Pengagum Lara

Pengagum Lara
Episode 20


__ADS_3

Barisan parade dari masing-masing sekolah telah tersusun rapi. Sekolah kami berada di urutan ketiga. Matahari nya jauh lebih menyengat dari yang kubayangkan. Sudah ku duga kulitku pasti akan terbakar dan belang. Ditakdirkan untuk menjadi seorang wanita merupakan hal yang rumit.


Dan aku bukan tipe orang yang suka bertele-tele.


  Gitapati dan seluruh barisan mayoret menginstruksikan kami agar bersiap untuk memainkan lagu pertama. Semuanya tampak serius, kami akan membuktikan jika kami bisa. Kami akan melakukan hal terbaik dari diri kami masing-masing. Kerjasama tim sangat di butuhkan untuk menjaga tempo dan barisan juga yang paling penting adalah lagunya.


  Jika kami boleh menyerah, jujur kaki kami sudah tidak bisa untuk melangkah lebih jauh lagi. Tapi, mengingat semua latihan keras kami selama ini. Dan terlebih ini adalah penampilan terakhir antara angkatan delapan dan sembilan. Tentu saja kami semua tak akan menyia-nyiakan momen ini begitu saja. Hingga akhirnya rute parade telah selesai. Sangking lelahnya hingga tak sempat mencari tempat untuk berteduh, kami merobohkan diri di samping alat musik masing-masing.


Kepalaku berputar seratus delapan puluh derajat mengamati sekeliling ku. Sebentar, ada yang aneh, ada yang hilang. Tapi, apa sesuatu yang hilang itu? Atau hanya sekedar firasat ku saja? Hey, ayolah bagaimanapun firasat ku selalu benar. Aku mengecek semua hal di sekelilingku memastikan jika kali ini firasat ku salah.


"Semuanya kita kembali ke penginapan ya. Setelah itu ganti seragam kalian dengan kaos training. Kemasi barang kalian. Pukul tiga nanti kita akan kembali pulang." Instruksikan Pak Chandra.


Tanpa sepatah katapun kami segera bangkit kemudian berjalan dengan barisan tak teratur untuk kembali ke penginapan.


***


  Semua orang telah masuk ke ruangan kelas yang menjadi tempat penginapan kami. Tapi, tiba-tiba langkah kakiku tertahan di depan pria itu. Aku memutar balik memoriku, hati kecilku berkata jika aku telah menemukan sesuatu yang hilang itu. Kini aku mencoba mengingat kejadian beberapa menit yang lalu. Tadi, saat istirahat aku tak melihat pria ini. Ya, benar ia tak ada disana setelah parade.


  Tubuhku mematung dengan tatapan kosong. Sementara pria di depanku menatapku dengan sorot mata tajam. Baiklah kini sudah ku temukan jawabannya.


"Kakak tadi kemana?"


"Maafin gua sha."


"Kakak tadi kemana!"


"Gua mendadak drop sha, jadi gua enggak bisa ikutan tampil."


"Sakit? Sakit apa? Kenapa enggak pernah cerita?"


"Jadi tadi malem gua sempat demam. Dan paginya udah mendingan. Gua pikir kondisi gua udah membaik bahkan udah sembuh."


"Udah makan?"


Pria itu hanya mengangguk pasrah dengan keadaan sekarang. Bisa kulihat rasa bersalah yang mendominasi raut wajahnya. Lagipula aku tak bisa memaksakan keadaan.


***


  Kini, semua siswa tengah berbaris di depan bis mereka masing-masing. Aku dan Kak Sendy masih berada di dalam bis  yang sama tentunya. Sepertinya cuaca akan terus cerah sepanjang hari. Aku bersandar di badan bis dengan tas ransel di pundak ku beserta alunan lagu akustik dari airpods.


"Nih minum dulu."


Sebuah tangan menyodorkan ku sebotol air mineral.


Tanpa membuka suara sedikitpun aku segera mengambil botol air mineral itu dan meminumnya beberapa tegukan. Tak bisa ku pungkiri jika kota ini benar-benar panas.


