
Tiba-tiba saja Kak Sendy muncul dari arah yang sama. Ia berlari dengan nafas yang memburu. Kemudian tubuhnya membungkuk, ia mencoba menenangkan dirinya sendiri.
"Arka mana?" Tanya Kak Sendy.
Aku tak bisa berkata sepatah katapun, aku hanya bisa mengarahkan jari telunjukku arah ruang IGD. Kedua matanya mengikuti arah jari telunjukku. Ia mendapati Arka yang terbaring sekarat di dalam sana. Sementara kami hanya bisa melihatnya dari balik kaca tebal ini sambil terus berharap agar ia baik-baik saja.
"Bagaimana dokter kondisi anak saya?"
Mamanya Arka langsung menginterogasi seorang dokter yang baru saja keluar dari ruangan tersebut.
Si dokter bertanya balik "Apa ibu keluarga pasien?"
"Ya, saya mamanya dok." Mamanya Arka langsung mengangguk cepat mengiyakan pertanyaan dokter.
"Anak ibu mengalami koma." Ucap dokter yang menangani Arka dengan berat hati.
Kami semua yang berada di sana langsung terpukul mendengar kalimat itu. Ini lebih menyakitkan daripada kalimat yang Arka ucapkan tadi. Tangisan mereka pecah saat itu juga. Pandanganku menembus kaca jendela yang cukup tebal tersebut.
"Arka kamu pantas untuk membenci aku, karena aku udah buat kamu jadi kecelakaan seperti ini." Gumam ku dalam hati.
"Tapi aku enggak akan pernah memiliki satu alasan pun untuk membenci kamu ka, kalau sampai kamu kenapa-kenapa aku enggak akan bisa maafin diri aku sendiri."
***
Setelah pulang sebentar untuk berganti pakaian, aku kembali lagi ke rumah sakit untuk menjaga Arka. Mamanya tak bisa setiap waktu berada di sampingnya, ia harus bekerja banting tulang untuk biaya rumah sakit Arka. Hati seorang ibu mana yang tak akan terpukul melihat kondisi anaknya seperti ini.
Aku duduk disamping Arka, menemani raganya yang sendirian disini. Sementara jiwanya aku tak tahu entah pergi ke mana. Aku juga pernah mengalami koma akibat kecelakaan bis itu. Aku bisa merasakan jika jiwaku baik-baik saja, sementara kondisi ragaku rusak parah sampai nyaris lumpuh.
Aku mengelus halus rambut pria itu. Jika saja tadi aku bisa bertahan lebih lama, mungkin Arka tidak akan panik dan akhirnya seperti ini. Aku terus saja menyalahkan diriku sendiri, ini adalah kesalahan terfatal yang pernah ku lakukan.
***
Arka terbangun dari komanya, tapi tidak dengan raganya. Ia terkejut bukan main saat mendapati raganya terbaring lemah di atas tempat tidur. Sementara ia sendiri sedang berada di ambang pintu. Arka sempat berfikir apakah jiwa nya terpisah dari raganya.
Pandangan Arka tertuju pada seseorang yang berada di samping tubuhnya saat itu. Ia menghampiri orang tersebut yang tengah tertidur pulas di samping tubuh Arka.
"Eresha?" Gumam Arka pelan.
Ternyata gadis ini masih memperdulikannya, meskipun Arka tau bahwa ia telah menyakiti hati gadis itu dengan perkataannya tadi.
Arka mengelus halus rambut hitam Eresha yang terjuntai panjang. Tapi nyatanya ia sama sekali tak bisa menyentuh gadis itu. Jiwanya saat ini seolah telah menyatu dengan ruang hampa, yang membuatnya tak bisa menyentuh apapun.
"Kapan aku bisa kembali ke tubuhku?" Batin Arka dalam hati.
"Aku tak ingin membuat hari-hari mereka menjadi kelabu."
***
"Arka?" Aku terbangun dari tidurku.
Aku belum benar-benar terlelap, hanya sekedar memejamkan mataku. Namun kesadaran ku masih seutuhnya bersamaku.
