
"Akhirnya gue bisa bernafas lega sha!" Ujar Stefani sambil menghirup udara disekitarnya dalam-dalam.
"Sama." Balasku singkat.
Tiga jam pelajaran matematika tadi membuat kami mematung di tempat bak mayat hidup. Sekujur tubuh kami berkeringat dingin. Syukurlah sekarang masa-masa sulit itu telah berlalu.
Aku menyenderkan badanku di kursi, kepalaku menatap langit-langit kelas.
"Sha, psttt... Sha!" Stefani menyengol lenganku beberapa kali.
Aku lantas melemparkan pandangan ke gadis yang sejak tadi duduk di sampingku.
"Itu." Tunjuknya ke arah pintu.
Bola mataku mengikuti arah jari telunjuknya.
"Arka?" Ucapku terheran.
Sejak kapan pria itu berdiri di depan kelasku seperti orang yang terkena hukuman seperti itu. Aku melambaikan tanganku mengisyaratkan agar ia masuk kesini.
Lagipula hanya aku dan Stefani yang berada di kelas. Semua siswa di kelas ini memang selalu ke surga mereka saat istirahat, ya apa lagi jika bukan kantin. Sebenarnya aku dan Stefani juga termasuk ke dalam golongan itu, tapi setelah melewati jam pelajaran matematika yang lumayan menguras otak tadi, rasanya kami tak memiliki sedikitpun tenaga yang tersisa bahkan untuk sekedar merangkak ke kantin.
Arka yang tampaknya sudah memperhatikanku sejak lama, langsung bersemangat ketika ku isyaratkan untuk menghampiri ku kesini. Langkahnya cepat, hampir berlari. Ia menarik kursi di depanku.
"Ini, makan." Arka menyodorkan kotak bekalnya.
"Ini apa?" Tanyaku sambil mengamati benda tersebut dari jauh.
"Kue coklat, aku tau kok kalau kamu belum sarapan tadi." Ucapnya dengan cepat.
Aku membuka kotak bekal yang berisi beberapa potong kue coklat tersebut. Aku membaginya Dengan Stefani.
Arka menyondongkan tubuhnya ke arahku, wajahnya berubah jadi lebih serius kali ini.
"Tadi kamu kemana?" Tanyanya dengan nada serius.
"Maksudnya?" Tanyaku balik, tak mengerti dengan maksud perkataan nya barusan.
"Tadi pagi aku ke rumah kamu, kamunya enggak ada. Terus pintu gerbang kamu dikunci." Jelasnya.
"Cieee... Yang udah pacaran serasa ada ojek pribadi aja nih. Tiap hari di antar jemput." Sambung Stefani yang memotong begitu saja.
Kami tak menghiraukan gadis itu sedikitpun, lagipula ia tampak tak keberatan. Ia sibuk menikmati kue cokelat dari Arka tadi.
"Panjang ceritanya." Jawabku singkat.
"Iya gara-gara lupa set alarm." Sambung Stefani sekali lagi.
"Lupa set alarm gimana maksudnya?" Kali ini Arka tampak merespon ucapan Stefani.
"Kamu aja deh yang jelasin." Serahku pada gadis itu.
"Jadi gini, semalam kan Eresha pulang malem. So, dia udah ngantuk banget dan main tidur aja sampai lupa set ulang alarmnya. Alhasil itu alarm bunyinya masih jam empat pagi kayak kemaren. Jadi Eresha kebangun, dan pergi sekolahnya cepetan dari biasanya. Itu dia makanya pas lo samperin ke rumah dia, Eresha nya enggak ada. Karena dia udah pergi duluan." Jelas Stefani pada Arka.
Sementara Arka tampak menyimak penjelasan Stefani.
"Bener gitu?" Tanya Arka padaku.
Aku menganggukkan kepalaku.
"Pasti lo kecapean gara-gara kelamaan di rumah aku ya?" Tanya Arka merasa bersalah.
"Dirumah Arka? Ngapain kalian?" Tanya Stefani curiga.
"Main musik bareng Mamanya." Jelasku singkat, tak ingin gadis ini menjadi salah paham denganku dan Arka.
"Oh." Balasnya singkat.
Ia terlalu sibuk menikmati kue coklat di genggamannya itu.