Beberapa siswa tampak sudah memasuki bis. Tanpa menghiraukan Kak Sendy, aku berjalan meninggalkannya menuju ke dalam bis. Sesaat setelah menaiki beberapa anak tangga di bis, langkahku terhenti sejenak. Aku mengedarkan pandanganku ke berbagai penjuru. Hampir seluruh kursi di bagian depan dan tengah sudah terisi penuh. Padahal jejeran kursi di bagian tengah bis adalah tempat duduk favorit ku. Meski tanpa alasan mengapa aku menyukai posisi itu. Ya intinya aku merasa lebih nyaman dan bisa tertidur pulas sepanjang perjalanan.


Tak ingin membuat kemacetan di pintu masuk, aku segera berjalan lurus terus ke arah belakang bis. Ke arah deretan kursi panjang paling belakang. Sebenarnya aku benci tempat ini. Tapi, ya sudahlah daripada aku tidak duduk sama sekali sepanjang perjalanan.


Aku meletakkan ranselku di bagian bawah kursi, tentu saja karena bagasi telah penuh.  Semoga tidak terjadi apa-apa selama di perjalanan. Aku tidak yakin bisa bertahan selama perjalanan jika harus duduk di bagian belakang. Karena biasanya aku selalu mabuk perjalanan jika duduk di sebelah sini.


"Yao!" Sahutku kepada salah seorang teman di depan ku.


Nama lengkapnya XiYao. Tapi aku dan beberapa orang di sekolah memanggil Yao. Bukan beberapa sebetulnya, seluruh orang yang mengenalnya mungkin akan memanggilnya Yao juga.


Dia hanya menoleh sambil menenggak minuman soda di tangannya.


"Tukeran dong, gua di depan."


"Enggak ah udah pw nih gua."


Tentu saja mendengar kalimat penolakan itu, mulutku langsung maju beberapa centi.


"Gua disini ya." Ucap seseorang di yang entah sejak kapan berada di sebelahku.


Lagi-lagi Kak Sendy. Sebenarnya aku tidak marah, benci, atau sejenisnya kepada pria yang umurnya setahun lebih tua daripada aku. Hanya saja aku sedang malas meladeni ucapannya.

__ADS_1


Tampaknya pria itu sudah paham dengan bahasa isyarat ku. Sepertinya begitu meski aku tak terlalu yakin soal itu. Secara tiba-tiba, ia menarik tanganku dan membuatku kehilangan keseimbangan diposisi ku yang sedang berdiri saat itu. Di tambah bis ini tiba-tiba langsung berjalan tanpa pemberitahuan sebelumnya.


Tubuhku terjatuh di atas pria itu, wajah kami hanya berjarak beberapa centi. Hampir tak ada jarak diantara kami. Si pemilik mata coklat itu juga tampak terkejut dengan kejadian barusan. Kakiku yang sedari tadi tertekuk berusaha menahan tubuhku, tampaknya tak bisa bertahan lebih lama lagi. Kini aku kembali terjatuh, kaki ku tertekuk seolah aku sedang bertekuk lutut kepada pria itu. Aku menggenggam erat hoodie pria itu, menenggelamkan wajahku diantara tas ransel miliknya yang sengaja ia letakkan tepat di sampingnya.


"Hey, kenapa? Enggak apa-apa?"


Aku hanya menggeleng, sementara aku masih tetap pada posisiku.


"Maaf, tadi gua enggak bermaksud jahat kok. Tadi gua narik tangan lo maksudnya nyuruh lo duduk karena bis nya udah mau jalan. Tapi lo keburu jatuh."


"Sini gua bantu." Sambungnya seraya membantu ku untuk bangkit.


Aku segera membenarkan posisi dudukku.


"Makasih."


***


Perlahan aku membuka mataku. Seisi bis sunyi, senyap tak ada seorangpun yang berkutik. Apa aku benar-benar tertidur pulas sedari tadi? Aku tidak mabuk perjalanan kan? Syukurlah. Tubuhku masih tersandar lemas di kursi. Aku membuka tirai penutup kaca jendela bis. Mataku mengernyit mendadak ketika cahaya mentari sore itu dengan lancangnya menusuk netraku. Sepertinya bukan hanya aku yang terganggu dengan cahaya tajam yang menembus kaca kala itu. Pria di sebelahku juga tampak terjaga dari tidurnya setelah aku membuka tirai penutup nya.