Aku merasa jika ada sesuatu yang seolah membelai lembut kepalaku. Sementara hanya ada aku dan Arka di ruangan ini. Kondisi Arka sendiri masih belum sadarkan diri, jadi itu tak mungkin Arka. Aku mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Bisa jadi itu hanya perasaanku, mungkin saja itu kipas yang berada di sudut ruangan yang sedang menyala. Dan aku mengira jika itu adalah Arka.
Aku menatap Arka dengan sorot mata sendu. Tanganku menangkup salah satu pipinya, aku mencoba tersenyum dihadapannya walau secara terpaksa.
"Arka bangun..." Ucapku dengan suara lirih.
"Kamu benci kan sama aku? Kalau kamu memang benci sama aku, ayo bangun. Setelah itu kamu boleh marahin aku, ngehukum aku, atau kalau kamu mau balas dendam sama aku atas kehadiran ini juga boleh." Ucapku dengan suara parau.
"Arka bangun, ingatkan kata mama kamu? Kalau kamu itu harus banggain mama kamu dengan mewujudkan mimpimu untuk jadi seorang arsitek."
"Arka harus bangun, kamu harus jadi arsitek yang lebih hebat dari Kak Sendy."
Ucapku dengan senyum yang masih tetap mengembang, namun air mata itu sudah tak mampu lagi ku tahan.
Seharusnya aku sudah tidur sekarang, seperti yang di bilang dokter jika ku tidak boleh mengurangi waktu istirahat ku karena itu bisa berpengaruh terhadap kesehatan ku. Tapi jujur saja aku tak akan bisa tertidur sebelum melihat perkembangan yang baik tentang Arka. Mataku juga masih bengkak karena tak henti-hentinya menangis dari tadi siang. Tak penting telah seberapa banyak air mata yang ku keluarkan untuknya.
Tuhan, aku hanya meminta satu hal malam ini. Kembalikan ia seperti semula, sembuhkan semua luka yang ia derita. Baik itu luka fisik maupun batin. Ia masih berhak bahagia Tuhan, berikanlah ia hidup. Jika ia pergi, akan semakin banyak luka yang tercipta. Akan semakin banyak juga yang lumpuh dan terpuruk, mungkin tak akan bisa bangkit lagi.
Tuhan, masih banyak insan yang menyayangi Arka disini. Jangan biarkan ia terus seperti ini. Malam ini ada banyak kalbu yang berharap. Berikan ia lebih banyak waktu, engkau boleh mengambil waktu milikku Tuhan. Berikan saja kepada pria ini, ia lebih berhak atas itu. Tak apa jika aku hanya memiliki sedikit waktu saja, aku terlalu bosan di tempat ini.
"DRRTTT"
Tiba-tiba ponselku bergetar pelan, ada telepon masuk dari Stefani.
"Halo stef."
"Halo sha, lo dimana kok enggak ada di rumah?"
"Kamu ke rumah aku?"
"Iya, nenek lo bilang tadi lo pergi sama kakak lo."
Aku baru ingat jika tadi setelah mengantarku ke rumah sakit, Renata langsung pergi untuk menginap di kos temannya.
"Oh, aku di rumah sakit."
"Lo di rawat di sana?"
"Enggak, aku baik-baik aja kok."
"Terus siapa yang sakit."
"Arka." Jawabku dengan berat hati.
"Oke-oke gue otw ke sana. Kasih tau alamatnya ya."
"Iya."
Aku segera mematikan ponselku. Mungkin seharusnya Stefani tau, karena bagaimanapun mereka kan juga teman walau tak terlalu akrab.
***
"Sha!" Sahut seseorang dari balik pintu.
Aku menoleh ke arah pintu dan mendapati Stefani berada disana. Tapi, kenapa Clara ikut kesini juga. Mereka berdua segera menghampiriku.
"Clara kok ikut juga?" Tanyaku.
"Ya tadi gue emang bareng Clara pas kerumah lo. Kita tadi niatnya mau liat kondisi lo setelah kejadian tadi siang." Jelas Stefani.
"Terus keadaan Arka gimana?" Tanya Clara.
"Koma." Jawabku singkat.
Gadis itu langsung menghampiri Arka yang sampai sekarang belum sadarkan diri juga. Ia sama cemasnya dengan diriku.
