Pengagum Lara

Pengagum Lara
Episode 90


__ADS_3

IMAGINE


Aku segera beranjak dari kasurku dan memutuskan untuk menelepon gadis itu kembali menggunakan telepon rumah. Tentu tak perlu ku jelaskan lagi apa alasannya. Sudah jelas itu karena ponselku mati.


Aku mendengar suara berdering pada benda itu, ketika aku meletakkannya tepat di telingaku. Aku menunggu sampai Yoo Mi Ra mengangkat teleponnya. Tak biasanya ia meneleponku hingga berkali-kali seperti ini. Aku yakin pasti ada sesuatu yang penting.


"Halo..." jawab seseorang dari seberang sana.


Sebenarnya percakapan kami saat ini sedang menggunakan bahasa Korea. Tapi anggap saja jika saat ini kami berkomunikasi dengan bahasa Indonesia agar lebih mudah dipahami.


Aku penasaran sekaligus lega, saat suara lembut itu muncul. Mi Ra merupakan teman satu jurusanku. Kami sudah kenal cukup lama, sejak pertama kali hari masuk kuliah. Bisa dibilang jika ia adalah sahabatku. Namun, sayangnya kami tak bisa selalu bersama seperti aku dan Amel. Gadis itu tinggal bersama orang tuanya.


"Gue denger dari Amel, tadi lo melaporkan gue. Ada apa emangnya?" tanyaku tanpa basa-basi.


"Oh, soal itu...." jawabnya.


"Maaf tadi gue hp gue mati." sambungku, bahkan sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya.


"Besok kita ke festival bunga yuk!" ajaknya.


"Festival bunga? Jadi Lo nelpon gue cuma buat nanyain hal itu?! Ya elah, kirain penting banget." ucapku dengan nada kesal.


"Itu penting tau!" tukasnya.


"Penting gimana?" tanyaku penasaran.


"Ya jelas penting lah! Ini tuh festival tahunan dan cuma diadakan setiap musim dingin aja." jelasnya dengan antusias.


"Emang musim dingin gini ada bunga yang masih hidup? Bukannya pada gugur?"


"Gugur bukan berarti mati kan?"


"Nah, itu maksudnya. Emangnya masih ada bunga yang mekar?"


"Ini tuh festival indoor. Tapi Lo tetap bisa liat pemandangan di luar kok."


"Ya terserah lo deh."


"Kita perginya pas malam aja. Soalnya ada light festival juga di sana."


"Amel udah tau soal ini?"


"Udah la! Tinggal Lo doang."


Aku terdiam sejenak sambil menatap sinis gadis itu. Bisa-bisanya Amel tak memberitahu ku soal rencana liburan ini. Tapi lagi-lagi aku harus meredam amarahku sendiri, karena aku tak ingin membuat kekacauan.


"Jadi gimana? Lo ikut kan?" tanya Mi Ra secara tiba-tiba.

__ADS_1


Dan jujur saja suaranya yang muncul di telingaku secara tiba-tiba itu berhasil membuatku terkejut. Padahal saat itu seluruh perhatianku sedang tertuju kepada gadis menyebalkan itu. Siapa lagi jika bukan Amel.


"Gue pikir-pikir dulu ya." ucapku.


"Yah, enggak asik lo. Masa dipikir-pikir mulu." balasnya secara gamblang.


"Iya makanya liat nanti dulu." ujarku.


"Oke, besok di kampus gue tunggu." ungkapnya.


"Tunggu ngapain?" tanyaku secara polos.


"Ya jawaban lo lah!" tegasnya.


"Ooo...." ucapku sambil mengangguk-angguk pelan.


"Oke, gue tutup dulu ya teleponnya." pamitku.


"Iya, sampai jumpa besok. Dah!" balasan dari seberang sana.


"Dah!" jawabku singkat.


Aku segera menutup teleponnya dan kembali ke kasur. Sebelum tidur, aku kembali mengecek semua barang di dalam tasku. Memastikan jika tak ada yang ketinggalan. Bisa habis besok aku jika sampai ceroboh. Cukup waktu SMA saja aku pernah melakukan hal bodoh itu.