"Silau ya? Maaf."


Tak ingin membuatnya merasa terganggu, aku buru-buru menutup tirai itu. Tapi sekali lagi ia menghentikan tanganku. Dengan kedua matanya yang masih tertutup ia berkata...


"Enggak usah, ini jauh lebih baik."


"Oh? Okey."


Perlahan ia berusaha membuka kedua kelopak matanya meski aku tahu butuh perjuangan untuk melakukan hal kecil semacam itu. Terlebih kondisinya saat ini sedang tidak begitu sehat. Aku yakin ia sangat lelah dan butuh istirahat lebih.


"Udah sampai dimana?" Tanya Kak Sendy.


"Di jalan tol. Bentar lagi rest area kok."


"Oh. Lain kali kalau dengerin musik bagi-bagi dong. Aku kan juga pengen dengar."


Kak Sendy sempat protes karena aku tidak memberikannya kesempatan untuk mendengarkan musik dari airpods ku saat itu.


Aku melepas salah satu nya dan memberikannya kepada pria itu.


Ia langsung memasangnya kemudian tampak begitu menikmati lagunya. Sebenarnya genre musik kami jauh berbeda, ia penyuka musik beraliran rock atau metal. Sedangkan aku pendengar setia musik pop Korea atau yang biasa di sebut dengan istilah K-Pop. Tapi aku tak mau ambil pusing soal itu untuk saat ini.


"Udah sampai rest area, mau turun?" Tanyaku.


"Aku di bis aja deh."


"Oh, yaudah. Aku turun sebentar ya mau beli camilan."


"Oke, jangan lama-lama ya."


Aku hanya mengangguk mengiyakan perkataannya. Hampir separuh dari penumpang bis tampak turun. Beberapa bis lain yang menyusul di belakang kami juga tampak berhenti di rest area.


Tak sedikit juga yang mampir ke minimarket yang memang disediakan di rest area. Aku membeli beberapa makanan ringan seperti makaroni panggang yang entah sejak kapan menjadi camilan favorit ku belakang ini. Dua botol air mineral dan dua bungkus roti.


Tak ingin berlama-lama, selesai membayar semuanya di kasir aku segera kembali ke dalam bis. Karena aku tahu ada seseorang yang sedang menunggu ku di dalam sana. Sepertinya begitu, hehe.


"Beli apa?"


Aku langsung disambut dengan pertanyaan itu begitu sampai di depannya.


"Bilang aja mau minta, iya kan?"


"Kan ada baiknya sesama manusia kita harus saling berbagi."


"Udah enggak usah banyak bacot. Nih."


Aku segera menyodorkan sebungkus roti kepadanya.

__ADS_1


"Masa makan enggak ada minumnya."


"Udah abisin aja dulu."


***


Mentari mulai turun, warna gelap mulai mendominasi langit di kota ini. Beberapa toko di pinggir jalan tampak menyalakan lampu di atas papan nama tokonya. Jendela di sampingku perlahan mulai berembun. Entah karena hawa di luar bis atau karena AC di dalam bis. Yang jelas hawa nya benar-benar dingin.


"Dingin ya." Ucapku.


"Biasa aja kali. Liat tuh langit bagus kan? Banyak bintangnya." Balas Kak Sendy.


"Kakak kok betah sih dengerin lagu ini?"


"Enak aja lagunya, santai gitu. Sesekali kita enggak melulu harus ngikutin kemauan kita. Ada banyak hal di luar sana yang enggak sejalan dengan kepribadian kita."


"Dasar aneh."


"Loh kenapa aneh?"


Tiba-tiba.....


"Bummmm!!!"