"Aku tinggal dulu ya." Ucapku.
Aku langsung berlari meninggalkan ruangan itu. Langkahku terhenti di balkon rumah sakit. Tempat ini masih lumayan ramai, masih banyak karyawan rumah sakit yang sibuk wara-wiri. Tiba-tiba Stefani menepuk pelan pundak ku dari belakang. Sepertinya ia tadi mengikuti ku.
"Gue pamit pulang duluan ya." Ujar Stefani.
"Loh, Clara mana?" Tanyaku pada Stefani saat gadis itu tidak ada bersamanya.
"Dia bilang mau jagain Arka malam ini." Jelas Stefani.
"Oh, yaudah hati-hati ya." Ujarku.
Kemudian Stefani pergi meninggalkanku, lagian jam besuk juga sudah selesai hari ini. Jika Clara yang akan menjaga Arka malam ini, itu artinya aku sudah tidak dibutuhkan lagi disana. Tapi aku masih ingin tetap berada di sini.
Aku menatap langit malam yang kelabu dari sini. Tak ada satupun bintang disana, hanya sang purnama. Sama seperti di mimpiku waktu itu, walaupun aku tak terlalu yakin jika itu adalah sebuah mimpi.
Aku memperbaiki hoodie ku sebelum hawa dingin menyergap masuk. Aku memutuskan untuk kembali ke ruangan Arka. Clara masih tampak berada di samping Arka sekarang ini. Mungkin yang ia butuhkan saat ini adalah Clara dan bukan aku. Aku duduk di kursi tunggu di depan ruangan Arka.
Mataku sudah terlalu berat untuk dibiarkan tetap terbuka. Akhirnya aku terlelap disana sendirian, ditemani langit malam yang sedang bersedih.
***
Aku membuka mataku perlahan. Suasana masih gelap, aku melirik ke arah jam tanganku. Benda itu menunjukkan pukul lima pagi. Aku menghela nafas panjang. Keberanikan diriku untuk masuk ke ruangan Arka. Clara masih tertidur di sampingnya.
Aku menghampiri Arka yang kondisinya belum kunjung membaik juga. Aku mengecup singkat dahi nya, kemudian membenarkan rambutnya yang sedikit berantakan. Tapi ada yang aneh, tiba-tiba saja air mata keluar dari kedua netranya yang sedang terpejam. Apa ini sebuah pertanda baik atau malah sebaliknya. Aku segera menghapus jejak air matanya kemudian membungkukkan posisi tubuhku.
"Jangan sedih ka." Ucapku pelan di telinga nya.
"Aku pergi dulu, nanti siang aku balik lagi kesini." Ujarku sambil tersenyum kecil kemudian bergegas meninggalkan tempat itu.
***
Aku harus kembali lagi ke rumah untuk bersiap ke sekolah, hari ini aku harus datang lebih awal agar tidak ketinggalan bis. Apa Clara akan berada di sana sepanjang hari dan meninggalkan sekolahnya. Aku segera mengemasi buku pelajaran dan barang lainnya yang ku perlukan saat di sekolah nanti.
Aku berangkat lebih awal sebelum matahari terlalu menyengat bagiku. Hal itu bisa membuatku cepat berkeringat dan akan sia-sia rasanya mandi pagi ku.
Aku merogoh saku ku untuk mengambil ponsel. Renata bilang ia menginap di rumah temannya sampai besok karena ada tugas yang harus ia selesaikan bersama.
Aku membuka obrolan terlebih dahulu "Halo kak."
"Iya halo ada apa dek?" Balas suara di seberang sana.
"Sibuk enggak?"
"Enggak kok kebetulan. Kenapa dek?"
"Pagi ini sampai Eresha pulang sekolah nanti kakak ada kelas nggak?"
"Kebetulan kakak baru masuk sore sih sekitar jam lima gitu."
"Aku boleh minta tolong supaya kakak ke rumah sakit nggak? Jagain Arka, soalnya aku udah jalan ke sekolah sih ini."
"Oh, oke kakak ke sana ya."
"Iya, makasih kak."
"Sama-sama dek. Belajar yang rajin ya." Ujar Renata kemudian menutup teleponnya.