"Nanti siang jadi kan?" Tanya Arka lagi.
"Ha? Nanti siang? Ngapain?" Aku benar-benar sedang dalam kondisi tak baik untuk di ajak bicara.
Entah kenapa aku menjadi tak begitu fokus belakangan ini.
"Iya, manggung di Cafe sama Kak Sendy." Ia mendengus pelan mencoba lebih bersabar menghadapi ku.
"Oh. Iya."
"Kamu kenapa sih hari ini?"
"Enggak."
"Yaudah deh, aku balik ke kelas dulu ya." Pamit Arka.
Aku hanya menggangguk lemah sambil menatap punggungnya yang kian menjauh dariku.
Stefani menghentikan aktivitasnya sejenak, ia menyoroti ku lekat.
"Kalian kenapa? Berantem?" Tundingnya.
Aku menghela berat, tak tahu harus menjawab apa.
"Apa Arka marah karena aku tadi udah pergi duluan dan enggak bilang ke dia? Habis itu tadi aku malah nyuekin dia gitu. Apa dia marah sama aku?" Batinku dalam hati.
Aku bahkan tak tahu telah melakukan kesalahan apa, hingga membuatnya bersikap seperti itu padaku.
"Woy!" Sahut Stefani dengan nada tinggi.
Aku mendecak sebal karena ia telah membuatku tersentak.
"Apa?" Jawabku sedingin mungkin.
"Kalian berantem?" Stefani kembali mengulangi pertanyaannya.
"Menurut kamu, mungkin enggak sih kalau Arka marah sama aku gara-gara aku enggak pergi bareng sama dia tadi?"
"Kayaknya enggak mungkin deh." Ucap Stefani secara gamblang.
"Dia tuh orangnya dewasa banget tau. Jadi enggak mungkin lah dia marah gara-gara masalah sepele gitu doang." Jelas gadis itu.
Aku tak ingin memusingkan kepalaku dengan masalah itu.
***
"Apa mungkin aku harus jauhin Eresha ya?" Batin Arka dalam hati.
Ia menyenderkan tubuhnya di dinding toilet. Arka sedang menyendiri di sana. Sepertinya ia sedang memiliki masalah yang tak ingin diceritakannya kepada siapapun, termasuk Eresha.
Kemarin setelah Arka mengantarkan Eresha pulang, ia menemui Kak Sendy. Ia telah mendengar semuanya dari mulut pria itu langsung.
Kak Sendy mengaku telah mendapatkan semua ingatannya yang hilang saat itu. Sosok wanita yang selalu ada di dalam bayangannya selama ini adalah Eresha. Pada kenyataannya, sebelum insiden kecelakaan itu terjadi, ia dan Eresha sempat menjalin hubungan serius. Untuk lebih meyakinkan Arka, pria itu menunjukkan beberapa foto dirinya dengan Eresha. Dan itu memang benar wajah Eresha yang ada disana, bersanding dengan pria yang setahun lebih tua darinya itu.
Saat Arka melihat foto mereka berdua menggenakan seragam marching band lengkap, ia teringat perkataan Eresha saat di rumahnya. Saat Arka meremehkan Eresha jika gadis ini tak memiliki kemampuan sama sekali untuk bermain piano. Eresha mengatakan jika dulunya ia adalah pemain bell di Marching band. Batin Arka sangat terpukul, ia tak bisa menerima semua kenyataan yang begitu pahit baginya.
Eresha juga pernah bercerita kepada Arka jika firasatnya mengatakan bahwa ia pernah bertemu dengan Kak Sendy sebelumnya. Tapi gadis itu tak begitu percaya dengan intuisinya sendiri.
Pada kenyataannya mereka adalah dua insan yang dulunya saling mencintai, namun akibat kecelakaan maut itu mereka tak saling mengingat satu sama lain. Di satu sisi hati kecil Arka merasa kasihan dengan takdir yang begitu kejam memisahkan mereka dengan cara seperti itu. Namun, di satu sisi Arka juga tak ingin kehilangan wanita yang sangat dicintainya itu.
"Apa aku harus menjauhi Eresha, atau bahkan mutusin dia?" Tanya Arka dengan raut wajah sendu.
