
Aku masih belum mengucapkan sepatah kata pun terhadap pria yang duduk di depanku ini. Sejak pembicaraan kami yang terakhir tadi, suasana menjadi sedikit lebih canggung sekarang. Tak ada satupun dari kami yang mau memulai pembicaraan terlebih dahulu. Semua orang masih belum bisa berdamai dengan egonya masing-masing. Mereka masih tetap bersikeras pada pendiriannya dan merasa paling benar saat ini. Sama seperti yang sedang ku alami saat ini.
Aku menatap keluar dinding kaca tersebut. Yang terlihat hanyalah kabut tebal dengan tumpukan salju yang kian menumpuk dan semakin menutupi jalan. Lalu lintas menjadi terganggu karena salju berserakan dimana-mana.
Semakin ke sini suhu semakin turun, membuat seluruh kota nyaris membeku. Pada saat-saat seperti ini banyak orang yang menghabiskan waktunya di dalam rumah. Untuk menghangatkan diri mereka sekaligus melindungi mereka dari kemungkinan terburuk yang terjadi di luar sana. Tapi sialnya aku malah terjebak di sini bersama pria menyebalkan ini.
Aku juga tak tahu kenapa kejadian ini bisa terjadi. Terlalu sempurna untuk disebut sebagai sebuah kebetulan. Aku bahkan tak percaya jika pertemuan kami di warung makan itu juga terjadi secara kebetulan. Jika memang semua itu terjadi secara kebetulan, maka aku patut mengapresiasinya. Semesta bisa bertindak seperti itu dalam sekejap. Dan manusia hanya bisa menatapnya dengan berbagai macam perasaan.
"Suhunya turun dua derajat." ujar Arka kemudian memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku.
Aku hanya melihatnya sekilas, kemudian segera mengalihkan pandanganku ke sudut lainnya dari tempat ini.
Sebenarnya aku masih kesal dengan Arka. Ia begitu keras kepala sampai tak mau menuruti perkataan ku untuk kali ini saja. Jika tadi ia percaya dengan semua ucapan ku, maka pasti kami tak akan terjebak di tempat ini. Jika ia membiarkan ku pulang ke rumah, aku pasti tak akan kedinginan di luar sini.
Amel pasti sedang sendirian di kamar asrama. Ia tak bisa pergi kemana-mana disaat ada badai seperti ini. Jika ia nekat untuk tetap melakukannya, maka nyawa lah taruhannya. Dan aku percaya jika gadis itu masih menyayangi hidupnya seutuhnya. Gadis itu pasti telah memasak kalguksu untuk menu makan siang kami berdua. Tadi aku sudah janji kepada Amel jika aku akan pulang sebelum makan siang, karena kami akan makan siang bersama. Tapi sepertinya kali ini gadis itu akan kecewa berat denganku.
Aku lantas melihat ponselku untuk mengecek informasi terbaru. Aku berusaha untuk mengirim pesan kepada Amel jika aku tak bisa pulang tepat waktu karena terjebak badai. Tapi sialnya bagaimana bisa ponsel sialan ini tiba-tiba mati karena kehabisan daya. Padahal aku belum ada menggunakannya seharian ini.
"Pake mati segala lagi!" gerutu ku pelan.
"Mana enggak bawa power bank lagi, gimana dong ini." batinku dalam hati sambil mendengus kesal.
Hari ini aku benar-benar dibuat kesusahan oleh semua orang. Bagaimana bisa hari buruk seperti ini terjadi padaku. Apa Dewi Fortuna sedang tak memihak kepadaku lagi hari ini. Ah entahlah, ku rasa ini benar-benar hari sial ku. Ku harap aku tak akan pernah mengalami hari seperti ini lagi di kemudian hari nanti. Aku ingin agar hari ini menjadi yang terakhir kalinya dalam hidupku.
Aku menghela nafas panjang sambal menggaruk-garuk kepalaku yang tak gatal itu. Aku benar-benar dibuat frustasi.