Aku mempercepat langkahku yang sedikit lagi hampir sampai di halte. Mungkin karena aku berangkat sedikit lebih cepat, disini belum terlalu banyak orang. Beruntung saat aku naik, bis ini masih lengang. Jadi aku tak harus berdiri lagi sepanjang perjalanan.
***
"Gimana kondisi Arka?" Tanya Stefani.
Seperti biasanya, kami selalu mengobrol kapanpun itu, dimana pun, dan tentang apapun. Termasuk setiap pagi ketika aku baru sampai di kelas. Itu adalah ritual penting yang tak bisa kami tinggalkan.
"Masih belum sadar." Balasku.
"Tadi gue liat Mamanya Arka pagi-pagi ke sini untuk membuat surat izin atas nama Arka." Jelasnya.
__ADS_1
"Ya iya lah, ya kali orang lagi koma di suruh sekolah. Gimana caranya." Tungkas ku.
"Clara masih di sana?"
"Tadi pagi sih sebelum aku balik ke rumah dia masih disana."
"Harusnya nih ya sha. Lo yang disana, bukan Clara. Lagian dia itu cuma mantannya doang. Sementara lo pacarnya Arka kan."
"Mungkin Clara lebih berhak untuk berada di sana. Lagian aku juga enggak terlalu yakin kalau sampai sekarang kita masih pacaran."
"Ya jelas lah kalian masih pacaran. Kemarin aja pas lo minta putus, dia langsung bilang enggak kan? Itu artinya dia masih sayang sama lo."
"Stefani sayang, udah jelas-jelas dia bilang kalau dia benci sama aku."
"Dia bohong pas ngomong gitu."
Ucapan itu sama persis seperti apa yang kemarin Clara katakan padaku.
"Dasar sotoy!"
"Ih, kok sotoy sih. Emang bener kok sha. Dia cuma kebawa emosi aja paling kemarin."
"Gampang banget bilang begitu."
"Intinya kalian berdua masih pacaran kan?"
"Hmm." Ujarku sambil menganggukkan kepalaku.
"Percaya deh sama gue kalau Arka itu enggak mau ngelepasin lo apapun yang terjadi. Sekali lo jadi milik dia, akan selamanya seperti itu."
Stefani mencoba meyakinkanku dengan semua perkataannya soal Arka. Aku memang tak mengenal Arka selama mereka, tapi semoga saja yang diucapkan Stefani barusan semesta kabulkan.
***
Seharian ini aku tak melihat Clara di sekolah. Apa dia masih berada di rumah sakit. Untuk memastikannya aku memutuskan untuk menanyakan dengan teman sekelasnya. Ternyata benar Clara rela tidak masuk sekolah demi pria itu. Ia masih sangat mencintai Arka, dan. Aku yakin Arka pasti menyesal telah melepaskan perempuannya setulus Clara.
Hari ini kebetulan aku ada jadwal untuk bertemu dengan dokter. Aku harus mengambil resep obat untuk penyakit ku di rumah sakit yang sama dengan tempat Arka di rawat sekarang. Jadi setelah selesai menebus resep obat, aku bisa langsung menemui Arka. Tapi sebaiknya aku Bawakan makan untuk Clara. Kasihan ia pasti belum sempat sarapan.
"Hai." Sahutku dari balik pintu
Secara refleks Clara menoleh ke arahku. Aku segera menghampiri gadis itu.
"Gimana kondisi Arka? Ada kemajuan?" Tanyaku.
Clara menggelengkan kepalanya dengan perasaan pasrah. Ia sudah tak tahu harus berbuat apa lagi. Kondisi Arka masih sama, bahkan semakin memburuk setiap harinya.
Aku menepuk pundak Clara mencoba memberikan semangat baginya.
"Ini makan dulu." Ucapku sambil menyodorkan nasi bungkus yang ku beli tadi saat perjalanan ke sini.
"Terimakasih."
Rasanya untuk saat ini aku hanya bisa berharap keajaiban datang menghampiri Arka. Ku harap setelah olimpiade kemarin Arka tak begitu beruntung, semoga kali ini Dewi Fortuna berpihak kepadanya.
"Mamanya Arka belum ada kesini?" Tanyaku.