"Aku enggak yakin kalau Eresha masih bisa mendapatkan ingatannya kembali, aku takut jika kita langsung nyeritain ini ke dia, dia bakalan ngerasa terpukul. Dan aku yakin itu pasti buat dia bingung harus milih siapa diantara kita." Jelas Kak Sendy.
Percakapan mereka malam itu, sejujurnya telah membuat hati Arka terluka. Seolah ada beking kaca yang menyayat pelan hatinya, menyiksanya secara perlahan hingga mati. Arka bingung harus bagaimana dengan Eresha saat ini.
***
Aku menunggu Arka lewat dengan motornya di depan sekolah. Cuacanya kali ini benar-benar terik. Aku sesekali menyeka keringat ku yang mengucur deras.
Akhirnya pria itu datang, aku sudah kepanasan sejak tadi gara-gara menunggu kehadirannya di sini.
"Naik." Ucapnya dingin.
Aku merasa ada yang aneh dengan Arka hari ini. Ia tak seperti biasanya, terlihat sedang banyak pikiran. Ia sedang tak baik-baik saja hari ini, sorot matanya menatap kosong ke jalanan di depannya.
"Ayo buruan!" Ucapnya dengan nada yang sedikit tinggi.
Aku tersentak begitu saja, sebelumnya pria ini tak pernah berbicara dengan nada kasar terhadapku. Aku tak ingin beradu emosi dengannya saat ini.
"Kamu kenapa?" Tanyaku dengan hati-hati, Arka sedang sangat sensitif hari ini.
Ia sama sekali tak menggubris pertanyaan ku barusan. Aku mencoba lebih sabar menghadapi Arka.
Tiba-tiba ia menepi di pinggir jalan. Aku kebingungan sekaligus heran dengan pria ini. Ia merogoh sesuatu dari dalam tasnya. Arka mengambil goodie bag berwarna merah muda.
"Ini." Ia memberikan goodie bag itu kepadaku.
Dengan ragu-ragu aku menerima benda itu. Aku memeriksa isinya, ternyata itu foto kami kemarin. Ia mencetak foto ini kemudian memberikannya bingkai.
"Bagus." Pujiku dengan tulus.
"Jaga baik-baik ya." Pintanya.
"Pasti lah. Nanti aku juga bakal pajang di kamar, di sebelah medali aku. Biar bisa aku pandangi setiap hari."
Tangan Arka meremas kuat celananya. Apa aku salah bicara, lalu menyakiti perasaannya.
"Maaf." Ujarku cepat.
"Buat apa?"
"Ya buat semua kesalahan yang pernah aku lakuin sama kamu selama ini."
Arka hanya menganggukkan kepalanya.
"Jaga baik-baik ya, mungkin suatu saat nanti kita enggak bisa kayak gini lagi."
"Maksudnya?"
"Mungkin kita enggak bakal bisa bersama lagi." Jawabnya dengan nada sendu.
"Kenapa?"
"Kita enggak bakal bisa nebak besok hubungan kita bakal jadi gimana. Tapi aku pengen hubungan kita tetap baik-baik saja untuk sementara ini."
"Kenapa untuk sementara? Kenapa enggak selamanya?"
"Karena aku enggak akan selamanya disisi kamu sha?"
"Tapi aku akan selalu disisi kamu."
"Aku pengennya juga gitu. Tapi kita enggak bakal bisa sama-sama lagi sha."
"Kenapa? Kamu pengen putus sama aku."
"Aku enggak ada bilang gitu."
"Jadi maksud kamu, kita adalah sepasang insan yang mencoba bersatu tapi tak mampu?"
"Seharusnya kata-kata tadi itu lebih cocok buat kamu sama Kak Sendy sha, bukan sama aku." Lirih Arka dalam hati.
Arka kembali menyalakan sepeda motornya, kemudian meninggalkan tempat itu.
***
Di sini kau dan aku
Terbiasa bersama
Menjalani kasih sayang
Bahagia 'ku denganmu
__ADS_1
Pernahkah kau menguntai
Hari paling indah?
Kuukir nama kita berdua
Di sini surga kita
Bila kita mencintai yang lain
Mungkinkah hati ini akan tegar?
Sebisa mungkin tak akan pernah
Sayangku akan hilang
If you love somebody could we be this strong
I will fight to win our love will conquer all
Wouldn't reach my love
Even just one night
Our love will stay in my heart
My heart
Pernahkah kau menguntai
Hari paling indah?
