
Kami berjalan kaki menuju sebuah tempat yang tentu semua orang juga tahu betapa mempesonanya tempat yang satu ini. Karena tak terlalu jauh dari café, jadi kami memutuskan untuk tak naik transportasi umum. Lagipula dengan berjalan kaki seprti ini mampu membuat badan terasa jauh lebih hangat. Selain itu kami juga bisa menghabiskan lebih banyak waktu untuk melihat pemandangan di sepanjang jalan.
Aku merapatkan syal yang ku kenakan saat itu. Aku tak ingin ada sedikitpun udara dingin yang masuk. Suhu hari ini naik dua derajat dari kemarin. Itu artinya hari ini menjadi dua derajat lebih hangat dari sebelumnya. Jalanan disekitar kami masih diselimuti oleh salju. Ke arah mana pun mata memandang, yang terlihat hanayalah warna putih. Seluruh kota masih tertutupi oleh salju. Tapi justru pada saat seperti ini pemandangan yang ditawarkan jauh lebih bagus.
Tak terasa sama sekali saat kami menghabiskan waktu bersama untuk berjalan menuju tempat ini. Sekarang tiba-tiba saja sungai itu sudah berada tepat di hadapan kami. Bukan sulap ataupun sihir, tapi rasanya semua itu seperti terjadi dalam sekejap mata. Seperti saat kita melakukan perjalanan ke tempat lain dengan kekuatan teleportasi.
“Ini namanya sungai Han.” ujarku sambil menunjuk ke arah sungai tersebut.
“Sungai ini terbentuk akibat pertemuan dari Sungai Namhan atau yang biasa disebut Sungai Han Selatan yang bermata air di Gunung Daedeok, dan Sungai Bukhan atau yang biasa disebut Sungai Han Utara, yang berhulu dari lembah Gunung Geumgang di Korea Utara.” jelasku dengan panjang dan lebar.
“Ternyata lo tau banyak ya.” balasnya sambil tersenyum tipis.
“Kan gue emang lumayan sering main ke sini.” ujarku.
“Sama siapa?” tanya Arka secara tiba-tiba.
“Sama Amel, temen satu asrama gue.” jawabku.
“Orang Indonesia juga?” tanya pria itu lagi.
Aku hanya mengangguk-anggukkan kepala ku, untuk mengiyakan perkataannya barusan.
“Di sini banyak ya orang Indonesia?” tanya paria itu untuk yang kesekian kalinya.
“Enggak banyak sih, cuma ya ada aja.” jawabku dengan apa adanya.
“Ternyata lo mau kemanapun, mainnya tetep sama orang Indonesia ya.” ujarnya.
“Cuma mereka yang gue punya sejak awal gue datang ke tempat ini.” ucapku dengan nada datar.
“Tapi sekarang lo kan juga punya gue di sini.” balasnya.
Aku kembali menganggukkan kepalaku untuk yang kesekian kalinya. Bahkan aku lupa sudah berapa kali aku melakukan hal itu hari ini.
“Itu namanya jembatan Hangang.” ujarku sambil menujuk ke arah jembatan tersebut.
“Han itu nama sungai ini, sedangkan Gang itu artinya sungai dalam bahasa korea. Jadi secara enggak langusng, nama jembatan itu ya jembatan sungai Han.” jelasku dengan begitu antusias.
“Lo tau banyak soal tempat ini. Udah cocok jadi tourism guide.” ujarnya sambil tertawa pelan.
“Emangnya menurut lo gitu?” balasku yang tanpa ku sadari ternyata ikut tertawa juga.
Aku memasukkan kedua tanganku ke dalam jaket musim dingin yang ku kenakan saat ini. Rasanya tanganku hampir membeku jika terus dibiarkan di luar sana.
“Harusnya kita datang ke sini pas malam hari.” ujarku.
“Kenapa emangnya?” tanya pria itu dengan begitu polosnya.
“Soalnya pemandangan di sini bakalan lebih bagus kalau malam hari.” jelasku.
“Memangnya kalau malam hari bakalan kelihatan jauh lebih istimewa gitu?” tanya Arka lagi.
