
‘KRING!!!’
Aku sontak terbangun begitu saja saar suara nyaring itu nyaris memekakkan telingaku. Aku terkejut bukan main saat mendengar suara alarm tersebut. Siapa yang memasang alarm ini? Bukankah ini masih hari libur? Aku baru akan kembali masuk kuliah dua hari lagi. Kenapa harus bangun pagi jika aku masih perlu banyak istirahat llagi. Bukankah aku harus segera memulihkan diriku sendiri. Aku harus benar-benar siap secera fisik maupun emosi sebelum masuk kuliah nanti. Aku tak bisa kembali ke tempat itu dengan keadaan yang kacau seperti ini. Semua yang ku lakukan pasti akan juga turut kacau pada akhirnya. Aku tak ingin membuat diriku sendiri ataupun orang lain menjadi kecewa terhadap usahaku.
Aku lantas meraih benda bundar itu yang terletak pada sebuah meja, tepat di samping tempat tidurku. Kemudian aku menggosok-gosok kedua kelopak mataku, mencoba membuatnya terbuka. Seperti ada lem dengan kekuatan merekat yang luar biasa sampai aku tak bisa membuka kelopak mataku sendiri. Aku melihat jam tersebut dan ia menunjukkan pukul Sembilan lebih dua puluh menit. Sebenarnya tak ada begitu banyak kegiatan yang akan ku lakukan hari ini. Seperti yang sudah pernah ku bilang sebelumnya, jika aku masih libur semester. Bukan hanya aku, semua mahasiswa lebih tepatnya. Tapi karena sudah terlanjur bangun, aku jadi tak bisa melanjutkan tidurku lagi.
Pada akhirnya aku memutuskan untuk bangkit dari sana dan minum segelas air putih. Ini akan membantuku untuk mendapatkan kesadaranku secara utuh. Aku tak bisa beraktifitas jika masih seperti ini terus. Kemudian aku membuka tirai jendela yang menutupi kamarku. Hari ini sepertinya matahari akan bersinar sepanjang hari.
Tiba-tiba saja aku teringat akan satu hal. Kemana gadis itu pergi pagi-pagi seperti ini? Kenapa Amel tak ada di asrama? Aku segera berkeliling setiap sudut ruangan untuk mencarinya. Ku pikir ia sedang mandi, ternyata tidak sama sekali. Ia sudah melakukan hal itu tepat sebelum aku bangun. Dan sekarang Amel telah pergi meninggalkan tempat ini, tapi tak tahu entah pergi kemana. Aku memutuskan untuk meneleponnya dan bertanya kemana ia pergi sepagi ini.
Teleponnya berdering, itu artinya ponselnya aktif dan panggilanku tengah terhubung ke ponsel miliknya. Aku memberinya waktu untuk menjawab, tapi ia bahkan tak mengangkat telepon dariku sama sekali. Entah ia sedang sibuk dan tak mendengarnya, atau ia memang sengaja mengacuhkannya. Sepertinya ia marah karena semalam aku pulang terlalu terlambat dan membiarkannya sendirian di sini. Aku tahu jika ia cukup penakut untuk tinggal sendirian di tempat semacam ini. Tapi bukan itu bagian terburuknya. Aku telah melupakan janjiku untuk makan malam bersama dengannya. Aku sudah mengingkari janji yang ku buat sendiri dan aku pasti telah membuatnya kecewa.
Aku menyandarkan tubuhku pada tembok ruangan ini, sambil melihat pemandangan di luar jendela. Aku merasa bersalah atas semua kejadian ini. Aku harus meminta maaf kepada Amel. Aku harus mendapatkan maaf darinya, bagaimanapun caranya. Jika tidak, mungkin hubungan kami tak akan pernah bisa membaik.
Aku memutuskan untuk keluar dan mencarinya. Tapi sebelum itu, aku akan pergi ke kamar Ahn Yoo Ra untuk meminta bantuannya. Hari ini aku akan menyelesaikan dua masalah secara sekaligus. Pertama meminta maaf kepada Amel atas kesalah pahaman yang kami alami ini, dan yang kedua aku harus menyingkirkan hal buruk itu dari hidupku. Aku akan melakukan apa yang ku mau hari ini, semuanya. Tak ada yang bisa menghalangiku lagi kali ini, aku sudah berjanji kepada diriku sendiri untuk hal itu.