Setelah memastikan semuanya baik-baik saja, aku mulai merasakan ketenangan. Perlahan-lahan namun pasti, aku kembali melalui jalanan itu. Menuju alam bawah sadar yang hanya aku sendiri tahu tempatnya.


***


Setelah sekian lama tak ke sini, aku kembali ke tempat itu. Tapi kali ini aku benar-benar kemari sendirian. Sebenarnya tak masalah juga jika aku sendirian, karena itu lebih baik daripada berdua.


Tempat ini tak banyak berubah. Masih sama seperti saat terakhir kali aku melihatnya. Aku selalu ingin ke sini disaat sedang berada pada titik terendah dalam hidupku. Tempat ini cukup tinggi untuk membantuku naik ke puncak lagi.


Aku sama sekali tak tahu bagaimana caranya agar bisa mencapai tempat ini. Aku tak tahu jalan masuknya, apalagi jalan keluarnya. Aku tak tahu dimana ini. Tapi kini, aku berada di tempat ini dan semua itu bukan lagi masalah.


Datang ke sini Seca tiba-tiba, pergi juga secara tiba-tiba. Tapi aku tak tahu bagaikan caranya. Aku juga tak tahu bagaimana itu semua bisa terjadi. Yang aku tahu hanyalah, jika sekarang aku sedang berada di sini. Benar-benar tak bisa dipikirkan secara logika.


Seperti ada sebuah energi yang memaksaku untuk masuk dan keluat dari sini. Tapi aku aku tak tahu dia membawaku dari mana. Andai mereka membiarkan ku untuk tahu soal semuanya. Pasti tak akan terasa asing seperti ini.


Terlepas dari apapun itu permasalahannya, aku selalu berharap bisa mengunjungi tempat ini kapanpun aku mau. Ia tak punya nama, jadi haruskah aku memberinya sebuah nama. Jadi bagaimana kalau aku memberinya nama "Piri."


Menurutku itu nama yang bagus untuk tempat ini. Mungkin jika aku panggil namanya sebanyak tiga kali, maka aku akan ditarik ke sini. Bisa saja seperti itu bukan?


Biar ku jelaskan bagaimana bisa aku memanggilnya dengan sebutan itu. Piri dalam bahasa Korea itu berarti seruling bambu. Melodinya selalu bisa membius siapapun yang mendengarnya. Terdengar syahdu dan menenangkan. Sementara itu, di sisi lain ia memiliki makna lain. Piri hampir sama pengucapannya dengan kata peri atau fairy. Kurasa ini benar-benar surganya para peri. Sayangnya mereka tak benar-benar ada di sini sekarang. Mungkin itu tak menutup kemungkinan jika para peri akan datang ke tempat ini suatu saat nanti dan menetap di sini. Selagi tempat indah ini masih ada, sepertinya harapan itu akan terus bertumbuh. Tempat seindah ini terlalu kesepian jika tak ada penghuninya.


Aku duduk di atas rerumputan yang bergoyang terkena angin malam kala itu. Menikmati ketenangan yang tak bisa kudapatkan di tempat lain. Haruskah aku selamanya berada di sini?


Aku menarik napasku dalam-dalam, agar udara segar masuk dan memenuhi paru-paruku. Udara berpolusi di kota sudah cukup membuat organ tubuhku bekerja keras untuk memberaihlan semua kotoran itu. Sementara itu, mataku mengarah ke sebuah sungai yang terletak tak jauh dari sini. Entah sejak kapan sungai itu ada. Ia terlihat mengalir dengan sangat tenang. Terakhir kali aku berkunjung ke sini, yang ada hanyalah hamparan rumput di bukit tak berujung ini. Tapi sekarang tempat ini terlihat lebih indah.

__ADS_1


Aku benar-benar terkejut, saat tiba-tiba ada seseorang yang tak ku kenal menutup mataku secara tiba-tiba dari belakang. Bukannya di sini sama sekali tak ada orang? Lalu siapa yang melakukan semua ini.