“Jembatan itu bakalan dihiasi sama lampu yang menyala sepanjang malam sampai pagi.” tegasku pada pria itu.
“Ya udah kalau gitu kita tunggu di sini sampai malam aja. Gimana menurut lo?” usulnya secara tiba-tiba.
Kedua bola mataku lantas membulat dengan sempurna saat kalimat itu terlontar dari mulutnya dengan begitu saja. Aku sama sekali tak mengerti dengan apa yang ia pikirkan saat ini. Juga dengan jalan pikirannya yang tak pernah bisa ku tebak. Aku bertanya dalam hatiku saat ini, apakah ia sadar saat mengucapkan kalima itu? Apakah ia bisa mendengar perkataannya sendiri? Ah, ku rasa tidk begitu. Mana mungkin ia sadar, apa lagi mendengar ucapannya sendiri. Udara dingin di sini benar-benar mempengaruhi pola pikirnya. Suhu dingin membuat otaknya membeku dan itu sebabnya mengapa saat ini ia tak bisa berpikir dengan jernih seperi biasanya.
__ADS_1
“Jangan ngada-ngada deh!” ucapku dengan nada tinggi, berharap jika ia segera sadar.
“Gue seriusan.” balasnya dengan singkat.
“Kita bisa tinggal di sini sampai malam kalau lo mau. Dan kita bakalan liat pemandangan di sini.” ujarnya secara gamblang.
“Kalau gue enggak mau gimana?” tanyaku.
“Ya lo harus tetap mau lah!” tegasnya.
“Lo harus tanggung jawab sama ucapan lo sendiri.” lanjutnya.
“Ha? Maksudnya? Emangnya gue bilang apaan?” balasku yang semakin dibuat kebingungan oleh pria ini.
“Gue harus buktiin ucapan lo dengan mata kepala gue sendiri.” jawabnya.
“Gue harus liat sendiri kalau tempat ini beneran sebagus itu.” lanjutnya.
“Terserah lo aja deh.” serahku begitu saja.
“Ya emang terserah gue.” balasnya dengan nada bicara ketus.
“Anggap aja ini tuh sebagai permintaan maaf lo karena hari ini kita enggak bisa pergi ke kuil itu.” jelasnya dengan panjang lebar.
“Iya, oke-oke.” balasku sambil mendengus sebal.
Ku kira tadi pria ini tak akan mengingat soal hal ini sama sekali. Ku kira Arka akan memaafkannya dan memaklumi semua kejadian yang terjadi hari ini. Lagipula semua ini kan gara-gara dia. Kenapa ia malah balik menyalahkanku sekarang. Coba saja kalau dia tidak membiarkanku mendengar lagu yang hampir saja mengantarkan nyawaku ke dunia lain itu, pasti aku tidak akan berakhir begini.
“Mulai detik ini lo harus ikut kemanapun gue pergi. Lo enggak bakal kemana-mana tanpa gue dalam satu hari ini.” jelasnya.
Aku bahkan tak menggubris perkataannya barusan itu karena terlalu kesal. Dan aku rasa ia juga sudah tau kalau aku tak setuju dengan keputusannya ini. Tapi aku juga tahu jika hari ini ia melakukannya karena ingin membuatku cemberut sepanjang hari. Sungguh pria tanpa rasa perikemanusiaan sama sekali. Aku benar-benar tak habis pikir dengan sikapnya hari ini.
Sedetik kemudian ia menarik tanganku secara tiba-tiba. Sontak aku terkejut bukan main saat ia melakukan hal itu padaku. Kini aku tepat berada di belakangnya, jadi aku mohon jangan pernah berbalik. Aku akan tetap berada pada posisi ini, selama tangan itu masih menggenggamku. Aku berjalan dengan langkah yang nyaris seperti terseret itu. Dari dulu langkah kami tak pernah bisa sejajar. Arka selalu berjalan lebih cepat dan aku selalu tertinggal di belakangnya.
Hari ini ia seperti membawaku kembali ke hari itu. Hari yang pernah terjadi setahun yang lalu. Kini ia memutar balik waktu itu tepat di depanku. Membuat kami merasakan hal yang sama pada detik yang sama.