Kuukir nama kita berdua
Di sini surga kita
Bila kita mencintai yang lain
Mungkinkah hati ini akan tegar?
Sebisa mungkin tak akan pernah
Sayangku akan hilang
Bila kita mencintai yang lain
Mungkinkah hati ini akan tegar?
Sebisa mungkin tak akan pernah
Sayangku akan hilang
If you love somebody could we be this strong
I will fight to win our love will conquer all
Wouldn't reach my love
Even just one night
Our love will stay in my heart
My heart
My Heart- Acha Septriasa ft. Irwansyah.
"Lagu itu memang sangat cocok untuk menggambarkan kondisi kalian sekarang sha." Batin Arka dalam hati.
Sebentar lagi ia harus siap merelakan Eresha, bagaimanapun kini dirinya merasa bersalah telah merebut gadis itu begitu saja. Ia merasa jika dirinya lebih pantas di panggil pencuri. Dengan teganya Arka mencuri kebahagiaan pria yang sedang menyanyikan lagu itu berdua dengan pacarnya. Meskipun itu bukan sepenuhnya kesalahan Arka. Arka mungkin tidak tahu apapun soal ini jika kemarin Kak Sendy tidak menceritakan semuanya. Tapi Arka benar-benar merasa bersalah kini.
***
Para pengunjung memberikan tepuk tangan yang meriah setelah kami menyelesaikan lagunya. Mereka tampak begitu menikmati persembahan dari kami. Meski sejujurnya aku tak terlalu suka dengan lagu bergenre Ballad, tapi demi membantu teman ku yang satu ini itu tak jadi masalah. Kami mengucapkan terimakasih kepada seluruh penggunjung cafe yang telah sudi mendengarkan lagu dari kami. Aku kemudian turun dari panggung, menghampiri Arka yang duduk sendirian di pojok sana.
"Hai." Sapa ku berusaha ceria didepannya.
Tapi lagi-lagi Arka enggan menebar senyum dan leluconnya yang selalu mampu membuatku tertawa. Ia hanya tersenyum miring. Aku sedikit kecewa dengan respon Arka barusan. Mungkin sekarang sudah seharusnya berlaku timbal balik dengan Arka. Selama ini ia terus-menerus yang membuatku tertawa. Kini sepertinya harus aku yang gantian menghiburnya.
"Mau minum?" Tawar ku.
"Enggak usah, tadi aku udah pesan kok."
Lagi-lagi aku merasa kecewa, aku merasa gagal menghiburnya. Tapi aku tak akan menyerah begitu saja.
"Di dekat sini ada toko material gak?" Tanyaku kepada kedua pria itu sambil menyeruput minumanku.
"Di depan setahu aku ada." Balas Arka.
"Oh ya?" Aku memanjangkan leherku, melihat ke luar dari balik dinding cafe yang transparan.
"Yang itu?" Aku menunjuk bangunan tua yang di seberang sana.
"Iya." Balasnya singkat.
"Mau ngapain?" Tanya Kak Sendy.
"Mau beli sesuatu."
"Oh, yaudah nanti aku anterin aja." Sambung Kak Sendy.
"Enggak usah, aku sama Arka aja." Aku menolak ajakan Kak Sendy karena tak ingin membuat Arka semakin badmood.
"Enggak bisa, kamu sama Kak Sendy aja." Balasnya ketus.
Aku melongo tak percaya, bagaimana bisa pria itu menolaknya. Jangankan untuk menolak, dulu ia selalu menawariku tumpangan tanpa ku minta. Ada yang tak beres dengan pria yang satu ini.
"Mungkin dia ada urusan mendadak kali ya." Aku mencoba untuk tetap berfikir positif.
"Ya udah enggak apa-apa. Kamu lagi sibuk mungkin. Jadi aku enggak mau ngerepotin." Jawabku.
"Enggak." Balasku cepat.
Aku segera menghabiskan minumanku kemudian membayar bill nya di kasir.
"Ini mbak honor nya." Ucap si penjaga kasir.
"Oh, kasih ke mas yang tadi nyanyi aja mbak." Ucapku sambil menunjuk ke arah kedua pria itu duduk.
