
BOTH OF US
Setelah selesai makan siang tadi, kami berpisah begitu saja. Meski sedang berada di tempat yang sama, tapi tetap saja tujuan kami berbeda. Di antara kami berdua sama-sama tak ada yang menginginkan untuk duduk lebih lama lagi di sana, sambil bercerita tentang bagaimana kehidupan masing-masing. Dunia kami tak seperti dulu lagi, bahkan aku tak tahu bagaimana kabar teman-teman lamaku itu. Entah masih berpijak di tempat yang sama seperti dulu, atau mungkin sudah berkelana untuk menjelajah semesta.
Aku dan Amel barusaja sampai di salah satu supermarket di sekitar jalanan gangnam. Meski semua hal di tempat itu termasuk mahal dan mewah, kami tak bisa memilih yang lain. Hanya supermarket itu yang paling dekat dengan tempat tinggal kami, juga paling lengkap. Meskipun kami harus membayar lebih, tapi itu sudah sewajarnya. Kebetulan jalanan di daerah gangnam itu adalah salah satu jalan menuju ke asrama kami.
Nyaris setiap hari aku melihat kemewahan para konglomerat kaya yang tinggal di daerah sana. Jejeran mobil mewah berharga jutaan terlihat terparkir dengan rapih di sepanjang jalan. Rumah-rumah dengan konsep minimalis tersebut menambah kesan mewah. Tempat itu terlihat satu level lebih tinggi dari pada daerah lain di Kota Seoul. Setelah mendapatkan apa yang kami mau, aku dan Amel bergegas untuk pulang ke asrama.
“Itu tadi siapa?” tanya gadis itu secara tiba-tiba.
“Yang mana?” tanyaku balik untuk memastikan.
“Cowok yang tadi itu loh.” sentilnya halus.
Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Walaupun sebenarnya aku tahu apa jawabannya, tapi aku sama sekali tak tahu bagaimana cara menjawabnya. Aku harus menyampaikan hal ini dengan benar agar tak terjadi kesalah pahaman. Tapi sepertinya aku terlalu bodoh untuk menyusun kalimat seperti itu.
“Nanti aja pas udah samapi di asrama gue jelasin.” elakku.
“Oke.” balasnya singkat.
Sepanjang perjalanan sama sekali tak ada percakapan yang berarti diantara kami berdua. Semuanya hanya sekedar basa-basi antara satu dengan yang lainnya. Yang tersisa hanya dingin yang diam-diam menyeruak dalam sepi. Aku merapatkan kembali jaket yang sempat ku bawa tadi, sambil tetap memperhatikan jalanan di depanku. Sementara itu, Amel terlihat begitu sibuk dengan ponsel genggamnya. Entah ada hal baru macam apa lagi di dalam sana. Sampai-sampai ia tak sempat lagi untuk memperhatikan langkahnya. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan gadis itu.
Aku menggigit pelan bibir bawahku, berusaha membuatnya tetap terasa hangat. Sepertinya hari ini suhunya turun lagi. Padahal baru tadi pagi suhunya naik dan terasa begitu hangat. Ya, mari kembali ke konsep awal kita. Semua orang juga tahu tak ada satu hal pun yang bisa diterka. Mereka bisa berubah kapanpun mereka mau. Prediksi yang sudah tertulis jauh-jauh hari sebelumnya bisa saja meleset atau bahkan salah total. Semuanya tergantung kepada bagaimana semesta bertindak kala itu. Dan sementara itu manusia hanya bisa diam sambil menyaksikan semesta bekerja. Ribuan manusia yang berpijak di atas muka bumi ini terus saja meramal dan membuat jutaan prediksi setiap harinya, tanpa tahu bagaimana jadinya suatu saat nanti.
***
Aku merebahkan diriku di atas kasur sambil bersembunyi di balik selimut. Kami sedang menunggu pesanan ayam goring dari salah satu restoran dekat sini. Kami bisa apa saat malas sedang menyerang seperti ini. Bergantung kepada orang lain adalah satu-satunya kata yang tepat untuk menggambarkan situasi kami sekarang. Lagipula semua mahluk di dunia ini juga saling membutuhkan. Itulah kenapa manusia disebut sebagai mahluk sosial, dan itu pula sebabnya kenapa apa istilah simbiosis dalam pelajaran ilmu pengetahuan alam.
“Jadi lo belum mau cerita juga sama gue soal yang tadi itu?” tanya Amel secara tiba-tiba.
