi mbok cuma masak sedikit. Soalnya saya kira kamu kan belum pulang. Eh ternyata udah balik." Jelas Mbok.


 


 


"Hmmm. Mbak belum makan ya? Ini aja makan jatah mbok. Mbok sudah makan kok tadi." Sambung Mbok.


 


 


  Sebenarnya ia belum makan malam. Tapi ia menawarkan makanannya untukku. Aku tak setega itu pada wanita paruh baya ini.


 


 


"Enggak usah mbok. Aku cari makan diluar aja." Balasku.


 


 


Aku segera mengambil jaket, kacamata, dan dompet pastinya.


Sebenarnya aku adalah tipe orang yang tak terlalu suka memakai kacamata meskipun mataku saat ini sedang bermasalah. Jadi, aku hanya memakainya di saat-saat tertentu saja. Seperti sekarang misalnya.


 


 


"Mbok nanti tolong bilangin ke orang rumah ya kalau aku keluar sebentar mau cari makan."


 


 


"Siap mbak."


 


 


  Aku langsung berpamitan dan keluar menuju gerbang. Aku berhenti sejenak ditepi jalan tepat setelah aku menutup gerbang. Kemana aku akan mencari makanan? Dan aku memutuskan untuk pergi ke persimpangan dari kompleks perumahan ini. Disana ada penjual Sate Padang langganan kami sekeluarga. Dari pada aku harus pergi jauh ke pusat kota, lagian ini sudah malam.


 


 


  Aku berjalan menyusuri jalanan yang masih terbilang ramai di jam-jam segini. Masih banyak kendaraan yang berlalu-lalang. Sesekali aku menendang pelan kerikil yang berceceran di jalanan itu. Angin malam sesekali menggelitik halus tengkukku.


 


 


"Mang, satenya dong seporsi." Ujar ku pada Mang Adi.


 


 


"Sip, duduk dulu."


 


 


  Disini tak begitu ramai. Hanya tampak sekitar lima orang pembeli yang berjejer duduknya dalam sebuah meja panjang. Tiba-tiba sepasang tangan menutup mataku tanpa peringatan dari belakang. Spontan aku terkejut, siapa orang usil yang melakukan hal ini. Mood ku sedang tidak baik untuk diajak bercanda sekarang. Aku berusaha melepaskan tangan usil itu. Tapi, tenaganya terlalu kuat. Jadi rasanya percuma saja.


 


 


"Selamat malam." Bisiknya pelan ditelinga ku.


 


 


  Aku terdiam sejenak. Aku seperti mengenal suara ini. Suara berciri khas agar berat dan sedikit serak. Bisa kutebak ini suara seorang pria. Pria yang selama ini selalu mengisi hari-hariku. Pria gila itu, iya dia. Kalian pasti tau siapa yang ku maksud.


 


 


"Kak Sendy?"


 


 


  Kemudian ia segera menyingkirkan tangannya dari wajahku. Aku mengernyitkan kedua mataku. Rasanya setelah dirundung kegelapan barusan, tak sebuah cahaya pun dapat menembus indera penglihatan ku. Bahkan cahaya bola lampu yang sudah tergantung sejak tadi terasa menusuk teramat tajam. Aku memejamkan mataku sebentar lalu, memakai kacamata yang ku lepas di tengah jalan tadi.


 


 


"Lo kenapa?" Tanya pria itu.


 


 


  Ia tampak cemas, bisa ku rasakan hal itu. Ia kelihatannya merasa bersalah atas perbuatannya barusan setelah melihat ku tak baik-baik saja.


 


 


"Enggak kok." Ucapku yang tak ingin memperpanjang masalah.


 


 


"Tapi lo tadi..."

__ADS_1


 


 


"Udahlah gak usah dipikirin lagi."


 


 


  Aku segera memotong kalimat nya. Kemudian mencoba meyakinkannya bahwa aku tak apa-apa seraya menepuk pelan pipinya.


 


 


"Eh, btw Minggu depan bakalan ada persami. Lo ikutan gak?" Ujar Kak Sendy.


 


 


"Persami apaan?"