Sesuatu dari arah belakang menghantam keras badan bis ini. Aku terkejut bukan main. Bukan hanya aku, semua orang di bis ini mendadak panik. Kakiku terperosok ke bagian bawah kursi di depanku, terjepit diantara besi-besi penyangga. Entah bagaimana kondisinya, patah mungkin atau remuk. Aku sudah tak memikirkan hal itu lagi. Suara teriakan terdengar dengan sangat jelas dari orang-orang yang duduk di belakang kami. Sementara pria di sampingku, tubuhnya terpental ke samping dan kepalanya menghantam keras kaki kursi. Aku meringis menahan sakit, tak mampu berkutik sedikitpun. Bahkan untuk sekedar berteriak meminta tolong saja sudah tidak sanggup lagi rasanya. Aku memutar bola mataku, melihat keadaan sekeliling ku yang benar-benar kacau. Tubuh mereka tercampak ke segala arah. Sebagian kaca telah pecah dan beling nya menyisakan beberapa goresan di tubuh mereka. Aku menggigit kuat bibirku untuk menahan rasa sakit di bagian kaki. Aku sama sekali tak bisa bergerak. Perlahan pengelihatan ku memburam. Semuanya gelap, yang tersisa hanyalah suara-suara yang tak begitu jelas terdengar.


***


Ternyata tadi telah terjadi kecelakaan beruntun antara bis yang kami tumpangi dan bis di belakang kami. Bis di belakang kehilangan kendali akibat rem nya blong sehingga menabrak bis kami. Hampir seluruh siswa terlibat dalam kecelakaan itu. Salah satu supir bis tewas dan sebagian besar siswa yang duduk di bagian belakang mengalami cedera parah. Selebihnya hanya luka-luka ringan.  Beruntung pertolongan segera datang. Sebagian siswa dengan kondisi tak sadarkan diri dan luka parah segera di larikan ke IGD terdekat.


Tak banyak yang ku ingat tentang kejadian itu. Terakhir kali, aku hanya melihat suasananya sekitar ku yang benar-benar kacau. Teriakan, tangisan, darah...


Aku masih bisa mendengar suara disekitar ku. Masih terdengar jelas di telingaku. Tapi mataku enggan terbuka. Jiwaku seolah terjebak di dimensi lain yang tak mengizinkanku untuk keluar dari sana. Suatu ruang hampa, gelap, tanpa ada seorangpun disana, dingin.


***


"Uri... Ijen... Anyyeong...."


Suara itu, kembali terdengar di kepalaku, seperti diputar ulang oleh seseorang. Itu adalah potongan lirik lagu yang terakhir kali ku dengar sebelum kejadian naas itu menimpaku. Lagu yang ku dengar bersama seorang pria disebelah ku. Sial! Bahkan aku tak bisa mendapatkan gambaran wajah pria itu.


Imajinasinya ku lagi-lagi mulai liar. Menyusuri tempat yang belum pernah ku sambangi sebelumnya. Jauh di sana, di alam bawah sadar ku. Tempat yang....  Ah, entahlah. Terlalu rumit untuk di deskripsikan. Tempat yang hampir mirip dengan taman tampaknya. Tapi ini jauh lebih indah.


Kemana lagi kita akan pergi?


Imajinasi ku terus membawaku ke tempat-tempat misterius lainnya. Tapi, apakah ini benar-benar hanya sekedar imajinasi? Kini ia membawaku kembali ke kejadian itu. Semuanya seperti telah di atur oleh seseorang, kejadian itu diputar balik di dalam kepalaku.


Dimulai dari pemandangan pinggir kota di kala senja menyapa, lalu sosok pria itu....


Siapa dia?


Mengapa wajahnya tak terlihat jelas? Mengapa dia terpental kesana? Oh tidak, kepalanya. Siapapun tolong selamatkan pria itu.


***


"Eresha." Sahut seseorang.


Dengan sekuat tenaga ku buka secara paksa kelopak mataku. Berhenti! Sudah cukup! Aku ingin bangun dari mimpi buruk ini. Biarkan jiwaku kembali!


"Eresha." Sahurnya sekali lagi.


Perlahan tapi pasti, semuanya kembali. Aku terbebas dari tempat itu.


"Dokter! Dokter!" Teriak seseorang.


Ku lihat bayangan putih mendekat ke arahku. Mungkin itu dokter yang ia maksud.


"Syukurlah bu, kondisinya perlahan membaik. Ia telah sadar."

__ADS_1


"Syukurlah. Terimakasih dokter."


"Ya, sama-sama bu. Saya pergi dulu ya."


__ADS_2