“Bukannya enggak mau mel.” jawabku.
“Terus kenapa dong?” tanya gadis itu lagi.
“Gue enggak tau aja harus mulai cerita sama lo dari mana dulu.” jelasku sambil menghela napas panjang.
“Ya dimana-mana orang cerita pasti dari awal lah.” tukasnya.
“Nah itu masalahnya.” ujarku.
“Gue enggak tau awal cerita ini yang mana. Semuanya terlihat kayak klimaks tau nggak?” lanjutku.
__ADS_1
“Emangnya seribet itu ya sha?” tanya Amel dengan hati-hati.
“Jauh lebih ribet dari apa yang pernah gue bayangin mel.” keluhku.
“Ya udah, nanti kalau lo ngerasa udah nemuin yang mana awal dari cerita ini, jangan lupa buat langsung cerita ke gue. Oke?” ungkapnya secara tiba-tiba.
Aku hanya mengangguk-anggukkan kepalaku, mengiyakan perkataannya barusan.
“Janji?” tanya gadis itu sekali lagi.
“Iya-iya bawel lo!” jawabku dengan nada kesal.
Sementara itu, sudah bisa ditebak dengan jelas jika Amel akan menertawakanku. Semua hal kecil yang terasa cukup menggelikan, pasti akan langsung ia sebut sebagai sebuah lelucon. Bahkan aku sendiri tak tahu darimana hal lucu itu datang. Kurasa pikirannya lah yang membuat hal biasa itu terasa begitu menggelikan. Entahlah, hanya dia dan Tuhan yang tahu apa maksudnya.
‘Ting! Tong!’
Tiba-tiba saja suara bel berbunyi, seperti ada seseorang dari luar ruangan ini yang dengan sengaja menekan tombolnya. Aku lantas mengalihkan seluruh perhatianku pada hal tersebut. Amel pergi mengecek ke luar, katanya mungkin itu ayam yang kami pesan beberapa menit lalu telah sampai.
Aku bangkit dari tempat tidur, menuju sebuah meja kecil di pojok ruangan ini. Merapihkan beberapa piring dan alat makan lainnya yang akan kami pakai. Sedetik kemudian, gadis itu kembali dengan sekotak ayam goring ala korea. Ternyata dugaannya tadi itu benar.
“Gue udah laper nih.” ujarnya sambil melompat-lompat kecil.
“Udah makanya buruan sini!” balasku.
Lagi-lagi hanya keheningan yang berada di antara kami. Satu kata yang bernama hening telah cukup sering mengisi tiap ruang kosong yang tercipta tanpa alasan. Sepertinya hening tak rela jika aku dan Amel mempunyai jarak sedikit saja, jadi ia datang sebagai penengah di antara kami berdua.
Kami menyantap makan malam yang sederhana ini dengan begitu hikmad. Walaupun menunya tak sama mahalnyad engan anak-anak konglomerat itu, tapi rasanya sudah begitu nikmat. Belajar mensyukuri setiap hal kecil seperti ini akan membuat kita merasa lebih dari cukup. Percayalah jika yang saat ini kita butuhkan itu sudah lebih dari cukup, maka kau tak akan eprnah merasa kekurangan setiap harinya.
Ingatkan satu pepatah kuno yang mungkin bisa membuat kalian tersadar. Ingat kalimat ini jika kalian merasa sangat kecil dan berarti sama sekali. Selalu ingat jika setiap hal besar yang kita lihat, selalu berasal dari ribuan hal kecil yang dikumpulkan dalam kurun waktu yang sangat lama. Jadi tanpa satu hal kecil, mungkin hal besar itu akan hancur juga. Ketika ia sudah hancur, maka ia akan kembali menjadi serpihan kecil lagi.
“Gimana ayamnya?” tanyaku.
“Masih seperti biasanya, enak.” balasnya dengan mulut yang tersumpal penuh oleh nasi.
“Mereka tuh konsisten banget kalau soal rasa dan kualitas. Tapi kalau soal harga, boleh la sekali-sekali agak miring.” lanjutnya.
Aku lantas tertawa lepas dibuat gadis itu. Kenapa ia harus mengatakan hal semacam itu di hadapanku seperti sekarang ini. Padahal ia bisa langsung bertemu dengan pemilik restoran tersebut dan berpendapat seperti itu jika ia mau.
‘Kling!’