"Belum." Jawabnya sambil melahap makan siangnya.
Tiba-tiba saja seseorang menggenggam tanganku, kepalaku melakukan gerakan refleks untuk mencari si pemilik tangan tersebut. Apa ini sungguh-sungguh? Yang benar saja, Arka barusan menggerakkan tangannya kemudian menggenggam tanganku. Aku tak akan melepaskan tanganku dari sana sampai ia benar-benar sadar.
"Ra, liat tangannya Arka gerak." Ujarku yang masih tak percaya.
Clara langsung menghentikan kegiatan makan siangnya, kemudian segera memanggil dokter yang sedang berjaga di ruang piket.
Dokter dan beberapa perawatan yang datang bersama dengannya segera mengecek Arka. Genggamanku semakin erat, berharap jika keajaiban ini benar-benar menghampiri Arka.
"Kondisinya membaik, ia telah pulih dari masa koma nya. Otaknya telah mampu merespon kejadian yang di terima oleh sistem sensoriknya sehingga kembali di teruskan ke sistem motorik. Itu yang membuat ia mampu menggerakkan tangannya." Jelas Dokter tersebut.
"Itu artinya Arka merespon semua yang terjadi di sekitarnya dok?" Tanyaku.
"Iya benar, dia akan segera sadar." Ucap dokter dengan nada yang cukup meyakinkan.
"Syukurlah." Gumam ku pelan.
Tak lama setelah dokter pergi, perlahan kedua kelopak mata Arka mulai bergerak. Aku segera melepaskan tanganku dari genggamannya. Aku tak ingin jika ia semakin membenciku saat ia sadar dan melihat semuanya, meskipun ia duluan yang memulainya. Akhirnya kesadaran Arka kembali sepenuhnya. Begitu Arka membuka matanya, aku langsung menyingkir dari hadapannya.
"Halo Tante. Tante bisa ke rumah sakit sekarang? Arka udah sadar." Ucapku di telepon.
"Serius? Oke Tante langsung kesana."
Tak bisa di pungkiri lagi jika wanita ini merasa begitu girang saat mengetahui kondisi anak semata wayangnya telah membaik.
***
Arka barusaja melewati masa komanya. Sekarang ia kembali seperti semula, jiwanya kembali seperti apa yang ia inginkan.
"Eresha kemana?" Tanya Arka dengan suara parau.
Clara terdiam sejenak, bahkan saat ia baru sadar dari koma Eresha adalah hal pertama yang Arka ingat. Apakah Arka secinta itu dengan Eresha, sampai-sampai ia tak lagi memperdulikan bagaimana kondisinya sekarang. Ia masih benar-benar lemah.
"Eresha kemana, tadi aku liat dia ada disini." Ujar Arka sekali lagi.
"Oh, tadi begitu lo sadar dia langsung pergi keluar." Balas Clara.
"Apa Eresha masih merasa sakit hati karena ucapan ku beberapa hari yang lalu? Tapi aku tau jika dibalik sikapnya yang seperti itu, ia masih begitu mengkhawatirkan ku." Batin Arka dalam hati.
Clara mengecek keluar ruangan, tapi hasilnya nihil. Eresha sudah tak berada disana lagi. Mungkin ia sudah benar-benar pergi.
"Yaudah lah biarin aja." Balas Arka yang seolah bersikap cuek.
"Kok lo gitu sih, lo tau nggak kalau dia jagain lo pas koma. Dia adalah orang yang selalu berharap supaya kondisi lo membaik." Jelas Clara yang tak tahan dengan sikap Arka.
Pria ini bersikap sangat berbeda, tidak tahu caranya berterimakasih sama sekali. Padahal seorang Arka yang ia kenal dulu bukan seperti ini.
"Terus?" Tanya Arka sambil menaikkan salah satu alisnya.
"Lo harusnya berterimakasih tau nggak sama dia! Di saat lo benci sama dia, Eresha malah bersikap sebaliknya sama lo!" Seru Clara sambil menunjuk-nunjuk wajah Arka.
"Gue enggak benci kok sama dia." Ujar Arka.
Kini pria itu sedikit melunak, ia tak lagi menjadi seorang Arka yang menyebalkan.