'BRUK!!!'
__ADS_1
Tiba-tiba saja suara hantaman besar itu muncul dan mengagetkan semua orang. Aku lantas mencari-cari dari mana sumber suara itu berasal. Suaranya sangat keras dan hampir memekakkan telingaku. Aku berlari menuju dinding kaca yang menjadi penyokong tempat ini. Ada kekacauan apa lagi kali ini. Bagian yang tembus pandang dari tempat ini, kini menjadi titik paling ramai.
Aku beruntung memiliki tubuh mungil sehingga bisa masuk melalui celah kecil. Dengan yakin aku menerobos kerumunan itu, hingga aku sampai pada barisan paling depan. Tubuhku mematung seketika saat mendapati apa yang kucari selama ini. Aku nyaris tak percaya dengan apa yang kulihat barusan. Pemandangan macam apa ini.
Aku bersandar pada dinding kaca tersebut, sambil berusaha membuat diriku tetap berdiri di sana. Secara tiba-tiba pula seseorang mencoba menarikku keluar dari kerumunan itu dengan segera. Ia melakukan semua itu disaat pertahanan ku mulai melemah. Kemudian ia memelukku dengan sekuat tenaga. Ia seperti tengah berusaha untuk mentransfer semua sisa energi yang ia miliki kepadaku.
Aku mengangkat wajahku dengan lemah. Ternyata orang ini adalah seseorang yang terus bersamaku sejak pagi tadi. Kakiku mulai gemetar saat mengetahui jika aku benar-benar ketakutan saat ini. Suara sirine mobil polisi dan ambulans itu benar-benar mencoba untuk menakuti ku secara tak langsung.
Apa yang ku lihat barusan ads sesuatu yang sebenarnya tak ingin ku singkap. Namun kenapa aku justru mengambil langkah ceroboh itu. Aku sudah membuat diriku sendiri jatuh ke dasar jurang itu. Bukan orang lain yang melakukannya, tapi aku sendiri.
Arka membawaku kembali duduk di kursi kami semula. Ia mencoba untuk meyakinkanku jika semuanya akan baik-baik saja. Ia berusaha membuatku agar terlihat biasa saja setelah semua kejadian itu. Seolah-olah yang barusan itu tak pernah terjadi dan aku juga tak pernah melihatnya. Tapi bagaimanapun itu aku tetap tak bisa mengontrol diriku sendiri. Peristiwa barusan benar-benar membuatku shock berat.
Arka menggenggam tanganku erat-erat. Pria ini sedang memberikan semua keberaniannya kepadaku. Ia tak ingin melihatku gemetaran seperti orang yang ketakutan ini.
Aku masih tak percaya sama sekali dengan apa yang baru saja ku lihat tadi. Aku belum bisa mengakui hak itu seutuhnya. Dan sepertinya bukan hanya aku yang terkejut di sini, tapi juga semua orang yang turut menyaksikannya tadi.
Aku melihat ada sebuah mobil pribadi yang tengah beradu banteng dengan sebuah bis. Mereka berdua saling bergerak dari arah yang berlawanan. Aku tak tahu siapa yang salah dalam kejadian ini. Aku datang tepat setelah semua itu terjadi, sudah terlambat untuk mencari tahu apa penyebabnya. Orang-orang bilang jika mobil pribadi itu tergelincir dan keluar dari jalur kemudi.
Beberapa detik setelah aku sampai di sana, aku menjumpai keadaan mobil pribadi tersebut sudah terbalik. Lalu secara tiba-tiba keluar begitu banyak cairan kental berwarna merah seperti darah segar. Dan kali ini itu bukan hanya terkaan belaka. Aku sangat yakin jika itu memang benar adalah darah. Hingga sampai pada klimaksnya saat hal menjijikkan itu mulai menodai salju putih di sekitarnya dan membuatnya mencair.