Aku segera mandi dan bersiap untuk menyusulnya. Meskipun sebenarnya sampai saat ini aku belum tahu persis dimana gadis itu tengah berada. Tapi setidaknya ia pasti meninggalkan jejak, atau paling tidak seseorang pernah melihatnya melintas. Petugas asrama pasti tahu kemana Amel pergi. Tapi sebelum itu, aku segera turun ke lantai bawah untuk melihat kondisi Ahn Yoo Ra. Ia pasti tak tidur semalaman. Semoga saja pagi ini ia baik-baik saja. Paling tidak semoga dia sudah bangun sekarang ini.
Aku memencet tombol bel, tepat di depan pintu kamar asramanya. Tak lama kemudian, seseorang terdengar membalasku dari dalam. Ia menyuruhku untuk menunggu sebentar saja, sampai ia keluar dan membukakan pintu untukku. Dan aku menuruti perkataannya begitu saja. Asrama kami memiliki tembok yang cukup tipis, jadi itulah sebabnay kenapa kami tak boleh berisik. Itu bisa mengganggu tetangga kamar kalian. Begitulah peraturan yang berlaku di tempat ini.
‘CEKLEK!’
Tak perlu menunggu lama, seseorang yang tinggal di dalamnya telah datang sambil membuka gerendel pintunya. Tapi ternyata orang itu adalah Nam Jin Yang, teman satu kamar Ahn Yoo Ra. Setiap kamar di tempat ini selalu di huni secara berpasang-pasangan. Jika memang ada yang tinggal sendiri, maka itu pasti karena ia tak mendapatkan pasangan sekamar.
“Dimana Ahn Yoo Ra?” tanyaku dengan menggunakan bahasa Korea.
Nam Jin Yang adalah orang asli keturunan Korea. Ia lahir dan besar di tempat ini, ia dibesarkan oleh keluarga Korea. Gadis itu sudah tinggal bertahun-tahun di sini sejak ia lahir. Jadi bahasa Korea adalah bahasa ibunya. Itu sebabnya aku tak bisa berbicara bahasa Indonesia seperti yang sering ku lakukan kepada Ahn Yoo Ra. Karena pasti ia tak akan mengerti sedikitpun dari apa yang ku katakan.
“Dia barusaja pergi bersama Amel.” jawabnya.
“Sungguh?!” balsaku dengan nada bicara seperti orang yang sedang terkejut.
“Apa kau tahu kemana mereka pergi?” tanyaku sekali lagi.
“Tidak. Aku tak tahu kemana mereka akan pergi hari ini.” balasnya secara gamblang.
“Tapi aku sempat mendengar jika mereka akan pergi ke toko bunga di ujung jalanan ini.” lanjutnya.
“Aku tak tahu pasti kemana mereka akan pergi setelahnya. Tapi kau bisa coba pergi ke sana untuk melihatnya. Siapa tahu mereka memang sedang ada di sana.” jelasnya padaku.
“Baiklah, aku akan menyusul mereka ke sana.” balasku sambil mengangguk-anggukkan kepalaku.
“Pergilah sebelum mereka pergi lebih jauh.” ujar Nam Jin Yang.
__ADS_1
“Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu.” balasku.
“Terimakasih banyak!” lanjutku sembari berlalu pergi dari tempat itu.
“Senang bisa membantumu. Semoga kau bisa menemukan mereka.” balasnya.
Aku segera turun dari lantai tersebut dengan menggunakan lift. Sebenarnya tak ada masalah juga jika menggunakan tangga. Tapi rasanya untuk saat ini akan jauh lebih menghemat waktu jika aku menggunakan lift. Setelah sampai di lantai dasar, aku segera berlari keluar untuk menuju ke toko bunga yang dimaksud oleh Nam Jin Yang tadi. Aku sendiri masih tak tahu untuk apa mereka berdua pergi ke tempat itu pagi buta seperti ini. Dan yang lebih mengherankannya lagi, mereka pergi tanpa mengajakku, atau bahkan sekedar memberitahuku soal hal ini.