"Gue masih enggak ngerti sama cara berpikir lo ka."
Clara tak habis pikir melihat tingkah Arka.
"Jangankan lo ra, gue aja kadang enggak ngerti sama diri gue sendiri." Ujar Arka.
"Arka!" Sebuah suara terdengar memanggil nama pria ini.
Mamanya Arka segera menghampiri putranya yang akhirnya kembali sehat. Wanita itu langsung memeluk tubuh Arka yang sebenarnya masih terlalu lemah untuk di perlakukan seperti itu.
"Gue pamit dulu deh kalau gitu." Ujar Clara.
Ia merasa tak enak berlama-lama disini, Clara takut mengganggu waktu kedua ibu dan anak ini.
"Saya pamit ya Tante."
"Iya, hati-hati ya. Terimakasih loh udah nungguin Arka."
"Iya Tante sama-sama."
Setelah merasa jika Clara sudah benar-benar pergi dari tempat itu, Arka mulai membuka suara.
"Mama enggak jagain aku di rumah sakit?" Tanya Arka dengan perasaan kecewa.
Ia yakin pasti mamanya ini terlalu sibuk bekerja hingga melupakan Arka yang sedang koma.
"Maaf sayang, mama kan harus kerja untuk biaya rumah sakit kamu." Jelas mamanya Arka.
Arka bisa memahami hal itu.
"Tapi pas kamu kecelakaan Eresha langsung ngabarin mama loh. dan dia juga jagain kamu gantian sama teman kamu yang tadi." Sambung wanita itu.
"Si Clara?" Tanya Arka kembali memastikan.
Wanita yang duduk di depannya itu hanya mengangguk pelan.
"Telpon Eresha dong ma, suruh ke sini." Pinta Arka dengan manjanya.
"Kenapa? Kangen iya? Karena selama koma enggak bisa ketemu sama pacarnya ya?" Goda Mamanya Arka.
Arka hanya tertawa kecil mendengar ledekan sang mama yang seolah menyudutkan dirinya saat ini.
"Enggak kok ma, Arka cuma mau bilang terimakasih sekalian mau nanyain gimana hasil tes nya kemarin." Jelas Arka.
"Oh, iya kemarin itu dia tes yang kamu bilang untuk penyakitnya itu ya?"
Arka mengangguk mengiyakan perkataan sang mama.
"Mama juga penasaran sama hasil tes nya. Nanti kalau udah tau, kamu jangan lupa buat kasih tau mama."
"Iya ma..."
"Kasihan anak itu."
"Udah ma buruan."
Tanpa basa-basi lagi, Mamanya Arka langsung menghubungi Eresha yang entah dimana saat itu. Disaat-saat Arka benar-benar membutuhkannya.
"Halo sha. Kamu dimana?"
"Masih di jalan pulang sih Tante. Kenapa emang?"
"Kamu bisa nggak kesini nanti malam? Soalnya Arka mau ngomongin sesuatu."
"Oh bisa kok Tante."
"Baik, terimakasih ya sha."
"Sama-sama Tante."
Mamanya Arka langsung memutuskan sambungan telepon setelah mendapatkan apa yang ia mau.
"Kok malam sih ma, kan Arka maunya sekarang." Protes Arka pada mamanya.
"Ya kasihan lah Eresha masa lagi di jalan pulang di suruh balik lagi kesini."
__ADS_1
"Ya emang kenapa? Ada yang salah?"
"Ya jelas salah la Arka sayang.... Dia bahkan belum sempat sampai ke rumah, pasti dia capek banget harus bolak-balik."
"Yaudah deh, yang penting dianya mau." Ujar Arka pasrah dengan keputusan mamanya.
***
Malam ini sesuai dengan janji Mamanya Arka aku bergegas menuju rumah sakit. Karena ini sudah malam jadi tak ada bis yang masih beroperasi akhirnya aku memutuskan untuk naik ojek online.
Aku tahu untuk masuk ke dalam, tapi pada akhirnya aku harus melakukan ini karena aku sudah berjanji dan aku tak ingin ingkar.