Aku segera keluar dari cafe itu, mendadak aku merasa kesal dengan kelakuan mereka berdua hari ini.
"Eresha! Mau kemana?" Teriak Kak Sendy dari bangkunya.
Arka bahkan samasekali tak memperdulikan ku. Aku mempercepat langkahku hampir berlari. Saat kedua pria itu menyusul ku keluar cafe, aku segera bersembunyi di gang kecil yang ada di samping tempat ini.
Dengan hati-hati, aku mengintip mereka dari balik tembok. Mereka menyalakan sepeda motornya kemudian sepakat untuk berpencar. Setelah merasa aman, aku segera keluar dengan tempat itu dan pergi ke toko material yang di maksud Arka tadi.
"Cari apa mbak?" Tanya si pemilik toko yang kelihatannya memiliki darah Tionghoa.
"Ada paku enggak ci?" Tanyaku sambil mengamati sekelilingku.
"Ada, mau yang ukuran berapa?"
Sial! Aku kan tidak tahu soal itu.
"Ukuran yang biasanya untuk majang foto aja ci, ada?"
"Oh, ada sebentar ya."
Si Cici pemilik toko masuk ke dalam, kemudian keluar dengan setoples paku.
"Mau beli berapa?"
"Sepuluh ribu dapet enggak ci?"
"Dapet, mau beli sepuluh ribu?"
"Iya ci. Segitu aja."
"Yaudah sebentar."
Si Cici mengambil sejumput paku dari dalam toples kemudian membungkusnya dengan kertas koran.
"Ini dia."
"Oh, ini uangnya ci. Terimakasih."
"Iya sama-sama."
Aku keluar dari toko itu, kemudian menunggu tadi si pinggir jalan.
***
Tadi siang aku mendapatkan telepon dari bibi, ia mengabarkan jika nenek sudah bisa pulang hari ini. Aku segera naik ke atas untuk menemui nenek. Tiba-tiba saja bibi baru keluar dari dalam kamar nenek.
"Eh, mbak udah pulang?" Tanya bibi dengan nampan di tangannya.
"Udah bi. Nenek ada di dalam?"
"Ada kok, masuk aja."
Aku menganggukkan kepalaku.
"Nek?" Sahutku sambil membuat pintu.
Nenek bersama siapa? Dia tampak di dampingi oleh seorang gadis yang membelakangi ku sehingga aku tak dapat melihat wajahnya. Disampingnya juga ada koper yang sepertinya bukan koper milik nenek.
"Eh, Eresha. Udah pulang nak?" Balas nenek.
Wanita itu membalikkan badannya sesaat setelah nenek merespon sahutan ku tadi. Wajahnya tak asing lagi bagiku.
"Kamu?" Aku mengernyitkan dahi ku.
"Renata kan?" Aku memastikan jika dugaan ku benar.
Wajahnya tampak sumringah ketika aku berhasil mengenali wajahnya yang sudah lama tak ku lihat.
"Eresha." Ia tersenyum lebar kemudian menghampiri ku.
Aku mundur beberapa langkah, tak sudi jika wanita itu mendekat.
"Kami kenapa? Masih marah?" Tanya Renata yang langsung kehilangan semangatnya.
Setelah insiden waktu itu, Renata membuatku begitu hancur. Bahkan mama, papa, dan pria yang tak bisa ku ingat wajahnya itu, mereka semua membenciku. Padahal aku tak melakukan apapun, tapi mereka semua mengambil kesimpulan jika aku yang membuat Renata celaka. Sejak saat itu aku jadi sangat membencinya.
"Ngapain ke sini?" Tanyaku dengan nada tak suka.
Lagipula aku memang tak suka kehadirannya disini.
"Renata kan mau lanjut kuliah disini." Sambung nenek.
"Kenapa harus disini? Kan masih banyak kampus di sana. Kalau enggak dapet kampus negeri, ya kampus swasta. Kenapa mesti ke Jakarta? Apa harus banget kamu ganggu hidup aku?"
"Tapi sha..."
"Kenapa harus di rumah nenek? Kenapa enggak ngekos aja?"
Mood ku langsung rusak begitu saja setelah melihat wajah wanita itu. Meski pada kenyataannya ia adalah kakak ku, tapi sampai sekarang aku masih belum bisa menerima kehadirannya di dalam hidupku.