 


 


"Persami buat pelantikan anggota Marching band angkatan ke-10."


 


 


"Oh, mudah-mudahan aku bakal ikutan. Kakak ikutan?"


 


 


"Ya jelas dong."


 


 


Aku hanya tersenyum tipis menanggapi jawabannya barusan.


 


 


"Emmm, Kak. Kan kakak angkatan delapan. Aku angkatan sembilan. Berarti pas kakak tamat nanti, kita enggak bisa latihan bareng kayak dulu dong." Sambungku.


 


 


  Ia tampak hening sejenak. Raut wajahnya yang tadinya tampak bersemangat, muram seketika.


 


 


"Emmm, tau gak kak?"


 


 


"Tau apaan?"


 


 


 


 


"Terus apa? Terus cinta?"


 


 


"Kita ketemu di Marching band. Dan kita juga bakal berpisah di Marching band."


 


 


"Enggak gitu juga konsep nya sha."


 


 


"Dari yang dulu aku terlalu terobsesi sama kakak. Sampai-sampai hampir semua senior benci ngeliat aku. Aku yang terlalu ngejar-ngejar kakak. Sampai aku terkesan murahan."


 


 


"Lo gak murahan sha. Cuma waktu itu, gua belum ngeliat kebelakang. Gua gak ngeliat kalau ada daun yang mengikuti arah angin."


 


 


"Aku mau nanya sesuatu kak."


 


 


"Apaan?"


 


 


"Aku ini siapanya kakak?"


 


 


  Pria itu mematung. Diam membisu seribu bahasa. Batinnya terpukul kuat.


 


 


"Aku enggak berharap banyak kok kak. Mungkin aku akan tetap bertahan, entah sampai kapan. Mungkin hingga hati ini lelah. Walau terkadang aku masih berharap walau tak dianggap."


 


 


"Jangan ngomong gitu sha, lo itu  segalanya buat gua."

__ADS_1


 


 


"Manusia itu cepat berubah kak. Hari ini kamu segalanya, besok kamu siapa."


 


 


"Enggak semua manusia sama seperti yang lo bayangkan."


 


 


"Buktinya, enggak ada manusia yang konsisten. Apalagi perihal rasa."


 


 


"Ada."


 


 


"Siapa?"


 


 


"Orang itu lo. Lo adalah orang terkonsisten yang pernah gua temui di kehidupan gua."


 


 


"Kakak salah. Aku adalah orang ternekat, tergila, dan paling gak tau diri yang pernah ada di hidup kakak."


 


 


"Jangan terus-terusan bikin diri lo jatuh sha. Jangan buat seolah-olah lo yang bersalah atas rasa ini."


 


 


"Emang benarkan? Aku yang salah. Aku yang salah sudah jatuh terlalu dalam."


 


 


"Lo enggak salah."


 


 


"Neng, sate nya sudah siap." Ucap Mang Adi memecah perdebatan diantara kami.


 


 


"Oh iya Mang. Ini uangnya." Ujar ku sembari menyodorkan uang.


 


 


"Ini neng kembaliannya." Balas Mang Adi."


 


 


  Aku bergegas berdiri dari tempat dudukku, kemudian menghampiri Mang Adi yang tengah berdiri di samping gerobaknya.


 


 


"Mang, ini kembaliannya buatin seporsi lagi ya buat cowok yang duduk itu. Yang baju hitam. Bilangin ini dari Eresha. Oke Mang?" Bisikku pada Mang Adi.


 


 


"Siapa nya neng? Pacarnya ya?" Ledek Mang Adi.


 


 


"Temen Mang." Elak ku.


 


 


"Temen apa temen."


 


 


"Udah ah mang, panjang banget urusannya. Yaudah aku mau balik duluan. Jangan lupa ya Mang pesanan ku tadi. Awas salah orang loh."


 


 


"Oke sip aman itu mah."


 


 


"Sip, aku balik dulu ya. Awas lupa mang. Inget jangan salah orang."


 


 


"Iya neng."


 


 


"Kak Sen, aku balik duluan ya. Dadah." Ucapku pada Kak Sendy kemudian segera berlari secepat kilat.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2