Bau anyir lantas segera menyebar dengan cepat kemana-mana. Saat itu pula aku bisa merasakan jika ada sesuatu dari dalam tubuhku yang memaksa naik untuk keluar. Tapi sepertinya ketakutan ku akan peristiwa itu jauh lebih besar ketimbang rasa mual. Bagaimana bisa aku tetap merasa tenang seolah-olah sedang tak terjadi apa-apa, padahal aku melihat semua kejadian itu dengan mata kepalaku sendiri.
Aku masih belum bisa melupakan kejadian tiga tahun yang lalu itu. Dari sekian banyak memori yang perlahan menghilang dari dalam diriku, aku harap agar ia menjadi salah satunya. Aku ingin agar ingatan soal kecelakaan itu pergi dan tak akan pernah kembali. Bagaimana bisa aku tetap bertahan hidup dalam ketakutan seperti ini. Aku tak mau hidup dalam ketakutan seumur hidupku.
Kejadian silam itu terus berputar-putar di dalam ingatanku. Otakku terus memainkan ulang adegan yang sama, meski seharusnya sudah selesai. Sepertinya diriku sendirilah yang ingin menyingkirkan diriku. Terlebih suara sirine itu membuat semua kenangan itu terasa nyata. Seolah-olah semesta sedang mereka ulang adegannya tepat di hadapanku sekarang ini. Aku benar-benar tak tahu harus bagaimana menghadapi semua ini.
"Lo baik-baik aja kan sha?" tanya Arka dengan hati-hati.
__ADS_1
Aku tak bisa menjawab pertanyaannya untuk saat ini. Bahkan untuk membuka mulutku saja rasanya tak sanggup lagi. Lidahku terasa begitu kelu. Untuk saat ini radang memiliki cukup tenaga untuk bernapas saja sudah lebih dari cukup. Paru-paru ku sepertinya mulai kehabisan oksigen saat ini. Aku butuh lebih banyak udara lagi agar tetap bisa bertahan di saat seperti ini. Orang-orang di sekitarku terlihat berebut mengambil oksigen banyak-banyak dari udara yang mereka hirup. Aku tahu jika mereka juga sangat shock sama sepertiku, atau mungkin lebih dari itu.
Untuk saat ini aku tak bisa berbuat banyak. Apalagi berkata-kata. Itu hanya akan semakin menguras energi ku. Rasanya aku ingin menghilang dari dunia ini untuk sementara waktu. Ke tempat yang hanya ada aku seorang saja. Lalu kembali di saat semuanya sudah baik-baik saja. Tapi aku tahu kalau kita tidak boleh lari dari masalah. Karena masalah ada untuk dihadapi dan bukan untuk dihindari. Tapi bahkan untuk menatapnya saja aku sudah tak sanggup. Lalu bagaimana bisa aku akan menghadapinya. Aku tahu jika aku akan kalah di awal permainan. Jadi lebih baik menyerah sebelum kalah. Bukan karena aku seorang pengecut. Tapi aku tahu sampai mana batas kemampuanku saat ini.
Aku mencoba bertahan pada situasi seperti ini. Aku berusaha sekeras yang aku bisa untuk mengambil kembali kendali atas diriku yang sudah dirampas secara paksa. Aku mencoba mengatasi kekacauan ini. Aku akan membangun kembali benteng pertahanan yang telah rubuh separuhnya itu. Aku sendiri tak tahu apakah aku bisa melakukan semua itu atau tidak. Tapi aku selalu percaya kepada diriku sendiri, karena hanya ia satu-satunya yang bisa kupercaya sejauh ini. Aku tak bisa untuk terus mengandalkan, apalagi bergantung kepada orang lain. Entah apa yang salah pada diriku akhir-akhir ini.