Aku membanting pintu kamarku, sehingga menghasilkan suara debaman yang begitu keras. Aku mengatur emosiku yang meledak-ledak. Entah kenapa hari ini semuanya berbeda.
Mulai dari waktu yang berjalan dengan begitu cepat, Arka yang marah denganku, Renata yang terus mengikuti ku.
Ah, entahlah. Rasanya aku benar-benar-benar lelah menghadapi hidup yang penuh drama ini.
__ADS_1
Aku merogoh tasku, mengambil goodie bag yang diberikan Arka tadi. Walau sampai sekarang aku belum mengerti apa maksud perkataannya tadi saat memberikan ku foto ini.
Rasanya kemarin kami masih baik-baik saja. Lantas, sekarang mengapa semuanya hancur begitu saja.
Aku memaku Diding kamarku kemudian memajang foto itu, dan medali yang kemarin kami dapatkan bersama. Entah kenapa lagi-lagi aku menangis. Air mataku turun begitu saja saat aku melihat foto kami yang tergantung dengan potret wajah bahagia, padahal ada kesedihan yang begitu dalam yang kami sembunyikan dengan apik. Hingga kami sendiri tak pernah tahu jika ada jiwa yang sedang bersedih sendirian disana. Aku merasa sangat tertekan hari ini.
Dengan emosi yang membabi buta, tanpa ku sadari aku telah menusuk telapak tanganku sendiri dengan paku yang ku pegang dari tadi.
Aku terkejut bukan main dengan apa yang barusaja ku lakukan. Apa aku sudah gila? Aku mematung di tempat sambil menatap tanganku yang kini berlumuran darah tanpa tau harus melakukan apa.
Aku segera berlari menuju kotak P3K di sudut kamarku. Aku segera mencari kain kasa untuk membalut lukaku. Aku benar-benar panik saat itu, walau aku mencoba untuk setenang mungkin tetap saja tidak bisa. Bagaiman bisa aku tenang ketika melihat telapak tanganku terus menerus keluar darah yang tak bisa berhenti.
Aku sudah membalutnya dengan erat, berharap cairan berwarna merah yang menjijikkan itu segera berhenti.
***
Aku mendengar suara langkah kaki yang begitu jelas di lorong depan kamarku
"Sha! Ayo makan dulu!" Entah suara siapa itu.
Aku menaikkan selimutku rasanya sekujur badanku sangat dingin, aku begitu menggigil. Entah siapa wanita itu, aku tak bisa melihat jelas wajahnya. Mataku enggan terbuka. Aku bisa merasakan kehadirannya di sampingku kini. Iya memegangi jidatku, kemudian berteriak keras. Aku tak bisa mendengar dengan jelas kata-katanya meski ia sudah berteriak sekeras itu di dekatku. Perlahan kesadaran ku menghilang, kegelapan yang ku benci itu kini kembali menguasai ku.
***
Bibi datang ke kamar Eresha dengan tergesa, karena mendengar suara teriakan Renata yang terdengar jelas sampai ke dapur. Mereka terkejut bukan main ketika mendapati Eresha dengan tangan yang di balut perban yang kini sudah berwarna merah semua karena tercampur oleh darah.
"Handphone nya mbak Eresha mana?" Tanya bibi.
Renata segera merogoh semua kantong di seragam Eresha. Kemudian menyerahkan ponsel itu ke bibi.
"Mau ngapain bi?" Tanya Renata heran.
"Mau minta bantuan sama pacarnya mbak Eresha."
"Pacar? Siapa?"
"Mas Arka."
"Arka?"
Setahu Renata pacarnya Eresha adalah Sendy. Lalu siapa Arka, ia tak pernah mendengar nama itu sebelumnya.
"Halo, mas Arka. Mas Arka bisa kesini sekarang? Mbak Eresha pingsan, badannya panas, terus tangannya juga terluka."
****
"Ma, Arka bawa mobil ya." Arka pamit dengan Mamanya.
Arka tampak tergesa, setelah mendapatkan kabar dari bibi jika Eresha sedang terluka. Setelah tadi siang ia pergi dari cafe sendirian kemudian menghilang tak ada kabar, tak membalas pesan WhatsApp dari Arka, membuat pria yang sebenarnya masih mencintainya ini menjadi khawatir, sekarang gadis itu nekat menyakiti dirinya sendiri.