Aku berjalan dengan tergesa, berharap agar aku bisa sampai di sana dengan tepat waktu. Mereka tak bisa melakukan semua ini sendiri. Entah sejak kapan mereka berdua tak menganggap ku seperti sekarang ini. Apa karena belakangan ini aku jarang menghabiskan waktu dengan mereka? Ku kira Amel dan Ahn Yoo Ra akan mengerti dengan semua itu. Terutama Ahn Yoo Ra, ku pikir ia paham betul dengan semua yang kurasakan selama ini.
Sesampainya aku di toko bunga itu, sama sekali tak ada siapapun di sana kecuali penjaga tokonya. Aku lantas tercengang ketika mendapati semua usahaku berakhir sia-sia seperti ini. Aku mencoba tetap tenang dan bertanya kepada penjaga toko yang ada di sana.
"Ada yang bisa saya bantu?" tawarnya padaku dengan bahasa Korea.
"Ah, tidak. Maaf...." balasku sambil membungkukkan badanku membentuk sudut empat puluh lima derajat.
"Tapi apakah anda pernah melihat dua gadis yang baru saja mengunjungi toko ini?" tanyaku.
Tanpa pikir panjang lagi, penjaga toko tersebut segera menjawab pertanyaanku. Ia tak terlihat ragu sama sekali, karena aku yakin jika ingatannya soal kejadian itu masih segar. Ia baru saja mengalami semua itu tak kurang dari lima menit yang lalu.
"Ah tentu!" balasnya sambil mengangguk pelan.
"Mereka adalah pelanggan pertama kami hari ini." jelasnya.
"Jadi apakah kau tahu kemana mereka pergi setelah keluar dari tempat ini?" tanyaku dengan rasa penasaran.
"Aku tak tahu kemana mereka pergi." ujarnya.
"Yang aku lihat, mereka pergi ke arah sana." lanjutnya.
"Kalau begitu apakah anda tahu bunga apa yang mereka beli?" tanyaku sekali lagi.
"Bunga lili." jawabnya singkat.
Aku mematung sejenak. Entah kenapa aku selalu seperti ini setiap kali tengah berusaha berpikir keras. Bunga lili bukankah bunga pertanda kematian? Bunga itu selalu ada di setiap upacara pemakaman warga Korea. Ahn Yoo Ra dan Amel juga pergi ke arah kanan toko ini. Kalau tak salah, beberapa blok dari sini ada sebuah pemakaman umum. Sudah sangat jelas jika mereka berdua akan berziarah ke makam tersebut dengan membawa bunga lili itu. Buktinya sudah cukup kuat untukku sampai bisa menyimpulkan seperti itu. Tapi ke makam siapa mereka akan pergi berziarah.
Aku harus segera menyusul mereka kali ini. Aku tak akan membiarkan langkahku tertinggal jauh di belakang mereka lagi kali ini. Akan ku pastikan itu. Aku harus tahu tentang semua yang mereka lakukan. Entah kenapa akhir-akhir ini sepertinya semua orang terlihat tengah bertingkah laku aneh. Bukan hanya aku, Amel ataupun Ahn Yoo Ra. Tapi semua orang yang berada di sekitarku. Arka dan bahkan Hwang Jeongin juga bertingkah sangat aneh kemarin. Sebenarnya apa yang mereka lakukan.
"Baiklah terimakasih banyak atas informasinya." ucapku, kemudian berlalu pergi dari tempat itu.
Aku tak tahu mengapa dan apa sebabnya hingga semua orang berbuat seperti itu. Semua orang seperti tak pada dirinya masing-masing. Mereka semua sangat aneh, sampai aku tak mengerti lagi. Dunia sedang menunjukkan sisi yang berbeda dari yang biasanya. Orang-orang juga berbuat hal yang demikian. Mereka menunjukkan sisi lainnya yang tak pernah ia perlihatkan sebelumnya. Membuat mereka semua seperti manusia yang saling tak mengenal satu sama lain.