Aku menarik napas dalam-dalam kemudian membuangnya begitu saja kembali ke udara. Dengan perlahan namun pasti, aku mencoba mengatur segala sesuatu yang terlihat berantakan di dalam sana. Sedikit demi sedikit aku kembali mengumpulkan semua energiku yang entah pergi kemana. Semua kehilangan dan kekacauan itu terjadi secara tiba-tiba, namun tak pernah kembali secara tiba-tiba juga. Selalu ada proses untuk kembali, namun tak pernah ada proses untuk pergi.
Di saat-saat bangkit kembali seperti ini, selalu menjadi bagian menarik dalam sebuah cerita. Itu artinya sang tokoh utamanya masih hidup. Ia belum menyerah dengan kejamnya dunia. Momen ini selalu menjadi momen paling legendaris sepanjang masa.
"Sang pemenang adalah ia yang bangkit kembali setelah dijatuhkan."
Begitu kalimat yang aku ingat dari seorang pria bernama Hanbin. Iya, aku tahu dan kalian semua juga pasti tahu. Ia berkembang bersama grup musiknya di tanah kelahiran ini.
"Sampai kapan badai ini bakalan berlangsung." tanyaku dengan nada bergetar.
Arka hanya bisa menggelengkan kepala dengan pasrah. Ia bahkan tak bisa menepatinya kata-katanya tadi. Jika ia saja sudah nyaris menyerah seperti ini, lantas bagaimana denganku yang jauh lebih lemah darinya ini.
Setelah merasakan jauh lebih tenang, aku membersihkan diri untuk kembali melihat pemandangan mengerikan itu. Setelah mengumpulkan sisa-sisa keberanian ku dan merasa cukup atas semua itu, pada akhirnya aku kembali menantang diriku sendiri. Aku tak ingin terus-terusan diperbudak oleh rasa takut ini di sepanjang hidupku. Aku masih bisa melawan semua itu selagi aku mau.
Aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat, untuk mencegah sesuatu yang buruk terjadi. Beberapa suara teriakan histeris kembali menggema di dalam indera pendengaran ku. Pemandangan menyedihkan itu kembali lagi setelah aku berusaha dengan susah payah untuk menyingkirkannya. Tapi kali ini aku tak akan kalah begitu saja. Setidaknya harus ada perlawanan yang cukup berarti sebelum memutuskan untuk menyerah.
"Gue enggak tahan lagi, gue pengen pulang aja!" rengek ku kepada pria itu.
"Tapi lo liatkan keadaan di luar sana gimana?! Gue cuma enggak mau kita lo kenapa-kenapa." balasnya dengan nada suara yang jauh lebih tinggi.
Terlihat jelas jika saat ini dia sedang marah padaku. Aku tahu kalau pikirannya saat ini sedang berantakan. Hati dan otaknya tak bisa berjalan seirama. Tak satupun dari mereka yang mengerti dan saling bekerja sama. Ia sedang berusaha untuk melawan dirinya sendiri.
__ADS_1
Urat-urat tangan terlihat timbul dengan jelas. Hal itu menunjukkan jika tekanan darahnya saat ini tengah naik. Emosinya tengah memuncak saat ini. Hampir menuju tak terkendali. Tapi sepertinya aku yakin jika ia bisa mengatasi kekacauan di dalam dirinya itu. Ia sudah cukup sering merasa kegaduhan seperti ini. Karena ini bukan yang pertama kalinya, aku rasa tak perlu bagiku untuk ikut campur.
Sementara menunggu pria itu menyelesaikan permasalahan pribadinya itu, aku hanya bisa memandang orang-orang di sekitarku yang terlihat begitu terpukul dengan kejadian barusan. Mereka semua terlihat lemas tak berdaya. Kejadian itu seperti mencuri jiwa kami. Semua orang yang berada di sekitar tempat kejadian terlihat seperti mayat hidup. Mereka mematikan di tempat dengan wajah yang pucat pasi. Bahkan kepalanya saja tak sanggup menoleh lagi. Mereka tak bisa mengalihkan pandangannya dari titik yang mencuri perhatian publik secara spontan itu.