Sekarang kami hanya berjalan lurus tanpa arah. Entahlah, terus berjalan tanpa tahu kemana tujuannya dan dimana kami akan mengakhiri perjalanan ini. Bahkan aku sendiri tak tahu dimana aku akan berpijak saat langkah ini mulai terhenti. Ia terus membawaku kemana pun yang ia mau. Dan yang anehnya, aku tak pernah mengeluh soal itu.
Kami terus berjalan menyusuri jalanan sepanjang sungai Han. Melihat pemandangan dan suasana yang terus berganti pada setiap langkahnya. Situasi selalu berbeda saat aku mulai memulai langkah baru. Tempat yang pernah ku pijak saat aku pergi, belum tentu akan sama keadaannya saat aku kembali. Jadi aku akan menikmatinya saat ini. Tak peduli bagaimana dengan suasana hatiku saat ini. Yang aku ingin hanyalah melupakan semuanya untuk sesaat. Aku ingin terus berjalan seperti ini di jalanan ini. Berjalan tanpa beban sama sekali. Tanpa perlu takut dengan apa yang akan terjadi besok. Tanpa perlu mengkhawatirkan apapun.
Jika aku bisa berharap saat ini, maka aku hanya ingin agar waktu tetap berputar pada poros yang satu ini saja. Aku hanya ingin perjalanan ini terus berlanjut dan tak terhentikan. Aku berharap agar kami tak menemui tujuan akhir pada perjalanan kali ini. Semuanya seperti mimpi masa kecil yang kembali terjadi. Aku tak tahu harus bereaksi bagaimana lagi kali ini.
“Jadi, sebenarnya kita mau kemana?” tanyaku secara spontan.
“Kita enggak akan kemana-mana” jawabnya dengan begitu santai.
“Kita akan tetap di sini dan akan selalu begitu sampai malam datang.” lanjutnya.
“Dan itu artinya perpisahan kan? Langkah kita akan berakhir pada waktu yang telah ditentukan. Kemudian kita akan kembali pada jalanan kita masing-masing.” ujarku tanpa direncanakan sedikitpun.
Arka terlihat menarik napasnya dalam-dalam. Sepertinya kalimat barusan telah menyerang dadanya secara tiba-tiba dan itu membuatnya terasa sesak. Tapi begitulah kenyataannya, sulit untuk dicegah. Pada akhirnya semua manusia akan kembali sendirian. Memeluk dirinya sendiri dalam kegelapan dan menangisi semua kenangan buruk, tanpa memperdulikan satupun hal baik yang pernah terjadi sebelumnya. Tapi mau diapakan lagi, itu memang siklusnya.
“Gimana kalau kita cari makanan kayak street food gitu?” ujar Arka yang berusaha megalihkan topik pembicaraan.
“Bukannya kita baru aja selesai makan?” balasku.
“Ya apa salahnya kalau kita cari camilan gitu.” jawab pria itu dengan polos.
Aku mengangguk mengiyakan perkatannya barusan.
“Di daerah sana banyak street food.” ujarku sambil menunjuk ke arah sebuah gang.
__ADS_1
Di sisi lain, pria itu terlihat mengikuti arah kemana ibu jariku bergerak. Sedetik setelahnya, ia ikut mengangguk setuju. Tanpa berlama-lama lagi, kami segera menuju ke tempat yang ku maksud tadi.
Taka da yang pernah mengira jika di dalam gang yang tak begitu lebar ini terdapat pemandangan yang luar biasa. Sepanjang jalan terlihat begitu banyak orang pribumi yang menjajakan makanan khas dari negara mereka. Aroma itu sepertinya sudah sampai ke indra penciumanku terlebih dahulu. Itu karena aroma lezat dari setiap makanan itu telah memenuhi tempat ini, bahkan sebelum para pemiliknya datang. Mereka terjebak dan tak bisa keluar dari gang kecil ini. Jika dilihat sekilas, jalanan sempit ini seperti sedang ada festival makanan.
Saat menginjakkan kaki di sana, aku seperti berada pada dunia yang berbeda. Mereka seperti membawaku ke tempat lain yang selama ini tak pernah ku kunjungi sebelumnya. Baik aku mau pun Arka, kami sama-sama begitu kagum dengan apa yang barusaja kami saksikan saat ini.