"Kenapa nak? Kok kamu kayak panik gitu?" Tanya Mamanya Arka yang khawatir dengan anaknya sendiri.
"Barusan aku dikabarin sama asisten rumah tangganya Eresha. Dia nekat nyelakain dirinya sendiri ma, dan sekarang dia pingsan, badannya juga panas." Jelas Arka yang semakin panik tak karuan.
"Astaga... Yaudah kalau gitu kamu hati-hati ya di jalan. Jangan ngebut." Peringati Mamanya.
"Iya ma. Kalau gitu Arka pergi dulu."
Arka segera mengambil kunci mobil milik Mamanya dan langsung tancap gas menuju rumah Eresha. Meskipun Mamanya sudah memperingatinya agar tidak kebut-kebutan, tapi kali ini Arka tak menuruti perkataan sang Mama yang biasanya tak pernah ia bantah sedikitpun.
Sesampainya di rumah Eresha, Arka langsung nyelonong masuk tanpa mengucap salam. Arka berlari menuju ke lantai atas yang kabarnya kamar Eresha berada disana.
"Eresha kenapa bi?" Tanya Arka khawatir.
Pria itu langsung mengecek suhu badannya, Eresha memang sedang mengalami demam tinggi. Arka mengamati telapak tangan Eresha yang terbalut kain kasa. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar, mencari apa penyebabnya hingga tangan gadis ini menjadi terluka seperti ini.
Ia menemukan setumpuk paku yang terletak di atas meja belajar Eresha, karena tadi setelah terluka ia tak sempat membereskan kekacauan yang telah ia buat itu. Ada banyak darah di sana, apa gadis ini sudah benar-benar gila hingga nekat berbuat seperti ini. Namun, disaat itu juga matanya tertuju pada foto yang di berikan Arka tadi siang. Gadis ini benar-benar memajangnya di sana.
Tanpa pikir panjang, Arka segera menggendong tubuh Eresha yang terkulai lemas itu. Ia cukup kuat untuk mengangkat tubuh mungil gadis ini. Arka membawanya turun ke bawah untuk dibawa masuk ke mobilnya kemudian dilarikan ke Rumah Sakit terdekat. Sementara bibi dan Renata mengikuti langkah Arka tepat di belakangnya.
"Kamu Arka?" Tanya Renata saat di perjalanan menuju Rumah Sakit.
"Iya, kenapa?"
"Kamu pacarnya Eresha?"
Arka sedikit ragu sebenarnya untuk menjawab pertanyaan yang satu ini. Pertanyaan yang cukup menjebak perasannya.
"Bukannya pacarnya Eresha itu...."
Renata belum sempat menyelesaikan kalimatnya, tapi pria ini sudah memotongnya.
"Iya, aku tau. Nanti aku jelasin di rumah sakit kalau Eresha udah di tanganin."
"Oke."
Bibi sengaja tidak ikut ke rumah sakit bersama Renata dan Arka, karena wanita separuh baya itu harus menjaga nenek yang kondisinya masih belum stabil.
Eresha langsung mendapatkan penanganan dari dokter jaga saat itu, Arka langsung menyelesaikan administrasinya sendirian.
"Jadi gimana cerita kamu tadi?" Tanya Renata setelah Arka selesai mengurus administrasi.
"Oke, jadi ceritanya setelah kecelakaan itu Eresha pindah ke Jakarta."
"Iya, terus?"
"Kita deket dan enggak lama setelah itu kita pacaran."
"Tapi kan Eresha pacarnya Sendy."
"Saat itu mereka berdua sama-sama kehilangan memori mereka karena kecelakaan itu."
"Serius?"
"Iya, tapi Kak Sendy udah mengingat semua itu. Dan sebelum ingatan Kak Sendy balik, kita bertiga sempat sahabatan. Hingga akhirnya aku tahu yang sebenarnya dari Kak Sendy soal kejadian itu."
"Terus Eresha udah ingat juga? Atau belum?"
"Kelihatannya belum."
"Jadi gimana hubungan kamu sama Eresha?"