Aku membuka pintu dengan hati-hati, memastikan jika benda ini tak akan mengeluarkan suara sedikitpun. Tidak ada Mamanya Arka disana, hanya ada pria itu yang sedang menonton televisi di ruangannya. Ia refleks menoleh ke arahku saat itu.
"Udah sampai?" Tanyanya padaku.
Aku menganggukkan kepalaku, kemudian segera menghampiri Arka.
"Kok lama?" Tanya Arka lagi.
"Biasa Jakarta macet, malam kan banyak yang pulang kerja." Jelasku.
Padahal aku sengaja datang lebih lama dari waktu yang dijanjikan. Berharap agar pria ini sudah tertidur pulas sehingga aku tak perlu mengobrol dengannya seperti ini. Jujur disaat-saat seperti sekarang, aku ingin untuk menghindarinya.
"Sha." Sahut Arka.
"Ya?"
"Maafin aku ya."
Kedua mataku membulat sempurna mendengar ucapan pria itu.
"Oh, iya aku maafin kok." Balasku sambil tersenyum kaku.
Karena pada dasarnya aku memang tak pernah marah kepadanya.
"Kok kamu enggak marah sih? Kenapa kamu masih bertahan?" Tanya Arka.
Aku menundukkan wajahku, berpikir sejenak harus menjawabnya dengan apa.
"Kamu sendiri kenapa masih bertahan pas aku bilang putus?" Balasku.
Arka langsung terbungkam tak bisa berkata apa-apa lagi. Kali ini ia benar-benar kalah telak.
"Keyakinan." Ujar kami secara bersamaan.
Kami saling bertatapan sebentar, bagaimana bisa kata itu keluar di saat yang bersamaan dari mulut kami.
"Jadi kamu mau maafin aku?" Tanya Arka sekali lagi.
"Of course!"
"Ya elah, aku tau kok kamu jago Bahasa Inggris. Enggak usah di pamerin juga kali."
"Semuanya itu perlu pembuktian, bukan cuma sekedar kata-kata." Ujarku.
Pacaran adalah sebuah fase dimana kalian harus siap letih setiap saat. Sebentar marahan, terus baikan lagi. Marahan lagi, baikan lagi. Ya siklusnya singkat hanya seperti itu saja dan berulang kali terjadi.
"Sha." Sahut Arka.
"Iya?"
"Gimana hasil tes kamu kemarin?"
Aku langsung terdiam sejenak, harus ku jawab apa. Tak mungkin ku beri tahu tentang semuanya sementara kondisi Arka sendiri masih lemah, bisa-bisa ia kembali drop.
Aku berusaha mencari alasan "Enggak apa-apa kok kata dokter."
"Tapi kemarin kata dokter kemungkinan kamu bakal menderita penyakit serius."
"Buktinya hasil tes nya enggak begitu kok." Aku kembali meyakinkan Arka bahwa diriku baik-baik saja.
"Oh, syukurlah."
Aku menganggukkan kepalaku berulang kali sambil tersenyum kaku.
Aku meminta Arka agar segera tidur "Udah jam sebelas malam, tidur!"
"Masa sih?" Ujarnya sambil melirik jam tanganku.
"Tidur!" Tegas ku sekali lagi.
"Oke, tapi ada syaratnya." Ucap Arka sambil tersenyum licik.
Sama seperti senyuman yang menjadi ciri khas tokoh antagonis di berbagai film yang pernah ku tonton sejauh ini.
"Yang pertama...."
Arka menggantung kalimatnya.
"Tunggu-tunggu, kalau ada yang pertama itu artinya ada yang kedua dan seterusnya dong." Protesku.
Pasti pria yang satu ini memberikan syarat seperti to do list yang harus ku kerjakan. Dasar!
"Enggak banyak-banyak kok." Ujarnya.
"Oke, yang pertama apa?"
"Yang pertama kamu harus di sini terus buat jagain aku. Soalnya tau sendiri kan mama sibuk." Jelasnya.
"Oke, tapi besok pagi sebelum kamu bangun aku udah pulang."
"Lah kok gitu?"
"Besok hari apa coba Arka? Ya harus sekolah lah."
"It's oke lah kalau gitu."