“Jadi kita mau beli apa?” tanyaku dengan wajah yang masih tercengang.
“Jangankan lo, gue aja enggak tau harus gimana sekarang.” balasnya sambil tersenyum miring.
Kini gantian aku yang menarik tangan pria itu untuk ikut bersamaku. Sekarang gilirannya yang berjalan di belakangku dan terus mengikuti langkahku. Aku mengajaknya masuk dan menerobos keramaian itu dengan begitu bersemangat. Aku tak bisa berhenti tersenyum saat melihat semua hal yang berada di sekelilingku saat itu. Kemudian kami berhenti di tengah-tengah keramaian tersebut, sambil melihat sekeliling kami. Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru. Berharap menemukan sesuatu yang berarti di sini.
Aku benar-benar seperti seorang anak kecil yang kegirangan. Aku seperti seorang bajak laut yang begitu ambisius untuk menemukan dimana tempat harta karun berada. Aku tak mengerti dengan perasaanku sendiri saat ini. Ia naik dan turun dengan begitu cepat dan tajam. Seperti sebuah roller coaster yang melaju cepat melewati puluhan tanjakan dan turunan.
“I’m in race.” batinku dalam hati.
Senyum itu tak pernah pudar dari wajahku sejak beberapa menit yang lalu. Aku bahkan nyaris tak sadar jika ternyata kedua sudut bibirku sudah terangkat sejak tadi. Begitu pula dengan pria ini yang tanpa sadar sudah ku gandeng sejak tadi. Aku tak mengerti dengan apa yang sedang terjadi. Sepertinya semesta sedang memainkan taktiknya untuk mempermainkanku hari ini. Tapi bagaimanapun cara semesta yang mencoba untuk menjatuhkanku, aku akan tetap berada di atas sini. Karena aku menikmati semua yang ia lakukan hari ini. Aku tak peduli mau itu hal baik atau justru sebaliknya.
“Kita ke sana!” ajak ku dengan begitu antusias.
Arka juga terlihat tak keberatan dengan permintaanku barusan. Perasaannya saat ini tak jauh beda denganku. Aku tahu jelas soal itu, karena ia tak bisa membohongi dirinya sendiri jika ia sedang bersenang-senang saat ini.
Kami menghampiri seorang penjual bungoppang yang berada diantar kepulan asap penjual tteokbokki dan oddaeng itu. Penjual roti berbentuk ikan itu terlihat sudah lumayan berumur. Jika aku boleh menebak, bisa ku katakan jika pria ini berada di kisaran empat puluh sampai lima puluh tahun.
“Boleh beri aku satu bungoppang isi kacang merah?” ujarku kepada pria itu dengan bahasa Korea.
“Ya, baiklah.” balasnya kemudian segera membuat pesananku.
“Lo mau rasa apa?” tanyaku pada Arka.
“Coklat aja deh.” balasnya dengan singkat.
Aku kemudian mengangguk-anggukkan kepalaku.
“Tolong beri aku bungoppang rasa coklat satu lagi.” pintaku pada penjual roti berbentuk ikan tersebut.
Makanan itu lumayan terkenal di Korea Selatan. Kalian harus memasukkannya ke dalam daftar kuliner kalian yang harus di coba saat berkunjung ke sini. Selain rasanya yang enak dan beragam, roti ini juga memiliki bentuk yang lucu karena dicetak pada panggangan berbentuk ikan koi. Dan yang terpenting adalah harganya yang lumayan terjangkau, karena kebanyakan dijual di pinggir jalan seperti ini. Makanan ini tak sulit untuk ditemukan. Hampir selalu ada di setiap jalanan yang kita lewati.
“Ini dia!” ucap pria tersebut sambil menyodorkan bungoppang hangat tersebut kepada kami.
“Berapa?” tanyaku.
“Sepuluh won saja.” jawabnya.
Setelah selesai membayarnya, kami lantas kembali ke tepi sungai Han untuk menyantap makanan manis tersebut sambil menikmati pemandangan sungai Han yang nyaris membeku.
__ADS_1