Tangannya terasa begitu dingin saat aku menyentuhnya. Seperti ia bukanlah sesuatu yang hidup, tangannya terasa begitu membeku. Kiranya itu sama seperti kondisi hatinya saat ini. Orang bilang bahasa tubuh adalah cara terbaik untuk mengekspresikan suasana hati. Apakah ia melakukan semua ini karena sedang kedinginan dan kesepian di tempat seperti ini. Tapi ku rasa udaranya tak seburuk itu.


Aku berusaha untuk menyingkirkan kedua telapak tangan beku itu dari wajahku. Kini aku benar-benar terjebak dalam hitam akibat dirinya. Aku ikut membeku bersama dirinya, tak bisa lepas dari jangkauannya. Tapi sekeras apapun aku mencoba, tetap saja hasilnya nihil. Aku terlalu lemah untuk melawan mahluk dari yang kesepian ini.


“Kau membuatku ketakutan.” ujarku dengan nada yang terdengar tak stabil.


Aku sama sekali tak bisa mengendalikan diriku disaat seperti ini. Situasi ini benar-benar membuatku kebingungan. Aku tak tahu harus melakukan apa sekarang ini. Bahkan bicaaraku saja sudah terdengar berantakan. Padahal tadinya aku berharap kedamaian saat pertama kali berhasil menginjakkan kaki ku di tempat ini setelah sekian lama tak kemari. Tapi ternyata justru sesuatu yang tak disangka yang sudah manantiku di sini.


“Jangan takut…. Bagaimanapun, kita pernah menjadi dua elemen yang membentuk satu wujud.” bisiknya dengan lembut di telingaku.


Suara itu merayap dengan caranya sendiri, hingga ia sampai pada organ terdalam.


“Selamat datang kembali ke tempat ini.” lanjutnya.


Lagi-lagi secara tia-tiba ia melepaskan kedua tangannya yang dari tadi menghalangi pengelihatanku. Sepertinya sudah cukup aku dijadikan sanderanya dalam kegelapan itu. Aku tak akan mau lagi pergi dan berdiam diri dalam dimensi gelap dan dingin itu. Saat ia menutup kedua bola mataku dengan tangannya, disaat itu pula aku seperti dibawa secara paksa olehnya. Entah kemana, tapi yang jelas aku sangat ketakutan. Aku tak bisa melihat apapun saat itu, tapi aku bisa merasakan semuanya.


Namun, semuanya justru sebaliknya saat ia menyingkirkan kedua tangannya dari wajahku. Rasanya, seperti aku telah didorong paksa untuk kembali. Ia mengusirku secara kasar setelah menculikku dengan tiba-tiba seperti itu. Aku sama sekali tak mengerti dengan apa yang barusaja terjadi padaku. Apakah ini mimpi buruk atau memang nyata. Tapi mimpi macam apapun ini, kenapa terasa begitu nyata. Ini membuatku kebingungan sekaligus ketakutan. Saat aku tak mengerti apapun sama sekali. Ketika aku harus terjebak di antara mimpi dan realita. Mereka nyaris membuatku gila setelah berusaha memaksa ku memilih antara ilusi dan kenyataan.


Aku menarik napasku dalam-dalam, berusaha membuat paru-paruku terisi penuh oleh oksigen. Terjebak di dalam dimensi hiitam itu membuat dadaku terasa begitu sesak. Di tambah lagi jika realitanya, pada saat itu kau tak mengetahui satu hal pun. Aku berusaha tenang dalam kekacauan ini. Sebuah badai besar sedang menerpa diriku, mengacak-acak semua yang telah tertata rapih di dalam sana. Aku berusaha untuk menegendalikan diriku sendiri, dikala seseorang berusaha mengambil alihnya secara paksa.


Aku berlari menuruni bukit yang terlihat sepi itu, menuju sebuah aliran sungai kecil tepat di bawah sana. Aku berlari sambil menangis, tanpa mengerti apa yang terjadi. Aku berusaha merangkai semua peristiwa itu di dalam pikiranku dan mencari kesimpulannya. Tapi semuanya selalu sia-sia, aku selalu berakhir dengan putus asa. Karena aku selalu menjadi orang yang kalah dalam permainan ini. Aku sangat yakin jika jawabannya ada di dalam diriku sendiri saat ini. Ada sesuatu yang mendadak hilang dan tak bisa ku temukan di dalam diriku sendiri. Aku marah pada diriku sendiri karena badai itu telah membuatnya kacau. Aku jadi tak bisa menemukan sepotong kenangan kecil yang menjadi begitu penting disaat seperti ini. Andai ada seseorang yang tahu soal ini, tolong beri tahu aku segera. Siapapun itu aku mohon, beri tahu itu!