Ku pikir aku akan jauh lebih cepat sampai di sana sebelum mereka berdua jika aku naik bis dari tempat ini. Ya meskipun jaraknya cukup dekat, tapi untuk saat ini waktu adalah pertimbangannya. Mungkin mereka berdua juga naik bis dengan jurusan yang sama, atau malah berjalan kaki dengan santai menuju ke tempat itu. Untungnya aku tak perlu menunggu lama di halte, karena bis nya segera datang sesaat setelah aku sampai di sana. Sepertinya hari ini nasib baik sedang berpihak kepadaku. Dewi Fortuna tengah menaungiku saat ini. Buktinya saja, entah berapa banyak keberuntungan yang berhasil ku dapatkan hari ini. Petunjuk demi petunjuk terus mendatangiku, bahkan tanpa ku minta sama sekali.
Sepertinya mulai hari ini aku harus percaya jika setelah hari-hari buruk itu, akan datang hari penuh kebaikan. Ibu Kartini pernah menulis di dalam sebuah suratnya “Habis gelap terbitlah terang.” Ku pikir kali ini taka da salahnya untuk percaya dengan pepatah kuno yang selalu diucapkan semua orang hingga saat ini. Bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian. Semoga saja hari ini aku benar-benar bernasib baik. Hari ini sungguh bertolak belakang dengan hari kemarin. Matahari juga terlihat bersinar dengan sangat terang, seolah telah siap untuk mengakhiri musin dingin ini. Semoga saja cuacanya tak memburuk dan tetap bertahan seperti ini hingga hari ini usai.
Setelah naik bis, aku turun di jalanan dekat makam. Seperti tempat pemakaman pada umumnya, taka da yang berbeda dari tempat yang satu ini. Yang terlihat hanyalah jajaran makam dan seorang penjaga makam yang terlihat mondar-mandir di dalamnya. Tempat ini terlihat begitu tenang sekaligus menakutkan di saat yang bersamaan. Aku tak tahu bagaimana bisa penjaga makam itu bisa terlihat begitu tenang berada di dalam sana. Sepertinya ia sudah bertahun-tahun mengalami semua ini setiap hari dan juga setiap detik dalam hidupnya. Aku tak tahu bagaimana bisa ia hidup diantara orang-orang yang telah mati itu.
__ADS_1
Aku berharap agar aku bisa seperti dirinya. Bisa tetap hidup dalam ketenangan yang diinginkan. Ia tetap bertahan hidup dalam ketakutan yang selalu mengancamnya setiap jarum jam berdetak. Andai saja aku bisa setenang dia. Mungkin ia terlihat biasa saja, karena sudah terbiasa dengan semua ini. Mungkin ia sudah berkawwan dengan sebagian besar penghuni tak kasat mata yang menghuni tempat ini secara terang-terangan. Dan mugnkin aku juga harus belajar terbiasa dengan semua hal buruk yang ku alami selama ini. Jika memang aku taka bisa keluar dari jeratan mematikan ini, setidaknya dengan terbiasa aku pasti akan merasa jauh lebih tenang. Tapi untuk menjadi terbiasa juga perlu waktu. Dan aku akan selalu menunggu waktu sampai ia tiba.
Setelah turun dari bis yang tadi, aku berjalan sedikit lebih dekat ke arah pemakaman. Sesekali mencoba mencuri-curi pandang ke dalam sana, meski aku tahu jika di sana tak ada hal menarik yang bisa ku lihat. Dan sebenarnya aku juga tak perlu melakukan hal itu. Tapi entahlah, kepalaku terus saja mengirimkan pesan reflex tersebut untuk dilakukan oleh tubuhku. Aku memilih untuk tetap menunggu di gerbang pemakaman tersebut. Setelah beberapa kali melihat ke dalam, sepertinya sedang tak ada orang yang sedang berziarah saat ini. Mungkin Ahn Yoo Ra dan Amel berjalan kaki ke tempat ini, karena mereka pikir tempatnya tak terlalu jauh. Lebih baik aku tetap menunggu di sini dan terus mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi di sini.