Tiba-tiba saja ponselku bergetar pelan. Jika nada deringnya singkat, itu berarti bukan telepon masuk. Melainkan sejenis sms atau notifikasi dari aplikasi lain. Jadi aku tak terlalu menghiraukannya. Aku bisa mengeceknya setelah selesai makan siang. Aku tak ingin waktu berhargaku diganggu oleh hal tak penting seperti ini.
__ADS_1
“Kenapa enggak lo angkat?” tanya Amel antusias.
“Tenang aja, itu bukan telepon. Jadi tenang aja, jus’t enjoy your free time.” balasku dengan apa adanya.
Gadis itu hanya mengangguk sembari kembali melanjutkan kegiatannya. Diriku masih sibuk dengan kudapan ini,sama seperti Amel. Hanya saja aku tak mengerti kenapa lagi-lagi harus hal semacam itu yang terlintas di dalam pikiranku. Sungguh saat yang tidak tepat. Hal itu membuat selera makanku turun drastis, tapi aku tetap melanjutkannya sampai makanan itu habis. Karena orang bilang tak baik jika kita menyia-nyiakan makanan. Karena sulit untuk mendapatkannya.
Tiba-tiba saja rasa penasaran itu muncul, setelah sekian lama aku tak merasakannya. Kali ini aku kembali merasakan hal itu untuk waktu yang cukup lama. Mengapa secera mendadak seperti ini aku bertanya dalam hati. Walaupun aku tahu pasti jika tak ada gunanya jika aku bertanya hal itu pada diriku sendiri, karena aku sendiri tak tahu apa jawabannya.
“Dimana tempat tinggal Arka?”
Pertanyaan bodoh macam apa itu. Sama sekali tak penting, tapi aku tetap ingin tahu. Dasar keras kepala! Untuk apa memperdulikan hal semacam itu, dia saja tak peduli sedikitpun tentangku. Setelah melihat sikapnya di tempat makan tadi, aku merasa jika kini ia telah berubah menjadi acuh. Entah ia memang acuh terhadap semua hal di sekitarnya, atau hanya kepada masa lalunya saja.
***
Setelah selesai makan malam, aku masih harus menyelesaikan beberapa tugas kuliah untuk minggu depan. Tugasnya cukup banyak dan rumit, jadi harus segera diselesaikan jauh-jauh hari sebelum deadline. Aku belum mengecek ponselku sejak bunyi notifikasi pada saat makan malam tadi. Aku bahkan masih belum tahu apa isi pesan notifikasinya. Tapi sepertinya aku mulai tak memperdulikan hal itu lagi.
Sudah satu jam lebih aku duduk membungkuk menghadap meja dan berkutat dengan tumpukan buku yang kini terlihat berserakan itu. Sekarang leherku mulai terasa pegal, bahkan punggungku juga terasa sama. Hari ini benar-benar melelahkan, walaupun aku tak tahu apa yang sedang terjadi padaku hari ini. Yang jelas, aku merasa benar-benar lelah, meski tak tahu apa alasannya.
“Sha, kenapa lo enggak angkat tellepon dari Yoo Mi Ra?!” teriak Amel yang terlihat barusaja kembali dair dapur.
Aku segera bangkit dari posisiku saat itu dan mulai menatap gadis itu dengan serius. Sementara ia terlihat begitu santai sambil meminum secangkir coklat panas buatannya sendiri.
“Maksud lo?” tanyaku heran.
“Tadi dia nelpon gue. Katanya Mi Ra udah berkali-kali coba nelpon lo, tapi enggak lo angkat.” jelasnya.
Aku terdiam sejenak sambil mengingat kembali apa yang telah terjadi.
“Ohhh….” ucapku dengan mulut yang membulat sepenuhnya.
“Tadi telepon gue mati, belum sempat di-charge.” lanjutku.
“Dasar! Kebiasaan emang lo. Kalau ada sesuatu yang penting gimana?” ocehnya.
“Kan enggak selamanya gue bakalan begitu.” jawabku apa adanya.
“Terserah lo aja.”
Aku mengangkat kedua bahuku. Sepertinya aku mulai ikut menyerah dengan percakapan kami barusan. Selalu saja berujung seperti ini. Aku juga heran kenapa selalu begini, walaupun sama sekali bukan apa-apa bagi kami berdua. Ini adalah hal biasa yang tak mungkin bisa dipermasalahkan antara satu sama lain.
__ADS_1