Aku berlari tanpa arah, mencoba mencari jawabannya. Kejadian gila macam apa lagi ini?! Padahal rasanya tak kurang dari satu menit yang lalu aku merasa damai dan aman jika berada di sini. Sama seperti yang kurasakan dulu. Tapi sekarang suasananya berubah mencekam. Seseorang berusaha menguji kewarasan ku. Ia membuatku merasa terintimidasi di tempat ini.


Aku tak bisa berkata apa-apa lagi saat sampai di tepi sungai. Aku hanya bisa menatap wajahku pada pantulan air. Ia terlihat indah ketika dibingkai bersama purnama. Bahkan disaat seperti ini, masih terlihat cantik. Tanpa sadar, aku telah tersenyum kecil menatap wajahku sendiri. Aku membasuh wajahku dengan air sungai yang sedang mengalir ini. Entah kemana ia akan bermuara. Aku penasaran, tapi ku hentikan di sini. Aku tak ingin menggali lebih banyak luka lagi.


"Menjadi tidak tahu adalah cara terbaik untuk menghindar." batinku dalam hati.


Setelah merasa jauh lebih tenang, aku memberanikan diri untuk melihat ke belakang. Aku telah mempersiapkan diriku untuk segala kemungkinan yang akan terjadi. Entah itu buruk atau sebaliknya. Aku menatap puncak bukit yang tak terlalu tinggi itu. Tepat pada titik dimana aku berada tadi.


Pada kenyataannya semua terlihat baik-baik saja. Tak ada sesuatu yang terlihat mencurigakan di atas sana. Lalu darimana datangnya orang itu tadi? Aku berusaha menerka semua kemungkinan, namun sepertinya selalu tak masuk akal. Tak mungkin jika aku berhalusinasi bukan? Mungkin orang itu lantas berlari masuk ke dalam hutan, setelah melepaskan ku. Ia tahu jika aku terlalu takut untuk menyerangnya saat itu. Ia benar-benar memanfaatkan situasi dengan baik. Kelihatannya ia bisa membaca keadaan untuk beberapa menit kedepan. Aku tentu akan melakukan hal yang sama jika berada diposisinya saat itu.


"Haruskah aku pulang?" batinku dalam hati.


"Sepertinya sudah nyaris tengah malam. Bagaimana jika kejadian itu terulang lagi? Bagaimana jika ada hewan buas di sini? Tapi bukannya di sini tak ada kehidupan?"


Saat itu pula diriku mulai terbebani oleh semua omong kosong yang diciptakan oleh diriku sendiri. Aku benar-benar tahu bagaimana cara membuat diriku sendiri kesusahan seperti ini. Tapi, aku selalu terjebak karena tak bisa menemukan jalan keluarnya.


Aku berdiri sambil menatap sekitarku. Berharap menemukan jalan keluar dari sini. Berharap bisa keluar dari tempat bernama Piri. Aku sendiri bahkan tak tahu tadi masuk lewat mana. Semuanya terjadi secara tiba-tiba dan tanpa terencana sama sekali.


"Haruskah mengikuti aliran sungai ini?" gumamku pelan.


"Pasti menuju ke suatu tempat." aku berusaha meyakinkan diriku sendiri.


Kali ini aku pasti akan benar. Aku tak mau menyusahkan diriku sendiri lagi dengan hal-hal bodoh yang kulakukan sejauh ini. Namun, sepertinya aku sedang dalam masalah besar. Baru satu langkah aku pergi dari sana, dengan segala kesialan yang ada, aku terpeleset dan masuk ke dalam arus yang ternyata menghanyutkan itu. Aku tak bisa bernapas sedikitpun.

__ADS_1


__ADS_2