Arka tak terlalu keberatan dengan keputusan ku, lagipula ia tak bisa membantah lagi kalau soal itu
"Yang kedua?" Tanyaku penasaran.
"Yang kedua, nyanyiin aku satu lagu pengantar tidur. Terserah deh mau lagu apa aja."
"Dih, kayak anak kecil aja pakai di nyanyiin aja segala. Enggak sekalian di dongengin?" Aku mendengus sebal.
Apa susahnya coba tinggal menutup mata saja, pakai harus ini itu lagi. Aku baru tahu jika Arka bisa menjadi serewel ini jika sedang sakit.
"Ketiga?" Tanyaku.
"Enggak ada sih, cuma itu aja."
"Yaudah aku nyanyiin nih ya. Tapi harus langsung tidur setelah aku selesai nyanyi."
Arka mengangguk-anggukkan kepalanya dengan cepat. Ia tampak begitu antusias dan bersemangat.
"Lagu apa ya?" Gumam ku sambil berusaha memutar otak.
Akhirnya aku menemukan satu lagu yang cocok, temponya santai juga tidak terlalu nge beat sehingga cocok untuk membuat Arka tertidur lebih cepat dari yang ku perkirakan sebelumnya.
Aku berdeham kecil beberapa kali untuk memastikan suaraku agar tidak false nantinya.
Embun di pagi buta
Menebarkan bau pesan
Detik demi detik ku hitung
Ini kah saat ku pergi
Oh, Tuhan ku cinta dia
Berikanlah aku hidup
Tak kan ku sakiti dia
Hukum aku bila terjadi
Aku tak mudah untuk mencintai
Aku tak mudah mengaku ku cinta
Aku tak mudah mengatakan aku jatuh cinta
Senandung ku hanya untuk cinta
Tirakat ku hanya untuk cinta
Tiada dusta, sumpah ku cinta sampai ku menutup mata
Cintaku sampai ku menutup mata...
Acha Septriasa- Sampai menutup mata
Aku menghapus jejak air mataku yang entah sejak kapan mengalir. Aku selalu begitu lemah saat membawakan lagu Ballad atau lagu yang sedih. Karena seperti yang kalian ketahui aku akan begitu menghayatinya dan pada akhirnya tangisku pecah tanpa kusadari sebelumnya.
"Kok nangis?" Tanya Arka sambil mengelus halus puncak kepalaku.
"Biasa lah, terlalu menghayati." Ujarku.
"Tapi lagunya kok sedih gitu, kamu mau pergi kemana?"
"Haha, enggak kemana-mana kok. Lagian itu kan cuma lirik lagu."
"Iya sih itu cuma lirik lagu tapi seolah-olah kamu kayak beneran lagi ngasih tau aku kalau kamu mau pergi." Jelas Arka.
"Enggak kok, tenang aja."
"Jangan pergi ya sha, kan kamu udah janji sama aku buat nemenin aku disini."
Aku mengangguk mengiyakan perkataan Arka. Kemudian ia segera memejamkan matanya, ia sudah menepati janjinya padaku. Lalu bagaimana dengan ku, aku tak yakin bisa menepati janjiku padanya.
"Aku enggak tahu aku akan pergi kemana Arka, tapi yang pasti suatu saat nanti aku akan pergi." Batinku dalam hati.
Lagi-lagi aku menangis, aku menenggelamkan wajahku di kasur. Aku terlelap di samping pria itu yang entah sudah benar-benar tidur atau hanya pura-pura saja.
"Kamu mau pergi kemana sha? Jangan tinggalin aku." Bisik Arka pelan, namun kalimat itu telah sampai di telingaku.
__ADS_1
Ternyata ia belum tidur, ia hanya berpura-pura tidur. Aku pun tak merespon ucapannya sama sekali. Aku belum sepenuhnya terlelap, hanya berpura-pura sama seperti dia. Kami hanya berpura-pura, apakah semua rasa ini juga pura-pura.
Lagi-lagi secara tiba-tiba aku kembali teringat dengan mimpiku waktu itu. Di atas bukit sana, ia bilang semua jawabannya tergantung pada diriku. Lalu bagaimana jika diriku sendiri tak sempat utuk menjawab semua pertanyaannya.