"Kita masih pacaran, tapi aku udah berusaha buat menjauh dari dia. Aku dan Kak Sendy lagi nunggu waktu yang tepat buat nyeritain semuanya sama Eresha, atau nunggu waktu yang bicara dengan sendirinya."
"Maksudnya?"
"Dengan kembalinya ingatan Eresha soal kejadian itu. Tentang kehidupannya dimasa lalu."
"Kalau dia enggak bakal ingat gimana?"
"Intinya sekarang kami jangan cerita apapun dulu soal ini ke Eresha."
Renata mengangguk pelan.
"Kamu siapanya Eresha?"
"Oh, aku kakak nya."
"Kakaknya? Kok aku enggak pernah tau? Aku juga enggak pernah liat kamu di rumah itu."
"Eresha enggak pernah cerita sama kamu ya, kalau dia punya kakak?"
"Enggak tuh."
"Ya wajar sih sebenarnya. Dia juga benci banget sama aku."
"Kenapa?"
"Hubungan kita sempat renggang karena ya... Masalah keluarga sih."
Arka tak ingin menanyakan lebih jauh tentang hal apa yang membuat Eresha bisa begitu membenci kakaknya sekarang ini. Yang pasti ia sangat menghormati privasi keluarga mereka.
"Mas, mbak, temannya sudah sadar. Sudah boleh di jenguk, silahkan." Persilahkan si perawat.
"Oh, baik sus." Renata masuk duluan ke dalam.
"Teman saya kenapa sus?" Tanya Arka khawatir.
"Luka di tangganya sepertinya mengalami infeksi karena tidak dibersihkan dahulu sebelum diobati. Tapi, dokter sudah menanganinya kok mas." Jelas perawatan tersebut.
"Oh, baiklah. Terimakasih ya sus."
"Iya mas, mari."
Arka menyusul Renata ke dalam ruangan tempat Eresha di rawat.
***
"Sha."
Aku menoleh ke arah sumber suara itu. Arka datang ke sini? Apa dia mengkhawatirkan diriku?
"Sha, kamu enggak apa-apa?"
Bisa ku tangkap dengan jelas kecemasan yang tergambar dengan begitu jelas di wajah Arka. Mengapa ia masih mengkhawatirkan diriku, sementara aku sudah tak peduli sama sekali dengan diriku sendiri.
"Sha!" Sahutnya sekali lagi.
"Kamu enggak apa-apa kan?"
Aku menggelengkan kepalaku.
"Tangan kamu kenapa?"
Aku kembali menggeleng, enggak membuka suara sedikitpun.
"Kamu marah sama aku?"
"Kenapa kamu peduliin aku, disaat aku udah benci dan enggak peduli sama sekali dengan diri aku sendiri! Kenapa ka?" Aku membentak Arka sambil terisak.
Arka membelai halus kepalaku.
"Maafin aku."
"Kamu enggak salah."
"Terus tangan kamu kenapa?"
"Enggak penting."
"Kamu nusuk tangan kamu sendiri pakai paku kan?"
Mulutku terbungkam, bagaimana bisa Arka mengetahui hal itu.
"Jadi tadi pas di cafe kamu nanyain toko material cuma buat beli paku, terus nyakitin diri kamu sendiri seperti ini?"
"Enggak ka..." Jawabku lirih.
"Terus? Buat apa?"
"Buat perekam memori kehidupan yang kamu kasih ke aku."
Hati Arka terenyuh mendengar kata-kata yang barusan terlontar dengan polosnya dari bibir gadis itu. Ia tak menyangka jika foto itu akan sangat berarti baginya.
"Terus kenapa kami nusuk tangan kamu pakai paku itu?"
Arka mencoba untuk tak memperlihatkan kesedihannya.
"Aku hilang kontrol atas diriku sendiri. Aku terlalu benci sama diri aku sendiri."
***
Renata hanya menjadi penonton drama percintaan mereka yang lebih rumit dari yang ia bayangkan sebelumnya.
__ADS_1
Arka memeluk erat tubuh seorang gadis yang tengah duduk di hadapannya. Siapa lagi jika bukan Eresha. Arka merasa selalu membuat Eresha celaka, gadis ini tak akan aman bersamanya. Memang sudah sepantasnya ia kembali bersama seseorang yang dari dulu selalu menjadi pelindungnya.