Aku memainkan batu kerikil di sekitarku. Sesekali menendang beberapa dari mereka agar menjauh dariku. Kenapa begitu alam sekali gadis-gadis itu. Apa mereka berjalan kaki sambil bergosip? Mungkin saja seperti itu. Karena sangat mustahil jika mereka naik bis sebelum aku. Bis yang datang ke halte sebelum aku naik, harusnya sudah berangkat sejak setengah jam yang lalu. Mustahil jika mereka sempat naik bis itu. Sampai di sini intuisiku sudah cukup kuat dan kali ini aku yakin jika aku bisa mengandalkannya.
“Sedang apa kau di sini nak?” tanya seseorang yang tiba-tiba saja datang dan memegang pundakku.
Aku lantas mebalikkan badanku dan mendapati bapak penjaga makam tengah berdiri tepat di belakangku. Aku lantas memegangi dadaku yang terasa begitu aneh. Jantungku rasanya seperti akan copot saat itu juga. Detak jantungku sudah tak beraturan lagi ritmenya saat ini. Ia berdetak dengan tempo dan aturan yang ia mau. Ia bekerja dengan seseuka hatinya. Pria tua ini nyaris membuatku serangan jantung di tempat seperti ini. Jika sampai aku kenapa-kenapa, maka mungkin ini adalah akhir dari hidupku. Sama sekali tak ada terlihat orang yang berseliweran di sekitar sini. Aku bisa saja mati mendadak karena tak mendapatkan pertolongan pertama.
“Kau mengagetkanku tuan.” balasku dengan menggunakan bahasa Korea, sambil tetap memegangi dadaku.
Rasanya sampai detik ini, detak jantungku masaih belum membaik sama sekali.
“Maafkan aku nak, aku tak berniat untuk mengangetkanmu seperti ini.” ujarnya.
“Tak apa tuan…” balasku.
“Tapi apa yang kau lakukan di tempat ini sendirian?” tanya pria itu lagi.
“Apa yang membuatmu datang kemari dan hanay berdiri di depan pintu gerbangnya saja?” lanjutnya.
Ah, pria tua ini benar-benar membuatku kesal! Ia bahkan tak memberikanku kesempatan untuk menjawab pertanyaan yang sempat ia lontarkan sebelumnya. Orang ini benar-benar mencoba untuk menguji batas kesabaranku.Untung saja dia lebih tua dariku, jika tidak mungkin aku akan memarahinya, sama seperti aku memarahi Arka kemarin. Usianya membuatku memiliki rasa hormat kepadanya sekarang ini. Karena hal itu pula, aku berhasil menahan diriku dari emosi yang tengan meledak-ledak ini.
“Oh, itu…. Aku dan temanku, kami telah membuat janji di tempat ini. Ia menyuruhku untuk menunggu di sini, karena kami akan berziarah ke makam seseorang.” ujarku sebagai alasan.
“Lalu apa dia belum datang?” tanya pria itu lagi.
“Arghh! Bukankah kau sudah melihat jika aku sendirian di sini? Kenapa masih bertanya?! Jika mereka sudah datan, aku pasti tak akan mungkin sendirian di luar sini dan berusaha untuk melawan rasa takutku mati-matian seperti ini.” gerutuku dalam hati.
“Belum sama sekali tuan.” balasku dengan nada bicara yang lemah lembut.
“Kau bisa menunggu di tempat lain, kenapa harus sendirian seperti ini di sini?” balasnya.
“Kau bisa menunggu di tempat yang sedikit lebih ramai. Tak baik berlama-lama berada di tempat seperti ini. Jangan membahayakan dirimu sendiri.” jelasnya dengan panjang lebar.
“Aku tidak bisa. Bagaimana jika temanku mencariku karena tak mendapatiku berada di tempat janjian kami sebelumnya?” balasku dengan anda yang terdengar begitu panic.
“Kau sendiri bukannya juga sudah jauh lebih lama berada di sini dibanding dengan aku?” lanjutku.
“Banyak hal yang tak kau mengerti di usia segini.” balasnya.
__ADS_1